SEJAUH MANA UMAT ISLAM KETINGGALAN DARI UMAT LAIN?

SEJAUH MANA UMAT ISLAM  KETINGGALAN DARI UMAT LAIN?

Sudah lebih tiga dekade kita umat Islam mencanangkan kebangkitan, yakni sejak masuknya abad XIV H, dan kini sudah memasuki tahun 1436 H.   Namun apakah kita sudah bangkit atau masih jalan di tempat.  Untuk mengukur sejauh mana ketinggalan kita dalam peradaban dunia, kita perlu tahu sudah sejauh mana kemajuan umat agama lain.  Pada tahun 2009, saya pernah menemukan artikel yang mengungkapkan kemajuan yang dicapai kaum Yahudi dan Kristen.  Ada baiknya artikel tersebut saya kemukakan di sini dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai berikut:

Beberapa pemikiran: Ekstrak pidato Hafez Mohamed AB: Direktur Jenderal, Al Baraka Bank (Bank Islam komersial yang beroperasi di Pakistan sejak 1991)

DILIHAT DARI SEGI DEMOGRAFI:

  • Populasi kaum Yahudi se Dunia, hanya 14 juta. Distribusi: 7 juta di Amerika, 5 juta di Asia, 2 juta  di Eropa dan sekitar 100 ribu di Afrika
  • Populasi Muslim se Dunia: 1,5 miliar. Distribusi: Satu miliar di Asia / Timur Tengah, 400 juta di Afrika, 44 juta di Eropa dan 6 juta di Amerika.  Artinya Setiap lima orang manusia pasti ada seorang Muslim.  Untuk setiap satu Hindu ada dua Muslim;  Untuk setiap Buddha ada dua orang Muslim; Untuk setiap satu orang Yahudi ada 107 orang Muslim.

NAMUN 14 JUTA ORANG YAHUDI JAUH LEBIH KUAT DARIPADA SELURUH 1,5 MILIAR MUSLIM. MENGAPA?  BERIKUT ADALAH BEBERAPA ALASAN:

  • Penggerak Sejarah Dunia Dewasa ini pada umumnya Yahudi:
    • Albert Einstein Yahudi
    • Sigmund Freud Yahudi
    • Karl Marx Yahudi
    • Paul Samuelson Yahudi
    • Milton Friedman Yahudi
  • Tokoh Terpenting Dunia Medis:
    • vaksinasi Needle: Benjamin Ruben Yahudi
    • Polio Vaccine Jonas Salk Yahudi
    • Leukemia Obat Gertrude Elion Yahudi
    • Hepatitis B Baruch Blumberg Yahudi
    • Sifilis Obat Paul Ehrlich Yahudi
    • Neuro otot Elie Metchnikoff Yahudi
    • Endokrinologi Andrew Schally Yahudi
    • Terapi kognitif. Aaron Beck Yahudi
    • pil kontrasepsi Gregory Pincus Yahudi
    • Pemahaman Manusia Eye. G. Wald Yahudi
    • Stanley Cohen Yahudi
    • Ginjal Dialisis Willem Kloffcame Yahudi.
  • Pemenang Hadiah Nobel:

Dalam 105 tahun terakhir, 14 juta orang Yahudi telah memenangkan 180 hadiah Nobel sementara 1,5 miliar Muslim telah memberikan kontribusi hanya 3 pemenang Nobel

  • Penemuan yang mengubah sejarah
    • Chip Pengolahan Mikro. Stanley Mezor Yahudi
    • Rantai Reaktor Nuklir Leo Sziland Yahudi
    • Fiber Optik Kabel Peter Schultz Yahudi
    • Lampu Lalu Lintas Charles Adler Yahudi
    • Stainless Steel Benno Strauss Yahudi
    • Suara Film Isador Kisee Yahudi
    • Telepon Mikrofon Emile Berliner Yahudi
    • Video Tape Recorder Charles Ginsburg Yahudi
  • Bisnis Global Berpengaruh:
    • Polo Ralph Lauren Yahudi
    • Coca Cola Yahudi
    • Levi Jeans Levi Strauss Yahudi
    • Starbuck Howard Schultz Yahudi
    • Google Sergey Brin Yahudi
    • Komputer Dell Michael Dell Yahudi
    • Oracle Larry Ellison Yahudi
    • DKNY Donna Karan Yahudi
    • Baskin Robbins & Robbins Irv Yahudi
    • Dunkin Donuts Bill Rosenberg Yahudi
  • Intelektual / Politisi Berpengaruh:
    • Henry Kissinger, AS Sec Negeri Yahudi
    • Richard Levin, Presiden Yale University Yahudi
    • Alan Greenspan, AS Federal Reserve Yahudi
    • Joseph Lieberman Yahudi
    • Madeleine Albright, US Sec Negeri Yahudi
    • CasperWeinberger, US Sec Pertahanan Yahudi
    • Maxim Litvinov, Menteri Luar Negeri Uni Soviet Yahudi
    • David Marshal, Ketua Menteri Singapura Yahudi
    • Isaacs Isaacs, Gov-Gen Australia Yahudi
    • Benjamin Disraeli, British Statesman Yahudi
    • Yevgeny Primakov, PM Rusia Yahudi
    • Barry Goldwater, AS Politikus Yahudi
    • Jorge Sampaio, Presiden Portugal Yahudi
    • Herb Gray, Wakil – PM Kanada Yahudi
    • Pierre Mendes, PM Perancis Yahudi
    • Michael Howard, British Home Sec. Yahudi
    • Bruno Kriesky, Kanselir Austria Yahudi
    • Robert Rubin, US Treasury Sec Yahudi
  • Media global yang Berpengaruh
    • Walf Blitzer, CNN Yahudi
    • Barbara Walters ABC News Yahudi
    • Eugene Meyer, Washington Post Yahudi
    • Henry Grunwald, Majalah Time Yahudi
    • Katherine Graham, Washington Post Yahudi
    • Joseph Lelyeld, New York Times Yahudi
    • Max Frankel, New York Times Yahudi
  • Philanthropists Dunia:
    • George Soros Yahudi
    • Walter Annenberg Yahudi

MENGAPA MEREKA KUAT? MENGAPA MUSLIM TIDAK BERDAYA?

  • Berikut alasan lain: Kita umat Islam telah kehilangan kapasitas untuk memproduksi pengetahuan.
  • Dalam seluruh Muslim Dunia (57 Negara Muslim) hanya ada 500 perguruan tinggi (berkelas dunia?)
  • Di Amerika Serikat saja, 5,758 universitas
  • Di India sendiri, 8.407 perguruan tinggi
  • Tidak satu universitas di seluruh fitur Dunia Islam di Top 500 Universitas Ranking Dunia
  • Literasi (mampu baca dan tulis) di Dunia Kristen 90%
  • Literasi (mampu baca dan tulis) di Dunia Muslim 40%
  • 15 negara-negara mayoritas Kristen, angka melek huruf 100%
  • Tidak ada Negara mayoritas Muslim yang angka melek huruf sampai 100 %
  • 98% di negara-negara Kristen selesai pendidikan dasar.
  • Hanya 50% di negara-negara Muslim menyelesaikan pendidikan dasar.
  • 40% penduduk di negara-negara Kristen masuk universitas
  • Di negara-negara Muslim 2%.
  • Negara-negara mayoritas Muslim memiliki 230 ilmuwan per satu juta Muslim
  • Amerika Serikat memiliki 5000 per satu juta
  • Dunia Kristen 1.000 teknisi per satu juta.
  • Seluruh Dunia Arab hanya 50 teknisi per satu juta.
  • Muslim se Dunia mnghabiskan biaya penelitian / Development 0,2% dari PDB
  • Dunia Kristen menghabiskan 5% dari PDB

Kesimpulan:  Dunia Muslim tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi pengetahuan.

  • Cara Lain untuk menguji tingkat pengetahuan adalah derajat menyebarkan pengetahuan.
    • Pakistan 23 surat kabar harian per 1.000 warga
    • Singapore 460 per 1000 penduduk.
    • Dalam judul buku UK per satu juta orang adalah 2000
    • Di Mesir judul buku per satu juta orang hanya 17

Kesimpulan: Dunia Muslim gagal untuk mengembangkan pengetahuan

  • Menerapkan Pengetahuan sebagai tes alternatif:
    • Ekspor produk teknologi tinggi dari Pakistan adalah 0,9% dari ekspor.
    • Di Arab Saudi adalah 0,2%
    • Kuwait, Maroko dan Aljazair 0,3%
    • Singapura saja 68%

            Kesimpulan: Dunia Muslim gagal untuk menerapkan pengetahuan.  

Apa yang Anda simpulkan? tidak perlu memberitahu angka berbicara sendiri sangat keras kita tidak dapat mendengarkan

SARAN:

Silakan mendidik diri sendiri dan anak-anak Anda. selalu mempromosikan pendidikan, tidak kompromi terhadap hal itu, jangan mengabaikan sedikitpun kesalahan arah anak-anak Anda dari pendidikan (dan tolong, Demi Allah, jangan menggunakan kontak pribadi atau sumber (posisi) anda untuk mempromosikan anak-anak Anda dalam pendidikan mereka, jika mereka gagal, biarkan mereka dan membuat mereka belajar untuk lulus, b / c jika mereka tidak bisa melakukannya sekarang, mereka tidak akan pernah bisa).

Kita  adalah bangsa terbesar dan terkuat di dunia, semua yang kita butuhkan adalah untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi diri kita sendiri.  Kemenangan kita adalah hanya dengan pengetahuan, iman, kreativitas kita, melek kita …  Dan tidak ada yang lain.

… Ayo bangun …

Setelah membaca angka-angka yang dipaparkan oleh Hafez Mohamed di atas, serta kesimpulan-kesimpulan yang diajukannya setiap item, maka sadarlah betapa jauhnya kita umat Islam tertinggal.  Dan solusi yang ditawarkannya ialah: Umat Islam harus merenggut ilmu pengetahuan, tidak hanya iman.   Renungkan firman Allah SWT.  Q.S. al-Mujadalah (58): 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”.

Umat Islam dewasa ini baru (kembali) pada tingkat memiliki iman, belum menjadi penguasa sains dan teknologi.  Inilah tantangan kita bersama.  Di sinilah jihad harus difokuskan, yaitu jihad untuk menguasai sains dan teknologi.  Kita harus membangun kerjasama peradaban dengan sumber-sumber sains dan teknologi yang kini masih dimonopoli oleh Barat, Amerika dan Eropa.   Bahkan membangun kerjasama dengan penguasa baru teknologi moderen yakni Tiongkok.  Rasulullah SAW sendiri bersabda: “Uthlub al-`ilma wa law bi al-Shiin” (Tuntutlah ilmu walau ke negeri Tiongkok).  Lihat dalam Al-Rubay` bin Habib al-Bashriy, Musnad al-Rubay`, (Beyrut: Dar al-Hkmah, 1415 H.), Juz I, h. 29.

Wa’Llahu a`lam bi al-shawab.

Advertisements

MANUSIA WAKIL TUHAN DI BUMI

MANUSIA WAKIL TUHAN DI BUMI
(Serial Kuliah Teologi Lingkungan Hidup)

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA.

Banjir memusnahkan ekosistem dan infrastruktur akibat ulah manusia menggunduli hutan

Banjir memusnahkan ekosistem dan infrastruktur akibat ulah manusia menggunduli hutan

Semua agama percaya bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang mulia. Manusia hendaknya berbuat bijaksana dan kebajikan di muka bumi, sejalan dengan tujuan pokok dari semua agama yakni kemaslahatan. Dalam konteks ini, apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk kehidupannya tidak boleh berdampak negatif terhadap masyarakat dan alam lingkungannya; menimbulkan penyakit, pencemaran makanan, air minum dan polusi udara misalnya. Tindakan manusia yang tidak mendukung kemaslahatan umum tersebut adalah sebuah kezaliman yang dilarang keras oleh semua agama. Dalam Islam, hal tersebut diperingatkan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah memperasakan kepada mereka sebahagian (akibat) dari yang mereka perbuat, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S.al-Rum ([30]: 41).

Sebagai Khalifah (Wakil) Tuhan di bumi, manusia harus secara bijak menyeimbangkan perilakunya antara sifat Tuhan sebagai Penguasa dan sifat Tuhan sebagai Pemelihara. Untuk memanfaatkan sumber daya alam demi kehidupan manusia yang layak dan berperadaban, manusia dituntut untuk mernguasai teknologi, sebab hanya dengan demikian, manusia dapat “menguasai” alam, dalam arti memanfaatkan alam untuk kehdupannya.

Namun, penguasaan teknologi haruslah di bawah kendali kesadaran berbuat baik pada alam, dan sesama manusia berdasarkan sifat Tuhan sebagai Pemelihara alam (Rabbu al-`alamin). Manusia sebagai wakil Tuhan, berperan untuk memelihara dan melestarikan alam, memanfaatkannya untuk semua manusia dan menghindari perilaku yang merusak alam lingkungannya. Hadis Nabi menyebut bahwa manusia butuh secara bersama-sama memperoleh sebesar-besar manfaat dari alam.:

الناس شركاء في ثلاث في الماء والكلأ والنار

(Manusia berserikat dalam memanfaatkan air, tanah dan api/energi)

Untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari alam (air, tanah dan energi) manusia berhajat pada sains dan teknologi. Secara teologis, teknologi berfungsi untuk membawa manusia mensyukuri nikmat Tuhan, sehingga Tuhan akan pasti memenuhi janjiNya untuk meningkatkan manfaat alam bagi manusia:

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.- Q.S.Ibrahim [14]: 7).

Namun, harus dicamkan bahwa tekonologi yang memberi manfaat adalah yang dikendalikan iman (teologi), atau teknologi yang berteologi. Tanpa teologi, teknologi akan menjadi bencana bagi manusia dan alam semesta.

Sisi keimanan yang tak terpisahkan dari sains dan teknologi untuk mengelola sumber daya alam, adalah bahagian dari fungsi manusia sebagai khalifah Tuhan. Untuk penguasaan sains dan teknologi sebagai pilar peradaban, Al-Qur’an memberikan instruksi iqra’ (bacalah) ayat-ayat Tuhan pada alam semesta ini, melalui sains dan teknologi yang ber-Tuhan,: إقرأ باسم ربك الذى خلق- iqra’ bismi rabbik alladziy khalaq (bacalah dengan nama Tuhan-Mu yag menciptakan – Q.S. a-`Alaq [96]: 1). Selanjutnya untuk mengelola alam semesta, sebagai natural resource, Al-Qur’an menyatakan perlunya eksplorasi alam (taskhir) seperti terdapat dalam ayat:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ ﴿٢٠﴾
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Q.S.Luqman [31]: 20)

Maka terkait dengan kedudukan manusia sebagai Khalifah (wakil Tuhan di muka bumi), secara teologis, Al-Qur’an memberikan setidaknya tiga kata kunci, yaitu: khalifah, iqra’ dan tasykhir, masih terdapat lagi sejumlah istilah lain yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia sebagai pembangun peradaban di muka bumi.

Dengan semangat “Iqra bismi Rabbik” (iqra’ = pengkajian, Bismi Rabbik= berdasar teologi), maka sains dan teknologi itu sendiri adalah bahagian tak terpisahkan dari iman seseorang dan statusnya sebagai wakil Tuhan. Artinya manusia harus menguasai setinggi-tingginya dan seluas-luasnya sains dan teknologi yang kemudian diberi napas keimanan sehingga menjadilah sumber berkah bagi manusia dan alam sekitarnya, bukan sumber bencana. Tanggung jawab umat beragama di abad sekarang ialah meng-imaniah-kan sains dan teknologi pada semua aspeknya agar terhindar dari proses sekulerisasi dan proses penghancuran alam semesta. Jadi kalau ada istilah islamisasi IPTEK, adalah lebih tepat jika diartikan sebagai penerapan nilai imani dalam pendayagunaan IPTEK, bukan mencari IPTEK yang khas Islam dengan istilah kearab-araban.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa menjelajahi sains dan teknologi, sebagai media menelaah ayat-ayat Tuhan pada alam, dalam arti pemanfaatan dan pemeliharaannya, maka Al-Qur’an yang berbicara tentang alam semesta, menjadi kitab suci yang diberhalakan, bagaikan bahasa mati yang tidak bermanfaat apa-apa; ayat-ayatnya hanya tinggal sebagai teks usang yang kaku dan tak mampu berbicara mengenai solusi kehidupan kekinian manusia. Keimanan pada Al-Qur’an hanya dapat diaplikasikan dalam kehidupan keseharian jika tafsir Al-Qur’an itu sendiri diimplementasikan dengan instrumen sains dan teknologi yang mampu mengelola alam untuk peradaban manusia. Dengan kata lain, Al-Qur’an sebagai sumber keimanan, harus disinergikan dengan sains dan teknologi sebagai media penyampaian pesan-pesan Ilahiyah dalam wujud kesejahteraan konkret bagi umat manusia.

Dampak Teknologi Tanpa Teologi

Untuk mewujudkan hidupnya, manusia memanfaatkan knologi mengelola alam. Namun secara tidak sadar, di samping manfaat positif, terjadi pula dampak negatif dari penggunaan sains dan teknologi yang harus dicermati.
Dampak positif antara lain:
– Industri semakin berkembang sehingga lapangan kerja semakin terbuka luas
– Semakin berkembangnya jenis tanaman yang menjadi bahan baku industry
– Sistem pertanian moderen semakin berkembang diringi peningkatan produksi pangan dan kebutuhan lainnya.

Sedang dampak negatif adalah rusaknya lingkungan alam, sehingga ekosistem kurang menunjang kehidupan manusia, adalah akibat:

– Lahan pertanian rakyat semakin sempit, terdesak oleh berkembangnya pertanian / perkebunan untuk industri
– Banjir dan erosi semakin mudah terjadi akibat penebangan liar / penggundulan hutan.
– Pencemaran air dan tanah terjadi akibat limbah industri
– Terjadinya pemanasan global akibat efek rumah kaca.

Satu di antara dampak negatif yang perlu digaris bawahi di sini ialah efek rumah kaca disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Hal ini disebabkan oleh eskalasi pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya dari industri yang semakin berkembang yang melampaui batas kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Efek rumah kaca ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan bumi yang mengakibatkan perubahan ekstrim pada iklim di bumi. Hal ini akan membawa rusaknya ekosistem, sehingga hutan semakin tidak mampu menyerap karbon dioksida di atmosfer. Terjadinya pemanasan global menyebabkan gunung-gunung es di daerah kutub akan meleleh (mencair) yang menimbulkan naiknya permukaan air laut, sekaligus meningkatkan suhu air laut pula. Jika proses ini terjadi terus-menerus maka tidak mustahil sejumlah pulau tempat pemukiman manusia nanti akan tenggelam. Hal ini merupakan ancaman serius bagi negara-negara kepulauan seperti Indonesia.
Begitulah dahsyatnya dampak negatif dari teknologi yang tidak dikendalikan oleh teologi dan nalar kemaslahatan manusia. Belum lagi kita berbicara betapa dahsyatnya bencana yang ditimbulkan oleh penyalah gunaan bahan kimia menjadi senjata pemusnah masal dan bom nuklir yang mampu membinasakan umat mansia seketika. Tegasnya tanpa teologi, sains dan teknologi hanya akan berakibat bencana dan kebinasaan alam dan manusia. Dua dampak negaif ini telah diisyaratkan Tuhan dalam ayat berikut:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S.al-Baqarah [2]: 30).   Wa `Llahu A`lam bi al-Shawab.

Industri yang tak terkendali akan semakin berdampak pada pemanasan global

Industri yang tak terkendali akan semakin berdampak pada pemanasan global