SUBHANALLAH, SUNGGUH ISTIMEWA AL-QUR’AN

Subhanallah, Sungguh Istimewa Al-Qur’an

Oleh: Prof.Dr.H. Hamka Haq, MA

Salah satu keistimewaan Al-Qur’an ialah bahwa ayat-ayatnya dapat berlaku sepanjang zaman, dalam arti sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia. Mungkin uraian berikut dapat menunjukkan bagaimana Al-Qur’an itu sangat sesuai dengan peradaban modern, khususnya dalam kehidupan sosial politik.

Misalnya, akhir-akhir ini masyarakat Islam Indonesia ramai membicarakan Al-Maidah:51.   Padahal sebenarnya ayat itu sudah terang benderang artinya, cuma terkadang orang salah persepsi. Ayat itu pun semakin terang maknanya jika dikaji sesuai dengan perkembangan zaman. Mari kita kutip dulu ayat tersebut sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥١﴾

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Selama ini, banyak khatib dan muballigh dalam ceramahnya mengenai pemimpin, tersandung saat mengartikan ayat ini, dengan soal kecil saja. Mereka memahami dengan singkat: “janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasharani (Kristen) menjadi pemimpin”. Mereka memakai kata “pemimpin” kata tunggal (mufrad), yang dalam bahasa Arabnya adalah waliyan, mengalihkan dari kalimat aslinya yakni awliya’ (pemimpin-pemimpin) dalam bentuk “jama`”.

Sepintas lalu kedengaran sama, padahal impilkasi politiknya sangat jauh beda antara kata “pemimpin” (waliyan), dengan kata “pemimpin-pemimpin” (awliya’). Sungguh benar Allah SWT memakai kata awliya’ (pemimpin-pemimpin, bentuk jama’), bukan kata waliyan (pemimpin, bentuk mufrad atau tunggal), karena kepemimpinan politik yang berkembang dari zaman ke zaman menunjukkan bahwa dalam masyarakat moderen, kepemimpinan tidak lagi dipegang secara absolut oleh satu orang pemimpin tunggal (waliyan), tapi dilaksanakan secara kolektif (jama’) oleh banyak orang (awliya’).   Artinya, kepemimpinan politik dewasa ini di seluruh Negara modern, bukan lagi dilaksanakan oleh seorang Raja atau Kaisar atau Sultan yang berkuasa absolut, melainkan oleh banyak pemangku layanan kekuasaan yang tidak absolut, yakni Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, Parlemen (DPR, DPD dan MPR), dan Mahkamah Agung. Belum lagi disebut Jaksa Agung, Panglima TNI dan Kapolri. Maksudnya ialah: Al-Maidah:51 melarang umat Islam memilih kaum Yahudi dan Nashrani menjadi awliya` yang mengusasi semua posisi kepemimpinan kolektif (jamak) tersebut. Itulah yang haram. Tapi jika suatu saat hanya satu di antaranya yang diduduki oleh kaum Nashrani (karena terpilih atau jalan lain), pada tingkat nasional atau daerah, (meskipun masih sangat langka dalam dunia demokrasi), maka itu tidak dalam kategori awliya` (jamak), sebagaimana disebutkan dalam Al-Maidah:51, sehingga tidak masuk dalam kategori yang dilarang dalam ayat itu.

Mengartikan ayat di atas dalam bentuk tunggal (mufrad) pemimpin (waliyan), berarti menarik kembali Al-Qur’an ke zaman kuno klasik, yang pada saat itu semua posisi kekuasaan politik hanya dipegang oleh satu orang yang berkuasa absolut tunggal, yakni Raja atau Kaisar tanpa konstitusi. Lebih dari itu, bertentangan dengan teks ayat itu sendiri, yang tidak berbunyi waliyan (tunggal), melainkan jelas-jelas berbunyi awliya’ (jamak) yang dapat dimaknai kepemimpinan kolektif (jama’ah) berdasarkan konstitusi. Maka pada konteks kepemimpinan kolektif (jamak, – awliya’) itu, jika semuanya dipegang oleh Nashrani, sekali lagi itulah yang dilarang dalam Al-Maidah:51 itu.

Jadi kalau ada pendapat bahwa menjadikan non Muslim sebagai SEORANG pemimpin, yang hanya memegang satu aspek pelayanan kekuasaan saja, itu tidak dilarang, maka pendapat seperti itu sama sekali bukan berarti menentang ayat Al-Maidah:51, melainkan justru bermaksud menunjukkan pemahaman ayat tersebut, bahwa yang dilarang adalah menjadikan non Muslim pada kedudukan awliya’ (menguasai seluruh posisi kepemimpinan). Sepanjang tidak sampai pada makna awliya’ itu masih dalam batas kebolehan.  Mari renungkan bersama tanpa dendam dan nafsu kebencian. Wallahu a`lamu bi al-shawab.

Advertisements

SILATURRAHIM DENGAN UMAT AGAMA LAIN

Pengobatan dan Pelayanan Kesehatan Tanpa Diskriminasi Agama & Etnis

Pengobatan dan Pelayanan Kesehatan Tanpa Diskriminasi Agama & Etnis

SILATUR RAHIM DENGAN UMAT AGAMA LAIN
Oleh: Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA

(Sebagian isi tulisan ini diambil dari buku Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA, Islam Rahmah untuk Bangsa”, Terbitan Rakyat Merdeka (RM Book, 2008) hal. 227 dst.)

Baru-baru ini ada pertanyaan dari seorang teman Twitter, menyangkut siakp kita sebagai Muslim terhadap non Muslim, ketika menemukan ada Muslim sedang sekarat dan non Muslim juga sedang sama-sama sekarat, mana yang pertama harus kita tolong. Sebenarnya saya sudah jawab lewat Twit pula, namun jawaban di sana tentu sangat terbatas, sesuai dengan ketentuannya. Maka lewat tulisan ini penulis coba akan memberi penjelasan yang agak lebih luas dari jawaban di Twit itu.

Hal pertama yang harus diperjelas ialah dalam suasana apa ketika non Muslim dan Muslim itu sama-sama mengalami sekarat?. Ada dua kemungkinan, mungkin mereka dalam suasana perang, atau mungkin pula mereka sama-sama hidup dalam masyarakat yang damai. Jika mereka berada dalam suasana perang yang melibatkan mereka, maka jelas setiap Muslim hendaknya mendahulukan merawat sesamanya Muslim, baru kemudian melayani non Muslim
Melayani, merawat seorang non Muslim, baik yang terlibat perang, apalagi jika tidak turut dalam perang itu, telah dicontohkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubiy, yang populer disebut Sultan Saladin dalam perang Salib. Beliau kadang menyamar sbg dokter / dukun untuk dapat menolong musuhnya yang sakit/sakarat, yang dilakukannya setelah menolong serdadu / orang Muslim lebih dahulu. Hal mendahulukan sesama, merupakan sikap yang berlaku secara umum dalam masyarakat dunia mana pun, hingga dunia moderen yang beradab dewasa ini.

Namun, dalam suasana masyarakat yang hidup damai seperti di Madinah zaman Nabi SAW atau di Indonesia zaman sekarang, status non Muslim sama dengan Muslim, yang karenanya pelayanan terhadap mereka, sakit atau tidak sakit tetap sama tanpa diskriminasi. Mengapa demikian? Karena Islam sangat menghargai perdamaian dan sangat membenci permusuhan. Berdasarkan itu, maka perdamaian antara umat Islam dengan on Muslim jauh lebih tinggi nilainya di sisi Allah SWT ketimbang kesamaan agama (Muslim sesama Muslim) tapi saling bermusuhan. Artinya, perdamaian itu jauh lebih utama ketimbang hanya sekadar sama-sama sebagai Muslim.

Umat agama lain yang hidup damai dalam masyarakat dan negara yang penduduknya mayoritas Muslim, memperoleh hak perlindungan (jaminan) kehormatan dan keselamatan jiwa, sama dengan hak-hak kaum Muslimin pada umumnya. Rasulullah SAW pernah menyatakan, sebagaimana riwayat Al-Nasa’iy sebagai berikut:

أنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَتَلَ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ الذّمّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنّةِ وَإنّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَاماً».

Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membunuh seseorang dari kaum dzimmi (umat agama lain), niscaya ia tidak mendapatkan harumnya sorga, dan (ketahuilah) harumnya sorga itu tercium dari jarak perjalanan tujuh puluh tahun”.

Jika non Muslim yang berstatus Dzimmi saja memperoleh perlindungan kehormatan dan jiwa, apatah lagi lagi mereka yang tergolong muahidun atau ahl al-mitsaq (dalam perjanjian damai bersama) yang status kewarga-negaraannya sama persis dengan kaum Muslimin.
Itulah sebabnya, syariat Islam menetapkan hukuman lebih berat atas pelaku pembunuhan (secara tidak sengaja) yang membunuh seorang non Muslim yang hidup dalam perdamaian, ketimbang hukuman pelaku yang membunuh secara tidak sengaja sesamanya Muslim yang berseteru dengannya. Walaupun di negara kita hukum ini tidak diberlakukan, tetapi kita ambil semangat keadilannya. Untuk jelasnya, perhatikan Q.S.al-Nisa: [4]: 92, sebagai berikut:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِناً إِلاَّ خَطَئاً وَمَن قَتَلَ مُؤْمِناً خَطَئاً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ أَن يَصَّدَّقُواْ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مْؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةً فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِّنَ اللّهِ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً ﴿٩٢﴾
Artinya: ” Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (non Muslim) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dalam ayat tersebut disebutkan 3 (tiga) macam sanksi pembunuhan secara tidak sngaja, selain puasa dua bulan berturut-turut. Pertama, pembunuhan terhadap sahabat Muslim, sanksinya membebaskan budak Muslim sekaligus membayar denda. Kedua, Pembunuhan secara tidak sengaja seorang Muslim (yg memusuhinya), sanksinya, hanya membebaskan seorang budak Muslim, tanpa membayar denda (diyat). Dan ketiga, pembunuhan terhadap seorang non Muslim yag hidup dalam perjanjian damai, sanksinya adalah membebaskan budak Muslim dan sekaligus membayar diyat (denda) kepada keluarga si terbunuh.
Jadi sanksi pembunuhan secara tidak sengja non Muslim (dalam suasana damai) yaitu membebaskan budak dan bayar denda (Q.S.al-Nisa:92), persis sama dengan sanksi pelaku pembunuhan terhadap seorang Muslim dalam kehidupan damai. Jadi siapapun yang ada dalam masyaraat yang damai, mereka akan diperlakukan dan diberi perlindungan hukum secara adil di depan hukum tanpa diskriminasi, tanpa melihat perbedaan agamanya.

Sejalan dgn itu, upaya menyelamatkan jiwa seorang Muslim dan non Muslim dalam suasana masyarakat damai tidak dibedakan, tergantung pada kesempatan saja, terkait dengan jarak tempat dan waktunya. Bahkan dlm masyarakat damai, membantu tetangga non Muslim (sehat atau sakit) boleh didahulukan, baru kmudian Muslim yg jauh. Demikian prinsip pergaulan yang dibangun Rasulullah SAW. Pada suatu perayaan Idil Adhha, Nabi SAW minta isterinya, Aisyah, membagikan daging kurban dengan mendahulukan tetangganya yang non Muslim. Beliau bersabda: “Dahulukan tetangga Yahudi kita”. Penulis yakin, pastilah banyak Muslim yang juga butuh daging kurban di Madinah, tetapi ternyata Nabi mendahulukan tetangganya yang non Muslim itu. Sikap tersebut diikuti pula oleh Abdullah ibn Umar, yang suatu ketika ia berkurban seekor kambing, dan kemudian bertanya kepada keluarganya: “Apa kamu sudah bagikan kepada tetangga Yahudi? Hal demikian, sekali lagi, berlaku dalam kehidupan masyarakat yang damai.

Dalam masyarakat damai, berziarah, atau saling mengunjungi antara dua orang bersahabat, Muslim dan bukan Muslim, apalagi jika bertetangga adalah dianjurkan dalam Islam. Lebih-lebih, menziarahi umat agama lain yang sedang sakit merupakan akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW. Beliau pernah menziarahi pelayannya, seorang pemuda Yahudi yang tidak dipaksanya masuk Islam; dan ketika pamannya sendiri, Abu Thalib, jatuh sakit beliau pun menziarahinya, meskipun Abu Thalib tetap dalam agama paganisme bangsa Quraisy hingga wafat. Rasul juga menziarahi Abdullah bin Ubay, seorang pemimpin kaum munafiqun. Berkaitannya dengan ini pula, jika seorang umat agama lain sakit, maka orang Muslim di lingkungannya diharuskan melayaninya, dengan biaya sendiri, ataupun dengan biaya dari orang sakit bersangkutan, sampai ia sembuh atau wafat.

Berdasarkan itu, Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan ziarah kepada umat agama lain yang sedang sakit. Bahkan, menyaksikan jenazah seorang yang bukan Muslim dan mengantarnya ke pemakaman juga dibolehkan. Setelah itu berta`ziyah (berbelasungkawa) di rumahnya dan menyampaikan ucapan duka cita dengan kalimat misalnya: `alaika bitaqwa`llah wa al-shabr, bertakwalah kepada Tuhan dan bersabarlah, semuanya juga dibolehkan. Atau dengan ucapan “Semoga Allah menambah hartamu dan anak-anakmu, serta memanjangkan umurmu”. (Atau boleh juga: “semoga kamu tidak ditimpa kecuali membawa kebaikan: la yushibuka illa khayr).

Bagi kita bangsa Indonesia, yang sehari-hari bergaul dengan non Muslim, bahkan mungkin saja bertetangga dengan non Muslim, setidaknya kita hidup sebagai sesama warga negara Indonesia, kita harus mencontoh pergaulan harmonis yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW dan sahabatnya di atas, mengutamakan tetangganya, walaupun non Muslim. Karena itu, tidaklah salah jika disimpulkan bahwa membantu non Muslim sesama warga Indonesia, yang membutuhkan makanan dan pelayanan kesehatan mendesak dapat didahulukan ketimbang sesama Muslim nun jauh di manca negara. Wa ‘Llahu A’lam bi al-Shawab.

Pengobatan dan Pelayanan Kesehatan Tanpa Diskriminasi Agama & Etnis

Pengobatan dan Pelayanan Kesehatan Tanpa Diskriminasi Agama & Etnis

DAKWAH DAN FANATISME

width=”300″ height=”175″ class=”alignnone size-medium wp-image-929″ />

Wajah Dakwah dengan Kekerasan jauh dari Dakwah bil Hikmah

Wajah Dakwah dengan Kekerasan jauh dari Dakwah bil Hikmah


DAKWAH DAN FANATISME

Oleh: Hamka Haq
Berdakwah dalam Islam adalah perintah dari Allah SWT, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun dilakukan dengan lembaga (kelompok). Allah memerintahkannya sbb.:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾
(Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Q.S.al-Nahl [16}: 125.)
Pada ayat tersebut terdapat tiga bentuk dakwah yang diperintahkan, pertama dakwah dengan hikmah yakni dengan keteladanan yang menginspirasi sampai seseorang ikut atas kesadaran sendiri; kedua, dakwah secara maw`izhat hasanah yakni dengan nasehat-nasehat atau pesan-pesan moral untuk mengubah perilaku buruk menjadi perilaku yang baik; dan ketiga, dakwah secara mujadalah (berdebat/ berdialog) secara baik-baik.
Dalam berdakwah, sering kali seseorang menyimpang dari tiga metode dakwah tersebut di atas, dengan alasan fanatisme agama. Fanatik dalam beragama memang merupakan hak asasi setiap orang, tapi seharusnya fanatisme itu hanya untuk penguat keyakinan diri sendiri, akan kebenaran agama sendiri, dan motivasi untuk mengamalkannya, bukan menggugat kebenaran agama lain dan tanpa menggangu umat agama lain, atau keyakinan lainnya. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang berdakwa dengan sikap egois dan arogan dibungkus fanatisme yang sering salah bersikap, yaitu pembawaan yang tidak bersahabat, jauh sama sekali dari hikmah, maw`izhat hasanah dan ahsan al-mujadalah.
Padahal, agama sebenarnya dapat ditegakkan dengan sikap bersahabat, tanpa arogan dan egoisme, dan tanpa penghinaan terhadap agama lain. Sebab, hingga kiamat pun semua umat beragama tetap mempertahankan keyakinan akan kebenaran agamanya masing-masing. Jadi menyangkut soal keimanan (keyakinan) itu sudah selesai, tidak perlu saling menggugat lagi, justru seharusnya umat beragama mencari titik temu dalam menangani problem kehidupan sehari-hari, antar sesama manusia, bukan mempersoalkan hubungan mereka dengan Tuhan yang secara pasti berisikan perbadaan antar umat beragama.
Umat beragama, boleh sama-sama anti miras tapi jangan memusuhi peminum miras, apalagi menghakimi di tengah jalan, memukulnya ramai-ramai. Sebab boleh jadi dengan merangkul dan bersahabat dengannya, peminum miras akan sampai sadar sendiri berhenti minum miras.
Problem yang paling rumit adalah soal pelacuran (PSK), sebab tidak semua pelaku PSK itu sengaja atas kesadaran sendiri terjun ke dunia hitam seperti itu. Di antara mereka ada yang karena kesulitan hidup yang mendera tanpa solusi, atau karena korban perdagangan wanita (human trafficking) dan sebagainya. Mereka adalah korban kejahatan yang harus diselamatkan, bukan justru dimusuhi dan dihakimi, dihajar ramai ramai di kediamannya. Seharunsya agama berperan untuk menyadarkan mereka dan men support rehabilitasi fiskik dan mental mereka untuk kembali ke jalan hidup yang benar. Ibaratnya, kita semua benci segala macam penyakit, tapi jangan berharap penyakit dapat sembuh dengan membenci dan menghajar orang-orang sakit. Mereka perlu perhatian, diayomi dan dikasihani untuk disembuhkan dari penyakitnya, dan agar penyakitnya pun tidak menular ke mana-mana.
Sama halnya semua umat beragama tidak senang terhadap segala bentuk kesesatan, tapi solusi untuk menyadarkan para pengikut kesesatan bukan dengan jalan mengucilkan atau mengejar-ngejar mereka, mengusir dari kediamannya atau merusak segala miliknya. Pengikut kesesatan perlu didekati dan dirangkul sebagai saudara sendiri, sembari berdialog dan mencari peluang apakah mereka masih bisa diajak kembali bersama-sama ke jalan semula. Kalau tidak mungkin lagi, tentu masih ada alasan untuk bisa hidup bersama, yakni mereka adalah saudara sebangsa kita, walau keyakinannya sudah lain.
Demikian pula seharusnya sikap kita terhadap umat agama lain, yang tidak mungkin akan mengubah keyakinannya, lalu beriman seperti iman kita. Mereka adalah saudara sebangsa dan se tanah air, yang tidak boleh dimusuhi, melainkan harus diajak hidup dalam persahabatan untuk kebaikan bersama. Semua kita jalankan di atas prinsip lakum dinukum wa liya din (untukmu agamamu dan untukku agamaku Q.S.al-Kafirun [109]: 6). Jangan ada kebencian terhadap seseorang hanya karena perbedaan agama dan keyakinan. Bahkan terhadap orang yang tidak beriman pun, Al-Qur’an melarang memaksanya beriman, sila baca:
وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ ﴿٩٩﴾
(Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? – Q.S.Yunus [10]: 99.)
Sekian, Wa ‘Llahu A’lam bi al-Shawab.

JAWABAN TERHADAP PARA PENGGUGAT “NON MUSLIM JADI PEMIMPIN”

JAWABAN TERHADAP SDR. SAHID JAYA
Assalamu Alaikum War./ Wab.
Mohon maaf , berhubung suatu kesibukan, baru sempat baca tuntas sanggahan Pak Sahid.  Terimakasih atas responnya. Dan berikut ini kami akan jawab sesuai apa yang saya ketahui,
1).Hal pertama yg harus diketahui ialah bahwa Ngaji Al-Qur’an secara benar saja tidak cukup, tanpa disertai Pengkajian tentang seluk-beluk hukum Islam.  Bahwa pada prisnsipnya hukum Islam itu luwes, tidak kaku, selalu memberi alternatif.  Luwesnya hukum Islam bermain antara dua sisi hukum, yakni HUKUM AZIMAH, yaitu hukum dasar yg berlaku menurut asumsi umum; dan HUKUM RUKHSHAH, yakni hukum yang timbul sebagai kemudahan akibat adanya sebab-sebab tertentu.   Misalnya : Bagaimana hukum makan dan minum di siang hari Ramadhan?.  Bagi mereka yang melihat dari sisi hukum azimah pastilah jawabannya mengatakan: HARAM, karerna Al-Qur’an mewajibkan puasa Ramadhan.  Tetapi bagi yang melihat dari sisi RUKHSHAH akan menjawab HALAL bagi org yang skit, atau musafir, atau umurnya sudah sangat lanjut (udzur)
2). Untuk dapat melihat batas-batas Hukum Azimah dan Hukum Rukhshah, agar pemahaman dalil tidak kaku, maka minimal kita harus mengetahui metode memahami dilalah (arti yg ditunjuk) ayat, dilengkapi dengan pengetahuan sejarah dan ilmu bantu sesuai konteks penerapan ayat.  Untuk itu, saya tidak menggurui, tapi untuk memahami dalil-dalil syariat, minimal ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni teks (nash ayat/hadits), makna (illat, hikmah, sebab, syarat dan mani, yang berkenaan dengan ayat/hadits) dan ketiga ialah konteks penerapan dalil (tathbiq atau tanfidz).
3)Berikut ini saya akan tunjukkan dan jelaskan ayat-ayat yang Pak Sahid Jaya kemukakan itu dengan metode seperti yang saya sebutkan. Pada komentar 1 dan 7, Pak Sahid mengemukakan ayat-ayat ini:
TQS. 3. Aali ‘Imraan : 28. “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”
TQS. 4. An-Nisaa’ : 144. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”
TQS. 4. An-Nisaa’ : 138-139. “Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”
Mohon pembaca perhatikan secara cermat teks (terjemahan) semua ayat tsb. di atas.  Pada tiap ayat pasti kita menemukan kalimat “DENGAN MENINGGALKAN ORANG-ORANG MUKMIN”  (من دون المؤمنين) pada tiga ayat tsb.  Dalam ilmu tafsir dan ushul fikih, kalimat itu disebut “illat” atau (sebab yang jadi syarat kualifikasi) dilarangnya memilih pemimpin non Muslim, yaitu, jika kita MENINGGALKAN ORANG2 MUKMIN”.  Tapi kalau kita memilih non Muslim tanpa meninggalkan org Mukmin, karena salah satu dari mereka, pemimpin utamanya sendiri atau wakilnya adalah Muslim, maka itu HALAL, karena di dalamnya tetap ada orang Mukmin, sehingga kita tidak disebut MENINGGALKAN ORANG MUKMIN.   Sekali lagi Halal karena tidak termasuk dalam kategori “MENINGGALKAN ORANG MUKMIN”
4).Dilalah (pengertian) dari kata Waliy, (jamak: auliya’) yang dipahami di zaman Nabi dan Sahabat  sudah sangat berbeda dengan pengertian Pemimpin dalam dunia moderen sekarang.   Karena itu kita perlu mengetahui  sejarah perubahan arti / maknanya,  agar tidak kaku dalam penerapan (tanfidz) ayat.   Di zaman Nabi dan sahabat pemimpin itu (Kaisar dan Raja atau Khalifah) adalah berkuasa absolut (mutlak) tanpa dikontrol, semua kekuasaan ada di tangannya, tanpa wakil;  pokoknya yang berkuasa hanya dirinya.  Di zaman moderen, pemimpin sudah bersifat kolektif, berdasarkan teori Trias Politika, kekuasaan terbagi menjadi tiga (pemerintah /eksekutif, Parlemen/Legislatif, Kehakiman/Yudikatif).  Jadi tida kada lagi Pemimpin berkuasa mutlak seperti masa Nabi dan sahabat, karena sekarang dikontrol oleh kekuasaan lain, yakni MPR/DPR dan Kehakiman (MA dan Kejaksaan Agung).  Jadi tidak perlu khawatir, jika suatu saat ada pemerintah (ada wakil Gubernur  non Muslim), karena tetap dikontrol oleh Presiden dan Gubernur di atasnya, DPRD, Pengadilan, Kejaksaan dan KPK, yang semuanya adalah bahagian dari Pemimpin kolektif.
Jadi yang haram secara AZIMAH menurut dilalah “Waliy” yg ada di zaman Nabi, ialah jika seorang non Muslim dipilih jadi pemimpin yang memegang semua kekuasaan Presiden, MPR/DPR,/DPRD, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, KPK, Kejaksaan, Panglima TNI semuanya dipegang oleh satu orang sendirian, yang berstatus non Muslim, atau semua dipegang (dibagi-bagi) oleh banyak orang yang semuanya non Muslim.  Tetapi sepanjang di antara mereka Penguasa2 itu ada Muslim (bahkan lebih banyak muslimnya) walaupun ada di antaranya Non Muslim, demi kebersamaan dan persatuan bangsa, maka hukumnya TIDAK HARAM.  Jadi untuk zaman sekarang, dalil itu perlu diterapkan sesuai konteks pengertiannya dan konteks zamannya yang sudah berubah dan berbeda dengan konteks zaman Nabi dan shabat.  Kaedah hukum ushul fikih mengatakan: alhukmu yaduru ma’a al-llah, wujudan wa ‘adaman (Hukum berubah sesuai illah / sebab/konteksnya, ada atau tidak adanya konteks itu).   Karena dilalah “Waliy” pemimpin yg berkuasa mutlak (absolut) memegang semua kekuasaan sendirian sudah tidak ada sekarang, maka hukum haramnya pun turut tidak ada (hilang).
5).Dilalah lafazh kafir juga perlu dipahami secara benar.  Masih banyak ustadz kita tidak dapat membedakan antara kafir dan ahl kitab, sehingga semua non Muslim, termasuk ahli kitab dicapn semuanya kafir secara mutlak.  Padahal ahlu kitab itu tidak mutlak (tdk semuanya) kafir.  Yang kafir mutlak itu ialah mereka yang tidak percaya adanya Tuhan (Mulhid) atau percaya banyak Tuhan (musyrik). Telah terjadi perdebatan panjang di Twitter antara saya dgn sejumlah ustadz seperti itu. Kesimpulanya, alasan-alasan saya yang menunjukkan bhw tdak semua ahlu kitab (Kristen, Yahudi) itu kafir, tdk dapat dipatahkan oleh mereka.  Kalau pembaca tdk sempat ikuti diskusi itu melalui twitter, silakan baca rangkuman disekusinya yang saya sdh muat di blog saya juga Islam Rahmah http://wp.me/p1n8EA-8E   . Mereka memang menggebu-gebu “mengeroyok” saya, sampai mereka mengemukakan dalil pamungkasnya  dengan mengutip Q.S.Al-Al-Ankabut ayat 47, padahal dalam ayat itu justru ada kalimat yg berbunyi : wa min haula’i man yu’min (di antara merekas ahl kitab itu ada yang berima).  Dengan demikian non Muslim (Kristen) bisa saja dipilih,. Karena tidak termasuk dlm kategori “kafir/musyrik” dalam ayat-ayat larangan yang telah dikutip oleh Pak Sahid.
6)Adapun ayat-ayat yang langsung menyebut  Yahudi dan Kristen (Nahsrani) yang dilarang dipilih pemimpin seperti ayat  QS. 5. Al-Maa-idah : 51.  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”
Larangan dalam ayat tersebut adalah sesuai konteks KEZALIMAN di zaman Nabi SAW, ditandai dengan adanya kata ZALIM di akhir ayat.  Bhw pada masa itu kaum Yahudi dan Kristen bekerjasama dengan bangsa Romawi yang sedang menjajah (menzalimi) sebagian bangsa Arab, sehingga dilarang bekerjasama, berteman dan mengambil mereka pemimpin.  Jadi ‘illat” nya ialah  KEZALIMAN, dan itulah sebabnya ayat itu diakhiri dengan kata2 ZALIM.
Tetapi dalam konteks kedamaian, maka Rasulullah SAW menerima Yahudi dan Nasrani (Kristen), bekerjasama dengan mereka membangun negara Madinah, sama-sama menyusun Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah). Dan salah satu pasal Piagam Madinah berbunyi: Kaum Yahudi (ahl Kitab) dan Muslim, bekerjasama dan bahu membahu dalam membela negeri Madinah, menghadapi musuh bersama, dan saling menasehati untuk kebajikan bukan unuk permusuhan dan dosa.   Jadi dalam konteks kedamaian masyarakat (seperti halnya di Madinah zaman Nabi, dan di Indonesia zaman sekarang) ayat yang harus diterapkan ialah Q.S. Al-Mumtahanah: 8:  Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik bekerjasama) dan berlaku adil terhadap orang-orang (umat agama lain) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.
Di zaman Nabi, untuk warga Madinah yang damai, ayat yg mengandung permusuhan dengan Yahudi dan Nashrani tidak diterapkan.  Bahkan sebaliknya, Nabi pernah menerima kaum Nashrani secara damai bertamu di Masjid Nabawi di Madinah dan mengizinkan mereka beribadah di dalamnya (lihat Tafsir Al-Qurthubiy, Juz IV hal. 4-5).   Karena itulah semua ayat yang dikemukakan oleh Pak Sahjid Jaya yang bernuansa permusuhan abadi dg non Muslim, tidak diterapkan oleh Nabi SAW sendiri dalam masyarakat damai di Madinah.  Terjemahan Ayat-ayat yang dikutip Pak Sahid itu ialah: QS. 5. Al-Maa-idah : 57, QS. 9. At-Taubah : 23, QS. 58. Al-Mujaadilah : 22, QS. 3. Aali ‘Imraan : 118, QS. 9. At-Taubah : 16, QS. 28. Al-Qashash : 86, QS. 60. Al-Mumtahanah : 13, QS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150, QS. 4. An-Nisaa’ : 141,  TQS. 5. Al-Maa-idah : 80-81,  QS. 60. Al-Mumtahanah : 1, QS. 60. Al-Mumtahanah : 5. QS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15.   Bukan berarti ayat-ayat itu tidak berlaku, semuanya tetap berlaku sesuai konteksnya pada masa-masa terjadi kezaliman, permusuhan di zaman atau negeri lain.  Tapi dalam negeri Madinah dizaman Nabi dan negeri Indonesia zaman sekarang, masyarakat berada dalam kedamaian dan kebersamaan.
Ketika Nabi membangun negara damai di Madinah, maka yang diterapkan ialah ayat-ayat tentang kedamaian dan kerjasama dengan kaum ahlu kitab (Yahudi dan Kristen).  Sejaran Nabi seperti itu harus dipelajari oleh para ustadz kita, agar dalam proses tathbiq atau tanfidz (menerapkan) ayat, tidak salah menerapkannya.
Kini pun Indonesia adalah negara damai, Muslim berdamai dengan non Muslim, khususnya kaum Kristen, bukan negara perang, karena itu yang harus diterapkan ialah perdamaian dengan mencontoh Rasulullah SAW.   Setahu saya, kaum minortas tanpa kecuali (khususnya Kristen) di Indonesia tidak ada yang sengaja menghina, melecehkan dan apalagi mau memusuhi umat Islam dan agama Islam, seperti yang diisyaratkan dalam ayat-ayat yang dikutip oleh Pak Sahid.  Dengan demikian tak ada alasan untuk memusuhi mereka.  Bahkan mungkin sebaliknya, telah terbukti ada-ada saja orang Islam yang menyegel, membakar bahkan mengebom gereja kaum Kristiani, tanpa alasan-alasan yang dibenarkan syariat.  Seolah-olah orang-orang yang mengaku Muslim itu ingin menciptakan permusuhan abadi, padahal Rasulullah SAW datang dengan agama Islam yang bersifat al-Salam (sejahtera dan damai) sebagai wujud risalah beliau yang Rahmatan Lil-alamin.
Jadi kita tidak cukup sekadar hanya NGAJI literlek / lafazh ayat per-ayat saja, tetapi perlu MENGKAJI lebih jauh, dengan mempertimbangkan tiga hal, yakni dilalah ayat (nash) dan perubahan-perubahan kandungannya dari zaman ke zaman; kemudian makna nash (illat/sebab/hikmah) yang merupakan landasan rasional adanya hukum; dan tanfidz (konteks penerapan) nya, sehingga ayat-ayat Azimah bisa memberi peluang adanya Rukhshah (dispensasi), pada zaman dan tempat tertentu.
Demikian jawaban saya, Walahu A’lam bi al-Shawab

HALAL MEMILIH NON MUSLIM JADI (WAKIL) PEMIMPIN

                     

HALAL MEMILIH NON MUSLIM JADI (WAKIL) PEMIMPIN

بسم الله الرحمن الرحيم

1.     Al-Qur’an tidak mengharamkan memilih non Muslim  jadi Pemimpin (wakil) yang berdampingan dengan Pemimpin Muslim.

2.     Yang Haram, hanya jika Pemimpin (wakil) non Muslim itu tdk didampingi Pemimpin Muslim, karena dipandang mengabaikan orang2 Mukmin.  Itulah maksud ayat Ala `Imran:28=

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ ﴿٢٨﴾

Janganlah orang2 mu’min mengambil orang2 kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”

3.     Sepanjang Pemimpin (wakil) Non Muslim itu berdampingan /berpasangan dengan Pemimpin Muslim, mereka tidak termasuk dalam kategori  ”meninggalkan orang Mu’min”,  sehingga hukumnya TIDAK HARAM.

4.     Demikian Juga maksud ayat Al-Nisa: 138-139, dan 144 serta ayat2 lain yang mengandung kalimat مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ,min duni al-Mu’minin, TIDAK HARAM jika Permimpin (wakil) non Muslim itu berdampingan dengan Pemimpin Muslim.

5.     Al-Qur’an memerintahkan kita berbuat adil terhadap siapa saja, termasuk Pemimpin Non Muslim yang berdampingan dengan Pemimpin Muslim.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾

Al-Mumtahanah: 8: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

6.     Allah melarang kita berbuat tidak adil akibat kebencian terhadap suatu kaum:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿٨

Al-Maidah: 8: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

                                                                                        

HALAL MEMILIH (WAKIL) PEMIMPIN DARI UMAT AGAMA LAIN

PEMIMPIN NON MUSLIM, dan TAFSIR KONTEKSTUAL

(Rangkuman diskusi via Twitter, soal Pilkada DKI)

Oleh: Hamka Haq

Sejak Rhoma Irama melontarkan bola panas isu SARA yang dalam ceramahnya di suatu masjid melarang warga Jakarta yang Muslim memilih Calon Gubernur  Joko Widodo (JOKOWI) yang berpasangan dengan non Muslim Basuki Cahaya Purnama (AHO), maka dunia maya twitter menjadi ramai dengan diskusi seputar kepemimpinan non Muslim.  Rhoma Irama mengutip Q.S.Al-Maidah: 51: yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”.

Untuk mencegah berlanjutnya khotbah-khotbah yang dapat memicu perpecahan bangsa, warga Jakarta khususnya, maka penulis menerbitkan dua edaran Baitul Muslimin    http://wp.me/s1n8EA-359   dilengkapi dengan  http://wp.me/p1n8EA-7l , yang intinya membolehkan umat Islam memilih pemimpin (calon Gubernur),  yang berpasangan dengan (calon wakil Gubernur) yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama Kristen.  Karuan saja, banyak kecaman dan dukungan via Twitter terhadap penulis.  Bahkan ada yang sinis menilai saya lupa ayat lah, memelinir ayat lah, bahkan menuduh memperkosa ayat.   Dengan sabar saya jawab mereka satu persatu, sampai pada dialog seri keempat, jawaban saya sebanyak 62 butir twit, kecaman dan penistaan pun akhirnya menghilang (Seri pertama 13 twit; kedua 10 twit dan  ke tiga 17 twit, seri keempat 22 butir).   Berikut ini jawaban-jawaban saya dalam twitter itu, saya susun dengan menyambung satu-persatu menjadi tulisan sebagai berikut.

Seri I

Salah satu sifat org yang tdk FAQIH (berilmu & bijak) dalam agama ialah berpikir hitam putih, tanpa alternatif.  Semua non Muslim dicap nya Kafir, padahal Yahudi dan Kristen tidak mutlak Kafir; Al-Qur’an sendiri menyebut mereka Ahlu Kitab.  Bahasa Al-Qur’an amat sejuk, ahl kitab pun disebut ahl mitsaq (penganut perjanjian damai). Bagi kita bangsa Indonesia, seharusnya bahasa sejuk Al-Qir’an seperti itulah yang disebarkan untuk persatuan & kebhinnekaan, bukan mengkafirkan.  Jadi banyak ustadz yang masih perlu diingatkan tentang apa arti kafir sebenarnya dan apa bedanya dg AHLU KITAB

Ketika saya menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu tidak secara mutlak (tidak semua) kafir, ada yang menanggapi dengan mengatakan bahwa saya lupa pada Surah Al-Bayyinah yang menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu kafir.  Saya menjawab: Alhamdulillah, saya tdk lupa S.Al-Bayinah:1.  Tapi coba perhatikan, pd ayat itu trdapat kata (harf jarr)  من “MIN”, yang menurut kaedah tafsir berarti sebagian (tidak semua ahl kitab) itu kafir.  Mungkin si penanya itu belum memahami kaedah-kaedah tafsir seperti itu.  Bahkan untuk memahami Al-Qur’an, sangat diperlukan metodologi untuk dapat mengartikan dan menfasirkannya secara benar (mendekati kebenaran), tidak hanya melihatnya secara harfiyah.

Seri  II

Banyak ayat menunjukkan bahwa ahlu kitab tidak mutlak (tdk semua) kafir. Prhatikan pada Q.S.Al-Baqarah:62 , disebutkan bahwa di antara mereka ada yang beriman dan beramal shaleh, walau imannya tentu berbeda dengan Islam.  Bahkan dalam Q.S.Al`Ankabut:46, disebutkan bahwa Tuhan yang diimani oleh Ahlu Kitab sama dengan Tuhan yang diimani oleh umat Islam. Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid (Dan Tuhan kami dan Tuhanmu -hai ahli Kitab- itu SATU adanya).   Sedang Q.S.Al-Kafirun, yang turun di Mekah, bukan menyangkut Ahl Kitab, melainkan kaum musyrikin, jahiliyah paganisme yang semuanya mutlak kafir.  Jadi utk menafsirkan ayat, di samping memerlukan metodologi, juga memerlukan ilmu sejarah.  Tidak hanya asal mengartikan secara tekstual hitam-putih.

Adapun menyangkut larangan dalam Q.S. Al-Maidah:51, sudah saya jelaskan lewat Edaran  Baitul Muslimn Indonesia http://wp.me/s1n8EA-359   dilengkapi dengan  http://wp.me/p1n8EA-7l  .  Dalam Edran itu, dijelaskan bahwa larangan pada Q.S.Al-Maidah: 51, itu berlaku pada zaman / saat / kondisi, Yahudi dan Kristen berbuat zalim kepada umat Islam.  Tapi saat mereka hidup dalam masyarakat damai, seperti di Madinah, Maka kita seharusnya mencontoh sikap Rasulullah SAW untuk menerima mereka.

Perhatikan pula, pada dasarnya larangan memilih pemimpin dari non Muslim, merujuk kepada konsep Wali (pemimpin) di zaman Nabi SAW, yaitu Raja atau Kaisar berkuasa absolut.   Maka Sepanjang kekuasaannya tidak absolut, tak ada larangan, hukum syariat membolehkannya.   Perhatikan Negara Islam SUDAN, pernah punya Wakil Presiden dari Kristen, yaitu Abel Alier (1976-1982),Yosep Lagu (1982-1985), G.K.Arof (1994-2000), dan Moses K.Machar (2001-2005).  Tentu saja para ulama di Negara Islam Sudan, tidak melupakan Q.S.Al-Bayinah, S.Al-Maidah dll.  Mereka tidak menjual ayat, tapi itulah ISLAM RAHMAH yang mereka terapkan dalam bernegara.   Dalam Negara Islam SUDAN, yang jelas-jelas Syariat Islam menjadi konstitusinya saja, ulamanya membolehkan memilih Kristen pada posisi Wakil, maka tentu di Negara Pancasila RI juga boleh jika untuk kepentingan persatuan bangsa, apalagi hanya posisi wakil Gubernur.

Seri III

Lalu yang dipersoalkan lagi, bahwa umat Kristen sekarang bukan Ahl Kitab.  Penulis jawab bahwa Memang ada yg mau menghapus AHL KITAB dari Kamus Islam, katanya: Ahl Kitab hanya di zaman Nabi Musa dan Isa a.s.  Padahal AHLU KITAB yang disebut dalam Al-Qur’an mengacu pada kaum Yahudi dan Kristen yang ada di zaman Nabi Muhammad SAW.   Khusus kaum Kristen di zaman Nabi, keyakinan mereka adalah trinitas yg disahkan pada Konsili Nikea sejak 325 M.  Keyakinan itu pula yang dianut Kristen di zaman sekarang, maka dengan sendirinya Ahl Kitab tetap ada sampai skarang.

Bahkan ada Ahl Kitab yang mendapat pujian, karena rajin membaca kitab sucinya dan beribadah di malam hari (Q.S.Ala Imran:113).  Juga di antara mereka, walaupun tetap pada agamanya, tapi percaya pada kebenaran Nabi SAW dan Al-Qur’an, serta berakhlak mulia (Q.S.Ala Imran:199).  Karena itu Al-Quran melarang kita mencerca Ahl Kitab, kecuali mereka yang zalim, karena Tuhan kita dan Tuhan mereka sama, satu adanya (Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid)  (Q.S. Al-‘Ankabut: 46).  Saya hanya sekadar menunjukkan sejumlah ayat Al-Qur’an tentang Ahl Kitab yang sering diabaikan.   Lebih rinci soal Ahl Kitab, diuraikan khusus pd Bab VI buku saya ISLAM RAHMAH UTK BANGSA, buka http://wp.me/p1n8EA-41

Seri IV

Memahami Al-Qur’an harus secara konprehensif, kita tidak boleh melupakan ayat-ayat yang menilai tdk semua ahlu kitab itu kafir, seperti telah diungkapan.  Kaum musyrikin yang memang semua kafir, berbeda dengan ahl kitab yang diakui tidak semuanya kafir; baca QS.Ala Imran:113, di sana berbunyi (laysuw sawa yang artinya mereka itu tidak sama).  Karena itu Al-Qur’an selalu memisahkan antara Ahl Kitab (yg tdak semua Kafir) dengan Musyrikin yg sccara mutlak kafir.  Andai kata Ahl Kitab dan Musyrikin itu sama (sinonim) maka tidak perlu dipisah, cukup Al-Qur’an menyebut Musyrikin saja, tapi ternyata Al-Qur’an memisahkannya.  Untuk jelasnya perhatikan kembali  Q.S.Al-Ankabut:46  (Tuhan kita dan Ahl Kitab SATU); lalu ayat 47 jelas-jelas menegaskan bahwa sebagian mereka beriman (wa min haula’i man yu`min).

Ahl Kitab yang tetap pada agamanya, namun mengakui kebenaran Nabi dan Al-Quran, dan tidak memusuhi Islam, tdk disebut Kafir (Q.S.Ala Imran:113).  Ahlu Kitab yang percaya Allah itu Esa dan Yesus tubuh manusia (Matius 26:2) yg mewadahi Dimensi Roh KasihNYA, mereka tidak kafir.  Mirip konsep Wihadtul Wujud dalam Tasawuf Islam, (Allah memilih hambaNYA yang sufi sebagai wadah PancaranNYA) seperti yang dialami Al-Hallaj.   Analoginya: Allah yg hakikat-NYA Maha Esa, hadir dalam berbagai dimensi sifat, sehingga bagi umat Islam terdapat 99 asmaul husna-NYA dlm AlQur’an, yang menunjukkan dimensi-dimensi sifat Allah, bahkan ada yang menjadikannya 100 dengan memasukkan nama: Al-Syafi’ (Allah Maha Penyembuh).  Yang kafir ialah percaya TIGA jenis dan TIGA zat Tuhan, sehingga Tuhan berbilang – politeistis (Q.S.Al-Maidah:17 & 73, Al-Tawbah:30).

Sepanjang mereka hanya meyakini Yesus sebatas manusia (tubuh yang mewadahi dimensi Roh Kasih Allah YME), bukan zat setara dg Tuhan, mereka tidk musyrik.  Perhatikan, dalam Al-Qur’an, Yesus juga disebut sabagai Wadah Firman2-NYA, Wadah Roh (Spirit)-NYA yg dilimpahkan ke Maryam (Q.S.Al-Nisa: 171).  Ahlu Kitab yang mengimani Yesus sbg WADAH Cinta Kasih Allah, menyebut juga Nabi seperti itu, sbg “anak” Allah, tapi Nabi menolaknya.   Mereka itulah yg bertamu di Masjid Nabawi Madinah, dan diizinkan oleh Nabi beribadah di sana (Tafsir Al-Qurthubi Juz 4 h. 4&5).

Missi Rasulullah SAW: Rahmatan lil-‘alamin dan Kaffatan li al-nas, bahwa Islam adalah sumber rahmah (kasih sayang) bgi semua manusia.  Nabi tdk bertugas mengislamkan semua manusia, sebab ternyata beliau sendiri mengajak kaum non Muslim kerjasama dalam negara Madinah.  Nabi membangun masyarakat plural, bahkan ipar2nya dan pembantunya juga ada yg beragama Yahudi tanpa dipaksakan masuk Islam.

Kemudian, ada ustadz atau yang mengaku ulama mempertanyakan metode kontekstual yang disinggung dalam Edaran Baitul Muslimin.  Mereka belum mengerti, sehingga mengira pemahaman kontekstual adalah memelintir (memperkosa) ayat.  Untuk itu, perlu dijelaskan guna membuktikan bhw metode pemahaman kontekstual tdk seperti apa yang mereka tuduhkan itu.

Misalnya Q.S.Al-Taubah:36: “Perangilah orang musyrik seluruhnya”; jika dipahami secara tekstual, berarti umat Islam wajib perang tiap hari.  Karena itu, harus dipahami secara kontekstual, bahwa ayat tsb. hanya berlaku pada kondisi diperangi di zaman Nabi, atau kondisi yg sama sesudahnya.  Contoh lain: Hadits larangan buang air menghadap/membelakangi ka`bah.  Nabi tegaskan: “Hendaklah kalian menghadap ke Timur atau ke Barat”.   Kalau hadits tsb diterapkan di Indonesia secara tekstual, maka umat Islam Indonesia akan selamanya meghadap / membelakangi ka’bah pada saat buang air, sehingga bertentangan dengan substansi larangan Nabi.  Jadi harus disesuaikan dengan konteksnya, bahwa menghdap ke Barat /Timur itu memang cocok di Madinah, karena di sana kiblat berada di arah Selatan.  Contoh lain, S.Al-Maidah: 38; “Laki-laki dan perempuan yg mencuri potonglah kedua tangannya”, itu hanya dapat diterapkan pada konteks kemakmuran.  Khalifah Umar bin Khattab tidak memotong tangan beberapa buruh yang mencuri karena diterlantarkan majikannya.  Umar R.A justru menjatuhkan sanksi denda atas majikan mereka (Muwaththa`, Juz II: 748).

Begitu pula halnya larangan memilih pemimpin (wakil non Muslim) hrs dipahami scr kontekstual, berlaku ketika non Muslim menzalimi umat Islam.  Tetapi dlm konteks kedamaian warga yg pulral, sperti di Madinah pd zaman Nabi SAW, umat Islam dapat bekerjasama dengan non Muslim.   Maka utk zaman moderen, demi membangun perdamaian dan persatuan bangsa, non Muslim boleh saja dipilih jadi pendamping (wakil) pemimpin.  Negara Islam Sudan, misalnya, berdasarkan UUD Syariat nya memberi contoh untuk hal ini.   Apa yg berlaku di Sudan membuktikan bahwa Islam itu Rahmatan lil-alamin, rahmat utk semua manusia (Kaffatan li al-nas).

Cara itu pula dierapkan oleh Khalifah-khalifah Islam di zaman klassik, mengangkat sejumlah ilmuwan Kristen pada posisi tertentu demi kajayaan Dinasti Islam Abbasiyah.  Khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya Al-Makmun pada zaman keemasan Dinasti Abbasiyah membangun Badan Penerjemahan (BAITUL HIKMAH) dan mengangkat Hunayn bin Ishaq bersama puteranya Ishaq bin Hunayn dari kalangan Kristen, mengepalai lembaga tersebut, sekaligus Ketua Tim Dokter istana. Penerjemah dari Kristen Nestoria adalah Bakhtisyu’, juga diangkat menjadi Kepala Rumah Sakit Baghdad. Demikian dlm buku sejarah Akhbar al-‘Ulama’ bi Akhyar al-Hukama’ Juz I, h. 77 oleh Al-Qufty; Tarikh al-Islami Juz 4 h.491 oleh Al-Dzahaby dan Wafyat al-A’yani wa Anba’u Abna’ al-Zaman Juz I, h. 205 oleh Ibn Khillikan.

Disamping konteks kedamaian, juga konteks kekuasaan pemimpin skarang, yg tdk lagi absolut, bukan Kaisar, Raja, dan bukan Khalifah.   Pemimpin Non Muslim di Negeri mayoritas Muslim, biasanya sebatas Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, dan sekali lagi apalagi kalau hanya wakil Gubernur.

Terima kasih.

Hamka Haq.

KEBHINNEKAAN DALAM PRAKTIK AJARAN ISLAM

KEBHINNEKAAN DALAM PRAKTIK AJARAN ISLAM

I.          Allah SWT telah MENAKDIRKAN makhluk manusia beragam jenis, etnis, agama dan budaya, dengan tujuan agar manusia saling berbuat kebajikan dan KEARIFAN antar sesama. Q.S.Al-Hujurat: 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling berbuat kearifan. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”

II.        Dari segi keragaman agama, Al-Qur’an juga menyebut bahwa Yahudi, Kristen, Hindu (Budha), bukanlah kafir (tanpa iman), tetapi Ahlu Kitab yang berhak mendapat pahala dari Tuhan.  Q.S.Al-Baqarah: 62: “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin (Hindu-Budha-pen), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

III.       Dalam Al-Qur’an dan Hadits, selain bangsa Arab dan Israel, juga ada disebut Romawi, Persia dan Cina.  Bangsa Cina sangat istimewa, karena Nabi SAW sendiri meminta umat Islam belajar ke Cina.  Hal itu berarti Peradaban Cina non Muslim dikagumi oleh Rasulullah SAW. “Dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW, bersabda: Tuntutlah ilmu walaupun ke Negeri Cina” (Musnad al-Rubay`, Juz I, h.29)

IV.       Perintah belajar ke Cina tersebut mendorong umat Islam di zaman sahabat dan khilafah untuk mencari sumber pengetahuan terutama ke Romawi dan Yunani.  Buku-buku ilmu pengetahuan dari Yunani pun diterjemahkan ke bahasa Arab. Khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya Al-Makmun pada zaman keemasan Dinasti Abbasiyah membangun Badan Penerjemahan (BAITUL HIKMAH) dan mengangkat Hunayn bin Ishaq bersama puteranya Ishaq bin Hunayn dari kalangan Kristen, mengepalai lembaga tersebut, sekaligus Ketua Tim Dokter istana. Penerjemah dari Kristen Nestoria adalah Bakhtisyu’, yang diangkat menjadi Kepala Rumah Sakit Baghdad. Demikian dlm buku sejarah Akhbar al-‘Ulama’ bi Akhyar al-Hukama’ Juz I, h. 77 oleh Al-Qufty; Tarikh al-Islami Juz 4 h.491 oleh Al-Dzahaby dan Wafyat al-A’yani wa Anba’u Abna’ al-Zaman Juz I, h. 205 oleh Ibn Khillikan.

V.        Bekerja-sama yang baik dengan non Muslim seperti disebutkan berhasil membawa Daulah Abbasiyah ke puncak kejayaan.  Umat Islam waktu itu memegang perintah Allah SWT, Q.S. Al-Mumtahanah: 8:  Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (bekerjasama) dan berlaku adil terhadap orang-orang (umat agama lain) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

VI.      Kerjasama dengan non Muslim sebenarnya bermula sejak Rasulullah SAW menyusun UUD (Piagam Madinah) yang pada pasal 37 berbunyi: “Kaum Yahudi dan kaum Muslimin membiayai pihaknya masing-masing.  Kedua belah pihak akan saling membela dalam menghadapi pihak yang memerangi kelompok-kelompok masyarakat yang menyetujui Piagam Perjanjian ini.  Kedua belah pihak juga saling memberikan saran dan nasehat dalam kebaikan, tidak dalam perbuatan dosa.

VI.      Dengan demikian, menolak bekerjasama dengan non Muslim dinilai menghalangi kedamaian dan kemajuan; sangat dikecam oleh Rasulullah SAW; “Barang siapa yang menzalimi (membunuh) seorang mu’ahid (dzimmi – non Muslim dalam masyarakat damai), maka ia tidak memperoleh aromanya Sorga” (Shahih Bukhari Juz 6, hadits 6516).  “Barang siapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka akan dihukum dengan cambuk api di hari kiamat” (Al-Mu’jam al-Kubra: Juz 22, h. 52).  “Bersabda Rasulullah SAW: Sorga itu haram bagi orang yang membunuh orang dzimmi (non Muslim), atau menzalimi, atau membebaninya tugas diluar kesanggupannya.” (Musnad Al-Rubay’ Juz I, h. 292).  Masih banyak lagi hadits yang pengertiannya seperti tersebut.

JAKARTA,    30 JULI 2012

KETUA UMUM BAITUL MUSLIMIN INDONESIA

PROF. DR.H. HAMKA HAQ, MA