AKHLAK, KEISLAMAN TERTINGGI

Syekh Mohamm,ad Abduh, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Mufti Mesir

Syekh Mohamm,ad Abduh, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Mufti Mesir

AKHLAK,  KEISLAMAN TERTINGGI

Oleh: Hamka Haq

Ketika Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Mufti Mesir, Syekh Mohammad Abduh berkunjung ke Paris pada tahun 1884 (lebih se abad yang lalu), di sana ia menyaksikan betapa kota Paris indah dan bersih, teratur rapi, lagi pula orang-orang Paris beretos kerja tinggi, berperilaku peramah dan bersahabat. Melihat demikian beliau pun brucap: “raaytu al-Islam wa lam ara Musliman” (Aku lihat Islam di Paris, padahal aku tidak melihat orang Muslim).

Syekh Mohammad Abduh mengartikan Islam sebagai perilaku. Baginya perilaku Islam ialah harus beretos kerja tinggi, tekun dan rajin (bukan pemalas), sekaligus peramah, suka bekerjasama dan berpenampilan bersahabat; tidak seram, tidak menakutkan, apalagi tentunya tidak suka mengganggu orang lain. Mereka pun menghormati kaum perempuan, tidak mudah kawin-cerai. Maka andai saja Syekh Muhammad Abduh masih hidup dan sempat berkunjung ke Indonesia, lalu sering melihat ada orang Muslim, apalagi aktifis Muslim, yang berperilaku brutal, preman, tidak menyenangkan orang lain, bahkan ada yang mengganggu dan mengusir orang lain; dengan mudahnya memperbanyak isteri secara sirr melebihi batas syariah, atau sebaliknya dengan mudahnya menceraikannya, bahkan cerai lewat SMS saja; pastilah Syaekh Muhammad Abduh akan berucap: “ra’aytu al-Muslimin wa lam ara al-Islam (aku melihat banyak Muslim, tapi aku tidak melihat Islam pada diri mereka).

Jadi Islam sebenarnya ialah akhlak terhadap sesama manusia. Sabda Nabi Muhammad SAW: ”Buitstu li utammima makarim al-akhlaq (Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak). Adapun soal iman dan keikhlasan beribadah, itu adalah urusan pribadi dengan Allah SWT. Tetapi, akhlak adalah urusan hubungan antar sesama manusia, yang konkret dan terukur, dapat disaksikan dan dirasakan bersama.

Salah satu ciri orang berakhlak ialah adanya kemampuan menyeimbangkan kekuatan pikir dan fisik, atau spirit ijtihad (akal/otak) dengan spirit jihad (otot). Namun masih banyak Muslim yang belum mampu menyeimbangkan antara kedua kekuatan dan spirit itu, karena lebih cenderung memperkuat otot, dengan alasan jihad fi sabilillah, tapi ternyata perilaku jihadnya menyalahi kaedah logika, adat dan moral, mereka melanggar kaedah hukum dan akhlak, dirinya tidak mencerminkan sosok orang yang punya ijtihad (pikir) dan dzikir, kecuali yang tersisa ialah keberanian menyakiti hati orang lain, keberanian menyiksa fisik orang lain, keberanan merusak milik orang lain, keberanian mempermalukan orang lain di hadapan orang banyak. Padahal, Nabi SAW bersabda: al-muslim man salima al-muslimun min lisanih wayadih, (orang Islam ialah orang yang = “selamat orang lain dari gangguan lidah dan tangannya”).

Jika hadits Nabi tersebut dipahami secara mukhalafah (pemahaman terbalik), maka orang yang mengganggu orang lain dengan ucapan lidah dan tindakan tangannya, niscaya bukanlah seorang muslim. Mudah-mudahan kita tidak tergolong seperti itu. Wallahu a’lam bi al-shawab.

PERANG ARAB-ISRAEL

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Perang Arab-Israel

Oleh: Hamka Haq

Perang Arab-Israel adl perang antara dua bangsa serumpun (saudara sepupu), dari nenek moyang bersama, Ibrahim (Abraham), yg melibatkan agama Islam-Yahudi.  Andaikata bgs Arab Palestina berbesar hati menerima Israel sejak awal, maka wilayah negara Israel (Tel Aviv dan sekitarnya) tidak seluas sekarang. Tapi, bangsa Arab yang ngotot itu berperang terus-menerus, namun selalu kalah melawan teknologi perang Israel, akhirnya Israel merebut wilayah lebih luas lagi dalam Perang 1967, sampai ke kota suci Jerussalem.  Sekrg wilayah Israel makin luas, sementara Palestina makin terdesak, bgs Arab yg dahulu pernah ngotot membantu perjuangan Palestina  sprti Arab Saudi pun semakin tdk lagi mendukung Palestina.

Di depan mahsiswa S3 UIN Makassar, saya pernah nyatakan bhw umat Islam se dunia seharusnya bersyukur, Israel hanya mau ke Tel aviv di Palestina.  Coba kalau Israel ngotot kembali ke Madinah, yg dulu merupakan tanah air bersama dengan bangsa Arab  sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana, entah apa jadinya…?   Nabi Muhammad SAW ketika memimpin Madinah mepersaudarakan Arab (Muslim) dg bgs Yahudi di Madinah, dan sama2 menyusun kostitusi Madinah.  Namun, sepeninggal Nabi, Khalifah2 membuat kebijakan ekstrim, bahwa Madinah harus dihuni oleh 100% Muslim,  sehingga Yahudi harus keluar dari Madinah dan mengembara sampai Eropa. Palestina hampir mengalami nasib seperti Madinah  sehingga sebahagian besar Bani Israel keluar dari Palestina.   Keadaan berbalik, 13 abad kemudian, giliran bgs Arab Palestina meningglkan sbgian tanah airnya ketika negara Israel berdiri  dan menjadikan wilayah Arab yang direbutnya dlam Perang tahun 1967 sebagai wilayah penyanggah untuk keamanan negaranya (Tel Aviv dan sekitarnya).

Kini, Saatnya masyarakt dunia dgn segala ras dan agama berdamai membangun peradaban dunia baru yang tenteram dan maju.  Namun, Barat sengaja memelihara perang berlarut-larut antara Palestina-Israel, demi keuntungan politik dan industri senjata. Yaser Arafat, Pemimpin Palestina yang menerima jalan damai (perjanjian Oslo), dirawat di Eropa utk diracun dan mati(2004).  Yitzak Rabin PM Israel yg juga setuju jalan damai, dibunuh (1995) oleh mereka yg tidak menginginkan perdamaian segera.  Padahal Peta Jalan Damai itu sangat ideal untuk perdamaian abadi, karena bertolak dari Keputusan PBB pada tahun 1947 yang menghendaki adanya dua negara damai berdampingan di Palestina, yakni negara Israel (wilayah Tel Aviv) dan negara Palestina yang didominasi bangsa Arab mencakup semua wilayah di luar Tel Aviv.

Namun, nasib Peta Jalan Damai terkatung-katung akibat konflik internal pula dalam tubuh bangsa Palestina.  Konflik antara PLO yang didirikan oleh Yaser Arafat Presiden Otoritas Palestina I (pemukim Tepi Barat) dan Hamas yang dipimpin oleh Ismael Haniyah (pemukim Jalur Gaza) dikipas terus agar bangsa Arab Palestina tdk kunjung bersatu, guna memperlambat perdamaian.   Anehnya, sebagian umat Islam, termasuk di Indonesia tidak sadar terjebak dalam skenario itu, sehingga lebih senang berpihak pada Hamas yang jargon politiknya ialah jihad menghancurkan Israel.  Saking bencinya kepada Israel, maka aktifis Islam di Indonesia memilih berpihak pada jihad perang yang dilancarkan oleh pimpinan Hamas, Ismael Haniyah, yang juga menjabat PM Palestina, ketimbang mendukung proses perdamaian yang ditempuh oleh Mahmud Abbas Presiden Palestina dan Pimpinan PLO penerus Yaser Arafat.  Dunia Islam harusnya tahu bahwa realitas perjuangan secara damai jauh lebih menguntungkan ketimbang perang terus-menerus.  Perjauangan Mahmud Abbas untuk meneruskan Peta Jalan Damai, akhirnya mendapat simpati dari PBB, yang kemudian secara resmi badan dunia tersebut  mengakui Palestina sebagai Negara anggota PBB, status Peninjau.  Mestinya upaya damai Mahmud Abbas inilah yang harus didukung oleh dunia Islam internasional, ketimbang menghabiskan generasi Palestina hanya untuk berperang tanpa diketahui kapan berakhirnya.

Saya yakin semuanya adalah skenario kepentingan Barat yg tidk ingin melihat Palestina-Israel damai dlm waktu singkat.  Konflik Palestina-Israel, sengaja dipelihara karena bagi Amerika sangat penting, utuk dijual dalam setiap kampanye Pilpres AS, dan utk keutungan bisnis senjata.