MENUJU PALESTINA MERDEKA, SOLUSI DUA NEGARA (2)

SOLUSI DUA NEGARA (Bagian 2)

Oleh: Prof. Dr.H. Hamka Haq, MA

            Pada tahun 2010, penulis mewakili Baitul Muslimin Indonesia menghadiri Konferensi untuk Pembelaan Baitul Maqdis (General Conference for the Support of Al-Quds), bertempat di Kualalumpur Malaysia. Konferensi berlangsung selama dua hari tepatnya tanggal 20 s.d. 21 Januari 2010, dihadiri sejumlah delegasi dari negara Timur Tengah, Asia Timur dan Asis Tenggara.  Dari Indonesia, hadir pula wakil ormas Islam Muhammdiyah, NU, dan MDI.

            Mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Muhammad hadir sebagai Keynote Speaker, sekaligus membuka konferensi internasional tersebut.  Dalam pidato tanpa teks, Mahathir menegaskan bahwa dunia internasional, khususnya Barat terkadang tidak adil memandang Palestina, dan persoalan umat Islam pada umumnya.  Misalnya, serangan 11 September 2001 dianggapnya sebagai serangan teroris, sementara serangan brutal Zionisme Israel atas bangsa Palstina di Gaza tidak disebutnya serangan teroris. 

Hal menarik lainnya dari pidato Mahathir adalah bahwa Amerika dan sekutunya di Eropa sengaja memberikan sebahagain wilayah Palestina menjadi negara untuk Zionis Israel, karena bangsa Barat merasa terganggu dengan kehadiran kaum Yahudi yang menyebar di negara-negara Eropa dan Amerika itu.  Untuk menghindari gangguan tersebut, negara-negara Barat sepakat perlunya pembentukan Negara Israel sendiri untuk merelokasi kaum Yahudi berdiaspora itu.  Hal ini baru kita dengar, dan jika benar demikian, maka bantuan Amerika dan Eropa ke Israel, yang seolah menjadikan Israel sebagai anak emas, ternyata bertujuan pula untuk menghindari perilaku kaum Yahudi yang mereka pandang sebagai trouble maker di negara mereka.

Persoalan kota suci Jerussalem (al-Quds) yang menjadi tema konferensi merupakan bahagian terpentig dari perang Pelaestina-Israel, dan menjadi alasan bagi negara-negara Islam untuk membantu perjuangan bangsa Palestina.  Kini, Israel mengklaim Al-Quds menjadi Ibukota Negara Zionis itu.  Di lain pihak, pejuang Palestina juga mencita-citakan sebuah Negara Palestina Merdeka, dan Al-Quds sebagai ibu kotanya.  Maka terjadilah konflik antara Palestina dan Israel yang berkepanjangan seolah tiada habisnya.  Terakhir kemarin terjadi saling serang yang tidak berimbang selama sebelas hari di bulan Mei 2021 ini.  Walau kerugian besar dialami tentunya oleh Hamas, namun anehnya, Hamas justru mengaku menang dan marayakannya usai pengumunan gencatan senjata oleh Israel.

            Pertanyaan, sampai berapa lama lagi perang itu berlangsung, dan kapan akan berakhir?. Sulit dijawab jika melihat eskalasi persoalan antara keduanya.  Dan karena itu pula nasib Al-Quds pun tidak dapat dipastikan akan jatuh ke  tangan siapa, dan sampai kapan ia terkatung-katung dalam bayang-bayang perang tanpa akhir itu.  Jawaban yang mungkin ialah, bahwa nasib Al-Quds tergantung pada kepastian terbentuknya Negara Palestina Merdeka, yang dapat dicapai dengan memilih salah satu alternative berikut

Alternatif pertama ialah bangsa Palestina harus mempersiapkan diri menghadapi dan memenangkan perang panjang dengan Israel itu.  Alternatif ini tentulah sangat sulit, tidak realistis dan tidak memberi kepastian kepada bangsa Palestina untuk dapat memproklamirkan kemerdekaannya dalam waktu yang singkat atau lama.

Alternatif kedua ialah menempuh perdamaian dengan meneruskan lagi peta jalan damai Oslo 1993 yang telah dirintis dan desepakati oleh oleh Yasser Arafat dan Yitshak Rabin, untuk berdirinya dua negara Palestina dan Israel yang berdampingan secara damai.  Peta jalan damai itu juga kini sudah disetujui oleh Arab Saudi, Maroko, Uni Emirat Arab dan Bahrain.  Tanpa melupakan perlunya pertahanan militer bagi sebuah negara, namun hal yang paling utama ialah Palestina dan Israel haruslah memastikan pihaknya untuk dapat hidup berdampingan dalam perdamaian abadi.

            Sadar pula bahwa zaman globalisasi dewasa ini, mengharuskan semua komunitas manusia untuk saling berhubungan dengan baik tanpa sekat-sekat bangsa, ras dan agama.  Untuk itu kecenderungan peradaban modern ialah membangun kedamaian untuk semua.   Maka, saatnya kini paradigma perang yang berkepanjangan diubah menjadi paradigma perdamaian.  Saatnyalah bangsa Palestina dan Israel semakin intens meneruskan perundingan demi kehidupan baru yang sejahtera dalam dua negara yang damai untuk selamanya.

Fatah dan Hamas, Bersatulah

            Kendala utama perdamaian di Palestina ialah, pecahnya perlawanan bangsa Palestina sendiri, yakni Fatah (kekuatan inti PLO)  dan Hamas.  Fatah dan Hamas mempunyai gaya yang berbeda, fatah lebih cenderung memilih jalan diplomasi dan mudah diajak ke meja perundingan, sedang Hamash tetap memilih perjuangan bersenjata. 

            Dua gaya pergerakan tersebu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya, namun untuk kondisi kekinian, maka jalan damai adalah pilihan yang realistis. Konflik bersenjata Palestina-Israel sudah berlangsung lebih 70 tahun, yang mengakibatkan korban mati syahid ratusan ribu jiwa, atau mungkin jutaan, eksodus besar-besaran, anak-anak terlantar hidup di pengungsian, serta keadaan yang selalu mencekam sewaktu-waktu menghadapi pengeboman dan serangan udara tentara Israel.   Sekali lagi tanpa mengabaikan perlunya kekuatan militer untuk pertahanan diri, namun jalan perdamaian untuk mengakhiri penderitaan bangsa Palestina adalah jalan yang terbaik, dan merupakan pilihan yang realistis.

            Untuk kepentingan itulah, maka seharusnya dua gaya pergerakan tersebut menyatu sebagai kekuatan dahsyat yang tiada taranya, memandang jauh ke depan untuk menata kehidupan berbangsa yang solid, dan meninggalkan egoisme sektoral demi terwujudnya Negara Bangsa Palestina Merdeka.

Untuk itu faksi Hamas harus berubah, harus menerima gagasan dua negara berdasarkan perjanjian Oslo 1993, yang selalu ditolaknya itu. Bagaimanapun juga gagasan tersebut itulah yang realistis, dan kini negara-negara Arab pun yang sejak awal berdirinya Israel menolak keras gagasan serupa, seperti Arab Saudi, Maroko dan negara-negara teluk, justru melunak menerimanya dan mengakui kehadiran Israel.   Hal tersebut jauh lebih menguntungkan Palestina ketimbang ngotot berperang terus dengan tetap berharap donasi dari negara-negara Islam lain.  Memelihara perang hanya merugikan semua pihak, terutama Palestina sendiri.  Hamas harus memahami ini sebelum negara-negara Arab lain semakin banyak mengakui Israel, yang membuat Hamas semakin terkucil, bahkan mungkin Hamas akan dicap oleh mereka sebagai organisasi cinta perang ala teroris.  Wallahu a’lam bil Showabi.

Catatan: Telah dimuat di media Genial : http://genial.co.id/menuju-palestina-merdeka-solusi-dua-negara-bagian-2/

MENUJU PALESTINA MERDEKA, SOLUSI “DUA NEGARA” (Bagian 1)

Oleh. Prof.Dr. H. Hamka Haq, MA

Dalam Pembukaan UUD NRI 1945, disebutkan: “Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.  Ini artinya, Indonesia mendukung setiap bangsa tanpa kecuali untuk memperoleh tanah air dan kemerdekaan. 

Dalam kerangka inilah kita harus tempatkan diskusi soal konflik bangsa Palestina dan bangsa Israel.  Dengan kata lain, dua bangsa yang selama ini berperang itu adalah sama-sama menuntut hak-haknya untuk memiliki tanah air dan merebut kemerdekaan.  Bangsa Israel dan bangsa Palestina sama-sama merasa berhak untuk tinggal di Palestina sebagai tanah air warisan dari neneak moyang yang sama, yakni Nabi Ibrahim.  Jadi demi kemanusiaan, keadilan dan kedamaian, solusi terbaik bagi kedua bangsa serumpun itu ialah berdirinya dua negara, Negara Palestina dan Negara Israel yang rukun damai, sebagai sesama keturunan dari nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim.

Maka kalau mau bicara sejujurnya soal sejarah Palestina dalam kaitannya dengan konflik Arab-Israel ini, setidaknya harus dimulai dari sejarah Nabi Ibrahim.  Jangan memulai dari tahun berdirinya negara Zionis Israel tahun 1948, yang hanya berbincang soal perang Arab-Israel, di mana bangsa Arab selalu kalah dan terzalimi.  Mari kita coba membaca sejarah Palestina lebih jauh ke tempo doeloe, ribuan tahun yang lalu.  

Bahwa sebenarnya Palestina itu adalah negeri Nabi Ibrahim (Abraham) dan dihuni kemudian oleh keturunannya yang mencakup dua bangsa besar, yakni Bani Ismail (bangsa Arab) dan Bani Israel (kaum Yahudi). Pada zaman dahulu, Nabi Ibrahim hiijrah dari Babilon ke Kanaan (Palestina sekarang) untuk menyelamatkan diri dari kejaran Raja Namrud.  Dia kemudian mempunyai dua anak, yakni Ismail, nenek moyang bangsa Arab, dan Ishak nenek moyang Bani Israel.  Ismail bersama ibunya Hajar diantar Nabi Ibrahim ke Makkah dan tinggal di sana, sedang Ishak bersama ibunya Sarah dibiarkan tetap di Kanaan. 

Nabi Ishak melahirkan Nabi Yakub, tapi Yakub kemudian hijrah sekeluarga ke Mesir, ketika putranya bernama Yusuf menjadi Bendahara Kerajaan Dinasti Firaun, dan tinggal menetap di sana.  Yakub lebih masyhur digelar Israel yang artinya pengembara di malam hari, sehingga keturunannya pun disebut Bani Israel.  Keturunan Yakub (Bani Israel) itu berkembang biak dan menjadi bangsa tersendiri di Mesir.  Mereka diperbudak oleh bangsa Mesir di zaman Dinasti Firaun itu, sampai akhirnya Nabi Musa lahir dan kelak menyelamatkan bangsanya keluar dari Mesir kembali ke Palestina melalui gurun Sinai. 

Peristiwa kembalinya Bani Israel ke Palestina dikisahkan dalam dua kitab suci, Perjanjian Lama dan Ak-Qur’an.   Perjanjian Lama berulang kali menyebut Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan”, antara lain: “dan supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunan mereka” (Ulangan 11:9).  Kisah yang mirip “tanah yang dijanjikan” itu juga terdapat dalam Al-Quran, Al-Maidah (5): 20-26. Antara lain: “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi”(Q.S.Al-Maidah: 21).

Ketika bangsa Israel kembali ke Palestina sesuai informasi dua kitab suci tersebut, mereka pun akhirnya berbaur dengan suku bangsa lainnya, termasuk suku-suku Arab Bani Ismail.  Bahkan pembauran antara bangsa Israel dan bangsa Arab menjalar sampai ke Yatsrib (Madinah).  Jadi tak dapat dipungkiri bahwa Palestina, bahkan Madinah dahulu merupakan kediaman bersama bangsa serumpun Arab dan Yahudi (Bani Israel), yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim nenek moyangnya itu.  Di Madinah, kondisi itu tetap dipertahankan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri ketika beliau jadi Kepala Negara, dengan mengajak kaum Yahudi untuk sama-sama menyusun UUD Madinah yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

Nantilah pada zaman sepeninggal Nabi, khalifah-khalifah pengganti Nabi membuat kebijakan ekstrem, sehingga kaum Yahudi keluar dari Madinah.  Bahkan mereka juga berangsur keluar dari Palestina setelah direbut oleh Khalifah Umar pada tahun 637 M dari kekuasaan Romawi, dan terus dikuasai Arab hingga zaman Turki Utsmani.  Dizaman Turki Utsmani, Israel berusaha kembali ke Palestina (1869), namun ditolak mentah-mentah oleh Sultan Abdul Hamid II.  Sejak Palestina direbut Khaifah Umar, bangsa Israel semakin banyak eksodus, hingga akhirnya populasi mereka semakin berkurang dan yang tersisa sedikit itu mendiami wilayah Tel Aviv dan sekitarnya. 

Khalifah Umar memperkokoh kekuasaan politik Islam di Palestina ditandai dengan pembangunan Masjid Aqsha di atas tanah (Rumah Suci) Israel yang pernah disinggahi Rasulullah SAW beribadah dalam peristiwa Isra Mi’raj.   Rumah Suci yang sebelumnya merupakan warisan Yahudi-Kristen, beralih dalam penguasaan Islam ketika itu.   Bangsa Israel pun sekali lagi memilih mengembara tanpa tujuan ke mana-mana sampai terdampar di Afrika Utara dan sebagian menyeberang ke Eropa. Jadi sejujurnya, menurut sejarah, wajar saja jika di abad ke 19 bangsa Israel ingin punya tanah air sendiri, dan kembali ke Palestina, di mana nenek moyangnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ishak pernah tinggal di sana.  Namun, bangsa Eropa khususnya Inggeris yang memediasi kembalinya Israel ke Palestina, gagal melakukan pendekatan persuasif ke bangsa Arab yang juga keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail, sehingga bangsa Arab Palestina merasa dipaksa tanpa kehormatan untuk menerima kehadiran Israel.

Hal yang jarang diungkap, bahwa awalnya Yahudi (Bani Israel) sebenarnya hanya ingin kembali ke Tel Aviv dan sekitarnya, yakni bahagian kecil dari Palestina, bukan semua wilayah Palestina, dan tidak termasuk kota suci Jerussalem.   Dengan populasi yang tidak begitu besar (sekitar 3 jutaan) pada saat berdirinya negara Israel 1948, bangsa Israel sudah merasa nyaman berada di Tel Aviv dan sekitarnya, apalagi di wilayah itu memang masih terdapat sisa-sisa penduduk asli kaum Yahudi yang leluhurnya tidak pernah eksodus.   Di atas wilayah itulah bangsa Israel memproklamirkan Negara Israel 14 Mei 1948 berdasarkan Deklarasi Balfour 1917, sebuah dokumen Inggeris atas hak Isreal memiliki tanah air di sebagian wilayah Palestina.  Wilayah tersebut, memang sedang dalam kekuasaan Inggeris berdasarkan Mandat Britania oleh PBB, setelah Turki Utsmani kalah dalam Perang Dunia I.

Berdasarkan Mandat tersebut, sebenarnya PBB berencana membentuk dua negara Yahudi dan Arab Palestina, dengan catatan Inggeris tetap mengontrol Yeurssalem, agar kota suci itu dapat diakses oleh tiga agama: Islam, Yahudi dan Kristen.   Namun, Bangsa Arab menolak mentah-mentah usulan tersebut.  Solusi dua negara Arab-Israel kembali diajukan PBB di tahun 1947, dan lagi-lagi bangsa Arab tetap bersikukuh menolaknya.  Dalam keadaan tidak menentu itulah, Israel secara sepihak mengumumkan berdirinya Negara Israel di wilayah Tel Aviv, seperti disebutkan di atas.

Akibatnya, bangsa Arab murka dan terjadilah perang Arab-Israel berkepanjangan dan yang paling dahsyat adalah perang tahun 1967, di mana Arab mengalami kekalahan besar.  Maka dengan alasan keamanan Negara “Tel Aviv” Israel itu, tentara Israel menjadikan wilayah Arab yang direbutnya sebagai wilayah penyanggah, termasuk wilayah Baitul Maqdis (Jerusslem), hingga sekarang.

Andai kata dahulu bangsa Arab dapat legowo realistis menerima berdirinya Negara Israel di Tel Aviv pada tahun 1948  itu, maka boleh jadi Negara Palestina Merdeka pun telah berdiri sesuai dengan mandat PBB.  Dan dalam peta pembagian dua negara tersebut, kota suci Jesrussalem masuk dalam wilayah Negara Arab Palestina.  Tetapi sekali lagi bangsa Arab berkeras menolak kehadiran Israel di Palestina secara mutlak, dan bertekad menguasai sepenuhnya Palestina, dan menghapus Negara Israel.    Terjadilah perang tiada habisnya hingga sekarang, karena sudah menyangkut eksistensi Negara Israel dan klaim kota suci. 

Namun, belakangan berhembus angin perdamaian, gagasan pembentukan dua negara hidup kembali.  Israel dan Palestina menyetujui peta jalan damai di Oslo 20 Agustus 1993, diratifikasi di Amerika 13 September 1993 oleh Mahmud Abbas dan Shimon Peres, disaksikan oleh Presiden Palestina Yasser Arafat bersama PM Yitzhak Rabin di hadapan Bill Clinton, bahwa Israel bersedia mengembalikan seluruh wilayah Arab termasuk Jerussalem yang direbutnya dalam perang tahun 1967, sementara Palestina dan negara-negara Arab sekitarnya, siap menerima dan mengakui Negara Israel, dan hidup berdampingan  secara damai dengan  negara Yahudi itu.  Namun, sayangnya dua tokoh perdamaian itu meninggal dunia, Yitzhak Rabin tewas terbunuh oleh militan Israel sendiri, sementara Yasser Arafat wafat misterius pada tahun 2004 di RS Militer di Paris.

Peta perdamaian dilanjutkan oleh Mahmud Abbas, Presiden Palestina pengganti Arafat.  Namun jalan buntu kembali terjadi ketika pimpinan Hamas, faksi radikal ekstrem Palestina Ismael Haniyeh terpilih jadi Perdana Menteri tahun 2006.  Ismail Haniyeh, penguasa Gaza itu menolak keras perdamaian dengan solusi dua negara tersebut. Pimpinan Hamas bertekad perang berjalan terus entah kapan berakhirnya, dengan hanya satu tujuan, menghancurkan Negara Israel, dan tegaknya satu negara, Negara Palestina.  Inilah masalah besar yang dihadapi bangsa Palestina sekarang. 

Bagi kita bangsa Indonesia, mengingat prinsip Bung Karno, kemerdekaan Palestina adalah harga mati, dan sebagai syarat untuk berhenti menantang Israel, maka sebenarnya Bung Karno tentu sangat setuju dengan konsep solusi dua negara tersebut.  Beliau juga tentu tidak ingin memusnahkan negara Israel, sebab beliau tidak menghendaki ada bangsa yang tidak punya tanah air, sama tidak inginnya ada bangsa yang masih terjajah oleh bangsa lain.  Presiden Jokowi juga menegaskan, “No one, no country should be left behind”, tak seorang pun, tak satu negara pun yang akan kita tinggalkan, tanpa tanah air dan kemerdekaan.     Wallahu a’lam bi al-shawab.

Catatan: dimuat di http://genial.co.id/menuju-palestina-merdeka-solusi-dua-negara-1/

Tonton dan Subscribe di Youtube: https://youtu.be/ZW1hAfWFJWc

EDARAN BAITUL MUSLIMIN INDONESIA TENTANG KLEBIADABAN ZIONIS ISRAEL

 

IMG_0001

EDARAN  PENGURUS PUSAT BAITUL MUSLIMIN INDONESIA

TENTANG KEBIADABAN ZIONIS ISRAEL TERHADAP MASYARAKAT SIPIL PALESTINA DI GAZA 

Kebiadaban Israel terhadap masyarakat sipil (perempuan dan anak-anak) Palestina yaitu dengan peluncuran pesawat-pesawat tempur Israel terhadap 430 target di Gaza yang merupakan bagian dari operasi militer Operation Protective Edge, dimulai dari selasa 8 Juli dini hari waktu setempat, telah menyebabkan 61 orang meninggal dan lebih dari 550 orang warga Palestina lainnya luka-luka.

Maka Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. PP Baitul Muslimin Indonesia mengutuk sekeras-kerasnya aksi kebiadaban Zionis Israel yang telah melakukan pemboman dan penembakan terhadap perempuan, anak-anak dan masyarakat sipil Palestina di Gaza. Karena aksi biadab tersebut nyata-nyata merupakan kejahatan kemanusiaan yang telah melanggar Hak-Hak Asasi Manusia dan hukum internasional lainnya. Oleh karenanya, Israel harus mendapatkan sanksi-sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  2. PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk selalu membela hak-hak rakyat Palestina, memberi bantuan dan senantiasa ikut pro-aktif dalam menciptakan perdamaian di Palestina.
  3. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau kepada lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, Organisasi Konferensi Islam (OKI), Liga Arab, dan lain-lainnya, untuk memberi tekanan yang mampu memaksa Israel agar menghormati dan menjunjung tinggi Hak-Hak Asasi bangsa Palestina untuk dapat melangsungkan hidup secara layak dan normal. Oleh karena itu PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada lembaga-lembaga internasional tersebut di atas untuk bersikap tegas dalam menerapkan hukum-hukum internasional, khususnya terhadap Israel, sambil mendesak kepada Israel dan Palestina untuk melanjutkan Perundingan Damai sesuai dengan Peta Jalan Damai yang telah dicanangkan oleh Presiden Palestina, almarhum Yasser Arafat..
  4.  PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak Mahkamah Internasional untuk segera mengadili pelaku Kejahatan Kemanusiaan (Israel) yang terjadi di Gaza.
  5. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau dan mendesak kepada Amerika Serikat agar menghentikan sikap ambivalen kebijakan luar negerinya, yang selama ini selalu mendukung pemerintahan Israel. Sikap ambivalen Amerika Serikat ini telah menjadi permasalahan krusial dunia internasional.
  6. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau kepada OKI (Organisasi Konferensi Islam), negara-negara Islam khususnya dan dunia Islam pada umumnya untuk lebih meningkatkan ukhuwah Islamiyah, memperbarui serta mengokohkan visi dan misi, sesuai dengan nilai-nilai Islam, dalam rangka mencari penyelesaian konflik Palestina – Israel secara bermartabat.
  7. PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada dunia Islam untuk mengambil langkah-langkah efektif yang diperlukan untuk menyelamatkan Masjidil Aqsha dari bahaya kehancuran akibat ulah Israel.
  1. PP Baitul Muslimin Indonesia mengingatkan dan menyerukan kepada umat Islam bahwa :
  • a. Kebrutalan kaum Yahudi Israel terhadap kaum Muslimin di Jalur Gaza Palestina merupakan pembenaran terhadap kandungan Al-Qur’an bahwa: ”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.(Q.S.al-Ma’idah [5]:82)
  • b. Kebiadaban Yahudi terhadap masyarakat sipil Palestina menjadi momentum yang akan mampu mendorong umat Islam di seluruh dunia untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah menuju Izzul Islam Wal Muslimin.
  • c. Mengajak Umat Islam untuk mendo’akan para korban kebiadaban Yahudi Israel di Gaza Palestina, semoga segala amalnya diterima Allah SWT, dan tetap istiqomah serta tidak menyerah dalam melawan kebiadaban Zionis Yahudi Israel, serta melaksanakan doa qunut nazilah bagi kehancuran Zionis Yahudi Israel dan kemenangan bangsa Palestina.

Demikianlah surat keterangan pers ini dibuat. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak terutama kalangan pers yang sangat berperan dalam syiar tentang keadilan dan penegakan Hak-Hak Asasi Manusia. 

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

Jakarta, 12 Ramadhan 1435 H / 10 Juli 2014 M

PENGURUS PUSAT

BAITUL MUSLIMIN INDONESIA

Masa Bakti 2010-2015

          Ketua Umum                                   Sekretaris Jenderal

                   Prof. Dr. HAMKA HAQ, MA           NURMANSYAH E. TANJUNG, SE

PERJUANGAN KEBANGSAAN PALESTINA

Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia berkunjung ke Kedutaan Palestina diterima oleh Durta Besar Palestina Fariz Mehdawi.  Hamka Haq bersama Andreas Parera dan Ahmad Basarah menyampaikan surat dukungan Ibu Megawati Ketum PDI Perjuangan atas terpilihnya Palestina menjadi anggota PBB status Peninjau

Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia berkunjung ke Kedutaan Palestina diterima oleh Durta Besar Palestina Fariz Mehdawi. Hamka Haq bersama Andreas Parera dan Ahmad Basarah menyampaikan surat dukungan Ibu Megawati Ketum PDI Perjuangan atas terpilihnya Palestina menjadi anggota PBB status Peninjau

PERJUANGAN KEBANGSAAN PALESTINA

Oleh: Hamka Haq

Banyak orang yang salah paham tentang perang Palestina-Israel.  Dianggapnya perang itu adalah perang keislaman (jihad) untuk kepentingan sepihak umat Islam Palestina.  Parahnya lagi, diangapnya perang antara umat Islam melawan Israel (Yahudi) dan Kristen.  Padahal yang terjadi di Palestina ialah perang kebangsaan, yakni bangsa Palestina yang terdiri atas umat Islam bersatu dengan umat Kristen melawan Zionis Israel (Yahudi).

Ketika saya berkunjng ke Kedutaan Besar Palestina tangal 5 Desember yang lalu, Dubes Palestina Fariz al-Mahdawi sangat menyesalkan kesalah-pahaman itu terjadi di Indonesia.  Lalu Fariz menyatakan bahwa ada pihak tertentu yang memanfaatkan isu Palestina, dijadikannya sebagai komoditas politik dengan berdemo setiap ada serangan dari Israel, untuk mengambl hati umat Islam di Indonesia.  Padahal perjuangan kami di sana adalah perjuangan kebangsaan, demikian katanya.  Bahkan salah satu pernyataan beliau yang mengejutkan di salah satu koran nasional, bahwa penduduk Palestina sebenarnya lebih banyak menganut Yahudi ketimbang Islam dan Kristen (http://forum.kompas.com/nasional/50955-pernyataan-dubes-palestina-yang-mengejutkan.html)

Jadi di Palestina, Pejuang Masjidil Aqsha (Muslim) bersatu dengan Kristen pejuang Betlehem (bukannya berseteru), untuk menghadapi musuh bersama mereka, yakni Zionis Israel.  Bahkan dia sempat mengakui bahwa di kalangan militer Palestina, terdapat sejumlah panglima yang beragama Kristen, di antaranya yang paling terkenal seangkatan dengan Yaser Arafat ialah George Habas.  Seorang juru bicara Palestina di PBB se masa Arafat adalah Hanan Asrawi (perempuan cerdas) juga beragama Kristen.  Bahkan isteri Yaser Arafat, Suha juga seorang Kristen, walau pernah diisukan telah masuk Islam. Dan sekarang setiap ada serang Israel terhadap Muslim Palestina, biasanya mereka lari berlindung di gereja-gereja.  Begitupun sebaliknya, umat Kristiani berlindung di balek masjid-masjid.

Sangat sering terjadi di Indonesia, jika ada demo besar-besaran mendukung Palestina, seolah-olah Islam berhadapan dengan Yahudi dan Kristen, lalu di Indonesia ditafsirkan, Islam berhadapan dengan Kristen.  Padahal di Palestina Muslim-Kristen bersatu, jatuh bangun bersama menghadapi Israel.  Pemimpinn PLO Yaser Arafat yang Muslim itu pun ternyata hidup serumah dan seranjang dengan Suha yang Kristen.

Hiduplah Bangsa Palestina, suatu bangsa yang berjuang untuk merdeka, dan ingin berdamai dengan semua bangsa di dunia, termasuk Israel.  Namun, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memancing agar Palestina berperang terus (tanpa damai) dengan Israel.  Anehnya, HAMAS yang menguasai Gaza, terpancing untuk terus berperang, dan lebih aneh lagi pejuang Palestina di Indonesia lebih senang memihak pada Hamas pimpinan Ismael Haniyah (PM Palestina) yang suka perang itu, ketimbang PLO di Tepi Barat yang memilih jalan damai.  Berkat jalan damai yang dirintis oleh PLO di bawah pimpinan Yaser Arafat dan sekarang Presiden Mahmus Abbas, maka kini Palestia telah diakui sebagai negara anggota peninjau PBB, sederajat dengan Vatikan, walaupun belum menjadi negara merdeka.  PLO menerima konsep dua negara (Palestina dan Israel) yang hidup damai, sedang Hamas hanya mau satu negara (Palestina), tanpa Israel.  Isreal menurut Hamas harus dimusnahkan; inilah sumber konflik yang tiada akhirnya dan tidak menguntungkan dua belah pihak.  Wallahu A’lam bi al-shawab.

George Habash, salah seorang Panglima Perang Palestina dari kalangan Kristen, duduk berdampingan dengan Yasser Arafat.  Bukti bhw Perjuangan Palestina adalah Perjuangan Kebangsaan

George Habash, salah seorang Panglima Perang Palestina dari kalangan Kristen, duduk berdampingan dengan Yasser Arafat. Bukti bhw Perjuangan Palestina adalah Perjuangan Kebangsaan

Palestina Negeri Bersama Arab-Israel

Mahmoud-Abbas Presiden Palestina,  Pimpinan PLO pengganti Arafat

Palestina Negeri Bersama Arab-Israel

Kalau mau bicara soal sejarah Palestina sejujurnya, maka harus dimulai dari sjerah Nabi Ibrahim, minimal dari sejarah Nabi Muhammad SAW.  Jangan memulai hanya dari tahun berdirinya negara Zionis Israel, pada tahun 1948, yang hanya menceriterakan soal perang Arab-Israel, di mana bangsa Arab Palestina selalu kalah dan dizalimi.  Mari kita coba membaca sejarah Palestina lebih jauh ke tempo doeloe, ribuan tahun yang lalu.   Sebenarnya Palestina itu adalah negeri Nabi Ibrahim (Abraham) dan dihuni kemudian oleh keturunannya yang mencakup dua bangsa besar, yakni Bani Ismail (bangsa Arab) dan Bani Israel (kaum Yahudi). Pada zaman dahulu, Bani Ismail (bangsa Arab) berbaur dgn Bani Israel di Palestina, dan bahkan juga di Madinah (Yatsrib) yg juga adlh tanah air bersama bangsa Arab dan  kaum Yahudi sebelum Nabi hijrah ke sana. Maka ketika Nabi SAW isra-mi’raj, Nabi sempat bershalat di Masjid al-Aqsha. Meskipun dalam Al-Qur’an disebut Masjid al-Aqsha, wakltu itu rumah ibadah tersebut bukan milik Muslim, melainkan masih merupakan rumah ibadah kaum Yahudi dan Nashrani.

Dengan demikian, Palestina dan Madinah dahulu merupakan tanah air bersama bangsa Arab dan kaum Yahudi, yang diwarisinya dari satu nenek moyang bersama yakni Nabi Ibrahim. Keadaan seperti itu tetap dipertahankan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri ketika beliau jadi Kepala Negara di Madinah, dengan mengajak kaum Yahudi bersama untuk menyusun UUD Madinah yang dikenal sebagai Piagam Madinah (Mitsaqul Madinah). Nantilah pada zaman sepeninggal Nabi, Khalifah-khalifaj pengganti Nabi membuat kebijaksanaan ekstrim, sehingga kaum Yahudi (Bani Israel) keluar dari Madinah.  Menyusul kemudian berangsur pula keluar dari negeri Palestina setelah Palestia direbut oleh Khalifah Umar pada tahun 637.  Tetapi sebenarnya, sebelum Khaifah Umar menaklukkan Palestina dari kekuasaan Romawi Kristen, bangsa Israel sudah banyak ekssodus kecuali masih tersisa sedikit di wilayah Tel Aviv.

Khalifah Umar memperkokoh kekuasaan Islam di Palestina ditandai dengan pembangunan Masjid Aqsha di atas tanah (Rumah Suci) yang pernah disinggahi Radsulullah SAW beribadah dalam peristiwa Isra Mi’raj.   Rumah Suci yang sebelumnya merupakan warisan Yahudi_Mristen, beralih dalam penguasaan Islam ketika itu.   Nasib Bani Israel pun hidup tanpa tanah air lagi, mengembara tanpa tujuan ke mana-mana sampai mereka terdampar di Afrika Utara dan Eropa. Jadi sejujurnya, menurut sejarah, sangat salah kalau kita bilang Israel datang ke Palestina merebut negeri orang, tetapi yang benar ialah Israel ingin kembali ke negeri yangg lama ditinggalkannya, yang di sana mereka pernah tinggal berbaur dengan saudara sepupu (serumpunnya) sendiri yaitu bangsa Arab.

Maka kita umat Islam pun sebenarnya harus bersyukur, karena Yahudi (Bani Israel) hanya menuntut untuk kembali ke Tel Aviv dan sdekitarnya salah satu bahagian dari Palestina (bukan semua wilayah Palestina, dan tidak termasuk Jerussalem), tidak juga menuntut utk kembali ke Madinah yang sekarang sudah menjadi kota suci kedua bagi kita umat Islam. Sekali lagi, entah apa jadinya, andaikata kaum Yahudi (bangsa Israel) berkeras untuk kembai ke Madinah, tempat mereka pernah tinggal berbaur dengan bangsa Arab jauh sebelum Nabi kita Muhammad SAW hijrah ke sana.  Kemudian Nabi SAW pun ketika hijrah ke sana  memperllakukan mereka dengan baik, mengajak duduk bersama menyusun Piagam (Undang-Undang Negara) Madinah untuk hidup bersama, rukun dan damai di negeri tersebut.  Tapi untuk zaman moderen, resikonya sangat besar jika Bani Israel mau kembali ke Madinah, karena akan berhadapn langsung dengan lebih satu milyar umat Islam se dunia, yang menjadikan Madinah sebagai kota suci kedua setelah Mekah.

Dengan populasi yang tidak begitu besar (sekitar 3 jutaan pada saat berdirinya negara Israel 1948), bangsa Israel sudah merasa nyaman jika mereka kembali ke Tel Aviv dan sekitarnya, apalagi di wilayah itu memang masih terdapat sisa-sisa penduduk kaum Yahudi yang leluhurnya tidak pernah meninggalkan Tel Aviv.  Lagi pula Tel Aviv bukanlah kota suci dari agama Islam dan Kristen.   Namun, karena bangsa Arab ngotot tidak menerima kehadiran Israel itu, maka terjadilah perang Arab-Israel, di mana Arab mengalami kekalahan.  Maka dengan alasan keamanan negara Israel (Tel Aviv) , Israel menjadikan wilayah Arab yang direbutnya sebagai wilayah penyanggah, termasuk wilayah Baitul Maqdis (Jerusslem sekarang) yang diangap kota Suci oleh Islam dan Kristen.

Andai kata bangsa Arab dapat menerima kenyataan berdirinya Negara Israel di Tel Aviv pada tahun 1948  itu, maka boleh jadi Negara Palestina puna telah berdiri dan merdeka, sesuai dengan rencana PBB untuk mendirikan dua negara di Palestina.  Dalam peta pembagian dua negara tersebut, Jesrussalem tidak termasuk dlam wilayah Israel, tetapi direncanakan oleh PBB masuk dalam wilayah Negara Arab Palestina.  Tetapi sekali lagi bangsa Arab berkeras menolak kehadiran Israel di Palestina secara mutlak, karena Arab ingin menguasai sepenuhnya Palestina.    Akibatnya, perang tidak habis-habisnya hingga sekarang, karena sudah menyangkut klaim kota suci.  Namun, Israel menurut peta jalan damai yang disetujui oleh Yasser Arafat (Presiden Palestina/ Ketua PLO) bersama Yitzhak Rabin (PM Israel) bersedia mengembalikan seluruh wilayah Arab yang direbutnya dalam perang tahun 1967, termasuk Jerussalem yang didalamnya ada Masjididl Aqsha, asalkan negara-negara Arab sekitarnya, termasuk Palestina mau menerima dan mengakui Israel, berdamai dan menjamin keamanan bersama, hidup berdampingan  dengan  negara Israel.  Peta jalan damai itu diteruskan oleh Mahmud Abbas, Presiden Palestina/Pemimpin PLO  sekarang, tetapi ditolak keras oleh Ismael Haniyah, PM Palestina/ Pimpinan Hamas, yang menginginkan perang berjalan terus entah kapan berakhirnya, demi untuk menghancurkan negara Israel.  Inilah masalah besar yang dihadapi bamgsa Palestina sekarang.  Wallahu a’lam bi al-shawab.

Ismael Haniyah, PM Palestina yng menolak Peta Jalan Damai yang diprakarsai oleh Yasser Arafat bersama Yitzhak Rabin.  Ismael Haniyah memilih jalan Jihad berperang terus melawan Israel.

Ismael Haniyah, PM Palestina yng menolak Peta Jalan Damai yang diprakarsai oleh Yasser Arafat bersama Yitzhak Rabin. Ismael Haniyah memilih jalan Jihad berperang terus melawan Israel.

Yitzhak Rabin, PM Israel yg menerima Peta Jalan Damai Israel-Palestina, terbunuh pada tahun 1995

Yitzhak Rabin, PM Israel yg menerima Peta Jalan Damai Israel-Palestina, terbunuh pada tahun 1995

PERANG ARAB-ISRAEL

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Perang Arab-Israel

Oleh: Hamka Haq

Perang Arab-Israel adl perang antara dua bangsa serumpun (saudara sepupu), dari nenek moyang bersama, Ibrahim (Abraham), yg melibatkan agama Islam-Yahudi.  Andaikata bgs Arab Palestina berbesar hati menerima Israel sejak awal, maka wilayah negara Israel (Tel Aviv dan sekitarnya) tidak seluas sekarang. Tapi, bangsa Arab yang ngotot itu berperang terus-menerus, namun selalu kalah melawan teknologi perang Israel, akhirnya Israel merebut wilayah lebih luas lagi dalam Perang 1967, sampai ke kota suci Jerussalem.  Sekrg wilayah Israel makin luas, sementara Palestina makin terdesak, bgs Arab yg dahulu pernah ngotot membantu perjuangan Palestina  sprti Arab Saudi pun semakin tdk lagi mendukung Palestina.

Di depan mahsiswa S3 UIN Makassar, saya pernah nyatakan bhw umat Islam se dunia seharusnya bersyukur, Israel hanya mau ke Tel aviv di Palestina.  Coba kalau Israel ngotot kembali ke Madinah, yg dulu merupakan tanah air bersama dengan bangsa Arab  sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana, entah apa jadinya…?   Nabi Muhammad SAW ketika memimpin Madinah mepersaudarakan Arab (Muslim) dg bgs Yahudi di Madinah, dan sama2 menyusun kostitusi Madinah.  Namun, sepeninggal Nabi, Khalifah2 membuat kebijakan ekstrim, bahwa Madinah harus dihuni oleh 100% Muslim,  sehingga Yahudi harus keluar dari Madinah dan mengembara sampai Eropa. Palestina hampir mengalami nasib seperti Madinah  sehingga sebahagian besar Bani Israel keluar dari Palestina.   Keadaan berbalik, 13 abad kemudian, giliran bgs Arab Palestina meningglkan sbgian tanah airnya ketika negara Israel berdiri  dan menjadikan wilayah Arab yang direbutnya dlam Perang tahun 1967 sebagai wilayah penyanggah untuk keamanan negaranya (Tel Aviv dan sekitarnya).

Kini, Saatnya masyarakt dunia dgn segala ras dan agama berdamai membangun peradaban dunia baru yang tenteram dan maju.  Namun, Barat sengaja memelihara perang berlarut-larut antara Palestina-Israel, demi keuntungan politik dan industri senjata. Yaser Arafat, Pemimpin Palestina yang menerima jalan damai (perjanjian Oslo), dirawat di Eropa utk diracun dan mati(2004).  Yitzak Rabin PM Israel yg juga setuju jalan damai, dibunuh (1995) oleh mereka yg tidak menginginkan perdamaian segera.  Padahal Peta Jalan Damai itu sangat ideal untuk perdamaian abadi, karena bertolak dari Keputusan PBB pada tahun 1947 yang menghendaki adanya dua negara damai berdampingan di Palestina, yakni negara Israel (wilayah Tel Aviv) dan negara Palestina yang didominasi bangsa Arab mencakup semua wilayah di luar Tel Aviv.

Namun, nasib Peta Jalan Damai terkatung-katung akibat konflik internal pula dalam tubuh bangsa Palestina.  Konflik antara PLO yang didirikan oleh Yaser Arafat Presiden Otoritas Palestina I (pemukim Tepi Barat) dan Hamas yang dipimpin oleh Ismael Haniyah (pemukim Jalur Gaza) dikipas terus agar bangsa Arab Palestina tdk kunjung bersatu, guna memperlambat perdamaian.   Anehnya, sebagian umat Islam, termasuk di Indonesia tidak sadar terjebak dalam skenario itu, sehingga lebih senang berpihak pada Hamas yang jargon politiknya ialah jihad menghancurkan Israel.  Saking bencinya kepada Israel, maka aktifis Islam di Indonesia memilih berpihak pada jihad perang yang dilancarkan oleh pimpinan Hamas, Ismael Haniyah, yang juga menjabat PM Palestina, ketimbang mendukung proses perdamaian yang ditempuh oleh Mahmud Abbas Presiden Palestina dan Pimpinan PLO penerus Yaser Arafat.  Dunia Islam harusnya tahu bahwa realitas perjuangan secara damai jauh lebih menguntungkan ketimbang perang terus-menerus.  Perjauangan Mahmud Abbas untuk meneruskan Peta Jalan Damai, akhirnya mendapat simpati dari PBB, yang kemudian secara resmi badan dunia tersebut  mengakui Palestina sebagai Negara anggota PBB, status Peninjau.  Mestinya upaya damai Mahmud Abbas inilah yang harus didukung oleh dunia Islam internasional, ketimbang menghabiskan generasi Palestina hanya untuk berperang tanpa diketahui kapan berakhirnya.

Saya yakin semuanya adalah skenario kepentingan Barat yg tidk ingin melihat Palestina-Israel damai dlm waktu singkat.  Konflik Palestina-Israel, sengaja dipelihara karena bagi Amerika sangat penting, utuk dijual dalam setiap kampanye Pilpres AS, dan utk keutungan bisnis senjata.