DARI SAUDI, AKU LIHAT ISLAM NUSANTARA

DARI SAUDI, AKU LIHAT ISLAM NUSANTARA

Oeh: Prof.Dr. H. Hamk Haq, MA.

Alhamdulillah, Jumat kemarin, 9 Aagustus 2018, penulis sempat sholat Jumat di Masjid Nabawi Madinah Al-Munawwarah. Sebenarnya saya sudah beberapa kali beroleh anugerah ke Tanah Suci dan sholat di masjid ini, tapi baru kali ini tergarak hati untuk mngungkapkan apa terjadi di tanah suci sejak dahulu kala, sejak zaman Rasulullah SAW. Bahwa setiap menjelang sholat, di Masjid Nabawi Madinah dan Masjid Haram Mekah, tidak ada lantunan sholawat dan tilawah Qur’an melalui loudspeaker masjid. Hanya di Indonesia, hampir semua masjid memutar CD atau kaset sholawat dan tilawah Qur’an menjelang sholat. Mengapa berbeda dengan Saudi Arabiyah, tempat lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW, pembawa risalah Islam?

Materi khotbahnya menyangkut iman, jihad, haji dan keharusan mengikuti Nabi 100 % dalam soal ibadah. Maka terlintas pula dalam pikiran penulis, bahwa khotbah di tanah air selama ini berbahasa lokal, tidak lagi sepenuhnya ikut pada khotbah Nabi yang berbahasa Arab, padahal khotbah itu adalah ibadah. Keberanian ulama di tanah air untuk berbahasa lokal dalam berkhotbah, tidak lagi sepenuhnya berbahasa Arab, dan membiarkan sholawat dan tilawah Al-Quran menjelang adzan, pastilah merupakan wujud Islam khas Indonesia.

Pikiran penulis pun langsung tertuju mengenai Islam Nusantara yang sedang hangat di tanah air. Mungkin kejadian di tanah air seperti khotbah dalam bahasa Indonesia dan daerah, sholawat dan tilawah menjelang adzan, yang semuanya tak ada di Timur-Tengah merupakan contoh konkret Islam Nusantara. Tegasnya “Islam Nusantara”, adalah pengamalan Islam di tanah air yang sudah menyerap budaya dan kebiasaan lokal Nusantara dan menjadikannya sebagai instrument Islamisasi untuk masyarakat Indonesia.

Jadi untuk mengetahui substansi Islam Nusantara tidak bisa dengan menganilisis kata per kata. Misal dengan mengatakan: Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT, dan Nusantara adalah Indonesia, maka Islam Nusantara berarti Islam yang diturunkan di Indonesia; lalu bertanya siapa Nabi-Nya?, ini kan konyol. Pantaslah analisis sesat itu, ujung-ujungnya adalah mengkafirkan Islam Nusantara.  Sama khilafnya jika kita mencari apa arti “batu merah” dengan menganalisis kata “batu” dan “merah”, lalu berkesimpulan bahwa “batu merah” ialah batu yang dicat merah; lalu bertanya siapa yang mengecatnya.  Padahal batu merah adalah batu bata untuk bangunan.

Sisi Lain Penerapan Islam Nusantara

Sisi-sisi lain yang lebih memperjelas adanya Islam Nusantara antara lain berikut. Perhatikan sisi demografisnya yang sangat majemuk. Di daerah tertentu dalam satu keluarga kadang terdapat perbedaan agama, apalagi dalam skala lebih luas, pluralitas agama, suku, budaya dan bahasa semakin jelas.   Karena itu, untuk merawat rasa kebersamaan dan rasa persaudaraannya, mereka punya tradisi saling menghargai dan menghormati, tidak saling merendahkan budaya, tidak pula saling mengkafirkan agama dan keyakinan. Pokoknya mereka tidak punya budaya saling menghina, justru mereka merajut kerukunannya untuk hidup bahagia bersama. Agaknya berbeda dengan kondisi di sebahagian negeri Arab Muslim, yang terang-terangan mengkafirkan non Muslim, dan terang-terangan merendahan mazhab dan aliran lainnya, kalau perlu mereka bawa dalam konflik perang fisik, seperti yang kita saksikan sekarang perang saudara yang tiada henti di Timur Tengah.   Bukan Islam nya yang membuat mereka berperang, tetapi budaya dan tempramennya yang dibalut atas nama Islam.

Sejak dahulu masyarakat Nusantara bersifat komunal, berkelompok, mengatasi persoalan hidupnya secara guyuban dan gotong-royong. Untuk memudahkan berkumpul di pendopo misalnya, atau di balai ronda, mereka gunakan alat komunikasi kentongan yang sangat efektif. Ketika mereka terima Islam, instrumen menyeru jamaah ke masjid atau menandai waktu sholat, tidak cukup dengan azan saja. Mereka kemudian menggunakan bedug di Masjid sebagai alat komunikasi efektif seperti efektifnya kentongan itu. Yakinlah, bedug ini mustahil ditemukan di masjid-masjid di negeri Arab Muslim, karena memang bedug betul-betul khas Muslim Indonesia, sementara di kalangan Muslim Arab bedug itu bid’ah dholalah, masuk neraka.

Tradisi komunal lebih jelas lagi pada acara pesta panen, yang dahulu sebelum menerima Islam, hasil tanaman dipersembahkan ke dewa alam, dewa langit, air dan tanah. Sekarang diubah menjadi tradisi syukuran, dengan nama “selamatan” full dengan doa dan dzikir keislaman. Mereka menginovasi menjadi pesta Islami, berupa kenduri, makan bersama yang diawali dengan Bismillah, diisi dengan sholawat pada Nabi SAW dan dzikir pada Allah SWT. Usai selamatan, masing-masing membawa pulang sebungkus barokah.   Lagi-lagi tradisi ini tidak ada di tanah Arab, bahkan dilaknat sebagai bid’ah dholalah, penghuni neraka. Namun itulah budaya Nusantara, Islam datang menggantikan keyakinan lama, tetapi budayanya tetap dipertahankan menjadi media penyiaran Islam dan perekat kebersamaan umat dan kerukunan warga.

Tradisi saling menghargai dapat juga dilihat pada bahasa pergaulannya. Misal di Jawa penjual sayur atau bakso saja disapa dengan “Mas”. Di Makassar, penjual ikan dan sayur atau tukang becak disapa dengan “Daeng”, sebagai penghargaan. Di Maluku, kepala desa dan lurah disapa dengan Bapak Raja. Di era perjuangan revolusi juga umumnya begitu, mereka menyapa para pejuang dengan “Bung”, misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo dan seterusnya. Seperti itulah, umat Islam Nusantara, ketika menyebut nama Nabi Muhammad SAW, tidak tega menyebut polos “Muhammad” saja, tanpa gelar penghormatan “Sayidina”. Maka lidah Muslim Nusantara pun sudah terbiasa menyebut: “Sayidina Muhammad SAW”.

Pokoknya umat Islam Indonesia tetap memelihara nilai leluhurnya. sepanjang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariat.   Perhatikan misalnya ungkapan masyarakat Minang: “Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”. Betulkah adat syar’i Minang sama persis dengan adat syar’i bangsa Arab? Jelas tidak, sebab di kalangan Minang prinsip “matrilineal” dalam keluarga masih sangat kuat, bahwa keturunan diambil dari garis nasab Ibu, dan penguasaan harta jatuh ke pangkuan sang prempuan, bukan pada kaum laki-laki (bapak). Bahkan masih ada di kalangan mereka tradisi melamar perkawinan datang dari pihak perempuan, bukan dari pihak laki-laki, kemudian kepada laki-laki diberi “uang jemputan” sebagai “mahar”.  Adat tersebut sangat bertentangan 100 % dengan budaya “patrilineal” masyarakat Arab. Jadi betul-betul penerapan keislaman antara Arab dan Minang memang beda, walaupun hakikat Islam-nya tetap satu, sumbernya satu, sama-sama dari Al-Quran dan Sunnah Rasululah SAW.

Lebih unik lagi di wilayah lain, kedengarannya aneh tapi nyata di masyarakat Islam Sasak Lombok.   Cara melamar perkawinan sangat unik.   Orang tua perempuan merasa terhina jika anak perempuannya dilamar baik-baik di kediamanya.   Tradisi mereka, anak perempuan harus dilarikan dan disembunyikan oleh laki-laki, tanpa setahu seorangpun keluarga perempuan. Sesudah berhasil “menculik”, pihak laki-laki harus memberitahu keluarga sang perempuan yang diculiknya. Jika keluarga perempuan mengakui puterinya itu “hilang”, maka proses pelamaran dan pernikahan pun berlangsung. Keluarga perempuan mendambakan menantu yang perkasa, berani melarikan anak gadisnya tanpa ketahuan oleh siapapun. Seratus persen, adat kesatria macam ini tidak ditemukan di negeri Arab Muslim, hanya ada di suku Sasak, yang adalah Muslim Nusantara.

Sistem perkawinan Sasak yang Indogam, bahwa harus kawin dengan sesama sukunya, adalah keunikan tersendiri. Warga Sasak yang kawin dengan suku lain, tidak boleh tinggal dalam komunitasnya lagi, ia harus keluar ikut komunitas keluarga istri atau suaminya. Sebaliknya, masyarakat Batak justru menganut sistem eksogam yang tak kalah uniknya pula. Kawin dengan sesama marga sangatlah tabu, sehingga setiap warga Batak harus mencari pasangannya dari marga lain.   Tradisi perkawinan indogam Sasak dan eksogam Batak ini, haqqul yaqin tidak ditemukan dikalangan Muslim Arab, karena memang dua sistem itu khas Nusantara, yang sampai sekarang tetap dipertahankan di tengah ketaatan mereka menganut Islam.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh konkret lain, tapi hal-hal tersebut sudah cukup menjadi bukti kekhususan (khashaish) keislaman Indonesia, yang lazim disebut Islam Nusantara. Intinya bahwa Islam Nusantara adalah pembumian Islam di kalangan masyarakat Indonesia yang persuasif, lemah-lembut, mengakomodir budaya asli Nusantara dan menjadikannya sebagai media amalan dan penyiaran Islam, serta menyapa masyarakat plural dengan rahmatan lil-alamin”. Singkatnya, Islam Nusantara ialah Islam Rahmatan lil-alamin yang berbaju Budaya Nusantara.

Namun, bagaimana pun Islam di seantero dunia tetaplah satu, baik di Arab maupun di Indonesia, dan di mana pun jua, hakikat dan sumbernya tetap satu. Perbedaan yang terjadi hanya dalam soal metode penerapan dan penyiarannya, sesuai dengan perbedaan demografi, geografi dan budaya masing-masing negeri.  Wallahu A’lam bi al-Showabi.

MUNAFIQ, DAN SHOLAT JENAZAH MUSLIM

MUNAFIQ DAN SHOLAT JENAZAH MUSLIM

Oleh: Prof.Dr. Hamka Haq, MA

 

Telah beredar di Medsos larangan mensholati jenazah Muslim yang dicap sebagai Munafiq. Ayat yang dijadikan dasar ialah Surah Al-Tawbah : 84:

(وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَداً وَلاَ تَقُمْ عَلَىَ قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُواْ وَهُمْ فَاسِقُونَ (٨٤ 

Artinya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo`akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

Pada umumnya ayat yang melarang kita bersahabat dengan orang munafik termasuk mensholati jenazah orang fasik (munafiq) seperti ayat dia atas, turun kepada Rasulullah SAW dalam suasana perang menghadapi kaum Musyrikin. Pada saat itu, kaum Munafikin dipimpin oleh Abdullah bin Ubay, mereka mengaku Muslim, tapi sering berkhianat, membohongi Rasulullah, dan memihak pada lawan. Begitulah arti orang munafik secara khusus yakni BERKHIANAT DALAM PERANG, yang dilarang untuk disholati jenazahnya.

Makna munafiq secara khusus tersebut tidak berlaku sama sekali dalam masyarakat damai (madani), karena tidak ada perang, yang ada adalah kedamaian. Dalam suasana damai, di zaman Rasulullah SAW, dan zaman kita sekarang di Indonesia, setiap Muslim dibolehkan bergaul dan berbuat kebaikan dan keadilan kepada non Muslim. Q.S.Al-Mumtahanah: 8

 (8)    لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Begitupun ayat larangan mengambil non Muslim sebagai pemimpin, Q.S. Al-Maidah: 51:

(51) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.

Ayat ini turun dalam suasana perang, maka artinya yang pasti (qath’iy) ialah larangan menunjuk non Muslim sebagai Panglima Perang.  Adapun dalam kedamaian, Rasulullah SAW pernah mengizinkan sahabatnya hijrah ke Kerajaan Kristen Habsyi, dipimpin oleh Raja Najasyi, mereka hidup damai dan tidak disebut munafik. Dan ketika penguasa Quraisy Makkah masih ada di tangan Abu Tholib (paman Nabi sendiri), tentunya juga dalam keadaan damai, umat Islam tetap saja tinggal di Makkah dipimpin dan dilindungi oleh Abu Tholib yang non Muslim. Nanti setelah Abu Tholib wafat, umat Islam mengalami gangguan hebat dari Quraisy, barulah Rasululah SAW bersama kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib, membangun Negara Madinah.

Sekarang, yang berlaku dalam Negara kita adalah kehidupan demokrasi untuk kedamaian, BUKAN PERANG terhadap Non Muslim. Karena itu, mereka yang bekerjasama dengan non Muslim atau dipimpin oleh non Muslim dalam hidup kedamaian, pada instansi, perusahaan, organisasi, atau eksekutif guna kemaslahatan bersama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai perintah Q.S. Al-Mumtahanah: 8 tersebut, tidak bisa disebut MUNAFIQ. Mereka tetap Muslim, dan jika ia meninggal, umat Islam wajib kifayah mensholati jenazahnya.

Ketahuilah bahwa Syariat Islam mewajibkan umat Islam secara kifayah (jamaah atau perorangan) untuk mensholati jenazah sesama Muslim (Muslimah). Kalau sampai jenazah tersebut tidak disholati, maka YANG BERDOSA ADALAH ORANG MUSLIM YANG SENGAJA TIDAK MENSHOLATINYA, bukan orang Muslim yang sudah wafat itu. Orang Muslim yang sudah wafat, TIDAK MENANGGUNG DOSA JIKA JENAZAHNYA TIDAK DISHOLATI, dan dia tetap sebagai Muslim yang sholeh, dan tetap akan diberi pahala di sisi Allah SWT.

Maka demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia, diminta kepada kaum Muslimin Indonesia untuk melaksanakan kewajiban kifayah, mensholati jenazah sesama Muslim, untuk melepaskan beban dosa dari umat Islam lain di sekitarnya. WalLahu A’lam bi showabi.

MENIRU TRADISI UMAT AGAMA LAIN

(BAGIAN 2)

Pada postingan yang lalu saya menyatakan bahwa pakai celana panjang dan jas lengkap yang semuanya berasal dari tradisi Barat Kristen, tidak membuat kita sama dgn atau menjadi Kristen. Jadi tidak semua perbuatan meniru kebiasaan umat agama lain itu dilarang. Karena yang dilarang menyerupai umat agama lain ialah perbuatan yang bersifat ritual ibadah.
Sepanjang tidak bersifat ibadah, hanya bersifat urusan duniawi, tentulah tidak dilarang.  Seperti pula memakai kalender Masehi (Miladiyah) yang asalnya adalah tradisi Kristen Barat, tidaklah haram, bahkan Arab Saudi sekarang telah beralih dari kalender Hijriyah ke Kalender Masehi dalam urusan ekonomi dan pemerintahannya.

Sekarang saya ingin menunjukkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan fasilitas ibadah pun, kita tidak dilarang meniru tradisi umat agama lain.  Contoh konkret adalah Masjid, yang sekitar 90% masjid di unia ini pakai kubah, padahal kubah itu adalah tradisi bangunan Romawi kuno yang diteruskan oleh Kristen Romawi di Eropah. Model itu tetap berlangsung sekarang, sehingga orang-orang yang pernah ke Eropah pasti melihat semua gereja di sana pakai kubah, termasuk gereja Agung di Rusia, di kota Kremlin.

Model kubah nanti mulai dipakai oleh umat Islam ketika Khalifah Umar merebut Palestina dari kekuasaan Romawi tahun 637 M, dan beiau membangun Masjid yang dikenal sebagai Masjid Umar yang berkubah batu, atau Dome of the Rock.  Apakah kita mau mengatakan bahwa semua umat Islam sekarang yang masjidnya pakai kubah itu menyerupai Kristen?  Apakah ini masuk dalam larangan hadits “man tasyabbah bi qawmin fahuwa minhum”? (siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka). Bukan hanya kubah, tapi juga menara yang jelas-jelas merupakan tiruan dari obor besar sesembahan api kaum Majusi. Ketika pasukan Islam memasuki wilayah Siria dan Irak kemudian masuk Persia mereka melihat ada menara api. Para Amir pimpinan pasukan itu pun tertarik membangun menara itu di samping masjid untuk digunakan mengumandangkan adzan agar suaranya menjangkau wilayah yang jauh dan luas.
Walauoun apinya dihilangkan, tetapi tetap saja disebut “manarah”, yang artinya tempat api, tidak diubah menjadi “ma’dzan” (tempat adzan). Apakah jamaah dari semua masjid yang ada menaranya itu sudah menyerupai kaum Majusi?.  Padahal jelas-jelas kubah dan menara sekarang ini sudah merupakan fasilitas beribadah umat Islam.

Maka sekali lagi saya menyatakan bahwa kubah dan menara tidak termasuk dilarang dalam hadits Nabi, karena kubah dan menara tidak merupakan materi ibadah, tetapi hanya fasilitas beribadah. Belum lagi kebiasaan sebagian umat Islam memakai tasbih, padahal tasbih itu tidak ada di zaman Nabi, sama dengan kubah dan menara semua tidak ada di zaman Nabi SAW. Tasbih dalam sejarahnya berasal dari tradisi kaum Budha, kemudian dipakai juga oleh pastor Katolik dan Rahib Yahudi.  Kemudian tradisi itu masuk dalam kehidupan Islam ketika ramai berdiri kelompok tarekat yang memperbanyak dzikir, dengan menggunakan alat hitung tasbih itu.  Apakah para ulama yang memakai tasbih itu juga sudah harus dicap menyerupai Budha, Yahudi dan Katolik.?

Umat Islam yang Masjidnya memakai kubah dan menara, Ulama yang memakai tasbih, semuanya hanya memakai fasilitas untuk beribadah, bukan meniru cara beribadah umat agama lain. Karena itu tentu saja mereka tidak daat disebut menyerupai umat agama lain.  Jadi jangan kita terlalu mudah menuduh sesama Muslim yang meniru tradisi umat lain, langsung dicap meniru budaya kafir dan menyerupai kafir.  Sebab kalau sikap kita menuduh seperti itu, maka masjid yang berkubah dan ber menara serta ulama yang pakai alat tasbih semuanya sudah menyerupai kaum non Muslim, apakah sudah menjadi non Muslim seperti itu? Jawabnya tidak. Sekali lagi yang dilarang hanyalah menyerupai dalam hal “materi ibadah”. Dalam hal duniawi seperti pakaian, kalender, dan teknologi lainnya, dan dalam hal fasilitas ibadah, seperti kubah dan menara masjid serta alat tasbih, tidaklah ada dosa jika umat Islam meniru umat agama lain.  Wallahu A’lam bi showabi.

ASPEK HUKUM PENGUNAAN DANA HAJI

ASPEK HUKUM PENGUNAAN DANA HAJI

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

            Akhir-akhir ini soal dana haji ramai diperbincangan, kaitannya dengan rencana pemerintah memanfaatkan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur. Terlepas dari kaitan politik kaum oposisi, mari kita membahasnya dari sisi hukum Islam, apakah dana biaya perjalanan haji (disingat dana haji) itu dapat (halal) ditransaksikan menurut hukum Islam untuk pembiayaan pembangunan infrastrukur?

Dalam Al-Qur`an, terdapat ayat tentang ibadah haji dalam kaitannya dengan aktifitas (transaksi) ekonomi.   Surah Al-Baqarah ayat 198: “lays ‘alaykum junah an tabtaghu fadhl min Rabbikum, faidza `afadhtum in ‘arafat, fa`dzkuru `llah ‘inda ‘lmasy’ari ‘lharam…” (Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia (rezki) dari Tuhanmu; maka apalabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirkan kepada Allah di Masy’arilharam….). Dalam Tafsir Al-Qurthubiy Juz 2 halaman 413, dijelaskan bahwa yang dimaksud mencari karunia (fadhl), dalam ayat ini ialah kegiatan bisnis (tijarah). Dari sini dapat dipahami bahwa orang yang sedang berhaji di zaman Nabi SAW dibolehkan melakukan kegiatan bisnis, untuk menambah nafkah hidupnya, sepanjang tidak mengganggu ibadah hajinya itu.   Al-Qurthuby kemudian mengutip hadits riwayat Bukhari (Shahih Bukhari Juz 4 hal. 1642, hadits nomer 4247) yang berbunyi: “Kana Ukkazh wa Majnah, wa dzu al-majaz aswaq fi al-jahiliyyah, fataatstsamuw an yattajiruw fi al-mawasim, fanazalat: lays ‘alaikum junah an tabtaghu fadhl min Rabbikum fi mawasim al-hajj” (Adalah dahulu Ukkazh, Majnah, dan Dzul Majaz, merupakan pusat-pusat bisnis zaman Jahiliyah, lalu mereka merasa berdosa jika berdagang pada musim haji, maka turunlah ayat: Tiada dosa atasmu untuk mencari karunia (rezki) dari Tuhanmu pada musim haji”).

Sebenarnya, transaksi keuangan yang bernama setoran dana haji itu tidak pernah ada di zaman Nabi SAW dan Sahabat.   Hal itu karena di zaman dahulu, orang menunaikan haji dengan inisitatif dan bekal sendiri, berangkat dari kampung halaman ke tanah suci dan kembali lagi ke tanah airnya semua atas urusan dan bekal sendiri. Mereka tidak mengenal travel atau badan usaha dan lembaga pemberangkatan haji. Maka dalam buku-buku fikih klasik, transaksi keuangan di zaman Nabi dan Sahabat hanyalah hanya meliputi antara lain: jual beli (buyu’), utang-piutang (al-qardh / al-dayn), titipan atau (wadhi’ah), upah (ijarah), hadiah (hibah), tidak ada pembahasan mengenai setoran dana haji.

Karena itu, untuk mengetahui hukum mentransaksikan (tasharruf) dana haji itu perlu pembahasan dengan memakai kaedah Fikih atau Ushul Fikih, dan kaeda-kaedah Tafsir yang sudah masyhur. Untuk hal ini kita bisa mengunnakan qiyas (analogi), mafhum muwafaqah (pemahaman affirmative) dan mafhum mukhalafah (pemahaman kontrari).

Dari ayat Al-Baqarah 198 yang dikutip di atas, dipahami bahwa jamaah haji di zaman Rasulullah SAW dibolehkan berdagang untuk menambah nafkah dan bekalnya sendiri, sepanjang tidak menghalangi pelaksanaan ibadah hajinya. Maka apakah “dana haji” di zaman modern ini, khususnya di Indonesia yang juga merupakan persiapan bekal (ongkos) jamaah haji yang ditangani pemerintah dapat ditransaksikan untuk kegiatan muamalah bisnis, investasi, atau biaya pembangunan lainnya?. Mari dianalisis sebagai berikut.

Kita coba menganalogikan dengan metode qiyas, seperti apa gerangan “setoran dana haji” itu jika diukur dari bentuk-bentuk transaksi yang pernah ada di zaman Nabi SAW dan Sahabat?.   Dapatkah dikatakan sebagai titipan (wadhi’ah)?. Dana haji bukanlah titipan atau tabungan (wadhi’ah), sebab sang penyetor tidak berharap menerima kembali uang setorannya, tetapi ia berharap untuk diberangkatkan berhaji. Mungkin ia lebih dekat ke model buyu’ (jual-beli), walaupun tidak sepenuhnya sama dengan jual-beli biasa, karena setoran dana haji tidak membeli apa-apa, berupa benda yang konkret. Namun di satu sisi ada kesamaan dengan jual-beli bertangguh, walau yang dibeli itu bukan benda tetapi “jasa peberangkatan” untuk berhaji, yang diperoleh tidak secara kontan (seketika) tetapi menunggu waktu yang ditentukan pada saat transaksi. Di satu sisi, uang setoran pun belum mencukupi harga sebenarnya untuk jasa “pemberangkatan” berhaji, maka terjadilan utang-piutang antara calon jamaah (penyetor dana haji) dan pemerintah yang bertindak sebagai pihak penyedia “jasa pemberangkatan” jamaah. Utang-piutang itu berupa tanggung jawab pemerintah untuk menyiapkan “jasa pemberangkatan” dan tanggug jawab jamaah (penyetor dana haji) untuk melunasi pembayarannya kemudian.

Untuk mudah memahami, contoh konkret sebagai berikut. Bahwa seorang yang akan berangkat ke Amerika dengan menggunakan jasa travel. Ia telah membeli tiket, namun sesuai perjanjiannya ia tidak berangkat seketika, tetapi akan berangkat sebulan kemudian.   Dalam hal ini, nasabah travel tersebut otomatis tidak lagi berhak pada uang yang telah disetorkan ke travel, tetapi ia memperoleh hak imbalan untuk “berangkat ke Amerika”. Ini artinya hak kepemilikan “uang tiket” yang disetor tidak lagi di tangan nasabah, karena nasabah telah memperoleh hak baru yakni “pemberangkatan” ke Amerika.   Karena itu, kepemilikan “uang tiket” itu jatuh ke tangan travel, dan pihak travel berhak sepenuhnya mentransaksikan uang setoran dari nasabahnya, disertai tanggung jawab untuk memberangkatkan nasabahnya sebulan kemudian.

Dengan memakai analogi qiyas dari ushul fikih dan contoh sederhana di atas, maka dapat dipastikan bahwa seorang calon jamaah haji, ketika menyetorkan dana haji ke pemerintah, dengan niat untuk haji, maka secara otomatis calon haji tersebut telah memperoleh “hak berangkat menunaikan haji”.   Dengan demikian hak kepemilikan atas “dana haji” yang disetorkan, lepas dari tangannya, jatuh ke tangan pengelola jasa pemberangkatan berhaji, yakni Pemerintah, disertai tanggung jawab untuk memberangkatkan calon haji yang berangkutan. Sebagai konsekuensi, maka selama ini setiap calon jamaah haji diminta menandatangani “wakalah”, yakni pernyataan penyerahan hak pengelolaan dana haji itu ke Pemerintah.

Jika analisis qiyas (analogi) dan contoh sederhana di atas, dilengkapi dengan metode mafhum muwafaqah (pemahaman affirmatif), atau juga sering disebut qiyas awla, maka dapat dipahami bahwa orang yang sedang melaksanakan ritual haji saja di tanah suci dibolehkan berbisnis guna menambah nafkah dan bekal hajinya, sepanjang tidak mengganggu ibadah hajinya, apatah lagi jika hal itu dilakukan di tanah air, oleh orang yang tidak sedang dalam ritual haji, tentu akan lebih-lebih dibolehkan. Dengan catatan, pemerintah tetap akan menunaikan tanggung jawabnya untuk memberangkatkan jamaah.

Di sisi lain, jika “dana haji” itu dianalogikan dengan utang-piutang, yang harus dibukukan dengan rapi, maka hukum mentransaksikannya ditambah kajian sebagai berikut. Coba simak dulu Al-Baqarah, ayat 282, yang merupakan ayat yang terpanjang dalam A,-Qur’an. Penulis kutip potongannya saja sebagai berikut yang berbunyi: “Ya ayyuha ‘lladzina amanu idza tadayantum bi dayn ila ajal musamma fa’ktubuh, walyaktub baynakum katib bi’l’adl wa la ya`b katib an yaktub kama allamah ‘Llah falyaktub walyumlil ‘lladzi ‘alayh al-haqq walyattaq ‘Llah Rabbah wa la yabkhas minh syay’ “ (.Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya).

Di penghujung ayat ini terdapat peringatan agar pihak yang berutang tidak mengurangi nilai utangnya (wa la yabkhas minh syay’). Maksudnya agar pihak yang berhutang tidak menzholimi pihak pemiutang. Menurut metode mafhum mukhalafah, maka ayat itu memberi pengertian bahwa pihak yang berhutang dinilai afdhal jika jika berbuat maslahat kepada pihak pemiutang, ketimbang berbuat zholim. Karena itu, tindakan positif apapun oleh Sang Pengutang dapat dibenarkan, asal saja mengandung maslahat bagi pemiutang (penyetor uang), apalagi jika sama-sama memperoleh maslahat antara keduanya.

Kesimpulannya, baik dari pemahaman Al-Baqarah: 198 maupun pemahaman Al-Baqarah:282, semua membuka peluang bolehnya mentransaksikan “dana haji” untuk kermaslahatan bangsa yang di dalamnya umat Islam adalah mayoritas`. Hal ini dibenarkan jika benar-benar pemerintah tetap bertanggung jawab untuk memberangkatkan penyetor dana haji itu ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Dan lebih afdhal lagi, jika imbalan dari transaksi dana haji itu dapat membebaskan jamaah haji dari beban pelunasan biaya haji pada saat pemberangkatan. Semua tugas luhur tersebut akan dikelola oleh lembaga baru yang dibentuk Pemerintah bersama DPR RI yaitu Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berdatsarkan Undang–Undang No.34 tahun 2014 (sejak era SBY). BPKH inilah yang menerima mandat dari calon jamaah haji selaku Muwakkil untuk menerima dan mengelola dana haji  Wallahu a’lam bi al-showabi.  

BAMUSI MENDUKUNG SEPENUHNYA PERPU ORMAS

 

Jakarta 23 Juli 2017, Islam Rahmah.com.  Sehubugan dengan terbitnya PERPU No.2 Tahun 2017 tentang Ormas, yang dipandang kontroversial oleh sejumlah kalangan, maka Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) ormas sayap Islam PDI Perjuangan justru menyatakan dukungan sepenuhnya atas PERPU tersebut.   BAMUSI memberi dukungan dengan alasan bahwa PERPU tersebut dimaksudkan oleh pemerintah untuk membentengi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  dari berbagai ronrongan bahkan ancaman dari ormas-ormas yang anti Pancasila.  Maka demi tegaknya ideologi Pancasila dan kokohnya NKRI, tidak ada jalan lain kecuali segera membubarkan ormas anti Pancasila itu.  Pernyataan tersebut dituangkan dalam Edaran BAMUSI tertanggal 23 Juli 2017, yang ditanda tangani oleh Katua Umum Prof.Dr.Hamka Haq, MA dan Sekretaris Umum Nasyirul Falah Amru, SE.  Berikut petikan edaran tersebut:

Menyikapi langkah Pemerintah menerbitkan PERPU No.2 Tahun 2017 tentang Ormas, sebagai langkah secara hukum untuk membubarkan Hizbu Tahrir Indonesia (HTI), maka Pimpinan Pusat Baitul Muslimin Indonesia, dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Bahwa tujuan Pemerintah menerbitkan PERPU No. 2 Tahun 2017 tentang Ormas, adalah untuk menjaga tegaknya Ideologi Negara Pancasila, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  2. Bahwa HTI adalah organisasi transnasional yang bergerak di bidang politik, dengan mengusung gagasan Negara Khilafah, adalah sangat tidak sesuai dengan tujuan terbentuknya Negara Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Reublik Indonesia tahun 1945.
  3. Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila, UUD Negara RI tahun 1945 merupakan hasil perjuangan segenap elemen bangsa termasuk jihad dan ijtihad kaum ulama adalah merupakan tanggung jawab kita semua untuk meneruskan cita-cita perjuangan mereka.
  4. Bahwa aktifitas HTI selama ini telah terbukti menimbulan benturan sosial politik yang meresahkan masyarakat, yang jika dibiarkan berlanjut akan menambah eskalasi ancaman terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat dan merusak persatuan bangsa dan tegaknya NKRI.
  5. Bahwa gagasan Khilafah yang dusung oleh HTI, dipandang tidak sesuai dengan tujuan murni pembangunan peradaban dunia Islam masa kini, sehingga ditolak keras oleh lebih 20 (duapuluh) negara, termasuk negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim, khususnya Arab Saudi, Mesir, Malaysia, bahkan di Palestina tempat kelahiran Hizbu Tahrir itu sendiri.
  6. Berdasarkan petimbangan tersebut, maka Baitul Muslimin Indonesia, dengan ini menyatakan mendukung sepenuhnya langkah Pemerintah menerbitkan PERPU NO.2 Tahun 2017, untuk segera membubarkan HTI sesuai dengan proses hukum yang berlaku, guna menjaga tegaknya Ideologi Negara Pacasila, keutuhan NKRI, UUD Negara RI tahun 1945 dan kokohnya persatuan bangsa di atas prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Jakarta, 23 Juli 2017 M

BAMUSI KECAM KEBIADABAN ISRAEL

 

Dokument tigapilarnews.com

Jakarta, Islam-Rahmah.com. Menyikapi penembakan tentara Israel terhadap Imam dan jamaah Masjid Al-Aqsha baru-baru ini,  Baitul Muslimin Indonesia, ormas Islam sayap PDI Perjuangan menyampaikan kecaman atas tindakan biadab tersebut.   Dalam edaran yang dikeluarkan, ditandatangani Ketua Umum Prof.Dr. Hamka Haq, MA dan Sekretaris Umum Nasyirul Falah Amru SE, sangat menyayangkan langkah militer Israel tersebut di tengah upaya perdamaian yang sementara dihidupkan kembali oleh Presiden Palestina Mahmod Abbas dan Presiden Amerika Donal Trump.

Berikut petikan Edaran BAMUSI tersebut:

Kebiadaban Israel terhadap masyarakat sipil Palestina, dengan penembakan secara berutal jamaah Masjid Al-Aqsha merupakan tindakan biadab tidak berprikemanusiaan, dan bertentangan dengan norma semua agama, telah melukai perassan umat Islam se Dunia termasuk di Indonesia. Maka Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. PP Baitul Muslimin Indonesia mengutuk sekeras-kerasnya aksi kebiadaban Zionis Israel yang telah melakukan penembakan jamaah Masjid Al-Aqsha, dan mempersempit akses umat Islam ke Masjid tersebut. Aksi biadab tersebut nyata-nyata merupakan kejahatan kemanusiaan yang telah melanggar Hak-Hak Asasi Manusia dan hukum internasional lainnya. Oleh karenanya, Israel harus mendapatkan sanksi-sanksi dari dunia Internasional sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  2. PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada Badan Dunia Persatuan Bangsa-Bangsa dan khususnya Pemerintah Republik Indonesia untuk selalu membela hak-hak rakyat Palestina, memberi bantuan dan senantiasa ikut pro-aktif dalam menciptakan perdamaian di Palestina.
  3. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau kepada lembaga-lembaga internasional: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, Organisasi Konferensi Islam (OKI), Liga Arab, dan lain-lainnya, untuk memberi tekanan yang memaksa Israel agar menghormati dan menjunjung tinggi Hak-Hak Asasi bangsa Palestina untuk dapat melangsungkan hidup dan beribadah secara layak dan normal.
  4. PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada lembaga-lembaga internasional tersebut di atas untuk bersikap tegas dalam menerapkan hukum-hukum internasional atas Israel, dan mendesak Israel dan Palestina untuk melanjutkan Perundingan Damai sesuai dengan Peta Jalan Damai yang telah dicanangkan oleh Presiden Palestina, almarhum Yasser Arafat.
  5. PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak Mahkamah Internasional untuk segera mengadili pelaku Kejahatan Kemanusiaan (Israel) yang terjadi di Yerussalem, dan mendesak Amerika Serikat agar menghentikan sikap ambivalen kebijakan luar negerinya, yang selama ini selalu mendukung pemerintahan Israel.
  6. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau kepada OKI (Organisasi Konferensi Islam), dan dunia Islam pada umumnya untuk lebih meningkatkan ukhuwah Islamiyah, memperbarui serta mengokohkan visi dan misi, sesuai dengan nilai-nilai Islam, dalam rangka mencari penyelesaian konflik Palestina – Israel secara bermartabat, guna menyelamatkan Masjidil Aqsha dari bahaya kehancuran akibat ulah Israel.

Demikianlah surat edaran ini dibuat, dan memohon kepada pers untuk menyebarkan seluas-luasnya, demi peran bersama untuk tegaknya keadilan dan penegakan Hak-Hak Asasi Manusia. 

Jakarta, 23 Juli 2017 M

Dokument muis.org.my

 

 

SELINTAS ISLAM DI RUSIA

SELINTAS ISLAM DI RUSIA

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

Akibat gencarnya propaganda Barat (Amerika dan Eropa) yang selama berpuluh tahun memojokkan Rusia, dulu Uni Soyet, maka image tentang Rusia sangat negative bagi kebanyakan kita di Indonesia. Kita mengenal Rusia sebagai Negara sosialis Komunis, seperti ketika masih status Negara Uni Soviet. Padahal, apa yang kita pahami dari informasi Barat itu sangat jauh berbeda dengan kenyataan sebenarnya. Dalam lawatan penulis ke negeri bekas Uni Sovyet itu, awal bulan Juli 2017 lalu, diperoleh informasi akurat dari sumber pertama tentang Islam dan umat Islam di sana, antara lain seperti akan dikemukakan nanti pada tulisan ini.

Pada hari kedua kedatangan kami di Rusia, tepatnya di kota St. Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia, kami sempat bersholat Jumat di Masjid Biru, yang oleh orang Rusia sendiri disebutnya Masjid Soekarno. Jamaah yang hadir sangat beragam terasuk busana mereka, mulai dari yang pakai jas, jaket hingga celana jiens. Tak ada bacaan Al-Qur’an dan sholawat lewat menara masjid, kecuali bacaan manual oleh seorang Qari yang telah disiapkan menjelang khotbah. Boleh jadi juga punya jamaah tetap, karena bacaan syahadat dan sholawat oleh sang khatib serentak diiukuti oleh jamaah, yang iramanya mirip dengan lagu kebaktian gereja di Indonesia. Usai sholat, sang Imam berdiri dan disalami oleh satu persatu jamaahnya hingga habis. Mereka yang bukan jamaah tetap, langsung saja bubaran.

Tapi satu hal yang sekian lama penulis cari jawabannya, rupanya terjadi di sini. Bahwa sewaktu kecil, penulis selalu mendampingi ayah (K.H.Abdul Kadir) mengunjungi masjid-masjid yang menjadi kewenangannya, khususnya untuk sholat Jumat.   Dalam khotbahnya, ayah mempunyai tradisi unik, tidak dilakukan oleh semua ulama dan khotib di daerah kami waktu itu.   Tradisi unik itu ialah ayah mengulang muqaddimah khotbahnya dalam bahasa Arab, ditambah dengan tawshiyah dalam bahasa Arab sebelum mengakhiri khutbah pertama, kemudian duduk sejenak dan bangkit kembali untuk khotbah kedua yang semuanya dalam bahasa Arab. Banyak orang mempersoalkan bahkan mempersalahkannya.   Mengapa muqaddimah bahasa Arab khotbah pertama itu diulang kembali sebelum duduk?   Ternyata ayah punya prinsip bahwa khotbah itu adalah ibadah ritual yang harus murni berbahasa Arab, sehingga muqaddimah bahasa Arab harus diulang untuk memulai khotbah yang ritual itu, dan adapun tawshiyah sebelumnya hanyalah ceramah biasa dalam bahasa Indonesia atau daerah, belum merupakan khotbah walaupun juga diawali dengan muqaddimah bahasa Arab.  Cara khotbah seperti itu lah yang penulis temukan di Masjid Biru Rusia. Bahwa khotibnya hampir setengah jam berpidato dalam bahasa Rusia di atas mimbar, yang mulanya penulis kira itu sudah bahagian dari khotbahnya. Ternyata tidak demikian, ia mengakhiri ceramahnya itu dan kembali mengawali khotbah dengan moqaddimah dalam bahasa Arab, dan sampai mengakhiri khotbahnya termasuk khotbah kedua semuanya dalam bahasa Arab.   Hal ini berarti apa yang dilakukan ayah 50 tahun yang lalu itu ternyata juga terjadi dinegeri lain. Selesai sholat, penulis sempat selfi dengan khotib yang bersangkutan.

Rusia dengan penduduk 150 juta jiwa, 20% di antaranya adalah Muslim, atau sekitar 30 juta orang, demikian diutarakan oleh Ildar Galeev, wakil Ktua Dewan Mufti Russia, ketika delegasi kami diterima di Masjid Cathedral Rusia Moskow (8 Juli 2017). Eksistensi Muslim di Rusia sangatlah beda dengan Muslim di Eropa Barat dan Amerika. Jika pada umumnya Muslim di Amerika dan Eropa Barat adalah imigran dari Arab, Afrika, India dan Pakistan, maka lain halnya di Rusia, Muslim di sana adalah penduduk asli Rusia sendiri. Mereka berasal dari suku Tartar, Khazastan, Tajikistan, Uzbekistan dan Negara-negara bekas wilayah Uni Soviet dulu. Karena itu, Muslim di Rusia merupakan bahagian dari masyarakat dan pemerintah Rusia sendiri, mereka bukan pendatang di negeri itu, dan karenanya dipandang sebagai warga Negara yang sama hak dan kewajibannya dengan warga lainnya yang beragama Kristen Orthodoks.

Di Depan Masjid Biru (Masjid Soekarno) St. Petersburg Rusia

Lembaga-lembaga keislaman seperti Dewan Mufti Rusia dan Takmir Masjid Moskow dipandang sebagai lembaga resmi yang diakui oleh Negara sebagai bahagian dari penyelenggaraan Negara dan pemerintahan Rusia. Bandingkan dengan lembaga-lembaga keislaman di Amerika dan Eropa Barat, hanya dipandang sebagai LSM yang melayani umat Islam setempat tanpa kaitan dengan tanggung jawab Negara dan pemerintahnya. Karen status umat Islam Rusia sebagai warganegara asli, maka mereka punya akses ke posisi politik dan pemerintahan. Antara lain posisi wakil Ketua Dewan Federal (lembaga ketiga sesudah Presiden dan Perdama Menteri) dijabat oleh seorang Muslim, yakni Ramazan Abdulatipov (1994-1996) dan Ilyas Magomed Salamovich Umakhanov (2010 – sekarang).

Ildar Galeev sempat menyinggung kisah spektakular kunjungan Presiden Soekarno (Bung Karno) ke Rusia (Uni Soviet) di tahun 1961 atas undangan Presiden Uni Soviet Nikita Khrushchev. Ketika iring-iringan dua pemimpin bangsa itu lewat depan sebuah masjid yang sudah lama berfungsi sebagai gudang senjata (kini disebut Masjid Biru) di kota St. Petersburg, Bung Karno minta mampir untuk sholat, padahal masjid itu tidak lagi difungsikan sebagai rumah ibadah.   Spontan saja, Khrushchev grogi dan minta agar Bung Karno berkunjung ke masjid itu di lain hari.   Maksudnya, biar masjid itu dokosongkan dulu, dibersihkan dan dibenahi segera untuk bisa ditempati beribadah.  Sejak kunjungan Bung Karno itulah Masjid yang dibangun suku Tartar tersebut berfungsi kembali sebgai rumah ibadah hingga sekarang, sehingga masyarakat Muslim Rusia pun menyebutnya: Masjid Bung Karno, yang dikenal pula sebagai Masjid Biru. Selain kisah Masjid Biru ini, kedatangan Bung Karno ke Rusia waktu itu juga dihiasi dengan kisah penemuan kembali makam Imam Bukhari, penulis Kitab Hadits Shahih al-Bukhari, yang juga sempat diziarahi oleh Bung Karno.

Sesudah Masjid Biru di St,Petersburg dan Makam Imam Bukhari di Azerbaiyan (kini menjadi Negara sendiri), situs Islam yang penting lainnya ialah Masjid Cathedral di Moskow. Disebut Cathedral karena dipandang sebagai Masjid Agung dan masjid terbesar di Rusia, bahkan terbesar di seluruh Eropa.   Dibanding dengan Masjid Agung Roma Italia yang pernah penulis kunjungi di tahun 2010, aktifitas Masjid Cathedral Moskow jauh lebih meriah, bahkan setiap saat aktifitas di Masjid Cathedral selalu hidup menunjukkan bahwa kebangkitan kembali Islam di bekas Uni Soviet itu sedang menggeliat.

Selanjutnya Deputi Ketua Dewan Mufti Rusia itu menjelaskan kegiatan lembaganya, antara lain setiap tahun ada

Bersama Ildar Galeev (kiri) Deputy Ketua Dewan Mufti Moskow dan Dr.Salim (kanan) Staf Ahli Mufti Moskow

pertemuan Islam lintas Negara-negara jalur sutera, termasuk China, Azerbaiyan, Uzbekistan, Turki dan Rusia itu sendiri, dan juga undangan dari negara lainnya. Juga Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) secara periodic diselenggarakan oleh mereka.   Dia juga menyinggung hubungannya yang begitu baik dengan lembaga Islam di Indonesia, seperti MUI dan dua ormas besar NU dan Muhammadiyah.   Bahkan secara periodik, mengirim mahasiswa Rusia untuk belajar Islam di beberapa Universitas Islam di Indonesia, seperti Malang, Yogya, Solo dan Jakarta.   Kini imam-imam di masjid dan musholla, dan pimpinan lembaga-lembaga keislaman di Rusia banyak diisi oleh alumni perguruan tinggi Islam Indonesia. Menarik katanya, karena tidak jarang mahasiswanya kembali ke Rusia dengan membawa isteri atau suami warga Negara Indonesia.

Hubungannya tidak hanya soal pendidikan, tetapi juga merambah ke hubungan ekonomi. Telah terlaksana sejumlah pelatihan ekonomi Islam di Rusia yang diselenggarakan atas kerjasama dengan ormas-ormas Islam dan Bank Muamalat Indonesia, demikian juga soal sertifikasi makanan halal bekerjasama dengan MUI dari Indonesia.

Hal yang patut dicamkan pula ialah gencarnya sosialisasi ajaran Islam moderat di Rusia. Lembaga Dewan Mufti Rusia telah melakukan pelatihan mubaligh anti radikalisme dan teroris, sesuai dengan kebhinnekaan Warga Negara Rusia dari segi etnis dan agama. Bahkan tradisi kawin campur lintas agama masih berlaku di kelompok masyarakat tertentu yang masih abangan, sehingga tidak jarang dalam satu keluarga terdapat agama-agama yang berbeda. Namun, karena biasanya hanya Muslim di antara mereka yang lebih patuh menjalankan ibadahnya sehari-hari, sehingga kesan perbedaannya tidak begitu kentara.

Hal unik yang tak kalah menarik, ialah model gereja dan masjid di Rusia hampir sama, dan sulit dibedakan jika hanya melihat dari luar. Seorang teman bertanya, apakah bentuk gereja Kristen ini meniru masjidnya umat Islam? Jawabnya tentu tidak. Perlu diketahui, baik model gereja maupun masjid semuanya adalah tiruan dari bangunan bergaya Romawi. Pengaruh kuat Rumawi telah sampai menjalar di Eropa dan Timur Tengah ketika Romawi menjajah Mesir dan Siria. Karena itu, di zaman khilafah Umayyah dan Abbasiyah, model bangunan Romawi yang berkubah itu pun ditiru untuk membangun masjid-masjid besar.   Masjid berkubah itu akhirnya seolah menjadi model khas Islam yang menjalar ke segenap wilayah Asia hingga Indonesia. Padahal, bentuk Masjid Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah mulanya tidak seperti itu.   Sementara di segenap wilayah Eropa, model Romawi itu pun menjadi ciri khas bangunan gereja-gereja Kristen sampai ke Eropa Timur, Rusia. Jadi, masjid dan gereja tidak saling meniru, tetapi keduanya (masjid dan gereja) itu sama-sama mengambil dari sumber asalnya yakni bangunan Romawi.

Tidak hanya model rumah ibadah, tapi juga busana ritual ada yang mirip.   Waktu penulis dan rombongan berkunjung ke Cathedral St.Petersburg, semua wanita diwajibkan pakai kerudung mirip jilbab Muslimah, disiapkan di depan pintu. Wanita-wanita Rusia yang menjaga jualannya di pusat-pusat wisata juga pakai kerudung, yang mulanya teman kami mengira mereka Muslimah, ternyata Kristen Orthotoks.

Tapi yang amat penting dicamkan ialah nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, seperti kebersihan, keramahan dan kedisiplinan tampak berlaku dalam kehidupan sehari-hari orang Rusia. Baik di ST.Petersburg maupun di Moskow, kanal-kanal dan sungainya sangatlah bersih, tak sepotong pun sampah yang tampak, airnya pun mengalir jernih, jauh dari sebutan kotor apalagi kumuh. Yang mengherankan, jalan-jalannya pun begitu apik dan bersih, walau di sisi kanan-kirinya juga tumbuh pohon-pohon yang berdaun rindang. Di pusat-pusat wisata pun demikian, tak satu pun sisa makanan atau bekas kemasan yang ditinggal, semua bersih nan indah.   Saat keluar dari Cathedral St.Petersburg, kebetulan di tangan saya ada tisu kotor, tidak tahu di buang ke mana, malu membuangnya di jalan. Perasaan lega ketika sampai di sebuah mobil boks penjaja makanan yang punya kotak sampah.

Kedisiplinan pun sangat mengagumkan, semua berlaku sesuai aturan, kewajaran dan profesionalisme.   Para pegawai dan pekerja sangat patuh dari segi waktu. Kedisiplinan yang mereka tradisikan di bawah ancaman sanksi keras di era Uni Soviet dulu, tetap dilanjutkan karena dinilai positif. Para pebisnis harus professional, dilarang terlibat politik. Pebisnis yang ketahuan berpolitik akan dikenai hukuman oleh Negara, sehingga walaupun mereka sudah lepas dari sistem sosialis komunis, tetapi tetap tidak bisa sepenuhnya menjadi kapitalis.

Para mahasiswa penghuni asrama harus balik ke asrama paling lambat jam 10 malam, dan jika terlambat akan dikenakan sanksi, mulai teguran hingga dicabut hak tinggalnya di asrama.   Bandingkan dengan kelakuan pelajar dan mahasiswa kita, betapa di malam hari? Para pengendara di jalan pun berhenti seketika jika melihat di depannya ada pejalan yang siap menyeberang, walau tidak ada lampu merah yang mengaturnya, atau tidak pada posisi jalan yang bergaris sebra.  Bandingkan di negeri kita, betapa kelakuan pengendara yang dengan seenaknya melanggar lampu merah, apalagi yang tidak ada lampunya? Para pelayan hotel bekerja professional, membantu angkat barang, dan bergegas pergi tanpa jedah menunggu uang tips.

Di suatu malam di Hotel Martin St. Petersburg, penulis butuh air panas, maklum nginap di hotel tua yang dibangun sejak abad ke 18. Tak lama kemudian room serveice nya pun mengantarkan dua buah termos, dan menyerahkan dari luar pintu, tanpa berbasa-basi ia bergegas kembali. Biasanya di hotel-hotel besar di tanah air, bahkan di Amerika dan Eropa, pelayan seperti itu diam sejenak menunggu uang tips.   Pengalaman di hotel Crown Plaza Moskow juga agak menarik.   Sebuah tas kecil penulis tertinggal di ruang lobby, nanti teringat saat di atas mobil menuju ke Dewan Mufti Rusia. Staf kedutaan pun berlari ke lobby hotel, ternyata tasnya sudah tidak di sana, langsung diamankan sebelumnya oleh security hotel. Dan untuk menerimanya harus memperlihatkan paspor pemiliknya.  Coba bayangkan andai barang itu ketinggalan di lobbi sebuah hotel di Indonesia, apa jadinya?

Tidak berarti Rusia sudah menjadi Negara sempurna dan terbaik di dunia. Sebagai Negara yang masyarakatnya masih dalam proses transisi dari sistem sosialis komunis ke sistem liberal terbatas seperti sekarang, tentu saja masih ada dampak negatif yang membelenggu masyarakatnya. Misalnya, jika di era komunis, rakyat terlena menikmati subsidi makanan pokok yang disiapkan oleh negara secara berkala setiap minggu, kini keadaannya sangat berbeda dan kadang masyarakatnya belum siap sepenuhnya untuk berubah. Mereka yang tidak siap bekerja dan bersaing, terpaksa mencari jalan pintas untuk memenuhi nafkahnya, termasuk merampok dan menodong.  Meskiun demikian, masyarakat Rusia tidak pernah lagi berpikir untuk kembali ke era sosialis komunis. Mereka bersatu untuk menjadi Negara liberal terbatas. Terbatas karena baik politk maupun ekonominya, tidak sepeunuhnya menjadi liberal kapitaslis. Sebagai misal, ketentuan bahwa pengusaha tidak boleh terlibat politik sedikitpun, dan jika ketahuan akan mendapat sansi berat dari Negara.  Dengan demikian kehidupan politik tidak tergantung pada kaum pemodal (kapitalis). Wallahu a’lam bil-showabi.

Di Depan Masjid Cathedral Moskow

Di Depan Gereja Basilica Lapangan Merah Moskow

HUKUM MENULIS KALIMAT “ALLAH” PADA BENDERA MERAH PUTIH

HUKUM MENULIS KALIMAT “ALLAH” PADA BENDERA MERAH PUTIH

Oleh: Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA

Negara yang menjadikan kalimat Allah, atau lengkapnya kalimat syahadatain (La ilaha illah Allah Muhammadun Rasulullah) sebagai simbol Negara yang tertera pada benderanya ialah Arab Saudi.   Di bawah nya dilengkapi dengan gambar pedang.  Pedang merupakan simbol khas Saudi (dua pedang bersilang adalah simbol Kepolisian Saudi).

Pemuatan kalimat Allah pada bendera Negara Arab Saudi, mengandung makna bahwa warga Negara Saudi adalah 100 % penduduknya beragama Islam, sekaligus sebagai simbol keimanan (Ideologi) bagi Negara Islam Arab Saudi. Dengan kata lain, kalimat tersebut bukan simbol “hakekat Allah SWT” dan bukan pula simbol “kehamahkuasaan Allah SWT” yang selalu melekat pada Arab Saudi. Sehingga, sukses dan kegagalan Arab Saudi dalam hal-hal tertentu, tidak berarti bahwa yang sukses dan gagal itu ialah Allah SWT, yang namaNya tertera di bendera Saudi.

Misalnya saja, jika Arab Saudi berjaya dalam dunia sepak bola, pernah tiga kali menjuarai Piala Asia (1984, 1988, dan 1996), tidak boleh disebut bahwa hal itu karena mutlak adanya kalimat “Allah” pada bendera hijau-nya.   Sama halnya ketika tim Arab Saudi kalah 0-8 dari tim Nasional Jerman di Piala Dunia 2002, bukan dikalahkan karena akibat adanya kalimat “Allah” pada benderanya itu. Jadi kalimat “Allah” pada bendera tidak ada kaitannya dengan kemahakuasaan Allah untuk memenangkan Arab Saudi dalam segala hal. Kalimat itu hanya sebagai simbol keimanan dan ideologi Negara semata.

Persoalan sekarang, bagaimana hukumnya, jika kalimat “Allah” (syahadatain) itu ditulis pada sang Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia.   Kalau merujuk pada prinsip bahwa kalimat syahadatain dan dua pedang bersilang merupakan simbol-simbol kerajaan Negara Islam Arab Saudi, maka jelas tidak pada tempatnya simbol itu tertera pada bendera Merah Putih Indonesia, sebab Negara Indonesia bukan Negara berideologi agama Islam, tetapi Negara Pancasila. Meskipun umat Islam merupakan mayoritas, tetapi kita harus menghargai perasaan umat agama-agama lain di negeri ini, yang tentu tidak sepakat atas tulisan itu. Apalagi dengan adanya gambar dua pedang bersilang yang jelas-jelas merupakan simbol khas Arab Saudi, maka itu berarti Indonesia telah ditaklukkan oleh Kerajaan Arab Saudi yang Wahhabi itu.   Jelas-jeas itu merupakan penghinaan terhadap bangsa Indonesia.

Ketahuilah bahwa menulis sesuatu yang tidak disepakati, yang bisa mencederai kesepakatan dan persatuan, itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Coba ingat peristiwa perjanjian Hudaibiyah antara umat Islam dengan kaum Quraisy.   Awalnya, pada draft piagam perjanjian itu tertera tulisan basmalah (Bismillahi Rahmani Rahim). Pihak Quraisy menolak keras kalimat itu, dan akan membatalkan perjanjian jika Basmalah itu tidak dihapus. Maka Rasul pun meminta sahabatnya menghapus Basmalah itu, demi menjaga kesepakatan perdamaian.   Basmalah itu pun sakral, sama sakralnya dengan kalimat syahadatain, namun Rasul minta dihapus demi tegaknya kesepakatan perdamaian.

Beradasarkan analogi larangan Nabi tersebut, kita dapat simpulkan bahwa secara syar`iy, kita juga tidak boleh menulis kalimat syahadatain pada bendera Merah Putih, karena merusak kesepakatan akan status Merah Putih sebagai bendera nasional, bukan bendera Islam. Apalagi telah diatur oleh Undang-Undang No: 24 Tahun 2009, tentang larangan menodai Bendera Merah Putih dengan tulisan dan simbol apapun. Wallahu A’lam bi al-Showab.

KASIH IBU SEPANJANG MASA

Kisah Yang Tertinggal di Hari Ibu

KASIH IBU SEPANJANG MASA

Di suatu kota, hidup lah satu keluarga menengah, terdiri atas ayah ibu, anak-anak dan seorag nenek yg sudah amat tua dan sakit2an. Sang ibu muda itu amat sayang pada semua anak-anaknya, dan cinta pada suaminya. Dia rela berkorban demi cinta pada anak2 dan suaminya itu. Tapi terhadap si nenek tua yang adalah ibu kandungnya sendiri yg sudah sakit2an, ia merasa terbebani dengan sejumlah persoalan, mulai dari keharusan mengurusnya, memandikannya, membersihkan tempat tidurnya, melayani makanannya, sampai pada urussan obat-obatannya. Dari hari ke hari, beban itu semakn berat, sampai suatu hari, terbetik dalam hatinya untuk menitipkannya di panti jompo.

Ia pun memberanikan diri mengajak si nenek itu, yang adalah ibu kandungnya sendiri, dg nada agak memaksa agar mau dititip di Panti Jompo. Mulanya si nenek menolak keras, sebab ia tahu di panti jompo itu, hanya ada nenek-nekek dan kakek-kakek tua. Tidak ada anak-anak lagi seperti cucunya di rumah. Ia membayangkan, kalau ia hidup di Panti Jompo, tak akan ada lagi cucu yang sering merengek-rengek, sering memeluk dari belakang dan bercanda, sering main-main dengannya. Tapi karena sudah berkali-kali dibujuk oleh ibu muda, yang adalah puterinya sendiri, maka ia pun merasa kasihan sama puterinya.  Walau hatinya meronta, tapi si nenek sabar dan menerima rela di “buang” di Panti Jompo. Dengan suara terputus-putus, si nenek itu bilang sama puterinya: aku rela hidup di Panti Jompo demi kebahagiaan keluargamu nak, agar kamu bisa menikmati lebih banyak waktu bersama suami dan anak-anakmu nanti setelah aku tiada lagi di rumah ini.

Maka pada hari yg ditentukannya, sang ibu muda itu bersiap-siap mengantar ibu kandungnya ke panti jompo. Diambilnya sebuah kopor tua di balik lemari, kemudian disinya dengan pakaian-pakaian ibunya itu. Sang nenek hanya termenung melihat perilaku puterinya, dan sesekali menyungging senyum, seolah tidak ada keberatan. Setelah selesai berkemas, ia pun menuntutn ibunya masuk mobil, didudukkannya di jok tengah.   Segera sesudah itu si ibu muda menyetir mobil sendiri mengantar ibu kandungnya menuju ke Panti Jompo. Di tengah jalan tiba-tiba teringat beli mangga pesanan anaknya, maka mampirlah ia di toko buah segar, dibelinya satu kg mangga. Ibunya pun bertanya utk apa kau beli mangga, aku kan sdh tdk bisa ngupas mangga lagi. Jawab Ibu itu: Oh ini bukan utk kau Mak, tapi utk anak2 ku di rumah. Si Nenek itu pun berceritera mengenang waktu mudanya. Dia bilang, dulu waktu kau masih kecil, aku bersama ayahmu punya kebun mangga, cukup luas, diselingi pohon kelapa. Setiap pulang dari kebun mangga selalu saja aku bawa oleh-oleh mangga untuk kamu. Tapi setelah ayahmu meningal waktu kau masih duduk di SD, aku terpaksa sendirian memeliharamu dan membiayai hidup kita. Maka kebun itu sedikit-demi sedikit dijual, akhirnya habis, semua untuk biaya hidup kita berdua dan ongkos sekolah dan kuliahmu nak. Tapi aku bahagia, aku sempat melihat mu jadi sarjana dan bekerja di perusahaan, apalagi sudah punya rumah dan mobil sendiri, dan kamu berbahagia dengan suami dan anak-anakmu sekarang. Maha besar Allah, telah mengabulkan doaku, agar aku sempat melihat puteriku bahagia sebelum ajal menjemputku.

Seolah angin lalu saja, ibu muda itu tidak menghiraukan “dongeng” ibunya sendiri. Ia malah menambah kecepatan mobilnya, sampai pada suatu perempatan, ia berhenti di bawah lampu merah, Lepas dari lampu merah, tiba-tiba ia melihat seorang kakek sedang berjalan tertatih-tatih, dengan dua bakul berisi jamu jualan di pundaknya. Ia pun meminggir mendekati kakek penjual jambu itu. Sang nenek pun langsung bercertera lagi, mengenang suaminya; katanya: seandainya ayahmu masih hidup nak, mungkin seumur dengan kakek penjual jambu itu. Dulu aku sering berdua dengan ayahmu ke hutan, ambil kayu bakar sambil memetik jambu-jambu hutan seperti itu. Aku sendiri yang menggendong jambu itu pulang. Aku rela tdk memakannya, sebab aku ingin kau (anakku) hatimu senang makan jambu keesukaanmu. Lagi-lagi, seolah tak hiraukan omongan ibu kandungnya, diambilnya sepuluh biji jambu yang dibelinya dari kakek itu, ia kemudian lanjut nyetir mobilnya sampai menghampiri Panti Jompo yg ia tuju.

Sebenarnya hatinya sudah mulai ragu meneruskan niatnya untuk “membuang” ibunya, setelah mendengar betapa tngginya rasa kasih ibu kandungnya itu pada dirinya, yang tidak mungkin dia balas. Tapi ia pun mencoba tegar pada pendiriannya untuk menyingkirkan si nenek tua yang membuat susah rumah tangganya selama ini. Pokoknya, ia ingin merasakan kebahagiaan maksimal, tanpa terganggu oleh beban Sang Nenek tua itu.

Maka Ia pun nyetir terus, tapi karena hatinya sudah mulai goyah dan ragu meneruskan niat “menyingkirkan” ibunya, terkadang pijakan pedal gasnya tidak terarah lagi. Akhirnya ia berhenti pas depan sebuah Alfamart samping Panti Jompo itu.  Tiba-tiba teringat akan pesan anaknya untuk tidak lupa beli semprot nyamuk baygon. Si ibu muda bergegas masuk Alfamart lalu kembali menenteng kantong plastik berisikan semprot baygon. Si nenek tua, ibunya itu pun bertanya, apa di Panti Jompo itu banyak nyamuk nak? Oh, semprot ini utk di rumah, agar anak-anakku dapat tidur enak, tidur nyenyak dan pulas, bebas dari gangguan nyamuk, jawab sang ibu muda itu.   Lalu si nenek pun bergumam, heeem, sungguh memang semua ibu mencitai anaknya. Waktu kau masih bayi, belum ada semprot baygon di kampung kita. Ketika itu aku pun ibumu sering tdk tidur se malaman hanya utk menjagamu dan mengusir nyamuk yg ingin mengganggumu, agar kamu tidur nyenyak. Kalimat terakhir ini betul-betul menusuk hati nurani sang ibu muda itu, dan ia pun sadar bahwa org yg ia ingin “buang” di Panti Jompo adalah IBU KANDUNG nya yg melahirkann dengan penuh derita, memeliharanya,membesarkannya dengan penuh sayang, walaupun kesusahan. Kebun dan segenap harta ibunya di kampung habis terjual untuk ongkos sekolahnya sendiri.

Setelah termenung sejenak dalam suasana hening, hatinya pun jadi luluh. Tanpa ia rasa, air mata telah membasahi pipinya, dan tiba-tiba saja ia kemudian memeluk tubuh kurus ibunya erat-erat, tak tertahankan ia menagis terisak-isak, mencium pipi keriput dan kedua tangan kasar ibu kandungnya. Maafkan aku IBU ……, spontan sang Nenek Tua itu menjawab, oh kamu tidak bersalah anakku, tetapi karena aku ditakdirkan Tuhan hidup sampai tua begini, maka aku pun masih sempat numpang di rumahmu melihatmu bahagia, walaupun aku tahu aku menyusahkanmu. Hati nurani sang ibu muda semakin tertusuk, tapi ia kehabisan kata untuk minta maaf dan memuji IBUnya itu. Semuanya hanya tersalur lewat deraian air mata. Saat itu ia tidak lagi merasa ragu, tetapi yakin sepenuhnya untuk mengurungkan niat “membuang” ibunya di Panti Jompo itu. Dalam hatinya terbisik kalimat: “Sungguh durhaka aku, …..”   Sambil mengusap air matanya, Sang Ibu muda itu kemudian mengambil arah balik ke rumahnya, pulang bersama IBU KANDUNG nya, seorang Nenak tua yang cinta kasihnya pada anak tak kunjung habis, sampai di usianya yg renta dan sakit2an. Begitulah, orang bijak berkata: Kasih bapak sepanjang gala, kasih ibu sepanjang masa. SELAMAT HARI IBU.

 

SUBHANALLAH, SUNGGUH ISTIMEWA AL-QUR’AN

Subhanallah, Sungguh Istimewa Al-Qur’an

Oleh: Prof.Dr.H. Hamka Haq, MA

Salah satu keistimewaan Al-Qur’an ialah bahwa ayat-ayatnya dapat berlaku sepanjang zaman, dalam arti sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia. Mungkin uraian berikut dapat menunjukkan bagaimana Al-Qur’an itu sangat sesuai dengan peradaban modern, khususnya dalam kehidupan sosial politik.

Misalnya, akhir-akhir ini masyarakat Islam Indonesia ramai membicarakan Al-Maidah:51.   Padahal sebenarnya ayat itu sudah terang benderang artinya, cuma terkadang orang salah persepsi. Ayat itu pun semakin terang maknanya jika dikaji sesuai dengan perkembangan zaman. Mari kita kutip dulu ayat tersebut sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥١﴾

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Selama ini, banyak khatib dan muballigh dalam ceramahnya mengenai pemimpin, tersandung saat mengartikan ayat ini, dengan soal kecil saja. Mereka memahami dengan singkat: “janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasharani (Kristen) menjadi pemimpin”. Mereka memakai kata “pemimpin” kata tunggal (mufrad), yang dalam bahasa Arabnya adalah waliyan, mengalihkan dari kalimat aslinya yakni awliya’ (pemimpin-pemimpin) dalam bentuk “jama`”.

Sepintas lalu kedengaran sama, padahal impilkasi politiknya sangat jauh beda antara kata “pemimpin” (waliyan), dengan kata “pemimpin-pemimpin” (awliya’). Sungguh benar Allah SWT memakai kata awliya’ (pemimpin-pemimpin, bentuk jama’), bukan kata waliyan (pemimpin, bentuk mufrad atau tunggal), karena kepemimpinan politik yang berkembang dari zaman ke zaman menunjukkan bahwa dalam masyarakat moderen, kepemimpinan tidak lagi dipegang secara absolut oleh satu orang pemimpin tunggal (waliyan), tapi dilaksanakan secara kolektif (jama’) oleh banyak orang (awliya’).   Artinya, kepemimpinan politik dewasa ini di seluruh Negara modern, bukan lagi dilaksanakan oleh seorang Raja atau Kaisar atau Sultan yang berkuasa absolut, melainkan oleh banyak pemangku layanan kekuasaan yang tidak absolut, yakni Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, Parlemen (DPR, DPD dan MPR), dan Mahkamah Agung. Belum lagi disebut Jaksa Agung, Panglima TNI dan Kapolri. Maksudnya ialah: Al-Maidah:51 melarang umat Islam memilih kaum Yahudi dan Nashrani menjadi awliya` yang mengusasi semua posisi kepemimpinan kolektif (jamak) tersebut. Itulah yang haram. Tapi jika suatu saat hanya satu di antaranya yang diduduki oleh kaum Nashrani (karena terpilih atau jalan lain), pada tingkat nasional atau daerah, (meskipun masih sangat langka dalam dunia demokrasi), maka itu tidak dalam kategori awliya` (jamak), sebagaimana disebutkan dalam Al-Maidah:51, sehingga tidak masuk dalam kategori yang dilarang dalam ayat itu.

Mengartikan ayat di atas dalam bentuk tunggal (mufrad) pemimpin (waliyan), berarti menarik kembali Al-Qur’an ke zaman kuno klasik, yang pada saat itu semua posisi kekuasaan politik hanya dipegang oleh satu orang yang berkuasa absolut tunggal, yakni Raja atau Kaisar tanpa konstitusi. Lebih dari itu, bertentangan dengan teks ayat itu sendiri, yang tidak berbunyi waliyan (tunggal), melainkan jelas-jelas berbunyi awliya’ (jamak) yang dapat dimaknai kepemimpinan kolektif (jama’ah) berdasarkan konstitusi. Maka pada konteks kepemimpinan kolektif (jamak, – awliya’) itu, jika semuanya dipegang oleh Nashrani, sekali lagi itulah yang dilarang dalam Al-Maidah:51 itu.

Jadi kalau ada pendapat bahwa menjadikan non Muslim sebagai SEORANG pemimpin, yang hanya memegang satu aspek pelayanan kekuasaan saja, itu tidak dilarang, maka pendapat seperti itu sama sekali bukan berarti menentang ayat Al-Maidah:51, melainkan justru bermaksud menunjukkan pemahaman ayat tersebut, bahwa yang dilarang adalah menjadikan non Muslim pada kedudukan awliya’ (menguasai seluruh posisi kepemimpinan). Sepanjang tidak sampai pada makna awliya’ itu masih dalam batas kebolehan.  Mari renungkan bersama tanpa dendam dan nafsu kebencian. Wallahu a`lamu bi al-shawab.