HUKUM MENULIS KALIMAT “ALLAH” PADA BENDERA MERAH PUTIH

HUKUM MENULIS KALIMAT “ALLAH” PADA BENDERA MERAH PUTIH

Oleh: Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA

Negara yang menjadikan kalimat Allah, atau lengkapnya kalimat syahadatain (La ilaha illah Allah Muhammadun Rasulullah) sebagai simbol Negara yang tertera pada benderanya ialah Arab Saudi.   Di bawah nya dilengkapi dengan gambar pedang.  Pedang merupakan simbol khas Saudi (dua pedang bersilang adalah simbol Kepolisian Saudi).

Pemuatan kalimat Allah pada bendera Negara Arab Saudi, mengandung makna bahwa warga Negara Saudi adalah 100 % penduduknya beragama Islam, sekaligus sebagai simbol keimanan (Ideologi) bagi Negara Islam Arab Saudi. Dengan kata lain, kalimat tersebut bukan simbol “hakekat Allah SWT” dan bukan pula simbol “kehamahkuasaan Allah SWT” yang selalu melekat pada Arab Saudi. Sehingga, sukses dan kegagalan Arab Saudi dalam hal-hal tertentu, tidak berarti bahwa yang sukses dan gagal itu ialah Allah SWT, yang namaNya tertera di bendera Saudi.

Misalnya saja, jika Arab Saudi berjaya dalam dunia sepak bola, pernah tiga kali menjuarai Piala Asia (1984, 1988, dan 1996), tidak boleh disebut bahwa hal itu karena mutlak adanya kalimat “Allah” pada bendera hijau-nya.   Sama halnya ketika tim Arab Saudi kalah 0-8 dari tim Nasional Jerman di Piala Dunia 2002, bukan dikalahkan karena akibat adanya kalimat “Allah” pada benderanya itu. Jadi kalimat “Allah” pada bendera tidak ada kaitannya dengan kemahakuasaan Allah untuk memenangkan Arab Saudi dalam segala hal. Kalimat itu hanya sebagai simbol keimanan dan ideologi Negara semata.

Persoalan sekarang, bagaimana hukumnya, jika kalimat “Allah” (syahadatain) itu ditulis pada sang Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia.   Kalau merujuk pada prinsip bahwa kalimat syahadatain dan dua pedang bersilang merupakan simbol-simbol kerajaan Negara Islam Arab Saudi, maka jelas tidak pada tempatnya simbol itu tertera pada bendera Merah Putih Indonesia, sebab Negara Indonesia bukan Negara berideologi agama Islam, tetapi Negara Pancasila. Meskipun umat Islam merupakan mayoritas, tetapi kita harus menghargai perasaan umat agama-agama lain di negeri ini, yang tentu tidak sepakat atas tulisan itu. Apalagi dengan adanya gambar dua pedang bersilang yang jelas-jelas merupakan simbol khas Arab Saudi, maka itu berarti Indonesia telah ditaklukkan oleh Kerajaan Arab Saudi yang Wahhabi itu.   Jelas-jeas itu merupakan penghinaan terhadap bangsa Indonesia.

Ketahuilah bahwa menulis sesuatu yang tidak disepakati, yang bisa mencederai kesepakatan dan persatuan, itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Coba ingat peristiwa perjanjian Hudaibiyah antara umat Islam dengan kaum Quraisy.   Awalnya, pada draft piagam perjanjian itu tertera tulisan basmalah (Bismillahi Rahmani Rahim). Pihak Quraisy menolak keras kalimat itu, dan akan membatalkan perjanjian jika Basmalah itu tidak dihapus. Maka Rasul pun meminta sahabatnya menghapus Basmalah itu, demi menjaga kesepakatan perdamaian.   Basmalah itu pun sakral, sama sakralnya dengan kalimat syahadatain, namun Rasul minta dihapus demi tegaknya kesepakatan perdamaian.

Beradasarkan analogi larangan Nabi tersebut, kita dapat simpulkan bahwa secara syar`iy, kita juga tidak boleh menulis kalimat syahadatain pada bendera Merah Putih, karena merusak kesepakatan akan status Merah Putih sebagai bendera nasional, bukan bendera Islam. Apalagi telah diatur oleh Undang-Undang No: 24 Tahun 2009, tentang larangan menodai Bendera Merah Putih dengan tulisan dan simbol apapun. Wallahu A’lam bi al-Showab.

MASALAH HAJI DAN SOLUSINYA (2)

MASALAH HAJI DAN SOLUSINYA (2)

Oleh: Prof.Dr.H. Hamka Haq, MA

Ketiga, Masalah Sholat Arbain.  Selama ini berlaku anggapan bahwa setiap jamaah haji harus bersholat jamaah di Madinah sebanyak 40 kali (arbain) sebelum ke Makkah bagi jamaah gelombang pertama, dan sesudah berhaji di Makkah bagi jamaah gelombang kedua.  Sebenarnya “arbain” ini sah-sah saja bagi jamaah yang sehat dan mampu melaksanakannya, bahkan lebih dari itu pun tidak masalah.  Yang menjadi masalah, jika “arbain” itu dianggap keharusan atau dianggap sebagai rangkaian haji dan umrah, sehingga semua jamaah memaksakan dirinya untuk “arbain” walaupun kurang sehat, sehingga nanti kesehatannya semakin buruk dan jatuh sakit.  Tiada kaitan “arbain” dengan haji dan umrah, sehingga hanya jamaah Indonesia saja yang melakukan seperti itu.    Sejarah “arbain” dimulai ketika jamaah haji Indonesia masih menggunakan kapal laut, yang proses pergi-pulang sekitar empat bulan.  Mereka biasanya tinggal di Madinah sekitar 15 s.d. 20 hari menunggu keberangkatan ke Mekah atau menunggu pemulangan ke tanah air.  Untuk mengurangi kejenuhan jamaah, maka Syekh (sekarang Maktab) sangat bijaksana menghimbau mereka bersholat jamaah di Masjid Nabawi, minimal 40 kali, ketimbang mereka berkeliaran dan hanya sibuk belanja.  Mereka tidak sulit melaksanakan itu, karena cukup dengan dua kali atau tiga kali saja ke Masjid Nabawi, mereka bisa mencukupi 40 kali sholat jamaah.    Sangat beda dengan keadaan sekarang, yang proses perjaanan haji hanya sekitar 40 hari, sehingga masa unggu di Madinah maksimal 8 (delapan) hari, yang berdampak pada keharusan jamaah untuk sholat jamaah di Masjid Nabawi full day selama delapan hari tanpa alpa sedikitpun.  Akibatna jamaah tidak punya waktu istirahat cukup, karena semua waktu habis untuk pergi pulang ke masjid, bahkan yang kurang kuat, harus menghabiskan separuh waktu di masjid, ketimbang pulang ke pemondokan.  Misalnya ia ke masjid Nbawi untuk sholat zhuhur, terus menunggu waktu ashar, maghrib dan isya sekalian, guna menghindari  repotnya pergi pulang antara masjid dan pemondokan.  Mereka yang merasa kuat tetap saja pergi pulang antara masjid dan pemondokannya lima kali sehari, yang walaupun lelah namun tdak merasa karena tingginya semangat beribadah.  Sementara yang memilih tinggal di masjid dikhawatirkan mngalami kekuragan gizi akibat keterlambatan makan siang atau mngkin tidak makan siang lagi, karena tinggal di masjid seharian.

Jadi untuk menjaga kesehatan dan kekuatan jamaah secara prima, kebiasaan “arbain” hendaknya tidak menjadi doktrin keharusan.  Ckup dibiarkan saja sesuai kemampuan jamaah masing-masig tanpa mengintimidasi atau menakut-nakuti bahwa haji dan umarhnya tidak sah atau tidak afdhol jika tidak cukup “arbain”.

Keempat, Masalah Miqat.  Miqat artinya waktu efektif berlakunya ritual (nusuk) untuk haji dan umrah, baik dari segi waktu itu sendiri (miqat zamani) maupun dari segi tempat memulai (miqat makani).  Yang sering menjadi krusial adalah miqat makani, yaitu tempat berihram di Bi`ir Ali bagi jamaah gelombang pertama yang langsung ke Madinah dan Bandara King Abdul Aziz Jeddah bagi jamaah gelombang kedua yang langsung ke Mekah.  Selama ini, miqat makani dipahami sebagai batas awal mulainya niat dan ihram, padahal miqat tersebut dimaksudkan sebagai batas awal terlasananya ritual (nusuk) haji dan umrah.  Aadapun niat, miqat adalah batas akhir berniat, artinya jamaah diharuskan berniat dan berihram selambat-lambatnya ketika sampai miqat itu, artinya jamaah boleh saja berniat dan berihram sebelum sampai ke miqat itu.   Jadi, niat dan ihram yang dilakukan oleh sebahagian jamaah, sejak dari hotelnya di kota Madinah itu sudah sah niat ihramnya, dan sudah tidak boleh lagi melakukan hal-hal yang dilarang dalam ibadah haji dan umrah.  Soal apakah mereka sempat atau idak lagi mampir di miqat Bi`ir Ali, niat haji atau umrahnya tetap dipandang sah, karena mereka dalam keadaan niat ketika melewati Bi`ir Ali.

Kelima, persoalan Mina Jadid.  Mina Jadid adalah wilayah yang tadinya masih di luar Mina asli, namun karena jumlah jamaah yang semakin banyak, sudah diperkirakan mencapai 4 (empat) jutaan yang mustahil dapat tertampung di Mina asli, maka Ulama Saudi menfatwakan bolehnya memperluas wilayah Mina dengan membangun perkemahan di wilayah baru yang disebut Mina Jadid (Mina Baru).   Sebenarnya persoalan seperti ini sudah ada sejak awal tahun 1980-an, yakni ketika jamaah Indonesia ditempatkan di luar Mina asli, yaitu di Haratullisan, yang ada di balik gunung Mina, dan menuju ke sana harus melalui terowongan.  Mulanya sebagian ulama kita menolak, karena memandang bukan Mina lagi, dan jamaah yang bermalam di sana pada masa pelontaran jamrah, otomatis wajib bayar dam.   Pada tahun 1993, MUI Sulawesi Selaan mengadakan mudzakarah menyangkut Haratullisan itu.  Seorang ulama besar sesepuh ulama Seul-Sel, AGH  Muhammad Abduh Pabbaja, memberi fatwa singkat dan pamungkas.  Kata beliau: Mina ka al-rahimi, idza Dhaqa ittasa`a  (Mina itu seperti rahim, jika sempit pasti akan menjadi luas).  Artinya Haratullisan itu dianggap sebagai perluasan wilayah yang otomatis masuk wilayah Mina, dan para jamaah tidak wajib bayar dam.  Saya yakin, fatwa Pabbaja tersebut dapat menjadi rujukan solusi kasus Mina Jadid ini, agar sekarang para jamaah yakin untuk menginap di sana, tnpa harus bayar dam lagi, karena Mina Jadid adalah sudah menjadi wilayah Mina.

Untuk memperkuat pandangan tersebut, penulis ingin menunjukkan bahwa sekarang lokasi-lokasi ibadah yang penting sudah mengalami perluasan.  Ada yang diperluas secara vertikal, seperti tempat sa`iy dan thowaf yang kini sudah berlantai tiga, dan ada yang diperluas horisontal seperti Mina dan menyusul bukit Arafah.  Kalau semua jamaah sudah merasa sah thowaf dan sa`iy di lantai dua dan tiga di Masjidil Haram, maka seharusnya harus merasa sah untuk menginap di Haratullisan dan Mina Jadid.   Wallahu a`lam bi al-showab.

 

KEBENARAN ITU, PADA AKHIRNYA DITERIMA

Suatu kebenaran kadang ditolak mentah-mentah pada awalnya.  Ajaran Islam pun pada mulanya ditolak, namun akhirnya diterima secara luas di negeri Arab kemudian merambah ke seluruh penjuru dunia. Apalagi yang namanya pendapat manusia, walau mengandung kebenaran, pastilah awalnya ditolak dan ditentang.

Pada tahun 40-an misalnya, menjelang kemerdekaan terjadi polemik secara luas soal hukum transfusi darah.  Segenap ulama ketika itu, baik dari NU maupun dari Muhammadiyah ramai-ramai mengharamkan transfusi darah.  Mereka berdasar pada metode qiyas bahwa transfusi darah itu prosesnya sama dengan minum darah, yakni sama-sama memasukkan dara orang lain ke dalam tubuh seseorang.   Pendapat lain  adalah dari Ir. Soekarno yang justru menghalalkan transfusi darah.  Bung Karno melihat dari sisi lain, bukan dari proses masuknya darah ke dalam tubuh, melainkan dari manfaatnya.  Karena tranfusi darah dapat menyelamatkan jiwa orang sakit, maka Bung Karno melihat manfaatnya sama dengan pengobatan.  Kalau pengobatan itu halal karena dapat menyembuhkan orang sakit maka transfusi darah pun pasti halal karena dapat menyembuhkan oang sakit. Menyelamatkan orang sakit pastilah dianjurkan Islam.  Sekitar lima puluh tahun kemudian, barulah ulama ramai-ramai mengikuti pendapat Bung Karno, mereka juga sudah menghalalkan transfusi darah.

Seperti itu pula halnya, apa yang saya gagas dan laksanakan sejak tahun 1999 kini berangsur angsur disetujui oleh orang banyak.  Bersama Bapak Jusuf Kalla (JK) kami membentuk Forum Antar Umat Beragama (FAUB), yang kemudian melaksanakan Natal Oikumene gabung dengan Halal bi halal usai Idil Fitri, pada satu acara bersama, tiga tahun berturut-turut (1999, 2000, 2001), guna mengajarkan umat Islam bahwa ucapan Selamat Natal tidaklah haram.  Kini satu persatu tokoh dan ulama baru berani menyuarakan halalnya ucapan natal.  Tapi belum berani melakukan natal bersama gabung dengan maulid dlm satu acara.

Kemudian pada saat saya menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Makassar (2001 sd. 2003) saya berani menerima mahasiswa Non Muslim (Kristen dan Hindu) belajzr di Fakultas kami itu.  Semua ulama dan cendekiawan Muslim termasuk pimpinan IAIN sendiri menentang keras, tapi saya bertahan dan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teologia di Makassar.  Belasan dari mahasiswa non Muslim itu berhasil sarjana dari IAIN, sejak tahun 2004.  Semua pimpinan IAIN mencibir, atau istilah sekarang membully, atas langkah saya dianggapnya “jahiliyah” itu.  Namun ketika mereka ramai-ramai mengalih status IAIN jadi UIN mereka pun terpaksa harus menerima non Muslim jadi mahasiswa di Fakultas Umum.

Masih ada langkah saya yang dianggap “jahiliyah”, yakni ketika ormas Islam yang saya pimpin Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) di daerah mayoritas Non Muslim, saya minta non Muslim kalangan eksekutif menjadi Pelindung atau Penasehat BAMUSI.  Begitupun misalnya ketika saya membolehkan doa bersama umat berbeda agama dalam satu acara, jelas banyak yang menilainya jahiliyah.  Saya tentu melakukan semua itu karena ada alasan syariah dan alasan kemaslahatan yang saya temukan, mungkin sebelum yang lain menemukannya.

Hamka Haq bersama Uskup Agung Makassar John Liku Ada

Prof. Hamka Haq bersama Uskup Agung Makassar, John Liku Ada.

PDI PERJUANGAN TIDAK PERNAH BERMAKSUD MEMATA-MATAI MASJID

IMG_0001

                                      PDI PERJUANGAN TIDAK PERNAH BERMAKSUD

                                                     MEMATA-MATAI MASJID

 

Akhir-akhir ini ada isu yang beredar bersifat fitnah bahwa PDI Perjuangan akan memata-matai masjid dalam arti akan memasang intel di setiap masjid, jika Capres dan Cawapres yang diusung: Ir.H. Joko Widodo dan Dr.H.M.Jusuf Kalla memenangi pemilihan Presiden 9 Juli 2014 nanti.  Agar isu tersebut tidak berdampak negaif bagi kehidupan berdemokrasi, yang juga bisa merusak citra PDI Perjuangan, maka kami dari Baitul Muslimin Indonesia melakukan klarifikasi (tabayyun) sebagai berikut:

  1. Secara logika, tentunya kami mustahil melakukan tindakan memata-matai masjid, sebab hal itu merupakan tindakan negatif yang bertentangan dengan semangat kami untuk melindungi semua rumah ibadah dan khususnya menjaga kehormatan masjid.  Sikap kami untuk menjaga kehormatan dan kesucian masjid adalah sejalan dengan semangat Partai kami memilih Bapak H.M.Jusuf Kalla (Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia) menjadi calon Wakil Presiden mendampingi Bapak Ir. H. Joko Widodo sebagai Calon Presiden yang kami usung.
  1. Kami bukanlah institusi yang memiliki aparat intel.  Kami adalah partai yang hanya beranggotakan rakyat biasa, kaum marhaen, yang tidak ada sama sekali kaitan dengan lembaga-lembaga intelejen seperti dimiliki oleh TNI dan POLRI.   Justru sebaliknya Partai kami pernah mengalami perlakuan dimata-matai oleh intel di era Orde Baru, yang mendorong kami untuk bangkit menumbangkan Orde Baru.
  1. Bahwa dugaan akan adanya masjid yang berpotensi menjadi sumber fitnah, hal itu sejak zaman Rasulullah SAW sudah diperingatkan dalam Surah Al-Tawbah ayat 107,

 

وَالَّذِينَ اتَّخَذُواْ مَسْجِداً ضِرَاراً وَكُفْراً وَتَفْرِيقاً بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَاداً لِّمَنْ حَارَبَ اللّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ وَلَيَحْلِفَنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ الْحُسْنَى وَاللّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ ﴿١٠٧﴾

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). – (Q.S.al-Tawbah [9]: 107).

  1. Maka misi kita bersama ialah memelihara agar semua masjid terhindar dari perilaku orang-orang munafiq yang memanfaatkan masjid untuk tujuan memfitnah dan memecah belah umat seperti yang diperingatkan dalam firman Allah SWT di atas.  Sejalan dengan itulah maksud PDI Perjuangan agar masjid tetap sebagai rumah badah yang suci dan tidak dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu sebaga sumber perpecahan umat, dan agar semua masjid tetap berfungsi sebagai pusat pencerahan dan pelaksanaan Islam Rahmatan Lil-alamin.

 

Jakarta, 2 Juni 2014 M / 4  Sya`ban 1435 H.

TTD

 

 

 

Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia

TUNTUNAN RINGKAS IBADAH QURBAN

TUNTUNAN RINGKAS IBADAH QURBAN

Oleh: Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA.

Dalam rangka menghadapi Hari Raya Adhha, yakni Hari Raya Kurban, berikut ini saya kutipkan tuntunan pelaksanaannya menurut hadits dan sunnah Rasulullah SAW.

A. PERSIAPAN

1. Berkurban, hukumnya adalah sunah muakkadah bahkan ada yang memandang wajib atas orang yang mampu. Sebagaimana dipahami dari penegasan hadits Nabi SAW:

عن أبي هريرة: من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا

Artinya: “dari Abi Hurayrah, Barang siapa yang memperoleh kemampuan, kemudian tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami (masjid, mushalla dan lapangan tempat bershalat) – Riwayat Ahmad dan lbnu Majah.,

Meskipun tidak disepakati wajibnya berkurban, ia telah menjadi tradisi sejak zaman Rasulullah SAW. Sahabat yang tidak sempat berkurban, kadang melakukan amalan yang dianggapnya pengganti kurban. lbnu Abbas pernah memberi dua dirham kepada pembantunya, agar dia membeli daging dan menyampaikan kepada orang bahwa inilah kurbannya lbnu Abbas. Sementara itu Bilal pernah pula menyembelih seekor ayam jantan atau semacamnya sebagai pengganti kurban (Lihat dalam Kitab Subul aLSalam).

2. Hewan yang dapat dikurbankan ialah hewan ternak (bahimah) yaitu unta dan sejenisnya, sapi dan sejenisnya, kambing dan sejenisnya, yang sudah cukup umur untuk dikonsumsi secara sehat.

3. Untuk seeokor unta atau sapi, dapat dikurbankan oleh tujuh orang secara berjamaah, Hadits dari Jabir riwayat Muslim menyebutkan:

نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة رواه مسلم عن يحيى بن يحيى

Kami telah berkurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, yaitu seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang). Lihat dalam Abu Nuaim Ahmad bin Abdillah al-Asfahaniy, al-Musnad al-Mustakhraj `ala Shahih al-Imam Muslim, (Beyrut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1966), Jus 3, h. 393.

Sedang untuk seekor kambing, kibas atau domba, hanya dikurbankan secara perorangan (untuk seorang saja), berdasarkan ijma; walaupun ketika Nabi SAW berkurban seekor kibas, beliau menyebut untuk diri bersama keluarganya

فأضجعه ثم قال بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به

Maka Nabi membaringkan kibas itu, lalu mengucapkan bismillahi ya Allah terimalah qurban dari Muhammad, dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad, lalu beliau menyembelihnya (Kitab Subul al-Slam Juz 4. Al. 90).

Boleh jadi yang dimaksud bersama keluarga dan ummatnya ialah pahala dari kurban, atau diniatkan sebagai kurban kifayah, untuk mereka yang tidak mampu berkurban, bukan pelaksanaan ibadah kurban secara berjamaah.

4. Ada riwayat menyebutkan bahwa onta yang sangat besar dapat dikurbankan bersama oleh 10 orang.

فأخرج الترمذي والنسائي من حديث ابن عباس قال كنا مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في السفر فحضر الأضحى فاشتركنا في البقرة سبعة وفي البعير عشرة

Al-Turmudzi dan Al-Nasa’iy menyampaikan hadits dari Ibni Abbas, berkata: kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu safar, sampai tiba hari raya kurban, maka kami berkurban bersama-sama seekor sapi untuk tujuh orang, dan seekor unta besar untuk sepuluh orang” Lihat Subul al-Salam Juz IV h. 95.

5. Hewan yang akan dikurbankan haruslah sehat, berbobot dan berkualitas, bahkan indah dipandang mata. Riwayat dari Anas bin Malik:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي بكبشين أملحين أقرنين ويسمي ويكبر – متفق عليه

“Adalah Rasulullah SAW berkurban dengan dua kibas yang keduanya berjengggot dan keduanya bertanduk, beliau menyelmbelih dengan menyebut nama Allah dan bertakbir). ”

Suatu riwayat menyebut – سمينين saminayn (gemuk), dan oleh Abu ‘Awanah disebut dengan lafazh: – ثمينين tsaminayn (berkualitas atau berharga). Lihat dalam Subulu al-Salam (juz 4 hal. 90).

6. Tidak menjadi masalah soal warna hewan kurban, warna apa saja yang mudah diperoleh untuk dikurbankan semua dipandang sah oleh Syariat

7. Dianjurkan untuk mengurbankan hewan yang berkualitas, indah dan bagus dipandang mata. Dalam hal ini menurut riwayat dari Ali RA, Rasulullah SAW memerintahkan untuk memprioritaskan kesehatan dengan memperhatikan keindahan mata dan telinganya,:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نستشرف العين والأذن

Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengutamakan keindahan mata dan telinganya. Lihatt dalam Muhammad bin Ishaq bin Huzaymah, Shahih Ibnu Khuzaymah, (Beyrut: al-Maktab al-Islamiy, 1390), Juz IV, h. 293.

8. Ada empat aib penyebab tidak bolehnya hewan dikurbankan, yaitu cacat, sakit, pincang dan sudah sangat tua (tidak segar / kumuh). Berdasarkan hadits Nabi SW:

وعن البراء بن عازب رضي الله عنه قال قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أربع لا تجوز في الضحايا العوراء البين عورها والمريضة البين مرضها والعرجاء البين ظلعها والكبيرة التي لا تنقي

“Dari Al-Barra’ bin ‘Azib RA, berkata, berdiri di sisi kami Rasulullah SAW dan bersabda: empat hal yang tidak boleh ada pada hewan kurban, yaitu: cacat yang jelas cacatnya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan ketuaan yang tidak lagi segar (kumuh /tidak tangkas)”. Riwayat Ahmad, Al-Turmudziy dan Ibn Hibban (Muhammad bin Ismail al-Kahlaniy, Subul al-Salam, Juz IV, h. 93)

9. Adapun cacad ringan yang timbul pada hewan setelah ditetapkannya menjadi hewan kurban, tidak menjadi masalah. Demikian Pandangan lbnu Taymiyah yang dikutip dalam Subul al-Salam ( أن العيب الحديث بعد تعيين اللأضحية لا يضر – (Cacat baru yang muncul setelah ditentukan sebagai kurban tidak masalah)

B. PENYEMBELIHAN

1. Nabi SAW menyembelih kurban degan membaringkan hewan kurban, lalu membaca Bismillahi wa Allahu Akbar’ Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Ada juga memahami bahwa beliau berbasmalah selengkapnya (Bismillahi al-Rahmani Rahim), kemudian bertakbir sesudah berbasmalah. Takbir di sini adalah khusus pada penyembelihan kurban. Riwayat Muslim dari Aisyah yang telah dikutip di atas, menyebut:

فأضجعه ثم قال بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به

“Bahwa Nabi SAW membaringkannya, kemudian mernbaca: “Bismillahi Allahumma taqabbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa min Ummati Muhammad”. Riwayat lain dari Baihaqi menyebutkan: Bismillahi Wa Allahu Akbar, Allahumma ‘anniy wa’an man lam yudhahhi min ummatiy.”

2. Berdasarkan riwayat di atas, kita diharuskan menyebut nama diri dan atau keluarga yang turut beribadah (penyembelihan) qurban itu.

3. Pisau Yang akan digunakan menyembelih harus tajam, sehingga tidak menyiksa hewan kurban. Hadits Riwayat Muslim:

وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته

“Perbaikilah sembelihan itu, maka hendaklah seorang kamu menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya” Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, (Mishr: Muassasat Qurthubah, t.t.) Juz 4, h. 123.

4. Dianjurkan (mustahab) untuk membaringkan hewan kurban pada sisi kirinya agar memudahkan sang penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya.

5. Dianjurkan berdoa untuk drterimanya hewan kurban; mendoakan untuk diri sendiri dan kerabat keluarganya, dengan mengatakan ” Rabbana taqabbal minna innaka Anta al-Sami’u al-Alim. (ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم )

6. Waktu penyembelihan hewan kurban ialah setelah ditunaikannya shalat Iedil Adhha, yakni selesai dibacakan khotbah sampai tiga hari sesudah shalat Iedil Adhha itu. Tiga hari itu adalah hari-hari tasyriq atau hari pelontaran jumrah di Mina oleh mereka yang berhaji. Bahkan suatu jamaah membolehkan penyem-belihan kurban hingga akhir bulan Dzulhijjah. Pandangan ini dapat dipertemukan dengan mengatakan bahwa penyembelih-annya hanya sampai sebatas hari tasyriq (tiga hari sesudah shalat ‘ied) dan pembahagiannya dapat saja sampai akhir Dzulhijjah. Bahkan sebenarnya pembahagian itu masih dapat dilakukan di luar bulan Dzulhijjah. Lihat dalam Al-Kahlaniy al-Shan`aniy, Subul al-Salam, Juz 4, h. 92-93.

C. PEMANFAATAN

1. Untuk pemanfaatan daging kurban ada dua kemungkinan, yakni Pertama, dalam keadaan masyarakat sangat kesulitan memperoleh makanan (daging) maka daging kurban harus dibagi habis dalam jangka waktu tiga hari; kedua, dalam keadaan masyarakat tidak mengalami kesulitan maka daging kurban dibagi menjadi sepertiga kepada yang berhak untuk mereka makan, sepertiga lagi dapat di disimpan (diawetkan untuk persiapan menghadapi kesulitan pangan), dan sepertiga sisanya dapat dimakan oleh yang punya hajat kurban. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW riwayat Bukhariy:

حدثنا أبو عاصم عن يزيد بن أبي عبيد عن سلمة بن الأكوع قال قال النبي صلى الله عليه وسلم ثم من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وفي بيته منه شيء فلما كان العام المقبل قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي قال كلوا وأطعموا وادخروا فإن ذلك العام كان بالناس جهد فأردت أن تعينوا فيها

Artinya: Abu `Ashim memberitakan kepada kami, dari Yazid bin Abi `Ubayd, dari Salmah bin al-Akwa’, katanya: Bersabda Rasulullah: SAW barang siapa yang berkurban di antara kamu, maka janganlah sampai usai tiga hari masih ada tersisa di rumahnya sesuatu (daging kurban), maka tatkala tiba tahun berikutnya, mereka berkata hai Rasulullah apa kami lakukan seperti tahun lalu? Maka bersabda Rasulullah “Makanlah, dan beri makanlah, dan simpanlah, sesungguhnya tahu lalu itu manusia dalam keadaan susah, jadi aku ingin engkau membantu mereka”. (Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, (Beyrut: Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1407), Juz V, h. 2115

Adanya perintah “simpanlah” menjadi alasan pengalengan daging kurban oleh Negara-negara lslam kemudian dikirimkannya ke negeri-negeri Muslim yang kelaparan / kena bencana.

2. Daging kurban boleh dibagikan kepada tetangga non Muslim, guna memelihara keharmonisan bersama dalam suatu lingkungan pemukiman. Hal ini dapat dipahami dari hadits Nabi SAW sebagai berikut:

فجائز أن يطعمه أهل الذمة قال النبي صلى الله عليه وسلم لعائشة ثم تفريق لحم الأضحية ابدئي بجارنا اليهودي وروى أن شاة ذبحت في أهل عبدالله بن عمرو فلما جاء قال أهديتم لجارنا اليهودي ثلاث مرات

Artinya: maka boleh untuk diberi makan kepada non Muslim. Bersabda Rasulullah SAW pada Aisyah, soal pembahagian daging kurban, mulailah dengan memberikan tetangga Yahudi kita; dan diriwayatkan pula, bahwa seekor kambing dipotong kurban dari keluarga Abdullah bin Umar, maka tatkala Abdullah tiba, ia pun bertanya (tiga kali): apakah engkau telah memberikan ke tetangga Yahudi kita?. Lhat Muhammad bin Ahmad Abu Bakar al-Qurthubiy, dalam Tafsir Al-Qurthubi, (al-Qahorah: Dar al-Sya’b, 1372 H.), Juz V, h. 188.
2. Dibagi-bagikan dagingnya, termasuk kulitnya. Karena itu, tidak sah kurbannya jika kulit hewan kurban dijadikan upah bagi pekerja kurban. Pekerja kurban harus diupah tersendiri, tanpa mengurangi daging dan kulit hewan kurban. Hadits Nabi SAW sebagai berikut:

وعن عبد الله بن عياش المصري عن عبد الرحمن الأعرج عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من باع جلد أضحيته فلا أضحية له

“Dan dari Abdillah bin `Iyasy al-Mishriy, dari Abdurrahman al-A`raj, dari Abi Hurayrah RA, berkata: bersabda Rasulullah SAW barang siapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak sah kurbannya itu” (Muhammad bin Abdillah al-Naishaburiy, al-Mustadrak `ala al-Shahihayn, Beyrut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1411), Juz 2, h. 422.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

SELAMAT BERKURBAN

PERJUANGAN KEBANGSAAN PALESTINA

Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia berkunjung ke Kedutaan Palestina diterima oleh Durta Besar Palestina Fariz Mehdawi.  Hamka Haq bersama Andreas Parera dan Ahmad Basarah menyampaikan surat dukungan Ibu Megawati Ketum PDI Perjuangan atas terpilihnya Palestina menjadi anggota PBB status Peninjau

Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia berkunjung ke Kedutaan Palestina diterima oleh Durta Besar Palestina Fariz Mehdawi. Hamka Haq bersama Andreas Parera dan Ahmad Basarah menyampaikan surat dukungan Ibu Megawati Ketum PDI Perjuangan atas terpilihnya Palestina menjadi anggota PBB status Peninjau

PERJUANGAN KEBANGSAAN PALESTINA

Oleh: Hamka Haq

Banyak orang yang salah paham tentang perang Palestina-Israel.  Dianggapnya perang itu adalah perang keislaman (jihad) untuk kepentingan sepihak umat Islam Palestina.  Parahnya lagi, diangapnya perang antara umat Islam melawan Israel (Yahudi) dan Kristen.  Padahal yang terjadi di Palestina ialah perang kebangsaan, yakni bangsa Palestina yang terdiri atas umat Islam bersatu dengan umat Kristen melawan Zionis Israel (Yahudi).

Ketika saya berkunjng ke Kedutaan Besar Palestina tangal 5 Desember yang lalu, Dubes Palestina Fariz al-Mahdawi sangat menyesalkan kesalah-pahaman itu terjadi di Indonesia.  Lalu Fariz menyatakan bahwa ada pihak tertentu yang memanfaatkan isu Palestina, dijadikannya sebagai komoditas politik dengan berdemo setiap ada serangan dari Israel, untuk mengambl hati umat Islam di Indonesia.  Padahal perjuangan kami di sana adalah perjuangan kebangsaan, demikian katanya.  Bahkan salah satu pernyataan beliau yang mengejutkan di salah satu koran nasional, bahwa penduduk Palestina sebenarnya lebih banyak menganut Yahudi ketimbang Islam dan Kristen (http://forum.kompas.com/nasional/50955-pernyataan-dubes-palestina-yang-mengejutkan.html)

Jadi di Palestina, Pejuang Masjidil Aqsha (Muslim) bersatu dengan Kristen pejuang Betlehem (bukannya berseteru), untuk menghadapi musuh bersama mereka, yakni Zionis Israel.  Bahkan dia sempat mengakui bahwa di kalangan militer Palestina, terdapat sejumlah panglima yang beragama Kristen, di antaranya yang paling terkenal seangkatan dengan Yaser Arafat ialah George Habas.  Seorang juru bicara Palestina di PBB se masa Arafat adalah Hanan Asrawi (perempuan cerdas) juga beragama Kristen.  Bahkan isteri Yaser Arafat, Suha juga seorang Kristen, walau pernah diisukan telah masuk Islam. Dan sekarang setiap ada serang Israel terhadap Muslim Palestina, biasanya mereka lari berlindung di gereja-gereja.  Begitupun sebaliknya, umat Kristiani berlindung di balek masjid-masjid.

Sangat sering terjadi di Indonesia, jika ada demo besar-besaran mendukung Palestina, seolah-olah Islam berhadapan dengan Yahudi dan Kristen, lalu di Indonesia ditafsirkan, Islam berhadapan dengan Kristen.  Padahal di Palestina Muslim-Kristen bersatu, jatuh bangun bersama menghadapi Israel.  Pemimpinn PLO Yaser Arafat yang Muslim itu pun ternyata hidup serumah dan seranjang dengan Suha yang Kristen.

Hiduplah Bangsa Palestina, suatu bangsa yang berjuang untuk merdeka, dan ingin berdamai dengan semua bangsa di dunia, termasuk Israel.  Namun, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memancing agar Palestina berperang terus (tanpa damai) dengan Israel.  Anehnya, HAMAS yang menguasai Gaza, terpancing untuk terus berperang, dan lebih aneh lagi pejuang Palestina di Indonesia lebih senang memihak pada Hamas pimpinan Ismael Haniyah (PM Palestina) yang suka perang itu, ketimbang PLO di Tepi Barat yang memilih jalan damai.  Berkat jalan damai yang dirintis oleh PLO di bawah pimpinan Yaser Arafat dan sekarang Presiden Mahmus Abbas, maka kini Palestia telah diakui sebagai negara anggota peninjau PBB, sederajat dengan Vatikan, walaupun belum menjadi negara merdeka.  PLO menerima konsep dua negara (Palestina dan Israel) yang hidup damai, sedang Hamas hanya mau satu negara (Palestina), tanpa Israel.  Isreal menurut Hamas harus dimusnahkan; inilah sumber konflik yang tiada akhirnya dan tidak menguntungkan dua belah pihak.  Wallahu A’lam bi al-shawab.

George Habash, salah seorang Panglima Perang Palestina dari kalangan Kristen, duduk berdampingan dengan Yasser Arafat.  Bukti bhw Perjuangan Palestina adalah Perjuangan Kebangsaan

George Habash, salah seorang Panglima Perang Palestina dari kalangan Kristen, duduk berdampingan dengan Yasser Arafat. Bukti bhw Perjuangan Palestina adalah Perjuangan Kebangsaan

HALAL MEMILIH NON MUSLIM JADI (WAKIL) PEMIMPIN

                     

HALAL MEMILIH NON MUSLIM JADI (WAKIL) PEMIMPIN

بسم الله الرحمن الرحيم

1.     Al-Qur’an tidak mengharamkan memilih non Muslim  jadi Pemimpin (wakil) yang berdampingan dengan Pemimpin Muslim.

2.     Yang Haram, hanya jika Pemimpin (wakil) non Muslim itu tdk didampingi Pemimpin Muslim, karena dipandang mengabaikan orang2 Mukmin.  Itulah maksud ayat Ala `Imran:28=

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ ﴿٢٨﴾

Janganlah orang2 mu’min mengambil orang2 kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”

3.     Sepanjang Pemimpin (wakil) Non Muslim itu berdampingan /berpasangan dengan Pemimpin Muslim, mereka tidak termasuk dalam kategori  ”meninggalkan orang Mu’min”,  sehingga hukumnya TIDAK HARAM.

4.     Demikian Juga maksud ayat Al-Nisa: 138-139, dan 144 serta ayat2 lain yang mengandung kalimat مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ,min duni al-Mu’minin, TIDAK HARAM jika Permimpin (wakil) non Muslim itu berdampingan dengan Pemimpin Muslim.

5.     Al-Qur’an memerintahkan kita berbuat adil terhadap siapa saja, termasuk Pemimpin Non Muslim yang berdampingan dengan Pemimpin Muslim.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾

Al-Mumtahanah: 8: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

6.     Allah melarang kita berbuat tidak adil akibat kebencian terhadap suatu kaum:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿٨

Al-Maidah: 8: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

                                                                                        

KELUHURAN AGAMA UNTUK KEDAMAIAN BERBANGSA

Oleh: Hamka Haq[*]

I.                   Revitalisasi Rasa Kebangsaan

Tak ada kekuatan yang dapat membangun rasa persaudaraan ini, kecuali atas kesadaran nasional, sebagai sesama bangsa Indonesia.  Rasa eksklusifisme primordialis suku, agama, aliran dan golongan harus tunduk di bawah payung kedamaian sebangsa, tanpa mengingkari realitas bangsa sendiri yang multi etnis dan multi agama, bahkan multi aliran. 

            Kesadaran berbangsa itulah yang menjadi inti ideologi negara, Pancasila, yang diawali dengan sila Ketuhanan, dan diakhiri dengan sila Keadilan Sosial, yang berarti bahwa Pancasila menghendaki pangamalan nilai agama yang toleran, menuju keadilan dan kesejahteraan bangsa.    Hal ini mustahil dicapai jika setiap umat beragama bersikap egois, untuk kepentingan golongannya yang eksklusif.  Umat beragama justru harus bersikap inklusif, dengan mengutamakan nilai universal yang toleran terhadap semua agama dan aliran.  Dengan demikian, Indonesia menjadi rumah bersama untuk bangsa yang besar (nation) yang di dalamnya hidup rukun beragam agama, etnis, budaya dan adat istiadat yang beragam pula, sesuai dengan kalimat lambang negara kita:  Bhineka Tunggal Ika.

II.                Aktualisasi Keluhuran antar Iman

            Adalah tanggung jawab kita semua untuk mengamalkan nilai universal agama yang toleran.  Untuk itu,semua umat beragama hendaknya memahami dan menghayati secara benar ajaran luhur agamanya menyangkut manusia dan kemanusiaan.  Karena hanya pada sisi manusia dan kemanusian itulah kita akan membangun kebersamaan dan kesatuan, walaupun pada sisi teologisnya penuh perbedaan.  

Bagi umat Islam misalnya,  contoh yang paling indah ialah sikap Nabi Muhammad SAW, yang lebih mengutamakan kedamaian universal Islami ketimbang simbol tekstual.  Coba renungkan, ketika Nabi melakukan perdamaian dengan kaum Quraisy Mekah pada tahun 628 M (tahun 6 H) di Hudaibiyah.  Hampir saja perdamaian itu gagal, akibat penolakan pihak Quraisy terhadap naskah perdamaian yang diawali Basmalah (Bismillahi Rahmani Rahim).  Tak seorang pun sahabat Nabi yang berani menghapus Basmalah sebagai simbol Islam yang amat sacral itu.   Namun, Nabi memberi solusinya, beliau meminta tulisan Basmalah diganti dengan kalimat yang lebih singkat Bismika Allahumma, sehingga diterima oleh semua pihak.  Sungguh luar biasa, Rasululah SAW benar-benar memberi rahmat kedamaian bagi sesama manusia (rahmatan lil-alamin).   Sebenarnya, sikap seperti inilah yang memotivasi para pendiri negara untuk dihapuskannya tujuh kata: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”, diganti dengan kalimat yang lebih singkat: Ketuhanan Yang Mahaesa, yang juga diterima oleh semua elemen bangsa. 

            Tidak hanya Islam, tapi semua agama tentu saja mengandung ajaran luhur tentang kedamaian dan kerukunan.  Dalam Alkitab umat Kristiani,  Matius 22:39: “Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.  Kemudian dalam Lukas 4: 18-19: “Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan kepada orang-orang buta untuk membebaskan orang tertindas dan untuk memberitakan rahmat Tuhan telah dating”.  Dalam Mazmur: 133:1-3: “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun,  Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”.

            Sementara itu dalam Kitab Suci Agama Hindu, Bhagawadgita, Bab 4 Sloka 11:Sejauh mana semua orang menyerahkan diri kepadaKu Aku menganugerahi mereka sesuai dengan penyerahan dirinya itu.  Semua orang menempuh jalan-Ku dalam segala hal .   Bab 7 Sloka 18: Semua penyembah (umat beragama) tersebut tentu saja roh yang murah hati, tetapi orang yang mantap tentang pengetahuan tentang-Ku,Aku anggap seperti diri-Ku sendiri. Dalam tradisi Budha, [Parasasti Kalinga No. XXII dari Raja Asoka]: “Janganlah kita menghormati agama sendiri dan mencela agama orang lain… Dengan mencela dan merugikan agama orang lain berarti kita juga telah merugikan agama sendiri

            Maka, untuk menghentikan kekerasan sektarianis antarumat beragama di Indonesia, jalan yang terbaik ialah pengamalan nilau universal agama, yang jauh dari egoisme eksklusifistik.  Egoisme beragama sangatlah berbahaya, sebab membuat mereka yang minoritas mengalami tekanan psikologis, bahkan tekanan fisik dalam menjalankan agamanya.  Maka tidak heran, jika pengrusakan dan penyegelan gereja ataupun masjid (milik Ahmadiyah) oleh kelompok tertentu disikapi seolah seperti kafilah berlalu tanpa perlawanan, dan tanpa perlindungan oleh yang berwajib.  Ada semacam kesan pembiaran terhadap tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok yang memperatas-namakan Islam dalam merampas hak-hak asasi umat agama lain, merusak rumah ibadah dan sekolah mereka.  Padahal tak satupun agama yang mengajarkan umat manusia untuk saling berbuat aniaya.  Demikian juga UUD Negara Republik Indonesia 1945, pasal 29 ayat 2 (dua)  menyatakan: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”

III.             Tingkatkan Peran Inklusifis Lembaga Keagamaan  

            Untuk kerukunan antarumat beragama ke depan, semua ormas dan lembaga keagamaan bertanggung jawab moril menegakkan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Kini, andil yang terpenting dari lembaga-lembaga keagamaan ialah mendorong umatnya masing-masing untuk menegakkan risalah agamanya yang rahmah dan ramah, yang cinta kasih,  dalam wajah keindonesiaan yang plural.  Itulah cara yang paling indah mencapai ridha Tuhan di bumi Indonesia, yakni mengamalkan universalitas iman untuk perdamaian menuju baldatun thayyibah wa Rabbun Ghafur (negara makmur di bawah ampunan Tuhan). 

Dalam rangka itulah, maka setiap lembaga keagamaan seharusnya berupaya mentransformasi nilai imani yang relevan dengan pluralitas bangsa.  Langkah konkret misalnuya melalui lembaga pendidikan, diajarkan kepada anak didik scara dini tentang perlunya menghargai agama lain, perlunya tolong menolong, saling mengasihi, berteman, dan saling menziarahi.   Kisah tentang kedermawanan, empati kemanusiaan dari tokoh-tokoh agama di zaman lalu, seharusnya lebih diutamakan ketimbang cerita kepahlawanan sang tokoh yang berani membunuh dan menghabisi musuh-musuhnya.  Jika anak didik lebih banyak menyimak keberanian dan permusuhan, maka yang terekam dalam jiwanya ialah mengidolakan tokoh pemberani yang suka bermusuhan.  Boleh jadi, hal ini menjadi penyebab utama tawuran antarpelajar / antarmahasiswa, yang lebih mengerikan jika merambat ke soal SARA.  Sejalan dengan ini, kurikulum pendidikan agama, yang selama ini masih banyak berorientasi pada klaim kebenaran sepihak dan mengkafirkan agama lain, sudah saatnya lebih diarahkan ke perlunya kerjasama, dan bahwa pada setiap agama terdapat nilai kebaikan bagi manusia dan kemanusiaan.

Maka alangkah anehnya jika di zaman kemerdekaan ini, masih ada lembaga (pendidikan / ormas) yang mengajarkan bahkan mempertontonkan kekerasan terhadap lelompok lainnya.  Ke depan, orientasi program pendidikan dan ormas, hendaknya memaknai ajaran agama secara toleran disertai kerja keras (jihad) memakmurkan bangsa, bukan jihad menghanncurkan bangsa.  Sebab, jika orientasinya tidak berubah, tetap bersikap intoleran, egois dan klaim benar sendiri sebagai satu-satunya yang berhak hidup di negara ini, maka jelas generasi bangsa akan melampiaskan semangat kezaliman terhadap bangsa sendiri.  

IV.             Menumbuhkan Multikulturalisme  

Sejak dahulu kala, kultur bangsa kita bercorak komunal dan kolektivist, ditandai dengan rasa kebersamaan di kalangan mereka, seperti terlihat pada sejumlah budaya lokal.  Di Jawa misalnya, dikenal budaya gotong royong yang mempersatukan warga dalam ikatan kebersamaan.  Di Maluku ada budaya Pelagandong  yang bermakna persaudaraan tanpa sekat-sekat agama dan aliran.  Artinya, apapaun agama dan alirannya, warga Maluku tetap bersaudara.  Demikian pula di Tanah Toraja Sulawesi Selatan, ada budaya Tongkonan (tempat pertemuan keluarga), yang bermakna bahwa warga Toraja yang beragam agama dan kepercayaannya adalah bersaudara di bawah atap tongkonan.  Budaya seperti ini ada pada semua etnis bangsa kita, yang seharusnya dilestarikan melalui pendidikan sosio-kultural untuk diangkat menjadi budaya nasional.  

Para pemimpin dan tokoh agama seharusnya menyampaikan ajaran agamanya yang cinta kasih, tat wan asih,  dan rahmatan lil-alamin, untuk semakin memperkokoh kultur persaudaraan kebangsaan itu, dan bukannya berupaya membongkar kultur tersebut kemudian digantikan dengan kultur pengkotak-kotakkan warga bangsa dengan alasan perbedaan agama dan aliran.  

Bagi umat Islam, upaya pengkotakan bangsa atas nama agama dan aliran, adalah bertolak belakang dengan pancaran rahmatan lil-alamin yang diemban Rasulullah SAW, ketika membangun masyarakat madani di Madinah.  Beliau berhasil menegakkan rasa kebersamaan, persaudaraan dan kedamaian antara Muslim, Yahudi dan Kristen.  Maka salah satu aspek syariat Islam ialah bahwa komuitas agama atau aliran lain dapat hidup aman dan dapat beribadah dengan nyaman dalam rumah ibadah mereka tanpa gangguan.  Kesediaan Rasulullah SAW menerima sekitar 60 orang tokoh Kristen Najran di Masjid Nabawi, dan mengizinkan mereka beribadah di dalamnya (Tafsir Al-Qurthubiy Juz IV hal.4), menunjukkan bahwa ibadah agama lain tak boleh terganggu.  Dalam keadaan darurat, umat agama lain diizinkan beribadah dalam masjid, apatah lagi jika mereka beribadah di rumah ibadahnya sendiri.  Mengganggu, menyegel apalagi jika merusak rumah ibadah komunitas agama lain, lembaga pendidikan agama lain, adalah melanggar semangat rahmatan lil-alamin yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

V.                Memperkokoh Peran Pemerintah dan Supremasi Hukum 

Untuk ke depan, Pemerintah dituntut untuk meningkatkan fungsinya sebagai pengawal tegaknya konstitusi.  Tampaknya pemerintah sekarang ini sangat lemah terhadap kelompok tertentu yang melakukan kekerasan sektarianis, sehingga ibadah umat agama lain atau aliran lain tidak terlaksana dengan aman dan nyaman.   Ada kesan bahwa penguasa sekarang sedang melakukan tebar pesona, agar citra mereka di kalangan aliran keras itu tetap terjaga.  Memang, pemerintah tetap memerintahkan aparat hukum dan keamanan untuk bertindak, tapi himbauan itu tidak ditanggapi secara serius, justru yang terjadi ialah pembiaran tindak kekerasan. Pemerintah dan aparatnya tidak tegas bahkan takut berhadapan dengan kelompok perusak sehingga tampak mentolerir tindak kekerasan terhadap kaum lemah, yang tak berdaya membela dirinya.  Sikap pemerintah yang demikian itu, memberi peluang lahirnya polisi swasta dan semakin leluasanya orang-orang yang main hakim sendiri. 

          Untuk ke depan, kita berharap ketegasan pemimpin pemerintahan, dan tegaknya supremasi hukum di Negara kita.  Yaitu pemerintahan yang berani melindungi segenap warganegaranya, sehingga tak ada kelompok yang merasa berhak mengganggu umat dan aliran agama lain; juga tak ada pihak yang merasa berhak menghakimi sewenang-wenang umat agama lain, apalagi membunuh dan merusak ataupun merampas rumah ibadah, wadah pendidikan  dan harta benda mereka, karena hak-hak mereka dilindungi oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.  Pihak yang melakukan penganiayaan terhadap umat agama lain adalah melanggar ajaran luhur agamanya, melanggar konstitusi, dan jika hal itu sengaja dibiarkan oleh pemerintah, maka pemerintah pun telah melanggar Undang-Undang dan konstitusi negara.  Wa ‘Llahu a`lam bi al-shawab.


    *Prof. DR.Hamka Haq, MA, Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Ketua Umum BaitulMuslimin Indonesia.