MEMAKNAI IDUL ADHA DENGAN SPIRIT SUMPAH PEMUDA

MEMAKNAI IDUL ADHA DENGAN SPIRIT SUMPAH PEMUDA

Oleh: Hamka Haq

Idul Adh’ha (Adha) disebut juga sebagai Idul Qurban, kini sedang dirayakan oleh umat Islam. Qurban, selama ini dipahami sebatas ibadah penyembelihan hewan, berasal dari kisah Nabi Ibrahim ketika akan menyembelih puteranya, Ismail, yang menggambarkan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail pada perintah Tuhan.  Jika pemahaman demikian tidak disertai hikmah kemanusiaan yang mendalam, akan mudah disalahpahami dan menjadi doktrin radikal yang memotivasi keberanian seseorang menjadi martir, dalam suatu “jihad” bom bunuh diri.  Tidak mustahil, pemahaman seperti itulah yang mengilhami pelaku bom bunuh diri yang menimbulkan korban dan kerusakan luar biasa di sejumlah negara termasuk Indonesia. Padahal, hikmah ibadah qurban, seperti disimak dari kisah Ibrahim dan Ismail, Tuhan justru menyelamatkan nyawa Ismail dari ritual pengurbanan. Inilah hikmah seseungguhnya Idul Adha, yakni Penyelamatan atau pembebasan manusia dari bahaya yang dihadapi dalam hidupnya.

Menyembelih (membunuh) manusia sebagai “sesembahan” adalah bertentangan dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia itu sendiri.  Karena itu, perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk mengurbankan puteranya Ismail harus dipahami sebagai ujian keimanan belaka, sebab Allah SWT mustahil menghendaki Ismail tewas sebagai “kurban”.  Tuhan tidak mengizinkan adanya tetesan darah manusia di muka bumi, walaupun itu sebagai ibadah, apalagi jika darah manusia tertumpah akibat kezaliman antarsesama, Allah SWT sangat menghargai darah dan kehormatan manusia sebagai makhluk-Nya yang termulia di muka bumi sebagaimana firman-Nya:  (sungguh Kami memuliakan manusia anak cucu Adam ituQ.S.al-Isra [17]: 70)

Bagi bangsa-bangsa yang sekian lama terjajah, dengan semangat pembebasan, mereka bangkit memerdekakan bangsanya dari cenkeraman kolonialis dan imperialisme.  Bangsa Indonesia pun berjuang selama tiga abad untuk bebas dari penjajahan Belanda, dan akhirnya dapat merdeka.  Semangat ini kemudian diabadikan dalam Pembukaan UUD 1945 …… maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemaniusiaan dan peri-keadilan.

Namun, dampak dari politik devide et impera yang diterapkan panjajah, bangsa kita belum terbebas sepenuhnya, masih menaruh dalam batinnya rasa permusuhan antara sesama anak bangsa. Untuk itu diperlukan semangat kemanusiaan baru yakni menerima perbedaan dan keragaman sebagai berkah yang merekat kita sebagai satu bangsa dalam satu tanah air, dan tidak menjadikannya sebagai sumber kebencian yang tiada habisnya.   Dengan semangat persaudaraan kebangsaan, sesuai dengan hikmah kemaslahatan idul Adh’ha, diharapkan tak satu pun elemen bangsa kita yang tertindis dan tertindas oleh bangsanya sendiri.  Sesuai dengan makna Bhinneka Tunggal Ika dan sejalan dengan ajaran semua agama di dunia, kita berharap bangsa kita dapat bebas dari perilaku hewan yang saling memangsa.  Seperti inilah tujuan yang sesungguhnya Sumpah Pemuda tanggl 28 Oktober 1928 (84 tahun yang lalu), yakni kita ditakdirkan sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, dalam Indonesia Raya.

Di atas hikmah “Penyelamatan”  manusia itulah, kita membangun kebersamaan guna mewujudkan kesejahteraan bersama, tanpa ada lagi komunitas etnis atau agama tertentu yang egois mau hidup sendiri dan melakukan penindasdan bahkan pemusnahan etnis (komunitas) lainnya.  Tiada lagi kelompok tertentu yang, atas nama agama melecehkan, mengejar-ngejar, merusak sekolah dan rumah ibadah umat agama lain.  Pokoknya, dengan hikmah “pembebasan” Idul Adha, tiada lagi kelompok tertentu yang bertindak sebagai hakim sendiri, merusak dan mengobrak abrik aset milik umat agama lain, dengan mengatas namakan perintah Tuhan.   Seperti itulah dambaan para pendiri Republik ini, antara lain dalam pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 oleh Bung Karno, yang menegaskan bahwa: “Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhan dengan leluasa.  Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama”……”Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara yang berkeadaban.  Apakah cara yang berkeadaban itu?  Ialah hormat menghomrati satu sama lain.

Pada bulan Juli yang lalu, penulis menyajikan materi Pancasila (Bhinneka Tunggal Ika) pada Round Table Meeting of Global Movement Foundation, di Kualalumpur, atas undangan PM Malaysia Najib Razak.  Kita tentunya berbangga karena Falsafah Pancasila dan kehidupan Bhinneka Tunggal Ika yang dianut bangsa Indonesia, kini mulai dipelajari untuk diamalkan oleh bangsa-bangsa lain.

Bagi kita umat Islam Indonesia, kita harus menegakkan risalah Islam yang rahmatan lil-alamin, untuk masyarakat dunia yang damai, khususnya di negeri kita sendiri.  Itulah cara yang paling indah mencapai ridha Tuhan di Indonesia, sebagai pengamalan syariat Islam keindonesiaan, menuju Indonesia yang baldatun thayyibah wa Rabbun Ghafur (negara makmur di bawah ampunan Tuhan).  Risalah Islam Rahmah seperti itulah yang dilaksanakan Rasulullah SAW, sampai beliau dapat mewujudkan perdamaian Hudaibiyah dengan bangsa Quraisy, pada tahun 628 M (tahun 6 H).

Namun, kita patut prihatin atas sejumlah peristiwa di negeri kita yang sangat bertentangan dengan risalah Islam Rahmah, dan mengusik kebhinnekaan kita serta menodai ideologi negara Pancasila.  Serentetan konflik antaretnis, antarumat beragama, ditambah lagi dengan kagiatan teroris yang belum dapat dipadamkan secara tuntas.   Antara lain penyebab utamanya ialah kekeliruan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.  Misalnya ajaran “jihad” dipahami di luar konteksnya.   Di zaman penjajahan, memang pada tempatnyalah ayat-ayat jihad selalu berkonotasi perang, sebagai pembangkit semangat perlawanan terhadap penjajah.  Tapi untuk zaman kekinian bangsa, orientasi jihad bukan lagi perang.  Kini dan ke depan, jihad hendaknya bermakna perdamaian dan kerja keras memakmurkan bangsa.  Sebab, jika jihad masih saja berorientasi perang seperti zaman penjajahan, maka dikhawatirkan sebagian generasi kita akan melampiaskan semangat perangnya untuk menzalimi bangsanya sendiri.  Boleh jadi, anak-anak muda pelaku pengeboman di Bali yang menewaskan ratusan warga asing, pengeboman hotel, kedutaan besar negara sahabat dan pembakaran gereja  yang masih saja ber;angsung hingga hari kini adalah terinspirasi oleh jihad yang berkonotasi perang.   Pada hal Jihad, dalam bahasa Arab bermakna kerja keras, seharusnya dikembalikan ke maknanya yang asli itu, yakni: kerja, kerja, dan bekerja keras untuk kesejahteraan bangsa; bukan perang untuk kesengsaraan.

Dengan kata lain, untuk menjadi bangsa yang bermartabat di tengah pergaulan dunia, generasi kita harus berjihad (berusaha keras) menguasai ilmu (sains dan teknologi) dan etos kerja (pengabdian tinggi). Kerja keras ditunjang dengan akhlak mulia merupakan jatidiri generasi muda yang kita dambakan.  Untuk ini, ketaatan pada agama dan budaya menjadi penting, guna mencegah terseretnya generasi muda ke pergaulan bebas, yang bernuansa kekerasan (tawuran) seks (pemerkosaan) dan narkoba. Akhir-akhir ini, kita sangat prihatin menykasikan semakin meningkatnya frekwensi perkelahian (tawuran) remaja dan mahasiswa, yang berakibat pembunuhan.  Bayangkan saja, pelaku pembunuhan dalam tawuran siswa di jakarta itu, ketika ditanya tentang perasaannya usai tawuran, spontan saja menjawab: “merasa puas setelah membunuh” (naudzu billah). Sementara mereka yang tidak tawuran asyik menikmati pesta sabu-sabu (narkotik), bahkan seorang hakim Mahkamah Agung, juga ditangkap basah pada pesta sabu-sabu yang sengaja diadakannya.  Sementara itu frekensi pemerkosaan di atas angkutan umum juga meningkat.   Sungguh, generasi muda kita harus selamat dari kerusakan akhlak seperti itu, dan bersiap menjadi pewaris kecerdasan patriotis pelaku “Sumpah Pemuda”.  Keharuman dan masa depan bangsa terletak di pundak kaum pemuda.  Salah satu syair Arab mengatakan: Innama al-Umam al-akhlaq ma baqiyat, fa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu, (Keharuman suatu bangsa tergantung pada akhlaknya, jika akhlaknya telah hancur maka binasa-lah bangsa itu)

KASIH IBU SEPANJANG MASA

Kisah Yang Tertinggal di Hari Ibu

KASIH IBU SEPANJANG MASA

Di suatu kota, hidup lah satu keluarga menengah, terdiri atas ayah ibu, anak-anak dan seorag nenek yg sudah amat tua dan sakit2an.  Sang ibu muda itu amat sayang pada semua anak-anaknya, dan cinta pada suaminya.  Dia rela  berkorban demi cinta pada anak2 dan suaminya itu. Tapi terhadap si nenek tua yang adalah ibu kandungnya sendiri yg sudah sakit2an, ia merasa terbebani dengan sejumlah persoalan, mulai dari keharusan mengurusnya, memandikannya, membersihkan tempat tidurnya, melayani makanannya, sampai pada urussan obat-obatannya.  Dari hari ke hari, beban itu semakn berat, sampai suatu hari, terbetik dalam hatinya untuk menitipkannya di panti jompo.

Ia pun memberanikan diri mengajak si nenek itu, yang adalah ibu kandungnya sendiri, dg nada agak memaksa agar mau dititip di Panti Jompo.  Mulanya si nenek menolak keras, sebab ia tahu di panti jompo itu, hanya ada nenek-nekek dan kakek-kakek tua.  Tidak ada anak-anak lagi seperti cucunya di rumah.  Ia membayangkan, kalau ia hidup di Panti Jompo, tak akan ada lagi cucu yang sering merengek-rengek, sering memeluk dari belakang dan bercanda, sering main-main dengannya.  Tapi karena sudah berkali-kali dibujuk oleh ibu muda, yang adalah puterinya sendiri, maka ia pun merasa kasihan sama puterinya.   Walau hatinya meronta, tapi si nenek sabar dan menerima rela di “buang” di Panti Jompo.  Dengan suara terputus-putus, si nenek itu bilang sama puterinya: aku rela hidup di Panti Jompo demi kebahagiaan keluargamu nak, agar kamu bisa menikmati lebih banyak waktu bersama suami dan anak-anakmu nanti setelah aku tiada lagi di rumah ini.

Maka pada hari yg ditentukannya, sang ibu muda itu bersiap-siap mengantar ibu kandungnya ke panti jompo. Diambilnya sebuah kopor tua di balik lemari, kemudian disinya dengan pakaian-pakaian ibunya itu.  Sang nenek hanya termenung melihat perilaku puterinya, dan sesekali menyungging senyum, seolah tidak ada keberatan.  Setelah selesai berkemas, ia pun menuntutn ibunya masuk mobil, didudukkannya di jok tengah.   Segera sesudah itu si ibu muda menyetir mobil sendiri  mengantar ibu kandungnya menuju ke Panti Jompo.  Di tengah jalan tiba-tiba teringat beli mangga pesanan anaknya, maka mampirlah ia di toko buah segar, dibelinya satu kg mangga. Ibunya pun bertanya utk apa kau beli mangga, aku kan  sdh tdk bisa ngupas mangga lagi.  Jawab Ibu itu:  Oh ini bukan utk kau Mak, tapi utk anak2 ku di rumah.  Si Nenek itu pun berceritera mengenang waktu mudanya.  Dia bilang, dulu waktu kau masih kecil, aku bersama ayahmu punya kebun mangga, cukup luas, diselingi pohon kelapa.  Setiap pulang dari kebun mangga selalu saja aku bawa oleh-oleh mangga untuk kamu.  Tapi setelah ayahmu meningal waktu kau masih duduk di SD, aku terpaksa sendirian memeliharamu dan membiayai hidup kita.  Maka kebun itu sedikit-demi sedikit dijual, akhirnya habis, semua untuk biaya hidup kita berdua dan ongkos sekolah dan kuliahmu nak.  Tapi aku bahagia, aku sempat melihat mu jadi sarjana dan bekerja di perusahaan, apalagi sudah punya rumah dan mobil sendiri, dan kamu berbahagia dengan suami dan anak-anakmu sekarang. Maha besar Allah, telah mengabulkan doaku, agar aku sempat melihat puteriku bahagia sebelum ajal menjemputku.

Seolah angin lalu saja, ibu muda itu tidak menghiraukan “dongeng” ibunya sendiri.  Ia malah menambah kecepatan mobilnya, sampai pada suatu perempatan, ia berhenti di bawah lampu merah,  Lepas dari lampu merah, tiba-tiba ia melihat seorang kakek sedang berjalan tertatih-tatih, dengan dua bakul berisi jamu jualan di pundaknya.  Ia pun meminggir mendekati kakek penjual jambu itu.  Sang nenek pun langsung bercertera lagi, mengenang suaminya;  katanya: seandainya ayahmu masih hidup nak, mungkin seumur dengan kakek penjual jambu itu.  Dulu aku sering berdua dengan ayahmu ke hutan, ambil kayu bakar sambil memetik jambu-jambu hutan seperti itu.  Aku sendiri yang menggendong jambu itu pulang.  Aku rela tdk memakannya, sebab aku ingin kau (anakku) hatimu senang makan jambu keesukaanmu.  Lagi-lagi, seolah tak hiraukan omongan ibu kandungnya, diambilnya sepuluh biji jambu yang dibelinya dari kakek itu, ia kemudian lanjut nyetir mobilnya sampai menghampiri Panti Jompo yg ia tuju.

Sebenarnya hatinya sudah mulai ragu meneruskan niatnya untuk “membuang” ibunya, setelah mendengar betapa tngginya rasa kasih ibu kandungnya itu pada dirinya, yang tidak mungkin dia balas.  Tapi ia pun mencoba tegar  pada pendiriannya untuk menyingkirkan si nenek tua yang membuat susah rumah tangganya selama ini.  Pokoknya, ia ingin merasakan kebahagiaan maksimal, tanpa terganggu oleh beban Sang Nenek tua itu.

Maka Ia pun nyetir terus, tapi karena hatinya sudah mulai goyah dan ragu meneruskan niat “menyingkirkan” ibunya, terkadang pijakan pedal gasnya tidak terarah lagi.  Akhirnya ia berhenti pas depan sebuah Alfamart samping Panti Jompo itu.   Tiba-tiba teringat akan pesan anaknya untuk tidak lupa beli semprot nyamuk baygon.  Si ibu muda bergegas masuk Alfamart lalu kembali menenteng kantong plastik berisikan semprot baygon.  Si nenek tua, ibunya itu pun bertanya, apa di Panti Jompo itu banyak nyamuk nak?  Oh, semprot ini utk di rumah, agar anak-anakku dapat tidur enak, tidur nyenyak dan pulas, bebas dari gangguan nyamuk, jawab sang ibu muda itu.   Lalu si nenek pun bergumam, heeem, sungguh memang semua ibu mencitai anaknya.  Waktu kau masih bayi, belum ada semprot baygon di kampung kita. Ketika itu aku pun ibumu sering tdk tidur se malaman hanya utk menjagamu dan mengusir nyamuk yg ingin mengganggumu, agar kamu tidur nyenyak.  Kalimat terakhir ini betul-betul menusuk hati nurani sang ibu muda itu, dan ia pun sadar bahwa org yg ia ingin “buang” di Panti Jompo adalah IBU KANDUNG nya yg melahirkann dengan penuh derita, memeliharanya,membesarkannya dengan penuh sayang, walaupun kesusahan.  Kebun dan segenap harta ibunya di kampung habis terjual untuk ongkos sekolahnya sendiri.

Setelah termenung sejenak dalam suasana hening, hatinya pun jadi luluh. Tanpa ia rasa, air mata telah membasahi pipinya, dan tiba-tiba saja  ia kemudian memeluk tubuh kurus ibunya erat-erat, tak tertahankan ia menagis terisak-isak, mencium pipi keriput dan kedua tangan kasar ibu kandungnya.  Maafkan aku IBU ……, spontan sang Nenek Tua itu menjawab, oh kamu tidak bersalah anakku, tetapi karena aku ditakdirkan Tuhan hidup sampai tua begini, maka aku pun masih sempat numpang di rumahmu melihatmu bahagia, walaupun aku tahu aku menyusahkanmu. Hati nurani sang ibu muda semakin  tertusuk, tapi ia kehabisan kata untuk minta maaf dan memuji IBUnya itu.  Semuanya hanya tersalur lewat deraian air mata.  Saat itu ia tidak lagi merasa ragu, tetapi yakin sepenuhnya untuk mengurungkan niat “membuang” ibunya di Panti Jompo itu.   Dalam hatinya terbisik kalimat: “Sungguh durhaka aku, …..”    Sambil mengusap air matanya, Sang Ibu muda itu kemudian mengambil arah balik ke rumahnya, pulang bersama IBU KANDUNG nya, seorang Nenak tua yang cinta kasihnya pada anak tak kunjung habis, sampai di usianya yg renta dan sakit2an.  Begitulah, orang bijak berkata: Kasih bapak sepanjang gala, kasih ibu sepanjang masa. SELAMAT HARI IBU.

MEMBENDUNG TERORISME MELALUI PENDIDIKAN

Oleh: Hamka Haq

Dalam sewindu terakhir, pendidikan Islam di tanah air patut bersedih atas dikaitkannya dengan gerakan terorisme. Mulai dari dakwaan keterlibatan salah seorang pembina dan beberapa santri dari Pesantren Ngruki pada bom Bali, baik yang sudah dieksekusi maupun yang masih dalam prorses hukum di pengadilan, sampai terungkapnya pelaku teroris yang berstatus mahasiswa salah satu UIN (Universitas Islam Negeri), seiring pula dengan terungkapnya gerakan bawah tanah NII (Negara Islam Indonesia) yang juga melalui Pergurruan Tinggi. Apa yang salah di dunia pendidikan kita, sampai timbul paham dan gerakan yang mencederai ajaran luhur Islam yang cinta damai? Mengapa sampai sekarang masih ada pihak yang berupaya untuk mengubah ideologi negara Pancasila yang sudah menjadi kesepakatan pendiri negara sejak tahun 1945, termasuk oleh ulama (tokoh Islam) ketika itu, K.H,. Wahid Hasyim (NU) dan Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah)?.

Jika kita berbicara pendidikan secara umum, satu hal penting yang tak dapat diabaikan karena merupakan sumber kecerdasan dan inspirasi anak didik, ialah kurikulum. Meskipun kurikulum sangat penting dan paling menentukan namun sering diabaikan oleh pelaksana pendidikan itu sendiri. Pada umumnya perbincangan soal pendidikan yang hangat selama ini hanya menyangkut soal sarana dan prasarana karena berkaitan dengan proyek-proyek, soal tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya, soal biaya pendidikan, apakah gratis atau tidak, soal Badan Hukum Pendidikan untuk Perguruan Tinggi, dan yang paling hangat diperdebatkan sampai ke tingkat parlemen ialah soal Ujian Akhir Nasional. Amat jarang pihak pemerintah dan pihak terkait membahas soal kurikulum pendidikan, yang justru menjadi penentu masa depan out put pendidikan itu sendiri. Kurikulumlah menjadi cetak biru intelektual, moralitas dan mentalitas para anak didik yang terlibat di dalamnya. Kurikulum menawarkan sejumah kecerdasan, keterampilan dan pembawaan diri (akhlak dan budi pekerti) bagi para anak didik. Jadi kalau pada akhirnya ada santri dan mahasiswa yang terlibat gerakan teroris, dan gerakan bawah tanah NII, maka salah satu faktor yang perlu dipertanyakan ialah kurikulum pendidikan kita.

Menurut pengamatan penulis, khususnya terhadap pendidikan Islam, sudah saatnya kita mengevaluasi relevansi materi pelajaran tertentu dengan kondisi dan tuntutan zaman kita sekarang. Hal ini karena beberapa materi pelajaran dalam dunia pendidikan Islam terasa sudah tidak relevan lagi, walaupun sudah dianggap baku selama ini. Untuk sementara, kita bisa menyebut saja bahwa materi pelajaran yang sudah saatnya diperbaharui ialah materi pelajaran fikih tentang jihad, dan materi pelajaran Sejarah Islam.

Batasan studi dan definisi yang digunakan pada dua bidang studi tersebut, merupakan warisan dari kurikulum pendidikan Islam yang berlaku sejak zaman kolonial Belanda. Pada zaman kolonial, kurikulum pendidikan memang dirancang untuk mendorong semangat perjuangan mengusir penjajah. Dalam pada itu segenap pendidikan Islam di zaman penjajahan, terutama pesantren adalah saling berhadap-hadapan dengan kepentingan penjajah. Untuk itu muatan pelajaran fikih tentang jihad (kerja keras) diisi dengan pengertian peperangan bersenjata melawan Belanda. Maka jadilan jihad itu bermakna perang, padahal dalam bahasa Arab, jihad berarti kerja keras, sedang perang disebut al-qital. Muatan jihad sebagai perang yang tertuang dalam kurikulum ketika itu sah-sah saja, tidak menyalahi kaedah tafsir, karena memang semua bangsa Indonesia, khususnya umat Islam harus bekerja keras mengusir Belanda dengan jalan perang bersenjata melawan mereka.

Namun di zaman kemerdekaan, apalagi di zaman sekarang yang konteks kerja kerasnya bangsa kita sudah berubah, bukan lagi melawan penjajah dengan kontak fisik, maka sudah tidak relevan lagi jika memaknai jihad dengan perang bersenjata. Persoalan yang dihadapi bangsa kita sekarang ialah bagaimana mengatasi sisa-sisa penjajahan yang masih mendera kehidupan masyarakat, yakni kebodohan, kemiskinan, kemelaratan, dan mudahnya dihasut untuk suatu konflik sosial (devide et impera). Untuk itu, sudah saatnyalah anak didik mulai dari Taman Kanak-Kanan (TK) sampai Perguruan Tinggi, diberi pemahaman bahwa jihad yang dibutuhkan bangsa kita ialah belajar keras menguasai ilmu dan teknologi untuk memerangi kebodohan; berusaha untuk mengolah hasil bumi dan tambang kita sendiri untuk kesejahteraan masyarakat guna memerangi kemiskinan; mewujudkan kebiasaan hidup yang sehat jasmani dan rohani, sehat lingkungan adalah jihad untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa agar tidak melarat dan sakit-sakitan. Tak kalah pentingnya, berjuang melawan egoisme kelompok, adalah jihad untuk memersatukan bangsa yang plural, agar semua etnis dan agama menjadi perekat persaudaraan kebangsaan. Penulis yakin makna jihad (kerja keras) seperti inilah yang relevan dengan konteks kekinian bangsa dan negara kita, ketimbang jihad yang selalu meminjam arti perang bersenjata dalam permusuhan fisik.

Jihad sebagai suatu ajaran luhur agama Islam, jika selalu diartikan dalam konteks perang, akan menanamkan paham bahwa perang bersenjata merupakan ajaran luhur yang mutlak diamalkan guna memperoleh ridha dari Allah SWT. Paham seperti inilah dengan mudah berubah menjadi tindakan kezaliman atau bom bunuh diri melawan setiap yang berbeda dengan paham agama yang dianutnya. Paham ini sesungguhnya telah menjadi dasar teologis para kaum terorisme itu.

Materi pelajaran lain yang harus dievaluasi pula ialah studi sejarah Islam. Di masa penjajahan, kurikulum sejarah Islam lebih menonjolkan kepahlawanan para sahabat Nabi dan khalifah, begitupun keberanian berekspansi menaklukkan wilayah ke luar jazirah Arab. Maka jadilah studi sejarah itu menjadi kisah peperangan yang heroik, yang sengaja dirancang untuk membangkitkan semangat kepahlawanan anak didik melawan Belanda. Hingga sekarang, kurikulum seperti ini, masih digunakan di semua jenjang pendidikan Islam. Maka, jika di satu sisi fikih mengajarkan perlunya berjihad dalam arti berperang, kemudian disambut oleh sejarah Islam dengan kisah-kisah kepahlawanan para sahabat dan khalifah Islam di masa lalu, maka semakin mengkristallah mental mujahid berani mati, mental herois yang siap perang setiap saat di kalangan anak didik kita. Karena hasrat perang mereka tidak tersalurkan seperti di era penjajahan, maka akhirnya mereka menyalurkannya ke dalam bentuk teror yang salah satu wujudnya ialah bom bunuh diri.

Karena itulah studi sejarah pun haruslah devaluasi. Studi sejarah yang tadinya menonjolkan kepahlawanan sahabat Nabi dan para khalifah serta hasrat berekspansi menaklukkan umat lain, sebaiknya kini lebih mengutamakan etika. Studi Sejarah seharusnya lebih banyak mengandung kisah kelembutan dan toleran dari Nabi SAW, ketegasan Khalifah Umar RA dalam memimpin, kedermawanan seperti yang dicontohkan oleh Abu Bakar RA dan Utsman RA, kemudian diteruskan oleh generas sesudahnya. Demikian pula kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah, yang rela memikul sendiri gandum yang akan dibagikan kepada orang-orang miskin di pedesaan. Begitupun misalnya kecintaan Ali RA pada ilmu pengetahuan, atau seperti yang dilakukan oleh Khalifah Al-Makmun dari Dinasti Abasiyah yang mengumpulkan berbagai ragam buku pengetahuan dari Yunani, Romawi, Persia dan India untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Bahkan lebih menarik lagi kisah legendaris Sultan Salahuddin al-Ayubi, lebih dikenal dengan Sultan Saladin, yang tidak menzalimi lawan-lawannya; dengan sikap toleran dan rasa kemanusiaan, ia pernah mengirim dokter dan obat-obatan kepada panglima perang yang memusuhinya.

Penulis yakin, kajian sejarah Islam yang lebih menitik beratkan etika, kecintaan pada ilmu pengetahuan, ketegasan memimpin, kedermawanan, rasa pengabdian kepada rakyat serta rasa kemanusiaan yang begitu tinggi, seperti contoh-contoh tersebut di atas, adalah jauh lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara kita sekarang ini, ketimbang kajian sejarah yang menitik beratkan kepahlawanan dan peperangan. Apalagi jika semua hal kebajikan tersebut dijadikan sebagai bahagian dari kerja keras kita untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa kita. Kerja keras inilah yang sebenarnya arti sejati dari jihad dalam bahasa Arab, ketimbang mengartikan jihad menjadi perang bersenjata. Diharapkan dengan pembaharuan kurikulum ke arah yang lebih humanis, ajaran Islam rahmatan il-alamain dapat terbumikan di negeri kita, tidak sebatas wacana para ilmuwan dan khotib di mimbar-mimbar ilmiyah dan pengajian. Semoga! Wa ‘Llahu a’lam bi ‘l-shawab. 

PENDIDIKAN PEREMPUAN MENURUT ISLAM

 

R. A. Kartini Pelopor Emansipasi Kaum Wanita Indonesia

PENDIDIKAN PEREMPUAN MENURUT ISLAM 

              Menyangkut pendidikan, syariat Islam pun menekankan kesetaraan laki-laki-perempuan dalam hadits Nabi: “Thalab al-`ilm faridat `ala kulli muslim” (mencari ilmu pengetahuan adalah wajib hukumnya atas setiap Muslim) tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan.  Hadits ini dikutip oleh Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Abu Abdillah al-Qurthubiy dalam Tafsir Al-Qurthubiy, (Qahirah: Dar al-Sya`b, 1372 H), Juz VIII, h. 295.

Perintah menuntut ilmu dalam hadits tersebut bersifat umum, sebagaimana halnya perintah bershalat, membayar zakat dan berpuasa.  Perlu diketahui bahwa metode penyampaian perintah ataupun larangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, baik menyangkut akidah, ibadah maupun muamalah, pada prinsipnya tidak memisahkan antara laki-laki (mudzakkar-masculine) dan perempuan (mu’annats–feminine).  Karena itu, walaupun umumnya obyek perintah syariat disebut dengan hanya memakai kalimat laki-laki (maskulin), tapi pengertiannya mencakup pula kaum perempuan (feminin) tanpa perlu dipisah dan dibedakan.  Kedua jenis justru menyatu dalam satu paket kalimat, karena sejatinya mereka adalah sama dalam hak, kewajiban, derajat dan martabat. 

Jadi, hadits ini jelas menekankan kewajiban menuntut ilmu atas kaum Muslimin tanpa kecuali, termasuk kaum perempuan,. Walaupun tidak menggunakan kalimat muannats (feminin).  Karena itu, perempuan mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dalam arti luas.  Biasanya ayat-ayat Al-Qur’an atau Sunnah, nanti menyebut kalimat yang berindikasi muannats (feminin) apabila ayat-ayat itu memang berbicara secara khusus menyangkut persoalan kaum perempuan sendiri, minus laki-laki.  Tetapi, selama ayat atau hadits memakai kalimat mudzakkar (maskulin) maka harus dipahami secara umum (mencakup wanita), seperti hadits pendidikan di atas.

Di zaman Nabi dan Sahabat, sejumlah perempuan memiliki kecerdasan dan keahlian tertentu, khususnya keluarga Nabi SAW.   Sebut misalnya Kahdijah R.A. isteri pertama Rasululllah SAW, yang memiliki kecerdasan di bidang bisnis, sampai beliau menjadi pemimpin perusahaan dagang di zaman itu.  Nabi sendiri bahkan pernah bergabung dalam managemen perusahaan di bawah pimpinan Khadijah RA, sebelum mengawini perempuan cerdas tersebut. Dalam buku Sirah Ibn Hisyam disebutkan bahwa Khadijah menjadi cerdas memimpin perusahaan dagangnya tak lepas dari dua hal yakni:  (dzat syarfin wa malin) memiliki keunggulan SDM (martabat / kecerdasan) dan kekuatan ekonomi.  Dengan begitu, Khadijah RA menjadi pemimpin karena memenuhi dua syarat utama seperti yang disebut dalam Q.S.al-Nisa (4): 34. 

Demikian pula Aisyah RA isteri Nabi, banyak membantu penyebaran ajaran Islam, karena keluasan ilmu dan kecerdasannya.  Bahkan sepeninggal Nabi, Aisyah menjadi guru besar, yang banyak fukaha (ahi fikih Islam) dari kalangan sahabat berguru padanya dan menerima haditsnya.

Maka, adalah keliru sekali, pendapat yang menyatakan bahwa akal kaum perempuan itu lemah, sehingga tidak dapat menyamai laki-laki dalam soal kecerdasan.  Kalau saja pendapat ini benar, maka dampak negatifnya luar biasa terhadap keabsahan sejumlah besar hadits yang diriwayatkan oleh isteri Nabi SAW. Sekian banyak hadits yang menjadi pegangan kaum Sunni akan mengalami dekonstruksi besar-besaran, karena semua hadits dari Aisyah begitupun Khadijah terpaksa diragukan validitasnya, dengan alasan bahwa daya intelektualitas perempuan itu lemah.  Sesungguhnya, pandangan yang meremehkan intelektualitas perempuan seperti itu tidak berlandaskan pada dalil yang kuat, baik pada sains dan teknologi maupun pada ajaran agama.  Dalam tradisi keagamaan, terbukti Khadijah dan Aisyah RA sendiri punya kecerdasan dan menjadi salah satu sumber utama sunnah Rasulullah SAW bagi kaum Sunni.

Kenyataan juga membuktikan bahwa dewasa ini, di sejumlah negeri Islam, kaum perempuan memperoleh peluang untuk menuntut ilmu pengetahuan, sampai Arab Saudi pun yang dikenal sebagai negeri Islam aliran tekstualis yang paling ketat atas perempuan, ternyata kaum perempuannya juga telah menjadi teknokrat-teknokrat.  Tentu saja di negeri Muslim yang lebih moderat lagi seperti Mesir, Libanon, Suriah, Irak dan Iran, lebih-lebih lagi di Pakistan, Indonesia dan Malaysia, kemajuan kaum perempuan di bidang ilmu pengetahuan tak dipertanyakan lagi.  Semua ini terjadi karena syariat Islam yang dianutnya memberi peluang bagi pemberdayaan dirinya di bidang ilmu pengetahuan.  Wallahu a’lam bi ‘l-shawab

 

  

 

Salah Seorang Perempuan Rektor di Saudi Arabiyah

 

PENDIDIKAN TANPA DIKOTOMI KEILMUAN

Ibnu Rusyd, Ulama Fiqh, Filosof dan Sarjana Sains di Zamannya

@Diaambil dari Buku: Islam Rahmah Untuk Bangsa (Jakarta: Rakyat Merdeka Books, 2009), karya Prof.Dr.Hamka Haq, MA.

Secara jujur kita harus mengatakan bahwa peradaban Islam dibangun dari peninggalan kebudayaan sebelumnya, seperti sisa pemikiran Helenistik Yunani yang dibawa oleh Alexander Yang Agung ke Mesir, Siria dan Mesopotamia. Islam kemudian berkenalan pula dengan pemikiran Yunani lewat upaya penerjemahan yang digalakkan sejak pemerintahan Al-Makmun dari dinasti Abasiyah.  Karya-Karya filsafat Aristoteles, Plato, karangan-karangan mengenai filsafat Neo Platonisme, kedokteran dan berbagai ilmu pengetahuan lain dari Yunani, Persia, India dan bahkan Cina menjadi referensi bagi ilmuan Islam.

Kita pun harus berani berkesimpulan bahwa peradaban Islam tidak lahir dengan hanya semata-mata merujuk pada Al-Qur’an tekstual.  Sebab, sebagai kitab suci, Al-Qur’an bukanlah kamus segala hal.  Karena itu, teks Al-Qur’an tidaklah memuat secara lengkap petunjuk praktis bagi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan  manusia.  Namun, dengan semangat yang luar biasa dari Al-Qur’an, umat Islam di zaman klasik terdorong untuk mengembang ilmu pengetahuan.  Serangkaian upaya penerjemahan kitab-kitab Yunani dilakukan berbarengan pula dengan kontak langsung dengan Kerjaan Romawi sehingga lebih memungkinkan cendekiawan Muslim ketika itu mengenal secara dekat naskah-naskah ilmu pengetahuan Yunani, Persia, India dan mungkin pula Cina.

Hal di atas menunjukkan bahwa sebenarnya Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, justru kedua jenis ilmu itu berpadu dalam semangat Al-Qur’an.  Universitas-universitas Islam pada zaman klasik, mengajarkan studi agama dan studi umum dalam satu paket, yang diikuti oleh mahasiswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing.  Pada zaman itulah lahir sederertan nama ulama ahli agama sekaligus filosof ataupun ahli sains dan teknologi.  Nama-nama seperti Ibn Rusyd dan Al-Ghazali (fikih dan filsafat), Ibn Sina (kedokteran dan psikologi), Al-Kindy, Ibn Meskawaih, Al-Khwarizmy (pencipta rumus logaritma), Al-Razy (filsafat dan kedokteran), Ibn Khaldun (filsafat sejarah dan sosiologi), Al-Biruni, Al-Jibra (matematika) dan lain-lain sudah tidak asing lagi. 

Ibnu Rusyd (1126-98) adalah seorang faqih (fakih) yang menulis buku Bidayatul Mujtahid, justru dikenal sebagai filosof, bahkan mendapat julukan sebagai komentator Aristoteles.  Beliau juga menulis sejumlah buku kedokteran, astronomi dan tata bahasa. Beliau semakin populer karena bukunya yang berjudul Tahafut al-Tahafut (Kesesatan Sang Penyesat) sebagai jawaban terhadap buku Tahafut al-Falasifah (Kesesatan para Filosof) karya Al-Ghazali.[1]  Sementara, sang filosof Al-Ghazali sendiri juga dikenal dengan karya-karyanya dibidang teologi Islam, tasawuf, filsafat hukum Islam dan hukum tata negara.  Masih banyak lagi ulama ketika itu yang memproleh keahlian dalam stuadi ilmu agama tanpa memisahkannya dari studi ilmu umum.  Semua itu terjadi dalam zaman keemasan peradaban Islam di Baghdad dan di Andalusia (Spanyol Islam) dahulu.

Kini, setelah  lebih 7 abad umat Islam tidak lagi menjadi pelopor peradaban dunia, hasrat dan semangat mereka untuk bangkit kembali semakin membara.  Semangat kebangkitan menggelora di segenap penjuru negeri-negeri Muslim terutama setelah masuknya abad XV Hijriyah seiring dengan abad XX M.  Tetapi yakinlah, haqqul yaqin, kebangkitan itu mustahil akan pernah diraih tanpa menguasai sains dan teknologi.  Masalah pertama yang menghadang ialah bagaimana sikap umat Islam menempatkan semangat iman dalam dunia sains dan teknologi sebagai landasan peradaban dunia dewasa ini?  Satu-satunya jalan ialah memandang sains dan teknologi yang sedang berkembang di Barat sebagai bahagian dari kewajiban syariah yang harus diraih tanpa melepaskan semangat religius sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) menjadi religius-imani.

Sisi keimanan yang tak terpisahkan dari sains dan teknologi sebenarnya telah diharmoniskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana dipahami dari sejumlah kata kuncinya sendiri.  Untuk manusia, Al-Qur’an memakai kalimat khalifah yang berarti penerus nilai Ilahiyah bagi peradaban di muka bumi.  Untuk penguasaan ilmu, yang menjadi pilar peradaban, Al-Qur’an memberikan instruksi iqra’ (bacalah) dalam ayat yang berbunyi:  iqra’ bismi rabbik; dan untuk mengelola alam semesta, sebagai natural resource, Al-Qur’an menyatakan perlunya eksplorasi alam (taskhir) seperti terdapat dalam ayat: alam tara ann Allah sakhkhara lakum ma fi al-samawati wa ma fi al-ardh.  Selain dari tiga kata kunci: khalifah, iqra’ dan tasykhir, masih terdapat lagi sejumlah istilah dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia sebagai pembangun peradaban dunia.

Dengan semangat “Iqra bismi Rabbik” (bacalah dengan nama Tuhan-mu), seharusnya umat Islam dewasa ini memiliki keberanian menyerap produk peradaban dari Barat untuk diberi napas keimanan.  Tanggung jawab umat beragama di abad sekarang ialah meng-imaniah-kan peradaban dunia pada setiap aspeknya agar terhindar dari proses sekulerisasi.  Maka, kalau ada istilah islamisasi IPTEK, adalah lebih tepat jika diartikan sebagai penerapan nilai imani dalam pendayagunaan IPTEK, bukan mencari IPTEK yang khas Islam dengan istilah-istilah kearaban.  Semangat semacam inilah yang dulu dikembangkan oleh ilmuan Muslim di zaman klasik ketika meng-imaniah-kan pemikiran Yunani yang tadinya sekuler dalam aspek filsafat.

Adalah hal yang patut dikagumi bahwa cendekiawan Muslim di zaman klasik telah menerapkan prinsip universalitas dan globalitas.  Tidak hanya sekadar menghindari dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, tetapi telah menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk keluar dari penjara eksklusifitas Islam, lalu menerima produk “asing” berupa ilmu dan teknologi, sampai mereka menembus pula batas-batas etnis, gegografi, budaya dan agama.  Jika di zaman sekarang, umat Islam merasa canggung dan bersikap reaksioner terhadap segala produk asing, maka hal itu merupakan penyelewengan terhadap semangat imaniah para pemikir Muslim di zaman klasik tadi.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa menjelajahi sains dan teknologi, seperti yang pernah ditempuh ilmuwan Muslim dahulu, maka Al-Qur’an menjadi kitab suci yang diberhalakan, bagaikan bahasa mati yang tidak bermanfaat apa-apa; ayat-ayatnya hanya tinggal sebagai teks usang yang kaku dan tak mampu berbicara mengenai solusi kehidupan kekinian bangsa.  Kandungan Al-Qur’an hanya dapat diaplikasikan dalam kehidupan keseharian jika tafsir Al-Qur’an itu sendiri didukung dengan sejumlah informasi akurat obyektif dari sains dan teknologi.  Dengan kata lain, tafsir Al-Qur’an sebagai sumber keilmuan agama, harus memandang sains dan teknologi sebagai media penyampaian pesan-pesan kebenaran Ilahiyah kepada umat manusia.

Tanpa harmonitas antara tafsir dan teknologi, maka pendidikan Al-Qur’an, atau pendidikan agama, atau apapun namanya, mungkin saja melahirkan ribuan ulama ahli agama, minus keahlian di bidang sains dan teknologi.  Karena itu dibutuhkan jembatan penghubung yang mengintegrasikan Iptek ke dalam ilmu agama, sehingga tak aka dikotomi yang ekstrim antara tafsir dan Iptek.  Wa ‘Llahu a’lam bi al-shawab.


[1]“Averroes,” dalam Microsoft® Encarta 96 Encyclopedia. © 1993-1995 Microsoft Corporation.