ASAL-USUL TAHUN BARU KRISTEN DAN ISLAM

Adakah Tahun Baru Kristen dan Islam?

Oleh: Hamka Haq

Umat manusia pada umumnya mengenal dua macam sistem penanggalan (kalender), yakni kalender syamsiah (solar system) dan kalender qamariyah (lunar system).  Tahun syamsiyah dikenal sebagai Tahun Romawi, karena dipakai dan dipopulerkan beribu tahun oleh bangsa Romawi, dengan segala bentuk perubahan dan inovasinya, kemudian disebut sebagai Kalender Julian (Julian Calender), sejak Julius Caesar mengukuhkannya sebagai kalender resmi kekaisaran Romawi pada tahun 45 SM, dengan menetapkan bulan Januari sebagai awal tahun baru.  Kalender Julian ini berlaku pula sekian lama secara umum di Eropa dan Afrika Utara sejak zaman Imperium Romawi hingga abad XVI M.

Nanti pada abad XVI, tepatnya tahun 1582 kalender Julian dimodifikasi untuk ditetapkan sebagai kalender resmi di kalangan Kristen oleh Paus Gregory XIII, yang karenanya disebut pula Kalender Gregorian.  Awalnya diberlakukan secara umum oleh kaum Katholik di Italia, Spanyol, Portugal,  dan menyusul pula kemudian kaum Protestan.  Sesudah itu, berlaku pula di Inggeris dan segenap wilayah koloninya, termasuk Amerika, sejak tahun 1752.  Namun, Gereja Ortodoks di Palestina, Mesir, Rusia, Makedonia, Serbia, Georgia, Ukraina dan sebahagian Yunani, masih tetap memakai kalender Julian secara penuh, sehingga sampai sekarang hari lahir Yesus Kristus, tanggal 25 Desember (berdasarkan kalender Julian), adalah bertepatan dengan tanggal 7 Januari kalender Gregorian.

Tanggal 1 Januari sebagai awal tahun, ditetapkan oleh bangsa Romawi sejak tahun 153 SM (Sebelum Masehi), yang diikuti kemudian oleh Julius Caesar.  Ketika Paus Gregory XIII mengadopsi kalender Julian menjadi kalender Kristen, maka ia pun tetap menjadikan 1 Januari sebagai awal tahun baru.  Sebahagian kaum Kristen sebenarnya keberatan menjadikan tanggal 1 Janurai sebagai awal tahun, dan ingin menggantinya dengan tanggal 25 Desember.  Bahkan pada mulanya tradisi Gereja Bizantine dan sejumlah aliran ortodoks memakai kalender peribadatan liturgi (liturgical Year)yang menetapkan tanggal 1 September sebagai awal tahun baru.

Jadi, jelas bahwa kelender Syamsiyah (Masihi) yang digunakan oleh kaum Kristen sekarang bukanlah kalender yang murni dari agama Kristiani, melainkan lahir dari peradaban Romawi.  Karena itu, komunitas manusia di negeri mana pun dan apapun agamanya, termasuk umat Islam dapat merayakan tahun baru 1 Januari dan memakai kalender tersebut tanpa menghubugkannya dengan agama Kristen.  Syariat Islam menghalalkan untuk menerapkannya dalam kepentingan kehidupan Muslim global.  Dan halal pula merayakan 1 Januari sebagai tahun baru bersama warisan dari bangsa Romawi, bukan Tahun Baru Krsten.  Sebab, yang berkaitan dengan agama Krsten hanyalah hitungannya, yang dimulai dari kelahiran Yesus Kristus 25 Desember 2013 tahun yang lalu.  Selain itu, semuanya adalah produk peradaban Romawi.

Sementara itu, penanggalan qamariyah (lunar year) juga merupakan sistem penanggalan yang mulanya tidak berkaitan dengan agama Islam.  Sistem itu dipergunakan sejak sedia kala oleh pada umumnya masyarakat Asia dengan modus yang berbeda-beda; ada yang memakai murni tahun qamariyah sperti halnya bangsa Arab, dan ada pula yang memadukan antara qamariyah dan syamsiyah (lunisolar year), seperti bangsa Persia, India dan Cina (Tionghoa).   Mereka memadu dua sistem tersebut disebabkan oleh kanyataan bahwa sistem qamariyah tidak memberi kepastian jadual perubahan musim, sehingga untuk kepentingan perekonomian lebih cocok memakai penanggalan syamsiyah.  Itu sebabnya bangsa Tionghoa menambahkan bulan ke 13 pada setiap tiga tahun, agar hari raya Imlek mereka tidak keluar dari musim dingin antara Januari dan Feberuari.  Sedang dalam kaitannya dengan soal keagamaan, bangsa Asia tetap mempertahankan kalender qamariyah murni, sperti yang tampak menonjol dalam kehidupan bangsa Arab Jahiliyah, jauh sebelum datangnya Islam.

Penggunaan kalender qamariyah oleh Arab Jahiliyah untuk kehidupan ekonomi yakni berdagang, tidak menjadi soal, sehingga kultur bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dengan hanya memakai kalender qamariyah.  Penentuan hitungan tahun, biasanya dikaitkan dengan persitiwa besar yang mereka alami, misalnya penamaan Tahun Gajah (`am a-lfil), guna menandai terjadinya peristiwa serangan pasukan gajah dari Habsyi ke Jazirah Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW.   Arab Jahiliyah juga sepakat menjadikan 1 Muharran sebagai awal tahun.  Jadi perhitungan tahun baru 1 Muharram sebenarnya merupakan tradisi yang berlaku sejak zaman jahiliyah.

Agama Islam kemudian nmembawa kalender qamariyah ini semakin kokoh dalam peradaban Arab Muslim, setelah menjadikannya sebagai kalender keagamaan, khususnya pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan dan ibadah haji.  Meskipun demikian, nama-nama hari dan jumlah bulan sudah ada sejak zaman Arab Jahiliyah, dengan kata lain bukan produk agama Islam.   Dengan demikian perayaan 1 Muharram sebagai tahun baru, bukanlah tahun baru Islam.  Yang menjadi khas Islam ialah hitungan tahunnya yang dimulai sejak Nabi SAW melakukan hijrah pada tanggal 12 Rabiul Awwal, 1433 tahun yang lalu.

Orang yang berjasa menjadikan kalender qamariyah ini menjadi kalender dunia Islam adalah Khalifah Umar R.A. setelah 17 tahun terjadinya hijrah.  Sebenarnya, peristiwa hijrah itu sendiri terjadi pada tanggal 2 (4) Rabiul awal, tahun 13 kenabian, bertepatan dengan tangga 14 (16) September 622.   Meskipun demikian, perhitungan awal tahun Hijriyah tetap mengacu pada tradisi bangsa Arab kuno, yakni tanggal 1 Muharram, atau terdapat perselisihan sekitar 62 (64) hari.  Hal seperti ini juga terjadi pada penetapan 1 Januari sebagai awal tahun Masihi (Gregorian), padahal tanggal lahirnya Yesusu Kristus (Almasih) adalah 25 Desember.

Sebenarnya, dua sisten kalender tersebut (syamsiyah yang diberlakukan oleh Paus Gregory XIII untuk Kristen dan qamariyah yang diberlakukan oleh Khalifah Umar untuk Islam) semuanya adalah kalender Qur’aniyah, karena diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai berikut: 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Q.S. Yunus [10]: 5)

SELAMAT TAHUN BARU “QUR’ANIYAH” 1 JANUARI 2013 MASEHI

Advertisements

PERJUANGAN KEBANGSAAN PALESTINA

Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia berkunjung ke Kedutaan Palestina diterima oleh Durta Besar Palestina Fariz Mehdawi.  Hamka Haq bersama Andreas Parera dan Ahmad Basarah menyampaikan surat dukungan Ibu Megawati Ketum PDI Perjuangan atas terpilihnya Palestina menjadi anggota PBB status Peninjau

Hamka Haq, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia berkunjung ke Kedutaan Palestina diterima oleh Durta Besar Palestina Fariz Mehdawi. Hamka Haq bersama Andreas Parera dan Ahmad Basarah menyampaikan surat dukungan Ibu Megawati Ketum PDI Perjuangan atas terpilihnya Palestina menjadi anggota PBB status Peninjau

PERJUANGAN KEBANGSAAN PALESTINA

Oleh: Hamka Haq

Banyak orang yang salah paham tentang perang Palestina-Israel.  Dianggapnya perang itu adalah perang keislaman (jihad) untuk kepentingan sepihak umat Islam Palestina.  Parahnya lagi, diangapnya perang antara umat Islam melawan Israel (Yahudi) dan Kristen.  Padahal yang terjadi di Palestina ialah perang kebangsaan, yakni bangsa Palestina yang terdiri atas umat Islam bersatu dengan umat Kristen melawan Zionis Israel (Yahudi).

Ketika saya berkunjng ke Kedutaan Besar Palestina tangal 5 Desember yang lalu, Dubes Palestina Fariz al-Mahdawi sangat menyesalkan kesalah-pahaman itu terjadi di Indonesia.  Lalu Fariz menyatakan bahwa ada pihak tertentu yang memanfaatkan isu Palestina, dijadikannya sebagai komoditas politik dengan berdemo setiap ada serangan dari Israel, untuk mengambl hati umat Islam di Indonesia.  Padahal perjuangan kami di sana adalah perjuangan kebangsaan, demikian katanya.  Bahkan salah satu pernyataan beliau yang mengejutkan di salah satu koran nasional, bahwa penduduk Palestina sebenarnya lebih banyak menganut Yahudi ketimbang Islam dan Kristen (http://forum.kompas.com/nasional/50955-pernyataan-dubes-palestina-yang-mengejutkan.html)

Jadi di Palestina, Pejuang Masjidil Aqsha (Muslim) bersatu dengan Kristen pejuang Betlehem (bukannya berseteru), untuk menghadapi musuh bersama mereka, yakni Zionis Israel.  Bahkan dia sempat mengakui bahwa di kalangan militer Palestina, terdapat sejumlah panglima yang beragama Kristen, di antaranya yang paling terkenal seangkatan dengan Yaser Arafat ialah George Habas.  Seorang juru bicara Palestina di PBB se masa Arafat adalah Hanan Asrawi (perempuan cerdas) juga beragama Kristen.  Bahkan isteri Yaser Arafat, Suha juga seorang Kristen, walau pernah diisukan telah masuk Islam. Dan sekarang setiap ada serang Israel terhadap Muslim Palestina, biasanya mereka lari berlindung di gereja-gereja.  Begitupun sebaliknya, umat Kristiani berlindung di balek masjid-masjid.

Sangat sering terjadi di Indonesia, jika ada demo besar-besaran mendukung Palestina, seolah-olah Islam berhadapan dengan Yahudi dan Kristen, lalu di Indonesia ditafsirkan, Islam berhadapan dengan Kristen.  Padahal di Palestina Muslim-Kristen bersatu, jatuh bangun bersama menghadapi Israel.  Pemimpinn PLO Yaser Arafat yang Muslim itu pun ternyata hidup serumah dan seranjang dengan Suha yang Kristen.

Hiduplah Bangsa Palestina, suatu bangsa yang berjuang untuk merdeka, dan ingin berdamai dengan semua bangsa di dunia, termasuk Israel.  Namun, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memancing agar Palestina berperang terus (tanpa damai) dengan Israel.  Anehnya, HAMAS yang menguasai Gaza, terpancing untuk terus berperang, dan lebih aneh lagi pejuang Palestina di Indonesia lebih senang memihak pada Hamas pimpinan Ismael Haniyah (PM Palestina) yang suka perang itu, ketimbang PLO di Tepi Barat yang memilih jalan damai.  Berkat jalan damai yang dirintis oleh PLO di bawah pimpinan Yaser Arafat dan sekarang Presiden Mahmus Abbas, maka kini Palestia telah diakui sebagai negara anggota peninjau PBB, sederajat dengan Vatikan, walaupun belum menjadi negara merdeka.  PLO menerima konsep dua negara (Palestina dan Israel) yang hidup damai, sedang Hamas hanya mau satu negara (Palestina), tanpa Israel.  Isreal menurut Hamas harus dimusnahkan; inilah sumber konflik yang tiada akhirnya dan tidak menguntungkan dua belah pihak.  Wallahu A’lam bi al-shawab.

George Habash, salah seorang Panglima Perang Palestina dari kalangan Kristen, duduk berdampingan dengan Yasser Arafat.  Bukti bhw Perjuangan Palestina adalah Perjuangan Kebangsaan

George Habash, salah seorang Panglima Perang Palestina dari kalangan Kristen, duduk berdampingan dengan Yasser Arafat. Bukti bhw Perjuangan Palestina adalah Perjuangan Kebangsaan

Palestina Negeri Bersama Arab-Israel

Mahmoud-Abbas Presiden Palestina,  Pimpinan PLO pengganti Arafat

Palestina Negeri Bersama Arab-Israel

Kalau mau bicara soal sejarah Palestina sejujurnya, maka harus dimulai dari sjerah Nabi Ibrahim, minimal dari sejarah Nabi Muhammad SAW.  Jangan memulai hanya dari tahun berdirinya negara Zionis Israel, pada tahun 1948, yang hanya menceriterakan soal perang Arab-Israel, di mana bangsa Arab Palestina selalu kalah dan dizalimi.  Mari kita coba membaca sejarah Palestina lebih jauh ke tempo doeloe, ribuan tahun yang lalu.   Sebenarnya Palestina itu adalah negeri Nabi Ibrahim (Abraham) dan dihuni kemudian oleh keturunannya yang mencakup dua bangsa besar, yakni Bani Ismail (bangsa Arab) dan Bani Israel (kaum Yahudi). Pada zaman dahulu, Bani Ismail (bangsa Arab) berbaur dgn Bani Israel di Palestina, dan bahkan juga di Madinah (Yatsrib) yg juga adlh tanah air bersama bangsa Arab dan  kaum Yahudi sebelum Nabi hijrah ke sana. Maka ketika Nabi SAW isra-mi’raj, Nabi sempat bershalat di Masjid al-Aqsha. Meskipun dalam Al-Qur’an disebut Masjid al-Aqsha, wakltu itu rumah ibadah tersebut bukan milik Muslim, melainkan masih merupakan rumah ibadah kaum Yahudi dan Nashrani.

Dengan demikian, Palestina dan Madinah dahulu merupakan tanah air bersama bangsa Arab dan kaum Yahudi, yang diwarisinya dari satu nenek moyang bersama yakni Nabi Ibrahim. Keadaan seperti itu tetap dipertahankan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri ketika beliau jadi Kepala Negara di Madinah, dengan mengajak kaum Yahudi bersama untuk menyusun UUD Madinah yang dikenal sebagai Piagam Madinah (Mitsaqul Madinah). Nantilah pada zaman sepeninggal Nabi, Khalifah-khalifaj pengganti Nabi membuat kebijaksanaan ekstrim, sehingga kaum Yahudi (Bani Israel) keluar dari Madinah.  Menyusul kemudian berangsur pula keluar dari negeri Palestina setelah Palestia direbut oleh Khalifah Umar pada tahun 637.  Tetapi sebenarnya, sebelum Khaifah Umar menaklukkan Palestina dari kekuasaan Romawi Kristen, bangsa Israel sudah banyak ekssodus kecuali masih tersisa sedikit di wilayah Tel Aviv.

Khalifah Umar memperkokoh kekuasaan Islam di Palestina ditandai dengan pembangunan Masjid Aqsha di atas tanah (Rumah Suci) yang pernah disinggahi Radsulullah SAW beribadah dalam peristiwa Isra Mi’raj.   Rumah Suci yang sebelumnya merupakan warisan Yahudi_Mristen, beralih dalam penguasaan Islam ketika itu.   Nasib Bani Israel pun hidup tanpa tanah air lagi, mengembara tanpa tujuan ke mana-mana sampai mereka terdampar di Afrika Utara dan Eropa. Jadi sejujurnya, menurut sejarah, sangat salah kalau kita bilang Israel datang ke Palestina merebut negeri orang, tetapi yang benar ialah Israel ingin kembali ke negeri yangg lama ditinggalkannya, yang di sana mereka pernah tinggal berbaur dengan saudara sepupu (serumpunnya) sendiri yaitu bangsa Arab.

Maka kita umat Islam pun sebenarnya harus bersyukur, karena Yahudi (Bani Israel) hanya menuntut untuk kembali ke Tel Aviv dan sdekitarnya salah satu bahagian dari Palestina (bukan semua wilayah Palestina, dan tidak termasuk Jerussalem), tidak juga menuntut utk kembali ke Madinah yang sekarang sudah menjadi kota suci kedua bagi kita umat Islam. Sekali lagi, entah apa jadinya, andaikata kaum Yahudi (bangsa Israel) berkeras untuk kembai ke Madinah, tempat mereka pernah tinggal berbaur dengan bangsa Arab jauh sebelum Nabi kita Muhammad SAW hijrah ke sana.  Kemudian Nabi SAW pun ketika hijrah ke sana  memperllakukan mereka dengan baik, mengajak duduk bersama menyusun Piagam (Undang-Undang Negara) Madinah untuk hidup bersama, rukun dan damai di negeri tersebut.  Tapi untuk zaman moderen, resikonya sangat besar jika Bani Israel mau kembali ke Madinah, karena akan berhadapn langsung dengan lebih satu milyar umat Islam se dunia, yang menjadikan Madinah sebagai kota suci kedua setelah Mekah.

Dengan populasi yang tidak begitu besar (sekitar 3 jutaan pada saat berdirinya negara Israel 1948), bangsa Israel sudah merasa nyaman jika mereka kembali ke Tel Aviv dan sekitarnya, apalagi di wilayah itu memang masih terdapat sisa-sisa penduduk kaum Yahudi yang leluhurnya tidak pernah meninggalkan Tel Aviv.  Lagi pula Tel Aviv bukanlah kota suci dari agama Islam dan Kristen.   Namun, karena bangsa Arab ngotot tidak menerima kehadiran Israel itu, maka terjadilah perang Arab-Israel, di mana Arab mengalami kekalahan.  Maka dengan alasan keamanan negara Israel (Tel Aviv) , Israel menjadikan wilayah Arab yang direbutnya sebagai wilayah penyanggah, termasuk wilayah Baitul Maqdis (Jerusslem sekarang) yang diangap kota Suci oleh Islam dan Kristen.

Andai kata bangsa Arab dapat menerima kenyataan berdirinya Negara Israel di Tel Aviv pada tahun 1948  itu, maka boleh jadi Negara Palestina puna telah berdiri dan merdeka, sesuai dengan rencana PBB untuk mendirikan dua negara di Palestina.  Dalam peta pembagian dua negara tersebut, Jesrussalem tidak termasuk dlam wilayah Israel, tetapi direncanakan oleh PBB masuk dalam wilayah Negara Arab Palestina.  Tetapi sekali lagi bangsa Arab berkeras menolak kehadiran Israel di Palestina secara mutlak, karena Arab ingin menguasai sepenuhnya Palestina.    Akibatnya, perang tidak habis-habisnya hingga sekarang, karena sudah menyangkut klaim kota suci.  Namun, Israel menurut peta jalan damai yang disetujui oleh Yasser Arafat (Presiden Palestina/ Ketua PLO) bersama Yitzhak Rabin (PM Israel) bersedia mengembalikan seluruh wilayah Arab yang direbutnya dalam perang tahun 1967, termasuk Jerussalem yang didalamnya ada Masjididl Aqsha, asalkan negara-negara Arab sekitarnya, termasuk Palestina mau menerima dan mengakui Israel, berdamai dan menjamin keamanan bersama, hidup berdampingan  dengan  negara Israel.  Peta jalan damai itu diteruskan oleh Mahmud Abbas, Presiden Palestina/Pemimpin PLO  sekarang, tetapi ditolak keras oleh Ismael Haniyah, PM Palestina/ Pimpinan Hamas, yang menginginkan perang berjalan terus entah kapan berakhirnya, demi untuk menghancurkan negara Israel.  Inilah masalah besar yang dihadapi bamgsa Palestina sekarang.  Wallahu a’lam bi al-shawab.

Ismael Haniyah, PM Palestina yng menolak Peta Jalan Damai yang diprakarsai oleh Yasser Arafat bersama Yitzhak Rabin.  Ismael Haniyah memilih jalan Jihad berperang terus melawan Israel.

Ismael Haniyah, PM Palestina yng menolak Peta Jalan Damai yang diprakarsai oleh Yasser Arafat bersama Yitzhak Rabin. Ismael Haniyah memilih jalan Jihad berperang terus melawan Israel.

Yitzhak Rabin, PM Israel yg menerima Peta Jalan Damai Israel-Palestina, terbunuh pada tahun 1995

Yitzhak Rabin, PM Israel yg menerima Peta Jalan Damai Israel-Palestina, terbunuh pada tahun 1995

PERANG ARAB-ISRAEL

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Perang Arab-Israel

Oleh: Hamka Haq

Perang Arab-Israel adl perang antara dua bangsa serumpun (saudara sepupu), dari nenek moyang bersama, Ibrahim (Abraham), yg melibatkan agama Islam-Yahudi.  Andaikata bgs Arab Palestina berbesar hati menerima Israel sejak awal, maka wilayah negara Israel (Tel Aviv dan sekitarnya) tidak seluas sekarang. Tapi, bangsa Arab yang ngotot itu berperang terus-menerus, namun selalu kalah melawan teknologi perang Israel, akhirnya Israel merebut wilayah lebih luas lagi dalam Perang 1967, sampai ke kota suci Jerussalem.  Sekrg wilayah Israel makin luas, sementara Palestina makin terdesak, bgs Arab yg dahulu pernah ngotot membantu perjuangan Palestina  sprti Arab Saudi pun semakin tdk lagi mendukung Palestina.

Di depan mahsiswa S3 UIN Makassar, saya pernah nyatakan bhw umat Islam se dunia seharusnya bersyukur, Israel hanya mau ke Tel aviv di Palestina.  Coba kalau Israel ngotot kembali ke Madinah, yg dulu merupakan tanah air bersama dengan bangsa Arab  sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana, entah apa jadinya…?   Nabi Muhammad SAW ketika memimpin Madinah mepersaudarakan Arab (Muslim) dg bgs Yahudi di Madinah, dan sama2 menyusun kostitusi Madinah.  Namun, sepeninggal Nabi, Khalifah2 membuat kebijakan ekstrim, bahwa Madinah harus dihuni oleh 100% Muslim,  sehingga Yahudi harus keluar dari Madinah dan mengembara sampai Eropa. Palestina hampir mengalami nasib seperti Madinah  sehingga sebahagian besar Bani Israel keluar dari Palestina.   Keadaan berbalik, 13 abad kemudian, giliran bgs Arab Palestina meningglkan sbgian tanah airnya ketika negara Israel berdiri  dan menjadikan wilayah Arab yang direbutnya dlam Perang tahun 1967 sebagai wilayah penyanggah untuk keamanan negaranya (Tel Aviv dan sekitarnya).

Kini, Saatnya masyarakt dunia dgn segala ras dan agama berdamai membangun peradaban dunia baru yang tenteram dan maju.  Namun, Barat sengaja memelihara perang berlarut-larut antara Palestina-Israel, demi keuntungan politik dan industri senjata. Yaser Arafat, Pemimpin Palestina yang menerima jalan damai (perjanjian Oslo), dirawat di Eropa utk diracun dan mati(2004).  Yitzak Rabin PM Israel yg juga setuju jalan damai, dibunuh (1995) oleh mereka yg tidak menginginkan perdamaian segera.  Padahal Peta Jalan Damai itu sangat ideal untuk perdamaian abadi, karena bertolak dari Keputusan PBB pada tahun 1947 yang menghendaki adanya dua negara damai berdampingan di Palestina, yakni negara Israel (wilayah Tel Aviv) dan negara Palestina yang didominasi bangsa Arab mencakup semua wilayah di luar Tel Aviv.

Namun, nasib Peta Jalan Damai terkatung-katung akibat konflik internal pula dalam tubuh bangsa Palestina.  Konflik antara PLO yang didirikan oleh Yaser Arafat Presiden Otoritas Palestina I (pemukim Tepi Barat) dan Hamas yang dipimpin oleh Ismael Haniyah (pemukim Jalur Gaza) dikipas terus agar bangsa Arab Palestina tdk kunjung bersatu, guna memperlambat perdamaian.   Anehnya, sebagian umat Islam, termasuk di Indonesia tidak sadar terjebak dalam skenario itu, sehingga lebih senang berpihak pada Hamas yang jargon politiknya ialah jihad menghancurkan Israel.  Saking bencinya kepada Israel, maka aktifis Islam di Indonesia memilih berpihak pada jihad perang yang dilancarkan oleh pimpinan Hamas, Ismael Haniyah, yang juga menjabat PM Palestina, ketimbang mendukung proses perdamaian yang ditempuh oleh Mahmud Abbas Presiden Palestina dan Pimpinan PLO penerus Yaser Arafat.  Dunia Islam harusnya tahu bahwa realitas perjuangan secara damai jauh lebih menguntungkan ketimbang perang terus-menerus.  Perjauangan Mahmud Abbas untuk meneruskan Peta Jalan Damai, akhirnya mendapat simpati dari PBB, yang kemudian secara resmi badan dunia tersebut  mengakui Palestina sebagai Negara anggota PBB, status Peninjau.  Mestinya upaya damai Mahmud Abbas inilah yang harus didukung oleh dunia Islam internasional, ketimbang menghabiskan generasi Palestina hanya untuk berperang tanpa diketahui kapan berakhirnya.

Saya yakin semuanya adalah skenario kepentingan Barat yg tidk ingin melihat Palestina-Israel damai dlm waktu singkat.  Konflik Palestina-Israel, sengaja dipelihara karena bagi Amerika sangat penting, utuk dijual dalam setiap kampanye Pilpres AS, dan utk keutungan bisnis senjata.

Islamic Christian Commision on Jerussalem

Umat Islam dan Kristiani bersatu untuk melawan kaum Zionis Israel di Palestina.   Akhir-akhir ini banyak kegiatan kaum Zionis Yahudi yang menodai agama Islam dan Kristen di Palestina.  Silakan baca selengkapnya dalam web. berikut:

http://wp.me/p16sn9-6gU

SELAMATKAN BANGSA PALESTINA DAN AL-QUDS[1]

Bersama Mufti Palestina dan Peserta Konferensi lainnya

Oleh: Hamka Haq[2]

1.     Pendahuluan

Konferensi untuk merumuskan penyelesaian konflik Timur Tengah, untuk menyelamatkan kota suci Al-Quds bukanlah pertama kali diadakan pada kesempatan ini, tapi telah banyak pertemuan sebelumnya, baik dalam skala internasional, maupun regional.  Opini dan usulan perdamaian yang ditawarkan masih lebih bersifat utopis dan subyektif bagi kepentingan Palestina dan bangsa Arab pada umumnya, tanpa melihat kekuatan-kekuatan (Israel dan sekutunya) yang sedang mencengkram negeri Palestina itu, yang keinginan-keinginannya juga patut didengar atau dipertimbangkan.
Akibatnya upaya peradamaian di Timur Tengah selalu kandas karena
menghadapi resistensi yang keras dari pihak lain. Sementara itu pihak
lain (Israel dan sekutunya) pun selalu menawarkan sebuah penyelesaian
yang subyektif untuk keamanan Negara Israel, yang menekankan solusi
dengan cara kekerasan demi stablitias negaranya.

Maka untuk menghindari kebuntuan itu, sangat diharapkan konferensi ini, akan memberikan kontribusi pemikiran dan langkah-langkah konkret yang realistis bagi kedua belah pihak, sehingga upaya penyelamatan bangsa Palestina dan Al-Quds dapat dicapai dengan penyelesaian humanis, sehingga terbangun kehidupan bersama di atas landasan keadilan dan pedamaian abadi.

2.     Persaudaraan Kemanusiaan Yang Berkeadilan

Persoalan kota suci Al-Quds (Jerussalem) merupakan bahagian dari
persoalan perang Pelaestina-Israel yang sudah berlangsung sejak tahun
1948.  Pada mulanya Al-Quds tidak begitu penting, namun persoalannya
berubah setelah Israel mengklaim Al-Quds menjadi Ibukota Negara Zionis Israel.  Di lain pihak, pejuang Palestina juga mencita-citakan sebuah negara Palestina Merdeka, dan akan menjadikan Al-Quds sebagai ibu kotanya.  Ketegangan antara Palestina dan Israel pun semakin meningkat seolah tiada habisnya.  Telah banyak jiwa menjadi korban, telah banyak sarana umum dan tempat-tempat suci dan bersejarah menjadi rusak akibat perang yang tak kunjung berakhir.

Pertanyaan, sampai berapa lama lagi perang itu berlangsung, dan kapan akan berakhir?, tak dapat dijawab jika melihat eskalasi persoalan antara kedua pihak yang terlibat konflik.  Dan karena itu pula nasib Al-Quds pun tidak dapat dipastikan akan jatuh ke  tangan siapa, dan sampai kapan ia terkatung-katung dalam bayang-bayang perang Palestina-Israel?.
Secara teoretis, mungkin kita bisa menjawab bahwa nasib Al-Quds
tergantung pada kepastian terbentuknya Negara Palestina Merdeka.
Kemerdekaan Palestina itu sendiri, dapat dicapai dengan memilih salah
satu alternatif.

  • Alternatif pertama ialah mempersiapkan diri untuk menghadapi dan memenangkan perang panjang yang tak diketahui kapan berakhirnya dan siapa pemenangnya.  Alternatif ini tentulah sangat sulit dan tidak memberi kepastian kepada bangsa Palestina untuk dapat memproklamirkan negara Palestina Merdeka dalam waktu yang singkat. Alternatif ini hanya akan memperpanjang kesabaran bangsa Palestina dalam penderitaan dan pengungsiannya, dan memperpanjang masa penantian kapan kiranya terwujud negara Palestina Merdeka yang diimpikan oleh mereka selama ini.
  • Alternatif kedua ialah menempuh jalan damai dengan jalan meneruskan dan menyempurnakan peta jalan damai yang telah dirintis selama ini, untuk terbentuknya Negara Palestina Merdeka berdasarkan keadilan dan perdamaian abadi.  Tanpa melupakan perlunya pertahanan militer bagi sebuah negara, namun hal yang paling utama ialah Palestina dan Israel haruslah memastikan pihaknya untuk dapat hidup berdampingan dalam perdamaian abadi itu.

Sadar bahwa dunia dewasa ini semakin mengglobal, yang memungkinkan dan mengharuskan semua komunitas manusia untuk saling berhubungan dengan baik tanpa sekat-sekat ras dan agama.  Untuk itu kecenderungan peradaban modern ialah membangun kedamaian untuk semua.   Untuk itu saatnya kini paradigma perang yang berkepanjangan diubah menjadi paradigma mengakhiri perang demi perdamaian.  Saatnyalah bangsa Palestina dan Israel semakin intens meneruskan perundingan demi kehidupan baru yang sejahtera dalam kehidupan dua negara yang berdampingan damai untuk selamanya.

2.     Fatah dan Hamas, Bersatulah

Sepanjang sejarah perjuangan Palestina, di sana terdapat dua kekuatan
yag dahsyat sebagai benteng pertahanan dan perlawanan terhadap Zionisme Israel, yakni Fatah (kekuatan inti PLO)  dan Hamash.  Fatah dan Hamash mempunyai gaya yang berbeda, fatah lebih cenderung memilih jalan diplomasi dan mudah diajak ke meja perundingan, sedang Hamash tetap memilih perjuangan bersenjata.

Dua gaya pergerakan tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya, namun untuk kondisi di era globalisasi, maka jalan damai adalah pilihan yang realistis. Konflik bersenjata Palestina-Israel sudah berlangsung setengah abad lebih, yang telah mengakibatkan korban ratusan ribu jiwa yang mati syahid, mengakibatkan eksodus besar-besaran dan anak-anak terlantar yang hidup di pengasingan, serta keadaan yang selalu mencekam menghadapi sewaktu-waktu pengeboman dan serangan udara tentara Israel.
Tanpa mengabaikan perlunya kekuatan militer untuk pertahanan diri,
namun jalan perdamaian untuk mengakhiri penderitaan bangsa Palestina adalah jalan yang terbaik, dan merupakan pilihan yang realistis.

Untuk kepentingan itulah, maka seharusnya dua gaya pergerakan tersebut menyatu sebagai kekuatan dahsyat yang tiada taranya, memandang ke depan guna menata kehidupan berbangsa yang solid, demi terwujudnya Negara Palestina Merdeka.

3.     Perjanjian Perdamaian Oslo

Kesepakatan Oslo, dicapai dengan penandatangan oleh PM Israel Yitzhak Rabin dan Pemimpin PLO Yasser Arafat, disaksikan oleh Presiden Amerika Bill Clinton di Washinton DC pada tanggal 13 September 1993.  Kesepakatan itu secara resmi disebut sebagai Declaration of Prinsiples (DPO) dan menjadi tonggak bersejarah menuju penyelesasian menyeluruh konflik Palestina – Israel.  Ia pun merupakan perjanjian yang mempertemukan secara langsung untuk pertama kalinya antara pemerintah Israel dan PLO. Turut bertanda tangan adalah Mahmoud Abbas dari PLO, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iasrel Shimon Peres, Menlu Amerika Serikat Warren Christopher, dan Menlu Rusia Andrei Kozyrev,

Kesepakatan Oslo merupakan kerangka awal bagi hubungan masa depan antara Palestna dan Israel.  Berdasarkan itu, dibentuklah Pemerintahan Otoritas Palestina (Palestinian National Authority – PNA), yang
bertanggunmg jawab secara administrative  atas wilayah yang dikuasainya.   Berdasarkan itu pula, tentara Isreal ditarik dari Jalur Gaza dan Tepi Barat.  Tadinya diharapkan dengan Kesepakatan Oslo ini,
persoalan hangat lainnya akan dapat diselesaikan, mencakup kedudukan
Al-Quds, nasib pengungsi Palestina, pembangunan perumahan Israel di Gaza dan Tepi Barat, soal keamanan dan perbatasan antara kedua Negara.

Namun, kecaman terhadap Kesepakatan itu datang dari dalam Palestina dan Isreal sendiri, sehingga memperburuk proses perdamaian selanjutnya.  Seiring dengan itu, faksi Hamas memenangkan pemilihan umum, yang selam ini tidak pernash mengakui Israel sebagai sebuah Negara, dan tetap menolak kesepakatan-kesepakatan sebelumnya yang telah dicapai oleh Fatah (PLO) dan Israel.

Padahal sebenarnya, adalah sebuah keberanian untu mengenyampingkan semua sikap ekstrimis, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin secara diam-diam menyetujui draft perjanjian damai Oslo itu. Berkat perjanjian damai tersebut, Palestina telah menjadi sebuah bangsa yang punya otoritas atas negerinya sendiri di Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan, meskipun belum menjadi negara merdeka.  Kedaulatan Otoritas Nasional Palestina atas wilayah tersebut telah diakui oleh tidak kurang dari 139 negara.  Realitas tersebut seharusnya membuka mata semua pihak, Palestina dan Israel, bahwa perdamaian jauh lebih menjanjikan kehidupan masa depan ketimbang konflik yang tiada akhir.

Namun, tampaknya perdamaian Oslo harus dibayar mahal, yakni tewasnya Yitzhak Rabin (4 November 1995)  di tangan seorang mahasiswa Israel yang menentang perdamaian, dan memandang Rabin
mengkhianati bangsanya. Sama halnya tewasnya Presiden Mesir Anwar Sadat (6 Oktober 1981), di tangan orang-orang yang tidak senang atas
perjanjian damai Mesir dengan Israel yang ditandaanganinya bersama
Perdana Mentei Israel Manachen Begin (17 September 1978). Pemrakarsa perdamaian seolah selalu terancam jiwanya oleh mereka yang tidak menyukai perdaiaman itu sendiri.

Persoalannya, untuk kepentingan siapakan konflik itu dipelihara, sehingga pahlawan perdamaian selalu menghadapi maut?  Apakah murni sebagai protes dari elemen ekstrimis dari bangsa Palestina dan Israel, atau mungkinkah hal itu merupakan konspirasi dari kepentingan negara tertentu yang sengaja memelihara konflik demi mengeruk keuntungan dari transaksi senjata dan bom?
Setelah berakhirnya perang dingin, maka omzet transaksi senjata dan
mesin perang secara teoretis akan berkurang. Untuk itu, negara-negara
maju produsen berbagai jenis senjata dan mesin perang mencari pasar baru  untuk kepentingan bisnis senjata itu, dan salah satu upaya ialah
memelihara terus konflik di Timur Tengah, Palestina, Irak, Afganistan
dan menyusul Iran.

Untuk kasus Palestina-Israel, pihak yang berkepentingan di bisnis perang menyulut terus-menerus konflik itu dengan alasan-alasan teologis tentang tanah yang dijanjikan Tuhan, tentang harta karun Dawud dan Sulaiman di landasan Al-Quds, dan semacamnya.  Di lain pihak semakin deras pula ajaran jihad dan mati syahid yang membakar semangat bom bunuh diri dan intifadah yang tiada henti di kalangan bangsa Palestina.  Maka lengkaplah sudah, gayung bersambut, amarah dan kebencian pun semakin membara untuk sebuah konflik yang abadi antara Israel dan Palestina.

4.     Negara Nasional Palestina

Terdapat sejumlah proposal mengenai teritori dan bentuk negara
Palestina, namun yang paling realitis di antaranya ialah usulan yang
pernah diajukan oleh Arab Saudi (2002), yang dapat diterima oleh
Otoritas Palestina dan sejumlah negara anggota Liga Arab.  Dalam
rancangan itu, Negara Palestina akan mencakup Jalur Gaza, Tepi Barat
SungaiYordan, dan Al-Quds (Jersalem) menjadi ibu kotanya.
Dengan paradigma di atas, nasib Al-Quds berada dalam kekuasaan penuh negara Palestina dengan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk dapat berkunjung dan memanfaatkan fasilitas ibadah di dalamnya, khususnya kaum Yahudi, Kristen dan Islam, yang sama sama mengklaim Al-Quds sebagai kota suci mereka.  Dengan semangat kebersamaan dan perdamaian untuk hidup dua negara berdampinan, dan prinsip multi etnis dan multiagama, maka selayaknya Al-Quds dapat difungsikan sebagai kota suci bersama bagi tiga agama tersebut, di bawa kontrol Negara Palestina Merdeka.

Khusus untuk masjid Aqsha, bagi umat Islam, penggunaannya utk ibadah kaum ahlu Kitab tidak jadi masalah, mengingat di zaman Nabi Muhammad SAW pun, hal yang sama pernah terjadi.  Ketika itu sebanyak 60 orang petinggi Kristen Najran diterima oleh Rasulullah SAW bertamu dalam Masjid Nabawi, kemudian Nabi pun memberi kesempatan untuk beribadah di  dalamnya.  Untuk zaman kekinian, demi perdamaian abadi bangsa Palestina, sikap tolerans tersebut selayakanya diterapkan untuk kota suci Al-Quds.

5.     Langkah Konkret ke Depan

Mencermati persoalan konflik Palestina – Israel, maka untuk menguatkan perjuangan pembentukan Negara Palestina Merdeka, serta untuk melindungi kesucian Al-Quds, maka berikut ini dirumusan langkah-langkah konkret yang dapat / harus ditempuh demi kepentingan umat dan khususnya bangsa Palestina.

  • Menyuarakan secara terus menerus akan terbentuknya sebuah Negara Palestina Merdeka, dengan batas wilayah minimal adalah Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan, dengan ibu kotanya adalah Al-Quds (Jerussalem).
  • Memperjuangkan kembalinya pengungsi Palestina ke tanah air mereka yang diduduki dan sudah diklaim Israel sebagai teritori Negara Israel, untuk menjadi warga Negara yang mempunyai hak-hak yang sama dengan kaum Yahudi Israel dalam soal hukum, politik, ekonomi, agama dan sosial budaya.
  • Rencana peradamaian dengan konsep dua Negara (Palestina dan Israel) mungkin itulah yang lebih realistis untuk disuarakan oleh semua aktifis pembebasan Al-Quds, ketimbang menyuarakan satu Negara Palestina, yang konsekuensinya menghapus Negara Israel.  Konsep satu negara sangat tidak realistis, karena tidak mempertimbangkan kekuatan-kekuatan yang selama ini tidak seimbang antara Palestina bersama Negara Arab lainnya di satu
    pihak dan kekuatan Israel bersama sekutunya di pihak lain.  Di samping itu, Kesepakatan Oslo dan proses perjanjian damai sesudahnya, juga tidak pernah menyinggung konsep satu negara tersebut.
  • Para institusi pejuang Al-Quds, baik pemerintah maupun non pemerintah seharusnya bersatu padu memperjuangkan terwujudnya Negara Palestina Merdeka, dengan mengerahkan segala potensi dari berbagai aspeknya, meliupti: diplomas (politk), kekuatan ekonomi, pembentukan opini melalui media pers.  Hal ini dimaksudkan agar isu Negara Palestina Merdeka semakin kuat pengaruhnya, sehingga tekanan masyarakat internasional semakin meningkat terhadap pihak yang terkait untuk mempercepat terbentuknya Negara Palestina tersebut.
  • Untuk mengakselerasi terbentuknya Negara Palestina Merdeka, berdasarkan keadilan dan perdamaian abadi, maka diharapkan dua belah pihak Palestina dan Israel berusaha meredam
    kekuatan-kekuatan ekstrimis, menghentikan tindakan kekerasan, dan mengutamakan pola persahabatan dan saling mempercayai sebagai dasar perdamaian.
  • Diharapkan agar semua faksi militer dan non militer
    yang ada di kalangan bangsa Palestina, dan bangsa Arab pada umumnya, serta di segenap negeri Islam, yang selama ini berbeda sikap tentang penyelesaian konflik Palestina-Israel, untuk bersatu dalam satu barisan dan cita-cita yang sama, menghindari konflik antar sesama, guna mencegah penyusupan pihak lain yang ingin memperlemah kekuatan umat dan menghalang-halangi terwujudnya Negara Palestina Merdeka.

6.     Penutup

Semoga konferensi ini berhasil merumuskan kesamaan persepsi umat Islam, khususnya bangsa Arab, lebih khusus lagi bangsa Palestina sendiri dalam menyikapi perlunya mengakhiri konflik Palestina-Israel, demi terwujudnya Negara Palestina Merdeka, sebagai upaya realistis untuk menyematakan bangsa Palestina dan Al-Quds.

Jakarta, 17 Januari 2010

HHq


[1]
Makalah disampaikan untuk keperluan The General Conference for The
Support of Al-Quds, diselenggarakan di Kualalumpur pada tanggal 20-21
Januari 2010.

[2] Hamka Haq, Professor Theologi dan Hukum Islam pada Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.