HAJI MABRUR, ITU INDAH (Bagian 3)

HAJI MABRUR:   DARI TA’ARUF SAMPAI MA’RIFAT

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Penulis punya pengalaman baru di musim haji 1439 H. Ini, tepatnya tanggal 24 Agustus 2018 Jumat kemarin. Tim Pengawas Haji DPR RI tidak sempat Jumatan di Masjidil Haram Makkah. Kami karuan saja terpaksa bersholat Jum’at di Musholla Hotel kediaman kami. Ikut pula bergabung jemaah haji Malaysia, sampai Musholla itu pun penuh. Mungkin karena dinggap lebih senior dari segi umur, maka sejumlah Kiyai dan Ustadz dalam Tim ini menunjuk penulis menjadi Khotib. Penulis pun menerima, seolah tiba masa tiba akal. Saya jadi teringat pada khotbah saya di Al-Markaz Makassar, hampir duapuluh tahun lalu, itulah saya ulangi walaupun tidak seutuhnya.

Temanya, soal haji sebagai simbol kesempurnaan keislaman seseorang.   Bahwa haji itu menggambarkan secara utuh perilaku kita dalam hidup duniawi. Perhatikan misalnya thowaf, yaitu keliling ka’bah sebanyak tujuh kali, ritual yang menggambarkan aktifitas dunia kita sehari-hari yang berulang tiada putusnya selama hidup. Hidup dunia ini sebenarnya adalah thowaf; tiap hari petani pergi-pulang dari rumah ke ladang; demikian juga para pebisnis, para birokrat, para wakil rakyat, ASN, TNI dan Polri, menekuni kerjanya di kantor, kampus, Mabes atau medan operasinya, mereka adalah berthowaf dari rumah kediaman ke tempat kerja setiap harinya, tiada henti selama belum pensiun dan masih sehat.

Perhatikanlah apapun profesi dan kesibukannya, pastilah tempat berlabunya adalah rumah, mereka kembali ke rumah tempat menikmati hidupnya yang tenang, aman dan nyaman. Rumah adalah ikon kebahagiaan hidup. Tanpa rumah, kebahagiaan jadi semu. Bagi umat Islam, kebahagiaan terasa lebih nikmat jika sesampai di rumah, langsung beribadah sebagai tanda syukur kepada-Nya. Tapi puncak kebahagiaan sebenarnya bagi seorang Muslim ialah ketika sempat beribadah di sisi Rumah Allah, yaitu Ka’bah di Masjidil Haram. Itulah sebuah kesadaran Ilahiyah dalam berthowaf. Maka setiap Muslim wajib berlabuh, berziarah ke Rumah Allah itu, wajib berhaji sekali seumur hidup bagi yang mampu, agar merasa bahagia di sisi Baitullah, sebagai Ikon kebahagian yang paling hakiki. Allah berfirman:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ ﴿٣﴾ الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ ﴿٤﴾

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka`bah).

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Q.S. Qiraisy: 3-4).

Sesudah thowaf, lanjut dengan Sa’iy, yaitu berjalan dinamis dari bukti Shofa ke bukti Marwah, yang diantarai sedikit lembah. Bukit-bukit ini menyimbolkan kehidupan manusia pada posisi puncak kebahagiaanya. Sedang lembah yang mengantarainya menyimbolkan adanya masa sulit dan pasang surut yang pasti setiap manusia pernah mengalami dalam hidupnya. Saat memulai sa’iy di bukit Shofa, jamaah haji memandang lebih dahulu ke Ka’bah. Menyiratkan keharusan istiqomah berdzikir kepada Allah SWT pencipta Ka’bah, sebagai sumber segala kebahagiaan. Terus berjalan menuruni lembah, ia harus berlari-lari kecil di atas lembah itu. Mengapa? Di sana ada pesan bahwa saat manusia mengalami pasang surut dalam hidupnya, gagal atau merugi, ia harus tabah menghadapi cobaan, tetap tegar berlari penuh semangat membangun kebahagiaan baru. Seorang Muslim tidak pernah berputus asa, ia tetap yakin ke depan masih ada puncak kebahagiaan baru bernama Marwah. Ia pun berlari penuh harapan sambil berdoa:

إنك أنت الله الأعز الأكرم رب اغفر وارحم واعف وتكرم وتجاوز عما تعلم إنك تعلم ما لا نعلم

“Ya Tuhan, ampunilah, sayangilah hamba-Mu ini, maafkanlah, dan bermurah-hatilah, serta lewatkanlah (keburukan) apa saja yang Engkau ketahui, sesunguhnya Engkau mengetahui apa yang kami tidak ketahui. Sesunguhnya Engau Ya Allah Mahamulia dan Mahapemurah.

Pesan yang disimak ialah, untuk bangkit kembali mengejar kebahagiaan hidup, kita harus introspeksi, bertobat mohon ampun atas kekhilapan, serta tetap tegar optimis, penuh semangat kebangkitan, jauh dari pesimis. Sebab, hidup ini tidaklah selamanya rata, tidak selalu berada di puncak. Kebahagiaan dan kesulitan silih berganti; tetaplah optimis, habis kesulitan terbitlah kebahagiaan, itulah prinsip hidup seorang Muslim.

Puncak haji ialah Wukuf di Arafah, di sana semua jamaah berkumpul dengan pakaian seragam putih-putih, tak ubahnya sebagai prototipe padang mahsyar kelak sesudah kiamat. Setiap jamaah haji setidaknya akan menyimak tiga arti wukuf di padang batu tersebut. Arafah, dalam bahasa Arab berarti mengenal, maka yang pertama dialaminya ialah ta’aruf, saling mengenal dengan jamaah lain dari seluruh penjuru Dunia. Mereka berkumpul di Arafah sebagai hamba Allah, tanpa perbedaan staus sosial, kaya-miskin, pejabat atau rakyat jelata, ulama, intelektual atau orang awam, militer atau sipil, cantik atau manis, dan warna kulit apapun semua sama di hadapan Allah SWT. Pokoknya tiada yang mulia di antara mereka dari segi status sosial dan rasial etnis, kecuali dengan Taqwa. Rasul bersabda: la fadhla li’Arabiyyin ‘ala ‘ajamiyyin, wa la ‘ajamiyyin ‘ala Arabiyyin illa bi al-taqwa (tidak mulia orang Arab atas orang non Arab, tidak pula mulia non Arab atas orang Arab, kecuali dengan taqwa). Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Q.S. Al-Hujurat:13)

Makna kedua dari Arafah ialah i’tiraf, sebuah pengakuan atas jati diri sebagai manusia lemah dihadapan Allah SWT yang Mahakuasa. Wa fi Anfusikum afala tubshirun. Manusia menghayati segala perbuatannya, baik atau buruk, merenungi segala dosa yang harus ditobatkan di hadapan-Nya. Tak jarang, mereka menangis mengingat masa lalunya yang kelam, di tengah harapan ampunan dari Allah SWT yang Maha Al-Ghofur al-Rahim, Pengampun, penuh kasih bagi semua hamba-Nya yang berhaji.

Setelah ta’aruf dan i’tiraf, sampailah kemudian ke martabat ketiga, yakni ma’rifat.   Pada tingkat ini, para jamaah haji seolah bertemu dengan Allah SWT dengan penuh keyakinan beroleh ampunan dan status haji mabrur. Kalaupun tidak sampai ke tingkat tertinggi ini, setidaknya mereka telah yakin bahwa Allah SWT telah mengetahui pertobatannya, telah mengabulkan pengaduan nasib dan harapan-harapannya untuk hidup lebih baik ke depan. Pada titik inilah, jamaah haji merasakan ihsan, sebagaimana sabda Rasulullah SWT: an ta’bud Allah, ka annaka tarahu, wain lam takun tarahu, fa innahu yaraka (engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-NYa, dan jika engkau tidak sampai melihat-Nya, niscata Dia Allah telah melihatmu).

Mengakhiri wukuf, para jamaah kemudian bergerak ke Muzdholifah, memungut kerikil untuk persiapan melontar jamrah di Mina. Seorang pembesar yang jarang menangis seumur-umur hidupnya, akhirnya tak tahan air mata, menangis tersedu-sedu di Muzdholifah. Ia melihat dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Allah SWT, dirinya hanyalah seorang pemungut batu-batu kecil di hadapan Allah SWT. Seorang tukang batu di tanah air, pikirnya, lebih mulia dari dirinya, karena si tukang batu selalu berurusan dengan batu besar. Tapi di balik itu, ia pun sadar, bahwa batu kerikil yang seolah tiada guna itu akan sangat mulia di sisi Allah SWT jika diperlakukan sebagai ibadah dihadapan-Nya. Kuncinya, apa saja pasti jadi mulia karena ibadah; batu kerikil jadi muliah karena ibadah, hewan jadi mulia karena kurban, harta jadi mulia karena zakat, dan seterusnya.

Usai memungut batu dan mabit (melewatkan tengah malam) di Muzdholifah, jamaah pun bertolak ke Mina. Di Mina, mereka melontar jamrah Aqabah. Keesokan harinya, selama mabit dua atau tiga malam di sana, mereka lanjut melontar jmrah Ula, Wusta dan Aqabah di siang hari. Setiap lontaran disertai bacaan rajmatan li al-syayathin (lemparan terhadap setan), sambil berniat agar setan-setan menjauhi dirinya sehingga hajinya mabrur tetap terjaga.   Artinya, memelihara kesucian haji, jauh lebih berat ketimbang menunaikannya. Ada sekian banyak Muslim berpredikat haji, tetap saja melakukan kemaksiatan sesudah kembali ke tanah air. Mungkin lontaran jamrah-nya itu, hanya sekedar lemparan membekas di tembok jamrah tanpa tekad untuk menjauhi godaan setan-setan yang tetap saja gentayangan dalam hidupnya dunia ini.  Hajinya pun akan jadi haji mardud (tertolak).

Akhirnya prosesi haji pun selesai pada saat tahallul. Tahallul awal ditandai dengan mencukur rambut, sebagian atau seluruhnya. Rambut merepresentasi kepala yang sarat beban pikiran tentang pelbagai problem kehidupan dunia.   Dalam berhaji, berbagai larangan haji menjadi beban berat bagi jamaah, namun saat mereka tahallul semua beban larangan itu hilang seketika. Dengan mencukur rambut, ada pesan moral bahwa setiap manusia haruslah berpikir positif, menghilangkan segala pikiran negatif yang selama ini memebebani hidupnya sendiri. Pikiran-pikiran negatif berkait dengan kegagalan, dendam, dengki, kecemburuan sosial, keserakahan dan beragam konflik, hendaknya dihilangkan semua, setidaknya dikurangi agar beban hidup pun semakin ringan. Perbanyaklah husn al-zhan (baik sangka), kurangi sedapat mungkin su`u al-zhan (buruk sangka) dalam pergaukan sehari-hari.

Dengan hikmah-hikmah seperti disebut di atas, yakinlah ibadah haji akan mabrur adanya, insya Allah. Wallahu a’lam bi al-showabi.

(Makkah 25 Agustus 2018)

HAJI MABRUR ITU INDAH (Bagian 2)

Haji Mabrur, Itu Rahmat (2)

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Betapa Sulitnya Mencium Hajar Aswad

Cara Mudah Rasulullah SAW Berhaji

Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat dalam pelaksanaan segenap ibadah, termasuk ibadah haji. Bukankah Rasulullah sendiri menyatakan dalam haditsnya: khudzu `anniy manasikakum, (ambilah contoh dari aku akan pelaksanaan hajimu)?. Hadits ini trdapat dalam Imam Abuw Zakariyya Yahya al-Nawawi, Syarh al-Nawawiy, (Beyrut: Dar Ihya’i al-Turatsi al-`Arabiy, 1392, Juz VIII, h. 220.) Cara berhaji ala Rasulullah SAW, banyak menyimpan rahasia untuk memberikan kemudahan berhaji sepanjang zaman.   Jika seandainya semua umat Islam meniru pelaksanaan cara haji Rasulullah, maka tidak akan pernah ada kesusahan dan kesempitan di tanah suci, seperti kesulitan yang selama ini dialami umat setiap tahunnya.

Setidaknya ada tiga penyebab terjadinya kesulitan yang dialami jemaah haji di tanah suci, yang solusinya sebenarnya sudah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Penyebab kesulitan itu antara lain: (1) Jumlah jamaah haji semakin lama semakin meningkat, maka mereka pasti semakin sulit menunaikan thawaf dan mencium hajar aswad secara sempurna dan aman. (2) Paham yang kaku tentang riwayat yang menyatakan bahwa shalat di Masjidil Haram adalah sama nilainya dengan shalat seratus ribu kali di masjid lain, dan shalat di Masjid Nabawi Madinah, adalah sama nilainya dengan shalat seribu kali di masjid lainnya, maka terasa semakin sempitlah kedua masjid itu, akibat membeludaknya jemaah haji yang ingin bershalat setiap waktu di dalamnya, tanpa ingin ketinggalan satu kali pun. (3). Adanya anjuran untuk mengambil shalat arbain (shalat jamaah empat puluh kali di Masjid Nabawi), maka setiap jamaah merasa rugi jika tidak bershalat di Masjid Nabawi, walaupun ternyata mereka kecape’an, ataupun kesehatannya tidak memungkinkan.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, kita perlu mengetahui bagaimana sesungguhnya cara Rasulullah SAW berthawaf dan bershalat selama berada di Mekah ketika menunaikan haji wada, yang merupakan ibadah haji satu-satunya yang ditunaikan beliau selama mengemban risalah Islam. Ahmad Abdul Ghafur `Aththar, mencoba merangkai riwayat perjalanan haji Rasulullah SAW serta tata cara pelaksanaannya, dalam buku kecil: Ahkam al-Hajj wa al-`Umrah min Hijjati al-Nabiyyi wa Umarih, mengungkapkan riwayat berikut ini. Bahwa Rasulullah SAW, berangkat dari Madinah untuk berhaji, beliau tiba di Mekah pada hari Ahad tanggal 4 Dzulhijjah tahun ke 10 H. Sebelum masuk Mekah, Rasul bersama rombongan, bermalam di tempat yang bernama Dzituwa.

Riwayat dari Jabir RA dan Ibn Abbas RA menyebut bahwa, ketika Rasullullah SAW masuk kota Mekah, beliau langsung thawaf qudum, kemudian bershalat di belakang Maqam Ibrahim, minum air zam-zam, kemudian langsung melaksanakan sa`i. Setelah itu, beliau bersama rombongan, menuju ke arah Timur kota Mekah (sekitar 2 km), dan berkemah di tempat yang namanya Abthah. Dalam kemah itulah beliau menghabiskan waktu selama 5 (lima) hari, sampai hari ke delapan Dzulhijjah. Selama Rasulullah menginap di kemah itu, beliau bersama rombongan tidak pernah melakukan thawaf lagi (thawaf sunat) dan tidak pernah pula bershalat di Masjid Haram. Bahkan shalat lima waktu yang dilakukan Rasulullah SAW di Abthah bersama para sahabatnya adalah shalat jama` dan qashar.

Ketika wukuf di Arafah, beliau bershalat zhuhur sekaligus ashar dengan jama`-qashar taqdim. Demikian pula ketika bertolak ke Muzdhalifah, beliau bersama rombongan bershalat Maghrib sekaligus Isya dengan jama`-qashar ta`khir. Tetapi ketika melewatkan malam-malam tasyriq di Mina, beliau hanya mengqashar shalatnya tanpa menjama`.

Demikian itulah Rasulullah SAW memberi contoh kemudahan dalam menunaikan haji, tidak seperti sekarang, semakin lama terasa semakin sulit. Kita mulai dari sikap beliau yang tidak pernah kembali ke Masjidil Haram, baik untuk thawaf sunat maupun untuk shalat jama`ah, dan hanya tinggal di perkemahan Abthah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada keharusan bagi jamaah haji untuk bershalat jama`ah fardhu di Masjidil Haram selama dalam masa penantian menuju ke Arafah, begitupun sesudahnya.

Sehubungan dengan ini, riwayat yang menyatakan shalat di Masjidil Haram itu sama nilainya dengan seratus ribu kali shalat di masjid lain, itu hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang tidak menunaikan haji. Adapun bagi mereka yang berhaji, Rasulullah SAW memberi contoh seperti di atas yang dipraktikkan sendiri bersama sahabat-sahabat yang ikut berhaji wada’ ketika itu. Andai kata hadits itu ditujukan untuk jamaah haji, maka tentu beliau bersama sahabatnyalah yang pertama-tama melakukannya, namun ternyata beliau tidak pernah lakukan sama sekali.

Demikian pula tradisi beliau mengqashar (meringkas) shalatnya selama di Abthah, kemudian di Arafah, di Muzdhalifah dan di Mina, menunjukkan bahwa tidak ada keharusan melakukan shalat secara normal (secara azimah) selama jamaah haji berada di tanah suci. Begitulah sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk mempermudah umatnya menunaikan haji. Akan halnya mengenai shalat arba`in (empat puluh shalat jama`ah) di Masjid Nabawi di Madinah, juga tidak kuat dasarnya. Tak ada dalam kitab hadits-hadits shahih. Dengan adanya shalat arba`in itu, maka anjuran berziarah ke Madinah bergeser dari tujuan utama menziarahi maqam Rasul SAW ke tradisi shalat arba`in tadi. Padahal, hikmah utama perjalanan berhaji ke tanah suci ialah ke Mekah untuk thawaf di sekitar Baitullah di Masjidil Haram dan wukuf di Arafah, sedang ke Madinah untuk menziarahi maqam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi.

Rupanya shalat arba`in ini hanya populer di kalangan jamaah haji Indonesia. Hal ini boleh jadi ada kaitan historis dengan sistem perjalanan haji Indonesia, yang dahulu masih menggunakan kapal laut, menyebabkan adanya masa tunggu yang cukup lama di Mekah menjelang pulang ke tanah air. Maka, untuk mengurangi kejenuhan, mereka diarahkan untuk ke Madinah tinggal selama sembilan atau sepuluh hari, dengan anjuran bershalat jamaah arbain tersebut. Hal ini tentu saja tidak relevan lagi dengan sistem perjalanan haji sekarang, yang menggunakan pesawat udara, bahkan dengan ONH Plus, ada perusahaan yang menawarkan perjalanan haji singkat, dan hanya tinggal di Madinah selama tiga hari saja, bahkan ada yang sehari atau sama sekali tidak ke Madinah lagi.

Uraian di atas bukanlah bermaksud sengaja memudah-mudahkan haji, tetapi semata-mata ingin menunjukkan sunnah Rasulullah SAW sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi semakin sulitnya keadaan berhaji dari tahun ke tahun. Sekaitan dengan ini ada baiknya penulis kutip pendapat Ahmad Abdul Ghafur `Aththar, sebagai berikut:

“Raslulah SAW melakukan apa yang sudah disebutkan itu, yakni tinggal di Abthah dan tidak pernah ke Masjid Haram untuk thawaf dan shalat, merupakan petunjuk adanya rasa sayang Rasulullah pada umatnya, dan sebagai bukti pemberian kemudahan bagi mereka, dan anjuran untuk menjauhi kesulitan (masyaqqah) dan beban berat dari mereka.”   (Selanjutnya ia menambahkan bahwa): “Tetapi para jamaah yang berhaji di baitullah di masjidil al-haram, pada zaman kita sekarang, memaksakan dan mempersulit diri mereka, sampai pada batas-batas timbulnya keadaan saling menyakiti dan menyusahkan, hal mana disebabkan adanya nafsu besar untuk berthawaf dan bershalat di Masjid Haram. Padahal, ribuan jamaah haji yang berthawaf siang dan malam itu tidaklah seluruhnya menunaikan thawaf wajib (qudum atau thawaf umrah), tetapi hanya sekedar thawaf sunat atau sekedar tahyatul masjid; maka salah satu haknya orang-orang yang menunaikan thawaf wajib, ialah agar para jamaah yang berthawaf sunat itu meninggalkan thawaf sunatnya, karena mereka (orang yang berthawaf wajib) lebih berhak dan lebih utama melakukan thawaf, dan bagi mereka semua hendaknya mencontoh Rasululah SAW” (Lihat Ahmad Abdul Ghafur `Aththar, dalam bukunya Ahkam al-Hajj wa al-`Umrati min Hijjati al-Nabiyyi wa Umarih, (Makkah al-Mukarramah: 1990 – hal. 64.)

Mencontoh Rasulullah adalah lebih utama ketimbang mempersulit ibadah.   Tidak semua ibadah yang sulit direstui Allah dan memperoleh pahala besar.   Ingat, dalam Shahih Al-Bukhariy, kisah seorang sahabat yang ingin beribadah hanya karena dorongan semangat yang meluap-luap. Mendengar hebatnya ibadah Rasulullah, salah seorang dari sahabat menyatakan ingin bershalat malam terus menerus dan tidak akan tidur; seorang lagi berkata: aku ingin puasa terus menerus dan tak berbuka; dan yang terakhir berkata: aku ingin beribadah terus menerus dan tidak akan kawin selamanya. Apa tanggapan Rasulullah? Beliau justru menasehati mereka agar tidak meneruskan keinginan itu; beliau pun lalu menegaskan bahwa aku bershalat dan juga tidur, aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku beribadah dan juga kawin, lalu di akhir haditsnya Rasulullah menegaskan: barang siapa yang enggan mengikuti sunahku, maka bukanlah dari golonganku”. Jadi, orang yang beribadah hanya karena modal semangat tanpa kearifan, bukanlah dari golongan pengikut Nabi SAW, na`udzu bllah.

Jutaan manusia bertarauh fisik dalam thawaf di Masjididl Haram

HAJI MABRUR ITU INDAH (Bagian 1)

Haji Mabrur, Rahmat untuk Manusia (1)

Oleh: Prof.Dr. H. Hamka Haq, MA
Akhlak Mulia, itulah Rahmat Haji

Ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang hanya sekali diwajibkan atas Muslim seumur hidup; ibadah haji yang keduakali dan seterusnya hukumnya hanyalah sunat. Hal ini dipahami dari firman Allah:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Dan Allah mewajibkan haji atas manusia (Muslim), bagi yang mampu menunaikannya”  (Q.S.Ali `Imran [3]; 97).

Hal tersebut diperkuat lagi dengan Sunnah Nabi SAW, bahwa beliau berhaji hanya satu kali selama era kerasulan dan kenabiannya, yaitu keika menunaikan haji wada (haji perpisahan) pada tahun 10 H.

Haji diwajibkan hanya satu kali, merupakan rahmat bagi kaum Muslimin untuk tidak menyuitkan mereka.  Sebab, pelaksanaannya sangatlah berat dan sulit, mulai dari soal biaya, fasilitas dan pelayanan selama dalam perjalanan ke tanah suci sampai kembali ke tanah air, tidak semua orang dapat memperoleh atau menjalaninya dengan mudah, apalagi jika diwajibkan setiap tahun.

Tetapi di balik dari kesulitan itu, ibadah haji sangatlah istimewa karena ia merupakan rukun Islam yang terakhir, yang menjadi simbol kesempurnaan akhlak seseorang. Itu artinya, seseroang yang sudah menunaikan haji, apalagi jika hajinya berpredikat mabrur, niscaya ia beribadah shalat, zakat dan puasa disertai akhlak mulia yang merupakan rahmat bagi sesamanya. Adalah bertentangan dengan roh syariah jika seorang Muslim telah berhaji, tapi tidak mengamalkan ibadah pokok lainnya, apalagi jika akhlaknya semakin bobrok. Sama halnya, termasuk pelanggaran roh syariah, jika seorang Muslim hanya mengutamakan haji sunat berkali-kali dengan menghabiskan sekian banyak biaya, tanpa peduli pada pentingnya sarana sosial, ibadah, bantuan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ekonomi dan pemeliharaan anak-anak terlantar dan miskin di sekitarnya.

Memang, banyak orang berusaha keras meraih kesalehan pribadi dengan memperbanyak ibadah haji, tapi kososng dari rahmat kemaslahatan untuk sesamanya. Tidak sedikit di antara mereka, berkali-kali berhaji dengan niat mensucikan diri, bertobat kepada Tuhan di hadapan Ka`bah, namun sekembali dari berhaji, kembali pula melanjutkan dosa lamanya sebagai koruptor, provokator, ataupun kejahatan lain. Mereka hanya memperalat haji sebagai topeng kesalehan. Jangan berharap hajinya mabrur dan tobatnya dikabulkan oleh Allah SWT, selama tetap merampas hak dan menyakiti hati warga sekitarnya. Bahkan kadang kita menyaksikan, akhlak-akhlak tak terpuji itu pun masih terjadi di sela-sela pelaksanaan haji di tanah suci.   Orang berlomba dan saling memarahi, menyakiti dalam putaran thawaf, saling sikut menyikut berebut tempat sholat; apakah haji seperti ini mabrur, padahal Al-Quran sendiri melarangnya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Musim haji dalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatkan untuk mengerjarakan haji maka tidak boleh rafats, tidak boleh fasik dan tidak boleh beebantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji.” (Q.S. Al-Baqarah: 198).

Maka pantaslah jika sekian banyak orang berhaji, tapi rahmat hajinya tidak dirasakan oleh masyarakat.

Maka, adalah tidak tepat jika kualitas keislaman itu diukur dari haji-tidaknya seseorang. Sebab jika haji menjadi barometer keislaman, maka bagaimana nasib berjuta-juta bahkan beratus juta umat Islam yang miskin yang berakhlak mulia dan memberi kemaslahatan, tapi belum berhaji? Apakah mereka mengalami diskrminiasi religius, dianggap rendah Islam-nya lantaran mereka bernasib miskin dan tidak bisa berhadji, walaupun akhlaknya mulia?. Karena itu, tidak tepatlah jika derajat keislaman diukur dari haji-tidaknya seseorang, tapi seharusnya diukur dari nilai taqwanya (akhlaknya) masing-masing. Tuhan sendiri berfirman: “Bertaqwalah kamu sesuai dengan kemampuanmu” (Q.S.al-Taghabun [64]: 16). Puncak-puncak derajat taqwa yang tertinggi dapat saja dicapai oleh sang miskin, dengan akhlak mulia, dengan menunaikan secara maksimal ibadah dan muamalah bermanfaat yang disanggupinya, meskipun ia tidak sempat berhaji. Berbeda dengan orang yang memang dianugerahi kemampuan ekonomi, kesehatan dan kesempatan untuk berhaji, tanggung jawabnya untuk bertaqwa harus dipenuhinya dengan menunaikan ibadah haji yang membuahkan akhlak mulia itu, tanpa melupakan kewajiban sosialnya kepada masyarakat.

Taqwa sebagai tujuan akhir dari keislaman haruslah bertolak dari iman yang benar. Karenanya ibadah haji tidak boleh lepas dari landasan iman sebagai sumber rahmat itu. Namun, seringkali orang tergelincir, mengira keislamannya sudah sempurna setelah berhaji, padahal justru ia menghancurkan imannya tanpa sadar. Misalnya, ada paham di tengah masyarakat tertentu bahwa segala sesuatu yang ada di tanah suci Mekah adalah otomatis suci pula, sampai membiarkan busananya kumuh tidak memenuhi syarat kesehatan, sebab diyakini tetap suci dan sehat. Orang seperti ini jelas mengalami buta akidah dan buta soal kesehatan dirinya. Hajinya pun tidak akan mabrur, malah menjadi haji mardud (tertolak) atas kemusyrikan dan kebodohannya, sehingga hajinya tidak memberi rahmat bagi dirinya sendiri.

Tindakan yang tak kalah cerobohnya ialah memaksakan diri melakukan hal-hal di luar syariat haji. Mereka tidak tahu membedakan antara amaliah haji yang wajib dan yang sunat.   Bahkan sesuatu yang tak disyariatkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, justru dianggap wajib sehingga ia mengutamakannya ketimbang manasik rukun haji sendiri. Contoh konkret ialah mencium hajar aswad yang disunnahkan Rasulullah SAW, hanya sebagai rangkaian dari thawaf. Bagi yang tidak mampu mencium langsung, dianjurkan mencium jarak jauh, dengan cara menghadap ke arah hajar aswad sambil mengangkat tangan. Adapun mencium hajar aswad yang tidak dirangkaikan dengan thawaf, bukanlah perbuatan yang disyariatkan. Bahkan jika perbuatan semacam itu dapat membahayakan fisik, hukumnya menjadi makruh, dan jika mengancam jiwa maka hukumnya menjadi haram. Tetapi, banyak orang yang merasa hajinya tidak afdhol jika tidak berhasil mencium hajar aswad secara langsung, yang kadang mengancam jiwanya sendiri. Ini betul-betul suatu kebutaan hukum ibadah yang melanda sebahagian jemaah kita,sehingga hajinya tidak jadi rahmat tapi jadi mudhorat.

Dua contoh di atas, satu kebutaan akidah dan satu lagi kebutaan ibadah harus diatasi sebagai tanggung jawab bersama oleh para ulama, ustadz dan mubaligh Islam. Sebab, jika terus dibiarkan maka ibadah haji bukannya membawa rahmah melainkan membawa mudharat, padahal kita membutuhkan syariah yang rahmah untuk pribadi dan masyarakat. Saatnyalah kita mensosialisasikan konsep istitha`ah (kemampuan menunaikan haji) yang selama ini terbatas pada fisik dan biaya, harus dilengkapi pula dengan kemampuan memahami akidah, ibadah dan akhlak secara benar. Wallahu A’lam bil-showabi.

Hotel Zamzam Pullman, Makkah 14 Agustus 2018.

 

DARI SAUDI, AKU LIHAT ISLAM NUSANTARA

DARI SAUDI, AKU LIHAT ISLAM NUSANTARA

Oeh: Prof.Dr. H. Hamk Haq, MA.

Alhamdulillah, Jumat kemarin, 9 Aagustus 2018, penulis sempat sholat Jumat di Masjid Nabawi Madinah Al-Munawwarah. Sebenarnya saya sudah beberapa kali beroleh anugerah ke Tanah Suci dan sholat di masjid ini, tapi baru kali ini tergarak hati untuk mngungkapkan apa terjadi di tanah suci sejak dahulu kala, sejak zaman Rasulullah SAW. Bahwa setiap menjelang sholat, di Masjid Nabawi Madinah dan Masjid Haram Mekah, tidak ada lantunan sholawat dan tilawah Qur’an melalui loudspeaker masjid. Hanya di Indonesia, hampir semua masjid memutar CD atau kaset sholawat dan tilawah Qur’an menjelang sholat. Mengapa berbeda dengan Saudi Arabiyah, tempat lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW, pembawa risalah Islam?

Materi khotbahnya menyangkut iman, jihad, haji dan keharusan mengikuti Nabi 100 % dalam soal ibadah. Maka terlintas pula dalam pikiran penulis, bahwa khotbah di tanah air selama ini berbahasa lokal, tidak lagi sepenuhnya ikut pada khotbah Nabi yang berbahasa Arab, padahal khotbah itu adalah ibadah. Keberanian ulama di tanah air untuk berbahasa lokal dalam berkhotbah, tidak lagi sepenuhnya berbahasa Arab, dan membiarkan sholawat dan tilawah Al-Quran menjelang adzan, pastilah merupakan wujud Islam khas Indonesia.

Pikiran penulis pun langsung tertuju mengenai Islam Nusantara yang sedang hangat di tanah air. Mungkin kejadian di tanah air seperti khotbah dalam bahasa Indonesia dan daerah, sholawat dan tilawah menjelang adzan, yang semuanya tak ada di Timur-Tengah merupakan contoh konkret Islam Nusantara. Tegasnya “Islam Nusantara”, adalah pengamalan Islam di tanah air yang sudah menyerap budaya dan kebiasaan lokal Nusantara dan menjadikannya sebagai instrument Islamisasi untuk masyarakat Indonesia.

Jadi untuk mengetahui substansi Islam Nusantara tidak bisa dengan menganilisis kata per kata. Misal dengan mengatakan: Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT, dan Nusantara adalah Indonesia, maka Islam Nusantara berarti Islam yang diturunkan di Indonesia; lalu bertanya siapa Nabi-Nya?, ini kan konyol. Pantaslah analisis sesat itu, ujung-ujungnya adalah mengkafirkan Islam Nusantara.  Sama khilafnya jika kita mencari apa arti “batu merah” dengan menganalisis kata “batu” dan “merah”, lalu berkesimpulan bahwa “batu merah” ialah batu yang dicat merah; lalu bertanya siapa yang mengecatnya.  Padahal batu merah adalah batu bata untuk bangunan.

Sisi Lain Penerapan Islam Nusantara

Sisi-sisi lain yang lebih memperjelas adanya Islam Nusantara antara lain berikut. Perhatikan sisi demografisnya yang sangat majemuk. Di daerah tertentu dalam satu keluarga kadang terdapat perbedaan agama, apalagi dalam skala lebih luas, pluralitas agama, suku, budaya dan bahasa semakin jelas.   Karena itu, untuk merawat rasa kebersamaan dan rasa persaudaraannya, mereka punya tradisi saling menghargai dan menghormati, tidak saling merendahkan budaya, tidak pula saling mengkafirkan agama dan keyakinan. Pokoknya mereka tidak punya budaya saling menghina, justru mereka merajut kerukunannya untuk hidup bahagia bersama. Agaknya berbeda dengan kondisi di sebahagian negeri Arab Muslim, yang terang-terangan mengkafirkan non Muslim, dan terang-terangan merendahan mazhab dan aliran lainnya, kalau perlu mereka bawa dalam konflik perang fisik, seperti yang kita saksikan sekarang perang saudara yang tiada henti di Timur Tengah.   Bukan Islam nya yang membuat mereka berperang, tetapi budaya dan tempramennya yang dibalut atas nama Islam.

Sejak dahulu masyarakat Nusantara bersifat komunal, berkelompok, mengatasi persoalan hidupnya secara guyuban dan gotong-royong. Untuk memudahkan berkumpul di pendopo misalnya, atau di balai ronda, mereka gunakan alat komunikasi kentongan yang sangat efektif. Ketika mereka terima Islam, instrumen menyeru jamaah ke masjid atau menandai waktu sholat, tidak cukup dengan azan saja. Mereka kemudian menggunakan bedug di Masjid sebagai alat komunikasi efektif seperti efektifnya kentongan itu. Yakinlah, bedug ini mustahil ditemukan di masjid-masjid di negeri Arab Muslim, karena memang bedug betul-betul khas Muslim Indonesia, sementara di kalangan Muslim Arab bedug itu bid’ah dholalah, masuk neraka.

Tradisi komunal lebih jelas lagi pada acara pesta panen, yang dahulu sebelum menerima Islam, hasil tanaman dipersembahkan ke dewa alam, dewa langit, air dan tanah. Sekarang diubah menjadi tradisi syukuran, dengan nama “selamatan” full dengan doa dan dzikir keislaman. Mereka menginovasi menjadi pesta Islami, berupa kenduri, makan bersama yang diawali dengan Bismillah, diisi dengan sholawat pada Nabi SAW dan dzikir pada Allah SWT. Usai selamatan, masing-masing membawa pulang sebungkus barokah.   Lagi-lagi tradisi ini tidak ada di tanah Arab, bahkan dilaknat sebagai bid’ah dholalah, penghuni neraka. Namun itulah budaya Nusantara, Islam datang menggantikan keyakinan lama, tetapi budayanya tetap dipertahankan menjadi media penyiaran Islam dan perekat kebersamaan umat dan kerukunan warga.

Tradisi saling menghargai dapat juga dilihat pada bahasa pergaulannya. Misal di Jawa penjual sayur atau bakso saja disapa dengan “Mas”. Di Makassar, penjual ikan dan sayur atau tukang becak disapa dengan “Daeng”, sebagai penghargaan. Di Maluku, kepala desa dan lurah disapa dengan Bapak Raja. Di era perjuangan revolusi juga umumnya begitu, mereka menyapa para pejuang dengan “Bung”, misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo dan seterusnya. Seperti itulah, umat Islam Nusantara, ketika menyebut nama Nabi Muhammad SAW, tidak tega menyebut polos “Muhammad” saja, tanpa gelar penghormatan “Sayidina”. Maka lidah Muslim Nusantara pun sudah terbiasa menyebut: “Sayidina Muhammad SAW”.

Pokoknya umat Islam Indonesia tetap memelihara nilai leluhurnya. sepanjang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariat.   Perhatikan misalnya ungkapan masyarakat Minang: “Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”. Betulkah adat syar’i Minang sama persis dengan adat syar’i bangsa Arab? Jelas tidak, sebab di kalangan Minang prinsip “matrilineal” dalam keluarga masih sangat kuat, bahwa keturunan diambil dari garis nasab Ibu, dan penguasaan harta jatuh ke pangkuan sang prempuan, bukan pada kaum laki-laki (bapak). Bahkan masih ada di kalangan mereka tradisi melamar perkawinan datang dari pihak perempuan, bukan dari pihak laki-laki, kemudian kepada laki-laki diberi “uang jemputan” sebagai “mahar”.  Adat tersebut sangat bertentangan 100 % dengan budaya “patrilineal” masyarakat Arab. Jadi betul-betul penerapan keislaman antara Arab dan Minang memang beda, walaupun hakikat Islam-nya tetap satu, sumbernya satu, sama-sama dari Al-Quran dan Sunnah Rasululah SAW.

Lebih unik lagi di wilayah lain, kedengarannya aneh tapi nyata di masyarakat Islam Sasak Lombok.   Cara melamar perkawinan sangat unik.   Orang tua perempuan merasa terhina jika anak perempuannya dilamar baik-baik di kediamanya.   Tradisi mereka, anak perempuan harus dilarikan dan disembunyikan oleh laki-laki, tanpa setahu seorangpun keluarga perempuan. Sesudah berhasil “menculik”, pihak laki-laki harus memberitahu keluarga sang perempuan yang diculiknya. Jika keluarga perempuan mengakui puterinya itu “hilang”, maka proses pelamaran dan pernikahan pun berlangsung. Keluarga perempuan mendambakan menantu yang perkasa, berani melarikan anak gadisnya tanpa ketahuan oleh siapapun. Seratus persen, adat kesatria macam ini tidak ditemukan di negeri Arab Muslim, hanya ada di suku Sasak, yang adalah Muslim Nusantara.

Sistem perkawinan Sasak yang Indogam, bahwa harus kawin dengan sesama sukunya, adalah keunikan tersendiri. Warga Sasak yang kawin dengan suku lain, tidak boleh tinggal dalam komunitasnya lagi, ia harus keluar ikut komunitas keluarga istri atau suaminya. Sebaliknya, masyarakat Batak justru menganut sistem eksogam yang tak kalah uniknya pula. Kawin dengan sesama marga sangatlah tabu, sehingga setiap warga Batak harus mencari pasangannya dari marga lain.   Tradisi perkawinan indogam Sasak dan eksogam Batak ini, haqqul yaqin tidak ditemukan dikalangan Muslim Arab, karena memang dua sistem itu khas Nusantara, yang sampai sekarang tetap dipertahankan di tengah ketaatan mereka menganut Islam.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh konkret lain, tapi hal-hal tersebut sudah cukup menjadi bukti kekhususan (khashaish) keislaman Indonesia, yang lazim disebut Islam Nusantara. Intinya bahwa Islam Nusantara adalah pembumian Islam di kalangan masyarakat Indonesia yang persuasif, lemah-lembut, mengakomodir budaya asli Nusantara dan menjadikannya sebagai media amalan dan penyiaran Islam, serta menyapa masyarakat plural dengan rahmatan lil-alamin”. Singkatnya, Islam Nusantara ialah Islam Rahmatan lil-alamin yang berbaju Budaya Nusantara.

Namun, bagaimana pun Islam di seantero dunia tetaplah satu, baik di Arab maupun di Indonesia, dan di mana pun jua, hakikat dan sumbernya tetap satu. Perbedaan yang terjadi hanya dalam soal metode penerapan dan penyiarannya, sesuai dengan perbedaan demografi, geografi dan budaya masing-masing negeri.  Wallahu A’lam bi al-Showabi.

ASPEK HUKUM PENGUNAAN DANA HAJI

ASPEK HUKUM PENGUNAAN DANA HAJI

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

            Akhir-akhir ini soal dana haji ramai diperbincangan, kaitannya dengan rencana pemerintah memanfaatkan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur. Terlepas dari kaitan politik kaum oposisi, mari kita membahasnya dari sisi hukum Islam, apakah dana biaya perjalanan haji (disingat dana haji) itu dapat (halal) ditransaksikan menurut hukum Islam untuk pembiayaan pembangunan infrastrukur?

Dalam Al-Qur`an, terdapat ayat tentang ibadah haji dalam kaitannya dengan aktifitas (transaksi) ekonomi.   Surah Al-Baqarah ayat 198: “lays ‘alaykum junah an tabtaghu fadhl min Rabbikum, faidza `afadhtum in ‘arafat, fa`dzkuru `llah ‘inda ‘lmasy’ari ‘lharam…” (Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia (rezki) dari Tuhanmu; maka apalabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirkan kepada Allah di Masy’arilharam….). Dalam Tafsir Al-Qurthubiy Juz 2 halaman 413, dijelaskan bahwa yang dimaksud mencari karunia (fadhl), dalam ayat ini ialah kegiatan bisnis (tijarah). Dari sini dapat dipahami bahwa orang yang sedang berhaji di zaman Nabi SAW dibolehkan melakukan kegiatan bisnis, untuk menambah nafkah hidupnya, sepanjang tidak mengganggu ibadah hajinya itu.   Al-Qurthuby kemudian mengutip hadits riwayat Bukhari (Shahih Bukhari Juz 4 hal. 1642, hadits nomer 4247) yang berbunyi: “Kana Ukkazh wa Majnah, wa dzu al-majaz aswaq fi al-jahiliyyah, fataatstsamuw an yattajiruw fi al-mawasim, fanazalat: lays ‘alaikum junah an tabtaghu fadhl min Rabbikum fi mawasim al-hajj” (Adalah dahulu Ukkazh, Majnah, dan Dzul Majaz, merupakan pusat-pusat bisnis zaman Jahiliyah, lalu mereka merasa berdosa jika berdagang pada musim haji, maka turunlah ayat: Tiada dosa atasmu untuk mencari karunia (rezki) dari Tuhanmu pada musim haji”).

Sebenarnya, transaksi keuangan yang bernama setoran dana haji itu tidak pernah ada di zaman Nabi SAW dan Sahabat.   Hal itu karena di zaman dahulu, orang menunaikan haji dengan inisitatif dan bekal sendiri, berangkat dari kampung halaman ke tanah suci dan kembali lagi ke tanah airnya semua atas urusan dan bekal sendiri. Mereka tidak mengenal travel atau badan usaha dan lembaga pemberangkatan haji. Maka dalam buku-buku fikih klasik, transaksi keuangan di zaman Nabi dan Sahabat hanyalah hanya meliputi antara lain: jual beli (buyu’), utang-piutang (al-qardh / al-dayn), titipan atau (wadhi’ah), upah (ijarah), hadiah (hibah), tidak ada pembahasan mengenai setoran dana haji.

Karena itu, untuk mengetahui hukum mentransaksikan (tasharruf) dana haji itu perlu pembahasan dengan memakai kaedah Fikih atau Ushul Fikih, dan kaeda-kaedah Tafsir yang sudah masyhur. Untuk hal ini kita bisa mengunnakan qiyas (analogi), mafhum muwafaqah (pemahaman affirmative) dan mafhum mukhalafah (pemahaman kontrari).

Dari ayat Al-Baqarah 198 yang dikutip di atas, dipahami bahwa jamaah haji di zaman Rasulullah SAW dibolehkan berdagang untuk menambah nafkah dan bekalnya sendiri, sepanjang tidak menghalangi pelaksanaan ibadah hajinya. Maka apakah “dana haji” di zaman modern ini, khususnya di Indonesia yang juga merupakan persiapan bekal (ongkos) jamaah haji yang ditangani pemerintah dapat ditransaksikan untuk kegiatan muamalah bisnis, investasi, atau biaya pembangunan lainnya?. Mari dianalisis sebagai berikut.

Kita coba menganalogikan dengan metode qiyas, seperti apa gerangan “setoran dana haji” itu jika diukur dari bentuk-bentuk transaksi yang pernah ada di zaman Nabi SAW dan Sahabat?.   Dapatkah dikatakan sebagai titipan (wadhi’ah)?. Dana haji bukanlah titipan atau tabungan (wadhi’ah), sebab sang penyetor tidak berharap menerima kembali uang setorannya, tetapi ia berharap untuk diberangkatkan berhaji. Mungkin ia lebih dekat ke model buyu’ (jual-beli), walaupun tidak sepenuhnya sama dengan jual-beli biasa, karena setoran dana haji tidak membeli apa-apa, berupa benda yang konkret. Namun di satu sisi ada kesamaan dengan jual-beli bertangguh, walau yang dibeli itu bukan benda tetapi “jasa peberangkatan” untuk berhaji, yang diperoleh tidak secara kontan (seketika) tetapi menunggu waktu yang ditentukan pada saat transaksi. Di satu sisi, uang setoran pun belum mencukupi harga sebenarnya untuk jasa “pemberangkatan” berhaji, maka terjadilan utang-piutang antara calon jamaah (penyetor dana haji) dan pemerintah yang bertindak sebagai pihak penyedia “jasa pemberangkatan” jamaah. Utang-piutang itu berupa tanggung jawab pemerintah untuk menyiapkan “jasa pemberangkatan” dan tanggug jawab jamaah (penyetor dana haji) untuk melunasi pembayarannya kemudian.

Untuk mudah memahami, contoh konkret sebagai berikut. Bahwa seorang yang akan berangkat ke Amerika dengan menggunakan jasa travel. Ia telah membeli tiket, namun sesuai perjanjiannya ia tidak berangkat seketika, tetapi akan berangkat sebulan kemudian.   Dalam hal ini, nasabah travel tersebut otomatis tidak lagi berhak pada uang yang telah disetorkan ke travel, tetapi ia memperoleh hak imbalan untuk “berangkat ke Amerika”. Ini artinya hak kepemilikan “uang tiket” yang disetor tidak lagi di tangan nasabah, karena nasabah telah memperoleh hak baru yakni “pemberangkatan” ke Amerika.   Karena itu, kepemilikan “uang tiket” itu jatuh ke tangan travel, dan pihak travel berhak sepenuhnya mentransaksikan uang setoran dari nasabahnya, disertai tanggung jawab untuk memberangkatkan nasabahnya sebulan kemudian.

Dengan memakai analogi qiyas dari ushul fikih dan contoh sederhana di atas, maka dapat dipastikan bahwa seorang calon jamaah haji, ketika menyetorkan dana haji ke pemerintah, dengan niat untuk haji, maka secara otomatis calon haji tersebut telah memperoleh “hak berangkat menunaikan haji”.   Dengan demikian hak kepemilikan atas “dana haji” yang disetorkan, lepas dari tangannya, jatuh ke tangan pengelola jasa pemberangkatan berhaji, yakni Pemerintah, disertai tanggung jawab untuk memberangkatkan calon haji yang berangkutan. Sebagai konsekuensi, maka selama ini setiap calon jamaah haji diminta menandatangani “wakalah”, yakni pernyataan penyerahan hak pengelolaan dana haji itu ke Pemerintah.

Jika analisis qiyas (analogi) dan contoh sederhana di atas, dilengkapi dengan metode mafhum muwafaqah (pemahaman affirmatif), atau juga sering disebut qiyas awla, maka dapat dipahami bahwa orang yang sedang melaksanakan ritual haji saja di tanah suci dibolehkan berbisnis guna menambah nafkah dan bekal hajinya, sepanjang tidak mengganggu ibadah hajinya, apatah lagi jika hal itu dilakukan di tanah air, oleh orang yang tidak sedang dalam ritual haji, tentu akan lebih-lebih dibolehkan. Dengan catatan, pemerintah tetap akan menunaikan tanggung jawabnya untuk memberangkatkan jamaah.

Di sisi lain, jika “dana haji” itu dianalogikan dengan utang-piutang, yang harus dibukukan dengan rapi, maka hukum mentransaksikannya ditambah kajian sebagai berikut. Coba simak dulu Al-Baqarah, ayat 282, yang merupakan ayat yang terpanjang dalam A,-Qur’an. Penulis kutip potongannya saja sebagai berikut yang berbunyi: “Ya ayyuha ‘lladzina amanu idza tadayantum bi dayn ila ajal musamma fa’ktubuh, walyaktub baynakum katib bi’l’adl wa la ya`b katib an yaktub kama allamah ‘Llah falyaktub walyumlil ‘lladzi ‘alayh al-haqq walyattaq ‘Llah Rabbah wa la yabkhas minh syay’ “ (.Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya).

Di penghujung ayat ini terdapat peringatan agar pihak yang berutang tidak mengurangi nilai utangnya (wa la yabkhas minh syay’). Maksudnya agar pihak yang berhutang tidak menzholimi pihak pemiutang. Menurut metode mafhum mukhalafah, maka ayat itu memberi pengertian bahwa pihak yang berhutang dinilai afdhal jika jika berbuat maslahat kepada pihak pemiutang, ketimbang berbuat zholim. Karena itu, tindakan positif apapun oleh Sang Pengutang dapat dibenarkan, asal saja mengandung maslahat bagi pemiutang (penyetor uang), apalagi jika sama-sama memperoleh maslahat antara keduanya.

Kesimpulannya, baik dari pemahaman Al-Baqarah: 198 maupun pemahaman Al-Baqarah:282, semua membuka peluang bolehnya mentransaksikan “dana haji” untuk kermaslahatan bangsa yang di dalamnya umat Islam adalah mayoritas`. Hal ini dibenarkan jika benar-benar pemerintah tetap bertanggung jawab untuk memberangkatkan penyetor dana haji itu ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Dan lebih afdhal lagi, jika imbalan dari transaksi dana haji itu dapat membebaskan jamaah haji dari beban pelunasan biaya haji pada saat pemberangkatan. Semua tugas luhur tersebut akan dikelola oleh lembaga baru yang dibentuk Pemerintah bersama DPR RI yaitu Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berdatsarkan Undang–Undang No.34 tahun 2014 (sejak era SBY). BPKH inilah yang menerima mandat dari calon jamaah haji selaku Muwakkil untuk menerima dan mengelola dana haji  Wallahu a’lam bi al-showabi.  

MASALAH HAJI DAN SOLUSINYA (2)

MASALAH HAJI DAN SOLUSINYA (2)

Oleh: Prof.Dr.H. Hamka Haq, MA

Ketiga, Masalah Sholat Arbain.  Selama ini berlaku anggapan bahwa setiap jamaah haji harus bersholat jamaah di Madinah sebanyak 40 kali (arbain) sebelum ke Makkah bagi jamaah gelombang pertama, dan sesudah berhaji di Makkah bagi jamaah gelombang kedua.  Sebenarnya “arbain” ini sah-sah saja bagi jamaah yang sehat dan mampu melaksanakannya, bahkan lebih dari itu pun tidak masalah.  Yang menjadi masalah, jika “arbain” itu dianggap keharusan atau dianggap sebagai rangkaian haji dan umrah, sehingga semua jamaah memaksakan dirinya untuk “arbain” walaupun kurang sehat, sehingga nanti kesehatannya semakin buruk dan jatuh sakit.  Tiada kaitan “arbain” dengan haji dan umrah, sehingga hanya jamaah Indonesia saja yang melakukan seperti itu.    Sejarah “arbain” dimulai ketika jamaah haji Indonesia masih menggunakan kapal laut, yang proses pergi-pulang sekitar empat bulan.  Mereka biasanya tinggal di Madinah sekitar 15 s.d. 20 hari menunggu keberangkatan ke Mekah atau menunggu pemulangan ke tanah air.  Untuk mengurangi kejenuhan jamaah, maka Syekh (sekarang Maktab) sangat bijaksana menghimbau mereka bersholat jamaah di Masjid Nabawi, minimal 40 kali, ketimbang mereka berkeliaran dan hanya sibuk belanja.  Mereka tidak sulit melaksanakan itu, karena cukup dengan dua kali atau tiga kali saja ke Masjid Nabawi, mereka bisa mencukupi 40 kali sholat jamaah.    Sangat beda dengan keadaan sekarang, yang proses perjaanan haji hanya sekitar 40 hari, sehingga masa unggu di Madinah maksimal 8 (delapan) hari, yang berdampak pada keharusan jamaah untuk sholat jamaah di Masjid Nabawi full day selama delapan hari tanpa alpa sedikitpun.  Akibatna jamaah tidak punya waktu istirahat cukup, karena semua waktu habis untuk pergi pulang ke masjid, bahkan yang kurang kuat, harus menghabiskan separuh waktu di masjid, ketimbang pulang ke pemondokan.  Misalnya ia ke masjid Nbawi untuk sholat zhuhur, terus menunggu waktu ashar, maghrib dan isya sekalian, guna menghindari  repotnya pergi pulang antara masjid dan pemondokan.  Mereka yang merasa kuat tetap saja pergi pulang antara masjid dan pemondokannya lima kali sehari, yang walaupun lelah namun tdak merasa karena tingginya semangat beribadah.  Sementara yang memilih tinggal di masjid dikhawatirkan mngalami kekuragan gizi akibat keterlambatan makan siang atau mngkin tidak makan siang lagi, karena tinggal di masjid seharian.

Jadi untuk menjaga kesehatan dan kekuatan jamaah secara prima, kebiasaan “arbain” hendaknya tidak menjadi doktrin keharusan.  Ckup dibiarkan saja sesuai kemampuan jamaah masing-masig tanpa mengintimidasi atau menakut-nakuti bahwa haji dan umarhnya tidak sah atau tidak afdhol jika tidak cukup “arbain”.

Keempat, Masalah Miqat.  Miqat artinya waktu efektif berlakunya ritual (nusuk) untuk haji dan umrah, baik dari segi waktu itu sendiri (miqat zamani) maupun dari segi tempat memulai (miqat makani).  Yang sering menjadi krusial adalah miqat makani, yaitu tempat berihram di Bi`ir Ali bagi jamaah gelombang pertama yang langsung ke Madinah dan Bandara King Abdul Aziz Jeddah bagi jamaah gelombang kedua yang langsung ke Mekah.  Selama ini, miqat makani dipahami sebagai batas awal mulainya niat dan ihram, padahal miqat tersebut dimaksudkan sebagai batas awal terlasananya ritual (nusuk) haji dan umrah.  Aadapun niat, miqat adalah batas akhir berniat, artinya jamaah diharuskan berniat dan berihram selambat-lambatnya ketika sampai miqat itu, artinya jamaah boleh saja berniat dan berihram sebelum sampai ke miqat itu.   Jadi, niat dan ihram yang dilakukan oleh sebahagian jamaah, sejak dari hotelnya di kota Madinah itu sudah sah niat ihramnya, dan sudah tidak boleh lagi melakukan hal-hal yang dilarang dalam ibadah haji dan umrah.  Soal apakah mereka sempat atau idak lagi mampir di miqat Bi`ir Ali, niat haji atau umrahnya tetap dipandang sah, karena mereka dalam keadaan niat ketika melewati Bi`ir Ali.

Kelima, persoalan Mina Jadid.  Mina Jadid adalah wilayah yang tadinya masih di luar Mina asli, namun karena jumlah jamaah yang semakin banyak, sudah diperkirakan mencapai 4 (empat) jutaan yang mustahil dapat tertampung di Mina asli, maka Ulama Saudi menfatwakan bolehnya memperluas wilayah Mina dengan membangun perkemahan di wilayah baru yang disebut Mina Jadid (Mina Baru).   Sebenarnya persoalan seperti ini sudah ada sejak awal tahun 1980-an, yakni ketika jamaah Indonesia ditempatkan di luar Mina asli, yaitu di Haratullisan, yang ada di balik gunung Mina, dan menuju ke sana harus melalui terowongan.  Mulanya sebagian ulama kita menolak, karena memandang bukan Mina lagi, dan jamaah yang bermalam di sana pada masa pelontaran jamrah, otomatis wajib bayar dam.   Pada tahun 1993, MUI Sulawesi Selaan mengadakan mudzakarah menyangkut Haratullisan itu.  Seorang ulama besar sesepuh ulama Seul-Sel, AGH  Muhammad Abduh Pabbaja, memberi fatwa singkat dan pamungkas.  Kata beliau: Mina ka al-rahimi, idza Dhaqa ittasa`a  (Mina itu seperti rahim, jika sempit pasti akan menjadi luas).  Artinya Haratullisan itu dianggap sebagai perluasan wilayah yang otomatis masuk wilayah Mina, dan para jamaah tidak wajib bayar dam.  Saya yakin, fatwa Pabbaja tersebut dapat menjadi rujukan solusi kasus Mina Jadid ini, agar sekarang para jamaah yakin untuk menginap di sana, tnpa harus bayar dam lagi, karena Mina Jadid adalah sudah menjadi wilayah Mina.

Untuk memperkuat pandangan tersebut, penulis ingin menunjukkan bahwa sekarang lokasi-lokasi ibadah yang penting sudah mengalami perluasan.  Ada yang diperluas secara vertikal, seperti tempat sa`iy dan thowaf yang kini sudah berlantai tiga, dan ada yang diperluas horisontal seperti Mina dan menyusul bukit Arafah.  Kalau semua jamaah sudah merasa sah thowaf dan sa`iy di lantai dua dan tiga di Masjidil Haram, maka seharusnya harus merasa sah untuk menginap di Haratullisan dan Mina Jadid.   Wallahu a`lam bi al-showab.

 

MASALAH HAJI DAN SOLUSINYA (1)

MASALAH HAJI DAN SOLUSINYA

Oleh: Prof. Dr.H. Hamka Haq, MA

Dalam pemantauan haji tahun ini (2016) ada sejumlah masalah yang harus dicari solsinya.  Antara lain adalah kasus paspor dan visa palsu, kasus badal haji, masalah sholat jamaah empat puluh kali (arbain) di Madinah, masala Miqat dan masalah Mina Jadid.  Berikut ini kita coba jelaskan.

Pertama: Kasus Paspor dan Visa palsu.  Perlu diketahui bahwa  perkembangan zaman membawa perubahan makna syarat wajib haji.  Misalnya syarat wajib haji adalah istithoah (kemampuan).   Dahulu, para fuqaha sepakat bahwa istithoah adalah bermakna kemampuan biaya perjalanan, bekal dan biaya hidup keluarga yang ditinggal.   Mengapa? Karena faktor utama yang menentukan perjalanan waktu itu adalah ongkos perjalanan, maka dimaknai bahwa titik utama istithoah (kemampuan) adalah kemampuan membiayai perjalanan.   Di zaman moderen, muncul faktor baru yang paling menentukan perjanalan itu, yakni paspor dan visa.   Sebesar apapun dana itu, tidak punya arti apa-apa jika tidak memperoleh paspor dan visa.  Dengan demikian,paspor dan visa menjadi bahagian terpenting dari istithoah, menggeser posisi dana.  Jika seseorang akan menunaikan haji, wajib menyiapkan dana yang halal, maka otomatis ia pun wajib menyiapkan paspor dan visa yang halal. Dengan kata lain, ber-haji dengan paspor palsu dan visa palsu membuat hajinya terlaksana dengan usaha yang tidak halal, karena mencuri hak-haknya negara.   Dalam hadits dari Abu Hurairah, riwayat Al-Bazzar dan Thabrani dalam kitab Majma` al-Zawaid, disebutkan bahwa, orang yang berhaji dengan usaha yang tidak halal, ketika ia berhaji dan membaca Labbaik Allahumma Labbaik, maka jawaban dari Malaikat dari langit: La Labbaik laka, wa la sa`dayka, kasbuka ha ram, wa zaduka haram, warahilatuka haram, irji` ma`juran wa absyir bima yasu’uka (Malaikat memnyeru dari langit: Tidak ada labbaik bagum dan tiada salam baagia untukmu, usaha mu untuk haji haram, bekalmu haram, perjalananmu haram; kembalilah dengan ongkos kerugianmu, dan gembiralah dengan keburukan yang menimpamu”). Jadi barang siapa yang naik haji degan sengaja membuat paspor dan visa palsu, berdasarkan hadits tersebut, hajinya tidak diterima oleh Allah SWT.  Paspor dan visa adalah dokumen yang dibuat sebagai hak-hak negara, sehingga memalsukan dokumen sama halnya mencuri hak-hak negara.

Kedua, Kasus Badal Haji. Akhir-ahir ini Kementerian Agama menerapkan kebijakan badal haji untuk jemaah haji yang wafat di Saudi sebelum sempat menunaikan haji, yaitu dengan membiayai seseorang untuk melakanakan hajinya, dengan maksud jamaah haji yang wafat itu akan mendapatkan pahala haji.  Seingat saya kebijakan pernah ada kebijakan sebelumnya (era 1990an ke bawah), yang asngat bagus, pro rakyat, yakni mengembalikan ongkos haji (BPIH) yang bersangkutan dan dapat digantikan oleh ahli warisnya pada tahun berikutnya.  Kebijakan itu sangat pro rakyat, karena pengmbalian biaya haji itu dipandang sebagai “santunan” yang dapat digunakan oleh ahli waris untuk nik haji tahun berikutnya..  Sementara itu, badal haji bagi yang wafat, sama sekali tidak punya dalil syariat, bahkan bertentangan dengan syariat Islam.  Dalam Al-Qur’an Surah Al-Nisa, ayat 100 jelas-jelas menyebut bahwa orang yang wafat dalam perjalanan (hijrah) untuk menunaikan ajaran Allah dan Rasulnya nisaya telah disiapkan pahala oleh Allah SWT, dngn kata lain, tidak perlu badal lagi.  Badal seperti itu hanya buang-buang ongkos tanpa manfaat sama sekali.   Jadi, kita berharap agar Kementerian Agama kembali pada kebijakan lama dengan mengembalikan ongkos haji (BPIH) ke ali waris jamaah haji yang wafat di tanah suci sebelummenunaikan haji, dan meninggalkan kebjakan badal yang menyesatkan dan merugikan umat. Wallahu A`lam bi al-Showab

(bersambung ke bagian dua).

 

MASJID RUMAH KETENANGAN DAN KEDAMAIAN

Menyikapi Peristiwa Tanjung Balai (29-30 Juli 2016), maka artikel berikut (14 Juli 2015) diposting kembali dengan tambahan pada bagian akhir tulisan, mengingat isinya sangat aktual dan relevan, sbb.:

Sehubungan dengan adanya pernyataan Bapa HM Jusuf Kallah Wakil Presiden RI soal perlunya mengurangi durasi dan volume suara pengajian dari corong (load speaker) masjid beberapa waktu yang lalu, maka penulis akan menurunkan kutipan dai Buku ISLAM RAHMAH untuk BANGSA,  karya Prof. DR. Hamka Haq, MA, terbit I, 2009 dan terbit II, 2015, sebagai dukungan atas pernyataan beliau,

MASJID, RUMAH KETENANGAN DAN KEDAMAIAN

Masjid adalah rumah ibadah Islam, untuk keperluan shalat jamaah khususnya shalat Jum’at, sebab tanpa masjid shalat Jum`at tak mungkin terlaksana dengan baik. Masjid adalah rumah ibadah yang multi dimensional, tidak hanya untuk shalat, tetapi juga untuk persoalan duniawi dan kemanusiaan. Ia menjadi tempat bermusyawarah bagi umat, dan tempat berdialog antara rakyat dan pemimpin. Itulah hikmahnya, sehingga ketika berhijrah, Nabi Muhammad SAW membangun sebuah masjid di Quba sebelum memasuki kota Yatsrib (Madinah).

Sebagai rumah ibadah, Masjid terbuka untuk semua Muslim, tanpa mengenal perbedaan suku, kebangsaan, bahasa dan adat istiadat, dan strata sosialnya, bahkan tidak mengenal aliran-aliran. Fungsi tersebut jauh lebih penting dari bangunan masjid itu sendiri. Oleh karenanya, anjuran untuk membangun masjid adalah lebih ditujukan pada berfungsinya masjid sebagai pemersatu umat untuk kedamaian. ([1]Lihat dalam Al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy Juz’ VIII, h. 253-254; keterangan di bawah ayat Q.S. al-Tawbah (9): 107 dan 108.)

Masjid yang sengaja dibangun untuk memecah belah umat, disebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid dhirar, karena orang yang membangunnya bermaksud untuk menciptakan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan perpecahan antara orang-orang mu’min” (alladzina ‘ttakhadzu masjida(n) dhirara, wa kufra wa tafriqa bayn al-mu’mininQ.S.al-Tawbah, [9]: 107).

Ayat tersebut turun menyangkut Bani Ghanam yang mendirikan masjid baru untuk menandingi saudara-saudara mereka dari Banu Amr yang telah mensyiarkan masjid Quba. Berdirinya masjid Bani Ghanam jelas akan mengurangi jamaah masjid Quba, sebagai bentuk persaingan tidak sehat. Ketika Rasulullah bersiap memenuhi undangan Banu Ghanam itu, turunlah ayat di atas sebagai teguran. Ayat tersebut menilai masjid Bani Ghanam sebagai masjid dhirar, yang bertujuan untuk memecah belah umat. Rasulullah SAW pun lalu memerintahkan sahabat-sahabatnya (Malik bin Dahsyam Cs) untuk segera meruntuhkan dan membakar masjid itu dengan bersabda: “inthaliqu ila hadza al-masjidi al-zhalimi ahluhu faahdimuhu wa ahriquhu” (Pergilah kalian ke masjid yang penghuninya zalim ini, hancurkan dan bakarlah masjid itu – Tafsir al-Qurthubiy)).

Berdasarkan itulah, sebahagian besar ulama termasuk Imam Malik dan Al-Syafi`iy tidak membenarkan adanya dua masjid dalam satu kampung yang penduduknya masih satu jamaah. Bahkan mereka tidak membenarkan ada dua jamaah yang berbeda dalam satu masjid dengan masing-masing imam yang berbeda pula. Maka dalam suatu kota, diharuskan hanya ada satu masjid untuk shalat Jum`at, kecuali jika kapasitasnya sudah tidak dapat menampung semua jamaah, maka perlu dibangun masjid baru, sepanjang tidak mengganggu masjid yang pertama tadi. Larangan untuk bershalat dalam suatu Masjid yang dapat mengakibatkan perpecahan adalah ayat berikut:

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu bershalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih (Q.S. Al-Tawbah [9]: 108 ).

Dalam hadits riwayat Bukhari juga dijelaskan bahwa sebenarnya, jika hanya untuk keperluan beribadah saja, bukan untuk persatuan, maka Rasulullah SAW tidak akan membangun masjid. Hal ini karena semua tempat di muka bumi dapat menjadi ruang untuk beribadah. Beliau menyatakan bahwa salah satu keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya, ialah dijadikannya muka bumi sebagai masjid (tempat bersujud), sebagai sabdanya: “wa jui`lat liy al-ardh masjida(n) wa thahura, wa ayuuma rajuli(n) min ummatiy adrakathu al-shalatu falyushalli”(Dan dijadikan bagiku muka bumi sebagai masjid dan alat bersuci, maka di manapun seseorang dari umatku tiba waktu shalat, hendaklah ia bershalat – Shahih al-Bukhariy, Juz I, h. 128.).

Persaudaraan yang terbina dari masjid tidak terbatas hanya untuk sesama Muslim, tetapi juga dengan umat agama lain. Karena itu, suasana ketenangan di dalam dan sekitar masjid harus terpelihara sehingga betul-betul mencerminkan rasa damai untuk semua.

Demi kekhusyukan beribadah, maka setiap orang dituntut menjaga ketenangan di dalam masjid; tidak dibolehkan mengeraskan suara karena dapat mengganggu keheningan ibadah orang lain. Bahkan membaca ayat-ayat Al-Qur’an pun dengan suara keras juga dilarang, karena dapat menimbulkan gangguan.   Salah satu hadits dari Ibn Umar riwayat Imam Ahmad, menyebut bahwa suatu ketika Rasulullah mendapati sahabatnya melakukan shalat dengan suara keras dalam masjid. Maka Rasulullah menegur: “Jangan sebahagian kamu mengeraskan (mengganggu) sebahagian lainnya dengan bacaan (Al-Qur’an) dalam shalat” (wa la yajhar ba`dhukum `an ba`dh bi ‘l-qiraah fi al-shalah). Lihat dalam Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, (Juz 2, h. 36 & 67. Teks hadits ini dikutip pula secara lengkap oleh Sayyid Sabiq, dalam Fiqh al-Sunnah, Jilid I, h. 221).

Dari sumber yang sama, diriwayatkan oleh Abu Sa`id al-Khudriy, bahwa ketika Rasulullah SAW beritikaf dalam masjid, beliau mendengar sahabat-sahabatnya membaca Al-Qur’an dengan suara keras, maka beliau pun membuka tabirnya dan menegur dengan bersabda: “Ketahuilah bahwa setiap kamu bermunajat kepada Tuhannya, maka janganlah sebahagian kamu mengganggu yang lainnya dan janganlah sebahagian kamu meninggikan suaranya atas yang lainnya ketika membaca Al-Qur’an”. (lihat pada sumber yang bsama)

Adalah pesan moral yang maha penting dari kandungan riwayat-riwayat di atas, yakni kita perlu mengatur ulang, kalau tidak menghentikan sama sekali, tradisi mengeraskan suara pengajian Al-Qur’an yang saling bersahutan lewat menara–menara masjid setiap menjelang waktu shalat. Setidaknya perlu dicari solusinya, sehingga masjid menjadi rumah ibadah yang rahmatan lil-alamin, tidak saling mengganggu, dan tidak juga mengganggu ketenangan dan kemaslahatan hidup orang-orang di sekitarnya, termasuk mereka yang beragama lain.

Sebenarnya, cara membaca Al-Qur’an dan berdoa yang dianjurkan syariah ialah dengan suara yang lembut, bukan suara yang keras, dan tidak harus didengar oleh semua orang apalagi mengganggu orang lain.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55) وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56)

Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(55) Dan janganlah kamu merusak (mengganggu) di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (bertakwa)) penuh harapan (kepada-Nya). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (Q.S.al-A`raf [7]: 55-56).

Hal tersebut penulis kemukakan karena tradisi pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an melalui corong menara masjid menjelang shalat itu sebenarnya tidak bersumber dari tradisi Rasulullah dan shahabat. Kebiasaan tersebut lahir belakangan sebagai tradisi baru di Indonesia, yang seharusnya disesuaikan pula dengan tatakrama kultur keindonesiaan secara umum.

Bangun Komunikasi Saling Menghargai

Dalam setahun ini, ada dua peristiwa menyangkut rumah ibadah di negeri ini telah mencoreng luhurnya keramah-tamahan bangsa Indonesia, yakni peristiwa pembakaran Masjid di Tolikara Papua (2015) dan pembakaan Vihara atau Kelenteng di Tanjung Balai Sumatera (2016). Peristiwa tersebut dan semacamnya tidak akan pernah terjadi andai kata masing-masing umat beragama membangun komunikasi yang ramah dan saling menghargai.   Persoalan pengeras suara yang mengganggu, dan tidak sesuai dengan nilai Islam rahmah,  sebenarnya dapat dikomuniasikan dengan baik, duduk bersama dalam Forum Kerjasama Umat Beragama (FKUB), bukan dengan jalan langsung bertindak dan merusak. Tindakan merusak rumah ibadah mencerminkan buruknya komunikasi di kalangan umat beragama, padahal semua persoalan dapat diselesaikan dengan aman dan nyaman sekiranya para petinggi umat beragama setempat duduk bersama menyelesaikan semua persoalan dengan lembut tanpa kekerasan.

Sama halnya juga di Tanjung Balai, peristiwa pembakaran Vihara menjadi bukti buruknya hubungan antar-umat beragama setempat. Dalam situasi yang buruk itu, meskipun tampak adem ayem, terseimpan rasa tak senang dan kecurigaan yang sangat peka. Dalam suasana seperti itu, sebuah niat baik memberi teguran terhadap kerasnya suara adzan di masjid, karuan saja justru dijawab dengan amarah. Amarah itu pun semakin melua-luap jika terhembus angin hasutan lewat medsos. Buruknya komunikasi itu menunjukkan kinerja FKUB selama ini hanya seremonial tingkat tinggi, tidak tersosialisasi di kalangan umat. Kementerian agama dan seluruh pihak yang terkait juga tampaknya melepas tanggung jawab, semua diserahkannya ke FKUB yang tidak berakar itu.   Wallahu a’lam bi al-shawab.

AL-QUR`AN DAN TAHUN BARU MASIHI

AL-QUR`AN DAN TAHUN BARU MASIHI

Oleh: Prof.Dr. Hamka Haq, MA

Coba perhatikan, sungguh menakjubkan, menurut hitungan ahli tafsir, kata “yaum” (يوم – hari) dalam Al-Qur`an tersebut sebanyak 365 kali.  Itu adalah isyarat bahwa Al-Qur`an merekomendasikan penggunaan kalender Syamsiyah (mata hari), untuk kehidupan muamalah duniawi sehari-hari.  Kalender tersebut sudah digunakan sejak zaman Yunani kuno, denga jumlah 12 bulan (Januari -Desember) dan sebanyak 356 hari,  yang kemudian dikonversi jadi Tahun Masihi oleh kaum Kristen.  Sedang utk urusan ibadah ritual kita gunakan kalender Qamariyah dengan jumlah 12 bulan (Muharram – Dzulhijjah) sebanyak 354 hari.  Dinamai Qamariyah karena berdasar pada perhitungan peredaran qamar (bulan), yang sudh digunakan ribuan tahun di Jazirah Arab, India dan China sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW kemudian dikonversi jadi Tahun Hijriyah pd zaman Khalifah Umar RA.

Jadi kedua kalender itu Syamsiyah dan Qamariyah semua ciptaan Allah swt,  Sebagaimana Al-Qur`an menyebutkan dalam Surah Al-an’am ayat 96:

(فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ)

“Dia menyinsingkan pagi dan menjadikan malam utk istrahat, dan menjadikan matahari dan bulan utk perhitungan. Itulah taqdir Allah yg Mahamulia dan Maha mengetahui.”

Jadi ternyata memag sudah sangat pas untuk kehidupan duniawi sehari-hari kita gunakan kalender Syamsiah (sekarang bernama kalender Masihi), bukan Qamariyah. Sebab, kalender Syamsiyah tidak rumit, tidak perlu hisab – ru’yah.  Bagi sebahagian masyarakat, misalnya PNS dan TNI  POLRI, gajian tiap bulan tidak perlu menunggu hisab atau ru’yah dulu baru gaian.  Penanggalan Syamsiyah tdk pernah diperselisihkan dan sudah dapat ditentukan hitungannya bahkan sampai ratusan tahun kemudian, berbeda dengan kalender Qamariyah (Hijriyah) yang setiap tahun harus direvisi berdasarkan perbedaan hisab  ru`yah.  Itulah hikmahnya mengapa Al Quran mengisyaratkan penggunaan kalender Syamsiyah yg jumlah harinya 365 hari.  Subhanallah!

Sebagai tambahan penjelasan, tahun syamsiyah, dikenal sebagai Tahun Romawi.   Setelah sekian kali mengalami perubahan dan penyempurnaan, sistem penanggalan tersebut kemudian dikenal sebagai Kalender Julian (Julian Calender), yakni sejak Julius Caesar mengukuhkannya sebagai kalender resmi kekaisaran Romawi pada tahun 45 SM, dengan menetapkan bulan Januari sebagai awal tahun baru.  Kalender Julian ini berlaku pula sekian lama secara umum di Eropa dan Afrika Utara sejak zaman Imperium Romawi hingga abad XVI M.  Nanti pada abad XVI, tepatnya tahun 1582 kalender Julian dimodifikasi lagi untuk ditetapkan sebagai kalender resmi di kalangan Kristen yang dikukuhkan oleh Paus Gregory XIII.

Mengenai tanggal 1 Januari sebagai awal tahun, bangsa Romawi telah menetapkannya sejak tahun 153 SM (Sebelum Masehi), yang diikuti kemudian oleh Julius Caesar.  Ketika Paus Gregory XIII mengadopsi kalender Julian menjadi kalender Kristen, maka ia pun tetap menjadikan 1 Januari sebagai awal tahun baru.  Sebahagian kaum Kristen sebenarnya keberatan menjadikan tanggal 1 Janurai sebagai awal tahun, dan ingin menggantinya dengan tanggal 25 Desember, sebahagian lagi dengan tanggal 25 Maret.  Bahkan pada mulanya tradisi Gereja Bizantine dan sejumlah aliran ortodoks memakai kalender peribadatan liturgi (liturgical Year) yang menetapkan tanggal 1 September sebagai awal tahun baru.

Terlepas dari itu semua, yang jelas bahwa kelender yang digunakan oleh kaum Kristen sekarang adalah kalender Romawi, bukan kalender yang murni lahir dari nubuwatan Kristiani, melainkan lahir dari peradaban Romawi.  Karena itu, komunitas manusia di negeri mana pun dapat menerapkan kalender tersebut tanpa menghubungkannya dengan agama Kristen.  Umat Islam juga telah menggunakannya, tanpa harus dihantui benturan keyakinan antara Islam dan Kristen.  Syariah Islam memberi peluang (menghalalkan) untuk menerapkannya dalam kepentingan kehidupan Muslim global.  Karena itu, jika umat Islam merayakan 1 Januari sebagai tahun baru, dilihat dari sudut pandang syariah, adalah halal (sah-sah) saja.  Hal ini berarti kita turut bersama masyarakat internasional memakai kalender Romawi yang telah disepakati dunia sebagai sistem penanggalan dunia moderen.   Wa `Llahu a`lam bi al-shawab.

 

MASJID SEBAGAI PUSAT PANCARAN ISLAM RAHMAH

Prof/ Hamka Haq sebagai Khotib Idul Fitri 1436 H. di Masjid Al Markaz Makassar

Prof/ Hamka Haq sebagai Khotib Idul Fitri 1436 H. di Masjid Al Markaz Makassar

Disari dari Khutbah Idil Fitri 1436 di Masjid Al-Markaz al-Islami Makassar

Oleh Prof.Dr.Hamka Haq, MA

MASJID SEBAGAI PUSAT PAANCARAN ISLAM RAHMAH

Bahwa tujuan filosofis didirikannya masjid Al-Markaz Makassar tahun 1994 ialah keinginan para pendiri untuk mengamalkan Islam Rahmatan lil-alamin melalui masjid sebagai pusat ibadan dan muamalah.   Bahwa Islam datang ke Indonesia adalah untuk memperbaiki akhlak bangsa, tanpa meninggalkan budaya asli leluhur yang positif.  Itu sebabnya model masjid Al-Markaz tetap mengambil tradisi bangunan di Indonesia, tidak memakai kubah model Timur Tengah.  Dan ketika masjid mulai difungsikan 1996, disepakati masjid ini harus ramah lingkungan sosial, dalam arti ibadah berjalan tanpa ada gangguan terhadap mereka yang bukan Muslim.  Maka pengajian setiap menjelang sholat dibatasi paling lama tujuh menit dan harus dibaca oleh manusia, bukan memutar kaset.

Lebih penting lagi diingat bahwa di Masjid Al-Markaz inilah dasar-dasar perdamaian lintas agama, dirumuskan sampai melahirkan Forum Antar Umat Beragama (FAUB) sebagai respon terhadap pecahnya konflik SARA di Maluku dan Poso. Forum inilah yang merupakan embrio terbentuknya FKUB di seluruh Indonesia. Masih segar dalam ingatan, Bapak Jusuf Kalla berssama Ketua MUI Sul-Sel Guruutta H.Sanusi Baco, dan Prof Dr. Hamka Haq, selaku Sekretaris, mengundang para pemimpin agama lain untuk membentuk forum tersebut, seperti halnya ketika Rasululah SAW menerima sejumlah kaum Kristen Najran bertamu di Masjid Nabawi di Madinah (Tafsir Al-Qurtubiy Juz 4 hal. 4 dan 5).  Langkah tersebut adalah bertolak dari keinginan mengamalkan Islam sebagai kasih sayang bagi alam semesta, yang merupakan inti risalah Nabi kita Muhammad SAW seperti  ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿الأنبياء: ١٠٧﴾

Dan tidaklah Kami mengutus engkau Muhammad, kecuali rahmat untuk alam semesta (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107)

Dalam kaitannya dengan kehidupan bangsa, Islam Rahmah harus tercermin dalam segenap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan menuju cita-cita kemerdekaan. Seperti terlihat, sisa-sisa penjajahan masih tampak di mana-mana; masih banyak yang susah mencari makan, bahkan mati kelaparan; masih banyak yang susah menyekolahkan anak-anaknya, menderita sakit tanpa biaya pengobatan; susah memperoleh perlindungan keamanan dan keadilan, dan lain-lain sebagainya.   Dalam hal inilah terasa perlunya kasih sayang antara satu dengan lainnya, semacam dialektika sosial, yakni ada golongan yang kuat yang harus mengasihi, dan ada golongan lemah (mustadh`afin) yang harus dikasihi.  Artinya, mereka para pemimpin, orang kaya, ilmuwan, atau kelompok yang mayoritas, haruslah mengasihi golongan lemah, yakni rakyat kecil, orang miskin, orang yang tak berpendidikan, dan yang tak berdaya karena minoritas.

Tanpa rahmah (kasih sayang), persaingan hidup semakin terasa kejam. Banyak orang yang kesejahteraan dan keamanannya terancam, bahkan dirampas oleh orang-orang kuat, sehingga membutuhkan jaminan hidup dan perlindungan dari negara, memerlukan belas-kasih dari kta semua. Sungguh kejam kehidupan suatu bangsa jika masyarakat lemah, kaum fakir-miskin, anak-anak terlantar, dibiarkan hidup tertindis dan tertindas. Alangkah tragisnya jika warga pencari keadilan tidak memperoleh hak-haknya, bahkan dirampas oleh mafia pengadilan yang korup.  Mereka tidak punya tempat mengadu, selain kepada Allah SWT. Mungkin saja malapetaka yang selama ini melanda bangsa kita adalah akibat ratap tangis orang-orang terzalimi itu, sesuai peringatan dari Nabi SAW:

واتق دعوة المظلوم  فإنه ليس بينه وبين الله حجاب

Takutlah kamu pada doanya orang yang dizalimi, karena antara dia degan Tuhan tiada batas yang mengantarai”

Menghadapi persoalan=persoalan bangsa seperti disebutkan tadi, sebenarnya dapat diatasi dengan mudah jika kita dapat memancarkan Islam Rahmah (akhlak karimah) dalam kehidupan bermasyarakat.  Nilai-nilai Islam berupa kedisiplinan, kejujuran, kasih sayang dan juga kebersihan (thaharah) sangat relevan untuk mengatasi sejumlah persoalan bangsa tersebut.

Ibadah sholat, puasa, zakat dan haji semua mengajaran nilai kedisiplinan, namun kedisipilinan itu belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan muamalah.  Di lapisan atas misalnya, pejabat-pejabat melanggar sumpah jabatan, melakukan korupsi di tengah kehidupan rakyat yang susah.  Masyarakat lapisan bawah pun banyak yang berperilaku tak disiplin; banyak kecelakaan terjadi akibat ketidak-disipilinan berlalu lintas, pencurian aliran listrik, penggunaan bahu jalan untuk berjualan dan merusak fasilitas umum.   Ditambah lagi rendahnya budaya kebersihan di kalangan umat kita. Kebiasaan membuang sampah sembarangan di jalan ataupun di kali tanpa memikir akibatnya, menunjukkan rendahnya kedisiplinan dan belum terhayatinya nilai kebersihan yang diajarkan Islam.

Soal rendahnya budaya bersih, tidak hanya tampak di rumah-rumah, tetapi juga di gedung-gedung fasilitas umum termasuk masjid dan musholla.  Tidak hanya di Indonesia, kebiasaan buruk itu juga mash terdapat di sejumlah negara Islam.  Mungkin anda pernah berkunjung ke Masjid Imam Syafi`i di Mesir (2003), toiletnya sangat jorok tidak mencerminkan ajaran Imam Syafi`iy tentang thaharah (kebersihan).  Demikian pula betapa menjijikkannya toilet masjid dan mosholla tempat persinggahan jamaah haji dari  Jeddah ke Madinah.   Pada hal kita umat Islam yakin bahwa Allah swt mencintai orang-orang bersih, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴿٢٢٢﴾

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang membersihkan diri (bersuci)”

Keadaan tersebut di atas sangat kontras dengan wajah toilet di halte persinggahan antarkota di Cina (Tiongkok) dan Amerika yang pernah kita saksikan. Betapa bersihnya dan betapa tertib orang-orang yang memakainya.  Serasa kita tidak ada di ruang pembuangan najis, tetapi tempat melepas lelah yang menyenangkan, sesuai dengan namanya tertulis rest room.

Dalam hubungan sesama manusia, segenap ibadah juga bernilai untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan kebersamaan baik dalam skala kecil keluarga maupun dalam skala yang seluas-luasnya untuk masyarakat.   Namun, hubungan kasih-sayang itu seakan sirna, berganti dengan sikap egois untuk menang sendiri dan berniat menyingkirkan yang lainnya.   Keluarga mengalami konflik internal, bahkan sampai merenggut jiwa karena perebutan harta pusaka.  Pertemanan kadang berujung pada permusuhan karena soal-soal sepele, bercanda yang berujung kematian.  Di kalangan pejabat tinggi, terjadi pembunuhan karakter antara mitra kerja demi mengejar populeritas, merasa diri paling bersih dan yang lainnya harus ditenggelamkan.  Falsafah lokal orang Bugis, mali siparappe (saling menyelamatkan jika hanyut), rebba sipatokkong (saling menopang jika rebah), malilu sipakainge (saling mengingatkan jika khilaf), sudah terlupakan, kini berganti dengan “mali sisukkeang (saling mendorong dalam kehanyutan), rebba si lemme (saling mengubur jika rebah) , malilu sipakabeling-peling (saling menipu jika khilaf)”. 

Keadaan yang serba negatif tersebut berbanding terbalik dengan perilaku masyarakat di negeri-negeri Barat yang justru dipandang sekuler.  Walaupun paham sekuler tidak boleh ditiru, namun banyak hal positif dalam kebiasaan mereka sehari-hari patut diamalkan, karena sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang kita anut.

Penulis pernah mendamingi Tim Lintas Agama berkunjung ke beberapa negara Eropah, naik bis dari Belanda sampai Tahta Suci Vatikan, melewati Belgia, Swiss, Perancis dan Italia.  Kami saksikan betapa disiplinnya sopir bus kami, bernama Mooritz.   Ketika penulis mencoba membuka sendiri ruang bagasi untuk membantu teman-teman memasukkan koper-kopernya, ternyata dia keberatan dan marah. Dia minta semua koper itu dikeluarkan dan bagasi harus ditutup kembali, kemudian dia sendiri yang memasukkannya.  Alasannya sederhana, bahwa membuka bagasi dan menaikkan barang-barang itu menjadi tanggung jawabnya, dan dia tidak mau dinilai lalai dalam tugasnya.  Dan demi kebersihan, dia pun minta agar kami tidak memakan bekal di atas mobil. Namun dasar bangsa kita suka melanggar, ada saja yang makan bekal berlindung di balik  sandaran mobil.  Astaghfirullah.

Baru-baru ini (Juni 2015), penulis dan beberapa teman sempat berkunjungan ke Washington dan New York, dalam rangka studi perbandingan mengenai Undang-Undang Penyandang Cacad (disabilitas). Di sana pun kita belajar sebuah kedisiplinan, ketika kami diterima oleh Judith E. Heumann, Penasehat Khusus Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang menangani orang-orang disabilitas.  Bayangkan, meskipun dia pejabat tinggi, namun saat akan berfoto bersama, dia harus minta izin pada staf security.  Dia tidak serta merta menggunakan kekuasaan untuk langsung mengambil tempat tanpa izin stafnya sendiri.  Prinsipnya, semua berlaku sesuai aturan, karena mereka merasa sama di depan hukum dan aturan.

Akan halnya kejujuran, pernah saya menyaksikan sendiri, ketika menyertai Presiden ke V RI, Hj, Megawati Soekarnoputri ke Cina, menghadiri Nisham Forum, Seminar Internasional tentang ajaran Kong Hu Chu dan Agama-agama di Dunia (2010).  Salah seorang teman kami kehilangan bagasi, namun ahirnya bagasi (koper) itu dapat ditemukan kembali dengan utuh.  Sejumlah teman lain juga mengisahkan pengalaman yang sama, setidaknya yang mereka lihat di Jepang, Cina, Korea dan Austraiia misalnya.   Barang-barang yang biasa tercecer atau hilang di air port, atau di Mall dan tempat keramaian lainnya, asal dilaporkan ke polisi atau petugas security, pada umumnya dapat ditemukan ada kembali.   Sampai ada mengatakan barang-barang hilang di luar negeri bisa kembali ada, sebaliknya di Indonesia, barang-barang yang ada semua bisa hilang, padahal kita di sini hampir 90% menganut Islam.

Sisi lain dari rahmatan lil-‘alamin yang menjadi tanggung jawab pusat-pusat ibadah dan pendidikan ialah mewujudkan kehidupan bangsa yang aman dan nyaman secara nasional.   Umat Islam di seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke sama-sama membutuhkan kesejahteraan dan keamanan hidup bersama dengan umat agama lain.  Untuk mewujudkan rasa aman bagi segenap umat beragama di Indonesia tanpa membedakan kaum mayoritas atau minoroitas,  diperlukan tanggung jawab bersama untuk saling mengasihi sebagai sesama anak bangsa dalam rumah besar Indonesia Raya.

Perlakuan diskriminatif dan penganiayaan terhadap kelompok agama apapun, dapat memicu gesekan sosial yang berdampak luas bagi terganggunya stabilitas nasional.  Kondisi sosial yang seperti itu harusnya tidak terjadi jika semua umat beragama mengamalkan agamanya bahwa semua agama mengajarkan perdamaian, rahmah dan kasih sayang, bukan dengan arogan dan egoisme yang bisa menyulut konflik sosial.

Dengan cara seperti ini, unat Islam akan benar-benar menjadi sumber pancaran Islam Rahmatan lil-alamin untuk bangsa.   Allahu Akbar wa lillahi al-hamd.  ….   Merdrka.

Suasana Jamaah Lebaran di Masjid Al-Markaz al-Islami di Makassar

Suasana Jamaah Lebaran di Masjid Al-Markaz al-Islami di Makassar