EDARAN BAITUL MUSLIMIN INDONESIA TENTANG KLEBIADABAN ZIONIS ISRAEL

 

IMG_0001

EDARAN  PENGURUS PUSAT BAITUL MUSLIMIN INDONESIA

TENTANG KEBIADABAN ZIONIS ISRAEL TERHADAP MASYARAKAT SIPIL PALESTINA DI GAZA 

Kebiadaban Israel terhadap masyarakat sipil (perempuan dan anak-anak) Palestina yaitu dengan peluncuran pesawat-pesawat tempur Israel terhadap 430 target di Gaza yang merupakan bagian dari operasi militer Operation Protective Edge, dimulai dari selasa 8 Juli dini hari waktu setempat, telah menyebabkan 61 orang meninggal dan lebih dari 550 orang warga Palestina lainnya luka-luka.

Maka Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. PP Baitul Muslimin Indonesia mengutuk sekeras-kerasnya aksi kebiadaban Zionis Israel yang telah melakukan pemboman dan penembakan terhadap perempuan, anak-anak dan masyarakat sipil Palestina di Gaza. Karena aksi biadab tersebut nyata-nyata merupakan kejahatan kemanusiaan yang telah melanggar Hak-Hak Asasi Manusia dan hukum internasional lainnya. Oleh karenanya, Israel harus mendapatkan sanksi-sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  2. PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk selalu membela hak-hak rakyat Palestina, memberi bantuan dan senantiasa ikut pro-aktif dalam menciptakan perdamaian di Palestina.
  3. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau kepada lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, Organisasi Konferensi Islam (OKI), Liga Arab, dan lain-lainnya, untuk memberi tekanan yang mampu memaksa Israel agar menghormati dan menjunjung tinggi Hak-Hak Asasi bangsa Palestina untuk dapat melangsungkan hidup secara layak dan normal. Oleh karena itu PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada lembaga-lembaga internasional tersebut di atas untuk bersikap tegas dalam menerapkan hukum-hukum internasional, khususnya terhadap Israel, sambil mendesak kepada Israel dan Palestina untuk melanjutkan Perundingan Damai sesuai dengan Peta Jalan Damai yang telah dicanangkan oleh Presiden Palestina, almarhum Yasser Arafat..
  4.  PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak Mahkamah Internasional untuk segera mengadili pelaku Kejahatan Kemanusiaan (Israel) yang terjadi di Gaza.
  5. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau dan mendesak kepada Amerika Serikat agar menghentikan sikap ambivalen kebijakan luar negerinya, yang selama ini selalu mendukung pemerintahan Israel. Sikap ambivalen Amerika Serikat ini telah menjadi permasalahan krusial dunia internasional.
  6. PP Baitul Muslimin Indonesia menghimbau kepada OKI (Organisasi Konferensi Islam), negara-negara Islam khususnya dan dunia Islam pada umumnya untuk lebih meningkatkan ukhuwah Islamiyah, memperbarui serta mengokohkan visi dan misi, sesuai dengan nilai-nilai Islam, dalam rangka mencari penyelesaian konflik Palestina – Israel secara bermartabat.
  7. PP Baitul Muslimin Indonesia mendesak kepada dunia Islam untuk mengambil langkah-langkah efektif yang diperlukan untuk menyelamatkan Masjidil Aqsha dari bahaya kehancuran akibat ulah Israel.
  1. PP Baitul Muslimin Indonesia mengingatkan dan menyerukan kepada umat Islam bahwa :
  • a. Kebrutalan kaum Yahudi Israel terhadap kaum Muslimin di Jalur Gaza Palestina merupakan pembenaran terhadap kandungan Al-Qur’an bahwa: ”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.(Q.S.al-Ma’idah [5]:82)
  • b. Kebiadaban Yahudi terhadap masyarakat sipil Palestina menjadi momentum yang akan mampu mendorong umat Islam di seluruh dunia untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah menuju Izzul Islam Wal Muslimin.
  • c. Mengajak Umat Islam untuk mendo’akan para korban kebiadaban Yahudi Israel di Gaza Palestina, semoga segala amalnya diterima Allah SWT, dan tetap istiqomah serta tidak menyerah dalam melawan kebiadaban Zionis Yahudi Israel, serta melaksanakan doa qunut nazilah bagi kehancuran Zionis Yahudi Israel dan kemenangan bangsa Palestina.

Demikianlah surat keterangan pers ini dibuat. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak terutama kalangan pers yang sangat berperan dalam syiar tentang keadilan dan penegakan Hak-Hak Asasi Manusia. 

حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

Jakarta, 12 Ramadhan 1435 H / 10 Juli 2014 M

PENGURUS PUSAT

BAITUL MUSLIMIN INDONESIA

Masa Bakti 2010-2015

          Ketua Umum                                   Sekretaris Jenderal

                   Prof. Dr. HAMKA HAQ, MA           NURMANSYAH E. TANJUNG, SE

Advertisements

BANJIR, “BERKAH” UNTUK HIDUP KEBERSAMAAN

Foto: JakartaPost

Foto: JakartaPost

 

 

 

 

 

 

 

BANJIR, “BERKAH” UNTUK HIDUP KEBERSAMAAN

Oleh: Hamka Haq

Ibukota Jakarta mengalami BANJIR sepekan ini, maka saya tiba-tiba merenungkan ayat Tuhan:“Dan dari air KAMI jadikan segala yang hidup” (Al-Anbiya’:30), padahal kenyataannya Banjir adalah bencana yang mematikan.  Betapa banyak pemukiman terendam, infratruktur dan rumah rakyat jadi rusak.  Kegiatan perkantoran, pemerintah dan swasta pun menjadi lumpuh.  anehnya, di tengah-tengah meluapnya banjir itu pun terjadi kebakaran, astaghfirullah al-‘azhim.

Namun, dengan mengingat firman Allah SWT tersebut, Banjir di DKI Jakarta tidak harus berarti bencana saja, tapi juga ada hikmahnya, terutama yang tampak ialah terbangunnya kebersamaan kehidupan warga.  Perhatikan, hingar bingar petugas penanganan banjir, relawan, ormas dan prbadi yang turun membantu korban, semua melupakan perbedaan.  Tak ada suara lagi dari ormas tertentu yang biasanya cepat curiga, mengapa relawan umat lain membantu umatku?; tak ada curiga akan isu Kristenisasi?, atau pun Islamisasi?.

Banjir datang tidak mengenal agama dan etnis, semua terkena dampaknya.  Sekat-sekat rasialis agama dan etnis terlupakan, semua menjadi bungkam dan tidak laku.  Semua warga dengan latar belakang etnis, budaya dan agama membaur, senasib sepenanggungan, gotong royong.  Dan dalam pada itu ketahuan pula, siapa yang memang peduli umat, peduli bangsa di kala susah.  Siapa pula yang hanya pintar bicara umat, mengklaim berpihak pada umat, namun mereka tak hadir dalam suasana masyarakat membutuhkan bantuan makan, minum, selimut, bantal dan tikar.

Banjir ini adalah salah satu dari sekian “ayat2 Tuhan”, dan seolah2 Allah berfirman: AKU turunkan bencana ini agar kamu bersatu, dan mau lupakan peredaan agama dan etnismu. Fenomena “ayat” alam ini membungkam para pembuat fatwa, yang biasanya menjadikan perbedaan agama atau etnis dalam retorika perjuangannya.  Ayat alamiah Tuhan, berupa banjir ini menghalau semua fatwa rasialis yang biasanya mengharamkan kerjsama dengan umat yang beda agama dan atau etnisnya.  Fatwa2/retorika rasialis betul2 lumpuh, karena yang dibutuhkan masyarakat ialah makan, minum, bantal, selimut, & rumah: kesejahteraan, bukan fatwa.

Saya pun teringat pada tsunami di Aceh pada tahun 2004, yang membuat rakyat Aceh sadar bahwa untuk membangun kembali kehidupan mereka sebagai anak bangsa, tidak cukup jika hanya mengharap bantuan dari sesama Muslim.   Negara yang paling tanggap dan secepat meungkin memberi bantuan tenaga, teknologi dan logistik ketika itu ialah Australia, menyusul Jepang, dan lama kemudian barulah tiba bantuan uang dari Saudi Arabiah dan negara Timur-Tengah lainnya.  Rakyat Aceh, yang selama itu sangat sensitif menyangkut perbedaan agama, ternyata ketika dilanda tsunami, mereka tidak menaruh curiga terhadap kedatangan tenaga asing dan teknologinya dari negara non Muslim ke tengah-tengah mereka.  Tulisan ini hanya ingin membuktikan bahwa kehidupan dan peradaban dunia saat ini membutuhkan dan meniscayakan kerjasama kemanusiaan tanpa mengungkit-ungkit perbedaan agama dan ertnis.

Tsunami di Aceh dan Banjir berkali-kali di DKI Jakarta harus dipetik hikmahnya, agar jangan hanya membawa dan menyisakan derita yang berkepanjangan bagi anak-anak bangsa kita.  Sebesar apapun bencana dan tantangan hidup, akan mudah dihadapi dengan jalan gotong royong anak negeri, kerjasama kemanusiaan.  Dengan demikian tantangan bencana banjir menjadi peluang UNTUK HIDUP dalam kebersamaan.  Tapi sebesar apapun hikmah suatu bencana, umat manusia haruslah berdoa kepada Tuhan dan berharap untuk terhindar selalu dari bencana apapun, Amin.  Wallahu A’lam bi al-shawab.

ASAL-USUL TAHUN BARU KRISTEN DAN ISLAM

Adakah Tahun Baru Kristen dan Islam?

Oleh: Hamka Haq

Umat manusia pada umumnya mengenal dua macam sistem penanggalan (kalender), yakni kalender syamsiah (solar system) dan kalender qamariyah (lunar system).  Tahun syamsiyah dikenal sebagai Tahun Romawi, karena dipakai dan dipopulerkan beribu tahun oleh bangsa Romawi, dengan segala bentuk perubahan dan inovasinya, kemudian disebut sebagai Kalender Julian (Julian Calender), sejak Julius Caesar mengukuhkannya sebagai kalender resmi kekaisaran Romawi pada tahun 45 SM, dengan menetapkan bulan Januari sebagai awal tahun baru.  Kalender Julian ini berlaku pula sekian lama secara umum di Eropa dan Afrika Utara sejak zaman Imperium Romawi hingga abad XVI M.

Nanti pada abad XVI, tepatnya tahun 1582 kalender Julian dimodifikasi untuk ditetapkan sebagai kalender resmi di kalangan Kristen oleh Paus Gregory XIII, yang karenanya disebut pula Kalender Gregorian.  Awalnya diberlakukan secara umum oleh kaum Katholik di Italia, Spanyol, Portugal,  dan menyusul pula kemudian kaum Protestan.  Sesudah itu, berlaku pula di Inggeris dan segenap wilayah koloninya, termasuk Amerika, sejak tahun 1752.  Namun, Gereja Ortodoks di Palestina, Mesir, Rusia, Makedonia, Serbia, Georgia, Ukraina dan sebahagian Yunani, masih tetap memakai kalender Julian secara penuh, sehingga sampai sekarang hari lahir Yesus Kristus, tanggal 25 Desember (berdasarkan kalender Julian), adalah bertepatan dengan tanggal 7 Januari kalender Gregorian.

Tanggal 1 Januari sebagai awal tahun, ditetapkan oleh bangsa Romawi sejak tahun 153 SM (Sebelum Masehi), yang diikuti kemudian oleh Julius Caesar.  Ketika Paus Gregory XIII mengadopsi kalender Julian menjadi kalender Kristen, maka ia pun tetap menjadikan 1 Januari sebagai awal tahun baru.  Sebahagian kaum Kristen sebenarnya keberatan menjadikan tanggal 1 Janurai sebagai awal tahun, dan ingin menggantinya dengan tanggal 25 Desember.  Bahkan pada mulanya tradisi Gereja Bizantine dan sejumlah aliran ortodoks memakai kalender peribadatan liturgi (liturgical Year)yang menetapkan tanggal 1 September sebagai awal tahun baru.

Jadi, jelas bahwa kelender Syamsiyah (Masihi) yang digunakan oleh kaum Kristen sekarang bukanlah kalender yang murni dari agama Kristiani, melainkan lahir dari peradaban Romawi.  Karena itu, komunitas manusia di negeri mana pun dan apapun agamanya, termasuk umat Islam dapat merayakan tahun baru 1 Januari dan memakai kalender tersebut tanpa menghubugkannya dengan agama Kristen.  Syariat Islam menghalalkan untuk menerapkannya dalam kepentingan kehidupan Muslim global.  Dan halal pula merayakan 1 Januari sebagai tahun baru bersama warisan dari bangsa Romawi, bukan Tahun Baru Krsten.  Sebab, yang berkaitan dengan agama Krsten hanyalah hitungannya, yang dimulai dari kelahiran Yesus Kristus 25 Desember 2013 tahun yang lalu.  Selain itu, semuanya adalah produk peradaban Romawi.

Sementara itu, penanggalan qamariyah (lunar year) juga merupakan sistem penanggalan yang mulanya tidak berkaitan dengan agama Islam.  Sistem itu dipergunakan sejak sedia kala oleh pada umumnya masyarakat Asia dengan modus yang berbeda-beda; ada yang memakai murni tahun qamariyah sperti halnya bangsa Arab, dan ada pula yang memadukan antara qamariyah dan syamsiyah (lunisolar year), seperti bangsa Persia, India dan Cina (Tionghoa).   Mereka memadu dua sistem tersebut disebabkan oleh kanyataan bahwa sistem qamariyah tidak memberi kepastian jadual perubahan musim, sehingga untuk kepentingan perekonomian lebih cocok memakai penanggalan syamsiyah.  Itu sebabnya bangsa Tionghoa menambahkan bulan ke 13 pada setiap tiga tahun, agar hari raya Imlek mereka tidak keluar dari musim dingin antara Januari dan Feberuari.  Sedang dalam kaitannya dengan soal keagamaan, bangsa Asia tetap mempertahankan kalender qamariyah murni, sperti yang tampak menonjol dalam kehidupan bangsa Arab Jahiliyah, jauh sebelum datangnya Islam.

Penggunaan kalender qamariyah oleh Arab Jahiliyah untuk kehidupan ekonomi yakni berdagang, tidak menjadi soal, sehingga kultur bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dengan hanya memakai kalender qamariyah.  Penentuan hitungan tahun, biasanya dikaitkan dengan persitiwa besar yang mereka alami, misalnya penamaan Tahun Gajah (`am a-lfil), guna menandai terjadinya peristiwa serangan pasukan gajah dari Habsyi ke Jazirah Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW.   Arab Jahiliyah juga sepakat menjadikan 1 Muharran sebagai awal tahun.  Jadi perhitungan tahun baru 1 Muharram sebenarnya merupakan tradisi yang berlaku sejak zaman jahiliyah.

Agama Islam kemudian nmembawa kalender qamariyah ini semakin kokoh dalam peradaban Arab Muslim, setelah menjadikannya sebagai kalender keagamaan, khususnya pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan dan ibadah haji.  Meskipun demikian, nama-nama hari dan jumlah bulan sudah ada sejak zaman Arab Jahiliyah, dengan kata lain bukan produk agama Islam.   Dengan demikian perayaan 1 Muharram sebagai tahun baru, bukanlah tahun baru Islam.  Yang menjadi khas Islam ialah hitungan tahunnya yang dimulai sejak Nabi SAW melakukan hijrah pada tanggal 12 Rabiul Awwal, 1433 tahun yang lalu.

Orang yang berjasa menjadikan kalender qamariyah ini menjadi kalender dunia Islam adalah Khalifah Umar R.A. setelah 17 tahun terjadinya hijrah.  Sebenarnya, peristiwa hijrah itu sendiri terjadi pada tanggal 2 (4) Rabiul awal, tahun 13 kenabian, bertepatan dengan tangga 14 (16) September 622.   Meskipun demikian, perhitungan awal tahun Hijriyah tetap mengacu pada tradisi bangsa Arab kuno, yakni tanggal 1 Muharram, atau terdapat perselisihan sekitar 62 (64) hari.  Hal seperti ini juga terjadi pada penetapan 1 Januari sebagai awal tahun Masihi (Gregorian), padahal tanggal lahirnya Yesusu Kristus (Almasih) adalah 25 Desember.

Sebenarnya, dua sisten kalender tersebut (syamsiyah yang diberlakukan oleh Paus Gregory XIII untuk Kristen dan qamariyah yang diberlakukan oleh Khalifah Umar untuk Islam) semuanya adalah kalender Qur’aniyah, karena diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai berikut: 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Q.S. Yunus [10]: 5)

SELAMAT TAHUN BARU “QUR’ANIYAH” 1 JANUARI 2013 MASEHI

MENCABUT AKAR-AKAR KERUSUHAN

MENCABUT AKAR-AKAR KERUSUHAN

Oleh: Hamka Haq

Gema ripah loh jinawi atau dalam bahasa kitab sucinya Baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, seperti itulah dambaan bangsa kita bagi negeri tercinta Indonesia raya.  Namun hal itu rasanya masih jauh dari kenyataan, menyaksikan kondisi masyarakat yang akhir akhir ini semakin menunjukkan eskalasi kerusuhan, tawuran dan perang antar warga, ditambah lagi terorisme yang belum dapat dipadamkan secara tuntas  Mengamati segenap peristiwa kerusuhan yang terjadi, begitupun aktifitas teroris, setidaknya kita menemukan tiga penyebab utamanya, yakni egoisme kelompok, kemiskinan dan lemahnya penegakan hukum.

Egoisme merupakan pemicu utama, karena sikap egois membuat suatu komunitas merasa bangga pada kelompoknya, eksklusif, menolak kehadiran  kelompok lain tanpa kompromi dan dalam menyelesaikan persoalan selalu memaksakan kehendaknya yang ujungnya adalah kekerasan.  Egoisme kelompok inilah pemicu utama berlarutnya pertikaian antaretnis, sejak dari kerusuhan di Sampit dan Sambas, kemudian Maluku dan Posos sampai akhirnya kerusuhan etnis yang terjadi di Lampung.  Mulanya memang antar etnis, tapi kemudian dapat berubah menjadi antarumat beragama.

Egoisme kelompok muncul seiring dengan longgarnya ikatan senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa dalam satu tanah air.  Ikatan kebangsaan longgar, mungkin karena rakyat tidak merasakan manfaat dari kebangsaan dan tidak melihat lagi kehadiran negara menjalankan fungsinya untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.  Dalam pada itu, rakyat dengan kelompoknya terpaksa menyelesaikan prosoalannya tanpa tergantung lagi pada negara, setelah melihat negara tidak berdaya.

Keadaan lebih diperparah dengan semakin susahnya kehidupan ekonomi.  Kemiskinan membuat rakyat sangat peka pada hak-hak yang masih tersisa padanya, misalnya pemilikan tanah, lahan perkebunan dan sawah yang merupakan harapan terakhirnya untuk dapat bertahan hidup.   Maka jangan heran bila terjadi sengketa soal tanah, yang melahirkan kerusuhan masal, dan melibatkan antar warga kampung dan desa, guna mempertahankan tanah tumpuan hidupnya.  Kedaan lebih diperburuk dengan kehadiran perusahaan perkebunan dan pertambangan yang otomatis mencabut hak penguasaan tanah yang mereka warisi turun teumurn sejak ratusan tahun yang lalu.  Mereka berhadapan dengan hukum, dan kenyataannya hukum hampir selalu berpihak pada pengusaha dan penguasa, walaupun nyata-nyata rakyat tertindas dan tertindis.  Kemiskinan yang mendera, menyebabkan rakyat kecil tak berdaya menghadapi kekuatan dan kekuasaan hukum yang semakin mahal.  Hampir semua lembaga penegak hukum, tercoreng dengan oknum-nya yg koruptor, menerima bayaran dan gratifikasi, yang semuanya memuakkan rakyat. Maka bagi rakyat, satu-satunya cara penyelsaian ialah jalan pintas, bersatu dalam kelompoknya, menggunakan cara-cara kekerasan melawan “musuh” yang dianggapnya mengancam berkehidupan mereka. Dengan kata lain rakyat lebih mengandalkan kekuatan kelompoknya ketimbang hukum, karena kehilangan tempat berlindung selain kelompoknya sendiri.  Maka kelompok mana yang kuat, itulah yang menang dan leluasa menganiaya yang lainnya.

Egosime kelompok pun ternyata juga merambah ke soal-soal keyakinan dan agama.  Karena dalam banyak hal negara seolah tidak hadir membela yang lemah sebagai fungsi negara melindungi segenap bangsa Indonensia, maka kelompok tertentu menunai kesempatan untuk main hakim sendiri, dengan mudahnya menzalimi umat agama lain dan merusak sarana pendidikan dan ibadah mereka.  Seperti itulah tindakan yang menjadikan kelompok Ahmadiyah sebagai sasaran amarahnya, ataupun kelompok Kristen dan Katolik yang semuanya tidak berdaya menghadapi egoisme kelompok mayoritas.

Jenis kerusuhan semakin bertambah dengan terjadinya pula sejumlah konflik Pilkada (Pemilihan kepala daerah).  Pertikaian jenis ini timbul sebagai akibat verifikasi yang tidak adil dan keberpihakan oknum Komisi Pemillihan Umum Daerah (KPUD), lemahnya Pengawas Pemilu (Panwaslu), adanya kecurangan: politik uang dan penggelembungan suara, ketidak puasan atas putusan Mahkamah Konstitusi, semuanya membuat rakyat yang sudah terkotak-kotak di bawah komando sang kandidat menjadi marah dan melampiaskannya dengan tindak kekerasan.   Seperti konflik lainnya, konflik pilkada pun akan semakin dahsyat jika sudah melibatkan perbedaan etnis dan agama.

Tapi mungkin yang paling mengerikan ialah kegiatan teroris, yang berkaitan dengan keyakinan dan penafsiran yang berbeda menyangkut agama.  Namun aktifitas teroris inipun sebenarnya tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakat.  Ia merupakan pelarian dari anak-anak muda yang tergoda dengan keuntungan sesaat, dengan uang berlimpah disertai janji-janji sorga di akhirat bagi siapa saja yang mati syahid.   Mereka yang mudah dirayu berasal dari keluarga miskin, termasuk miskin pemahaman agama.   Mereka tidak dapat membedakan antara mati syahid dan mati sia-sia dengan bom bunuh diri.  Jadi penyebab utamanya adalah kemiskinan pula, dan satu-satunya milik mereka ialah semangat jihad, tanpa ijtihad (pikiran sehat).  Hal ini akan semakin menjadi-jadi dengan ajaran egoisme kelompok, bahwa yang benar dan selamat di sisi Allah hanyalah kaumnya; karena itu umat dan kaum lainnya harus dihapus-musnahkan di muka bumi.

Untuk menyelamatkan masyarakat kita dari kerusuhan dan ketidak amanan, maka bangsa kita harus kerja keras.  Hal utama dan mutlak ialah harus menegakkan kembali ikatan rasa senasib-sepenanggungan sebagai bangsa, ketimbang membangun egoisme kelompok.   Negara dan pemerintah harus maksimal mejalankan fungsinya dalam memajukan kesejahteraan umum, dan melindungi segenap bangsa Indonesia.  Dan tak kalah pentingnya ialah pencerdasan umat beragama, agar ajaran kasih sayang (rahmatan lil-‘alamin) menurut Islam lebih diarus-utamakan, guna meredeam paham “jihad” yang keliru.  Wallahu A’lam bil-shawab.

HALAL MEMILIH (WAKIL) PEMIMPIN DARI UMAT AGAMA LAIN

PEMIMPIN NON MUSLIM, dan TAFSIR KONTEKSTUAL

(Rangkuman diskusi via Twitter, soal Pilkada DKI)

Oleh: Hamka Haq

Sejak Rhoma Irama melontarkan bola panas isu SARA yang dalam ceramahnya di suatu masjid melarang warga Jakarta yang Muslim memilih Calon Gubernur  Joko Widodo (JOKOWI) yang berpasangan dengan non Muslim Basuki Cahaya Purnama (AHO), maka dunia maya twitter menjadi ramai dengan diskusi seputar kepemimpinan non Muslim.  Rhoma Irama mengutip Q.S.Al-Maidah: 51: yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”.

Untuk mencegah berlanjutnya khotbah-khotbah yang dapat memicu perpecahan bangsa, warga Jakarta khususnya, maka penulis menerbitkan dua edaran Baitul Muslimin    http://wp.me/s1n8EA-359   dilengkapi dengan  http://wp.me/p1n8EA-7l , yang intinya membolehkan umat Islam memilih pemimpin (calon Gubernur),  yang berpasangan dengan (calon wakil Gubernur) yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama Kristen.  Karuan saja, banyak kecaman dan dukungan via Twitter terhadap penulis.  Bahkan ada yang sinis menilai saya lupa ayat lah, memelinir ayat lah, bahkan menuduh memperkosa ayat.   Dengan sabar saya jawab mereka satu persatu, sampai pada dialog seri keempat, jawaban saya sebanyak 62 butir twit, kecaman dan penistaan pun akhirnya menghilang (Seri pertama 13 twit; kedua 10 twit dan  ke tiga 17 twit, seri keempat 22 butir).   Berikut ini jawaban-jawaban saya dalam twitter itu, saya susun dengan menyambung satu-persatu menjadi tulisan sebagai berikut.

Seri I

Salah satu sifat org yang tdk FAQIH (berilmu & bijak) dalam agama ialah berpikir hitam putih, tanpa alternatif.  Semua non Muslim dicap nya Kafir, padahal Yahudi dan Kristen tidak mutlak Kafir; Al-Qur’an sendiri menyebut mereka Ahlu Kitab.  Bahasa Al-Qur’an amat sejuk, ahl kitab pun disebut ahl mitsaq (penganut perjanjian damai). Bagi kita bangsa Indonesia, seharusnya bahasa sejuk Al-Qir’an seperti itulah yang disebarkan untuk persatuan & kebhinnekaan, bukan mengkafirkan.  Jadi banyak ustadz yang masih perlu diingatkan tentang apa arti kafir sebenarnya dan apa bedanya dg AHLU KITAB

Ketika saya menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu tidak secara mutlak (tidak semua) kafir, ada yang menanggapi dengan mengatakan bahwa saya lupa pada Surah Al-Bayyinah yang menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu kafir.  Saya menjawab: Alhamdulillah, saya tdk lupa S.Al-Bayinah:1.  Tapi coba perhatikan, pd ayat itu trdapat kata (harf jarr)  من “MIN”, yang menurut kaedah tafsir berarti sebagian (tidak semua ahl kitab) itu kafir.  Mungkin si penanya itu belum memahami kaedah-kaedah tafsir seperti itu.  Bahkan untuk memahami Al-Qur’an, sangat diperlukan metodologi untuk dapat mengartikan dan menfasirkannya secara benar (mendekati kebenaran), tidak hanya melihatnya secara harfiyah.

Seri  II

Banyak ayat menunjukkan bahwa ahlu kitab tidak mutlak (tdk semua) kafir. Prhatikan pada Q.S.Al-Baqarah:62 , disebutkan bahwa di antara mereka ada yang beriman dan beramal shaleh, walau imannya tentu berbeda dengan Islam.  Bahkan dalam Q.S.Al`Ankabut:46, disebutkan bahwa Tuhan yang diimani oleh Ahlu Kitab sama dengan Tuhan yang diimani oleh umat Islam. Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid (Dan Tuhan kami dan Tuhanmu -hai ahli Kitab- itu SATU adanya).   Sedang Q.S.Al-Kafirun, yang turun di Mekah, bukan menyangkut Ahl Kitab, melainkan kaum musyrikin, jahiliyah paganisme yang semuanya mutlak kafir.  Jadi utk menafsirkan ayat, di samping memerlukan metodologi, juga memerlukan ilmu sejarah.  Tidak hanya asal mengartikan secara tekstual hitam-putih.

Adapun menyangkut larangan dalam Q.S. Al-Maidah:51, sudah saya jelaskan lewat Edaran  Baitul Muslimn Indonesia http://wp.me/s1n8EA-359   dilengkapi dengan  http://wp.me/p1n8EA-7l  .  Dalam Edran itu, dijelaskan bahwa larangan pada Q.S.Al-Maidah: 51, itu berlaku pada zaman / saat / kondisi, Yahudi dan Kristen berbuat zalim kepada umat Islam.  Tapi saat mereka hidup dalam masyarakat damai, seperti di Madinah, Maka kita seharusnya mencontoh sikap Rasulullah SAW untuk menerima mereka.

Perhatikan pula, pada dasarnya larangan memilih pemimpin dari non Muslim, merujuk kepada konsep Wali (pemimpin) di zaman Nabi SAW, yaitu Raja atau Kaisar berkuasa absolut.   Maka Sepanjang kekuasaannya tidak absolut, tak ada larangan, hukum syariat membolehkannya.   Perhatikan Negara Islam SUDAN, pernah punya Wakil Presiden dari Kristen, yaitu Abel Alier (1976-1982),Yosep Lagu (1982-1985), G.K.Arof (1994-2000), dan Moses K.Machar (2001-2005).  Tentu saja para ulama di Negara Islam Sudan, tidak melupakan Q.S.Al-Bayinah, S.Al-Maidah dll.  Mereka tidak menjual ayat, tapi itulah ISLAM RAHMAH yang mereka terapkan dalam bernegara.   Dalam Negara Islam SUDAN, yang jelas-jelas Syariat Islam menjadi konstitusinya saja, ulamanya membolehkan memilih Kristen pada posisi Wakil, maka tentu di Negara Pancasila RI juga boleh jika untuk kepentingan persatuan bangsa, apalagi hanya posisi wakil Gubernur.

Seri III

Lalu yang dipersoalkan lagi, bahwa umat Kristen sekarang bukan Ahl Kitab.  Penulis jawab bahwa Memang ada yg mau menghapus AHL KITAB dari Kamus Islam, katanya: Ahl Kitab hanya di zaman Nabi Musa dan Isa a.s.  Padahal AHLU KITAB yang disebut dalam Al-Qur’an mengacu pada kaum Yahudi dan Kristen yang ada di zaman Nabi Muhammad SAW.   Khusus kaum Kristen di zaman Nabi, keyakinan mereka adalah trinitas yg disahkan pada Konsili Nikea sejak 325 M.  Keyakinan itu pula yang dianut Kristen di zaman sekarang, maka dengan sendirinya Ahl Kitab tetap ada sampai skarang.

Bahkan ada Ahl Kitab yang mendapat pujian, karena rajin membaca kitab sucinya dan beribadah di malam hari (Q.S.Ala Imran:113).  Juga di antara mereka, walaupun tetap pada agamanya, tapi percaya pada kebenaran Nabi SAW dan Al-Qur’an, serta berakhlak mulia (Q.S.Ala Imran:199).  Karena itu Al-Quran melarang kita mencerca Ahl Kitab, kecuali mereka yang zalim, karena Tuhan kita dan Tuhan mereka sama, satu adanya (Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid)  (Q.S. Al-‘Ankabut: 46).  Saya hanya sekadar menunjukkan sejumlah ayat Al-Qur’an tentang Ahl Kitab yang sering diabaikan.   Lebih rinci soal Ahl Kitab, diuraikan khusus pd Bab VI buku saya ISLAM RAHMAH UTK BANGSA, buka http://wp.me/p1n8EA-41

Seri IV

Memahami Al-Qur’an harus secara konprehensif, kita tidak boleh melupakan ayat-ayat yang menilai tdk semua ahlu kitab itu kafir, seperti telah diungkapan.  Kaum musyrikin yang memang semua kafir, berbeda dengan ahl kitab yang diakui tidak semuanya kafir; baca QS.Ala Imran:113, di sana berbunyi (laysuw sawa yang artinya mereka itu tidak sama).  Karena itu Al-Qur’an selalu memisahkan antara Ahl Kitab (yg tdak semua Kafir) dengan Musyrikin yg sccara mutlak kafir.  Andai kata Ahl Kitab dan Musyrikin itu sama (sinonim) maka tidak perlu dipisah, cukup Al-Qur’an menyebut Musyrikin saja, tapi ternyata Al-Qur’an memisahkannya.  Untuk jelasnya perhatikan kembali  Q.S.Al-Ankabut:46  (Tuhan kita dan Ahl Kitab SATU); lalu ayat 47 jelas-jelas menegaskan bahwa sebagian mereka beriman (wa min haula’i man yu`min).

Ahl Kitab yang tetap pada agamanya, namun mengakui kebenaran Nabi dan Al-Quran, dan tidak memusuhi Islam, tdk disebut Kafir (Q.S.Ala Imran:113).  Ahlu Kitab yang percaya Allah itu Esa dan Yesus tubuh manusia (Matius 26:2) yg mewadahi Dimensi Roh KasihNYA, mereka tidak kafir.  Mirip konsep Wihadtul Wujud dalam Tasawuf Islam, (Allah memilih hambaNYA yang sufi sebagai wadah PancaranNYA) seperti yang dialami Al-Hallaj.   Analoginya: Allah yg hakikat-NYA Maha Esa, hadir dalam berbagai dimensi sifat, sehingga bagi umat Islam terdapat 99 asmaul husna-NYA dlm AlQur’an, yang menunjukkan dimensi-dimensi sifat Allah, bahkan ada yang menjadikannya 100 dengan memasukkan nama: Al-Syafi’ (Allah Maha Penyembuh).  Yang kafir ialah percaya TIGA jenis dan TIGA zat Tuhan, sehingga Tuhan berbilang – politeistis (Q.S.Al-Maidah:17 & 73, Al-Tawbah:30).

Sepanjang mereka hanya meyakini Yesus sebatas manusia (tubuh yang mewadahi dimensi Roh Kasih Allah YME), bukan zat setara dg Tuhan, mereka tidk musyrik.  Perhatikan, dalam Al-Qur’an, Yesus juga disebut sabagai Wadah Firman2-NYA, Wadah Roh (Spirit)-NYA yg dilimpahkan ke Maryam (Q.S.Al-Nisa: 171).  Ahlu Kitab yang mengimani Yesus sbg WADAH Cinta Kasih Allah, menyebut juga Nabi seperti itu, sbg “anak” Allah, tapi Nabi menolaknya.   Mereka itulah yg bertamu di Masjid Nabawi Madinah, dan diizinkan oleh Nabi beribadah di sana (Tafsir Al-Qurthubi Juz 4 h. 4&5).

Missi Rasulullah SAW: Rahmatan lil-‘alamin dan Kaffatan li al-nas, bahwa Islam adalah sumber rahmah (kasih sayang) bgi semua manusia.  Nabi tdk bertugas mengislamkan semua manusia, sebab ternyata beliau sendiri mengajak kaum non Muslim kerjasama dalam negara Madinah.  Nabi membangun masyarakat plural, bahkan ipar2nya dan pembantunya juga ada yg beragama Yahudi tanpa dipaksakan masuk Islam.

Kemudian, ada ustadz atau yang mengaku ulama mempertanyakan metode kontekstual yang disinggung dalam Edaran Baitul Muslimin.  Mereka belum mengerti, sehingga mengira pemahaman kontekstual adalah memelintir (memperkosa) ayat.  Untuk itu, perlu dijelaskan guna membuktikan bhw metode pemahaman kontekstual tdk seperti apa yang mereka tuduhkan itu.

Misalnya Q.S.Al-Taubah:36: “Perangilah orang musyrik seluruhnya”; jika dipahami secara tekstual, berarti umat Islam wajib perang tiap hari.  Karena itu, harus dipahami secara kontekstual, bahwa ayat tsb. hanya berlaku pada kondisi diperangi di zaman Nabi, atau kondisi yg sama sesudahnya.  Contoh lain: Hadits larangan buang air menghadap/membelakangi ka`bah.  Nabi tegaskan: “Hendaklah kalian menghadap ke Timur atau ke Barat”.   Kalau hadits tsb diterapkan di Indonesia secara tekstual, maka umat Islam Indonesia akan selamanya meghadap / membelakangi ka’bah pada saat buang air, sehingga bertentangan dengan substansi larangan Nabi.  Jadi harus disesuaikan dengan konteksnya, bahwa menghdap ke Barat /Timur itu memang cocok di Madinah, karena di sana kiblat berada di arah Selatan.  Contoh lain, S.Al-Maidah: 38; “Laki-laki dan perempuan yg mencuri potonglah kedua tangannya”, itu hanya dapat diterapkan pada konteks kemakmuran.  Khalifah Umar bin Khattab tidak memotong tangan beberapa buruh yang mencuri karena diterlantarkan majikannya.  Umar R.A justru menjatuhkan sanksi denda atas majikan mereka (Muwaththa`, Juz II: 748).

Begitu pula halnya larangan memilih pemimpin (wakil non Muslim) hrs dipahami scr kontekstual, berlaku ketika non Muslim menzalimi umat Islam.  Tetapi dlm konteks kedamaian warga yg pulral, sperti di Madinah pd zaman Nabi SAW, umat Islam dapat bekerjasama dengan non Muslim.   Maka utk zaman moderen, demi membangun perdamaian dan persatuan bangsa, non Muslim boleh saja dipilih jadi pendamping (wakil) pemimpin.  Negara Islam Sudan, misalnya, berdasarkan UUD Syariat nya memberi contoh untuk hal ini.   Apa yg berlaku di Sudan membuktikan bahwa Islam itu Rahmatan lil-alamin, rahmat utk semua manusia (Kaffatan li al-nas).

Cara itu pula dierapkan oleh Khalifah-khalifah Islam di zaman klassik, mengangkat sejumlah ilmuwan Kristen pada posisi tertentu demi kajayaan Dinasti Islam Abbasiyah.  Khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya Al-Makmun pada zaman keemasan Dinasti Abbasiyah membangun Badan Penerjemahan (BAITUL HIKMAH) dan mengangkat Hunayn bin Ishaq bersama puteranya Ishaq bin Hunayn dari kalangan Kristen, mengepalai lembaga tersebut, sekaligus Ketua Tim Dokter istana. Penerjemah dari Kristen Nestoria adalah Bakhtisyu’, juga diangkat menjadi Kepala Rumah Sakit Baghdad. Demikian dlm buku sejarah Akhbar al-‘Ulama’ bi Akhyar al-Hukama’ Juz I, h. 77 oleh Al-Qufty; Tarikh al-Islami Juz 4 h.491 oleh Al-Dzahaby dan Wafyat al-A’yani wa Anba’u Abna’ al-Zaman Juz I, h. 205 oleh Ibn Khillikan.

Disamping konteks kedamaian, juga konteks kekuasaan pemimpin skarang, yg tdk lagi absolut, bukan Kaisar, Raja, dan bukan Khalifah.   Pemimpin Non Muslim di Negeri mayoritas Muslim, biasanya sebatas Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, dan sekali lagi apalagi kalau hanya wakil Gubernur.

Terima kasih.

Hamka Haq.