TUJUAN BERAGAMA

TUJUAN BERAGAMA

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Pertanyaan yang selalu muncul ialah apa sih sesunguhnya tujuan Bergama itu?  Mengapa orang harus beragama?  Uraian mengenai ini sudah pernah diposting di sini, berikut adalah uraian tambahan.

Agama sebenarnya bukanlah untuk kepentingan bagi Tuhan, melainkan untuk kepentingan atau kebutuhan manusia iyu sendiri.   Tuhan tidak butuh agama, karena Dia Maha Kuasa atas segalanya.  Dia disembah atau tidak  disembah sama sekali, Dia tetap Maha Agung, Maha Kuasa.  Andaikata semua manusia itu tidak menyembah-Nya, kekuasaan dan keagungan Tuhan tidak berkrang sedikitpun.

Jadi agama itu sekali lagi untuk kebutuhan hidup manusia.  Manusia perlu Bergama untuk kesempurnaan hidupnya.  Dengan beragama, manusia akan merasa tenang hidupnya, tenteram hatinya, damai dan tenteram dalam pergaulannya dengan sesame manusia.  Hidupnya terasa bermakna karena selalu berhubungan dengan Tuhannya melalui iman dan ibadahnya.

Jadi agama adalah untuk kedamaian hidup manusia, dalam diri, dalam keluarga, dalam masyarakat, dan juga ketika beribadah kepada Tuhan, terasa kedamaian itu.

Tiada agama yang menagajrkan kekecauan batin, tiada agama yang mengajarkan kekacauan masyarakat, tiada agama yang mengajarkan saling memusuhi antara sesama manusia.  

اوما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

Semua agama mengajarkan perdamaian, tak satupun agama yang mengajarkan perpecahan umat manusia dalam bentuk permusuhan.  Islam mengajarkan lakum diynukum wa liyadiyn, Kristen mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusa, Hindu mengajarkan tat twam asi, dia dan aku adalah sesama kamu; Budha mengajarkan metha, cinta kasih untuk persahabatan;demikian pula agama Konghuchu dan lainnya semua mengajarkan damai untuk semua.

Dalam hadits Nabi SAW riwayat Al-Turmudziy, disebutkan:

الراحمون يرحمهم الرحمن، إرحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السماء 

“Orang-orang yang suka mengasihi sesama, akan dikasihi oleh Allah Sang Pengasih, maka kasihilah manusia di bumi niscaya engkau dikasihi oleh Allah yang di atas” (HR.Al-Turmudziy, Kitab al0Birr wa al-Shilah, no. 2049).

Maka sangat kelirulah orang-orang yang menjadikan agama sebagai alasan untuk memusuhi, menganiaya bahkan membunuh sesama manusia.   Lebih-lebih lagi jika membawa-bawa nama Allah, melakukan kerusakan dan penganiayaan itu dengan pekik takbir Allahu Akbar.  Mereka adalah benar-benar musyrik, karena mempertuhankan nafsunya sambil menyebut pula nama Allah Akbar.

Seharusnya agama dijadikan sebagai sumber kedamaian.  Bagi umat Islam, mari kita jadikan Islam sebagai Rahmatan lil alamin, kasih sayang bagi segenap alam semesta. 

Agama pada dasarnya bukanlah tujuan, agama hanya jalan untuk mewujudkan kehidupan yang damai, bertumpu pada ridha Tuhan dan ridha sesama manusia.  Dengan memperoleh ridhaNya Allah SWT kita bisa memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat; dan dengan memperoleh ridhanya sesama manusia kita bisa membangun peradaban yang maju untuk kemaslahatan bersama. 

Memang sebenarnya kita berbeda, dari segi keyakinan, ibadah dan hal-hal lain yang tidak mungkin sama.  Tapi dalam hal kehidupan duniawi kita selalu sama.  Dalam kehidupan ekonmi kita sama-sama mebangun pusat perekonomian seperti pasar dan mall; dalam kehidupan pendidikan kita sama-sama ke Universitas;  dan dalam aspek kesehatan kita sama-sama ke Rumah Sakit dan juga ke apotek yang sama untuk membeli obat.  Pokoknya semua kita bersama.

Jadi jangan menciptakan sekat-sekat dalam hubungan sosial kita hanya karena perbedaan agama dan keyakinan, karena agama ini sekali lagi hanyalah jalan  untuk mencapai tujuan perdamaian kemanusiaan.

Bagi orang yang menjadikan agama sebagai tujuan, mereka berusaha membesar dan mengagung-agungkan agamanya sendiri kemudian menista dan merendahkan agama lain.  Mereka sibuk membangun fasilitas untuk kepentingan ibadah agamanya, kemudian menghalangi agama lain membangun rumah ibadah dan mempersulit pelaksanaan ibadah mereka.  Tentu semua hal tersebut salah dan keliru.

Dalam masyarakat yang beragam agama kita harus saling menghormati dan menghargai untuk bisa membangun peradaban yang makmur untuk semua.  Allah berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإ ثم والعدوان

Tolong menolonglah dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” Q.s.Al-Ma`idah (5): 2.

Dalam ayat ini Allah swt mempertentangkan antara takwa dan permusuhan; kita diperintahkan untuk bekerjasama membangun kebajikan dan ketakwaan sementara melarang kita untuk berbuat kejahatan dan permusuhan.  Jadi takwa dan permusuhan merupakan dua hal yang bertentangan.  Maka salah satu ciri orang bertakwa ialah jika aktif menjalin persahabatan dan menjauhi permusuhan.

Sehubungan dengan ini, saya ingin mengutip sebuah riwayat dalm Tafsir Al-Qurthubiy.  Bahwa suatu saat Rasulullah SAW menerima tamu dari komunitas Kristen Najran sekitar 60 orang.   Berhubung rumah beliau tidak luas, maka beliau menerima mereka dalam Masjid Haram Nabawi.  Mereka berdialog soal agama tanpa saling merendahkan atau saling menista.  Ketika sampai waktunya tamu tersebut beribadah, mereka diizinkan oleh Rasulullah SAW beribadah dalam Masjid Nabawi itu.

Kisah ini menunjukkan betapa kelirunya pendapat yang mengatakan bahwa non Muslim diharamkan masuk masjid, dan atau diharamkan beribadah dalam masjid.  Semua boleh-boleh saja tentunya dalam keadaan darurat.

Kisah faktual Rasulllah SAW tersebut seharusnya menjadi acuan dan teladan untuk diterapkan dalam kehidupan manusia di zaman moderen sekarang.   Zaman kita sekarang dikenal sebagai zaman global yang di dalamnya segenap umat manusia semakin mudah bergaul satu sama lain tanpa sekat agama, bangsa dan budaya.  

Dalam hal ini agama harus berperan menjadi jembatan perdamaian bukan sebagai kendaraan untuk berumusuhan.  Kita berada di zaman peradaban yang mengharusnkan kita bermitra dan kbekerjasama satu sama lain.  Beda dengan peradaban masa lalu, di zaman klasik, atau zaman pertengahan atau sebelum zaman moderen.

Agama di zaman masa lalu pernah menjadi kendaraan untuk permusuhan; siapa yang mayoritas dan perkasa bisa menakulkkan dan menguasai agama dan bangsa lain yang lemah tidak berdaya.  Keadaan itu pernah terjadi dizaman Romawi yang perkasa menaklukkan sejumlah bangsa di dunia demi keagungan agamanya.  Juga di zaman keperkasaan bangsa Arab Muslim menaklukkan Afrika utara dan Spanyol Eropah demi kebesaran Islam; juga pada zaman keperkasaan bangsa Turki Muslim menaklukkan dan mengambil alih tanah air Bizantium demi kemenangan Islam.  Demikian juga perang salib yang menciptakaan rasa kebanggaan beragama berbaur dengan penderitaan di sisi lain, dan menyisakan dendam dan kebencian selama berabad-abad. 

Jangan kita ulangi peradaban masa lalu yang penuh konflik itu  dengan menjadikan agama sebagai kendaraan permusuhan.  Saatnya kita sekarang menjadikan agama sebagai jembatan perdamaian untuk peradaban baru; jangan kita kembali ke peradaban masa lalu yang bersifat ekpansionist ketika agama dan bangsa-bangsa yang besar menakulkkan dan memperbudak bangsa-bangsa lainnya.  Biarlah semua menjadi catatan sejarah sebagai pelajaran untuk tidak terulang lagi bagi kehidupan manusia untuk selamanya.

Pada akhir uraian ini saya ingin menyampaikan tentang kisah historis, yakni ketika Bung Karno berpidato di depan SU PBB tanggal 30 September 1960.  Beliau menyampaikan harapan agar badan dunia PBB itu mampu mendamaikan umat manusia yang berbeda bangsa dan agama.  Hars menjaga pluralitas berdasarkan kedailan dan kemerdekaan.  Judul pidato beliau To Build the Word a New,  membangun dunia yang baru sama sekali.

Bung Karno dalam pidatonya itu mengangkat filososi bangsa Indonesia yang mampu merajut beragam etnis, agama dan budaya, untuk bersatu dalam satu Negara Kesturan Republik Indonesia.  Keragaman yang penuh kedamaian itulah yang dibawa oleh beliau sebagai pesan utama dalam pidatonya pada saat itu.  Wallau A’lam bi al-shawabi.