AL-QUR`AN DAN TAHUN BARU MASIHI

AL-QUR`AN DAN TAHUN BARU MASIHI

Oleh: Prof.Dr. Hamka Haq, MA

Coba perhatikan, sungguh menakjubkan, menurut hitungan ahli tafsir, kata “yaum” (يوم – hari) dalam Al-Qur`an tersebut sebanyak 365 kali.  Itu adalah isyarat bahwa Al-Qur`an merekomendasikan penggunaan kalender Syamsiyah (mata hari), untuk kehidupan muamalah duniawi sehari-hari.  Kalender tersebut sudah digunakan sejak zaman Yunani kuno, denga jumlah 12 bulan (Januari -Desember) dan sebanyak 356 hari,  yang kemudian dikonversi jadi Tahun Masihi oleh kaum Kristen.  Sedang utk urusan ibadah ritual kita gunakan kalender Qamariyah dengan jumlah 12 bulan (Muharram – Dzulhijjah) sebanyak 354 hari.  Dinamai Qamariyah karena berdasar pada perhitungan peredaran qamar (bulan), yang sudh digunakan ribuan tahun di Jazirah Arab, India dan China sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW kemudian dikonversi jadi Tahun Hijriyah pd zaman Khalifah Umar RA.

Jadi kedua kalender itu Syamsiyah dan Qamariyah semua ciptaan Allah swt,  Sebagaimana Al-Qur`an menyebutkan dalam Surah Al-an’am ayat 96:

(فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ)

“Dia menyinsingkan pagi dan menjadikan malam utk istrahat, dan menjadikan matahari dan bulan utk perhitungan. Itulah taqdir Allah yg Mahamulia dan Maha mengetahui.”

Jadi ternyata memag sudah sangat pas untuk kehidupan duniawi sehari-hari kita gunakan kalender Syamsiah (sekarang bernama kalender Masihi), bukan Qamariyah. Sebab, kalender Syamsiyah tidak rumit, tidak perlu hisab – ru’yah.  Bagi sebahagian masyarakat, misalnya PNS dan TNI  POLRI, gajian tiap bulan tidak perlu menunggu hisab atau ru’yah dulu baru gaian.  Penanggalan Syamsiyah tdk pernah diperselisihkan dan sudah dapat ditentukan hitungannya bahkan sampai ratusan tahun kemudian, berbeda dengan kalender Qamariyah (Hijriyah) yang setiap tahun harus direvisi berdasarkan perbedaan hisab  ru`yah.  Itulah hikmahnya mengapa Al Quran mengisyaratkan penggunaan kalender Syamsiyah yg jumlah harinya 365 hari.  Subhanallah!

Sebagai tambahan penjelasan, tahun syamsiyah, dikenal sebagai Tahun Romawi.   Setelah sekian kali mengalami perubahan dan penyempurnaan, sistem penanggalan tersebut kemudian dikenal sebagai Kalender Julian (Julian Calender), yakni sejak Julius Caesar mengukuhkannya sebagai kalender resmi kekaisaran Romawi pada tahun 45 SM, dengan menetapkan bulan Januari sebagai awal tahun baru.  Kalender Julian ini berlaku pula sekian lama secara umum di Eropa dan Afrika Utara sejak zaman Imperium Romawi hingga abad XVI M.  Nanti pada abad XVI, tepatnya tahun 1582 kalender Julian dimodifikasi lagi untuk ditetapkan sebagai kalender resmi di kalangan Kristen yang dikukuhkan oleh Paus Gregory XIII.

Mengenai tanggal 1 Januari sebagai awal tahun, bangsa Romawi telah menetapkannya sejak tahun 153 SM (Sebelum Masehi), yang diikuti kemudian oleh Julius Caesar.  Ketika Paus Gregory XIII mengadopsi kalender Julian menjadi kalender Kristen, maka ia pun tetap menjadikan 1 Januari sebagai awal tahun baru.  Sebahagian kaum Kristen sebenarnya keberatan menjadikan tanggal 1 Janurai sebagai awal tahun, dan ingin menggantinya dengan tanggal 25 Desember, sebahagian lagi dengan tanggal 25 Maret.  Bahkan pada mulanya tradisi Gereja Bizantine dan sejumlah aliran ortodoks memakai kalender peribadatan liturgi (liturgical Year) yang menetapkan tanggal 1 September sebagai awal tahun baru.

Terlepas dari itu semua, yang jelas bahwa kelender yang digunakan oleh kaum Kristen sekarang adalah kalender Romawi, bukan kalender yang murni lahir dari nubuwatan Kristiani, melainkan lahir dari peradaban Romawi.  Karena itu, komunitas manusia di negeri mana pun dapat menerapkan kalender tersebut tanpa menghubungkannya dengan agama Kristen.  Umat Islam juga telah menggunakannya, tanpa harus dihantui benturan keyakinan antara Islam dan Kristen.  Syariah Islam memberi peluang (menghalalkan) untuk menerapkannya dalam kepentingan kehidupan Muslim global.  Karena itu, jika umat Islam merayakan 1 Januari sebagai tahun baru, dilihat dari sudut pandang syariah, adalah halal (sah-sah) saja.  Hal ini berarti kita turut bersama masyarakat internasional memakai kalender Romawi yang telah disepakati dunia sebagai sistem penanggalan dunia moderen.   Wa `Llahu a`lam bi al-shawab.

 

KEBENARAN ITU, PADA AKHIRNYA DITERIMA

Suatu kebenaran kadang ditolak mentah-mentah pada awalnya.  Ajaran Islam pun pada mulanya ditolak, namun akhirnya diterima secara luas di negeri Arab kemudian merambah ke seluruh penjuru dunia. Apalagi yang namanya pendapat manusia, walau mengandung kebenaran, pastilah awalnya ditolak dan ditentang.

Pada tahun 40-an misalnya, menjelang kemerdekaan terjadi polemik secara luas soal hukum transfusi darah.  Segenap ulama ketika itu, baik dari NU maupun dari Muhammadiyah ramai-ramai mengharamkan transfusi darah.  Mereka berdasar pada metode qiyas bahwa transfusi darah itu prosesnya sama dengan minum darah, yakni sama-sama memasukkan dara orang lain ke dalam tubuh seseorang.   Pendapat lain  adalah dari Ir. Soekarno yang justru menghalalkan transfusi darah.  Bung Karno melihat dari sisi lain, bukan dari proses masuknya darah ke dalam tubuh, melainkan dari manfaatnya.  Karena tranfusi darah dapat menyelamatkan jiwa orang sakit, maka Bung Karno melihat manfaatnya sama dengan pengobatan.  Kalau pengobatan itu halal karena dapat menyembuhkan orang sakit maka transfusi darah pun pasti halal karena dapat menyembuhkan oang sakit. Menyelamatkan orang sakit pastilah dianjurkan Islam.  Sekitar lima puluh tahun kemudian, barulah ulama ramai-ramai mengikuti pendapat Bung Karno, mereka juga sudah menghalalkan transfusi darah.

Seperti itu pula halnya, apa yang saya gagas dan laksanakan sejak tahun 1999 kini berangsur angsur disetujui oleh orang banyak.  Bersama Bapak Jusuf Kalla (JK) kami membentuk Forum Antar Umat Beragama (FAUB), yang kemudian melaksanakan Natal Oikumene gabung dengan Halal bi halal usai Idil Fitri, pada satu acara bersama, tiga tahun berturut-turut (1999, 2000, 2001), guna mengajarkan umat Islam bahwa ucapan Selamat Natal tidaklah haram.  Kini satu persatu tokoh dan ulama baru berani menyuarakan halalnya ucapan natal.  Tapi belum berani melakukan natal bersama gabung dengan maulid dlm satu acara.

Kemudian pada saat saya menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Makassar (2001 sd. 2003) saya berani menerima mahasiswa Non Muslim (Kristen dan Hindu) belajzr di Fakultas kami itu.  Semua ulama dan cendekiawan Muslim termasuk pimpinan IAIN sendiri menentang keras, tapi saya bertahan dan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teologia di Makassar.  Belasan dari mahasiswa non Muslim itu berhasil sarjana dari IAIN, sejak tahun 2004.  Semua pimpinan IAIN mencibir, atau istilah sekarang membully, atas langkah saya dianggapnya “jahiliyah” itu.  Namun ketika mereka ramai-ramai mengalih status IAIN jadi UIN mereka pun terpaksa harus menerima non Muslim jadi mahasiswa di Fakultas Umum.

Masih ada langkah saya yang dianggap “jahiliyah”, yakni ketika ormas Islam yang saya pimpin Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) di daerah mayoritas Non Muslim, saya minta non Muslim kalangan eksekutif menjadi Pelindung atau Penasehat BAMUSI.  Begitupun misalnya ketika saya membolehkan doa bersama umat berbeda agama dalam satu acara, jelas banyak yang menilainya jahiliyah.  Saya tentu melakukan semua itu karena ada alasan syariah dan alasan kemaslahatan yang saya temukan, mungkin sebelum yang lain menemukannya.

Hamka Haq bersama Uskup Agung Makassar John Liku Ada

Prof. Hamka Haq bersama Uskup Agung Makassar, John Liku Ada.

PEMIMPIN PEREMPUAN

Banyak orang mengagung2kan Sang Ibu.  Banyak orang yang mengagumi Sang Ibu. Tapi mungkin semuanya hanya semu, bermaksud utk menghibur hati para kaum Ibu, terlena tanpa merasa terjebak dalam ekploitasi kaum Bapak.  Berabad2 kaum Bapak merasa berhak mengatur segala aspek kehidupan di atas kaum perempuan. Sampai mengharamkan kaum Ibu jadi pemimpin. Dengan nada yang menyakitkan hati kaum Ibu, ulama dan ustadz bahkan menyerukan bhw peremouan hanya berhak melahirkan pemimpin tapi todak boleh jadi Pemimpin. Mereka lebih tepat dikatakan Ulama Patrilinealis ketimbang Islam Qurani.  Bukankah AlQuran mengisahkan Ratu Balqis yang beriman bersama Nabi Sulaiman?  Menurut AlQuran, Allah memuji Ratu Balqis, pemimpin yg kuat dan suka bermusyawarah.  Pujian Allah kpd Ratu Balqis menunjukkan Pemimpin Perempuan Halal.  Sebab, musstahil Allah memuji sesuatu yang diharamkan.  SELAMAT HARI IBU.  ENGKAU SANG IBU TERHORMAT DI SAMPING KAUM BAPAK

Berikut kami kutipkan dari buku Islam Rahmah untuk Bangsa, karya Prof. Dr. Hamka Haq, MA

HAK PEREMPUAN JADI PEMIMPIN

Berbicara soal kepemimpinan perempuan, patut kita renungkan kisah Ratu Balqis dalam Al-Qur’an, seorang pemimpin perempuan yang diakui kekuatan dan kearifannya memimpin.  Bahwa Ratu Balqis memang bukanlah seorang Nabi, tetapi kemimpinannya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai sosok pemimpin yang kuat dan bijak, suka bermsyawarah dan berhasil memakmurkan negerinya.  Walaupun Al-Qur’an, menyebut Ratu Balqis sebagai pemimpin yang mulanya fujur dan kafir, tetapi pada akhirnya Ratu Balqis yang diakui keberhasilannya memimpin itu menjadi Ratu yang beriman di bawah bimbingan Nabi Sulaiman.  Sebelum beriman saja, Ratu Balqis mampu memimpin dan memakmurkan negerinya, apalagi setelah beriman bersama Nabi Sulaiman.  Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an, S. al-Naml, [27]:  22-44.

Jadi sangat ironis, jika ada pandangan yang mengharamkan perempuan jadi pemimpin, padahal Al-Qur’an sendiri menyebut Ratu Balqis sebagai pemimpin yang kuat dan memakmurkan rakyatnya.  Mustahil Allah SWT mewahyukan kisah itu, sebagai yang patut diteladani bagi umat-umat di kemudian, seandainya Dia mengharamkan perempuan memimpin.   Hal ini mnjadienjelas bahwa wanita itu halal jadi pemimpin.

Berdasarkan hal di atas, maka ayat yang diadikan dasar sebahagian ulama untuk mengharamkan wanita memimpin perlu ditafsir ulang, sekaligus juga untuk menyesuaikannya dengan kondisi sosial kekinian yang berkembang di zaman moderen.  Kita simak lebih dahulu ayat berikut:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah memberikan keunggulan (SDM) sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan dengan kemampuan mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka (Q.S.al-Nisa [4]:  34).

Ayat ini sebenarnya tidak membatasi kepemimpinan sebagai hak monopoli kaum laki-laki.  Tak ada sama sekali lafal dalam ayat tersebut menunjukkan hak monopoli itu.  Ayat tersebut justru hanya menegaskan dua alasan utama, mengapa di zaman Nabi SAW laki-laki lebih berpeluang menjadi pemimpin, yakni: pertama, bahwa keunggulan sumber daya (SDM) ketika itu pada umumnya masih milik kaum laki-laki.  Kedua,  ialah kekuatan ekonomi yang di zaman itu juga pada umumnya masih berada pada kaum laki-laki, sehingga laki-laki menjadi sumber ketergantungan nafkah bagi keluarganya.

Tetapi, dalam perkembangan peradaban manusia dari zaman ke zaman, hingga saat ini, ternyata dua alasan penting di atas juga sudah ada pada kaum perempuan.  Keunggulan SDM berupa kecerdasan tidak lagi menjadi monopoli kaum laki-laki, bahkan dalam situasi dan kondisi lokal tertentu, sering dijumpai sejumlah perempuan lebih berpotensi dan lebih unggul dari kaum laki-lakinya.  Karena itu, jangan heran jika di negeri tertentu, tak dapat lagi dibendung tampilnya kaum perempuan menjadi pemimpin. Hal itu terjadi, bukan hanya karena kebetulan, tetapi memang sudah saatnya, karena ketika masyarakat membutuhkan pemimpin yang cerdas atau yang dapat diterima oleh masyarakat luas, ternyata tidak sedikit berasal dari kalangan perempuan.

Demikian pula alasan yang kedua, kemampuan eknomi, kini sudah tidak lagi menjadi monopoli kaum laki-laki.  Bahkan sudah banyak dijumpai keluarga yang kehidupannya tergantung pada isteri atau anak perempuan.  Hal ini antara lain karena tidak sedikit perempuan yang status sosial, karir dan kekayaannya lebih menonjol, sehingga pada pundaknyalah keluarga dan orang sekitarnya menggantungkan hidup.  Lebih dari itu telah banyak dijumpai perempuan konglomerat yang menjadi pemilik atau direktris sebuah perusahaan besar, mencontoh Khadijah RA, isteri Nabi SAW yang jadi konglomerat di zamannya. Dalam keadaan demikian, mereka tidak keberatan jika dipimpin dan dibiayai oleh perempuan.

Dua hal tersebut di atas semakin memperkuat alasan untuk memberi peluang bagi kaum perempuan menjadi pemimpin.  Al-Qur’an menyebut kaum laki-laki, karena ketika turunnya Al-Qur’an, potensi-potensi kepemimpinan menurut Q.S.al-Nisa [4]: 34 di atas, masih domain kaum laki-laki.  Tetapi kini zaman telah berubah, potensi keunggulan itu pun juga sudah beralih kepada kaum perempuan, maka tak ada alasan lagi untuk menolak perempuan menjadi pemimpin.

Sebenarnya tak dapat dipungkiri bahwa Nabi SAW sendiri telah mengakui dan sangat menghargai kepemimpinan perempuan.  Beliau bahkan pernah bergabung dalam sebuah managemen perusahaan di bawah pimpinan Khadijah RA, perempuan konglomerat termasyhur di jazirah Arab ketika itu.  Nabi Muhammad SAW mustahil melakukan hal ini sekiranya pemimpin perempuan itu haram, karena Mahasuci Allah SWT yang senantiasa melindungi Nabi-Nya dari akhlak yang buruk dan haram.  Dalam buku Sirah Ibn Hisyam disebutkan bahwa Khadijah menjadi pemimpin karena dua hal yakni:  (dzat syarfin wa malin) memiliki keunggulan SDM (martabat / kecerdasan) dan kekuatan ekonomi.  Dengan begitu, Khadijah RA menjadi pemimpin karena memenuhi dua syarat utama seperti yang disebut dalam Q.S.al-Nisa (4): 34.  Pada akhirnya Khadijah RA, yang dalam literatur sejarah disebut sebagai al-Sayyyidah (Tuan atau Pemimpin Perempuan) itu menjadi isteri Nabi Muhammad SAW.

Selain Khadijah, Aisyah RA selaku isteri Nabi SAW juga telah memainkan peran kepemimpinan.  Beliau pernah menjadi Panglima Perang sepeninggal Rasulullah SAW dalam suatu kemelut politik di zaman Khalifah Ali RA; dan istimewanya pula, beliau menjadi salah satu referensi Hadits dan Sunnah Rasulullah SAW yang menjadi pegangan utama kaum Sunni.  Kalau tindakan Aisyah RA menjadi Panglima merupakan pelanggaran yang haram, maka secara otomatis sebahagian besar hadits / sunnah warisan kaum Sunni dari Aisyah RA harus dibongkar dan ditinggalkan, atas prinsip tidak boleh menerima riwayat dari orang yang terang-terangan berbuat haram.  Satu-satunya jalan untuk tetap mengakui kesahihan dan keutuhan sunnah Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah RA ialah mengakui kepemimpinan beliau sebagai langkah yang dibenarkan syariat Islam.

Berdasarkan sunnah faktual yang tak terbantahkan di atas, yang membuktikan bahwa isteri-isteri Nabi pun, Khadijah dan Aisyah, ternyata pernah menjadi pemimpin, maka ayat Q.S.al-Nisa (4): 34 tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak perempuan jadi pemimpin.  Tafsir yang paling kuat adalah sunnah dan sejarah, sehingga tafsir apapun yang menolak fakta historis kepemimpinan perempuan adalah sangat lemah dan tidak realistis.  Jadi, makna ayat Q.S.al-Nisa (4): 34 itu lebih pada soal syarat pemimpin, yakni keunggulan SDM dan dukungan ekonomi, dua hal yang telah dimiliki pula oleh kaum perempuan dewasa ini.  Karena itu, siapapun yang memiliki dua syarat tersebut, laki-laki atau perempuan semuanya berhak jadi pemimpin menurut ajaran Islam.

Alasan lain yang sangat mencolok bagi kepemimpinan perempuan dalam Islam ialah adanya perintah Rasulullah SAW terhadap seorang perempuan bernama Ummu Waraqah untuk menjadi Imam (pemimpin) dalam shalat jamaah di lingkungan pemukimannya, sebagai berikut:

أن نبي الله  صلى الله عليه وسلم كان يقول انطلقوا بنا نزور الشهيدة وأذن لها ان تؤذن لها وأن تؤم أهل دارها في الفريضة

Bahwa Nabi SAW bersabda: Marilah kita menziarahi perempuan yang syahidah ini (Ummu Waraqah), beliau mengizinkannya untuk diazankan baginya, dan agar dia memimpin penduduk negerinya dalam shalat fardhu.

Dalam kitab Subulu al-Salam bahkan tegas disebutkan:

والحديث دليل على صحة إمامة المرأة أهل دارها وإن كان فيهم الرجل فإنه كان لها مؤذن وكان شيخا كما في الرواية

Hadits ini merupakan dalil atas sahnya perempuan jadi imam (pemimpin) shalat bagi penduduk negerinya, meskipun terdapat di antara mereka laki-laki dewasa, karena ternyata dia mempunyai muadzdzin, yang adalah seorang laki-laki dewasa, sebagaimana disebut dalam riwayat tersebut.

Tegasnya, Nabi memerintahkan Ummu Waraqah, seorang perempuan menjadi Imam shalat walaupun terdapat laki-laki dewasa.  Artinya, dalam soal ibadah ritual saja Nabi membolehkan bahkan memerintahkan seorang perempuan untuk menjadi pemimpin (imam) dalam kondisi tertentu, apalagi dalam soal kehidupan muamalah masyarakat, bangsa dan negara, sepanjang memenuhi syarat-syaratnya.  Tegasnya, imam perempuan tidaklah haram dan perintah Nabi SAW kepada Ummu Waraqah jelas bukan kesalahan, sebab Mahasuci Tuhan yang melindungi Nabi-Nya dari keterlibatan pada keharaman.  Wallahu a’lam bi al-shawab.

.

HARGAILAH SANG GURU

Hargailah Sang Guru

(Dikutip dari buku Islam Rahmah untu Bangsa, karya Prof.Dr.Hamka Haq, MA, penerbita: Baitul Muslimin Indonesia)

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tanpa guru, tidak akan pernah ada peradaban di muka bumi.  Tanpa guru, manusia hanya mengenal kebiadaban-kebiadaban.  Sebab, guru-lah yang memberitahu generasi manusia dari zaman ke zaman tentang kemaslahatan yang perlu dilestarikan secara akumulatif dalam sejarah peradaban.  Karena itu tidak salah sebuah adagium yang menyatakan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Guru menjadi pahlawan karena profesionalitas dan ketekunan dalam mengabdi untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsanya.   Dia memilih profesi itu tidak sekadar sebagai sumber nafkah melainkan sebagai sebuah kehormatan tersendiri dalam pengabdian kepada masyarakat dan sekaligus juga ibadah kepada Tuhan.  Di beberapa tempat, guru disapa dengan gelar “tuan”, sehingga secara lengkap disapa “tuan guru”.  Mungkin ini terinspirasi dari sebuah riwayat yang berbunyi man `allamaka harf(an) fa huwa mawlaka (barang siapa yang mengajarkan satu huruf padamu, maka dia adalah tuanmu).

Namun dewasa ini, sudah sangat jarang orang berpikir betapa sulitnya menjadi guru yang profesional dan terhormat itu.  Kebanyakan orang hanya melihat sosok guru yang kehidupannya amat sederhana dan pas-pasan.  Padahal  setiap harinya guru dituntut untuk berprestasi, meningkatkan ilmu dan wawasannya, yang untuk itu ia tentu terbebani dengan biaya buku, majalah, koran dan bahkan televisi; janganlah menyebut komputer dan internet.  Karena itu, ia tidak henti-hentinya berusaha mengembangkan potensi pengetahuannya, minimal metode pengajaran dan materi yang disampaikan kepada anak didik.  Dia juga harus selalu berupaya memiliki fasilitas-fasilitas pendukung lainnya bagi pencapaian prestasi,  dan tak lupa pentingnya kesehatan yang prima.

Guru yang baik bukan hanya sekadar pintar, tetapi ia juga harus sukses dalam mewariskan kepintaran kepada generasi bangsa.  Dengan demikian ia menjadi pelopor pembaharuan kehidupan, lewat pendidikan yang digelutinya.  Untuk itu, seorang guru yang profesional tidak henti-hentinya meningkatkan kualitas ilmunya, dan berupaya semaksimal mungkin untuk menerasnformasikan kepada orang lain (anak didik).  Pendeknya dia harus dapat membuktikan dirinya sebagai guru yang baik, didukung dengan penguasaan metodologi pengajaran (metode didaktik) yang memadai.

Sebagai pembaharu yang mengantar kehidupan bangsa ke arah yang lebih baik, lebih berbudaya, maka guru seharusnya merasa bangga akan tugasnya sebagai guru.  Dia memilih pekerjaan yang membawa dirinya menjadi mulia dan terhormat dan membawa masyarakatnya menjadi cerdas dan beradab.  Sang guru yang terhormat itu tidak akan pernah merasa rendah dengan posisinya sebagai guru.  Hanya dengan begitu, guru termotivasi untuk mengembangkan diri (SDM) dan profesi yang dibanggakannya itu.  Namun di sisi lain, secara jujur harus pula diakui bahwa nasib guru memang masih menyedihkan, terlebih lagi akibat semakin banyaknya gejala pelecehan terhadap profesinya.  Hal ini disebabkan, karena kehidupan guru pada umumnya masih di bawah standar kesejahteraan, sehingga masyarakat yang cenderung materialis hanya memandang guru dengan sebelah mata.

Sikap negatif masyarakat seperti itu berbanding terbalik dengan setumpuk tuntutan mereka terhadap guru.  Mereka semakin tidak senang bila guru mencari pekerjaan lain guna menutupi biaya hidupnya yang semakin sulit.  Padahal, sesungguhnya siapakah yang salah sehingga profesi guru belum menjanjikan kesejahteraan dalam dunia yang serba materialis?.   Godaan yang biasa melanda seorang guru ialah melirik sumber nafkah di luar profesinya, atau minimal mengais tambahan rezki lewat “komersialisasi” statusnya sebagai guru.  Maka, yang menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini ialah bagaimana memberi jaminan kehidupan yang layak dan sejahtera bagi para guru agar tetap menjadi guru profesional.

Ironis memang, guru sebagai pahlawan yang nasibnya sungguh menyedihkan. Guru kadang tidak lagi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, justru sering menjadi pahlawan tanpa imbalan jasa.  Sungguh berbeda nasib yang dialami oleh seorang tentara yang jadi pahlawan, bertempur di medan perang, yang di hadapannya terbentang harapan kenaikan pangkat, anugerah bintang jasa yang semakin berjejer rapi di dadanya, dan selama dalam tugas operasi, tunjangannya pun semakin berlimpah.  Bandingkan dengan seorang guru misalnya yang bertugas nun jauh di desa, entah di pedalaman hutan dengan sejumlah binatang buasnya atau di pulau-pulau terpencil di balik gulungan ombak yang ganas, nasib guru biasa-biasa saja; gaji dan kenaikan pangkatnya sering terlambat dibanding dengan rekan-rekannya yang ada di kota; maka lengkaplah nasibnya menjadi pahlawan tanpa imbalan jasa.

Ajaran Islam memberi pesan: “Berilah pekerja itu upah sebelum keringatnya kering”. , namun nasib guru belum tersentuh dengan pesan ini.  Bukan hanya keringatnya yang kering, malah badannya pun kadang menjadi semakin kurus kering.  Untung saja masyarakat di desa adalah manusia yang ramah dan pintar memberi penghargaan pada tuan guru, sehingga tuan guru pun masih betah menekuni profesinya, walaupun jauh dari kota.

Lain lagi, nasib guru-guru yang ada di perkotaan.  Meskipun mereka relatif lebih mujur dengan kelancaran kenaikan pangkat, atau lebih mudah memperoleh fasilitas kesejahteraan, namun mereka pun kadang menghadapi siksaan psikologis yang luar biasa.  Akibat arus materialistik yang semakin deras dalam kehidupan kota, orang tua murid (siswa) sangat menaruh harapan pada anaknya untuk berprestasi demi masa depan.  Harapan seperti ini kadang mendorong orang tua untuk memaksa tuan guru, kalau tidak mengintimidasi dan menerornya, agar angka-angka rapor anaknya digelembungkan di luar batas logika.  Ada pula yang menggodanya dengan imbalan yang menggiurkan.  Di sinilah, tuan guru diuji apakah tetap pada idealisme sebagai guru yang profesional ataukah hanyut dengan segala godaan yang dialaminya?.

Keadaan di atas barulah secuil kisah tentang guru di sekolah pemerintah, yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS).  Bagaimana nasib guru honorer yang sema-mata bermodalkan semangat pengabdian, nasib sebahagian besar mereka tentu lebih menyedihkan lagi.   Tidak perlu diungkit di sini, sebab bangsa kita biasanya sudah merasa cukup dengan menyampaikan ucapan “terima kasih” kepada mereka.   Terima kasih, tanpa disertai tanda terima kasih, begitulah nasib para guru honorer kita.