MANUSIA WAKIL TUHAN DI BUMI

MANUSIA WAKIL TUHAN DI BUMI
(Serial Kuliah Teologi Lingkungan Hidup)

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA.

Banjir memusnahkan ekosistem dan infrastruktur akibat ulah manusia menggunduli hutan

Banjir memusnahkan ekosistem dan infrastruktur akibat ulah manusia menggunduli hutan

Semua agama percaya bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang mulia. Manusia hendaknya berbuat bijaksana dan kebajikan di muka bumi, sejalan dengan tujuan pokok dari semua agama yakni kemaslahatan. Dalam konteks ini, apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk kehidupannya tidak boleh berdampak negatif terhadap masyarakat dan alam lingkungannya; menimbulkan penyakit, pencemaran makanan, air minum dan polusi udara misalnya. Tindakan manusia yang tidak mendukung kemaslahatan umum tersebut adalah sebuah kezaliman yang dilarang keras oleh semua agama. Dalam Islam, hal tersebut diperingatkan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah memperasakan kepada mereka sebahagian (akibat) dari yang mereka perbuat, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S.al-Rum ([30]: 41).

Sebagai Khalifah (Wakil) Tuhan di bumi, manusia harus secara bijak menyeimbangkan perilakunya antara sifat Tuhan sebagai Penguasa dan sifat Tuhan sebagai Pemelihara. Untuk memanfaatkan sumber daya alam demi kehidupan manusia yang layak dan berperadaban, manusia dituntut untuk mernguasai teknologi, sebab hanya dengan demikian, manusia dapat “menguasai” alam, dalam arti memanfaatkan alam untuk kehdupannya.

Namun, penguasaan teknologi haruslah di bawah kendali kesadaran berbuat baik pada alam, dan sesama manusia berdasarkan sifat Tuhan sebagai Pemelihara alam (Rabbu al-`alamin). Manusia sebagai wakil Tuhan, berperan untuk memelihara dan melestarikan alam, memanfaatkannya untuk semua manusia dan menghindari perilaku yang merusak alam lingkungannya. Hadis Nabi menyebut bahwa manusia butuh secara bersama-sama memperoleh sebesar-besar manfaat dari alam.:

الناس شركاء في ثلاث في الماء والكلأ والنار

(Manusia berserikat dalam memanfaatkan air, tanah dan api/energi)

Untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari alam (air, tanah dan energi) manusia berhajat pada sains dan teknologi. Secara teologis, teknologi berfungsi untuk membawa manusia mensyukuri nikmat Tuhan, sehingga Tuhan akan pasti memenuhi janjiNya untuk meningkatkan manfaat alam bagi manusia:

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.- Q.S.Ibrahim [14]: 7).

Namun, harus dicamkan bahwa tekonologi yang memberi manfaat adalah yang dikendalikan iman (teologi), atau teknologi yang berteologi. Tanpa teologi, teknologi akan menjadi bencana bagi manusia dan alam semesta.

Sisi keimanan yang tak terpisahkan dari sains dan teknologi untuk mengelola sumber daya alam, adalah bahagian dari fungsi manusia sebagai khalifah Tuhan. Untuk penguasaan sains dan teknologi sebagai pilar peradaban, Al-Qur’an memberikan instruksi iqra’ (bacalah) ayat-ayat Tuhan pada alam semesta ini, melalui sains dan teknologi yang ber-Tuhan,: إقرأ باسم ربك الذى خلق- iqra’ bismi rabbik alladziy khalaq (bacalah dengan nama Tuhan-Mu yag menciptakan – Q.S. a-`Alaq [96]: 1). Selanjutnya untuk mengelola alam semesta, sebagai natural resource, Al-Qur’an menyatakan perlunya eksplorasi alam (taskhir) seperti terdapat dalam ayat:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ ﴿٢٠﴾
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Q.S.Luqman [31]: 20)

Maka terkait dengan kedudukan manusia sebagai Khalifah (wakil Tuhan di muka bumi), secara teologis, Al-Qur’an memberikan setidaknya tiga kata kunci, yaitu: khalifah, iqra’ dan tasykhir, masih terdapat lagi sejumlah istilah lain yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia sebagai pembangun peradaban di muka bumi.

Dengan semangat “Iqra bismi Rabbik” (iqra’ = pengkajian, Bismi Rabbik= berdasar teologi), maka sains dan teknologi itu sendiri adalah bahagian tak terpisahkan dari iman seseorang dan statusnya sebagai wakil Tuhan. Artinya manusia harus menguasai setinggi-tingginya dan seluas-luasnya sains dan teknologi yang kemudian diberi napas keimanan sehingga menjadilah sumber berkah bagi manusia dan alam sekitarnya, bukan sumber bencana. Tanggung jawab umat beragama di abad sekarang ialah meng-imaniah-kan sains dan teknologi pada semua aspeknya agar terhindar dari proses sekulerisasi dan proses penghancuran alam semesta. Jadi kalau ada istilah islamisasi IPTEK, adalah lebih tepat jika diartikan sebagai penerapan nilai imani dalam pendayagunaan IPTEK, bukan mencari IPTEK yang khas Islam dengan istilah kearab-araban.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa menjelajahi sains dan teknologi, sebagai media menelaah ayat-ayat Tuhan pada alam, dalam arti pemanfaatan dan pemeliharaannya, maka Al-Qur’an yang berbicara tentang alam semesta, menjadi kitab suci yang diberhalakan, bagaikan bahasa mati yang tidak bermanfaat apa-apa; ayat-ayatnya hanya tinggal sebagai teks usang yang kaku dan tak mampu berbicara mengenai solusi kehidupan kekinian manusia. Keimanan pada Al-Qur’an hanya dapat diaplikasikan dalam kehidupan keseharian jika tafsir Al-Qur’an itu sendiri diimplementasikan dengan instrumen sains dan teknologi yang mampu mengelola alam untuk peradaban manusia. Dengan kata lain, Al-Qur’an sebagai sumber keimanan, harus disinergikan dengan sains dan teknologi sebagai media penyampaian pesan-pesan Ilahiyah dalam wujud kesejahteraan konkret bagi umat manusia.

Dampak Teknologi Tanpa Teologi

Untuk mewujudkan hidupnya, manusia memanfaatkan knologi mengelola alam. Namun secara tidak sadar, di samping manfaat positif, terjadi pula dampak negatif dari penggunaan sains dan teknologi yang harus dicermati.
Dampak positif antara lain:
– Industri semakin berkembang sehingga lapangan kerja semakin terbuka luas
– Semakin berkembangnya jenis tanaman yang menjadi bahan baku industry
– Sistem pertanian moderen semakin berkembang diringi peningkatan produksi pangan dan kebutuhan lainnya.

Sedang dampak negatif adalah rusaknya lingkungan alam, sehingga ekosistem kurang menunjang kehidupan manusia, adalah akibat:

– Lahan pertanian rakyat semakin sempit, terdesak oleh berkembangnya pertanian / perkebunan untuk industri
– Banjir dan erosi semakin mudah terjadi akibat penebangan liar / penggundulan hutan.
– Pencemaran air dan tanah terjadi akibat limbah industri
– Terjadinya pemanasan global akibat efek rumah kaca.

Satu di antara dampak negatif yang perlu digaris bawahi di sini ialah efek rumah kaca disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Hal ini disebabkan oleh eskalasi pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya dari industri yang semakin berkembang yang melampaui batas kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Efek rumah kaca ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan bumi yang mengakibatkan perubahan ekstrim pada iklim di bumi. Hal ini akan membawa rusaknya ekosistem, sehingga hutan semakin tidak mampu menyerap karbon dioksida di atmosfer. Terjadinya pemanasan global menyebabkan gunung-gunung es di daerah kutub akan meleleh (mencair) yang menimbulkan naiknya permukaan air laut, sekaligus meningkatkan suhu air laut pula. Jika proses ini terjadi terus-menerus maka tidak mustahil sejumlah pulau tempat pemukiman manusia nanti akan tenggelam. Hal ini merupakan ancaman serius bagi negara-negara kepulauan seperti Indonesia.
Begitulah dahsyatnya dampak negatif dari teknologi yang tidak dikendalikan oleh teologi dan nalar kemaslahatan manusia. Belum lagi kita berbicara betapa dahsyatnya bencana yang ditimbulkan oleh penyalah gunaan bahan kimia menjadi senjata pemusnah masal dan bom nuklir yang mampu membinasakan umat mansia seketika. Tegasnya tanpa teologi, sains dan teknologi hanya akan berakibat bencana dan kebinasaan alam dan manusia. Dua dampak negaif ini telah diisyaratkan Tuhan dalam ayat berikut:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S.al-Baqarah [2]: 30).   Wa `Llahu A`lam bi al-Shawab.

Industri yang tak terkendali akan semakin berdampak pada pemanasan global

Industri yang tak terkendali akan semakin berdampak pada pemanasan global

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s