TUNTUNAN RINGKAS IBADAH QURBAN

TUNTUNAN RINGKAS IBADAH QURBAN

Oleh: Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA.

Dalam rangka menghadapi Hari Raya Adhha, yakni Hari Raya Kurban, berikut ini saya kutipkan tuntunan pelaksanaannya menurut hadits dan sunnah Rasulullah SAW.

A. PERSIAPAN

1. Berkurban, hukumnya adalah sunah muakkadah bahkan ada yang memandang wajib atas orang yang mampu. Sebagaimana dipahami dari penegasan hadits Nabi SAW:

عن أبي هريرة: من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا

Artinya: “dari Abi Hurayrah, Barang siapa yang memperoleh kemampuan, kemudian tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami (masjid, mushalla dan lapangan tempat bershalat) – Riwayat Ahmad dan lbnu Majah.,

Meskipun tidak disepakati wajibnya berkurban, ia telah menjadi tradisi sejak zaman Rasulullah SAW. Sahabat yang tidak sempat berkurban, kadang melakukan amalan yang dianggapnya pengganti kurban. lbnu Abbas pernah memberi dua dirham kepada pembantunya, agar dia membeli daging dan menyampaikan kepada orang bahwa inilah kurbannya lbnu Abbas. Sementara itu Bilal pernah pula menyembelih seekor ayam jantan atau semacamnya sebagai pengganti kurban (Lihat dalam Kitab Subul aLSalam).

2. Hewan yang dapat dikurbankan ialah hewan ternak (bahimah) yaitu unta dan sejenisnya, sapi dan sejenisnya, kambing dan sejenisnya, yang sudah cukup umur untuk dikonsumsi secara sehat.

3. Untuk seeokor unta atau sapi, dapat dikurbankan oleh tujuh orang secara berjamaah, Hadits dari Jabir riwayat Muslim menyebutkan:

نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة رواه مسلم عن يحيى بن يحيى

Kami telah berkurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, yaitu seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang). Lihat dalam Abu Nuaim Ahmad bin Abdillah al-Asfahaniy, al-Musnad al-Mustakhraj `ala Shahih al-Imam Muslim, (Beyrut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1966), Jus 3, h. 393.

Sedang untuk seekor kambing, kibas atau domba, hanya dikurbankan secara perorangan (untuk seorang saja), berdasarkan ijma; walaupun ketika Nabi SAW berkurban seekor kibas, beliau menyebut untuk diri bersama keluarganya

فأضجعه ثم قال بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به

Maka Nabi membaringkan kibas itu, lalu mengucapkan bismillahi ya Allah terimalah qurban dari Muhammad, dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad, lalu beliau menyembelihnya (Kitab Subul al-Slam Juz 4. Al. 90).

Boleh jadi yang dimaksud bersama keluarga dan ummatnya ialah pahala dari kurban, atau diniatkan sebagai kurban kifayah, untuk mereka yang tidak mampu berkurban, bukan pelaksanaan ibadah kurban secara berjamaah.

4. Ada riwayat menyebutkan bahwa onta yang sangat besar dapat dikurbankan bersama oleh 10 orang.

فأخرج الترمذي والنسائي من حديث ابن عباس قال كنا مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في السفر فحضر الأضحى فاشتركنا في البقرة سبعة وفي البعير عشرة

Al-Turmudzi dan Al-Nasa’iy menyampaikan hadits dari Ibni Abbas, berkata: kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu safar, sampai tiba hari raya kurban, maka kami berkurban bersama-sama seekor sapi untuk tujuh orang, dan seekor unta besar untuk sepuluh orang” Lihat Subul al-Salam Juz IV h. 95.

5. Hewan yang akan dikurbankan haruslah sehat, berbobot dan berkualitas, bahkan indah dipandang mata. Riwayat dari Anas bin Malik:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي بكبشين أملحين أقرنين ويسمي ويكبر – متفق عليه

“Adalah Rasulullah SAW berkurban dengan dua kibas yang keduanya berjengggot dan keduanya bertanduk, beliau menyelmbelih dengan menyebut nama Allah dan bertakbir). ”

Suatu riwayat menyebut – سمينين saminayn (gemuk), dan oleh Abu ‘Awanah disebut dengan lafazh: – ثمينين tsaminayn (berkualitas atau berharga). Lihat dalam Subulu al-Salam (juz 4 hal. 90).

6. Tidak menjadi masalah soal warna hewan kurban, warna apa saja yang mudah diperoleh untuk dikurbankan semua dipandang sah oleh Syariat

7. Dianjurkan untuk mengurbankan hewan yang berkualitas, indah dan bagus dipandang mata. Dalam hal ini menurut riwayat dari Ali RA, Rasulullah SAW memerintahkan untuk memprioritaskan kesehatan dengan memperhatikan keindahan mata dan telinganya,:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نستشرف العين والأذن

Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengutamakan keindahan mata dan telinganya. Lihatt dalam Muhammad bin Ishaq bin Huzaymah, Shahih Ibnu Khuzaymah, (Beyrut: al-Maktab al-Islamiy, 1390), Juz IV, h. 293.

8. Ada empat aib penyebab tidak bolehnya hewan dikurbankan, yaitu cacat, sakit, pincang dan sudah sangat tua (tidak segar / kumuh). Berdasarkan hadits Nabi SW:

وعن البراء بن عازب رضي الله عنه قال قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أربع لا تجوز في الضحايا العوراء البين عورها والمريضة البين مرضها والعرجاء البين ظلعها والكبيرة التي لا تنقي

“Dari Al-Barra’ bin ‘Azib RA, berkata, berdiri di sisi kami Rasulullah SAW dan bersabda: empat hal yang tidak boleh ada pada hewan kurban, yaitu: cacat yang jelas cacatnya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan ketuaan yang tidak lagi segar (kumuh /tidak tangkas)”. Riwayat Ahmad, Al-Turmudziy dan Ibn Hibban (Muhammad bin Ismail al-Kahlaniy, Subul al-Salam, Juz IV, h. 93)

9. Adapun cacad ringan yang timbul pada hewan setelah ditetapkannya menjadi hewan kurban, tidak menjadi masalah. Demikian Pandangan lbnu Taymiyah yang dikutip dalam Subul al-Salam ( أن العيب الحديث بعد تعيين اللأضحية لا يضر – (Cacat baru yang muncul setelah ditentukan sebagai kurban tidak masalah)

B. PENYEMBELIHAN

1. Nabi SAW menyembelih kurban degan membaringkan hewan kurban, lalu membaca Bismillahi wa Allahu Akbar’ Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Ada juga memahami bahwa beliau berbasmalah selengkapnya (Bismillahi al-Rahmani Rahim), kemudian bertakbir sesudah berbasmalah. Takbir di sini adalah khusus pada penyembelihan kurban. Riwayat Muslim dari Aisyah yang telah dikutip di atas, menyebut:

فأضجعه ثم قال بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به

“Bahwa Nabi SAW membaringkannya, kemudian mernbaca: “Bismillahi Allahumma taqabbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa min Ummati Muhammad”. Riwayat lain dari Baihaqi menyebutkan: Bismillahi Wa Allahu Akbar, Allahumma ‘anniy wa’an man lam yudhahhi min ummatiy.”

2. Berdasarkan riwayat di atas, kita diharuskan menyebut nama diri dan atau keluarga yang turut beribadah (penyembelihan) qurban itu.

3. Pisau Yang akan digunakan menyembelih harus tajam, sehingga tidak menyiksa hewan kurban. Hadits Riwayat Muslim:

وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته

“Perbaikilah sembelihan itu, maka hendaklah seorang kamu menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya” Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, (Mishr: Muassasat Qurthubah, t.t.) Juz 4, h. 123.

4. Dianjurkan (mustahab) untuk membaringkan hewan kurban pada sisi kirinya agar memudahkan sang penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya.

5. Dianjurkan berdoa untuk drterimanya hewan kurban; mendoakan untuk diri sendiri dan kerabat keluarganya, dengan mengatakan ” Rabbana taqabbal minna innaka Anta al-Sami’u al-Alim. (ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم )

6. Waktu penyembelihan hewan kurban ialah setelah ditunaikannya shalat Iedil Adhha, yakni selesai dibacakan khotbah sampai tiga hari sesudah shalat Iedil Adhha itu. Tiga hari itu adalah hari-hari tasyriq atau hari pelontaran jumrah di Mina oleh mereka yang berhaji. Bahkan suatu jamaah membolehkan penyem-belihan kurban hingga akhir bulan Dzulhijjah. Pandangan ini dapat dipertemukan dengan mengatakan bahwa penyembelih-annya hanya sampai sebatas hari tasyriq (tiga hari sesudah shalat ‘ied) dan pembahagiannya dapat saja sampai akhir Dzulhijjah. Bahkan sebenarnya pembahagian itu masih dapat dilakukan di luar bulan Dzulhijjah. Lihat dalam Al-Kahlaniy al-Shan`aniy, Subul al-Salam, Juz 4, h. 92-93.

C. PEMANFAATAN

1. Untuk pemanfaatan daging kurban ada dua kemungkinan, yakni Pertama, dalam keadaan masyarakat sangat kesulitan memperoleh makanan (daging) maka daging kurban harus dibagi habis dalam jangka waktu tiga hari; kedua, dalam keadaan masyarakat tidak mengalami kesulitan maka daging kurban dibagi menjadi sepertiga kepada yang berhak untuk mereka makan, sepertiga lagi dapat di disimpan (diawetkan untuk persiapan menghadapi kesulitan pangan), dan sepertiga sisanya dapat dimakan oleh yang punya hajat kurban. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW riwayat Bukhariy:

حدثنا أبو عاصم عن يزيد بن أبي عبيد عن سلمة بن الأكوع قال قال النبي صلى الله عليه وسلم ثم من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وفي بيته منه شيء فلما كان العام المقبل قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي قال كلوا وأطعموا وادخروا فإن ذلك العام كان بالناس جهد فأردت أن تعينوا فيها

Artinya: Abu `Ashim memberitakan kepada kami, dari Yazid bin Abi `Ubayd, dari Salmah bin al-Akwa’, katanya: Bersabda Rasulullah: SAW barang siapa yang berkurban di antara kamu, maka janganlah sampai usai tiga hari masih ada tersisa di rumahnya sesuatu (daging kurban), maka tatkala tiba tahun berikutnya, mereka berkata hai Rasulullah apa kami lakukan seperti tahun lalu? Maka bersabda Rasulullah “Makanlah, dan beri makanlah, dan simpanlah, sesungguhnya tahu lalu itu manusia dalam keadaan susah, jadi aku ingin engkau membantu mereka”. (Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, (Beyrut: Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1407), Juz V, h. 2115

Adanya perintah “simpanlah” menjadi alasan pengalengan daging kurban oleh Negara-negara lslam kemudian dikirimkannya ke negeri-negeri Muslim yang kelaparan / kena bencana.

2. Daging kurban boleh dibagikan kepada tetangga non Muslim, guna memelihara keharmonisan bersama dalam suatu lingkungan pemukiman. Hal ini dapat dipahami dari hadits Nabi SAW sebagai berikut:

فجائز أن يطعمه أهل الذمة قال النبي صلى الله عليه وسلم لعائشة ثم تفريق لحم الأضحية ابدئي بجارنا اليهودي وروى أن شاة ذبحت في أهل عبدالله بن عمرو فلما جاء قال أهديتم لجارنا اليهودي ثلاث مرات

Artinya: maka boleh untuk diberi makan kepada non Muslim. Bersabda Rasulullah SAW pada Aisyah, soal pembahagian daging kurban, mulailah dengan memberikan tetangga Yahudi kita; dan diriwayatkan pula, bahwa seekor kambing dipotong kurban dari keluarga Abdullah bin Umar, maka tatkala Abdullah tiba, ia pun bertanya (tiga kali): apakah engkau telah memberikan ke tetangga Yahudi kita?. Lhat Muhammad bin Ahmad Abu Bakar al-Qurthubiy, dalam Tafsir Al-Qurthubi, (al-Qahorah: Dar al-Sya’b, 1372 H.), Juz V, h. 188.
2. Dibagi-bagikan dagingnya, termasuk kulitnya. Karena itu, tidak sah kurbannya jika kulit hewan kurban dijadikan upah bagi pekerja kurban. Pekerja kurban harus diupah tersendiri, tanpa mengurangi daging dan kulit hewan kurban. Hadits Nabi SAW sebagai berikut:

وعن عبد الله بن عياش المصري عن عبد الرحمن الأعرج عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من باع جلد أضحيته فلا أضحية له

“Dan dari Abdillah bin `Iyasy al-Mishriy, dari Abdurrahman al-A`raj, dari Abi Hurayrah RA, berkata: bersabda Rasulullah SAW barang siapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak sah kurbannya itu” (Muhammad bin Abdillah al-Naishaburiy, al-Mustadrak `ala al-Shahihayn, Beyrut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1411), Juz 2, h. 422.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

SELAMAT BERKURBAN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s