SOEKARNO, MUHAMMADIYAH DAN NU

BUNG KARNO, MUHAMMADIYAH DAN NU

IMG-20131031-00380

Oleh: Hamka Haq
Bung Karno adalah sosok pemikir dan pejuang. Sebagai pemikir, ia menganut garis kemerdekaan berpikir, dan dari sana pula ia menggagas kemerdekaan politik dan ekonomi dari kekuasaan penjajah. Sebagai seorang intelektual yang berpikir bebas, ia dekat dengan aktifis Muhammadiyah. Sewaktu muda, ia kagum terhadap K.H. Ahmad Dahlan yang mengumandangkan kebebasan berijtihad, dan dakwah nya untuk membebaskan umat dari khurafat dan bid’ah. Dan akhirnya, setelah dewasa Bung Karno menyatakan diri sebagai warga Muhammadiyah, dan minta agar ketika mati kelak, jasadnya dibungkus dengan panji Muhammdiyah. Ia pernah menjadi aktifis Muhammadiyah bidang Pendidikan, dan menjadi guru Sekolah Muhammadiyah di Bengkulu, di sana pula ia kawin dengan putri tokoh Muhammadiyah Hasan Din, bernama Fatmawati, yang juga muridnya di sekolah itu.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Bapak Prof.Dr. Din Syamsuddin, mengungkap kedekatan Bung Karno dengan Muhammadiyah, pada kesempatan memberi tawshiyah 100 hari wafatnya Bapak Taufiq Kiemas, di rumah duka Jl. Teuku Umar.
Selaku pengatur acara, pada kesempatan itu, saya menambahkan bahwa Bung Karno tidak hanya dekat dengan Muhammadiyah, tetapi juga dekat dengan Nahdhatul Ulama (NU). Saking dekatnya dengan NU, Bung Karno mendapat gelar Waliyul ‘Amri Dharuriy bi al-Syawkah (Pemimpin Pemeritahan yang berkuasa dan wajib ditaati). Salah satu sumber menyebutkan bahwa pemberian gelar tersebut didasari oleh pemikiran fikih kaum ulama, bahwa setiap wali (orang tua), seyogyanya mengawinkan anak perempuannya secara langsung. Namun kenyataannya, karena tingkat pengetahuan masyarakat kita masih sangat terbatas, maka hampir semua orang tua (wali) mewakilkan (menyerahkan / menguasakan) ijab kabul pernikahan puterinya kepada penghulu atau petugas KUA Kecamatan. Dalam fikih ditentukan bahwa yang berhak menerima penyerahan kewalian seperti itu, atau wali bagi perempuan yang tidak punya wali ada di tangan sultan (man la waliya laha, fa al-sulthanu waliyun). Maka bagi ulama NU, agar perwnyerahan kewalian itu sah, maka seharusnya penghulu atau petugas KUA menjadi perpanjangan tangan dari Sultan (Khalifah) atau waliyu al-Amri, dalam hal ini pemerintah di bawah pimpinan Presiden Soekarno waktu itu. Maka NU pun dalam Muktamarnya tahun 1949 menyepakati menobatkan Presiden Soekarno menjadi Waliy al-‘Amri.

Pada bahagian lain, ketika Negara menghadapi agresi pihak Sekutu yang ingin mengembalikan Indonesia ke dalam jajahan Belanda, NU pun memberikan dukungan sepenuhnya kepada Bung Karno untuk mempertahankan kemerdekaan, derngan keluarnya Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 di bawah komando pendiri NU Syekh K.H. Hasyim Asy`ari, yang mewajibkan segenap umat Islam Indonesia, khususnya warga NU untuk mengangkat senjata melawan Sekutu. Puncaknya terjadi ketika masyarakat Jawa Timur, khususnya di kota Surabaya melakukan perlawanan sengit di bawah pimpinan Bung Tomo pada tanggal 10 November 1945, derngan seruan Allahu Akbar yang menggema secara heroik di kota tersebut.
Kedekatan Bung Karno dengan dua ormas terbesar Islam tersebut di atas kembali menjadi perbincangan dalam Diskusi Bedah Buku Soekarno dan NU, titik Temu Nasionalisme (karya Zainal Abidin Amir dan Imam Anshori Soleh. Bertindak sebagai Narasumber adalah Dr. A.M. Hendropriyono (mantan Kepala BIN), Dr.K.H. As’ad Said Ali (Wakil Ketua Umum PBNU), Asvi Warman Adam (Peneliti Senior LIPI), dan Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA (Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia).

IMG-20131029-00378

Advertisements

TUHAN MENDESAIN ALAM DAN MANUSIA UNTUK KEMASLAHATAN

TUHAN MENDESAIN ALAM DAN MANUSIA
UNTUK Lingkungan Hidup1KEMASHLAHATAN

(Bahan diskusi Kuliah Theologi Lingkungan Hidup)

Oleh: Prof.Dr.H. Hamka Haq, MA

Mashlahah adalah tujuan Tuhan selaku pencipta syariat (qashd al-Syari). Secara teologis, mengandung pengertian bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam setiap perbuatan dan enciptaan-Nya.

Hal tersebut dipermasalahkan dalam teologi Islam dan dalam filsafat. Dalam filsafat agama, terdapat satu golongan yang berpendapat bahwa segala kejadian di alam ini terjadi secara seketika tanpa dirancang sebelumnya. Faham ini disebut occasionalism. Menurut paham ini, jika ada dua peristiwa yang kelihatannya serasi dan sejalan, sebenarnya itu hanya terjadi secara seketika dan kebetulan saja, karena dua hal itu dibuat dalam keadaan demikian oleh Tuhan; seperti halnya dua buah jam dapat menunjukkan waktu yang sama karena diciptakan demikian oleh pembuatnya. Paham demikian juga menurut Majid Fakhry, dikembangkan oleh aliran teologi Asy’ariyah yang dasar pemikirannya memandang Tuhan sebagai penguasa langit dan bumi yang segala kemauan-Nya tak dapat ditolak dan tak dapat dimengerti. Ia dapat berbuat tanpa tujuan. Pokoknya menurut mereka segala kejadian dalam alam tergantung sepenuhnya pada kehendak mutlak Tuhan, tanpa hukum kauslitas.

Kaum Asy’ariyah pada umumnya menolak adanya tujuan tertentu pada peciptaan. Antara lain dikemukakan oleh Al-Amidiy dengan katanya:

“Pendapat golongan yang benar (ahl al-haqq) ialah bahwa Tuhan mencipta alam tanpa berdasar pada suatu tujuan tertentu, tidak pula pada suatu kebijakan yang bergantung atasnya makhluk, tetapi segala yang diciptakan oleh-Nya berupa kebaikan dan kejahatan, manfaat dan mudarat bukan karena ada tujuan dan maksud yang mendorong Tuhan melakukannya, justru berbuat atau tidak adalah boleh dan itu sama saja bagi Tuhan”.

Pandangan serupa ditegaskan pula oleh Al-Syahrastani: “Sebagai pencipta, Tuhan tidak didorong oleh suatu tujuan dalam melakukan perbuatan-perbuatan-Nya”. Semua ini berdasarkan pada paham Al-Asy’ariy akan kekuasaan mutlak Tuhan, sehingga Ia dapat berbuat tanpa tujuan.

Sejalan dengan pandangan Asy`ariyah dan Occasionalism (Okkasionalisme), Al-Raziy berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai tujuan (‘illah) sama sekali dalam perbuatan-Nya. Sebaliknya Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam mencipta alam dan syari’at, yaitu untuk kemaslahatan manusia (mashalih al-‘ibad). Berdasarkan metode induksi, Al-Syathibiy sependapat dengan Mu’tazilah, bahwa Tuhan mencipta dan mengadakan syari’at dengan tujuan untuk kemaslahatan hamba (manusia).

Pandangan Al-Syathibiy dan Mu’tazilah sangat sejalan dengan argumen teologis yang dipakai dalam filsafat agama untuk membuktikan adanya Tuhan. Argumen ini berdasar pada keteraturan benda-benda dan peristiwa yang terjadi pada alam semesta yang mengarah kepada tujuan tertentu, yaitu kebaikan universal. Untuk itu mestilah ada dzat yang menentukan tujuan itu karena yang menentukannya haruslah suatu dzat yang lebih tinggi dari alam, yaitu Tuhan. Dalam argumen ini Tuhan dipandang Mahabijaksana dan mempunyai maksud tertentu dalam perbuatan-Nya atau tegasnya kata Harold H.Titus: God is intelligent and His ways are purposesful. Dengan demikian segala peristiwa dan apa saja yang ada dalam alam ini tidaklah terjadi secara seketika begitu saja, tetapi terjadi dengan suatu rencana dan direncanakan untuk suatu tujuan tertentu oleh Tuhan (could not have happened by chance).

Adapun kriteria kemaslahatan yang merupakan tujuan syariat itu adalah tegaknya kehidupan dunia (pada alam ini) demi tercapainya kehidupan akhirat (min hayts tuqam al-hayat al-dunya li al-ukhra). Dengan demikian segala hal yang mengandung kemaslahatan dunia (alam / lingkungan) haruslah sejalan dengan kemaslahatan akhirat. Untuk itu manusia dalam mewujudkan kemaslahatan dunia (alam lingkungan) haruslah terbebas dari nafsu serakah, karena kemaslahatan tersebut tidak diwujudkan menurut keinginan nafsu (la min hayts ahwa’ al-nufus).
Kenyataan empiric menunjukkan bahwa maslahat bagi manusia dan alam ini tak dapat diperoleh jika manusia memperturutkan nafsu. Hal ini disebabkan nafsu dapat membawa pertumpahan darah dan kebinasaan alam sekitar yang merupakan kontradiksi bagi kemaslahatan itu sendiri. Karena itu, manusia sepakat mencela siapapun yang memperturutkan nafsunya; bahkan umat-umat terdahulu yag tidak memperoleh syariat, atau yang telah punah syariatnya, berusaha mewujudkan kemaslahatan dengan jalan mencegah orang menuruti nafsunya. Hal itu merupakan kebenaran universal yang diakui oleh naql (Al-Qur’an dan Al-Sunnah) dan ‘aql (akal).

Kemaslahatan manusia dan lingkungannya adalah bersifat universal, berlaku secara umum dan abadi bagi semua manusia dalam segala keadaan. Beberapa pokok pikiran menyangkut universalitas kemaslahatan ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

Pertama, bahwa setiap aturan (nizham) berua syaiat dan hukum kausalitas bagi kemaslahatan diciptakan Tuhan secara harmonis, tidak saling berbenturan dan kacau karena Tuhan menghendaki kemaslahatan secara mutlak. Argumen keharmonisan tatanan alam sangat sejalan dengan argumen filsafat. Bahwa jika kita perhatikan dunia lingkungan kita, ditemukan adanya hukum keteraturan (kausalitas) universal. Dari sana dapat diketahui bahwa perbuatan Tuhan mestilah menghendaki keharmonisan dalam berbagai proses peristiwa di alam ini.

Kedua, bahwa kemaslahatan itu berlaku secara umum, tidak parsial, artinya bukan hanya berlaku secara khusus pada satu tempat tertentu saja. Untuk itu maka syariat berlaku secara umum pula, disamping karena ada nash yang berbunyi: وما أرسلناك إلا كافة للناس juga karena manusia dan lingkungannya mempunyai kesamaan tabiat terhadap maslahat. Sekiranya hukum syariat itu berlaku untuk khusus sebahagian manusia, maka kaedah pokok Islam, seperti iman, tidak berlaku secara umum pula.

Ketiga, bahwa maslahat universal (kulliyah) adalah maslahat yang diterim a secara umum (al-mashalih al-mu’tabarah). Hal ini sesuai dengan sifat syariat dan hukum alam yang diciptakan Tuhan adalah berlaku secara umum menurut kondisi manusia (‘adah). Apabila kemaslahatan umum bertentangan dengan kemaslahatan parsial, maka yang diberlakukan adalah maslahat universal itu. Universalitas maslahat tidak hilang, meskipun bertentangan dengan kenyataan parsial. Sebagai contoh, kewajiban menyelamatkan jiwa manusia secara universal tetap berlaku, terkadang dengan terpaksa membunuh hewan-hewan penyebar penyakit.

Dari argumen-argumen yang dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa universalitas maslahat lingkungan dan syariat mengandung arti keharmonisan dan keutuhan hukum Tuhan, tidak terjadi kontradiksi antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Konsep keharmonisan seperti ini sebenarnya dianut juga oleh kaum Mu’tazilah Abd al-Jabbar menyatakan:

“Jika dikatakan bahwa perbuatan /penciptaan Tuhan bersifat harmonis dari segi strukturnya (shalah fi tadbirih), maka tak lepas pula dari kaitannya dengan hukum taklif dan mukallaf; segala perbuatan-Nya tidaklah mengacaukan dua hal (hukum taklif dan mukallaf) dan tidak membawa mukallaf keluar dari kesungguhan berbuat; demikian itulah yang disebut harmonis. Sebaliknya, segala hal yang mengendorkan semangat mukallaf untuk bekerja berarti Tuhan telah merusak dan mengacaukan struktur perbuatan / ciptaan-Nya (fasad fi tadbirih)..”

Faham keharmonisan penciptaan Tuhan dianut juga oleh Maturidiyah Samarkand. Al-Maturidiy sendiri menyatakan bahwa siapapun yang memperoleh ma’rifah (pengenalan) kepada Allah, mengetahui kekuasaan dan kerajaan-Nya, bahwa Dia lah pencipta dan memberi perintah, tentu mengenal pula bahwa perbuatan-Nya tidak mungkin keluar dari hikmah kebijakan tertentu. Namun, Maturidiyah Bukhara berpendapat lain; menurut mereka Tuhan mencipta alam menurut kehendak-Nya, tanpa terikat pada hukum keharmonisan dan tujuan tertentu.

Fazlur Rahman, cendekiawan Muslim modern, juga menerima konsep keharmonisan ciptaan dan hukum-hukum Tuhan. Baginya, kehidupan manusia tidak punya makna (tujuan) kecuali jika alam ini sendiri punya tujuan. Tujuan itu ada jika terdapat suatu rancangan pada alam ini, sedang rancangan itu sendiri ada karena diciptakan oleh Tuhan. Menurut Fazlur Rahman, tujuan dan rancangan alam semesta ini menunjukkan bahwa alam ini tidak hanya merupakan satu tatanan fisik tetapi juga merupakan satu tatanan moral. Dengan kata lain, alam ini tidak hanya tersusun atas fakta-fakta empiric berdasarkan kausalitas, tetapi juga adalah suatu dunia moral yang di dalamnya kemaslahatan (goodness) merupakan sebaik-baik jalan bagi perilaku manusia.

Muhammad Abduh, pelopor pembaharuan pemikiran Islam modern, yang datang jauh mendahului Fazlur Rahman, juga menerima konsep universalitas dan harmonitas maslahat dan syariat. Dalam hal ini, ia mengajukan teori sunnatullah (hukum alam ciptaan Tuhan), bahwa Tuhan mengatur segalanya sesuai dengan hukum alam ciptaan-Nya yang tidak berubah-ubah sehingga segala sesuatu pada alam ini berjalan baik dan teratur secara harmonis. Bagi Abduh, perbuatan/ penciptaan oleh Tuhan mempunyai tujuan tertentu, karena mustahil Ia berbuat sia-sia tanpa tujuan. Berdasarkan dalil akal katanya, seseorang yang sehat pikirannya tidak mungkin berbuat sia-sia. Orang seperti itu pasti tahu bahwa segala yang lahir dari keinginan dan kehendaknya adalah konsekuensi dari adanya tujuan. Jika hal ini berlaku pada manusia, maka tentu lebih patut pada sisi Tuhan; Tuhan adalah sumber segala akal dan kesempurnaan pengetahuan.

Bagaimanapun juga, pandangan Muhammad Abduh dan Fazlur Rahman serta dua aliran teologi, Mu’tazilah dan Maturidiyah serta Al-Syathibiy, sependapat bahwa Tuhan mempunyai tujuan tertentu dalam mendesain alam semesta dan manusia ciptaan-Nya.

TUNTUNAN RINGKAS IBADAH QURBAN

TUNTUNAN RINGKAS IBADAH QURBAN

Oleh: Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA.

Dalam rangka menghadapi Hari Raya Adhha, yakni Hari Raya Kurban, berikut ini saya kutipkan tuntunan pelaksanaannya menurut hadits dan sunnah Rasulullah SAW.

A. PERSIAPAN

1. Berkurban, hukumnya adalah sunah muakkadah bahkan ada yang memandang wajib atas orang yang mampu. Sebagaimana dipahami dari penegasan hadits Nabi SAW:

عن أبي هريرة: من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا

Artinya: “dari Abi Hurayrah, Barang siapa yang memperoleh kemampuan, kemudian tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami (masjid, mushalla dan lapangan tempat bershalat) – Riwayat Ahmad dan lbnu Majah.,

Meskipun tidak disepakati wajibnya berkurban, ia telah menjadi tradisi sejak zaman Rasulullah SAW. Sahabat yang tidak sempat berkurban, kadang melakukan amalan yang dianggapnya pengganti kurban. lbnu Abbas pernah memberi dua dirham kepada pembantunya, agar dia membeli daging dan menyampaikan kepada orang bahwa inilah kurbannya lbnu Abbas. Sementara itu Bilal pernah pula menyembelih seekor ayam jantan atau semacamnya sebagai pengganti kurban (Lihat dalam Kitab Subul aLSalam).

2. Hewan yang dapat dikurbankan ialah hewan ternak (bahimah) yaitu unta dan sejenisnya, sapi dan sejenisnya, kambing dan sejenisnya, yang sudah cukup umur untuk dikonsumsi secara sehat.

3. Untuk seeokor unta atau sapi, dapat dikurbankan oleh tujuh orang secara berjamaah, Hadits dari Jabir riwayat Muslim menyebutkan:

نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة رواه مسلم عن يحيى بن يحيى

Kami telah berkurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, yaitu seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang). Lihat dalam Abu Nuaim Ahmad bin Abdillah al-Asfahaniy, al-Musnad al-Mustakhraj `ala Shahih al-Imam Muslim, (Beyrut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1966), Jus 3, h. 393.

Sedang untuk seekor kambing, kibas atau domba, hanya dikurbankan secara perorangan (untuk seorang saja), berdasarkan ijma; walaupun ketika Nabi SAW berkurban seekor kibas, beliau menyebut untuk diri bersama keluarganya

فأضجعه ثم قال بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به

Maka Nabi membaringkan kibas itu, lalu mengucapkan bismillahi ya Allah terimalah qurban dari Muhammad, dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad, lalu beliau menyembelihnya (Kitab Subul al-Slam Juz 4. Al. 90).

Boleh jadi yang dimaksud bersama keluarga dan ummatnya ialah pahala dari kurban, atau diniatkan sebagai kurban kifayah, untuk mereka yang tidak mampu berkurban, bukan pelaksanaan ibadah kurban secara berjamaah.

4. Ada riwayat menyebutkan bahwa onta yang sangat besar dapat dikurbankan bersama oleh 10 orang.

فأخرج الترمذي والنسائي من حديث ابن عباس قال كنا مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في السفر فحضر الأضحى فاشتركنا في البقرة سبعة وفي البعير عشرة

Al-Turmudzi dan Al-Nasa’iy menyampaikan hadits dari Ibni Abbas, berkata: kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu safar, sampai tiba hari raya kurban, maka kami berkurban bersama-sama seekor sapi untuk tujuh orang, dan seekor unta besar untuk sepuluh orang” Lihat Subul al-Salam Juz IV h. 95.

5. Hewan yang akan dikurbankan haruslah sehat, berbobot dan berkualitas, bahkan indah dipandang mata. Riwayat dari Anas bin Malik:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي بكبشين أملحين أقرنين ويسمي ويكبر – متفق عليه

“Adalah Rasulullah SAW berkurban dengan dua kibas yang keduanya berjengggot dan keduanya bertanduk, beliau menyelmbelih dengan menyebut nama Allah dan bertakbir). ”

Suatu riwayat menyebut – سمينين saminayn (gemuk), dan oleh Abu ‘Awanah disebut dengan lafazh: – ثمينين tsaminayn (berkualitas atau berharga). Lihat dalam Subulu al-Salam (juz 4 hal. 90).

6. Tidak menjadi masalah soal warna hewan kurban, warna apa saja yang mudah diperoleh untuk dikurbankan semua dipandang sah oleh Syariat

7. Dianjurkan untuk mengurbankan hewan yang berkualitas, indah dan bagus dipandang mata. Dalam hal ini menurut riwayat dari Ali RA, Rasulullah SAW memerintahkan untuk memprioritaskan kesehatan dengan memperhatikan keindahan mata dan telinganya,:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نستشرف العين والأذن

Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengutamakan keindahan mata dan telinganya. Lihatt dalam Muhammad bin Ishaq bin Huzaymah, Shahih Ibnu Khuzaymah, (Beyrut: al-Maktab al-Islamiy, 1390), Juz IV, h. 293.

8. Ada empat aib penyebab tidak bolehnya hewan dikurbankan, yaitu cacat, sakit, pincang dan sudah sangat tua (tidak segar / kumuh). Berdasarkan hadits Nabi SW:

وعن البراء بن عازب رضي الله عنه قال قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أربع لا تجوز في الضحايا العوراء البين عورها والمريضة البين مرضها والعرجاء البين ظلعها والكبيرة التي لا تنقي

“Dari Al-Barra’ bin ‘Azib RA, berkata, berdiri di sisi kami Rasulullah SAW dan bersabda: empat hal yang tidak boleh ada pada hewan kurban, yaitu: cacat yang jelas cacatnya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan ketuaan yang tidak lagi segar (kumuh /tidak tangkas)”. Riwayat Ahmad, Al-Turmudziy dan Ibn Hibban (Muhammad bin Ismail al-Kahlaniy, Subul al-Salam, Juz IV, h. 93)

9. Adapun cacad ringan yang timbul pada hewan setelah ditetapkannya menjadi hewan kurban, tidak menjadi masalah. Demikian Pandangan lbnu Taymiyah yang dikutip dalam Subul al-Salam ( أن العيب الحديث بعد تعيين اللأضحية لا يضر – (Cacat baru yang muncul setelah ditentukan sebagai kurban tidak masalah)

B. PENYEMBELIHAN

1. Nabi SAW menyembelih kurban degan membaringkan hewan kurban, lalu membaca Bismillahi wa Allahu Akbar’ Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Ada juga memahami bahwa beliau berbasmalah selengkapnya (Bismillahi al-Rahmani Rahim), kemudian bertakbir sesudah berbasmalah. Takbir di sini adalah khusus pada penyembelihan kurban. Riwayat Muslim dari Aisyah yang telah dikutip di atas, menyebut:

فأضجعه ثم قال بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به

“Bahwa Nabi SAW membaringkannya, kemudian mernbaca: “Bismillahi Allahumma taqabbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa min Ummati Muhammad”. Riwayat lain dari Baihaqi menyebutkan: Bismillahi Wa Allahu Akbar, Allahumma ‘anniy wa’an man lam yudhahhi min ummatiy.”

2. Berdasarkan riwayat di atas, kita diharuskan menyebut nama diri dan atau keluarga yang turut beribadah (penyembelihan) qurban itu.

3. Pisau Yang akan digunakan menyembelih harus tajam, sehingga tidak menyiksa hewan kurban. Hadits Riwayat Muslim:

وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته

“Perbaikilah sembelihan itu, maka hendaklah seorang kamu menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya” Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, (Mishr: Muassasat Qurthubah, t.t.) Juz 4, h. 123.

4. Dianjurkan (mustahab) untuk membaringkan hewan kurban pada sisi kirinya agar memudahkan sang penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya.

5. Dianjurkan berdoa untuk drterimanya hewan kurban; mendoakan untuk diri sendiri dan kerabat keluarganya, dengan mengatakan ” Rabbana taqabbal minna innaka Anta al-Sami’u al-Alim. (ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم )

6. Waktu penyembelihan hewan kurban ialah setelah ditunaikannya shalat Iedil Adhha, yakni selesai dibacakan khotbah sampai tiga hari sesudah shalat Iedil Adhha itu. Tiga hari itu adalah hari-hari tasyriq atau hari pelontaran jumrah di Mina oleh mereka yang berhaji. Bahkan suatu jamaah membolehkan penyem-belihan kurban hingga akhir bulan Dzulhijjah. Pandangan ini dapat dipertemukan dengan mengatakan bahwa penyembelih-annya hanya sampai sebatas hari tasyriq (tiga hari sesudah shalat ‘ied) dan pembahagiannya dapat saja sampai akhir Dzulhijjah. Bahkan sebenarnya pembahagian itu masih dapat dilakukan di luar bulan Dzulhijjah. Lihat dalam Al-Kahlaniy al-Shan`aniy, Subul al-Salam, Juz 4, h. 92-93.

C. PEMANFAATAN

1. Untuk pemanfaatan daging kurban ada dua kemungkinan, yakni Pertama, dalam keadaan masyarakat sangat kesulitan memperoleh makanan (daging) maka daging kurban harus dibagi habis dalam jangka waktu tiga hari; kedua, dalam keadaan masyarakat tidak mengalami kesulitan maka daging kurban dibagi menjadi sepertiga kepada yang berhak untuk mereka makan, sepertiga lagi dapat di disimpan (diawetkan untuk persiapan menghadapi kesulitan pangan), dan sepertiga sisanya dapat dimakan oleh yang punya hajat kurban. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW riwayat Bukhariy:

حدثنا أبو عاصم عن يزيد بن أبي عبيد عن سلمة بن الأكوع قال قال النبي صلى الله عليه وسلم ثم من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وفي بيته منه شيء فلما كان العام المقبل قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي قال كلوا وأطعموا وادخروا فإن ذلك العام كان بالناس جهد فأردت أن تعينوا فيها

Artinya: Abu `Ashim memberitakan kepada kami, dari Yazid bin Abi `Ubayd, dari Salmah bin al-Akwa’, katanya: Bersabda Rasulullah: SAW barang siapa yang berkurban di antara kamu, maka janganlah sampai usai tiga hari masih ada tersisa di rumahnya sesuatu (daging kurban), maka tatkala tiba tahun berikutnya, mereka berkata hai Rasulullah apa kami lakukan seperti tahun lalu? Maka bersabda Rasulullah “Makanlah, dan beri makanlah, dan simpanlah, sesungguhnya tahu lalu itu manusia dalam keadaan susah, jadi aku ingin engkau membantu mereka”. (Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, (Beyrut: Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1407), Juz V, h. 2115

Adanya perintah “simpanlah” menjadi alasan pengalengan daging kurban oleh Negara-negara lslam kemudian dikirimkannya ke negeri-negeri Muslim yang kelaparan / kena bencana.

2. Daging kurban boleh dibagikan kepada tetangga non Muslim, guna memelihara keharmonisan bersama dalam suatu lingkungan pemukiman. Hal ini dapat dipahami dari hadits Nabi SAW sebagai berikut:

فجائز أن يطعمه أهل الذمة قال النبي صلى الله عليه وسلم لعائشة ثم تفريق لحم الأضحية ابدئي بجارنا اليهودي وروى أن شاة ذبحت في أهل عبدالله بن عمرو فلما جاء قال أهديتم لجارنا اليهودي ثلاث مرات

Artinya: maka boleh untuk diberi makan kepada non Muslim. Bersabda Rasulullah SAW pada Aisyah, soal pembahagian daging kurban, mulailah dengan memberikan tetangga Yahudi kita; dan diriwayatkan pula, bahwa seekor kambing dipotong kurban dari keluarga Abdullah bin Umar, maka tatkala Abdullah tiba, ia pun bertanya (tiga kali): apakah engkau telah memberikan ke tetangga Yahudi kita?. Lhat Muhammad bin Ahmad Abu Bakar al-Qurthubiy, dalam Tafsir Al-Qurthubi, (al-Qahorah: Dar al-Sya’b, 1372 H.), Juz V, h. 188.
2. Dibagi-bagikan dagingnya, termasuk kulitnya. Karena itu, tidak sah kurbannya jika kulit hewan kurban dijadikan upah bagi pekerja kurban. Pekerja kurban harus diupah tersendiri, tanpa mengurangi daging dan kulit hewan kurban. Hadits Nabi SAW sebagai berikut:

وعن عبد الله بن عياش المصري عن عبد الرحمن الأعرج عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من باع جلد أضحيته فلا أضحية له

“Dan dari Abdillah bin `Iyasy al-Mishriy, dari Abdurrahman al-A`raj, dari Abi Hurayrah RA, berkata: bersabda Rasulullah SAW barang siapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak sah kurbannya itu” (Muhammad bin Abdillah al-Naishaburiy, al-Mustadrak `ala al-Shahihayn, Beyrut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1411), Juz 2, h. 422.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

SELAMAT BERKURBAN