Palestina Negeri Bersama Arab-Israel

Mahmoud-Abbas Presiden Palestina,  Pimpinan PLO pengganti Arafat

Palestina Negeri Bersama Arab-Israel

Kalau mau bicara soal sejarah Palestina sejujurnya, maka harus dimulai dari sjerah Nabi Ibrahim, minimal dari sejarah Nabi Muhammad SAW.  Jangan memulai hanya dari tahun berdirinya negara Zionis Israel, pada tahun 1948, yang hanya menceriterakan soal perang Arab-Israel, di mana bangsa Arab Palestina selalu kalah dan dizalimi.  Mari kita coba membaca sejarah Palestina lebih jauh ke tempo doeloe, ribuan tahun yang lalu.   Sebenarnya Palestina itu adalah negeri Nabi Ibrahim (Abraham) dan dihuni kemudian oleh keturunannya yang mencakup dua bangsa besar, yakni Bani Ismail (bangsa Arab) dan Bani Israel (kaum Yahudi). Pada zaman dahulu, Bani Ismail (bangsa Arab) berbaur dgn Bani Israel di Palestina, dan bahkan juga di Madinah (Yatsrib) yg juga adlh tanah air bersama bangsa Arab dan  kaum Yahudi sebelum Nabi hijrah ke sana. Maka ketika Nabi SAW isra-mi’raj, Nabi sempat bershalat di Masjid al-Aqsha. Meskipun dalam Al-Qur’an disebut Masjid al-Aqsha, wakltu itu rumah ibadah tersebut bukan milik Muslim, melainkan masih merupakan rumah ibadah kaum Yahudi dan Nashrani.

Dengan demikian, Palestina dan Madinah dahulu merupakan tanah air bersama bangsa Arab dan kaum Yahudi, yang diwarisinya dari satu nenek moyang bersama yakni Nabi Ibrahim. Keadaan seperti itu tetap dipertahankan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri ketika beliau jadi Kepala Negara di Madinah, dengan mengajak kaum Yahudi bersama untuk menyusun UUD Madinah yang dikenal sebagai Piagam Madinah (Mitsaqul Madinah). Nantilah pada zaman sepeninggal Nabi, Khalifah-khalifaj pengganti Nabi membuat kebijaksanaan ekstrim, sehingga kaum Yahudi (Bani Israel) keluar dari Madinah.  Menyusul kemudian berangsur pula keluar dari negeri Palestina setelah Palestia direbut oleh Khalifah Umar pada tahun 637.  Tetapi sebenarnya, sebelum Khaifah Umar menaklukkan Palestina dari kekuasaan Romawi Kristen, bangsa Israel sudah banyak ekssodus kecuali masih tersisa sedikit di wilayah Tel Aviv.

Khalifah Umar memperkokoh kekuasaan Islam di Palestina ditandai dengan pembangunan Masjid Aqsha di atas tanah (Rumah Suci) yang pernah disinggahi Radsulullah SAW beribadah dalam peristiwa Isra Mi’raj.   Rumah Suci yang sebelumnya merupakan warisan Yahudi_Mristen, beralih dalam penguasaan Islam ketika itu.   Nasib Bani Israel pun hidup tanpa tanah air lagi, mengembara tanpa tujuan ke mana-mana sampai mereka terdampar di Afrika Utara dan Eropa. Jadi sejujurnya, menurut sejarah, sangat salah kalau kita bilang Israel datang ke Palestina merebut negeri orang, tetapi yang benar ialah Israel ingin kembali ke negeri yangg lama ditinggalkannya, yang di sana mereka pernah tinggal berbaur dengan saudara sepupu (serumpunnya) sendiri yaitu bangsa Arab.

Maka kita umat Islam pun sebenarnya harus bersyukur, karena Yahudi (Bani Israel) hanya menuntut untuk kembali ke Tel Aviv dan sdekitarnya salah satu bahagian dari Palestina (bukan semua wilayah Palestina, dan tidak termasuk Jerussalem), tidak juga menuntut utk kembali ke Madinah yang sekarang sudah menjadi kota suci kedua bagi kita umat Islam. Sekali lagi, entah apa jadinya, andaikata kaum Yahudi (bangsa Israel) berkeras untuk kembai ke Madinah, tempat mereka pernah tinggal berbaur dengan bangsa Arab jauh sebelum Nabi kita Muhammad SAW hijrah ke sana.  Kemudian Nabi SAW pun ketika hijrah ke sana  memperllakukan mereka dengan baik, mengajak duduk bersama menyusun Piagam (Undang-Undang Negara) Madinah untuk hidup bersama, rukun dan damai di negeri tersebut.  Tapi untuk zaman moderen, resikonya sangat besar jika Bani Israel mau kembali ke Madinah, karena akan berhadapn langsung dengan lebih satu milyar umat Islam se dunia, yang menjadikan Madinah sebagai kota suci kedua setelah Mekah.

Dengan populasi yang tidak begitu besar (sekitar 3 jutaan pada saat berdirinya negara Israel 1948), bangsa Israel sudah merasa nyaman jika mereka kembali ke Tel Aviv dan sekitarnya, apalagi di wilayah itu memang masih terdapat sisa-sisa penduduk kaum Yahudi yang leluhurnya tidak pernah meninggalkan Tel Aviv.  Lagi pula Tel Aviv bukanlah kota suci dari agama Islam dan Kristen.   Namun, karena bangsa Arab ngotot tidak menerima kehadiran Israel itu, maka terjadilah perang Arab-Israel, di mana Arab mengalami kekalahan.  Maka dengan alasan keamanan negara Israel (Tel Aviv) , Israel menjadikan wilayah Arab yang direbutnya sebagai wilayah penyanggah, termasuk wilayah Baitul Maqdis (Jerusslem sekarang) yang diangap kota Suci oleh Islam dan Kristen.

Andai kata bangsa Arab dapat menerima kenyataan berdirinya Negara Israel di Tel Aviv pada tahun 1948  itu, maka boleh jadi Negara Palestina puna telah berdiri dan merdeka, sesuai dengan rencana PBB untuk mendirikan dua negara di Palestina.  Dalam peta pembagian dua negara tersebut, Jesrussalem tidak termasuk dlam wilayah Israel, tetapi direncanakan oleh PBB masuk dalam wilayah Negara Arab Palestina.  Tetapi sekali lagi bangsa Arab berkeras menolak kehadiran Israel di Palestina secara mutlak, karena Arab ingin menguasai sepenuhnya Palestina.    Akibatnya, perang tidak habis-habisnya hingga sekarang, karena sudah menyangkut klaim kota suci.  Namun, Israel menurut peta jalan damai yang disetujui oleh Yasser Arafat (Presiden Palestina/ Ketua PLO) bersama Yitzhak Rabin (PM Israel) bersedia mengembalikan seluruh wilayah Arab yang direbutnya dalam perang tahun 1967, termasuk Jerussalem yang didalamnya ada Masjididl Aqsha, asalkan negara-negara Arab sekitarnya, termasuk Palestina mau menerima dan mengakui Israel, berdamai dan menjamin keamanan bersama, hidup berdampingan  dengan  negara Israel.  Peta jalan damai itu diteruskan oleh Mahmud Abbas, Presiden Palestina/Pemimpin PLO  sekarang, tetapi ditolak keras oleh Ismael Haniyah, PM Palestina/ Pimpinan Hamas, yang menginginkan perang berjalan terus entah kapan berakhirnya, demi untuk menghancurkan negara Israel.  Inilah masalah besar yang dihadapi bamgsa Palestina sekarang.  Wallahu a’lam bi al-shawab.

Ismael Haniyah, PM Palestina yng menolak Peta Jalan Damai yang diprakarsai oleh Yasser Arafat bersama Yitzhak Rabin.  Ismael Haniyah memilih jalan Jihad berperang terus melawan Israel.

Ismael Haniyah, PM Palestina yng menolak Peta Jalan Damai yang diprakarsai oleh Yasser Arafat bersama Yitzhak Rabin. Ismael Haniyah memilih jalan Jihad berperang terus melawan Israel.

Yitzhak Rabin, PM Israel yg menerima Peta Jalan Damai Israel-Palestina, terbunuh pada tahun 1995

Yitzhak Rabin, PM Israel yg menerima Peta Jalan Damai Israel-Palestina, terbunuh pada tahun 1995

Advertisements

PERANG ARAB-ISRAEL

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Berdasarkan Peta Jalan Damai sesuai dengan Resoluasi PBB 1947, Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin menyetujui berdirinya dua negara,damai berdampingan, yakni Israel dan Palestina

Perang Arab-Israel

Oleh: Hamka Haq

Perang Arab-Israel adl perang antara dua bangsa serumpun (saudara sepupu), dari nenek moyang bersama, Ibrahim (Abraham), yg melibatkan agama Islam-Yahudi.  Andaikata bgs Arab Palestina berbesar hati menerima Israel sejak awal, maka wilayah negara Israel (Tel Aviv dan sekitarnya) tidak seluas sekarang. Tapi, bangsa Arab yang ngotot itu berperang terus-menerus, namun selalu kalah melawan teknologi perang Israel, akhirnya Israel merebut wilayah lebih luas lagi dalam Perang 1967, sampai ke kota suci Jerussalem.  Sekrg wilayah Israel makin luas, sementara Palestina makin terdesak, bgs Arab yg dahulu pernah ngotot membantu perjuangan Palestina  sprti Arab Saudi pun semakin tdk lagi mendukung Palestina.

Di depan mahsiswa S3 UIN Makassar, saya pernah nyatakan bhw umat Islam se dunia seharusnya bersyukur, Israel hanya mau ke Tel aviv di Palestina.  Coba kalau Israel ngotot kembali ke Madinah, yg dulu merupakan tanah air bersama dengan bangsa Arab  sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana, entah apa jadinya…?   Nabi Muhammad SAW ketika memimpin Madinah mepersaudarakan Arab (Muslim) dg bgs Yahudi di Madinah, dan sama2 menyusun kostitusi Madinah.  Namun, sepeninggal Nabi, Khalifah2 membuat kebijakan ekstrim, bahwa Madinah harus dihuni oleh 100% Muslim,  sehingga Yahudi harus keluar dari Madinah dan mengembara sampai Eropa. Palestina hampir mengalami nasib seperti Madinah  sehingga sebahagian besar Bani Israel keluar dari Palestina.   Keadaan berbalik, 13 abad kemudian, giliran bgs Arab Palestina meningglkan sbgian tanah airnya ketika negara Israel berdiri  dan menjadikan wilayah Arab yang direbutnya dlam Perang tahun 1967 sebagai wilayah penyanggah untuk keamanan negaranya (Tel Aviv dan sekitarnya).

Kini, Saatnya masyarakt dunia dgn segala ras dan agama berdamai membangun peradaban dunia baru yang tenteram dan maju.  Namun, Barat sengaja memelihara perang berlarut-larut antara Palestina-Israel, demi keuntungan politik dan industri senjata. Yaser Arafat, Pemimpin Palestina yang menerima jalan damai (perjanjian Oslo), dirawat di Eropa utk diracun dan mati(2004).  Yitzak Rabin PM Israel yg juga setuju jalan damai, dibunuh (1995) oleh mereka yg tidak menginginkan perdamaian segera.  Padahal Peta Jalan Damai itu sangat ideal untuk perdamaian abadi, karena bertolak dari Keputusan PBB pada tahun 1947 yang menghendaki adanya dua negara damai berdampingan di Palestina, yakni negara Israel (wilayah Tel Aviv) dan negara Palestina yang didominasi bangsa Arab mencakup semua wilayah di luar Tel Aviv.

Namun, nasib Peta Jalan Damai terkatung-katung akibat konflik internal pula dalam tubuh bangsa Palestina.  Konflik antara PLO yang didirikan oleh Yaser Arafat Presiden Otoritas Palestina I (pemukim Tepi Barat) dan Hamas yang dipimpin oleh Ismael Haniyah (pemukim Jalur Gaza) dikipas terus agar bangsa Arab Palestina tdk kunjung bersatu, guna memperlambat perdamaian.   Anehnya, sebagian umat Islam, termasuk di Indonesia tidak sadar terjebak dalam skenario itu, sehingga lebih senang berpihak pada Hamas yang jargon politiknya ialah jihad menghancurkan Israel.  Saking bencinya kepada Israel, maka aktifis Islam di Indonesia memilih berpihak pada jihad perang yang dilancarkan oleh pimpinan Hamas, Ismael Haniyah, yang juga menjabat PM Palestina, ketimbang mendukung proses perdamaian yang ditempuh oleh Mahmud Abbas Presiden Palestina dan Pimpinan PLO penerus Yaser Arafat.  Dunia Islam harusnya tahu bahwa realitas perjuangan secara damai jauh lebih menguntungkan ketimbang perang terus-menerus.  Perjauangan Mahmud Abbas untuk meneruskan Peta Jalan Damai, akhirnya mendapat simpati dari PBB, yang kemudian secara resmi badan dunia tersebut  mengakui Palestina sebagai Negara anggota PBB, status Peninjau.  Mestinya upaya damai Mahmud Abbas inilah yang harus didukung oleh dunia Islam internasional, ketimbang menghabiskan generasi Palestina hanya untuk berperang tanpa diketahui kapan berakhirnya.

Saya yakin semuanya adalah skenario kepentingan Barat yg tidk ingin melihat Palestina-Israel damai dlm waktu singkat.  Konflik Palestina-Israel, sengaja dipelihara karena bagi Amerika sangat penting, utuk dijual dalam setiap kampanye Pilpres AS, dan utk keutungan bisnis senjata.

BUNG KARNO DILENGSERKAN OLEH ANTEK-ANTEK KAPITALIS

Menyambut hangat gelar Bung Karno sebagai Pahlawan Nasional,  berikut ini kami kutipkan bahagian dari buku Mengabdi Bangsa bersama Presiden Megawati, halam 39 – 44, karya Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA:

Ideologi Kerakyatan, Bukan Sosialis Komunis!

Terminologi “kesejahteraan rakyat” dan “amanat penderitaan rakyat”,  telah digunakan sebagai instrumen logika dan retorika Bung Karno dahulu untuk menentang habis-habisan kapitalis, liberalis, imperialis dan kolonialis.  Karena sikapnya seperti itu, maka Bung Karno pun dianggap cenderung ke aliran sosialis, bahkan lebih ekstrim lagi dipandang sebagai berpaham Komunis.  Di atas tuduhan inilah, terutama oleh pihak militer, kemudian Bung Karno dilengserkan dan selalu dinistakan sepanjang era Orde Baru.

Sehubungan dengan tuduhan itu, suatu ketika sebelum menjadi Presiden, Megawati diundang ceramah di depan petinggi dan peserta diklat milter.   Salah satu peserta menanyakan tentang sikapnya terhadap Bung Karno, “Apakah Bung Karno itu sebagai pengkhianat bangsa atau bukan”?  Terlepas dari statusnya debagai puteri Bung Karno, Ibu Mega menjawab dengan tegas, bahwa Bung Karno bukanlah pengkhianat bangsa.  Justru ia dijatuhkan oleh razim Orde Baru, karena Bung Karno memegang prinsip membela bangsa dan rakyatnya.  Bung Karno tidak mau tunduk pada kemauan Barat, terutama Amerika dalam sejumlah kebijakan ekonomi dan pertahanannya, serta kepeloporannya membangun Gerakan Non Blok.  Ia teguh pada prinsip membangun ekonomi di atas kaki sendiri (Berdikari).  Keteguhan prinsipnya itu membuat Barat tdak senang, sehingga dengan bantuan intelejen Barat, Bung Karno dilengserkan oleh Orde Baru.[1]

Sehubungan dengan tuduhan yang menghina dan menista tadi, bahwa Bung Karno adalah Komunis atau pengkhianat, maka sebelum mengakhiri bagian ini, penulis sengaja menurunkan penggalan dialog Ibu Mega dalam sebuah acara “Kick Andy” asuhan Andy F.Noya, sebagai berikut:[2]

Andy: Bu Mega, sampai sekarang masih terjadi kontroversi bahkan belakangan ada buku atau mulai muncul buku-buku yang mengatakan Bung Karno itu sebenarnya Komunis.  Bagaimana Anda melihat kontroversi Bung Karno sebagai Nasionalis atau sebagai Komunis?

Mega: Enggak usahlah pakai poltik tinggi-tinggi ya, politik simple sajalah, bahasa rakyat.  Jadi kan kalau dipikir, saya itu sampai tertawa sendiri akhirnya; ketika itu apa yang tidak dipegang oleh Bung Karno, Presiden seumur hidup, itu diberikan oleh MPRS.  Lalu sudah Panglima Tertinggi, Panglima Besar Revolusi; oleh Nahdhatul Ulama (NU) pun diberikan suatu gelar Khalifah (Khalifah Dhoruriy bi al-Syaukah- pen.), sampai hari ini gelar tersebut belum pernah dicabut.  Lha kalau terus dibilang Bung Karno itu Komunis, aneh ya.  Dapat gelar dan ngga pernah dicabut sampai hari ini lho. Lalu bagaimana?

Itu tadi yang saya bilang, di politik itu kan dua itu tadi, ini menyudutkannya luar biasa sekali.  Lalu saya juga dengar Bung Karno itu bersama PKI ingin mengkudeta…, siapa yang mau dikudeta?.  Beliau Presiden seumur hidup, Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi yang pada waktu itu kekuatan armada kita di Asia Tengara itu sangat ditakuti.

Andy: Jadi semua yang Anda ucapkan ini otomatis membantah dugaan-dugaan orang bahwa Bung Karno adalah Komunis?

Mega: Ya tentu sajalah.  Kadang-kadang saya pikir, kalau debat panjang lebar, lalu memakai referensi buku dari luar dan sebagainya…..   Capek deh …..

Suatu pagi saya ingat, beliau sedang mencukur jenggot.  Ketika beliau tahu saya ingin menawarkan sarapan.  Jadi dikeluarkan dari saku celananya.   Stop?, Mesti diceritakan?

Andy: Iya dong…

Mega: Beliau itu kan bersahabat dengan Betrand Russel, seorang budayawan, filsuf yang sangat terkenal waktu itu.

Andy: Jadi yang diperlihatkan apa?

Mega: Itu adalah telegram dari beliau yang bilang “Dear friend Soekarno”, gitu.  Ini ada list dan ternyata nomor satu bapak saya yang akan digulingkan.  Nah saya bilang, “keren Pak, nomer satu”.  Cukup….

Andy: Masih jadi rahasia nih?

Mega: Iya

Andy: Jadi intinya apa?

Mega: Intinya bahwa itu tadi, di politik ada dua, kan: orang tidak tahu, atau memang mau disudutkan.  Ini kan beliau disudutkan.  Menurut saya, bukan karena saya anaknya lho, tapi karena saya melihat ada suatu permainan pada waktu itu, yaitu harus dipelajari sebagai sejarah bangsa, kenapa?  Karena Indonesia pada waktu itu, apa sih, saya sangat bangga sekali, tadi saya bilang kekuatan militer kita pada waktu itu di Asia Tenggara hebat sekali, sangat diakui.  Lalu berikutnya, di Indonesia pernah ada Konferensi Asia Afrika, lalu ada juga dibuatnya KTT Non Block di Beograd, saya waktu itu dengan kakak saya, dan saya merupakan anggota termuda dari delegasi.  Itu yang saya bilang, ada hal-hal yang mungkin sangat jarang dialami oleh orang.”

Mengenai kejatuhan Bung Karno, yang menurut Ibu Mega adalah bahagian dari rencana sistematis Barat untuk menjatuhkan sejumlah pemimpin negara, mendapat pembenaran dalam tulisan Selamat Ginting pada harian Republika, Rabu 12 Oktober 2011.   Pada tulisan yang berjudul “Jakarta Punya ‘Kudeta’, Pinochet Punya Junta”, Ginting menyatakan:

“Diduga sangat kuat bahwa kedua persitiwa, baik di Santiago, Cile, maupun Jakarta Indonesia, sama-sama didukung oleh kekuatan Central Intelligence Agency (CIA) yang merupakan agen rahasia pemerintah Amerika Serikat. Baru-baru ini sebuah dokumen operasi intelijen CIA 1964-1966 yang lengkap dari Amerika Serikat telah dibuka pada publik internasional.  Dokumen tersebut antara lain berisi tentang kejatuhan Presiden Soekarno.”[3]

Pada alinea lain, Ginting selanjutnya menulis:

Jangan lupa, di Jakarta juga beredar dokumen Gilchrist—sebuah dokumen yang banyak dikutip surat kabar pada 1965 soal keterlibatan blok Barat dalam penggulingan Soekarno di Indonesia.  Dokumen ini berasal dari sebuah telegram dari Duta Besar Inggeris di Jakarta yang bernama Andrew Gilchrist yang ditujukan pada Kantor Kementerian Luar Negeri Inggeris.  Telegram ini mengacu pada rencana gabungan internasional militer AS dan Inggeris di Indonesia”[4]

Menyimak pernyataan Megawati dan tulisan Selamat Ginting di atas, maka kesimpulannya adalah bahwa kejatuhan Bung Karno setelah peristiwa G.30 S., itu adalah rekayasa Barat, yang tidak senang atas sikap Bung Karno sebagai anti neo kolonialisme (nekolim) AS dan Inggeris.  Penggulingan Bung Karno, disertai dengan tuduhan bahwa beliau adalah sosialis komunis merupakan fitnah dan kezaliman yang tiada taranya, naudzu billah.


[1] Hal ini diungkap kembali ketika Ibu Mega menerima PPAD (Persatuan Purnawirwasan Angkatan Darat) beraudiensi di Kantor DPP PDI Perjuangan, tanggal 12 Agustus 2011, seusai beliau mendampingi Bapak Taufieq Kiemas menerima anugerah Bintang Adipradana di Istana Merdeka pada hari itu juga.

[2] Megawati, Megawati Menjawab, Transkrip dialog dalam acara Kick Andy asuhan Andy F.Noya, Metro TV, tgl. 19 dan 26 Desember 2008, (Jakarta: PDI Perjuangan, 2009), h. 41-53.

[3]Selamat Ginting, Jakarta Punya Kudeta Pinochet Punya Junta, (Republika, Rabu 12 Oktober 2011), h. 23.

[4]Ibid.

MENCABUT AKAR-AKAR KERUSUHAN

MENCABUT AKAR-AKAR KERUSUHAN

Oleh: Hamka Haq

Gema ripah loh jinawi atau dalam bahasa kitab sucinya Baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, seperti itulah dambaan bangsa kita bagi negeri tercinta Indonesia raya.  Namun hal itu rasanya masih jauh dari kenyataan, menyaksikan kondisi masyarakat yang akhir akhir ini semakin menunjukkan eskalasi kerusuhan, tawuran dan perang antar warga, ditambah lagi terorisme yang belum dapat dipadamkan secara tuntas  Mengamati segenap peristiwa kerusuhan yang terjadi, begitupun aktifitas teroris, setidaknya kita menemukan tiga penyebab utamanya, yakni egoisme kelompok, kemiskinan dan lemahnya penegakan hukum.

Egoisme merupakan pemicu utama, karena sikap egois membuat suatu komunitas merasa bangga pada kelompoknya, eksklusif, menolak kehadiran  kelompok lain tanpa kompromi dan dalam menyelesaikan persoalan selalu memaksakan kehendaknya yang ujungnya adalah kekerasan.  Egoisme kelompok inilah pemicu utama berlarutnya pertikaian antaretnis, sejak dari kerusuhan di Sampit dan Sambas, kemudian Maluku dan Posos sampai akhirnya kerusuhan etnis yang terjadi di Lampung.  Mulanya memang antar etnis, tapi kemudian dapat berubah menjadi antarumat beragama.

Egoisme kelompok muncul seiring dengan longgarnya ikatan senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa dalam satu tanah air.  Ikatan kebangsaan longgar, mungkin karena rakyat tidak merasakan manfaat dari kebangsaan dan tidak melihat lagi kehadiran negara menjalankan fungsinya untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.  Dalam pada itu, rakyat dengan kelompoknya terpaksa menyelesaikan prosoalannya tanpa tergantung lagi pada negara, setelah melihat negara tidak berdaya.

Keadaan lebih diperparah dengan semakin susahnya kehidupan ekonomi.  Kemiskinan membuat rakyat sangat peka pada hak-hak yang masih tersisa padanya, misalnya pemilikan tanah, lahan perkebunan dan sawah yang merupakan harapan terakhirnya untuk dapat bertahan hidup.   Maka jangan heran bila terjadi sengketa soal tanah, yang melahirkan kerusuhan masal, dan melibatkan antar warga kampung dan desa, guna mempertahankan tanah tumpuan hidupnya.  Kedaan lebih diperburuk dengan kehadiran perusahaan perkebunan dan pertambangan yang otomatis mencabut hak penguasaan tanah yang mereka warisi turun teumurn sejak ratusan tahun yang lalu.  Mereka berhadapan dengan hukum, dan kenyataannya hukum hampir selalu berpihak pada pengusaha dan penguasa, walaupun nyata-nyata rakyat tertindas dan tertindis.  Kemiskinan yang mendera, menyebabkan rakyat kecil tak berdaya menghadapi kekuatan dan kekuasaan hukum yang semakin mahal.  Hampir semua lembaga penegak hukum, tercoreng dengan oknum-nya yg koruptor, menerima bayaran dan gratifikasi, yang semuanya memuakkan rakyat. Maka bagi rakyat, satu-satunya cara penyelsaian ialah jalan pintas, bersatu dalam kelompoknya, menggunakan cara-cara kekerasan melawan “musuh” yang dianggapnya mengancam berkehidupan mereka. Dengan kata lain rakyat lebih mengandalkan kekuatan kelompoknya ketimbang hukum, karena kehilangan tempat berlindung selain kelompoknya sendiri.  Maka kelompok mana yang kuat, itulah yang menang dan leluasa menganiaya yang lainnya.

Egosime kelompok pun ternyata juga merambah ke soal-soal keyakinan dan agama.  Karena dalam banyak hal negara seolah tidak hadir membela yang lemah sebagai fungsi negara melindungi segenap bangsa Indonensia, maka kelompok tertentu menunai kesempatan untuk main hakim sendiri, dengan mudahnya menzalimi umat agama lain dan merusak sarana pendidikan dan ibadah mereka.  Seperti itulah tindakan yang menjadikan kelompok Ahmadiyah sebagai sasaran amarahnya, ataupun kelompok Kristen dan Katolik yang semuanya tidak berdaya menghadapi egoisme kelompok mayoritas.

Jenis kerusuhan semakin bertambah dengan terjadinya pula sejumlah konflik Pilkada (Pemilihan kepala daerah).  Pertikaian jenis ini timbul sebagai akibat verifikasi yang tidak adil dan keberpihakan oknum Komisi Pemillihan Umum Daerah (KPUD), lemahnya Pengawas Pemilu (Panwaslu), adanya kecurangan: politik uang dan penggelembungan suara, ketidak puasan atas putusan Mahkamah Konstitusi, semuanya membuat rakyat yang sudah terkotak-kotak di bawah komando sang kandidat menjadi marah dan melampiaskannya dengan tindak kekerasan.   Seperti konflik lainnya, konflik pilkada pun akan semakin dahsyat jika sudah melibatkan perbedaan etnis dan agama.

Tapi mungkin yang paling mengerikan ialah kegiatan teroris, yang berkaitan dengan keyakinan dan penafsiran yang berbeda menyangkut agama.  Namun aktifitas teroris inipun sebenarnya tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakat.  Ia merupakan pelarian dari anak-anak muda yang tergoda dengan keuntungan sesaat, dengan uang berlimpah disertai janji-janji sorga di akhirat bagi siapa saja yang mati syahid.   Mereka yang mudah dirayu berasal dari keluarga miskin, termasuk miskin pemahaman agama.   Mereka tidak dapat membedakan antara mati syahid dan mati sia-sia dengan bom bunuh diri.  Jadi penyebab utamanya adalah kemiskinan pula, dan satu-satunya milik mereka ialah semangat jihad, tanpa ijtihad (pikiran sehat).  Hal ini akan semakin menjadi-jadi dengan ajaran egoisme kelompok, bahwa yang benar dan selamat di sisi Allah hanyalah kaumnya; karena itu umat dan kaum lainnya harus dihapus-musnahkan di muka bumi.

Untuk menyelamatkan masyarakat kita dari kerusuhan dan ketidak amanan, maka bangsa kita harus kerja keras.  Hal utama dan mutlak ialah harus menegakkan kembali ikatan rasa senasib-sepenanggungan sebagai bangsa, ketimbang membangun egoisme kelompok.   Negara dan pemerintah harus maksimal mejalankan fungsinya dalam memajukan kesejahteraan umum, dan melindungi segenap bangsa Indonesia.  Dan tak kalah pentingnya ialah pencerdasan umat beragama, agar ajaran kasih sayang (rahmatan lil-‘alamin) menurut Islam lebih diarus-utamakan, guna meredeam paham “jihad” yang keliru.  Wallahu A’lam bil-shawab.