HALAL MEMILIH (WAKIL) PEMIMPIN DARI UMAT AGAMA LAIN

PEMIMPIN NON MUSLIM, dan TAFSIR KONTEKSTUAL

(Rangkuman diskusi via Twitter, soal Pilkada DKI)

Oleh: Hamka Haq

Sejak Rhoma Irama melontarkan bola panas isu SARA yang dalam ceramahnya di suatu masjid melarang warga Jakarta yang Muslim memilih Calon Gubernur  Joko Widodo (JOKOWI) yang berpasangan dengan non Muslim Basuki Cahaya Purnama (AHO), maka dunia maya twitter menjadi ramai dengan diskusi seputar kepemimpinan non Muslim.  Rhoma Irama mengutip Q.S.Al-Maidah: 51: yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”.

Untuk mencegah berlanjutnya khotbah-khotbah yang dapat memicu perpecahan bangsa, warga Jakarta khususnya, maka penulis menerbitkan dua edaran Baitul Muslimin    http://wp.me/s1n8EA-359   dilengkapi dengan  http://wp.me/p1n8EA-7l , yang intinya membolehkan umat Islam memilih pemimpin (calon Gubernur),  yang berpasangan dengan (calon wakil Gubernur) yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama Kristen.  Karuan saja, banyak kecaman dan dukungan via Twitter terhadap penulis.  Bahkan ada yang sinis menilai saya lupa ayat lah, memelinir ayat lah, bahkan menuduh memperkosa ayat.   Dengan sabar saya jawab mereka satu persatu, sampai pada dialog seri keempat, jawaban saya sebanyak 62 butir twit, kecaman dan penistaan pun akhirnya menghilang (Seri pertama 13 twit; kedua 10 twit dan  ke tiga 17 twit, seri keempat 22 butir).   Berikut ini jawaban-jawaban saya dalam twitter itu, saya susun dengan menyambung satu-persatu menjadi tulisan sebagai berikut.

Seri I

Salah satu sifat org yang tdk FAQIH (berilmu & bijak) dalam agama ialah berpikir hitam putih, tanpa alternatif.  Semua non Muslim dicap nya Kafir, padahal Yahudi dan Kristen tidak mutlak Kafir; Al-Qur’an sendiri menyebut mereka Ahlu Kitab.  Bahasa Al-Qur’an amat sejuk, ahl kitab pun disebut ahl mitsaq (penganut perjanjian damai). Bagi kita bangsa Indonesia, seharusnya bahasa sejuk Al-Qir’an seperti itulah yang disebarkan untuk persatuan & kebhinnekaan, bukan mengkafirkan.  Jadi banyak ustadz yang masih perlu diingatkan tentang apa arti kafir sebenarnya dan apa bedanya dg AHLU KITAB

Ketika saya menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu tidak secara mutlak (tidak semua) kafir, ada yang menanggapi dengan mengatakan bahwa saya lupa pada Surah Al-Bayyinah yang menyatakan bahwa Ahlu Kitab itu kafir.  Saya menjawab: Alhamdulillah, saya tdk lupa S.Al-Bayinah:1.  Tapi coba perhatikan, pd ayat itu trdapat kata (harf jarr)  من “MIN”, yang menurut kaedah tafsir berarti sebagian (tidak semua ahl kitab) itu kafir.  Mungkin si penanya itu belum memahami kaedah-kaedah tafsir seperti itu.  Bahkan untuk memahami Al-Qur’an, sangat diperlukan metodologi untuk dapat mengartikan dan menfasirkannya secara benar (mendekati kebenaran), tidak hanya melihatnya secara harfiyah.

Seri  II

Banyak ayat menunjukkan bahwa ahlu kitab tidak mutlak (tdk semua) kafir. Prhatikan pada Q.S.Al-Baqarah:62 , disebutkan bahwa di antara mereka ada yang beriman dan beramal shaleh, walau imannya tentu berbeda dengan Islam.  Bahkan dalam Q.S.Al`Ankabut:46, disebutkan bahwa Tuhan yang diimani oleh Ahlu Kitab sama dengan Tuhan yang diimani oleh umat Islam. Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid (Dan Tuhan kami dan Tuhanmu -hai ahli Kitab- itu SATU adanya).   Sedang Q.S.Al-Kafirun, yang turun di Mekah, bukan menyangkut Ahl Kitab, melainkan kaum musyrikin, jahiliyah paganisme yang semuanya mutlak kafir.  Jadi utk menafsirkan ayat, di samping memerlukan metodologi, juga memerlukan ilmu sejarah.  Tidak hanya asal mengartikan secara tekstual hitam-putih.

Adapun menyangkut larangan dalam Q.S. Al-Maidah:51, sudah saya jelaskan lewat Edaran  Baitul Muslimn Indonesia http://wp.me/s1n8EA-359   dilengkapi dengan  http://wp.me/p1n8EA-7l  .  Dalam Edran itu, dijelaskan bahwa larangan pada Q.S.Al-Maidah: 51, itu berlaku pada zaman / saat / kondisi, Yahudi dan Kristen berbuat zalim kepada umat Islam.  Tapi saat mereka hidup dalam masyarakat damai, seperti di Madinah, Maka kita seharusnya mencontoh sikap Rasulullah SAW untuk menerima mereka.

Perhatikan pula, pada dasarnya larangan memilih pemimpin dari non Muslim, merujuk kepada konsep Wali (pemimpin) di zaman Nabi SAW, yaitu Raja atau Kaisar berkuasa absolut.   Maka Sepanjang kekuasaannya tidak absolut, tak ada larangan, hukum syariat membolehkannya.   Perhatikan Negara Islam SUDAN, pernah punya Wakil Presiden dari Kristen, yaitu Abel Alier (1976-1982),Yosep Lagu (1982-1985), G.K.Arof (1994-2000), dan Moses K.Machar (2001-2005).  Tentu saja para ulama di Negara Islam Sudan, tidak melupakan Q.S.Al-Bayinah, S.Al-Maidah dll.  Mereka tidak menjual ayat, tapi itulah ISLAM RAHMAH yang mereka terapkan dalam bernegara.   Dalam Negara Islam SUDAN, yang jelas-jelas Syariat Islam menjadi konstitusinya saja, ulamanya membolehkan memilih Kristen pada posisi Wakil, maka tentu di Negara Pancasila RI juga boleh jika untuk kepentingan persatuan bangsa, apalagi hanya posisi wakil Gubernur.

Seri III

Lalu yang dipersoalkan lagi, bahwa umat Kristen sekarang bukan Ahl Kitab.  Penulis jawab bahwa Memang ada yg mau menghapus AHL KITAB dari Kamus Islam, katanya: Ahl Kitab hanya di zaman Nabi Musa dan Isa a.s.  Padahal AHLU KITAB yang disebut dalam Al-Qur’an mengacu pada kaum Yahudi dan Kristen yang ada di zaman Nabi Muhammad SAW.   Khusus kaum Kristen di zaman Nabi, keyakinan mereka adalah trinitas yg disahkan pada Konsili Nikea sejak 325 M.  Keyakinan itu pula yang dianut Kristen di zaman sekarang, maka dengan sendirinya Ahl Kitab tetap ada sampai skarang.

Bahkan ada Ahl Kitab yang mendapat pujian, karena rajin membaca kitab sucinya dan beribadah di malam hari (Q.S.Ala Imran:113).  Juga di antara mereka, walaupun tetap pada agamanya, tapi percaya pada kebenaran Nabi SAW dan Al-Qur’an, serta berakhlak mulia (Q.S.Ala Imran:199).  Karena itu Al-Quran melarang kita mencerca Ahl Kitab, kecuali mereka yang zalim, karena Tuhan kita dan Tuhan mereka sama, satu adanya (Wa Ilahuna wa Ilahukum Wahid)  (Q.S. Al-‘Ankabut: 46).  Saya hanya sekadar menunjukkan sejumlah ayat Al-Qur’an tentang Ahl Kitab yang sering diabaikan.   Lebih rinci soal Ahl Kitab, diuraikan khusus pd Bab VI buku saya ISLAM RAHMAH UTK BANGSA, buka http://wp.me/p1n8EA-41

Seri IV

Memahami Al-Qur’an harus secara konprehensif, kita tidak boleh melupakan ayat-ayat yang menilai tdk semua ahlu kitab itu kafir, seperti telah diungkapan.  Kaum musyrikin yang memang semua kafir, berbeda dengan ahl kitab yang diakui tidak semuanya kafir; baca QS.Ala Imran:113, di sana berbunyi (laysuw sawa yang artinya mereka itu tidak sama).  Karena itu Al-Qur’an selalu memisahkan antara Ahl Kitab (yg tdak semua Kafir) dengan Musyrikin yg sccara mutlak kafir.  Andai kata Ahl Kitab dan Musyrikin itu sama (sinonim) maka tidak perlu dipisah, cukup Al-Qur’an menyebut Musyrikin saja, tapi ternyata Al-Qur’an memisahkannya.  Untuk jelasnya perhatikan kembali  Q.S.Al-Ankabut:46  (Tuhan kita dan Ahl Kitab SATU); lalu ayat 47 jelas-jelas menegaskan bahwa sebagian mereka beriman (wa min haula’i man yu`min).

Ahl Kitab yang tetap pada agamanya, namun mengakui kebenaran Nabi dan Al-Quran, dan tidak memusuhi Islam, tdk disebut Kafir (Q.S.Ala Imran:113).  Ahlu Kitab yang percaya Allah itu Esa dan Yesus tubuh manusia (Matius 26:2) yg mewadahi Dimensi Roh KasihNYA, mereka tidak kafir.  Mirip konsep Wihadtul Wujud dalam Tasawuf Islam, (Allah memilih hambaNYA yang sufi sebagai wadah PancaranNYA) seperti yang dialami Al-Hallaj.   Analoginya: Allah yg hakikat-NYA Maha Esa, hadir dalam berbagai dimensi sifat, sehingga bagi umat Islam terdapat 99 asmaul husna-NYA dlm AlQur’an, yang menunjukkan dimensi-dimensi sifat Allah, bahkan ada yang menjadikannya 100 dengan memasukkan nama: Al-Syafi’ (Allah Maha Penyembuh).  Yang kafir ialah percaya TIGA jenis dan TIGA zat Tuhan, sehingga Tuhan berbilang – politeistis (Q.S.Al-Maidah:17 & 73, Al-Tawbah:30).

Sepanjang mereka hanya meyakini Yesus sebatas manusia (tubuh yang mewadahi dimensi Roh Kasih Allah YME), bukan zat setara dg Tuhan, mereka tidk musyrik.  Perhatikan, dalam Al-Qur’an, Yesus juga disebut sabagai Wadah Firman2-NYA, Wadah Roh (Spirit)-NYA yg dilimpahkan ke Maryam (Q.S.Al-Nisa: 171).  Ahlu Kitab yang mengimani Yesus sbg WADAH Cinta Kasih Allah, menyebut juga Nabi seperti itu, sbg “anak” Allah, tapi Nabi menolaknya.   Mereka itulah yg bertamu di Masjid Nabawi Madinah, dan diizinkan oleh Nabi beribadah di sana (Tafsir Al-Qurthubi Juz 4 h. 4&5).

Missi Rasulullah SAW: Rahmatan lil-‘alamin dan Kaffatan li al-nas, bahwa Islam adalah sumber rahmah (kasih sayang) bgi semua manusia.  Nabi tdk bertugas mengislamkan semua manusia, sebab ternyata beliau sendiri mengajak kaum non Muslim kerjasama dalam negara Madinah.  Nabi membangun masyarakat plural, bahkan ipar2nya dan pembantunya juga ada yg beragama Yahudi tanpa dipaksakan masuk Islam.

Kemudian, ada ustadz atau yang mengaku ulama mempertanyakan metode kontekstual yang disinggung dalam Edaran Baitul Muslimin.  Mereka belum mengerti, sehingga mengira pemahaman kontekstual adalah memelintir (memperkosa) ayat.  Untuk itu, perlu dijelaskan guna membuktikan bhw metode pemahaman kontekstual tdk seperti apa yang mereka tuduhkan itu.

Misalnya Q.S.Al-Taubah:36: “Perangilah orang musyrik seluruhnya”; jika dipahami secara tekstual, berarti umat Islam wajib perang tiap hari.  Karena itu, harus dipahami secara kontekstual, bahwa ayat tsb. hanya berlaku pada kondisi diperangi di zaman Nabi, atau kondisi yg sama sesudahnya.  Contoh lain: Hadits larangan buang air menghadap/membelakangi ka`bah.  Nabi tegaskan: “Hendaklah kalian menghadap ke Timur atau ke Barat”.   Kalau hadits tsb diterapkan di Indonesia secara tekstual, maka umat Islam Indonesia akan selamanya meghadap / membelakangi ka’bah pada saat buang air, sehingga bertentangan dengan substansi larangan Nabi.  Jadi harus disesuaikan dengan konteksnya, bahwa menghdap ke Barat /Timur itu memang cocok di Madinah, karena di sana kiblat berada di arah Selatan.  Contoh lain, S.Al-Maidah: 38; “Laki-laki dan perempuan yg mencuri potonglah kedua tangannya”, itu hanya dapat diterapkan pada konteks kemakmuran.  Khalifah Umar bin Khattab tidak memotong tangan beberapa buruh yang mencuri karena diterlantarkan majikannya.  Umar R.A justru menjatuhkan sanksi denda atas majikan mereka (Muwaththa`, Juz II: 748).

Begitu pula halnya larangan memilih pemimpin (wakil non Muslim) hrs dipahami scr kontekstual, berlaku ketika non Muslim menzalimi umat Islam.  Tetapi dlm konteks kedamaian warga yg pulral, sperti di Madinah pd zaman Nabi SAW, umat Islam dapat bekerjasama dengan non Muslim.   Maka utk zaman moderen, demi membangun perdamaian dan persatuan bangsa, non Muslim boleh saja dipilih jadi pendamping (wakil) pemimpin.  Negara Islam Sudan, misalnya, berdasarkan UUD Syariat nya memberi contoh untuk hal ini.   Apa yg berlaku di Sudan membuktikan bahwa Islam itu Rahmatan lil-alamin, rahmat utk semua manusia (Kaffatan li al-nas).

Cara itu pula dierapkan oleh Khalifah-khalifah Islam di zaman klassik, mengangkat sejumlah ilmuwan Kristen pada posisi tertentu demi kajayaan Dinasti Islam Abbasiyah.  Khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya Al-Makmun pada zaman keemasan Dinasti Abbasiyah membangun Badan Penerjemahan (BAITUL HIKMAH) dan mengangkat Hunayn bin Ishaq bersama puteranya Ishaq bin Hunayn dari kalangan Kristen, mengepalai lembaga tersebut, sekaligus Ketua Tim Dokter istana. Penerjemah dari Kristen Nestoria adalah Bakhtisyu’, juga diangkat menjadi Kepala Rumah Sakit Baghdad. Demikian dlm buku sejarah Akhbar al-‘Ulama’ bi Akhyar al-Hukama’ Juz I, h. 77 oleh Al-Qufty; Tarikh al-Islami Juz 4 h.491 oleh Al-Dzahaby dan Wafyat al-A’yani wa Anba’u Abna’ al-Zaman Juz I, h. 205 oleh Ibn Khillikan.

Disamping konteks kedamaian, juga konteks kekuasaan pemimpin skarang, yg tdk lagi absolut, bukan Kaisar, Raja, dan bukan Khalifah.   Pemimpin Non Muslim di Negeri mayoritas Muslim, biasanya sebatas Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, dan sekali lagi apalagi kalau hanya wakil Gubernur.

Terima kasih.

Hamka Haq.

Advertisements

33 comments on “HALAL MEMILIH (WAKIL) PEMIMPIN DARI UMAT AGAMA LAIN

  1. Asslm.. Prof, AllahuAkbar, Tulisan Prof ini sangat2 menginspirasi, dan memberikan pelajaran tentang islam dimasa modern ini, semoga kebenaran islam selalu terbuka di mata kita.. Amin

  2. memutar balikkan ayat, memanipulasi hujjah..
    tipikal orang liberal banget..

    ana mengajak antum kembali ke tafsir ayat yang benar, yang Haq, sebelum Alloh mengadzab antum, takut lah.. takut lah akan pertanggung jawaban antum..

    • Respon anda persis sama dengan respon Pak Sahid Yahya sebelumnya. Jawaban saya sudah ada terinci dan agak lengkap di sana, coba buka / baca http://wp.me/p1n8EA-8U dan juga http://wp.me/p1n8EA-8E dalam blog saya http://islam-rahmah.com , dengan judul JAWABAN TERHADAP PARA PENGGUGAT “PEMIMPIN NON MUSLIM”
      Mungkin yang ingin saya tambahkan bahwa dalam Al-Qur’an, ayat-ayat menyangkut non Muslim ada dua kategori:
      1. Ayat-ayat yang berkesan negatif, menjelekkan, bahkan perintah memusuhi mereka
      2. Ayat-ayat yang berkesan posistif, mengajak kerjasama, memuji mereka, dan menghargai mereka

      jadi tergasnutng pada anda, kalau anda termasuk orang yang ingin membangun permusuhan abadi dengan non Muslim, tentu anda akan menggunakan semua ayat dalam kategori pertama, tanpa melihat konteks penerapan ayat itu sesuai konteks dan kondisinya.
      Namun saya mengajak anda yang hidup di Indonesia ini, demi kedamaian dan persatuan bangsa, anda sebaiknya berpegang pada sejumlah ayat yang sejuk dan mengajak persahabatan dengan non Muslim, yang telah diterapkan oleh Nabi SAW di Madinah ketika membangun dan memimpin negara Madinah, yang didalamnya juga hidup Yahudi dan Nashrani dengan damai bersama umat Islam. Saya sarankan agar anda rajin-rajin membaca sejarah Nabi Muhammad SAW sebagai Kepala Negara di Madinah. Jangan terjebak dalam sejarah khalifah-khalifah yang terlibat perang. Kita lebih baik kembali mengamalkan apa yang diamalkan oleh Rasulullah SAW yang kita imani demi kadamaian dan persatuan bangsa.
      Wallahu A’lamu bi al-Shawab.
      Terimakasih,
      Wassalam

      • Hanya Allah dan rasulNya yang sungguh-sungguh mengerti makna Al Qur’an dengan benar, dengan haq. Kita hanya mampu menafsirkannya semampu kita, sebatas ilmu kita. Dan karena manusia punya ilmu yang terbatas dan dengan background yang berbeda-beda, maka muncullah berbagai tafsir yang barangkali berbeda pula.

        Menurut saya, tak seorang pun di antara kita yang bisa mengklaim bahwa tafsiran kita (atau tafsiran ulama yang kita anut) adalah yang haq. Tidak pak Akhmad Faruq, tidak juga pak Hamka Haq. Mari kita amalkan apa yang kita yakini.

        Salam takzim saya untuk pak Akhmad, pak Hamka, dan para alim ulama lain yang saling bersilang pendapat.

    • Assalamu Alaikum Wr.Wb.
      Saudara Ahmad Faruq Bayasut, dan Saudara Jak, Tujuan di balik Tulisan ini adalah untuk menyampaikan ajaran Islam Rahmah kepada semua manusia, kasih sayang Islam membangun perdamaian dan kebersamaan dengan sesama bangsa Indonesia. Saya yakin perdamaian abadi dan persahabatan secara luas jauh lebih baik dan diridhahi Allah ketimbang mengungkit-ungkit permusuhan dan perang abadi Maka Tak perlu merasa Ngeri, sebab saya yakin sikap seperti inilah yang dirahmati dan diberi hidayah oleh Allah SWT. dengan alasan sbb.:
      1. Dalam surah Al-Ankabut:46, kita dilarang mendebat non Muslim (Ahli Kitab) kecuali dengan cara-cara yang terbaik (Ahsan): “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. Karena itu saya yakin saya telah berbuat Ahsan (Ihsan) kepada ahlu kitab (non Muslim)
      2. saya yakin pula bahwa setiap orang yang berbuat ahsan (ihsan) kepada sesama manusia termasuk kpd non Muslim, itu pasti dirahmati (dikasihi) Allah SWT, sesuai firman-Nya:
      Q.S.Al-A’raf: 56: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik Muhsinin).
      Q.S.al-Maidah: 13= “maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

  3. alhamdulillah akhirnya saya mendapatkan pencerahan yg saya cari. Sebelumnya saya bingung mencari “pembenaran” terhadap logika dan akal sehat saya. Menurut saya, tidak mungkin Islam, yang rahmatan lil alamin, memenjarakan umatnya dengan pandangan sempit yang menafikan umat agama lain. Lebih2 lagi dalam konteks pilkada DKI kemarin, yang menampilkan calon yang walaupun muslim tapi, menurut saya, memiiki prilaku yang tidak Islami.
    Ini memang di luar mainstream pendapat banyak ulama Indonesia. Memang seharusnya seperti inilah wajah Islam. Sejuk. Tidak menakutkan. Umat yang cinta damai. Memerangi hanya mereka yang dzalim. Inilah yang harus sering-sering didakwahkan pada umat Islam di Indonesia, yang, seperti saya, memiliki pengetahuan sedikit mengenai agamanya sendiri, senang mencap mereka yang berbeda pendapat dengan stempel liberal, sekuler, dll.
    Mohon jawaban ustadz: Apakah berarti konsep khilafah yang disuarakan HTI tidak valid lagi di zaman sekarang?
    Barakallah wa jazaaka katsiran.
    Wassalam

    • WENDI BALE: Mohon jawaban ustadz: Apakah berarti konsep khilafah yang disuarakan HTI tidak valid lagi di zaman sekarang?
      Barakallah wa jazaaka katsiran.
      satu lagi, kenapa “min duuni mu’minin” ditafsirkn menjadi “dengan meninggalkan orang-orang mu’min” dan bukannya “selain orang-orang mu’min”?

      JAWABAN SAYA, Assalamu Alaikum W.W.: Terima kasih atas responnya, jawaban saya sebagai berikut: Bahwa konsep khilafah yang disuarakan oleh HTI tidak lagi relevan dengan perdaban dunia Islam sekarang. Dulu di zaman shahabat otoritas seseorang diangkat khalifah, karena berasal dari keluarga atau sahabat Nabi, setidaknya berasal dari suku Quraisy yang dipandang alim (ulama), maka tampillah (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali menjadi Khalifah karena mereka adalah sahabat dan keluarga Nabi. Sesudah itu tampil khalifah-khalifah Dinasti Umayyah yang kekuasaannya tdak lagi berdasarkan sahabat dan keluarga dekat Nabi, mereka juga bukan ulama lagi, tetapi berdasarkan kekuatan militer. Demikian pula Dinasti Abbasiyah khalifah-khalifahnya berkuasa karena kekuatan militer. Pertanyaannya, siapakah yang akan jadi Khalifah sekarang, apakah ada orang yg disepakati berasal dari keluarga Nabi atau sahabat Nabi. Suku Quraisya saja sekarang sudah tidak ada. Dunia Islam akan ribu memperebutkan jabatan Khalifah itu, Negara-negara Arab tentu semua merasa berhak, sampai akan timbul perang sesama bangsa Arab. Kita pun bangsa Idnonesia merasa berhak sebagai bangsa yang terbesar umat Islam nya di dunia, maka akhirnya pun kita akan berperang terus menerus tanpa penyelsaian memperebutkan jabatan khalifah dan untuk mencari seorang yg cocok untuk Khalifah.
      Mengapa kita tidak kembali saja kepada model Negara Rasulullah SAW, yang didalamnya penduduknya beragam etnis dan agamanya, damai satu sama lain, tanpa ada warga kelas dua. Persis keadaannya dengan Indonesia sekarang, kita tinggal memebanhinya lebih baik dan maju ke depan. Ingat dalam Khilafah, semua non Muslim itu dianggap warga Negara Kelas dua. Saya memilih kembali ke model Negara Nabi SAW yang saya imani sebagai pemimpin pilihan Allah SWT, dan berpendapat bahwa Negara Nabi jauh lebih bagus dan lebih mulia dari semua Negara khalifah. Siapa yang mengatakan Negara khalifah lebih bagus dari Negara Nabi, mereka diragukan keimanannya dan kecintaannya pada Nabi Muhammad SAW itu.

  4. satu lagi, kenapa “min duuni mu’minin” ditafsirkn menjadi “dengan meninggalkan orang-orang mu’min” dan bukannya “selain orang-orang mu’min”?

  5. Asslm Prof ,Mohon bertanya : Apakah yg dimaksud dengan Islam & Muslim yg sebenarnya ?? Kenapa Nabi Ibrahim disebut Muslim, padahal beliau lahir jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir ?? BUkankah yg disebut Islam adalah orang yg melakukan tindakan2nya selalu berserah dan bersandar pada kehendak Allah SWT ? Didalam Kristen ada istilah jangan mengandalkan diri sendiri (duniawi) tetapi bertindak sebagaimana kehendak Tuhan..jika demikian, terus apa yg dipermasalahkan oleh sebagian umat tentang ke islaman dan kekristenan ? menurut saya, siapapun orangnya , tanpa mengenal kepercayaannya, yg selalu bertindak berdasarkan pada kebenaran dan kehendak Allah SWT (Tuhan pencipta) yg berarti dirinya mampu berkomunikasi langsung dgn Pencipta dalam bentuk apapun juga, adalah Muslim/Islam (disini saya menggunakan Islam/Muslim karena untuk memudahkan dan lebih umum dalam sehari-hari , padahal kalau kita menterjemahkannya kedalam Bahasa Indonesia tentu kesalah-fahaman tentang Islam akan berkurang secara drastis…Mohon pencerahan jika saya keliru besar..Terima kasih.

    • Selamat Malam Pak Hanoman. Jawaban saya sbb.:
      Istilah “Islam” memang dapat diartikan dengan makna umum, dan juga makna sempit. Maknanya secara umum dan luas ialah doktrin spiritual “berserah diri”, yakni suatu sikap spiritual yang dimiliki oleh para nabi dan rasul yang pernah diutus Tuhan ke tengah ummat manusia. Karena itu agama apapun yang di bawah oleh para Nabi, pada intinya mereka disebut agama “Islam” dan para penganutnya disebut “Muslim”. Pengertian luas inilah yang berlaku untuk menyebut Nabi Ibrahim dan kaumnya waktu itu sebagai “Muslim”(Q.S.Ala Imran: 67). Tetapi dalam tradisi yang ada pada generasi sesudah Nabi Ibrahim, para Nabi Bani Israel menyebut dirinya sebagai bangsaYahudi, sehingga agama yang asal muasalnya dari Nabi Ibrahim itu mereka menyebutnya agama untuk bangsa Yahudi (Bani Israel). Kemudian pada generasi berikutnya lagi, tampil Nabi Isa a.s. (Yesus) membawa pembaharuan agama Yahudi, dan ajarannya lazim disebut agama Kristen, padahal inti spiritualnya juga semua berakar dari Nabi Ibrahim, yakni “Islam” atau “Muslim”. Begitulah pengertian “Islam” atau “Muslim” yang universal dan luas.
      Sesudah itu, generasi Ibrahim melalui garis keturunan anaknya Ismael, dari kalangan bangsa Arab, melahirkan seorang Nabi bernama: Muhammad SAW, yang ajarannya mengambil nama ajaran spiritual Ibrahim, yakni Islam. Tapi Islam yang dipakai sebagai nama agama oleh Nabi Muhammad SAW dan pengkut-pengikutnya adalah pengertian Islam yang sudah dipersempit, hanya mengacu pada komunitas tertentu (organized spiritual / organized religion) yaitu untuk mereka yang percaya pada kerasulan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan guna membedakan kelompok komunitas Kristen dan Yahudi sebelumnya.
      Jadi sebenanrnya, Yahudi, Kristen dan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah bersaudara, satu rumpun agama, semua ajarannya berasal dari Nabi Ibrahim. Sholat (kebaktian), Puasa, Zakat dan haji semua berasal dari Ibrahim, yang dikembangkan oleh generasi Yahudi dan Kristen sampai generasi Muhammad SAW, sehingga tata-cara mereka menunaikan ibadah-ibadah itu berbeda-beda. Bagi Islam yang diajarkan Muhammad SAW, hanya satu rukun agama yang asli atau baru diajarkan pada saat diutusnya Nabi Muhammad SAW, yakni syahadatain (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah Rasul Allah). Selain itu, Sholat, zakat, puasa dan haji sudah ada pada agama-agama sebelumnya, walau dgn cara berbeda-beda.
      Untuk sementara demikian jawaban saya, terima kasih atas responnya.

  6. “…non Muslim boleh saja dipilih jadi pendamping (wakil) pemimpin.” Apakah, di negeri mayoritas Muslim non muslim boleh dipilih jadi pemimpin pak? Atau kesimpulan bapak ialah: di negeri mayoritas Muslim, non muslim hanya boleh dipilih jadi pendamping (wakil) pemimpin? Terima kasih.

    • Saudara Niko, Di daerah saya, Sulawesi Selatan, Gubernur pertama adalah DR. Ratulangi, seorang Kristiani dari Manado Sulawesi Utara, padahal Muslim merupakan penduduk mayoritas di Sulawesi. Jadi secara hukum boleh saja, namun tetap mempertimbangkan kondisi sosial, terutama kapabilitas dan ketokohan seseorang dan kemapuannya membawa diri sehingga dpt diterima oleh sebahagian besar warga masyarakat. Baru-baru ini Gubernur dan wakil Gubernur terpilih Kalimantan Barat semua Kristiani, padahal mayoritas penduduk Kalbar adalah Muslim. Hal yg harus diketahui bahwa makna Pemimpin sekarang sangat beda dengan makna pemimpin di zaman Rasulullah SAW dan shahabat. Dahulu, pemimpin itu bersifat perorangan, dan berkuasa absolut, sedang sekarang pemimpin bersifat kolektif kelembagaan dan tidak berkuasa absolut lagi. Presiden, Gubernur dan Bupati/walikota tidak merupakan satu-satunya pemimpin nasional/daerah, karena dia dikontrol oleh lembaga DPR /DPRD dan Mahkamah Agung/ Pengabdilan Negeri. yang jelas dilarang syariat, ialah jika semua lembaga kepemimpinan yang tiga tersebut, dipegang oleh semua non Muslim padahal warganya mayoritas Muslim.

    • Assalamu Alaikum Wr.Wb.
      Saudara Jak, Tujuan di balik Tulisan ini adalah untuk menyampaikan ajaran Islam Rahmah kepada semua manusia, kasih sayang Islam membangun perdamaian dan kebersamaan dengan sesama bangsa Indonesia. Saya yakin perdamaian abadi dan persahabatan secara luas jauh lebih baik dan diridhahi Allah ketimbang mengungkit-ungkit permusuhan dan perang abadi Maka Tak perlu merasa Ngeri, sebab saya yakin sikap seperti inilah yang dirahmati dan diberi hidayah oleh Allah SWT. dengan alasan sbb.:
      1. Dalam surah Al-Ankabut:46, kita dilarang mendebat non Muslim (Ahli Kitab) kecuali dengan cara-cara yang terbaik (Ahsan): “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. Karena itu saya yakin saya telah berbuat Ahsan (Ihsan) kepada ahlu kitab (non Muslim)
      2. saya yakin pula bahwa setiap orang yang berbuat ahsan (ihsan) kepada sesama manusia termasuk kpd non Muslim, itu pasti dirahmati (dikasihi) Allah SWT, sesuai firman-Nya:
      Q.S.Al-A’raf: 56: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik Muhsinin).
      Q.S.al-Maidah: 13= “maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

  7. Assalamu Alaikum W.W. Prof.
    Saya non muslim dalam pengertian “sempit” karena saya penganut kristen.
    Membaca tulisan Prof, saya sangat kagum dan mendapat pencerahan luar biasa tentang Islam yang ternyata cinta damai dan bersedia hidup berdampingan dengan kaum minoritas yang tidak mendzoliminya, dan ternyata Prof mengatakan ini adalah contoh yang diberikan Nabi ketika memimpin negara Medinah.
    Saya percaya setiap agama tidak akan mengajarkan mendzolimi siapapun baik bukan segolongannya maupun golongan sendiri. Sehingga kekerasan yang ditimbulkan oleh sebagian orang yang menyukai kekerasan tidak perlu mengalaskan sikapnya pada agama apapun dan tidak membuat takut orang-orang yang melihat tindakan brutal itu sebagai tindakan keagamaan, sehingga timbul penilai2 tidak relevan pada agama yang didasarkan pada tindakan2 tidak berdasarkan ajaran agama yang sesungguhnya.
    Saya mendapat pencerahan juga tentang pendapat islam pad non islam yang digolongkan ahli kitab dan musryik. Saya sependapat dengan prinsip kemarahan tidak menunjukan kebenaran agama kita dan hujat tidak membuat agama kita tidak benar.
    Saya salut dengan contoh Nabi di Medinah dan contoh yang dilakukan negara Sudan. Sebaliknya saya pun ingin membengingatkan bahwa Perdana Menteri Pertama (Mari Alkatiri) dari Negara Timor Leste yang mayoritas beragama nasrani/katolik adalah seorang muslim.
    Bagaimana pendapat lebih jauh prof tentang pemisahan hidup beragama dan hidup bernegara/berpolitik?
    Sebagai seorang kristen, saya lahir dan dewasa di Indonesia, menikmati kepemimpinan para pemimpin muslim. Namun ketika bersekolah di USA saya juga menikmati kepemimpinan para pemimpin beragama kristen. Sekarang bekerja di Malaysia saya juga menikmati kepemimpinan muslim di negara muslim, dalam banyak permasalahan saya temukan tidak relevan mengklaim ajaran agama dalam politik atau sebalik mengklaim politik dalam beragama, mohon penjelasan prof.
    Suatu hal lagi yang menggelitik saya dalam pembahasan Prof yang menyinggung tetang Yesus, tentang ketuhanan Yesus dan ajaran trinitas, sepanjang yang saya pernah pelajari dan imani adalah 3wujud/manifestasi Tuhan yang adalah Esa/tunggal/satu. Saya tidak pernah mengakui adanya 3 tuhan, sehingga dalam hal ini saya tidak menduakan atau mentigakan Tuhan. Karena dalam Kitab Keluaran Fatsal 20, jelas Allah berfirman : jangan ada Allah lain dihadapan KU…
    Saya kurang mengerti tentang 99 nama Allah dalam Islam apakah itu sama pengertiannya?
    Bahwa kehadiran Tuhan dalam wujud Yesus adalah dalam rencana penebusan umat manusia yang berdosa. Tuhan menebus manusia yang diciptakan dan dikasihinya. Manusia tidak bisa menebus manusia. ini adalah dasar dari perlunya ada wujud Tuhan sebagai Yesus di dunia.
    Bahwa kitab suci yang saya pelajari dan jadikan pedoman adalah kitab Taurat, Zabur dan Injil yang tergabung dalam sebuah kitab yang disebut Alkitab oleh yang mngajarkan agama kepada saya sejak awal. Sejujurnya sebagai seorang yang ingin selalu menambah ilmu, saya merasa sedikit dibatasi/terbatasi dalam upaya mencari ilmu agama. Mungkin prof juga mengalaminya di lingkungan Prof, sebagai orang yang terlahir dalam keluarga Kristen, saya hanya dijejali ajaran agama kristen sejak awal. Diskusi agama dengan para guru islam dan agama lain akan dianggap DEBAT dan tidak membantu banyak.
    Mohon maaf atas kekurangan saya yang sedang berusaha mencari ilmu. Tanpa tujuan menyinggung siapapun.
    Terima kasih atas semua keterbukaan wawasan yang sangat menyejukan dari Prof.

    • Trimakasih

      Yang saya maksud dengan 99 asmaul husna, yakni 99 nama Tuhan dalam Al-Qur’an, hanya sebatas menunjukkan dimensi sifat-sifatnya, bukan berarti ada sebanyak 99 zat personal Tuhan, sehingga Tuhan tetap MAHAESA. Saya yakin, demikian juga dalam Kristen, paham trinitas bukan berarti tiga wujud personal (zat) Tuhan, melainkan ada tiga dimensi perwujudkan Tuhan dalam sifat dan kasihnya kepada makhluk-Nya, sehingga Tuhan tetap MAHAESA. Trimakasih

    • @Yohanis,,, tentang ketuhanan Yesus dan ajaran trinitas, sepanjang yang saya pernah pelajari dan imani adalah 3wujud/manifestasi “Tuhan yang adalah Esa/tunggal/satu”. ESA = Satu,,, pelajari dg se-cermat2nya tentang ESA ialah Satu, jika saya boleh sarankan coba simak arti dari Surah Al Ikhlas (Quran) yg terdiri hanya 4 ayat.. pd ayat terakhir : ……..dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ~~berarti tdk ada yang menyamaiNya,,, smentara itu pd jahirnya telah nyata perumpamaan itu ada disekeliling kita saat ini, dimana saja,, kapan saja,, dan perlu pula dicermati bahwa kebenaran itu tidak akan pernah (datangnya dari orang lain) melainkan dari diri masing2… siapapun ia.

  8. Pak Hamka,
    Terima kasih sudah merespon saya. Yg saya tunggu sebetulnya bagaimana Pak Hamka menjawab pertanyaan saya yg sangat direct: apakah boleh non-muslim menjadi pemimpin (bukan wakil) di negeri mayoritas muslim? Saya tidak menemukan jawaban atas pertanyaan ini.
    Pak Hamka mengemukakan bbrp hal:
    1. Soal kapabilitas/ketokohan, hal ini tentu adalah syarat mutlak, entah apakah ybs muslim/non-muslim.
    2. Soal 3 lembaga kepemimpinan yg dipegang oleh non-muslim, hal ini menurut saya suatu kemustahilan. Tidak akan pernah terjadi ratusan anggota DPR/MPR plus eksekutif (puluhan menteri) plus MA bisa semuanya dr yg non-muslim pada saat yg bersamaan.

    Pada tahun 2008 ketika Barack Obama berkampanye untuk menjadi presiden kulit hitam pertama di amerika, banyak yg berusaha menjegal dia, salah satunya dgn mengatakan bahwa Obama adalah seorg muslim. Jenderal Colin Powell, ketika ditanya mengenai isu ini, mengatakan:
    “Obama is not a Muslim, he’s a Christian. He’s always been a Christian. But the really right answer is, what if he is? Is there something wrong with being a Muslim in this country? The answer’s no, that’s not America.”
    “Is there something wrong with some seven-year-old Muslim-American kid believing that he or she could be president? Yet, I have heard senior members of my own party drop the suggestion, “He’s a Muslim and he might be associated terrorists.” This is not the way we should be doing it in America.”

    Saya menunggu hadirnya presiden non-kristen di amerika dan presiden non-muslim di Indonesia. Bagaimana dgn pak Hamka?

    • Trimkasih
      Saya kira saya sudah jawan secara tidak langsung bahwa :” yang jelas dilarang syariat, ialah jika semua lembaga kepemimpinan yang tiga tersebut, dipegang oleh semua non Muslim padahal warganya mayoritas Muslim.” Jawaban seperti ini saya berikan karena sekarang, kepemimpinan itu sdh bersifat kolektif, tidak ada lagi pemimpin yang secdara personal seperti di zaman dahulu (Nabi dan shahabat Nabi). Jadi kalo ada sekarang, Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota beragama Kristen, tidak berarti ia telah menjadi pemimpin dengan dirinya sendiri, ybs hanya memegang sepertiga dari tugas kepemimpinan (tidak berkuasa mutlak) jadi hal itu berpeluang dibolehkan menurut kaedah hukum Islam.

  9. Saya pribadi sangat dan sangat setuju dg sgala uraian dari Pak Hamka,, utk menuju KEBENARAN YG HAQ tlah banyak di”PERINGAT”kan dalam Al Quran,,,, jika Al Quran hanya diBACA dan diTULIS semata-mata tidak akan menjumpai apa YG TERKANDUNG DIDALAMNYA, ia Sangat Memerlukan PEMAHAMAN yang benar2 dg KECERDASAN,,,, barulah bertemu dg kebenaran yang nyata.

    [sesuai dg QS 29:43 Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.]

  10. Benerin lg tuh ayat2nya. Yahudi/nasrani tidak akan henti2nya sampai kiamat ,AlQuran sudah memberitahu lebih dulu, ahlul kitab artinya(perusak ayat2 Allah)

  11. Hai orng2 yang beriman,janganlah kamu mengambil menjadi teman kepercaya’anmu(pemimpin) orang2 yang diluar kalanganmu karena mereka tidak hentinnya (menimbulkan) kemudaratan bagimu ,mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka .dan apa yang di sembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi sungguh telah kami terangkan kepadamu jika kamu memahaminya… Beginilah kamu. Kamu menyukai mereka padahal mereka tidak menyukai kamu.dan kamu beriman kepada kitab2 semuanya apabila mereka menjumpai kamu. Mereka berkata kami beriman. Dan apabila mereka menyendiri.mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu.katakanlah pada mereka. Matilah kamu karena kemarahanmu itu….(AlQur’an)

    • Assalamu Alaikmum War.Wab.
      Terimakasih atas respon anda terhadap posting saya, mengenai Halal Memilih Pemimpin (wakil) dari non Muslim. Sebenarnya telah banyak sekali respon terhadap tulisan saya itu yang senada dengan tanggapan anda. Dan yang paling panjang dan saya rasa paling lengkap tanggapannya ialah saudara AKUKA, dan telah saya jawab. Ringkasan jawaban saya ialah bahwa ayat-ayat yang melarang kerjasama dengan nn Muslim, hanya diterapkan ketika terjadi perang antara Muslim dan non Muslim. Dalam keadaan damai, seperti yang dilakukan Rasulullah SAW, ketika Rasulullah memimpin Negara Madinah, beliau mengajak kaum Yahudi bekerjasama untuk menyusun Piagam Madinah, yaitu UUD negara Madinah. Untuk jelasnya saya akan kutipkan kembali jawaban saya terhadap saudara AKUKA itu, agar anda dapat mengetahui secara lengkap seperti apa tanggapan yang sudah ada sebelumnya dan bagaimana jawaban saya. Silakan baca berikut ini:

      Assalamu Alaikum w.w.,
      Terima kasih Saudara AKUKA telah merespon pendapat saya, dan member tanggapan berikut:
      I. Ayat bagian pertama berbicara mengenai hukum menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Bagian kedua mengenai berbuat baik kepada orang kafir. Dua hal yang berbeda.

      JAWABAN SAYA: Zaman Nabi dan shahabat, mungkin dua hal itu sangat berbeda, tapi sekarang tidak terlalu berbeda lagi. Mengapa? Arti PEMIMPIN di zaman sekarang tdk sama/tidakidentik lagi dgn PEMIMPIN di zaman Nabi dan shahabat. Pemimpin di zaman Nabi dan shahabat sangat istimewa karena berkuasa absolute, berkuasa mutlak, semua kakuasaan tergantung pada seseorang saja, tidak ada kekuasaan selain dari dirinya. Pemimpin zaman sekarang tdak lagi istimewa, kekuasaannya tdak absolut, karena kepemimpinan sekarang tdk tergantung pd seseorang, tetapi bersifat kolektif kelembagaan, terbagi kedalam tiga kekuasaan (Eksekutif /pemerintahan, Legislatif/ Pembuat Undang2,dan Yudikatif/ Kehakiman). Pemimpin sekrang tdak istimewa lagi, turun nilainya seperti soal muamalah biasa. Karena itu larangan memilih non Muslim sebatas Eksekutif, ataukan Legislator (DPR ataukah Hakim (MA) secara personal berubah hukumnya menjadi tdak haram. Nanti menjadi haram jika semua (tiga) kekuasaan itu secara kelembagaan dipegang oleh semua orang Non Muslim. Ini sesuai kaedah Ushul Fikih: الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما (Hukum berubah-ubah / beredar sesuai illatnya, ada atau tidak). Illatnya ialah kekuasaan absolut. Karena kekuasaan abslutnya tdak lagi ada secara personal, maka hukmnya pun dak berlalku lagi secara personal.

      AKUKA: II. Asbabun Nuzulnya juga bukan karena Romawi?.

      JAWABAN SAYA: Asbab Nuzul itu secara garis besarnya ada dua macam, yakni sebab juz’iy (khusus) menurut riwayat tertentu, seperti riwayuat-riwayat yang sdr AKUKA kemukakan. Selain itu ada sebab-sebab universal, bersifat umum, dan berlaku secara umum dalam sejarah, yang diketahui secara otomatis berdasarkan kondisi umum di zaman Nabi SAW. Dalam kaitannya dengan non Muslim, kondisi umum waktu itu menunjukkan bahwa ada non Muslim (bangsa Romawi) yang menjajah sebahagian negeri Arab, menzalimi bangsa Arab, tapi ada juga non Muslim seperti di kerajaan Najasyi yang tdak menzalimi (tdak menjajah) bgs Arab. Sikap Nabi memang tegas dan keras terhadap mereka yang menzalimi(menjajah/ memusuhi) umat Islam.
      Adapun riwayat-riwayat tertentu mengenai suatu ayat (secara juz`iy, khusus, parsial) berupa peristiwa berkenaan turunnya ayat, yang sdr AKUKA kemukakan berikut nanti, saya rasa semua memperkuat alasan saya tentang berbuat baik dgn non Muslim dalam kondisi /konteks masyaraat damai, dan larangan bersahabat dan merangkul mereka hanya diterapkan pada kondisi perang atau menghadapi peperangan. Mari kita coba telaah riwayat-riwayat itu satu persatu:

      AKUKA: Ini teksnya dari tafsir al Qurthubi
      1. S Ali Imron ayat 28:
      Diriwayatkan dari ad Dhohhak dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun sebabnya karena Ubadah bin as Shomit al Anshori, beliau orang Badr yang bertaqwa. Dia memiliki perjanjian persahabatan dengan orang2 yahudi. Ketika Nabi keluar pada hari ahzab, Ubadah berkata: wahai Nabi Alloh, saya ada 500 pasukan Yahudi, saya lihat engkau keluar bersama saya, maka saya bisa minta tolong kepada mereka untuk melawan musuh. Maka Alloh menurunkan ayat ini.

      JAWABAN SAYA: Riwayat ini sebenarnya memperkuat argumen saya bahwa berteman dgn org non Muslim itu hanya dilarang pada kondsi perang. Riwayat di atas menyebut larangan Nabi terjadi pada saat beliau menghadapi perang Ahzab. Hal ini kita terima semua. Tapi dlm keadaan Damai, Nabi membangun persahabatan dgn Yahudi dan agama-agama lain di Madinah bersama-sama membuat Piagam Madinah sbg UUD Negara Madinah.

      AKUKA: 2. S. Annisa 138-139.
      Ayat ini sebagai dalil bahwa orang yang bertauhid yang berbuat maksiat bukanlah orang munafiq. Karena dia tidak menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Ayat ini mengandung larangan menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Juga tidak boleh menjadikan penolong untuk beramal yang berkaitan dengan agama. Di dalam hadits shohih dari Aisyah ra, bahwa ada seorang laki2 musyrik bertemu Nabi saw dan ikut berperang bersama Nabi, lalu Nabi bersabda kpd orang itu: pulanglah, kami tidak mau meminta tolong kepada orang musyrik.

      JAWABAN SAYA: Lagi-lagi riwayat ini memperkuat argmen saya bahwa persahabatan dgn non Muslim dilarang dlm keadaan perang, larangan ini tidak dalam konteks masyarakat damai.

      AKUKA: 3. An Nisa 144.
      Artinya janganlah jadikan mereka sbg orang istimewa dan orang terdekat/kepercayaan.
      4.al Maidah ayat 51.
      Pertama: Ayat ini menunjukkan atas tidak boleh menjadikan penolong/pemimpin secara syariat. Telah terdahulu penjelasannya di S Ali Imron. Dikata yg dimaksud munafiqin. Artinya wahai orang2 yg beriman, dengan keadaan zhohirnya, menjadikan pemimpin orang2 musyrik, menyampaikan rahasia2 orang muslim. Ada pendapat dari Ikrimah, Ayat ini turun tersebab Abu Lubabah. Berkata as Suddi: ayat ini turun pada hari Uhud ketika para muslimin ketakutan sehingga sebagian berkeinginan meminta pertolongan kpd Yahudi dan Nasrani. Ada pendapat lain: ayat ini turun tersebab Ubadah bin as Shomit dan Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Ubadah membebaskan diri menjadikan pemimpin orang Yahudi tsb. dan Ibnu Ubay berpegang dengan ayat ini dan berkata: aku takut tertimpa musibah.

      JAWABAN SAYA: Lagi-lagi riwayat ini memperkuat argumen saya bahwa larangan itu hanya berlaku pada kondisi peperangan, tidak dilarang dalam keadaan hidup damai.

      AKUKA: Kedua: Alloh menerangkan bahwa orang (yg menjadikan org kafir sbg pemimpin) tsb, hukumnya seperti mereka yahudi dan nasrani. Orang tsb tidak boleh menerima warisan dari orang muslim dan termasuk murtad. Dulu yang menjadikan mereka sbg pemimpin adalah Ibnu Ubay, kemudian hukum ini BERLAKU HINGGA HARI KIAMAT didalam tidak boleh menjadikan pemimpin/penolong.

      JAWABAN SAYA: Semua ayat BERLAKU HINGGA HARI KIAMAT sesuai konteksnya, yakni jika dalam keadaan berperang dengan non Muslim, berlakulah ayat tersebt di atas. Tapi tdk diterapkan dalam konteks kedamaian. Misalnya ada ayat : “Dan Perangilah org musyrk seluruhnyas” tidak mungkin berlaku setiap hari, bhw setiap Muslim wajib setiap hari berperang, mencari non Muslim untuk sengaja mengadakan perang. Ayat seperti itu hanya diterapkan pada kondisi perang, sesuai ayat Q.S.Al-Baqarah: 190= “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Melampaui batas yang tidak disenangi Allah SWT ialah mereka yang tetap memushi dan memerangi orang-orang yang sudah berdamai dengan umat Islam.

      AKUKA: Ayat bagian kedua selanjutnya berbicara yang lain, yaitu mengenai berbuat baik. Ini hal yang berbeda tetapi dicampur adukkan oleh si Prof. Begini isi tafsir al Qurthubi:
      1. Al Mumtahanah ayat 8.
      Pertama: Ayat ini merupakan rukhshoh dari Alloh didalam bergaul dengan orang2 yg tidak memusuhi muslimin dan tidak memerang muslimin. Kata Ibnu Zaid: ayat ini turun pada permulaan Islam ketika berdamai dan tidak ada perintah perang, kemudian hukum ayat ini dinasakh/dihapus. Kata Qotadah: Ayat yang menasakh: maka perangilah orang2 musyrik dimanapun kamu dapatkan. (at Taubah ayat 5). Dikatakan hukum ini karena ada sebab yaitu perdamaian. Maka tatkala hilang perdamaian dengan sebab pendudukan Mekkah, hukum ini dicabut tetapi bacaan ayat tetap ada dibaca spt itu.

      JAWABAN SAYA: Saya rasa argumen sdr AKUKA ini semakin memperkuat pendapat saya, bahwa dalam keadaan kedamaian, hukum Islam membolehkan untuk berbuat baik dan bersahabat dgn non Muslim, sesuai konteksnya sewaktu-waktu. Kemudian pada saat perang datang ayat maka perangilah orang2 musyrik dimanapun kamu dapatkan. (Q.S. al-Taubah :5), ayat ini diterapkan hanya pada saat perang. Sdr AKUKA mengatakan ayat ini menasakh (MENGHAPUS), berarti ada ayat yang tidak berlaku lagi, padhal sebelumnya sdr. AKUKA sendiri menegaskan bhw semua ayat BERLAKU HINGGA KIAMAT.? bagaimana ini?, pendpt AKUKA ini ambivalent. Menurut saya tdak ada satupun ayat yang dihapus hukumnya, hanya saja ada ayat-ayat yang sewaktu-waktu tdk diterapkan, karena kodisinya berbeda sehingga diterapkanlah ayat lain. Pada saat kondisinya kembali terjadi, maka diterapkan kembali ayat semula itu. Maka sekarang, kondisi umum Indonesia adalah masyarakat damai, bukan masyarakat perang, maka ayat-ayat perdamaian yang dikatakan sdr AKUKA di nasasakh (dihapus) itu, menurut saya TIDAK PERNAH DIHAPUS HUKUMNYA, dan kembali diterapkan hingga hari kiamat jika kondisinya tetap dalam kedamaian. Saya terus terang, tidak mengartikan nasikh-mansukh dalam arti hapus – mengapus ayat, karena pemahaman seperti ini memberi kesan bahwa Al-Qur’an itu tidak sempurna. Bagi saya nasikh-mansukh hanya berarti bahwa ada ayat yang seaktu-waktu tidak diterapkan karena kondisinya berbeda, tapi jika kodisinya kembali seperti semula maka ayat itu diterapkan kembali, sehingga Al-Qur’an tetap sempurna, agung, dan tak ada ayatnya yang sia-sia (dihapus begitu saja).

      AKUKA: Dikatakan: ayat ini dikhususkan orang2 yang mengadakan perjanjian persahabatan dengan Nabi dan tidak melanggarnya.
      Kata al Hasan, alKalabi: mereka adalah suku Khuza’ah dan Bani al Harits bin Abdi Manaf. Juga kata Abu Sholih. Kata Mujahid: ayat ini dikhususkan pada orang2 yg beriman tapi tidak mau berhijrah. Ada pendapat lain: yaitu wanita2 dan anak2 karena mereka tidak boleh diperangi. Maka Alloh izinkan berbuat baik kpd mereka. Demikian diceritakan dari sebagian ahli tafsir. Kata sebagian besar ahli takwil ayat ini menjadi hukum. Mereka berhujjah: bahwa Asma binti Abu Bakar bertanya kpd Nabi saw: Apakah ibunya wanita musyrik boleh disilaturahimi ketika si wanita musyrik itu datang?
      Nabi jawab: ya. HR Bukhori dan Muslim. Ada pendapat bahwa ayat ini turun tersebab kisah ini. Diriwayatkan oleh Amir bin Abdullah bin az Zubair dari ayahnya: bahwa Abu Bakr as Shiddiq pernah menceraikan istrinya Qutailah di masa Jahiliyah (Ibunya Asma bin Abu Bakr). Suatu saat ia mendatangi para sahabat pada satu masa perdamaian antara Rosul dan kaum musyrikin. Ia memberikan hadiah kpd Asma bin Abu Baker anting2 dan lain2. Asma enggan menerimanya shg datanglah Rosululloh saw, dan Asma menceritakan hal itu shg Alloh turunkan ayat ini.
      Kedua: Alloh tidak melarang kamu berbuat baik kepada orang2 yg tidak memerangi kamu. Mereka adalah kaum Khuza’ah, mereka berdamai dengan Nabi dengan tidak mau memerangi Nabi dan tdk mau menolong siapapun yang memerangi Nabi. Maka Alloh perintahkan untuk berbuat baik kpd mereka sampai ajalnya. Kamu berikan sebagian hartamu atas dasar silaturahmi. Bukan karena dasar adil. Karena adil itu wajib thd orang yg memerangi dan juga orang yg tidak memerangi. Demikian kata Ibnu al Arobi.
      Ketiga: Kata al Qodhi abu bakr kitab al ahkamnya: ada yg berpendapat atas anak laki2 muslim wajib menafkahi thd bapaknya yg kafir.Ini perkara yg besar. Karena izin untuk sesuatu atau tidak ada larangan thd sesuatu tidak berarti menunjukkan atas wajib. Pemberian ini bersifat mubah.
      2. Al Maidah ayat 82:
      Ayat ini turun tersebab raja Najasyi dan pengikutnya ketika muslimin datang kpd mereka pada hijrah yg I krn takut thd orang musyrik dan ancamannya.Kemudian Nabi saw hijrah ke madinah setelah itu maka orang musyrik tidak bisa menyusul. Terjadilah perang antara mereka dan Rosul. Ketika perang Badr dan terbunuh sebagian besar orang2 kafir, berkata kafir Qurays: sesungguhnya pembalasanmu ada di negri Habasyah. Beri hadiah kpd raja Najasyi, utus 2 orang yg pintar, semoga raja Najasyi memberikan sesuatu yang kamu dapat memerangi muslimin. Maka Kafir Qurays mengutus Amr bin al’Ash dan Abdullah bin Abi Robi’ah dengan membawa hadiah. Nabi dengar hal itu. Maka Nabi mengutus Amr bin Umayyah ad Dhomri dan menulis surat kpd raja Najasyi. Dan ia menghadap raja Najasyi. Beliau membaca surat Nabi saw lalu memanggil Ja’far bin Abi Tholib dan Muhajirin. raja Najasyi mengutus kepada para pendata dan rahib dan dikumpulkan mereka. Lalu ia memerintahkan Ja’far membacakan al Quran, dan dibacalah surat Maryam. Raja Najasy dan pengikutnya yg Nasrani berdiri, air matanya mengalir. Maka merekalah orang2 yang disebutkan diayat tsb

      JAWABAN SAYA: Semua ayat dan Kisah di atas sangat mendukung argmen saya bhw umat Islam tidak diharamkan berbuat kebajikan dan berbuat adil kpd non Musli dalam situasi / konteks damai . Di samping itu juga memnguatkan pendapat saya bahwa kaum ahlu kitab (Yahudi dan Kristen) tidak semuanya kafir, mereka ada yang beriman, percaya pada kebenaran Nabi SAW, tetapi tdak meninggalkan agama mereka semua. Ini sesuai dengan Q.S.Al-Ankabut: 47: “Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an), maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Qur’an ); dan di antara mereka (orang-orang Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir

  12. KHILAFAH DAN KHALIFAH

    Sewaktu Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dan langsung mambangun dan memperkuat negeri dan pemerintahannya dan tak ada pula beliau memproklamasikan dan menggunakan istilah khilafah Arabnya. Tapi beliau tetap dalam statusnya adalah seorang Rasul Allah, nabi bahkan penutup para nabi walaupun sekaligus juga secara hakikatnya adalah seorang ‘sang’ khalifah.

    Karena masalah khilafah atau khalifah bukanlah masalah ‘ibadah’, tapi masalah ‘muamalat’ maka saya kira Nabi Muhammad SAW tidak mau mengkonkritkan keberadaan khilafah dengan khalifah ini. wajarlah jika disaat beliau meninggal dunia maka tidak ada pesan atau wasiat politik beliau kepada siapa kepemimpinan umat diserahkan setelah beliau tidak ada.

    Peran Seorang Khalifah

    Pertama, secara umum manusia di atas dunia ini adalah sebagai khalifah sesuai dengan sinyal Allah Ta’ala tat kala mau menjadikan atau menciptakan Adam As. sebagai manusia pertama dan menjadi umat manusia selaku Hamba-Nya.

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui (QS. 2:30).

    Dengan sinyal itu maka posisi Adam As. sebenar adalah selain sebagai khalifah Tuhan di atas dunia ini, beliau juga adalah kepala rumah tangganya. Karena itu, dalam Al Quran tidak kita temukan penobatan beliau sebagai ‘nabi’ ya.. apa lagi sebagai rasul.

    Kedua, secara khusus pengertian khalifah dalam arti lebih luas lagi ya tidak saja sebagai manusia biasa (umum) tapi dianugerahi jabatan oleh Allah Ta’ala seperti menjadi seorang nabi atau rasul. Nah dengan adanya jabatan ini maka otomatis para tokoh ini juga adalah sebagai ‘sang’ khalifah formal, lihat ayat sbb.:

    Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu KHALIFAH di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia (rakyat dan umat yang engkau pimpin) dengan ADIL dan janganlah kamu mengikuti hawa emosi (untuk kepentingan pribadi dan kelompok kamu tertentu), karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan (tuntunan) Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitung (QS. 38:26).

    Ketiga, kalau pada poin dua khalifahnya berasal dari para tokoh pilihan Allah Ta’ala baik sebagai nabi dan rasul, maka pengertian khalifah yang ini berlaku khusus bagi manusia non-jabatan dari Tuhan.

    Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (ada yang jadi raja, sultan, presiden, gubernur dll.) di muka bumi. Barang- siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (QS. 35:39).

    Ayat di atas di dukung dengan Hadits Nabi Muhammad SAW sbb.:

    42. 118/3196. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja’far telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Furat Al Qazaz berkata, aku mendengar Abu Hazim berkata; Aku hidup mendampingi Abu Hurairah radliallahu ‘anhu selama lima tahun dan aku mendengar dia bercerita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang besabda: Bani Isra’il, kehidupan mereka selalu didampingi oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku. Yang ada adalah para khalifah (ya bisa raja, sultan, presiden, kanselir, gubernur, bupati atau walikota) yang banyak jumlahnya. Para shahabat bertanya; Apa yang baginda perintahkan kepada kami?. Beliau menjawab: Penuihilah bai’at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat), berikanlah hak mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka tentang pemerintahan mereka.

    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)

    Berpedoman dengan era kepemimpinan Nabi Muhammad SAW maka pengertian khilafah saya kira tidak lain lebih bermakna sebagai suatu negeri atau wilayah atau daerah yang dihuni oleh rakyatnya baik semua atau pun sebagian besar adalah kaum Muslim ya seperti negera kita, Indonesia. Karena itu, Indonesia ini sudah bisa dianggap sebagai wujud suatu khilafah a.l. karena rakyatnya adalah mayoritas rakyat Muslim.

    Ya ada yang mencoba berpendirian keras harus ada khilafah dan khalifah bahkan wajib. Lalu kita lihat kembali perjalanan panjang peradaban umat Muslim se dunia. Setelah era ke-4 khalifah, Saidina Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Saidina Ali bin Abi Thalib ada khilafah dan khalifah penerusnya. Apakah khilafah dan kahlifah ini sudah mampu menerapkan syariat Islam dengan optimal?. Ternyata mereka mereknya khilafah tapi berupa dinasti kerajaan yang ujungnya semata ingin mempertahankan kekuasaan yang sudah dimilikinya. Setiap ada musuh politiknya baik Muslim maupun lainnya jika berani menentangnya ya habiskan nyawanya. Sang khalifah ini cendrung mempertontonkan kekuatan kekuasaan tangan besinya dari pada akhlakul karimahnya.

    Para khalifah kita itu semua tak ada seorangpun yang mampu menciptakan atau membuat karya sistem negara dan dengan sistem pemerintahan yang Islami. Baru Imam Khomaini yang mau dan bisa memnciptan sistem negara dan pemerintahan yang dapat dikatakan memuat prinsip-prinsip ajaran Islam walaupun cendrung Syiahnya. Kalaulah ada sang khalifah setelah era ke-empat khalifah yang menciptakan sistem negara dan pemerintahan yang Islami, saya kira mayoritas kaum Muslim di bumi Spanyol tidak akan lenyap dari peta peradaban Muslim dunianya. Begitu juga nasib negeri-negeri lain seperti jatuhnya Palestina ke kuasaan Israil dll.

    Kenyataan negeri-negeri kaum Arab di Timur Tengahpun tak ada yang berani memasang merek Islam karena mereka takut tak mampu mengemban prinsip-prinsip ajaran Islam khususnya menyangkut ranah politik dan kekuasaan. Patutlah kita dicermati, bahwa ke-4 khalifah kita tersebut tak ada berniat dan bermaksud untuk menjadikan dirinya adalah sebagai sang raja dan lalu dilanjutkan oleh dinasti anak-anaknya. Ya kalau ada negeri dan rakyat mau menggunakan istilah NEGARA ISLAM atau istilah KHILAFAH ya seperti sudah ada beberapa Negara yang menggunakan lebel ISLAM, ya syukur Alhamdulillah kita patut salut dan hormat dengan pilihannya. Kita doakan bukan ditampik apalagi dicaci maki negeri dan pemerintahan semacam ini, semoga mereka mampu menegakkan syiar Islam lebih bagus lagi dan bisa jadi contoh negeri madani atau Islami yang berhasil.

    Kesimpulan, biarkanlah negeri kita Indonesia ini tetap bermerek negara ‘republik’ yang slalu berusaha mengacu dan mengutamakan prinsip ajaran agama khususnya Islam. Tinggal tugas kita mencari pigur pemimpin Muslim yang mampu menunjukkan prinsip istiqamah dan kuat takwanya dalam memimpin negeri ini. Kita berharap sang khalifah kita dari level negara sampai ke level kabupaten/kota dapat mengemban amanat dan ikrar atau janjinya sendiri memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Kita juga berharap sebagai contoh, sudah ada khalifah di daerah syariat kita, ee lalu gubernurnya diujung masa tugasnya harus tersandung kasus berurusan kriminal korupsi. Mau kita kemanakan simbol ‘daerah syariat’ kita?

    Siapa saja yang ‘ngaku’ MUSLIM lalu dianugerahi dianya sebagai ‘ORANG NOMOR SATU’ atau penguasa maka dia adalah ‘sang’ KHALIFAH apakah lebel penguasanya sebagai presiden, raja atau kanselir dll. dia berkuasa di negara berna Islam atau tidak atau bermerek khilafah atau tidak ya mutlak harus mengacu pada Al Quran dan As Sunnah.

    Soal si tokoh ini mau atau tidak mau menerapkan syariat Islam atau mampu atau tidak mampu menerapkan syariat Islam ya itu mutlak adalah tanggungjawabnya sendiri yang berkeinginan untuk menjadi sang tokoh nomor satu disuatu wilayah kekuasaan. Wajib baginya merujuk pada prinsip-prinsip Al Quran a.l. seperti QS. 38:26 dan 35:39 serta hadits Nabi Muhammad SAW di atas.

    Apa iya kita yang mayoritas Muslim sebagai rakyat Indonesia lalu karena ketidak mampuan para tokoh yang ngaku Muslim memimpin negeri ini lalu kita percayakan saja kepemimpinan Nasional pada tokoh non-Muslim???

  13. Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

    Terdapat keterangan yang bagus yang dijelaskan Syaikhul Islam dalam karyanya as-Siyasah as-Syar’iyah tentang kriteria pemimpin yang baik. Beliau menjelaskan,

    وينبغي أن يعرف الأصلح في كل منصب فإن الولاية لها ركنان : القوة والأمانة

    ”Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal, itu memilikidua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah.”

    Kemudian beliau menyitir beberapa firman Allah,

    إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

    “Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. Al-Qashas: 26).

    Dalil lainnya, pujian yang diberikan oleh penguasa Mesir kepada Nabi Yusuf,

    إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

    “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi (kuat secara posisi) lagi dipercayai pada sisi kami”. (QS. Yusuf: 54).

    Demikian pula karakter Jibril yang Allah amanahi menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya, karakter Jibril yang Allah puji dalam al-Quran,

    إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ( ) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ ( ) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

    Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), ( ) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, ( ) yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi amanah. (QS. At-Takwir: 19 – 21).

    Demikianlah kriteria pemimpin ideal yang Allah sebutkan dalam al-Quran. Kuat dalam arti mampu secara profesional dan amanah.

    Kemudian, Syaikhul Islam menjelaskan batasan kuat (mampu) dan batasan amanah,

    والقوة في كل ولاية بحسبها فالقوة في إمارة الحرب ترجع إلى شجاعة القلب وإلى الخبرة بالحروب والمخادعة فيها فإن الحرب خدعة وإلى القدرة على أنواع القتال… والقوة في الحكم بين الناس ترجع إلى العلم بالعدل الذي دل عليه الكتاب والسنة وإلى القدرة على تنفيذ الأحكام

    Sifat ‘kuat’ (profesional) untuk setiap pemimpin, tergantung dari medannya. Kuat dalam memimpin perang kembali kepada keberanian jiwa dan kelihaian dalam berperang dan mengatur strategi. Karena inti perang adalah strategi. Demikian pula kembali kepada kemampuan dalam menggunakan senjata perang…

    Sementara kuat dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat kembali kepada tingkat keilmuannya memahami keadaan yang diajarkan al-Quran dan sunah, sekaligus kemampuan untuk menerapkan hukum itu.

    Selanjutnya, beliau menjelaskan kriteria amanah

    والأمانة ترجع إلى خشية الله، وألا يشتري بآياته ثمنا قليلا، وترك خشية الناس؛ وهذه الخصال الثلاث التي أخذها الله على كل من حكم على الناس

    Sifat amanah, itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allah, tidak memperjual belikan ayat Allah untuk kepentingan dunia, dan tidak takut dengan ancaman manusia. Tiga kriteria inilah yang Allah jadikan standar bagi setiap orang yang menjadi penentu hukum bagi masyarakat.

    Kemudian beliau mengutip firman Allah,

    فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

    Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

    Mampu (Profesional) dan Amanah, Mana Prioritas?

    Anda semua tentu menyadari, untuk mendapatkan pemimpin yang memiliki dua kriteria ini sekaligus, sangat sulit untuk ditemukan. Hingga Syaikhul Islam di halaman lain dalam buku itu menyatakan,

    اجتماع القوة والأمانة في الناس قليل، ولهذا كان عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- يقول: اللهم أشكو إليك جلد الفاجر، وعجز الثقة

    Kemampuan dan amanah jarang bersatu pada diri seseorang. Karena itu, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah mengadu kepada Allah, ”Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu: orang fasik yang kuat (mampu) dan orang amanah yang lemah.”

    Di sinilah Syaikhul Islam menyarankan untuk menerapkan skala prioritas. Mana karakter yang lebih dibutuhkan masyarakat, itulah yang dikedepankan.

    Dalam posisi tertentu, sifat amanah lebih dikedepankan. Namun di posisi lain, sifat mampu dan profesional lebih dikedepankan.

    Syaikhul Islam membawakan riwayat dari Imam Ahmad, ketika beliau ditanya,

    ’Jika ada dua calon pemimpin untuk memimpin perang, yang satu profesional tapi fasik, dan yang satu soleh tapi lemah. Mana yang lebih layak dipilih?’

    Jawab Imam Ahmad,

    أما الفاجر القوي، فقوته للمسلمين، وفجوره على نفسه؛ وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين. فيغزي مع القوي الفاجر

    Orang fasik yang profesional, maka kemampuannya menguntungkan kaum muslimin. Sementara sifat fasiknya merugikan dirinya sendiri. Sedangkan orang soleh yang tidak profesional, maka kesolehannya hanya untuk dirinya, sementara ketidak mampuannya merugikan kaum muslimin. Dipilih perang bersama pemimpin yang profesional meskipun fasik.

    Sebaliknya, jika dalam posisi jabatan itu lebih membutuhkan sifat amanah, maka didahulukan yang lebih amanah, sekalipun kurang profesional. Syaikhul Islam menyebutkan,

    وإذا كانت الحاجة في الولاية إلى الأمانة أشد، قدم الأمين؛ مثل حفظ الأموال ونحوها

    Jika dalam kepemimpinan itu lebih membutuhkan sifat amanah, maka didahulukan yang memiliki sifat amanah, seperti bendahara atau semacamnya.

    Kemudian, beliau memberikan kesimpulan dalam menentukan pemimpin,

    قدم أنفعهما لتلك الولاية وأقلهما ضررا فيها

    Diutamakan yang lebih menguntungkan untuk jabatan itu, dan yang lebih sedikit dampak buruknya.

    Demikian…

    Disimpulkan dari as-Siyasah as-Syar’iyah, Syaikhul Islam, cet. Kementrian Agama Saudi, th. 1418 H. hlm. 13 – 17.

  14. Ini yang saya cari selama ini, bahwasanya dalam hidup tidak serta merta hitam putih. Salut deh buat yang menulis ini, karena bisa mengakomodasi keadaan dan menyediakan informasi yang berimbang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s