EDARAN BAITUL MUSLIMIN INDONESIA (1)

            

 

I.          Untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang “PEMIMPIN”, harus dilihat dari konteksnya di zaman Nabi SAW, yakni konteks penjajahan Romawi atas sebahagian negeri Arab dan konteks kepemimpinan yang berlaku umum dalam bentuk kekaisaran atau kerajaan.  Untuk zaman itu, ayat-ayat tentang kepemimpinan mengandung anjuran menghindari memilih orang Yahudi dan Kristen yang waktu itu berpihak pada Romawi yang menzalimi bangsa Arab.   Dalam konteks “KEZALIMAN” itulah, ayat-ayat Al-Qur’an melarang memilih non Muslim menjadi pemimpin, seperti dalam Q.S.Ali Imran:28,  Q.S.Al-Nisa: 138-139, Q.S.Al-Nisa:144, Q.S.Al-Ma’idah: 51, dll.

II.        Adapun dalam konteks KEDAMAIAN bagi bangsa yang masyarakatnya plural, seperti masyarakat Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW yang di dalamnya umat Islam mempelopori kebersamaan dengan umat Yahudi dan Kristen, maka berlakulah hukum rukhshah (kemudahan), yakni umat Islam dibolehkan bekerjasama dan memilih PENDAMPING Pemimpin yang adil dari kalangan non Muslim.  Dalam kondisi seperti inilah, berlaku pesan-pesan ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

  1.  Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (bekerjasama) dan berlaku adil terhadap orang-orang (umat agama lain) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S.Al-Mumtahanah: 8);
  2.  Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani (Kristen)“. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri. (Q.S.Al-Ma’idah: 82).
  3. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S.Al-Ma’idah:8).  Dalam Tafsir Al-Qurthubi Juz 6 hal. 110, ditegaskan bahwa perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang bagi umat Islam berbuat adil (bekerjasama) dengan umat agama lain.

 III.      Maka, berdasarkan ajaran Islam di atas, warga Muslim Jakarta dibolehkan memilih Pemimpin (Gubernur) yang bekerjasama dengan umat agama lain (wakil gubernur non muslim) mengingat kondisi Jakarta dewasa ini adalah masyarakat plural yang damai,  sebagaimana Rasulullah SAW juga membangun masyarakat plural di Madinah.  Apalagi, jabatan Gubernur & Wakil Gubernur, bukanlah Kaisar dan Raja yang berkuasa absolut, tapi kekuasaannya terbatas hanya pada kekuasaan eksekutif di DKI Jakarta saja, tidak sekaligus membawahi kekuasaan legislatif dan yudikatif.

IV.     SELAMAT MEMILIH GUBERNUR & WAKIL GUBERNUR, DEMI KESEJAHTERAAN, KEDAMAIAN DAN KERJASAMA SEMUA WARGA JAKARTA, TANPA MEMBEDAKAN AGAMA DAN ETNISNYA.  WLLAHU A’LAMU BI AL-SHAWAB.

JAKARTA,    20 JULI 2012

KETUA UMUM BAITUL MUSLIMIN INDONESIA

PROF. DR.H. HAMKA HAQ, MA

Advertisements

47 comments on “EDARAN BAITUL MUSLIMIN INDONESIA (1)

  1. Hanya seorang pemikir dan yg benar2 memiliki pengetahuan agama yg sangat dalam seperti pak Hamka, yg dapat memberikan satu penjelasan yg sangat mengagumkan warga jakarta. Salut buabget baut pak Hamka

  2. Hanya seorang pemikir dan yg benar2 memiliki pengetahuan agama yg sangat dalam seperti pak Hamka, yg dapat memberikan satu penjelasan yg sangat mengagumkan warga jakarta. Salut buaget buat pak Hamka.

  3. Hanya seorang pemikir dan yg benar2 memiliki pengetahuan agama yg sangat dalam seperti pak Hamka, yg dapat memberikan satu penjelasan yg sangat mengagumkan warga jakarta. Salut buanget buat pak Hamka.

  4. ‘Maka, berdasarkan ajaran Islam di atas, warga Muslim Jakarta dibolehkan memilih Pemimpin (Gubernur) yang bekerjasama dengan umat agama lain (wakil gubernur non muslim)’ sangat setuju :)

    • Terima kasih, dalam dunia yang semakin mengglobal, berhubungan dengan semua manusia merupakan keniscayaan. Jangan kita kembali ke dunia primitif yang tiap orang dibatasi pergaulan sosialnya dengan keterbatasan wilayah, egama, etnis, dan strata sosial. Bangun dunia peradaban untuk semua dalam kedamaian.

  5. Saya Setuju… Muslim ataw Non Muslim,Sama Saja…
    yang penting Bs Membuat ke bijakan bwt Masyarakat banayk,Bukan Untuk penguasa Semata… HANCURKAN FOKE for FUCK !!!

  6. Alqur’an sendiri telah memperingatkan kepada kita supaya hati-hati terhadap orang kafir
    QS Al-Baqoroh 120; “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka“.
    Semoga kita terlepas dari tipu daya orang kafir amien….!

    • Terima kasih atas tanggapannya. Ayat Al-Baqarah 120 tersebut berlaku pada saat terjadi peperangan antara Muslim dan Non Muslim, atau dalam perang dingin dalam suasana tidak berada dalam masyaraat yang damai. Tapi ketika umat Islam berada dalam masyarakat yang damai dengan npn Muslim, maka kita harus mencontoh langkah Rasulullah SAW membangun Negara Madinah yang masyarakatnya pluiral, Islam Yahudi, Kristen dan kaum Hanif, bahkan masih ada penyembah berhala. Berlakulah ayat-ayat seperti yang saya telah kutip dalam Edaran itu, terima kasih.

  7. Ingin menangis rasanya membaca tulisan bapak… entah harus komen gimana… menenangkan … membuat emosi yang sempat termakan hasutan sms-sms gak jelas jadi tenang… ah memang… marilah kita menjalankan ibadah puasa dalam damai dan ketenangan… jangan sampai terprovokasi yang malah menjatuhkan diri sendiri

    • setiap jiwa yang dihasut oleh candu permusuhan terhadap non Muslim secara mutlak, akan tidak dapat memahamiIslam Rahmatan lil-alamin yang diajarkan oleh NABI, sebab dalam hati dan pikirannya ialah mau hidup sendiri di dunia dan mau menghancurkan semua yang non Muslim. Hatinya aka selalu gelisah dan menangis….. Coba pikirkan bahwa non Muslim itu harus dibedakan dalam dua situasi, situasi dalam konteks perang dan situasi dalam konteks perdamaian dalam masyarakat. Dalam konteks damai bersama dalam satu negara, mereka disebut kaum dzimmi (muahid), yang dianggap setia pada perjanjian hidup bersama. Hadits Nabi mengataan: Barang siapa yang menyakiti (apalagi membunuh) seorang mu’ahid (dzimmi yang dalam keadamaan masyarakat) maka orang itu tidak akan pernah memperoleh harumnya sorga (Hadits Riwayat Bukhari) Artinya, kalau anda ingin memperoleh hartumnya sorga, maka semua warga masyarakat termasuk non Muslim harus diayomi, bukan dimusuhi dan disakiti…..!

  8. Tapi maaf pak… mungkin bagi beberapa sodara kita yang lainnya, tulisan bapak ini bisa dianggap pro kaum kuffar or malah musyrik… maaf… tapi ya seperti harapan saya semoga yang membaca bisa membacanya dengan kepala dingin ketimbang emosi.

    • Terimakasih, kita harus mengungkap ajaran Islam secara luas, termasuk ajarannya yang mengyomi semua manusia. kalau kita hanya mengetahui ajaran Islam sebahagian-sebahagian (parsial) maka kita terjebak dalam eksklusifisme, mau hidup sendiri dan melupakan org lain. Tuhan saja bersifat Rahman (menyangi umat manusia tanpa kecuali beriman atau tdk beriman), dan ada Rahim-Nya (khusus utk org beriman). Jadi dalam soal hidup bersama, ya panutannya ialah NABI ketika hidup bersama dengan org Yahudi, Nahsrani (Kristen) dan agama-agama lain di MADINAH, yaitu negara Nabi yang beliau bangun sendiri. Itulah negara yang paling diridhahi ALLAH SWT, jangan mau terhasut oleh pemikir yang mengatakan bahwa kita harus memusuhi semua non Muslim. Sedangkan Rasulullah SAW saja utusan Allah berbaik-baik kpd non Muslim (yang setia pada perdamaian) mengapa kita umatnya tidak?.

  9. sangat luar biasa penjelasan PROF. DR.H. HAMKA HAQ, MA., semoga dpt memberikan pembelajaran dan pencerahan kpd saudara2 kita yg berpikiran picik dan bertabiat bodoh dlm beragama

  10. mestinya umat muslim yang tidak bisa mengakses internet (grassroot) mengetahui informasi ini juga.
    cuma bagaimana cara ya? Wong yang cerama di mesjid itu rata2 mengatakan yang sebaliknya :(

  11. DARI NURANI TERDALAM, SAYA BERTERIMAKASIH & BANGGA BISA BERKOMUNIKASI DGN SESAMA ANAK BANGSA YG BERBEDA DLM KEYAKINAN TAPI TELAH DIPERSATUKAN OLEH KELUHURAN BUDI YG MAMPU MEMANDANG SECARA KOMPREHENSIF MULTI DIMENSI TERHADAP “KEMANUSIAAN” YG SAMA-SAMA “DICIPTAKAN” SEDERAJAD, AGAR BELAJAR UTK DAPAT MEWARISI SIFAT2 ILLAHI YANG MAHA RAHIMI & MAHA RAHMANI DALAM KEMANUSIAWIAN KITA MASING-MASING…. BANYAK HAL YG DPT DIAMBIL DARI ARTIKEL INI… SAYA TELAH TURUT REKOMENDASIKAN KE BANYAK PIHAK.. WASALAM PROF..

  12. Pak Hamka yang terhormat,
    Setahu saya ayat2 yang dijadikan dasar membolehkan itu konteksnya dengan muamallah/perdagangan dan pergaulan sehari-hari, bukan dalam memilih pemimpin. Apa tidak salah?

    Yang lebih parah adalah penjelasan Bapak bahwa harus dilihat konteks masanya dari ayat itu. Al Quran itu kan sudah ditegaskan untuk segala zaman, kenapa Bapak terangkan jadi kontekstual sesuai zaman? Kalau Hadis memang harus dilihat konteksnya, itu pun konteks situasi, bukan zaman. Kalau Quran, jelas tidak kontekstual zaman.

    Maaf pak, saya sebagai sesama muslim wajib mengingatkan dan bertanya.

    Wassalam

      • Assalamu alaikum w.w. Dua pertanyaan anda akan saya jawab sekalian di sini. Terimakasih atas responnya. Perlu saya katakan bahwa Edaran Baitul Muslimin itu diformat secara ringkas, tidak disertakan analisisnya yang relatif luas, demi efisinensi termuatnya suatu edara dalam satu halaman saja. Tetapi kalau anda mengamati secara cermat isi edaran itu, maka kandungan pokoknya kurang lebih sama dengan analisis yang dilakukan Dewan Syariah PKS. Setiap pembahasan mengenai kepemimpinan dalam ajaran Islam selalu berdasar pada asumsi illat mashlahat/mudharat dan kewenangan seorang pemimpin, seperti uraian panjang Dewan Syariah tsb. Asumsi itu termuat secara ringkas dalam aline pertama Edaran Baitul Muslimin, yang menekankan konteks kezaliman (mudeharat) dan konteks kewenangan secara absolut para raja dan kaisar. Jika salah satu dari dua illat besar itu ada pada diri seorang pemimpin non Muslim, maka itulah haram secara mutlak.
        Tapi, karena definisi pemimpin sekarang (Presiden, Perdaa Menteri, Raja atau Ratu, apalagi kalau hanya Menteri dan Gubernur) sama sekali tidak absolut, karena terkontrol secara kolektif oleh kekuasaan lain (Legislatif dan Yudikatif dan oleh LSM dan masyarakat uas), maka arti pemimpin mengalami degradasi bahkan sudah menjadi aspek muamalah biasa, tidak lagi istimewa, maka tidak salah kalau ayat-ayat tentang perlunya kerjasama yang selama ini hanya diberlakukan untuk soal perdagangan, jual beli, pendidikan, kesehatan dll,sekarang ayat-ayat serupa sudah dapat juga diberlakukan mernyangkut soal kepemimpinan itu.
        Jadi penempatan ayat itu, saya anggap tidak salah untuk kondisi sekarang ini. Memang salah jika ayat-ayat itu ditempatkan untuik kondisi (ilat) zaman Nabi yang definisi pemimpin masih bermakna absolut, apalagi jika mendatangkan kezaliman.
        Perhatikan analisis Dewan Syariah PKS tersebut, akhirnya juga cenderung membolehkan memilih non Muslim jika hanya untuk jabatan Menteri, Gubernur / wakil Gubernur, karena kewenangannya tidak lagi absolut.
        Mengenai ayat itu berlaku untuk segala zaman dan segala tempat, itu benar jika kasusnya sama. Jika sekarang ada kezaliman melaqnda umat Islam dan pemimpin model raja dan kaisar absolut itu muncul maka ayat itu berlaku untuk mereka. Perlau diingat bahwa setiap ayat dan hadits berlaku sepanjang zaman selama sedsuai konteksnya masing-masing. Contoh kecil, perintah puasa itu wajib berlaku untuk segala zaman dan tempat. Tapi ingat ayat itu tidak berlaku untuk orang sakit dan haidh. Dalil lain yang sering saya sampaikan sebagai contoh di hadapan mahasiswa S2 dan S3, ialah hadits larangan Nabi buang air menghadap kiblat atau membelakangi kiblat, lalu Nabi bersabda “Hendaklah kamu menghadap ke Barat atau ke Timur”. Hadits ini sesuai konteknya bahwa Nabi mengucapkannya di Madinah, yang arah kiblatnya adalah selatan, sehingga kalau orang menghadap ke Barat dan ke Tmur, akan terhindar dari menghadap / membelakangi kiblat. Tapi coba kalau hadits itu diberlakukan di Indonesia, justru menghadap Barat / Timur akan membawa kita menghadap / membelakangi kiblat. Jadi memang untuk memahami ayat dan hadits diperlukan metode tersendiri, tidak hanya sekedar membaca literal begitu saja.
        Coba perhatikan anailisis PKS, analisis agak panjang, namun akhirnya kesimpulan umum nya ialah memblehkan non Muslim dipilih jika kewenangannya terbatas dan tidak mudharat. Hasilnya kan sama dengan Edaran ringkas Baitul Muslimin, karena kita sama-sama bertolak dari asumsi yang sama, yakni mashlahat / mudharat (kezaliman) dan kewenangan seorang pemimpin yang berubah dan tidak sama pada setiap zaman dan tempat. Kita memberlakukan qaidah “Al-hukmu yaduru ma’aa al-‘Illah, wujudan wa ‘adaman” (Hukum beredar /berubah sesuai dengan ‘illah (sebab-asumsi dasarnya), ada atau tidak adanya illah itu”.
        Untuk selanjutnya silakan juga simak Edaran Baitul Muslimin selanjutnya mengenai soal Kebhinnekaan http://wp.me/p1n8EA-7l
        Sekian terima kasih, Wallahu A’lam bi al-Shawab.

        Wassalam

  13. Saya gak perlu menyebut siapa-siapanya… tapi ada orang yang bukan muslim justru jadi sangat tertarik dengan islam setelah baca ulasan-ulasan pak Hamka ini. Saya dengar sudah muallaf… ini menandakan Islam itu menjadi tambah Indah jika memang disampaikan secara indah juga. Namun itu tadi… disamping Islamophobi… ternyata ada juga Non-Islamophobi yang diderita oleh umat Muslim sendiri. Phobia saya dulu terhadap segala sesuatu yang berbau asing justru membuat saya salah kaprah. Salam hormat, pak.

  14. Ahaha kristen yg mana pak? Yang menyebut yesus dengan tuhan yesus?
    Dari satu ini aja udah nggak masuk aqidah Islam. *cuma bisa tersenyum aja dg tulisan bapak ini* banyak yg di paksakan :))

    • Ass.Wr. Wab. Setiap Kristen pastilah menyebut Yesus putera Tuhan. Kelompok Kristen demikian pernah bertamu di Madinah, dan diterima oleh Rasulullah SAW dalam Masjid Nabawi di Madinah. Mereka juga menganggap Nabi Muhammad SAW adalah putera Tuhan, karena kagum pada pribadi Nabi, tapi Nabi menolaknya. Ketika sampai saatnya mereka beribadah, maka Rasulullah SAW mempersilahkan mereka beribadah di Masjid Nabawi itu, kemudian Nabi dan para sahabat duduk di pinggir Masjid menyaksikan tamunya beribadah kebaktian dalam Masjidnya. Jadi Nabi sendiri tetap santun dan menghormati keyakinan mereka kaum Kristiani itu, walaupun berbeda dengan keyakinan Islam. Silakan baca dalam Tafsir Al-Qurthubi Juz IV halaman 4 dan 5. Saya yakin, sekiranya Nabi kita Muhammad SAW masih hidup dan membaca tulisan saya itu, niscaya ia akan tersenyum karena saya hanya meneruskan missi rahmatan lil’alamin yang terpancar dari diri beliau yang mulia, santun kepada semua orang termasuk kaum Yahudi dan Krsten dalam masyarakat damai di Madinah. Nabi memang membedakan sikapnya terhadap non Muslim dalam negara Madinah yang damai, dengan sikapnya terhadap non Muslim (jahiliyah – musyrikin) yang memusuhi Nabi SAW. Terhadap non Muslim yang damai di Madinah, Rasulullah SAW menyapa mereka dengan kedamaian rahmatan lil-alamin. Demikian apa yang saya ketahui dari hasil bacaan, yang boleh jadi masih terbatas, tapi sejauh apapun pengkajian tentang Islam, tak akan bisa lepas dari ajaran pokok Rahmatan Lil Alamin, menyantuni semua makhluk, khususnya manusia tanpa diskriminasi. Tiada kebencian terhadap manusia, walaupun berbeda agama… selama mereka setia dalam kedamaian bersama umat Islam. Betapa luhurnya pribadi Rasulullah SAW. Segala puji bagi Allah, dan terpuji pula Rasul-Nya. Trimmasih, Wassalam.

    • hahaha… ada tetangga kristen yang unitarian… bagi mereka Yesus cuma utusan khusus dari Tuhannya… tahu ah… saya gak mau ikut campur urusan kekristenan mereka…. mikir diri sendiri aja udah repot…selama mereka gak ganggu saya…

  15. Pingback: Foke atau Jokowi? « muslim peduli

    • Assalamu alaikum w.w. Iya, demikian adanya. Bahwa menyangkut larangan dalam Al-Maidah:51, sdh saya jelaskan lewat Edaran http://wp.me/s1n8EA-359 dan http://wp.me/p1n8EA-7l . Dlm Edran tsb, larangan dalam S.Al-Maidah: 51, itu berlaku pada zaman / saat / kondisi, Yahudi dan Kristen berbuat zalim kpd umat Islam. Tapi saat mereka hidup dlm masyarakat damai, seperti di Madinah, Maka kita mencontoh sikap Rasulullah SAW menerima mereka.
      Tambahan lagi, pada dasarnya larangan memilih pemimpin dari non Muslim, merujuk kepada konsep Wali (pemimpin) di zaman Nabi SAW, yaitu Raja atau Kaisar berkuasa absolut. Maka Sepanjang kekuasaannya tdk absolut, bukan Kaisar, bukan Raja, bukan Khalifah, hanya sebatads menteri, Gubernur, apalagi kalau hanya wakil Gubernur, boleh saja dipilih pada posisi wakil itu, hokum syariat membolehkannya. Perhatikan Negara Islam SUDAN, pernah punya Wakil Presiden dari Kristen, yaitu Abel Alier (1976-1982),Yosep Lagu (1982-1985), G.K.Arof (1994-2000), dan Moses K.Machar (2001-2005). Tentu saja para ulama di Negara Islam Sudan, tidak mengabaikan S.Al-Bayinah, S.Al-Maidah dll. Dan tdk menjual ayat, tidak memplintir ayat dan tidak memperkosa ayat seperti yg dikira banyak orang, tapi itulah penerapan ISLAM RAHMAH yang mereka terapkan dalam bernagara di zaman moderen. Dlm Negara Islam SUDAN saja ulamanya membolehkan memilih Kristen pd posisi Wakil, maka tentu di Negara Pancasila RI juga boleh jika untuk kepentingan persatuan bangsa.

  16. Hebat benar Profesor ini….. Salam hormat buat bapak. Andai saya dekat bapak pasti saya akan memberi hormat dan saya berdoa untuk kesehatan bapak walaupun saya bukan muslim. Semoga amal bapak selalu mendapat balasan berpuluh puluh kali lipat.

    • Wahai sesama bangsaku, ketahuilah bhw kita membanagun negara Republik Indonesia, bukan atas dasar kesamaan agama kita, tetapi atas dasar kesamaan kita sebagai bangsa Indonesia. inilah prinsip hidup kita untuk bernegara dan bermasyarakat. Trimkasih atas apresiasinya.

  17. Hormat, Pak HAMKA HAQ. Terimakasih untuk jadi referensi. Universalitas nilai bersama memang menjadi kenisbian. Tahun 1993, saya telah berdiskusi dgn teman Syarifudin Gazal di IAIN Ternate, tentang topik itu. Dan, tidak ada keraguan tentang kepemimpinan Muslim dalam masyarakat majemuk.
    Apresiasi yg dalam.

  18. Baitul Muslimin kan juga “baitul kader PDI-P” yang dibuat berdasar instruksi DPP PDI-P…. he he he Terang aja mendorongnya ke arah pemenangan Jokowi-Ahok… Pakai dalil, lagi…

    • Baitul Muslimin Indonesia dibentuk pada tahun 2007, untuk menyampaikan Islam Rahmah untuk Bangsa. Dibentuk untuk kelestarian persaudaraan kebangsaan Indonesia, pemberdayaan umat Islam nasionalis, kelestarian Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Urusan Pilkada. urusan lima tahunan utk kepentingan sesaat. Itu bukan tujuan utama. Yang menjadi tujuan utama ialah membangun persaudaraan kebangsaan mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Namun kami perlu tegaskan bahwa Baitul Muslimin Indonesia akan mendukung siapa saja yang sejalan dengan cita-ciuta kebangsaan dan persaudaraan kebangsaan, karena ormas Islam ini dalam AD ART nya dinyatakan seazaz dan se aspirasi dengan ideologi kebangsaan PDI Perjuangan. Baitul Muslimin dan PDI Perjuangan tidak mempersoalkan agama dan etnis pasangan calon itu Muslim-Muslim, Non Muslim-Non Muslim, atau Muslim-non Muslim / Non Muslim-Muslim. Dintara pasangan yang kebetulan Muslim-Non Muslim (DKI), Kristen-Muslim (Papua Barat, an. Abraham Octavianus Atururi (Gubernur) dan Rahim Katjong MEd (Wakil Gubernur), dan Maluku, a.n. Karel Albert Ralahalu (Gubernur) dan Habib Assegaf (Wakil Gubernur) Baitul Muslimin dan PDI Perjuangan tdk melihat kandidat dari segi etnis dan agama, tapi melihat kepentingan persaudaraan bangsa, persatuan bangsa dan kemampuan untuk memajukan dan menyejahterakan kehidupan rakyat.

  19. ngaji dulu yang benar, jelas Allah melarang orang muslim memilih orang kafir sebagai pemimpin…
    kasih jalan kepada orang kafir menjadi pemimpin
    siapa yang jamin kalau sebelum 5 tahun Jokowi mencalonkan gubernur lain atau naik ke tingkat yang lebih tinggi
    siapa yang jamin bahwa jokowi panjang umurnya,,,???
    jangan suka mempermainkan dalil bung…
    sungguh dosa yang berat…!!!

  20. DALIL QUR’ANI WAJIB MEMILIH PEMIMPIN MUSLIM

    HARAM MEMILIH PEMIMPIN KAFIR

    Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur’ani beserta Terjemah Qur’an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :

    1. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai PEMIMPIN :

    TQS. 3. Aali ‘Imraan : 28.

    “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”

    TQS. 4. An-Nisaa’ : 144.

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”

    TQS. 5. Al-Maa-idah : 57.

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

    2. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai PEMIMPIN walau KERABAT sendiri :

    TQS. 9. At-Taubah : 23.

    “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

    TQS. 58. Al-Mujaadilah : 22.

    “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

    3. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai TEMAN SETIA :

    TQS. 3. Aali ‘Imraan : 118.

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

    TQS. 9. At-Taubah : 16.

    “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    4. Al-Qur’an melarang SALING TOLONG dengan kafir yang akan MERUGIKAN umat Islam :

    TQS. 28. Al-Qashash : 86.

    “Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

    TQS. 60. Al-Mumtahanah : 13.

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”

    5. Al-Qur’an melarang MENTAATI orang kafir untuk MENGUASAI muslim :

    TQS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150.

    “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

    6. Al-Qur’an melarang beri PELUANG kepada orang kafir sehingga MENGUASAI muslim :

    TQS. 4. An-Nisaa’ : 141.

    “…… dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

    7. Al-Qur’an memvonis MUNAFIQ kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin :

    TQS. 4. An-Nisaa’ : 138-139.

    “Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

    8. Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin :

    TQS. 5. Al-Maa-idah : 51.

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

    9. Al-Qur’an memvonis FASIQ kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin :

    TQS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.

    “Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”

    10. Al-Qur’an memvonis SESAT kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin :

    TQS. 60. Al-Mumtahanah : 1.

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

    11. Al-Qur’an mengancam AZAB bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia :

    TQS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15.

    “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

    12. Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi SASARAN FITNAH orang kafir :

    TQS. 60. Al-Mumtahanah : 5.

    “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

    • JAWABAN TERHADAP SDR. SAHID YAHYA
      Assalamu Alaikum War./ Wab.
      Mohon maaf , berhubung suatu kesibukan, baru sempat baca tuntas sanggahan Pak Sahid. Terimakasih atas responnya. Dan berikut ini kami akan jawab sesuai apa yang saya ketahui,
      1).Hal pertama yg harus diketahui ialah bahwa Ngaji Al-Qur’an secara benar saja tidak cukup, tanpa disertai Pengkajian tentang seluk-beluk hukum Islam. Bahwa pada prisnsipnya hukum Islam itu luwes, tidak kaku, selalu memberi alternatif. Luwesnya hukum Islam bermain antara dua sisi hukum, yakni HUKUM AZIMAH, yaitu hukum dasar yg berlaku menurut asumsi umum; dan HUKUM RUKHSHAH, yakni hukum yang timbul sebagai kemudahan akibat adanya sebab-sebab tertentu. Misalnya : Bagaimana hukum makan dan minum di siang hari Ramadhan?. Bagi mereka yang melihat dari sisi hukum azimah pastilah jawabannya mengatakan: HARAM, karerna Al-Qur’an mewajibkan puasa Ramadhan. Tetapi bagi yang melihat dari sisi RUKHSHAH akan menjawab HALAL bagi org yang skit, atau musafir, atau umurnya sudah sangat lanjut (udzur)
      2). Untuk dapat melihat batas-batas Hukum Azimah dan Hukum Rukhshah, agar pemahaman dalil tidak kaku, maka minimal kita harus mengetahui metode memahami dilalah (arti yg ditunjuk) ayat, dilengkapi dengan pengetahuan sejarah dan ilmu bantu sesuai konteks penerapan ayat. Untuk itu, saya tidak menggurui, tapi untuk memahami dalil-dalil syariat, minimal ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni teks (nash ayat/hadits), makna (illat, hikmah, sebab, syarat dan mani, yang berkenaan dengan ayat/hadits) dan ketiga ialah konteks penerapan dalil (tathbiq atau tanfidz).
      3)Berikut ini saya akan tunjukkan dan jelaskan ayat-ayat yang Pak Sahid Jaya kemukakan itu dengan metode seperti yang saya sebutkan. Pada komentar 1 dan 7, Pak Sahid mengemukakan ayat-ayat ini:
      TQS. 3. Aali ‘Imraan : 28. “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”
      TQS. 4. An-Nisaa’ : 144. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”
      TQS. 4. An-Nisaa’ : 138-139. “Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”
      Mohon pembaca perhatikan secara cermat teks (terjemahan) semua ayat tsb. di atas. Pada tiap ayat pasti kita menemukan kalimat “DENGAN MENINGGALKAN ORANG-ORANG MUKMIN” (من دون المؤمنين) pada tiga ayat tsb. Dalam ilmu tafsir dan ushul fikih, kalimat itu disebut “illat” atau (sebab yang jadi syarat kualifikasi) dilarangnya memilih pemimpin non Muslim, yaitu, jika kita MENINGGALKAN ORANG2 MUKMIN”. Tapi kalau kita memilih non Muslim tanpa meninggalkan org Mukmin, karena salah satu dari mereka, pemimpin utamanya sendiri atau wakilnya adalah Muslim, maka itu HALAL, karena di dalamnya tetap ada orang Mukmin, sehingga kita tidak disebut MENINGGALKAN ORANG MUKMIN. Sekali lagi Halal karena tidak termasuk dalam kategori “MENINGGALKAN ORANG MUKMIN”
      4).Dilalah (pengertian) dari kata Waliy, (jamak: auliya’) yang dipahami di zaman Nabi dan Sahabat sudah sangat berbeda dengan pengertian Pemimpin dalam dunia moderen sekarang. Karena itu kita perlu mengetahui sejarah perubahan arti / maknanya, agar tidak kaku dalam penerapan (tanfidz) ayat. Di zaman Nabi dan sahabat pemimpin itu (Kaisar dan Raja atau Khalifah) adalah berkuasa absolut (mutlak) tanpa dikontrol, semua kekuasaan ada di tangannya, tanpa wakil; pokoknya yang berkuasa hanya dirinya. Di zaman moderen, pemimpin sudah bersifat kolektif, berdasarkan teori Trias Politika, kekuasaan terbagi menjadi tiga (pemerintah /eksekutif, Parlemen/Legislatif, Kehakiman/Yudikatif). Jadi tida kada lagi Pemimpin berkuasa mutlak seperti masa Nabi dan sahabat, karena sekarang dikontrol oleh kekuasaan lain, yakni MPR/DPR dan Kehakiman (MA dan Kejaksaan Agung). Jadi tidak perlu khawatir, jika suatu saat ada pemerintah (ada wakil Gubernur non Muslim), karena tetap dikontrol oleh Presiden dan Gubernur di atasnya, DPRD, Pengadilan, Kejaksaan dan KPK, yang semuanya adalah bahagian dari Pemimpin kolektif.
      Jadi yang haram secara AZIMAH menurut dilalah “Waliy” yg ada di zaman Nabi, ialah jika seorang non Muslim dipilih jadi pemimpin yang memegang semua kekuasaan Presiden, MPR/DPR,/DPRD, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, KPK, Kejaksaan, Panglima TNI semuanya dipegang oleh satu orang sendirian, yang berstatus non Muslim, atau semua dipegang (dibagi-bagi) oleh banyak orang yang semuanya non Muslim. Tetapi sepanjang di antara mereka Penguasa2 itu ada Muslim (bahkan lebih banyak muslimnya) walaupun ada di antaranya Non Muslim, demi kebersamaan dan persatuan bangsa, maka hukumnya TIDAK HARAM. Jadi untuk zaman sekarang, dalil itu perlu diterapkan sesuai konteks pengertiannya dan konteks zamannya yang sudah berubah dan berbeda dengan konteks zaman Nabi dan shabat. Kaedah hukum ushul fikih mengatakan: alhukmu yaduru ma’a al-llah, wujudan wa ‘adaman (Hukum berubah sesuai illah / sebab/konteksnya, ada atau tidak adanya konteks itu). Karena dilalah “Waliy” pemimpin yg berkuasa mutlak (absolut) memegang semua kekuasaan sendirian sudah tidak ada sekarang, maka hukum haramnya pun turut tidak ada (hilang).
      5).Dilalah lafazh kafir juga perlu dipahami secara benar. Masih banyak ustadz kita tidak dapat membedakan antara kafir dan ahl kitab, sehingga semua non Muslim, termasuk ahli kitab dicapn semuanya kafir secara mutlak. Padahal ahlu kitab itu tidak mutlak (tdk semuanya) kafir. Yang kafir mutlak itu ialah mereka yang tidak percaya adanya Tuhan (Mulhid) atau percaya banyak Tuhan (musyrik). Telah terjadi perdebatan panjang di Twitter antara saya dgn sejumlah ustadz seperti itu. Kesimpulanya, alasan-alasan saya yang menunjukkan bhw tdak semua ahlu kitab (Kristen, Yahudi) itu kafir, tdk dapat dipatahkan oleh mereka. Kalau pembaca tdk sempat ikuti diskusi itu melalui twitter, silakan baca rangkuman disekusinya yang saya sdh muat di blog saya juga Islam Rahmah http://wp.me/p1n8EA-8E . Mereka memang menggebu-gebu “mengeroyok” saya, sampai mereka mengemukakan dalil pamungkasnya dengan mengutip Q.S.Al-Al-Ankabut ayat 47, padahal dalam ayat itu justru ada kalimat yg berbunyi : wa min haula’i man yu’min (di antara merekas ahl kitab itu ada yang berima). Dengan demikian non Muslim (Kristen) bisa saja dipilih,. Karena tidak termasuk dlm kategori “kafir/musyrik” dalam ayat-ayat larangan yang telah dikutip oleh Pak Sahid.
      6)Adapun ayat-ayat yang langsung menyebut Yahudi dan Kristen (Nahsrani) yang dilarang dipilih pemimpin seperti ayat QS. 5. Al-Maa-idah : 51. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”
      Larangan dalam ayat tersebut adalah sesuai konteks KEZALIMAN di zaman Nabi SAW, ditandai dengan adanya kata ZALIM di akhir ayat. Bhw pada masa itu kaum Yahudi dan Kristen bekerjasama dengan bangsa Romawi yang sedang menjajah (menzalimi) sebagian bangsa Arab, sehingga dilarang bekerjasama, berteman dan mengambil mereka pemimpin. Jadi ‘illat” nya ialah KEZALIMAN, dan itulah sebabnya ayat itu diakhiri dengan kata2 ZALIM.
      Tetapi dalam konteks kedamaian, maka Rasulullah SAW menerima Yahudi dan Nasrani (Kristen), bekerjasama dengan mereka membangun negara Madinah, sama-sama menyusun Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah). Dan salah satu pasal Piagam Madinah berbunyi: Kaum Yahudi (ahl Kitab) dan Muslim, bekerjasama dan bahu membahu dalam membela negeri Madinah, menghadapi musuh bersama, dan saling menasehati untuk kebajikan bukan unuk permusuhan dan dosa. Jadi dalam konteks kedamaian masyarakat (seperti halnya di Madinah zaman Nabi, dan di Indonesia zaman sekarang) ayat yang harus diterapkan ialah Q.S. Al-Mumtahanah: 8: Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik bekerjasama) dan berlaku adil terhadap orang-orang (umat agama lain) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.
      Di zaman Nabi, untuk warga Madinah yang damai, ayat yg mengandung permusuhan dengan Yahudi dan Nashrani tidak diterapkan. Bahkan sebaliknya, Nabi pernah menerima kaum Nashrani secara damai bertamu di Masjid Nabawi di Madinah dan mengizinkan mereka beribadah di dalamnya (lihat Tafsir Al-Qurthubiy, Juz IV hal. 4-5). Karena itulah semua ayat yang dikemukakan oleh Pak Sahjid Jaya yang bernuansa permusuhan abadi dg non Muslim, tidak diterapkan oleh Nabi SAW sendiri dalam masyarakat damai di Madinah. Terjemahan Ayat-ayat yang dikutip Pak Sahid itu ialah: QS. 5. Al-Maa-idah : 57, QS. 9. At-Taubah : 23, QS. 58. Al-Mujaadilah : 22, QS. 3. Aali ‘Imraan : 118, QS. 9. At-Taubah : 16, QS. 28. Al-Qashash : 86, QS. 60. Al-Mumtahanah : 13, QS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150, QS. 4. An-Nisaa’ : 141, TQS. 5. Al-Maa-idah : 80-81, QS. 60. Al-Mumtahanah : 1, QS. 60. Al-Mumtahanah : 5. QS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15. Bukan berarti ayat-ayat itu tidak berlaku, semuanya tetap berlaku sesuai konteksnya pada masa-masa terjadi kezaliman, permusuhan di zaman atau negeri lain. Tapi dalam negeri Madinah dizaman Nabi dan negeri Indonesia zaman sekarang, masyarakat berada dalam kedamaian dan kebersamaan.
      Ketika Nabi membangun negara damai di Madinah, maka yang diterapkan ialah ayat-ayat tentang kedamaian dan kerjasama dengan kaum ahlu kitab (Yahudi dan Kristen). Sejaran Nabi seperti itu harus dipelajari oleh para ustadz kita, agar dalam proses tathbiq atau tanfidz (menerapkan) ayat, tidak salah menerapkannya.
      Kini pun Indonesia adalah negara damai, Muslim berdamai dengan non Muslim, khususnya kaum Kristen, bukan negara perang, karena itu yang harus diterapkan ialah perdamaian dengan mencontoh Rasulullah SAW. Setahu saya, kaum minortas tanpa kecuali (khususnya Kristen) di Indonesia tidak ada yang sengaja menghina, melecehkan dan apalagi mau memusuhi umat Islam dan agama Islam, seperti yang diisyaratkan dalam ayat-ayat yang dikutip oleh Pak Sahid. Dengan demikian tak ada alasan untuk memusuhi mereka. Bahkan mungkin sebaliknya, telah terbukti ada-ada saja orang Islam yang menyegel, membakar bahkan mengebom gereja kaum Kristiani, tanpa alasan-alasan yang dibenarkan syariat. Seolah-olah orang-orang yang mengaku Muslim itu ingin menciptakan permusuhan abadi, padahal Rasulullah SAW datang dengan agama Islam yang bersifat al-Salam (sejahtera dan damai) sebagai wujud risalah beliau yang Rahmatan Lil-alamin.
      Jadi kita tidak cukup sekadar hanya NGAJI literlek / lafazh ayat per-ayat saja, tetapi perlu MENGKAJI lebih jauh, dengan mempertimbangkan tiga hal, yakni dilalah ayat (nash) dan perubahan-perubahan kandungannya dari zaman ke zaman; kemudian makna nash (illat/sebab/hikmah) yang merupakan landasan rasional adanya hukum; dan tanfidz (konteks penerapan) nya, sehingga ayat-ayat Azimah bisa memberi peluang adanya Rukhshah (dispensasi), pada zaman dan tempat tertentu.
      Demikian jawaban saya, Walahu A’lam bi al-Shawab.

      • I. Ayat bagian pertama berbicara mengenai hukum menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Bagian kedua mengenai berbuat baik kepada orang kafir. Dua hal yang berbeda.
        II. Asbabun Nuzulnya juga bukan karena Romawi.

        Ini teksnya dari tafsir al Qurthubi

        1. S Ali Imron ayat 28:
        Diriwayatkan dari ad Dhohhak dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun sebabnya karena Ubadah bin as Shomit al Anshori, beliau orang Badr yang bertaqwa. Dia memiliki perjanjian persahabatan dengan orang2 yahudi. Ketika Nabi keluar pada hari ahzab, Ubadah berkata: wahai Nabi Alloh, saya ada 500 pasukan Yahudi, saya lihat engkau keluar bersama saya, maka saya bisa minta tolong kepada mereka untuk melawan musuh. Maka Alloh menurunkan ayat ini.

        2. S. Annisa 138-139.
        Ayat ini sebagai dalil bahwa orang yang bertauhid yang berbuat maksiat bukanlah orang munafiq. Karena dia tidak menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Ayat ini mengandung larangan menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Juga tidak boleh menjadikan penolong untuk beramal yang berkaitan dengan agama. Di dalam hadits shohih dari Aisyah ra, bahwa ada seorang laki2 musyrik bertemu Nabi saw dan ikut berperang bersama Nabi, lalu Nabi bersabda kpd orang itu: pulanglah, kami tidak mau meminta tolong kepada orang musyrik.

        3. An Nisa 144.
        Artinya janganlah jadikan mereka sbg orang istimewa dan orang terdekat/kepercayaan.

        4.al Maidah ayat 51.
        Pertama: Ayat ini menunjukkan atas tidak boleh menjadikan penolong/pemimpin secara syariat. Telah terdahulu penjelasannya di S Ali Imron. Dikata yg dimaksud munafiqin. Artinya wahai orang2 yg beriman, dengan keadaan zhohirnya, menjadikan pemimpin orang2 musyrik, menyampaikan rahasia2 orang muslim. Ada pendapat dari Ikrimah, Ayat ini turun tersebab Abu Lubabah. Berkata as Suddi: ayat ini turun pada hari Uhud ketika para muslimin ketakutan sehingga sebagian berkeinginan meminta pertolongan kpd Yahudi dan Nasrani. Ada pendapat lain: ayat ini turun tersebab Ubadah bin as Shomit dan Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Ubadah membebaskan diri menjadikan pemimpin orang Yahudi tsb. dan Ibnu Ubay berpegang dengan ayat ini dan berkata: aku takut tertimpa musibah.
        Ayat ini juga menunjukkan atas ketetapan syara’ atas bhw mereka saling menjadikan pemimpin diantara mereka, sehingga Yahudi dan Nasrani itu saling mewariskan.

        Kedua: Alloh menerangkan bahwa orang (yg menjadikan org kafir sbg pemimpin) tsb, hukumnya seperti mereka yahudi dan nasrani. Orang tsb tidak boleh menerima warisan dari orang muslim dan termasuk murtad. Dulu yang menjadikan mereka sbg pemimpin adalah Ibnu Ubay, kemudian hukum ini berlaku hingga hari kiamat didalam tidak boleh menjadikan pemimpin/penolong.

        ===========================
        Ayat bagian kedua selanjutnya berbicara yang lain, yaitu mengenai berbuat baik. Ini hal yang berbeda tetapi dicampur adukkan oleh si Prof. Begini isi tafsir al Qurthubi:

        1. Al Mumtahanah ayat 8.
        Pertama: Ayat ini merupakan rukhshoh dari Alloh didalam bergaul dengan orang2 yg tidak memusuhi muslimin dan tidak memerang muslimin. Kata Ibnu Zaid: ayat ini turun pada permulaan Islam ketika berdamai dan tidak ada perintah perang, kemudian hukum ayat ini dinasakh/dihapus. Kata Qotadah: Ayat yang menasakh: maka perangilah orang2 musyrik dimanapun kamu dapatkan. (at Taubah ayat 5). Dikatakan hukum ini karena ada sebab yaitu perdamaian. Maka tatkala hilang perdamaian dengan sebab pendudukan Mekkah, hukum ini dicabut tetapi bacaan ayat tetap ada dibaca spt itu.

        Dikatakan: ayat ini dikhususkan orang2 yang mengadakan perjanjian persahabatan dengan Nabi dan tidak melanggarnya.

        Kata al Hasan, alKalabi: mereka adalah suku Khuza’ah dan Bani al Harits bin Abdi Manaf. Juga kata Abu Sholih. Kata Mujahid: ayat ini dikhususkan pada orang2 yg beriman tapi tidak mau berhijrah. Ada pendapat lain: yaitu wanita2 dan anak2 karena mereka tidak boleh diperangi. Maka Alloh izinkan berbuat baik kpd mereka. Demikian diceritakan dari sebagian ahli tafsir. Kata sebagian besar ahli takwil ayat ini menjadi hukum. Mereka berhujjah: bahwa Asma binti Abu
        Bakar bertanya kpd Nabi saw: Apakah ibunya wanita musyrik boleh disilaturahimi ketika si wanita musyrik itu datang?

        Nabi jawab: ya. HR Bukhori dan Muslim. Ada pendapat bahwa ayat ini turun tersebab kisah ini. Diriwayatkan oleh Amir bin Abdullah bin az Zubair dari ayahnya: bahwa Abu Bakr as Shiddiq pernah menceraikan istrinya Qutailah di masa Jahiliyah (Ibunya Asma bin Abu Bakr). Suatu saat ia mendatangi para sahabat pada satu masa
        perdamaian antara Rosul dan kaum musyrikin. Ia memberikan hadiah kpd Asma bin Abu Baker anting2 dan lain2. Asma enggan menerimanya shg datanglah Rosululloh saw, dan Asma menceritakan hal itu shg Alloh turunkan ayat ini.

        Kedua: Alloh tidak melarang kamu berbuat baik kepada orang2 yg tidak memerangi kamu. Mereka adalah kaum Khuza’ah, mereka berdamai dengan Nabi dengan tidak mau memerangi Nabi dan tdk mau menolong siapapun yang memerangi Nabi. Maka Alloh perintahkan untuk berbuat baik kpd mereka sampai ajalnya. Kamu berikan sebagian hartamu atas dasar silaturahmi. Bukan karena dasar adil. Karena adil itu wajib thd orang yg memerangi dan juga orang yg tidak memerangi. Demikian kata Ibnu al Arobi.

        Ketiga: Kata al Qodhi abu bakr kitab al ahkamnya: ada yg berpendapat atas anak laki2 muslim wajib menafkahi thd bapaknya yg kafir.Ini perkara yg besar. Karena izin untuk sesuatu atau tidak ada larangan thd sesuatu tidak berarti menunjukkan atas wajib. Pemberian ini bersifat mubah.

        2. Al Maidah ayat 82:
        Ayat ini turun tersebab raja Najasyi dan pengikutnya ketika muslimin datang kpd mereka pada hijrah yg I krn takut thd orang musyrik dan ancamannya.Kemudian Nabi saw hijrah ke madinah setelah itu maka orang musyrik tidak bisa menyusul. Terjadilah perang antara mereka dan Rosul. Ketika perang Badr dan terbunuh sebagian besar orang2 kafir, berkata kafir Qurays: sesungguhnya pembalasanmu ada di negri Habasyah. Beri hadiah kpd raja Najasyi, utus 2 orang yg pintar, semoga raja Najasyi memberikan sesuatu yang kamu dapat memerangi muslimin. Maka Kafir Qurays mengutus Amr bin al’Ash dan Abdullah bin Abi Robi’ah dengan membawa hadiah. Nabi dengar hal itu. Maka Nabi mengutus Amr bin Umayyah ad Dhomri dan menulis surat kpd raja Najasyi. Dan ia menghadap raja Najasyi. Beliau membaca surat Nabi saw lalu memanggil Ja’far bin Abi Tholib dan Muhajirin. raja Najasyi mengutus kepada para pendata dan rahib dan dikumpulkan mereka. Lalu ia memerintahkan Ja’far membacakan al Quran, dan dibacalah surat Maryam. Raja Najasy dan pengikutnya yg Nasrani berdiri, air matanya mengalir. Maka merekalah orang2 yang disebutkan diayat tsb.

      • Assalamu Alaikum w.w.,
        Terima kasih Saudara AKUKA telah merespon pendapat saya, dan member tanggapan berikut:
        I. Ayat bagian pertama berbicara mengenai hukum menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Bagian kedua mengenai berbuat baik kepada orang kafir. Dua hal yang berbeda.

        JAWABAN SAYA: Zaman Nabi dan shahabat, mungkin dua hal itu sangat berbeda, tapi sekarang tidak terlalu berbeda lagi. Mengapa? Arti PEMIMPIN di zaman sekarang tdk sama/tidakidentik lagi dgn PEMIMPIN di zaman Nabi dan shahabat. Pemimpin di zaman Nabi dan shahabat sangat istimewa karena berkuasa absolute, berkuasa mutlak, semua kakuasaan tergantung pada seseorang saja, tidak ada kekuasaan selain dari dirinya. Pemimpin zaman sekarang tdak lagi istimewa, kekuasaannya tdak absolut, karena kepemimpinan sekarang tdk tergantung pd seseorang, tetapi bersifat kolektif kelembagaan, terbagi kedalam tiga kekuasaan (Eksekutif /pemerintahan, Legislatif/ Pembuat Undang2,dan Yudikatif/ Kehakiman). Pemimpin sekrang tdak istimewa lagi, turun nilainya seperti soal muamalah biasa. Karena itu larangan memilih non Muslim sebatas Eksekutif, ataukan Legislator (DPR ataukah Hakim (MA) secara personal berubah hukumnya menjadi tdak haram. Nanti menjadi haram jika semua (tiga) kekuasaan itu secara kelembagaan dipegang oleh semua orang Non Muslim. Ini sesuai kaedah Ushul Fikih: الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما (Hukum berubah-ubah / beredar sesuai illatnya, ada atau tidak). Illatnya ialah kekuasaan absolut. Karena kekuasaan abslutnya tdak lagi ada secara personal, maka hukmnya pun dak berlalku lagi secara personal.

        AKUKA: II. Asbabun Nuzulnya juga bukan karena Romawi?.

        JAWABAN SAYA: Asbab Nuzul itu secara garis besarnya ada dua macam, yakni sebab juz’iy (khusus) menurut riwayat tertentu, seperti riwayuat-riwayat yang sdr AKUKA kemukakan. Selain itu ada sebab-sebab universal, bersifat umum, dan berlaku secara umum dalam sejarah, yang diketahui secara otomatis berdasarkan kondisi umum di zaman Nabi SAW. Dalam kaitannya dengan non Muslim, kondisi umum waktu itu menunjukkan bahwa ada non Muslim (bangsa Romawi) yang menjajah sebahagian negeri Arab, menzalimi bangsa Arab, tapi ada juga non Muslim seperti di kerajaan Najasyi yang tdak menzalimi (tdak menjajah) bgs Arab. Sikap Nabi memang tegas dan keras terhadap mereka yang menzalimi(menjajah/ memusuhi) umat Islam.
        Adapun riwayat-riwayat tertentu mengenai suatu ayat (secara juz`iy, khusus, parsial) berupa peristiwa berkenaan turunnya ayat, yang sdr AKUKA kemukakan berikut nanti, saya rasa semua memperkuat alasan saya tentang berbuat baik dgn non Muslim dalam kondisi /konteks masyaraat damai, dan larangan bersahabat dan merangkul mereka hanya diterapkan pada kondisi perang atau menghadapi peperangan. Mari kita coba telaah riwayat-riwayat itu satu persatu:

        AKUKA: Ini teksnya dari tafsir al Qurthubi
        1. S Ali Imron ayat 28:
        Diriwayatkan dari ad Dhohhak dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun sebabnya karena Ubadah bin as Shomit al Anshori, beliau orang Badr yang bertaqwa. Dia memiliki perjanjian persahabatan dengan orang2 yahudi. Ketika Nabi keluar pada hari ahzab, Ubadah berkata: wahai Nabi Alloh, saya ada 500 pasukan Yahudi, saya lihat engkau keluar bersama saya, maka saya bisa minta tolong kepada mereka untuk melawan musuh. Maka Alloh menurunkan ayat ini.

        JAWABAN SAYA: Riwayat ini sebenarnya memperkuat argumen saya bahwa berteman dgn org non Muslim itu hanya dilarang pada kondsi perang. Riwayat di atas menyebut larangan Nabi terjadi pada saat beliau menghadapi perang Ahzab. Hal ini kita terima semua. Tapi dlm keadaan Damai, Nabi membangun persahabatan dgn Yahudi dan agama-agama lain di Madinah bersama-sama membuat Piagam Madinah sbg UUD Negara Madinah.

        AKUKA: 2. S. Annisa 138-139.
        Ayat ini sebagai dalil bahwa orang yang bertauhid yang berbuat maksiat bukanlah orang munafiq. Karena dia tidak menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Ayat ini mengandung larangan menjadikan orang kafir sbg pemimpin. Juga tidak boleh menjadikan penolong untuk beramal yang berkaitan dengan agama. Di dalam hadits shohih dari Aisyah ra, bahwa ada seorang laki2 musyrik bertemu Nabi saw dan ikut berperang bersama Nabi, lalu Nabi bersabda kpd orang itu: pulanglah, kami tidak mau meminta tolong kepada orang musyrik.

        JAWABAN SAYA: Lagi-lagi riwayat ini memperkuat argmen saya bahwa persahabatan dgn non Muslim dilarang dlm keadaan perang, larangan ini tidak dalam konteks masyarakat damai.

        AKUKA: 3. An Nisa 144.
        Artinya janganlah jadikan mereka sbg orang istimewa dan orang terdekat/kepercayaan.
        4.al Maidah ayat 51.
        Pertama: Ayat ini menunjukkan atas tidak boleh menjadikan penolong/pemimpin secara syariat. Telah terdahulu penjelasannya di S Ali Imron. Dikata yg dimaksud munafiqin. Artinya wahai orang2 yg beriman, dengan keadaan zhohirnya, menjadikan pemimpin orang2 musyrik, menyampaikan rahasia2 orang muslim. Ada pendapat dari Ikrimah, Ayat ini turun tersebab Abu Lubabah. Berkata as Suddi: ayat ini turun pada hari Uhud ketika para muslimin ketakutan sehingga sebagian berkeinginan meminta pertolongan kpd Yahudi dan Nasrani. Ada pendapat lain: ayat ini turun tersebab Ubadah bin as Shomit dan Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Ubadah membebaskan diri menjadikan pemimpin orang Yahudi tsb. dan Ibnu Ubay berpegang dengan ayat ini dan berkata: aku takut tertimpa musibah.

        JAWABAN SAYA: Lagi-lagi riwayat ini memperkuat argumen saya bahwa larangan itu hanya berlaku pada kondisi peperangan, tidak dilarang dalam keadaan hidup damai.

        AKUKA: Kedua: Alloh menerangkan bahwa orang (yg menjadikan org kafir sbg pemimpin) tsb, hukumnya seperti mereka yahudi dan nasrani. Orang tsb tidak boleh menerima warisan dari orang muslim dan termasuk murtad. Dulu yang menjadikan mereka sbg pemimpin adalah Ibnu Ubay, kemudian hukum ini BERLAKU HINGGA HARI KIAMAT didalam tidak boleh menjadikan pemimpin/penolong.

        JAWABAN SAYA: Semua ayat BERLAKU HINGGA HARI KIAMAT sesuai konteksnya, yakni jika dalam keadaan berperang dengan non Muslim, berlakulah ayat tersebt di atas. Tapi tdk diterapkan dalam konteks kedamaian. Misalnya ada ayat : “Dan Perangilah org musyrk seluruhnyas” tidak mungkin berlaku setiap hari, bhw setiap Muslim wajib setiap hari berperang, mencari non Muslim untuk sengaja mengadakan perang. Ayat seperti itu hanya diterapkan pada kondisi perang, sesuai ayat Q.S.Al-Baqarah: 190= “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Melampaui batas yang tidak disenangi Allah SWT ialah mereka yang tetap memushi dan memerangi orang-orang yang sudah berdamai dengan umat Islam.

        AKUKA: Ayat bagian kedua selanjutnya berbicara yang lain, yaitu mengenai berbuat baik. Ini hal yang berbeda tetapi dicampur adukkan oleh si Prof. Begini isi tafsir al Qurthubi:
        1. Al Mumtahanah ayat 8.
        Pertama: Ayat ini merupakan rukhshoh dari Alloh didalam bergaul dengan orang2 yg tidak memusuhi muslimin dan tidak memerang muslimin. Kata Ibnu Zaid: ayat ini turun pada permulaan Islam ketika berdamai dan tidak ada perintah perang, kemudian hukum ayat ini dinasakh/dihapus. Kata Qotadah: Ayat yang menasakh: maka perangilah orang2 musyrik dimanapun kamu dapatkan. (at Taubah ayat 5). Dikatakan hukum ini karena ada sebab yaitu perdamaian. Maka tatkala hilang perdamaian dengan sebab pendudukan Mekkah, hukum ini dicabut tetapi bacaan ayat tetap ada dibaca spt itu.

        JAWABAN SAYA: Saya rasa argumen sdr AKUKA ini semakin memperkuat pendapat saya, bahwa dalam keadaan kedamaian, hukum Islam membolehkan untuk berbuat baik dan bersahabat dgn non Muslim, sesuai konteksnya sewaktu-waktu. Kemudian pada saat perang datang ayat maka perangilah orang2 musyrik dimanapun kamu dapatkan. (Q.S. al-Taubah :5), ayat ini diterapkan hanya pada saat perang. Sdr AKUKA mengatakan ayat ini menasakh (MENGHAPUS), berarti ada ayat yang tidak berlaku lagi, padhal sebelumnya sdr. AKUKA sendiri menegaskan bhw semua ayat BERLAKU HINGGA KIAMAT.? bagaimana ini?, pendpt AKUKA ini ambivalent. Menurut saya tdak ada satupun ayat yang dihapus hukumnya, hanya saja ada ayat-ayat yang sewaktu-waktu tdk diterapkan, karena kodisinya berbeda sehingga diterapkanlah ayat lain. Pada saat kondisinya kembali terjadi, maka diterapkan kembali ayat semula itu. Maka sekarang, kondisi umum Indonesia adalah masyarakat damai, bukan masyarakat perang, maka ayat-ayat perdamaian yang dikatakan sdr AKUKA di nasasakh (dihapus) itu, menurut saya TIDAK PERNAH DIHAPUS HUKUMNYA, dan kembali diterapkan hingga hari kiamat jika kondisinya tetap dalam kedamaian. Saya terus terang, tidak mengartikan nasikh-mansukh dalam arti hapus – mengapus ayat, karena pemahaman seperti ini memberi kesan bahwa Al-Qur’an itu tidak sempurna. Bagi saya nasikh-mansukh hanya berarti bahwa ada ayat yang seaktu-waktu tidak diterapkan karena kondisinya berbeda, tapi jika kodisinya kembali seperti semula maka ayat itu diterapkan kembali, sehingga Al-Qur’an tetap sempurna, agung, dan tak ada ayatnya yang sia-sia (dihapus begitu saja).

        AKUKA: Dikatakan: ayat ini dikhususkan orang2 yang mengadakan perjanjian persahabatan dengan Nabi dan tidak melanggarnya.
        Kata al Hasan, alKalabi: mereka adalah suku Khuza’ah dan Bani al Harits bin Abdi Manaf. Juga kata Abu Sholih. Kata Mujahid: ayat ini dikhususkan pada orang2 yg beriman tapi tidak mau berhijrah. Ada pendapat lain: yaitu wanita2 dan anak2 karena mereka tidak boleh diperangi. Maka Alloh izinkan berbuat baik kpd mereka. Demikian diceritakan dari sebagian ahli tafsir. Kata sebagian besar ahli takwil ayat ini menjadi hukum. Mereka berhujjah: bahwa Asma binti Abu
        Bakar bertanya kpd Nabi saw: Apakah ibunya wanita musyrik boleh disilaturahimi ketika si wanita musyrik itu datang?
        Nabi jawab: ya. HR Bukhori dan Muslim. Ada pendapat bahwa ayat ini turun tersebab kisah ini. Diriwayatkan oleh Amir bin Abdullah bin az Zubair dari ayahnya: bahwa Abu Bakr as Shiddiq pernah menceraikan istrinya Qutailah di masa Jahiliyah (Ibunya Asma bin Abu Bakr). Suatu saat ia mendatangi para sahabat pada satu masa
        perdamaian antara Rosul dan kaum musyrikin. Ia memberikan hadiah kpd Asma bin Abu Baker anting2 dan lain2. Asma enggan menerimanya shg datanglah Rosululloh saw, dan Asma menceritakan hal itu shg Alloh turunkan ayat ini.
        Kedua: Alloh tidak melarang kamu berbuat baik kepada orang2 yg tidak memerangi kamu. Mereka adalah kaum Khuza’ah, mereka berdamai dengan Nabi dengan tidak mau memerangi Nabi dan tdk mau menolong siapapun yang memerangi Nabi. Maka Alloh perintahkan untuk berbuat baik kpd mereka sampai ajalnya. Kamu berikan sebagian hartamu atas dasar silaturahmi. Bukan karena dasar adil. Karena adil itu wajib thd orang yg memerangi dan juga orang yg tidak memerangi. Demikian kata Ibnu al Arobi.
        Ketiga: Kata al Qodhi abu bakr kitab al ahkamnya: ada yg berpendapat atas anak laki2 muslim wajib menafkahi thd bapaknya yg kafir.Ini perkara yg besar. Karena izin untuk sesuatu atau tidak ada larangan thd sesuatu tidak berarti menunjukkan atas wajib. Pemberian ini bersifat mubah.
        2. Al Maidah ayat 82:
        Ayat ini turun tersebab raja Najasyi dan pengikutnya ketika muslimin datang kpd mereka pada hijrah yg I krn takut thd orang musyrik dan ancamannya.Kemudian Nabi saw hijrah ke madinah setelah itu maka orang musyrik tidak bisa menyusul. Terjadilah perang antara mereka dan Rosul. Ketika perang Badr dan terbunuh sebagian besar orang2 kafir, berkata kafir Qurays: sesungguhnya pembalasanmu ada di negri Habasyah. Beri hadiah kpd raja Najasyi, utus 2 orang yg pintar, semoga raja Najasyi memberikan sesuatu yang kamu dapat memerangi muslimin. Maka Kafir Qurays mengutus Amr bin al’Ash dan Abdullah bin Abi Robi’ah dengan membawa hadiah. Nabi dengar hal itu. Maka Nabi mengutus Amr bin Umayyah ad Dhomri dan menulis surat kpd raja Najasyi. Dan ia menghadap raja Najasyi. Beliau membaca surat Nabi saw lalu memanggil Ja’far bin Abi Tholib dan Muhajirin. raja Najasyi mengutus kepada para pendata dan rahib dan dikumpulkan mereka. Lalu ia memerintahkan Ja’far membacakan al Quran, dan dibacalah surat Maryam. Raja Najasy dan pengikutnya yg Nasrani berdiri, air matanya mengalir. Maka merekalah orang2 yang disebutkan diayat tsb

        JAWABAN SAYA: Semua ayat dan Kisah di atas sangat mendukung argmen saya bhw umat Islam tidak diharamkan berbuat kebajikan dan berbuat adil kpd non Musli dalam situasi / konteks damai . Di samping itu juga memnguatkan pendapat saya bahwa kaum ahlu kitab (Yahudi dan Kristen) tidak semuanya kafir, mereka ada yang beriman, percaya pada kebenaran Nabi SAW, tetapi tdak meninggalkan agama mereka semua. Ini sesuai dengan Q.S.Al-Ankabut: 47: “Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an), maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Qur’an ); dan di antara mereka (orang-orang Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir.

      • Assalamu Alaikum W.w. Sdr Sahid Yahya, Terima kasih atas responnya lagi, Jawaban saya di sini sama dengan jawaban saya terhadap Pak Khalid, sbb.: Ya benar, mereka zhalim atas dirinya sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan, tapi itu urusan mereka dengan Tuhan. Yang kita bicarakan di sini dalam kaitannya dengan hubungan mereka dengan kita (umat Islam), bahwa yang dapat disebut zhalim jika mereka memusuhi dan memerangi kita. Jika kembali berdamai dan selama tidak memerangi kita, maka mereka tidak disebut zhalim lagi, dan tidak dibenarkan oleh Allah SWT untuk memerangi mereka. Sesuai dengan firman-Nya Q.S.Al-Baqarah: 193 = Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”. Jadi, orang-orang zhalim di sini ialah orang yang memusuhi atau kembali memushuhi umat Islam. Wassalam

  21. sangat mencerahkan kyai hamka haq…ulama seperti inilah yg langka di indonesia saat ini…mampu mengayomi…mendamaikan…dan mencerahkan

  22. Pingback: MEMILIH  PEMIM… « TECHNOLOGY INFORMATION

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s