MUSLIM MODERAT DI INDONESIA

Muslim Moderat di Indonesia

Umat Islam Indonesia adalah sangat moderat, menerima perbedaan sebagai berkah.  Kelompok Muslim moderat di Indonesia merupakan mayoritas mutlak, yang biasa diistilahkan “the silent majority”.  Pertanyaan mendasar ialah , benarkah Muslim Indonesia itu moderat dan toleran?  Sebab, nyatanya banyak bukti sejarah yang menunjukkan terjadinya berbagai tindak kekerasan di tengah masyarakat Indonesia dengan alasan agama, sejak zaman penjajahan hingga sekarang ini.  Bukankah hal itu menunjukkan bahwa Muslim Indonesia sebenarnya tidak moderat?

Pertanyaan semacam itu dapat dijawab dengan sejumlah alasan ilmiah dan historis mengapa Muslim mainstrem Indonesia dikenal sebagai Muslim Moderat, walaupun akhir-akhir ini sering terjadi tindak kekerasan seperti bom bunuh diri, pengrusakan rumah ibadah dan sekolah milik umat agama lain.  Berikut ini penulis akan mengungkapkan jawaban mengenai hal tersebut.

Bahwa bangsa Indonesia mendiami nusantara, dengan beragam keyakinan politeisme dan animisme sebelum mengenal agama monoteisme.  Mulanya datanglah penganjur agama Hindu dan Budha, yang berhasil membangun kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.  Kemudian datang pula penganjur Islam, dengan cara damai berdagang dan berdakwah, sehingga sebahagian generasi bangsa ini pun menganut Islam.  Sebahagian lagi kemudian menganut Kristen setelah misi dagang Portugis dan Belanda (VOC) beroperasi; yang lainnya tetap menganut agamanya semula, bahkan masih ada penganut politeisme.  Semua agama dan kepercayaan itu hidup berdampingan sebagai pewaris yang sah dengan hak-hak yang sama di negeri yang sekarang bernama Indonesia Raya.

Asimilasi penganjur Islam dengan masyarakat asli, tidak hanya sebatas perkawinan, tetapi juga mencakup agama dan tradisi lokal, menyangkut ibadah dan kelengkapannya berupa pakaian, tempat ibadah, dan cara menyeru orang untuk datang beribadah.  Pakaian sehari-hari masyarakat ialah sarung dan kemeja tutup, dilengkapi dengan penutup kepala yang khas pada masing-masing daerah.  Para penganjur Islam dari Arab tidak memaksakan tradisi jubah dan serban Arab, justru mereka membiarkan tradisi sarungan khas Indonesia.  Jubah masih merupakan pakaian kebesaran di lingkungan istana, terutama oleh pangeran-pengeran yang telah menjadi Muslim.[1]

Rumah-rumah ibadah berupa masjid dan mushalla, dibangun tidak seperti di Timur Tengah yang pada umumnya berkubah.  Bangunan khas masjid Indonesia justru tiruan pendopo atau model joglo.  Bahkan terkadang bangunan lama bernuansa Hindu dan Budha tetap dilestarikan, sebagai bahagian rumah ibadah Islam.[2]  Budaya lokal kentongan pun menginspirasi pembuatan beduk, yang dipukul untuk menandai masuknya waktu shalat dan panggilan berjamaah.

Berbagai bentuk upacara dikonversi menjadi tradisi Islam di Indonesia.  Pesta panen yang sebelumnya merupakan persembahan kepada dewa-dewa, dikemas dengan baju keislaman menjadi upacara syukuran kepada Allah SWT.  Hasil panen diolah menjadi kenduri untuk makan dan doa bersama kepada Allah SWT.  Inilah awal tradisi selamatan yang ditemukan hampir di segenap komunitas Muslim di nusantara, yang tak ada di negeri Arab.  Tradisi-tradisi lainnya, menyangkut kelahiran, perkawinan dan kematian dikemas secara Islam, tanpa membuang seluruh bentuk tradisi sebelumnya.

Di Jawa, tradisi lokal pewayangan menjadi media paling efektif dalam pengislaman tak kurang dari 90% masyarakat Jawa.  Dan sebagai simbol pengislaman itu, diadakan perayaan “syahadatain”, yang hingga kini selalu dilakukan di lingkungan istana Kesultanan Yogya, lazimnya disebut acara Sekaten (dari kata syahadatain).  Acara Sekaten kemudian menjadi perayaan maulid Nabi Muhammad SAW khas Indonesia. Dalam bentuk yang lebih moderen lagi, perayaan Idil Fitri, yang disemarakan dengan ziarah ke rumah tetangga dan sahabat, akhirnya melahirkan tradisi baru yang disebut Hala bi Halal.  Tradisi salaman masal ini dilakukan di masjid atau tempat lainnya, yang bermakna sebagai kesetiakawanan dan kegotong royongan bernapaskan Islam.

Toleransi Islam terhadap budaya lokal tersebut di atas, adalah seiring dengan terjadinya pembauran antaretnis dan antaragama.  Pembauran itu terjadi berkat adanya tradisi lokal yang menjadi perekatnya.  Misalnya di Maluku, dikenal tradisi Pela Gandong, yang intinya ialah rasa persaudaraan kekerabatan, walaupun berbeda agama.  Pela artinya habis (final, ultimately) sedangkan gandong artinya Persaudaraan; maka Pela Gandong bermakna wujud persaudaraan tertinggi, tak akan ada lagi rasa persaudaraan yang melebihinyaDengan Pela Gandong, anggota-anggota keluarga yang beda agama dapat hidup damai dan rukun.[3]

Demikian pula di Toraja Sulawesi Selatan, dalam satu keluarga dapat saja ditemukan penganut agama yang berbeda, namun tetap damai dan rukun berkat adat tongkonan[4]Tradisi tongkonan (musyawarah bersama) berintikan rasa persaudaraan yang penuh kasih, walaupun agamanya berbeda.  Tradisi tongkonan dilestarikan hingga sekarang sebagai budaya luhur di Toraja.

Sementara itu, di kalangan masyarakat Jawa dikenal budaya gotong-royong, yang berarti saling membantu. Istilah ini sudah meng-indonesia, telah dipakai sebagai bahasa sehari-hari oleh seluruh masyarakat Indonesia.  Tapi tradisi Jawa yang lebih spesifik lagi, ialah mangan ora mangan asal ngumpul (makan atau tidak makan asalkan berkumpul). Falsafah “ngumpul” menjadikan “makan” sebagai perekat persaudaraan, karena agama, pikiran dan hati bisa saja berbeda, tapi semua orang bisa berhimpun makan bersama dalam pesta kenduri, selamatan, atau pesta perkawinan.  Dengan tradisi ngumpul, kerabat keluarga Jawa pada saat lebaran atau natalan berkumpul di kediaman orang tua, nenek atau sesepuh.[5]

Dalam pada itu, ikatakan keluarga Batak di Sumatera Utara diperkuat dengan sistem kekerabatan marga-marga.  Hubungan antarmarga juga memakai falsafah dapur (makan) yakni Dalihan Natolu (Tungku Bertiga)[6]  Falsafah ini diambil dari tradisi memasak di atas tiga tungku batu yang disebut dalihan, yang bermakna kebersamaan dalam kehidupan yang adil.  Tradisi Dalihan Natolu menjadi referensi bagi sistem pergaulan masyarakat Batak, sehingga kekerabatan tidak boleh terganggu akibat perbedaan agama yang datang kemudian.  Ketika mereka menganut Islam atau Kristen, hubungan antaragama harus disesuaikan dengan tradisi Dalihan Natolu.   Maka biasanya, seorang Muslim sangat akrab dengan Kristen dalam satu marga, sebagai ketaatan pada tradisi Dalihan Natolu.

Aktualisasi Moderasi Islam

Moderasi Islam di Indonesia turut mempercapat rasa persatuan kebangsaan itu, sebab Islam mentolerir keragaman agama dan budaya yang ada.  Maka sisi lain dari nasionalisme Indonesia ialah pluralitas (kebhinnekaan), yang disimpul menjadi satu kalimat: “Bhinneka Tunggal Ika”.  Titik temu antara realitas kebhinnekaan dan pesan persaudaran dari Al-Qur’an melahirkan ideologi Pancasila dan terbentuknya negara kebangsaan Indonesia.  Dengan kata lain, perjuangan kebangsaan (nation building and development), adalah manifestasi dari risalah Islam moderat yang rahmatan lil`alamin, dan kaffatan li al-nas, sebuah wujud lita`arafu (berbuat kebajikan) bagi sesama manusia, tanpa melihat etnis, ras atau agamanya.

Bagi umat Islam, contoh yang terbaik untuk bermasyarakat ialah sikap moderat Nabi Muhammad SAW, yang lebih mengutamakan perdamaian ketimbang simbol tekstual.  Ketika Nabi melakukan perundingan damai dengan kaum Quraisy Mekah pada tahun 628 M (6 H) di Hudaibiyah, mulanya pihak Quraisy keberatan terhadap naskah perdamaian yang diawali dengan teks Bismillahi Rahmani Rahim.  Namun, demi perdamaian maka Nabi SAW meminta teks Basmalah diganti dengan kalimat umum: Bismika Allahumma, yang akhirnya diterima oleh semua pihak.

Organiasai massa atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memiliki peran yang sangat strategis untuk mendorong gerakan moderat di tengah kehidupan masyarakat.  Patut diungkap di sini apa yang dilakukan ormas Islam Muhammadiyah di Indonesia.  Muhammadiyah membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua bahkan di Kalimantan yang sebahagian besar siswanya adalah non Muslim.  Mereka itu diasuh tanpa harus menukar agamanya menjadi Muslim.  Dalam buku Kristen-Muhammadiyah[7], diungkap betapa perkembangan sekolah Muhammadiyah di daerah mayoritas non-Muslim, yaitu Ende, Flores (NTT), Serui (Papua), dan Putussibau (Kalimantan Barat).  Uskup Agung (emeritus) Ende, Mgr Donatus Djagom merespon positif SMA Muhammadiyah setempat, bahkan memberikan sumbangan untuk pengembangannya.

Salah satu alasan penting siswa Kristen tertarik pada SMA Muhammadiyah, ialah karena SMA Muhammadiyah memberikan Pendidikan Agama Kristen (PAK) dengan guru-guru dari Kristen sendiri. [8]  Bagi siswa Kristen, dengan belajar di sekolah tersebut, wawasan mereka tentang Islam menjadi luas, dan hal ini penting untuk bisa menjadi pastor atau pendeta yang moderat dan toleran pula.  Sungguh luar biasa, sebuah sekolah Islam yang moderat di Indonesia dapat mendidik calon-calon petinggi Kristen (Katolik).  Bahkan menurut pengakuan Theophilus Bela, Sekretaris Jenderal Committee of Religion for Peace dan Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta, ada lulusan SMA Muhammadiyah yang kemudian melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi dan menjadi Pastor Katolik, dan tidak sedikit pula yang menjadi biarawati[9].

Untuk sekadar diketahui, ketika penuls menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang: UIN) Alauddin Makassar, 1999-2001, pernah menerima mahasiswa non Muslim, bekerjasa sama dengan Sekolah Tinggi Teologia Makassar.  Di antara mereka ada yang berhasil menjadi pendeta di Gereja binaannya, dan mengajarkan paham Kristen toleran dan moderat.

Adalah jelas bahwa Islam mengajarkan cara berpikir kemanusiaan universal, yang moderat dan toleran, yang merangkul semua pihak dan golongan dalam suatu tatanan peradaban yang berperikemanusiaan.  Ajaran sosial Islam lebih menekankan substansi, ketimbang simbol-simbol sektarian.  Dengan demikian Islam akan tampil lebih humanis, santun dan terbuka kepada semua lapisan masyarakat.  Hasilnya, Islam dapat bertemu dengan nilai universal agama lain, dan memperoleh apresiasi positif dari umat agama lain, sehingga dapat terbangun kerjasama lintas agama dan lintas etnis yang berkeadaban.  Itulah wajah Islam secara rahmatan lil-alamain, yang mengembangkan sikap toleran dan moderat dalam pergaulan dunia yang semakin mengglobal dewasa ini.


[1]Ingat misalnya Pangeran Diponegoro memakai jubah khas Arab, sementara para prajuritnya tetap berpakaian khas Jawa.

[2]Contoh konkret ialah menara Masjid di Kudus, merupakan pelestarian arsitektur Hindu. 

[3] Lihat selengkapnya dalam Syarifuddin Pattisahusiwa, Sekilas Sejarah Pela-Gandong Louleha Potret Rekonsiliasi Anak Negeri Adat di Maluku (http://ippmassi.4umer.com/t321-sekilas-sejarah-pela-gandong-louleha-potret-rekonsiliasi-anak-negeri, akses 14 Mei 2008).

[4]Mengenai jenis-jenis Tongkonan dan pemanfaatannya dapat dilihat dalam Tongkonan, (http://id.wikipedia.org/wiki/Tongkonan , update tgl. 7 Juli 2010).

[5]Lihat uraian singkat mengenai hal ini dalam Mangan Ora Mangan Ngumpul, posted by Bazmovic,(http://bastianmandala. wordpress.com/ 2010/02/07/mangan-ora-mangan-ngumpul-xjoss-net-copy-right-zenki)

[6]Dalihan adalah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan natolu ialah tiga batu. Dalihan Natolu melambangkan kebersamaan dan kehidupan sejahtera dan adil untuk semua.  Untuk lengkapnya lihat dalam Jontri Pakpakahn, Apa Pengertian Dalihan Natolu?, (From http://tarombo.net Februari 16, 2008). Lihat pula dalam Elkana, Dalihan Natolu Sistem Demokrasi Versi Batak (http://tgs.lumbantoruan.net, July 10th, 2006)

[7]Lihat dalam Abdul Mu`ti dan Fajar Riza ul Haq, Kristen-Muhammadiyah, Konvergensi Muslim dan Kristen dalam Pendidikan, (Jakarta: Al-Wasat, 2009), h.39 s.d. 194.

[8]Ibid., h. 66 dan 73.

[9]http://forumbebas.com/printthread.php?tid=74005Dialog Pendidikan Kristen Muhammadiyah 16 Aug 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s