PERIODE AWAL POLITIK ISLAM DI INDONESIA

Mata Kuliah: Sejarah Gerakan Politik Islam Indonesia

Berawal dari Kepentingan Ekonomi

Jika Nabi Muhammad SAW di masa mudanya adalah seorang pedagang, maka tak heran jika penganjur-penganjur Islam dari Arab yang datang ke nusantara (Indonesia) adalah juga pedagang.  Mereka tidak membawa laskar (tentara) untuk menaklukkan rakyat nusantara, melainkan datang menjadikan mereka sebagai mitra dagang.  Kerajaan-kerajaan di lndonesia semakin kuat pada periode 1570- 1650, bersamaan ledakan perdagangan “abad ke -16 yang panjang” dan mencapai puncak awal abad ke-17.  Kekuatan raja-raja pada umumnya bersumber pada  potensi ekonomi, ditandai dengan pertumbuhan Ibukota berupa kota besar (bandar di pesisir) yang memperancar alur perdagangan, transaksi senjata dan armada, disertai dengan gagasan negara baru berdasar Islam, semua mengalahkan mitos-mitos gaib yang ada sebelumnya.

Kerajaan yang bertumpu pada perdagangan ini kemudian berfungsi sebagai Bandar lslam internasional, yang pada mulanya tunduk pada Majapahit atau penguasa lain yang memberi peluang untuk perdagangan yang meningkat. Sementara itu, kegiatan politik Cina masa Kaisar Yongle (1402-1424) mendorong peningkatan sistem perdagangan yang hidup di Asia Timur, khususnya di nusantara (Indonesia).  Bahkan seorang laksamana Cina yang beragama Islam, bernama Cheng Ho memimpin delegasi dalam suatu ekpedisi ke wilayah nusantara Indonesia pada tahun 1405 M adalah berasal dari etnis Hui.  Namun etnis Tionghoa (demikian keturunan Cina Indonesia menyebut dirinya) yang menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia sekarang sebahagian besarnya berasal dari etnis Han, etnis terbesar di daratan Cina.  Mereka menganut Budha atau tetap menganut keyakinan Kong Hu Cu.

Pasai, Pidie, Barus, dan Palembang di Sumatera; Gresik,Tuban, Japara, Demak, dan Sunda Kelapa di Jawa; serta  Ternate dan Banda di Maluku menjadi pusat dagang yang hebat tempat pertemuan segala bangsa dan suku bangsa abad ke- 15. Penduduk ini secara berangsur menjadi bangsa Indonesia sebagai pedagang yang bersemangat dan elit poiitik zaman baru. Lambat-laun, negara-bandar lslam seperti Demak, Aceh, Banten, dan Gowa mengatasi kekuasaan lama, Hindu-Buda. Negara kota maritim inilah yang menandai tumbuhnya kesadaran politik (kesultanan) Islam di Nusantara selama masa 1500,1650.

Kota padat penduduk scperti Aceh, Banten, dan Makassar menjadi pemandangan budaya perkotaan yang makmur dan berdaya-cipta, dengan upaya menyerap, teknologi asing. Bagaimana gagasan Islam yang berpengaruh dan mencapai puncak pada zaman tersebut, biasanya diungkapkan dalam bentuk sastra, teologi, arsitektur, dan hukum setempat.

Namun, kekuatan kerajaan ini rapuh akibat persaingan internal antara sultan (raja-raja) Islam dengan saudagar (orang kaya).  Raja yang kuat biasanya mengendalikan semua sistem perdagangan (monopoli), sehingga membahayakan perniagaan karena pemusatan banyak hal di tangannya sendiri. Sementara itu kekuatan asing yakni VOC berupaya pula untuk memonopoli perdagangan dengan cara memanfaatkan berbagai kelemahan atau perpecahan di dalam negara-bandar Islam ini.

Cikal Bakal
Kekuatan Politik Islam di Nusantara

Kekuatan politik Islam di nusantara ditandai dengan berdirinya pusat kekuatan Islam dalam bentuk kerajaan.  Informasi tentang kerajaan Islam di masa awal, biasanya disertai dengan mitos.  Misalnya hikayat Raja-Raja Pasai, mengisahkan raja setempat bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad yang menyampaikan, bahwa seorang ulama bernama Syekh Ismail akan datang dari Arab. Keesokan harinya raja pergi ke pantai dan bertemu dengan sang ulama yang mengajarkan kalimat syahadat. Setelah itu, ia mengubah namanya menjadi Sultan Malik al-Saleh.  Mitos ini ditulis pada batu nisan raja di gugus pemakaman raja-raja Samudra Pasai (1297).

Bermacam mitos bernuansa religio-politik seperti itu ditemukan di sejuamlah kerajaan lokal Islam di nusantara.  Yang jelas bahwa cerita turnun temurun seperti itu menjadi informasi kehadiran Islam d nusantara sebagai kekuatan politki baru setelah era Hinndu dan Budha. Hikayat Patani misalnya, mengisahkan seorang ulama Pasai yang tinggal di kampung pedagang Pasai di Patani (Thailand) akhirnya berhasil membujuk raja Patani untuk memeluk Islam. Karena masuk Islam, penyakit yang dideritanya sembuh.

Pasai sebagai kaekauatan politikIslam awal, dihormati oleh semua pusat kekuatan Islam baru. Sejarah Melayu abad ke-16 menyebut bahw Melaka, bandar terbesar yang berhasil menarik para ulama seluruh dunia Islam, memandang Pasai dalam matra keagamaan. Dalam tradisi wali Jawa, Pasai juga disebut sebagai pusat belajar serta kota tempat untuk bertolak ke Tanah Suci. Dari situah awal istilah Serambi Mekah.

Kerajaan Islam
Pasai di Sumatera

Berdasarkan catatan dari seorang pengembara Arab abad ke-14, Ibn Batuta, adalah kesultanan Samudra Pasai, merupakan kesultanan dalam sejarah awal Islam di nusantara.  Sultan memiliki semangat pengkajian Islam, sering mambahas ajaran lslam dengan para santri asing (ulama Arab pendatang), menggambarkan tradisi kerajaan Islam Nusantara di zaman itu.

Dengan kekuatan politik dan ekonomi, Sultan Pasai dapat mengirim para ulama dan merekrut santri di sekitarnya.  Tradisi politik berdasarkan budaya lama kemudian diintegrasikan dengan ajaran Islam sebagai landasan sebuah kerajaan Islam.  Dengan cara itu, kerajaan dipandang sebagai lembaga suci (theokrasi) berdasar pola hubungan antarmanusia yang memiliki kaitan antarsesama, sehingga harus dipimpin oleh orang tepat, dengan tingkat kebangsawanan yang direstui oleh Yang Maha Kuasa.  Kesultanan harus memiliki pemimpin yang adil dan bijak (kadhi), memiliki menteri jujur, dan rakyat penuh pengabdian: gagasan pokok martabar sertiap raja. Dengan demikian kesultanan adalah penguasa sebagai “pemimpin Islam” atau “bayangan Tuhan di bumi” (zhillu ‘llah fi al-ardh), sehingga menjadi puncak kepemimpinan agama dan wewenang politik.

Syaikh Nuruddin ar Raniri seorang intelek Islam abad ke-17, menggambarkan bahwa raja ideal, seperti Sultan Iskandar Muda (Aceh) adalah raja yang menegakkan syiar Islam, dengan membangun masjid agung dan beberapa masjid lain di setiap kota, memerintahkan setiap orang melakukan salat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan dan berpuasa sunat, serta melarang rakyarnya minum arak dan berjudi.

Namun sangat disayangkan bahwa struktur krajaan-kerajaan Islam abad ke-16 -ke- 18 sangat lemah, karena hanya bergantung pada tokoh (sang raja /sultan), belum ada sistem yang dapat bertahan  mengendalikan para penguasa kecil yang bersaing. Di samping itu, kesultanan sering memandang sultan lain sebagai saingannya, sehingga hubungan antarsultan menjadi tidak harmonis.  Akibatnya, ketika kekuatan politik dan perdagangan dari Barat datang tiba-tiba dengan tantangan baru, sultan-sultan menjadi kelimpungan tak kuasa mempertahankan hegemoninya menghadapi kekuatan Barat yang menggunakan politik pecah belah (devide et impera).

Politik Islam Awal di Jawa

Tradisi Jawa justru lebih menekankan peranan kaum ulama dalam perkembangan politik Islam awal.   Ulama digelar sebagai maulana, yang kemudian beberapa di antara mereka disebut wali.  Strategi maulana (wali) merupakan kiat cerdas kaum santri melakukan perubahan sosial politk dalam budaya Jawa yang sebelumnya dikuasai oleh agama Hindu dan kekuasaan politik Majapahit.   Tanpa melupakan perdagangan sebahagian wali (ulama) yang dicitrakan berasal dari Arab, mulai menetap dan mendirikan sekolah agama atau pesantren, yang lama kelamaan menarik perhatian murid dari daerah sekitar.

Syekh Malik lbrahim yang akhirnya dikenal sebagai Sunan Giri sesuai dengan tempat pemakamannya, adalah seorang pedagang ternama, guru yang berpengaruh, dan seorang penguasa (raja) setempat. Wali lain ialah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Ia mengambil alih bekas Kerajaan Hindu Pajajaran, Jawa Barat, mendirikan kesultanan Banten, dan berhasil mengusir Portugis dalam perjuangan menguasai kota Batavia (Jakarta sekarang)

Hubungan Ulama dan Raja

Pemimpin agama Sunan Kudus “wali vang berkuasa” dari Kudus, berhasil mempersatukan kekuatan politk (raja-raja) Islam yang akhirnya mengambil alih kerajaan Majapahit yang runtuh pada awal abad ke-16. Demak pun muncul sebagai kekuatan baru. Prpaduan spirit Islam, kesultanan dan kekuatan ekonomi membentuk kekuatan hegemoni maritim Islam.

Kemudian pada awal abad ke- 17, Mataram, sebuah kerajaan Islam agraris muncul sebagai kekuatan baru.  Hubungan dekat antara masjid dan pesantren, pasar dan keraton memungkinkan timbulnya kebudayaan pesisir yang dinamis dan bermatra internasional.  Budaya politik seperti ini  membuat Jawa sebagai kasus khusus dalam sejarah kerajaan Islam di Asia Tenggara, bahwa Pesantren bukan hanya sekolah agama seperti yang ditunjukkan para wali, tetapi juga adalah pusat gerakan politik kecil.

Dalam sistem sentralisasi politik, dengan pusat keraton, kaum ulama dengan pesantrennya juga dapat dipandang sebagai kekuatan politik yang potensial. Sejak kerajaan Mataram, keraton dan pesantren atau kaum ulama selalu berkaitan erat satu sama lain dalam suatu kesultanan.
(Diambil dr berbagai sumber, a.l: Indonesian Heritage).

Advertisements
By Hamka Haq Posted in KULIAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s