FALSAFAH EKONOMI KERAKYATAN

Falsafah Ekonomi Kerakyatan (Mustadh`afin)

@Diambil dari buku Islam Rahmah Untuk Bangsa [Jakarta: Rakyat Merdeka Books, 2009] karya Prof. Dr.Hamka Haq

Salah satu asas terpenting dalam dunia ekonomi, seperti disinggung di atas ialah kemaslahatan umum.  Asas ini berkaitan dengan kehidupan duniawi dan ukhrawi yang harus seimbang dan berpadu antara satu dengan lainnya.  Demikian pula keseimbangan antara hak-hak dan kewajiban yang berkaitkan dengan aspek keadilan.

Aspek keseimbangan dan keadilan inilah yang menjadi salah satu hikmah syariah untuk memberikan perlindungan bagi hajat hidup orang banyak, terutama mereka yang tergolong ekonomi lemah (miskin dan melarat), lemah dari segi politik, lemah dari segi pendidikan, lemah dari segi pembelaan hukum, lemah dalam biaya kesehatan dan seterusnya.  Hal ini dimaksudkan agar dalam kehidupan bermasyarakat, tak satu pun pihak yang menzalimi dan terzalimi.

Berikut, penulis ingin mengemukakan bagaimana pemberdayaan kaum lemah (mustadh`afin) di bidang ekonomi menurut Islam.  Tujuan syariah mengenai ini adalah agar harta benda itu dapat dinikmati secara adil oleh umat manusia sebagaimana ditegaskan ayat berikut ini: “Agar tidaklah harta itu beredar di kalangan orang kaya saja di antara kamu” (Q.S.al-Hasyr [59]: 7).

Itulah hikmahnya, mengapa syariah menetapkan kewajiban mengeluarkan zakat, agar rezeki orang kaya turut dinikmati pula oleh fakir miskin.  Berbagai sumber ekonomi yang potensil dan strategis dikategorikan dalam fikih klasik sebagai harta yang wajib dizakati, misalnya usaha perdagangan, pertanian, peternakan, dan pertambangan.  Demikian pula sumber-sumber pendapatan lain meliputi gaji, jasa akuntan, dokter, seniman, budayawan, keahlian profesi dan sebagainya.    Apapun namanya sumber pendapatan yang wajib zakat itu, pada prinsipnya semua merupakan amanah dari ayat berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian yang baik-baik dari hasil usahamu dan dari apa yang Kami telah keluarkan dari bumi untuk kamu  (Q.S. al-Baqarah [2]: 267).

Adalah sebuah keadilan, ketika orang-orang berada itu mengeluarkan zakatnya dari hasil usaha dan profesinya.  Khusus bagi kaum profesional, seperti guru (dosen), pegawai, dokter, kontraktor, akuntan dan lain-lain; syariah memandang mereka sebagai orang yang wajib zakat.  Mereka adalah wajib zakat demi keadilan, karena mereka lebih sejahtera ketimbang para petani dan peternak di desa yang adalah juga diwajibkan membayar zakat.  Alangkah tidak adilnya, andai kata hanya petani dan peternak di desa yang setiap harinya bekerja di bawah terik matahari, diterpa hujan, dan dengan hasil yang pas-pasan, diwajibkan membayar zakat, sementara para pekerja profesional tidak diwajibkan, padahal mereka lebih mudah memperoleh harta, dan dengan tingkat kehidupan yang jauh lebih makmur dan sejahtera.

Asas keadilan ini juga menjadi alasan Muhammad Al-Ghazali, penulis kitab Al-Islam wa al-Awdha` al-Iqtishadiyah, yang dikutip oleh Yusuf Qardhawi dalam Fiqh al-Zakah, untuk mewajibkan para pekerja profesional membayar zakat guna membantu kaum ekonomi lemah.[1]  Semua ini memperjelas, bahwa perintah berzakat dan berinfaq adalah pembelaan bagi kaum mustadh`afin (golongan lemah), yang disebabkan karena sejumlah faktor antara lain: faktor kemiskinan, faktor kebodohan dan faktor ketertindasan, sebagaimana tersirat dalam ayat berikut ini:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنْ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيم ٌ

Hanyasanya sedekah (zakat-zakat) itu, adalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pekerja-pekerja zakat, para mu’allaf (yang dibujuk) hatinya, untuk membebaskan budak (orang tertindas), orang-orang yang berhutang (terzalimi), untuk jalan Allah dan para aktifis di jalan itu, sebagai sesuatu ketetapan dari Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (Q.S. Al-Tawbah [9]: 60).

Pesan Ilahi di atas menunjukkan betapa pentingnya kepedulian terhadap kelompok ekonomi lemah (rakyat kecil).  Hal ini menjadi lebih penting lagi, mengingat Indonesia masih merupakan salah satu contoh tentang kemunduran ekonomi.  Kenyataan masih banyak warga bangsa yang bodoh dan miskin, terutama yang berdiam di pedesaan, adalah bukti yang tak terbantahkan.  Mereka mendambakan kebijakan, atau minimal kepedulian yang berpihak pada mereka, dalam upaya mengentaskan kemiskinan yang telah lama dialaminya itu.  Hal ini merupakan pengamalan syariat Islam yang esensil di bidang ekonomi.  Seharusnya kita para penggagas dan aktifis syariah lebih mengutamakan hal seperti ini ketimbang berjuang untuk formalisasi tekstual syariah.

Bangsa dan negeri ini mendambakan kebjakan-kebijakan ekonomi yang mencerminkan filosofi pembelaan rakyat kecil secara konkret.  Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kebijakan-kebijakan yang berdampak bertambahnya angka kemiskinan adalah jelas melanggar syariat Islam.  Bahkan dalam Al-Qur’an, kebijakan seperti itu dipandang sebagai pendustaan agama, sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ(1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ(2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ(3)

Tahukah kamu (siapa) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (Q.S.Al-Ma`un [107]: 1 – 3).

Menelantarkan orang miskin saja, menurut Al-Qur’an adalah pendustaan agama, apatahlagi jika menambah jumlah orang-orang miskin.

Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk penerapan syariat Islam di bidang ekonomi, tanpa perundang-undangan syariah.  Misalnya, menyukseskan dan meningkatkan pembayaran zakat, infaq dan shadaqah yang berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.  Selain itu, semua agama juga mendorong peningkatan etos kerja sehingga rakyat tidak terbiasa mengemis dan menunggu bantuan.  Lebih utama lagi, agama mengamanahkan pada penguasa (pemerintah) agar memberi peluang usaha bagi bangkitnya kaum ekonomi lemah dan terwujudnya kesejahteraan rakyat secara luas.  Islam sangat menentang kebijakan ekonomi yang hanya memihak pada segelintir orang-orang kuat.  Apa yang sudah banyak disaksikan bahwa demi kepentingan orang-orang segelintir itu, lahirlah kezaliman penggusuran pedagang kecil, pemusnahan pasar tradisional, pembiaran kaum kapitalis di pasar moderen swalayan dan mall, dengan mengabaikan nasib kaum lemah (dhu`afa), adalah jelas bertentangan dengan syariah.

Tetapi jangan dilupa pula, bahwa masyarakat kita menjadi miskin adalah disebabkan oleh pola hidupnya sendiri yang cenderung malas, pemboros, bergaya konsumeris, yang menyebabkan mereka tidak dapat lepas dari kemiskinan kultural dan struktural.  Mereka memerlukan dorongan semangat kerja, bahwa agama lebih meridhai orang‑orang pekerja keras, yang tangannya berada di atas (suka memberi) ketimbang mereka yang tangannya di bawah (menunggu pemberian).  Dalam salah satu hadits Riwayat Al-Bukhariy, Rasulullah SAW menegaskan: Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya Daud AS adalah makan dari hasil tangannya sendiri. [2]

Tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah.  Itulah yang seharusnya menjadi falsafah hidup masyarakat, agar mereka tidak dimanjakan oleh sejumlah bantuan hibah sesaat.  Untuk membangun motifasi (etos) kerja di kalangan rakyat, Rasulullah SAW menyatakan bahwa tiap petani yang tanamannya dapat dinikmati oleh burung atau hewan ternak dan apalagi oleh manusia, akan dicatat sebagai sedekah baginya. [3]

Kemunduran ekonomi akan semakin lengkap dengan kebodohan masyarakat sendiri, sebab mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat demi kehidupannya.  Maka terasa perlunya perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan (keterampilan) tepat guna.  “Berilah kail, dan jangan hanya memberi ikan” adalah ungkapan jitu bagi solusi yang sistematis dan konseptual untuk perbaikan ekonomi bangsa.  Jangan pernah bemimpi untuk meningkatkan perekonomian bangsa, tanpa meningkatkan kualitas SDM warganya.  Sebab, kualitas SDM adalah faktor utama terbukanya peluang untuk berusaha secara mandiri dan terampil.

Adalah sangat ironis, bahwa di tengah tuntutan kebutuhan teknologi terapan untuk akselerasi ekonomi, sebahagian besar lembaga pendidikan berorientasi sepenuhnya pada ilmu normatif teoretis.  Padahal, untuk menggarap sumber daya alam yang luar biasa potensialnya di negeri ini, demi kesejahteraan ekonomi, masyarakat justru memerlukan ilmu-ilmu praksis dan aplikatif, atau tegasnya teknologi moderen yang tepat guna, dengan tenaga kerja yang handal profesional.  Pengetahuan normatif teoretis yang memang sangat penting bagi pelestarian nilai-nilai budaya bangsa harus diteruskan, namun budaya dan kepribadian akan hancur tergilas oleh kekuatan teknologi asing yang memaksakan kehendak atas bangsa yang sedang tak berdaya karena kebodohan.

Sebenarnya, teknologi tepat guna berbasis rakyat pernah dikembangkan oleh pesantren tempo doeloe, dipadu dengan pendidikan normatif keagamaan.  Dengan begitu, pesantren yang berhabitat di pedesaan sebagai lembaga pendidikan, juga merupakan lembaga ekonomi kerakyatan, dengan seperangkat keahlian bertani dan beternak secara bersahaja.  Itulah sebabnya pesantren dapat bertahan dan berkembang tanpa subsidi sejak zaman penjajahan, karena kemampuan menggarap potensi yang ada di lingkungannya (sawah, ladang, ternak, tambak dan industri rumah tangga) yang bernilai ekonomi tinggi.  Di samping menjadi pendukung utama bagi lembaga pendidikannya, sekaligus juga memberi contoh kepada masyarakat di lingkungannya.  Maka, tidak salah jika dikatakan bahwa pesantren menjadi perintis penerapan syariah dalam wujud ekonomi kerakyatan.

Hanya sayangnya, sebahagian pesantren masa kini sudah kehilangan jati diri sebagai lembaga pengembang ekonomi rakyat pedesaan.  Mereka bahkan menunggu subsidi dan donatur dari luar, mengharapkan kunjungan dan hibah dari tokoh-tokoh tertentu.  Sebahagian besar pesantren moderen masa kini tidak lagi mementingkan penguasaan teknologi terapan, sebagaimana terlihat dalam kurikulumnya, dan ironisnya lebih mengandalkan proposal guna memperoleh bantuan dana dari luar.

Terlepas dari kenyataan tersebut, adalah tanggung jawab bersama bagi semua pranata keislaman untuk kembali memberdayakakan ekonomi rakyat di desa.  Mereka perlu keterampilan, penyuluhan dan pendampingan, perlu jaringan ekonomi bagi produk-produknya yang melimpah dengan nilai ekonomi tinggi.  Bahkan yang paling utama dari segalanya ialah mereka butuh tanah garapan yang memadai.  Apa yang terjadi, berupa penelantaran rakyat kecil, pembiaran terjadinya kezaliman dan pembodohan, perampasan tanah milik, rendahnya mutu dan harga hasil bumi dan kerajinan rakyat, semua adalah pelanggaran syariah yang harus dicari solusinya.

Intinya ialah melepaskan kaum mustadh`afin (wong cilik) dari keteraniayaan dan ketidak berdayaan melalui kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat, dengan falsafah kesejahteraan, bukan falsafah keuntungan dan pertumbuhan yang nyata-nyata lebih banyak menguntungkan kaum pemodal.


[1] Yusuf Qardhawi, Fiqh al-Zakah, (Beyrut: Muassasat al-Risalah, 1413 H), Juz I, h. 511.

    [2]Teks hadits ini terdapat dalam Al‑Bukhariy, op. cit., Juz III, h. 163.

    [3]Lihat dalam ibid., h. 295.

PATUNG DAN GAMBAR MENURUT HUKUM ISLAM

Patung Wayang Karya Budaya Indonesia
Patung Wayang Karya Budaya Indonesia

 

Larangan secara umum untuk menggambar dan membuat patung memang terdapat dalam banyak riwayat, atau hadits-hadits Nabi SAW.   Dalam hadits Bukhariy ditegaskan bahwa “Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di hari kiamat ialah para pelukis(penggambar)”[1]  Namun hadits ini haruslah dipahami sesuai dengan sebab lahirnya, yakni bahwa di zaman Nabi SAW, gambar atau patung identik dengan sesembahan politeistik, sehingga Rasulullah SAW melarangnya sebab sangat bertentangan dengan perjuangan menegakkan iman ketauhidan (monotesme).  Sehubungan dengan itulah, maka di kala Rasulullah SAW memasuki kota Mekah, dilihatnya banyak lukisan dan patung terpajang di dinding Ka’bah, beliau sepontan meminta Umar RA menurunkan semuanya.[2]  Alasan lain, ialah bahwa malaikat (pembawa kebaikan) tak akan pernah memasuki suatu rumah yang di dalamnya terdapat lukisan dan patung-patung makhluk hidup.[3]  Walaupun di hadits lain juga diterangkan bahwa malaikat dapat saja memasuki rumah jika patung atau gambar itu hanya dibuat secara ringan (kasar), berupa sketsa (tidak persis aslinya).[4]

Apapun alasan pelarangan gambar yang terdapat dalam hadits-hadits itu, tampaknya di zaman moderen, larangan tersebut tak dapat diberlakukan secara mutlak lagi.  Sejak diberlakukannya keharusan identitas penduduk pada semua negara, maka suka atau tidak suka, membuat gambar (foto) wajah manusia menjadi keharusan.
Tak satu pun negara dapat terhindar dari keharusan ini, termasuk
negara-negara Arab Muslim.  Lebih-lebih lagi setelah studi biologi semakin berkembang, maka pekerjaan menggambar binatang pun tak dapat dihindari.  Bahkan di semua negeri Muslim dewasa ini, baik Arab maupun non Arab, sudah mengenal gambar bergerak (filem atau video) yang sudah persis sama dengan aslinya.  Patut pula disebut adanya banyak kartunis di negara-negara Arab Muslim, yang membuat gambar (secara animasi) orang atau hewan yang semakin menunjukkan bahwa larangan membuat gambar dalam hadts-hadits Nabi, semakin tidak diberlakukan di zaman moderen oleh bangsa Arab Muslim.

Sehubungan dengan hal di atas, maka dapat ditegaskan bahwa patung atau gambar, baik yang besar maupun yang kecil, jika dimanfaatkan sebagai media syiar Islam, atau minimal sebagai media budaya yang sejalan dengan kemaslahatan manusia yang dikehendaki Islam, maka semuanya tidaklah haram,  Sekadar diingat bahwa wayang / golek, yang ukurannya sama dengan patung-patung sembahan Arab Jahiliyah, justru pernah menjadi media syiar Islam di zaman Wali Songo.  Karena itu, di Indonesia, wayang atau golek atau patung apapun namanya, jika tidak menjadi sesembahan, tetapi digunakan untuk syiar Islam atau untuk pelestarian budaya luhur, semuanya tidaklah haram.   Mereka yang melakukan pengrusakan terhadap benda-benda tak berdosa itu, adalah orang yang salah memahami Islam.


[1] Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, (Beyrut: Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1407), Ju 5, h.2220 dan h.2221:

[2] Ali bin Ab Bakr al-Haytsamiy, Abu al-Hasan, Mawarid al-Zhaman (Beyrut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t.), Juz I, h. 357.

[3]Muslim al-Naysaburiy, Shaih Muslim,. (Beyrut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabiy, t.t.) Juz 3, h. 1666.

[4] Ibn Hibban, Shahih Ibn Hibban (Beyrut: Muassasat al-Risalah, 1414), Juz 13, h. 161.

PELAGANDONG PERSAUDARAAN ABADI

Oleh: Hamka Haq

Akankah Maluku kita biarkan menjadi medan pertempuran yaqg abadi antara Kristen dan Muslim? Akankah Ambon kita biarkan menjadi daratan baniir darah; akankah masyarakatnya kita biarkan menjadi masyarakat yang berdarah-darah tiada henti?  Jawabannya tentu tidak.  Kita mengaku sebagai bangsa yang ramah. bukan pemarah.  Kita adalah sebagai bangsa yang beragama, yang lebih mementingkan persaudaraan ketimbang perseteruan..  Untuk itu mari kita bangun Maluku meniadi masyarakat yang bersaudara.  Kaum Muslim dan Kristen hendaknya meninggalkan sifat-sifat mudah terprovokasi, termasuk isu separatis
RMS yang sering mengganggu hubungan harmonis. Sehubungan dengan itu, lewat tulisan ini, penulis ingin menyampaikan saran kepada para pihak di Maluku, agar benar-benar mereallsasikan Perjanjian Malino ll secara tuntas dan seksama guna melanggengkan perdamaian di bumi Pattimura itu.

Pertama, bahwa untuk menuju perdamaian, memang semua pihak harus rela berkorban, mencakup korban perasaan, korban tenaga dan materi.  Berkorban juga  berarti rela saling menerima keinginan, sehingga semuanya berpadu dalam kebersamaan.  Tak ada perdamaian yang dapat dicapai jika hanya keinginan satu pihak yang ingin dipenuhi sementara keinginan lainnya diabaikan. Jangan berharap akan terwujud perdamaian jika suatu perjanjian dilaksanakan hanya menurut keinginan sepihak, sebab tentu akan menyimpan kekesalan dan kedongkolan yang terus menerus.  Dan kita semua sudah yakin bahwa isi perjanjian damai Malino telah menampung secara adil semua aspirasi kedua belah pihak yang bertikai tanpa politik belah bambu, tanpa mengangkat yang satu dan menginjak yang lalnnya.

Kedua, hilangkan trauma masa lalu yang-banyak mengandung ceritera kesedihan dan dendam. Selama kedua belah pihak masih ingat dan bahkan mengabadikai cerita masa lalu dari tragedi berdarah di Maluku, maka selama itu pula dendam tidak akan pernah hilang, melainkan semakin membara, laksana api dalam sekam. Segala peristiwa yang telah terjadi di masa lalu, hendaknya menjadi  bahan pelajaran untuk tidak berulang kembali, dan jangan sampai menjadl motivasl untuk menumbuhkan terus semangat konflik ke masa depan.  Janganlah jadikan tragedi Maluku sebagai sebuah kisah romantis yang patut dikenang buat selarnanya, diabadikan dalam foto dan video. Tragedi Maluku, lupakan sudah, sambil menatap masa depan Maluku yang damai-ceriah, yang tenang dan makmur.

Ketiga, tumbuhkan kembali sikap saling percaya mempercayai.  Dalam bermasyarakat, sikap saling mempercayai itu mutlak diwuiudkan sebagai perekat kesatuan dan keinginan bekerjasama.  Kapan saja sikap ini hilang, digantikan dengan sikap saling curiga mencurigai maka yang bertumbuh ialah perasaan bermusuhan dengan semua yang ada di sekeliling kita.   Membangun masyarakat artinya membangun kerjasama  dan adanya keinginan bersatu  senasib sepenanggungan.  Kerjasama dan kebersamaan dalam suka maupun duka tidak mungkin  diwujudkan jika masing-masinq pihak masih ditumbuhi perasaan saling mencurigai.  Hal ini memang sulit diperoleh, sebab terkadang trauma masa lalu menjadi pendorong lahirnya terus menerus sikap saling mencungai.  Karena itu, untuk masyarakat Maluku yang ingin damai, diperlukan terapi psikologis yang dapat  membangun mental-mental yang baik, mental-menatal peredam emosi, pemaaf dan jujur dalam menunaikan perjanjian luhur.

Keempat, benci terhadap konflik itulah yang harus dibangun. Setiap pihak hendaknya mernandang bahwa agama sangat membenci pertumpahan darah itu, karena merupakan kebodohan dan keprimitifan umat manusia.  Pertumpahan darah adalah tindakan kebiadaban yang tidak pantas disandang oleh manusia yang mulia, maka dengan seharusnya masyarakat Ambon memiliki rasa malu untuk berkonflik.  Rasa malu berkonnflik ini hendaknya dibudayakan di Maluku, sambil memupuk budaya pelagandong.

Kelima, bangunlah kebanggan sebagai orang Maluku yang punya visi ke depan menuju Maluku yang cinta damai, berintelektual, bermoral, ingin membangun kemakmuran bukan kemiskinan.  Semua ini tidak mungkin tercapai jika warga Maluku memelihara konflik.  Sebab jika konflik menjadi kebiasaan bahkan menjadi “budaya”, maka masyarakat Maluku menjadi komunitas primitif.  Mana ada manusia yang berbudaya saling membunuh di zaman moderen?, di zaman datangnya agama-agama cinta kasih dan rahmatan lil-alamin, di zaman ditinggalkannya budaya primitif nenek moyang yang dahulu kala hidup berhadapan dengan binatang ganas di hutan?

Jika bangsa Barat bangga sebagai manusia berdisiplin, jika Cina bangga dengan kebesaran historis dan ketekunan, Jepang bangga sebagai manusia yang punya tata kesopanan melebihi bangsa lain, bangsa Korea bangga sebagai bangsa yang beretos kerja, orang Jawa bangga dengan kehalusan budi dan bahasanya, orang Batak dan Bugis bangga dengan ketegasan dan keberanian mengembara ke mana-mana, maka apa lagi yang dapat dibanggakan orang Maluku setelah merusak Pela Gandong-nya sendiri? Kini saatnya Maluku merenggut identitas kebanggaannya, yakni warga bangsa yang suka damai, mau bakubaek, merasa katong samua basudara.  Bangunlah kembali Pela Gandong itu lewat Malino kedua. Tanpa keinginan damai, maka yang terjadi ialah Maluku akan dihuni oleh manusia-manusia primitif pendendam, tiada kerjasama, miskin moral dan miskin materi, kemudian miskin intelektual.

Saudara-saudaraku Muslim dan Kristen di Maluku, penulis memaklumi
beratnya menghilangkan seketika segala torehan sakit hati dan dendam itu, tapi itulah tanggung jawab kita sebagai manusia beragama dan eradab.  Penulis yakin, warga Maluku adalah umat beragama dan warga yang beradab.  Wallahu a’lam bi ‘l-shawab.

PERJANJIAN MALINO II

Konflik Maluku yang sudah berlangsung tiga tahun terakhir telah menyebabkan
korban jiwa dan harta, kesengsaraan dan kesulitan masyarakat serta membahayakan
keutuhan negara RI, serta menyuramkan masa depan rakyat Maluku. Oleh karena itu,
dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, kami segenap wakil dari umat Islam dan
Kristiani Maluku dengan jiwa terbuka dan hati yang ikhlas sepakat untuk mengikat diri
dalam perjanjian.

  1. Mengakhiri semua bentuk konflik dan perselisihan.
  2. Menegakkan supremasi hukum secara adil dan tidak memihak. Karena itu,
    aparat harus bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya.
  3. Menolak segala bentuk gerakan separatis termasuk Republik Maluku Selatan.
  4. Sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka bagi
    semua orang berhak untuk berada dan berusaha di wilayah Maluku dengan
    meperhatikan budaya setempat.
  5. Segala bentuk organisasi, satuan kelompok atau laskar bersenjata tanpa ijin di
    Maluku dilarang dan harus menyerahkan senjata atau dilucuti dan diambil
    tindakan sesuai hukum yang berlaku. Bagi pihak-pihak luar yang
    mengacaukan Maluku, wajib meninggalkan Maluku.
  6. Untuk melaksanakan seluruh ketentuan hukum, maka perlu dibentuk tim
    investigasi independen nasional untuk mengusut tuntas peristiwa 19 Januari
    1999, Front Kedaulatan Maluku, Kristen RMS, Laskar Jihad, Laskar Kristus,
    dan pengalihan agama secara paksa.
  7. Mengembalikan pengungsi secara bertahap ke tempat semula sebelum
    konflik.
  8. Pemerintah akan membantu masyarakat merehabilitasi sarana ekonomi dan
    sarana umum seperti fasilitas pendidikan, kesehatan dan agama serta
    perumahan rakyat agar masa depan seluruh rakyat Maluku dapat maju
    kembali dan keluar dari kesulitan. Sejalan dengan itu, segala bentuk
    pembatasan ruang gerak penduduk dibuka sehingga kehidupan ekonomi dan
    sosial berjalan dengan baik.
  9. Dalam upaya menjaga ketertiban dan keamanan seluruh wilayah dan
    masyarakat diharapkan adanya kekompakan dan ketegasan untuk TNI/Polri
    sesuai fungsi dan tugasnya. Sejalan dengan itu, segala fasilitas TNI segera
    dibangun kembali dan dikembalikan fungsinya.
  10. Untuk menjaga hubungan dan harmonisasi seluruh masyarakat, pemeluk
    agama Islam dan Kristen maka segala upaya dan usaha dakwah harus tetap
    menjunjung tinggi undang-undang dan ketentuan lain tanpa pemaksaan.
  11. Mendukung rehabilitasi khususnya Universitas Pattimura dengan prinsip untuk
    kemajuan bersama. Karena itu, rekruitmen dan kebijakan lainnya dijalankan
    secara terbuka dengan prinsip keadilan dan tetap memenuhi syarat keadilan.

Perjanjian ini kami buat dengan tulus dengan tekad menjalankannya secara
konsekuen dan konsisten. Bagi pihak-pihak yang melanggar dan tidak menjalankan
perjanjian ini akan diproses secara hukum. Tindak lanjut perjanjian ini akan dijalankan
degan agenda serta rencana sebagai berikut:

I. Komisi Kemananan dan Penegakan Hukum,
II. Komisi Sosial Ekonomi

Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani di Malino, 12 Februari 2002.

 

PANCARKAN ISLAM RAHMAH

Khutbah Idil Fitri di UIN
Alauddin Makassar

Oleh Prof.Dr.Hamka Haq, MA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله اكبر 9x  الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة وأصيلا    لا إله إلا الله  والله أكبر الله أكبرولله الحمد. الحمد لله الذي جعل شهر رمضان شيد الشهور  وفرض فيه  صيامه  وصدقة الفطر وسن  رسوله  القيام و السحور على من اراد دار االسلام و النجاة من النار  سبحان الله وبحمده ذى الجلال والإكرامنشهد أن  لا إله  إلا الله   وحده  لا شريك له  ونشهد أن محمدا  عبده ورسوله  أللهم فصل وسلم  وبارك  على  محمد وعلى  آله وصحبه أجمعينأما بعد  فيا عباد الله   اوصيكم   ونفسى بتقوى الله  فقد فاز   المتقون    وقال  سبحانه وتعالى وهو أصدق القائلين  أعوذ بالله من الشيطان الرجيم    بسم الله الرحمن الرحيم : وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿الأنبياء: ١٠٧﴾

Kaum Muslmin Yang
Berbahagia

Pada hari ini kita kembali lagi merayakan Idil Fitri, dengan harapan lebih bermakna dibanding tahun-tahun yang lalu, sesuai dengan kondisi negara dan bangsa kita, sekaligus menghayati kontribusi apa yang harus kita berikan untuk kesejahteraan rakyat.

Pada bulan Ramadhan, persis 66 tahun yang lalu, tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan kita.  Namun kemerdekaan yang sesungguhnya belum dinikmati secara merata oleh bangsa kita. Sisa-sisa penjajahan mash tampak di mana-mana; masih banyak yang susah mencari makan, bahkan mati kelaparan, masih banyak yang susah menyekolahkan anak-anaknya, masih banyak yang menderita sakit tanpa biaya pengobatan, masih banyak yang susah memperoleh perlindungan keamanan dan keadilan, dan lain-lain sebagainya.  Terhadap sejumlah permaslahan tersebut, kita harus memberi solusi sebaik-baiknya, agar kita menjadi sumber pancaran kasih sayang dan rahmat bagi bangsa kita, seperti ayat yang dikutip pada awal khotbah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِين ﴿الأنبياء: ١٠٧

Dan tidaklah Kami mengutus engkau Muhammad, kecuali rahmat untuk alam semesta (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107)

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa dalam masyarakat manusia terdapat hubungan saling membutuhkan antara satu dengan lainnya.  Keadaan itu membuat semacam dialektika sosial, yakni ada golongan yang kuat yang harus mengasihi, dan ada golongan lema (mustadh`afin) yang harus dikasihi.  Artinya, golongan yang kuat yang sedang berkuasa, para orang kaya, para ilmuwan, atau kelompok yang mayoritas, haruslah mengasihi golongan lemah, yakni rakyat kecil, para orang miskin, orang yang tak berpendidikan, dan mereka yang minoritas.

Terdapat minimal dua bentuk tanggung jawab yang harus ditunaikan, yakni mewujudkan kesejahteraan dan menjamin keamanan masyarakat sebagaimana  yang diamanahkan dalm Q.S. al-Balad sbb :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ ﴿١٢﴾ فَكُّ رَقَبَةٍ ﴿١٣﴾
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ ﴿١٤﴾ يَتِيماً ذَا مَقْرَبَةٍ ﴿١٥﴾ أَوْ
مِسْكِيناً ذَا مَتْرَبَةٍ ﴿١٦﴾ ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ ﴿١٧﴾

“Tahukah kamu apakah jalan (amanah) yang penuh perjuangan itu?- (yaitu) melepaskan budak (orang melarat) dari perbudakan (kemelaratan)- atau memberi makan pada hari kelaparan,-(kepada) anak yatim kaum kerabat, -atau orang miskin berbau tanah. Barulah dia dapat menjadi orang-orang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan berkasih sayang.”

Kaum Muslmin Yang Berbahagia

Dalam pergaulan tanpa rahmah (kasih sayang) persaingan hidup semakin terasa kejam. Banyak orang yang kesejahteraan dan keamanannya terancam, bahkan dirampas oleh orang-orang kuat, sehingga kaum lemah semakin membutuhkan jaminan hidup dan perlindungan keamanan dari negara. Maka alangkah kejamnya kehidupan suatu bangsa jika masyarakat lemah, kaum fakir-miskin, anak-anak yatim dan orang-orang terlantar, dibiarkan hidup tertindis dan tertindas. Mereka tidak punya tempat mengadu, selain kepada  Allah SWT. Mungkin saja malapetaka yang selama ini melanda bangsa kita adalah akibat ratap tangis orang- orang yang tertindas itu. Nabi SAW sudah memperingatkannya:

واتق دعوة المظلوم  فإنه ليس بينه وبين الله حجاب

Takutlah kamu pada doanya orang yang dizalimi, karena antara dia degan Tuhan tiada batas yang mengantarai”

Untuk itu, mari kita melakukan introsfeksi, apakah amal-amal kita sudah mencerminkan rahmatan lilalamin, yakni tiada kezaliman, kebutuhan ekonomi terpenuhi, tegaknya supermasi hukum, tegaknya stabilitas sosial yang menjamin kedamaian di kalangan rakyat?. Apakah para pemimpin sudah serius memberdayakan, bukan memperdayaka rakyat?.  Apakah sudah ada kebijakan pemerataan kemakmuran rakyat, dan tidak hanya memakmurkan diri, keluarga dan kelompoknya saja?  Jawaban dari semuanya harus kita wujudkan bersama. Allah Akbar.

Kaum Muslmin Yang Berbahagia

Teknologi yang Berteologi dan Definisi Ulama

Sebagai insan Perguruan Tinggi, kita harus sadar akan tanggung jawab rahmatan lil-‘alami, terutama setelah IAIN kita berubah menjadi UIN
(Universitas Islam Negeri).  Untuk itu kita harus mendefinisi ulang “ulama”, dan tidak hanya memahami sebagai ahli agama saja. Jika selama ini sosok ulama hanya dipandang sebagai ahli yan menguasai ilmu agama, maka ke depan pengertian ulama haruslah mencakup sarjana yang menguasai sains dan teknologi. Hal ini, sejalan dengan ungkapan Al-Qur’an, Q.S.Fathir yang berbicara tentang sejumlah fenomena sains dan teknologi, sehingga pengertian ulama pada ayat 28: innama yakhsya Allah min ‘ibadih al-ulama’, (sesungguhnya yang paling patuh kepada Allah ialah hamba-Nya yang ulama), adalah mencakup para sarjana sains dan teknologi itu.

Kita tak dapat menjadi rahmatan lil-‘alamin jika hanya ahli dalam agama tanpa sains dan teknologi, yang merupakan komponen yang mutlak bagi peradaban manusia..  Di bawah paradigma ulama (ahli agama, sains dan teknologi), Islam pernah membangun peradaban yang maju di Baghdad dan Cordova, mendahului peradaban moderen di Barat dewasa ini.  Namun, sejak abad 14 M, peradaban Islam itu runtuh, disusul masa kegelapan yang berkepanjangan, yang dampaknya masih terasa sampai sekarang. Maka untuk membangun kembali peradaban manusia yang cerah, umat Islam memerlukan metode keilmuan yang memadukan teologi dan teknologi, tanpa dikotomi.  Pendidikan terpadu antara sekolah umum dan pesantren, program yang terpadu antara studi agama dan sains, adalah sangat mutlak dan paling menentuka kepeloporan Muslim untuk peradaban dunia masa depan.

Pendidikan Berbasis Akhlak

Walaupun sudah memadukan studi agama, sains dan teknologi, UIN tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya yang utama, yakni menjadi pelopor moralitas bangsa Kepelporan ini semakin penting mengingat sejumlah lembaga pendidikan lain, cenderung hanya menjadi wadah pengajaran untuk semata-mata mencetak generasi yang cerdas dengan segudang ilmu umum, yang mengasah otak tanpa budi pekerti.  Maka jangan heran, jika semakin sering terjadi tindak kriminal di lingkungan pendidikan tertentu, mulai dari tawuran, pembunuhan, kebebasan seks, narkoba, penganiayaan terhadap guru atau dosen, sampai pembakaran kampus.  Kita pun terhadang oleh pertanyaan, quo vadis pendidikan kita?

Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book (WCYB)[1]
pada tahun 2007, dari 55 negara yang disurvei, pendidikan di Indonesia terpuruk, menempati urutan ke 53 ranking ketiga dari bawah.  Maka lengkaplah sudah keterpurukan, dengan maraknya peristiwa kriminal dan amoral di kampus, karena telah membunuh seluruh karakter yang masih tersisa di Perguruan Tinggi.  Pendidikan yang seharusnya berfungsi mewariskan kecerdasan dan akhlak kepada generasi bangsa, justru sering menjadi ajang penghancuran akhlak.

Anak didik semakin mudah emosional; terhadap guru dan dosennya mereka membentak dan melawan; terhadap sesamanya ia tega membunuh, terhadap dirinya ia suntikkan racun narkoba, dan saking gilanya ia pun tak segan membakar kampusnya sendiri.  Apa dan siapa yang salah? Jawabnya, ialah sistem pendidikan yang lebih bersifat pengajaran, minus pendidkkan budi pekerti. Apakah kita akan membiarkan keadaan seperti itu? Puas menyaksikan otak mereka yang brilian, indeks prestasinya mencapai nilai cum laude (nilai 4), tetapi dalam waktu yang sama mereka menjadi calon narapidana masa depan?

Kini, persoalannya terpulang kepada kita, keluarga kita, lembaga UIN kita, dan lingkungan masyarakat kita, semuanya bertanggung-jawab meluruskan generasi bangsa, melalui pendidikan berbasis akhlak, perpaduan harmonis antara pendidikan akhlak dan pencerdasa keilmuan.   Inilah pendidikan yang dikehendaki Islam, sesuai dengan firman Allah SWT Q.S.al-Mujadalah (58): 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ
أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾

Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan mereka yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat.

Kaum Muslmin Yang Berbahagia

Makna Sebuah
Universitas

Tangung jawab kita selanjutnya ialah memaksimalkan arti perubahan IAIN menjadi Universitas. Istilah Universitas berasal dari kata universe yang berarti alam semesta, kemudian lahirlah kata university yang berarti lembaga pengkajian tentang beragam rahasia alam raya ini.  Karena mencakup semua bidang, maka universitas dalam bahasa Arab disebut al-jami`ah.

Untuk itu, Rasulullah SAW mendorong kita untuk melakukan jelajah ilmiyah terhadap alam semesta, sampai beliau bersabda: uthlub al-`ilma walaw bi al-Shin[2] (carilah ilmu walau ke negeri Cina).  Berkat dorongan tersebut, umat Islam di zaman klasik telah mengakses khasanah keilmuan Yunani, Persia dan India.  Maka adalah Khalifah Al-Makmun dari Dinasti Abasiyah mencanangkan alih sains dan teknologi, dengan membentuk lembaga penerjemahan untuk mengalih bahasakan buku-buku peninggalan Yunani, Persia dan India.  Beliaupun mengangkat Hunain Ibn Ishaq seorang Kristen penerjemah yang professional.[3] Belajar dari sejarah tersebut, umat Islam kini seharusnya meneruskan kontak peradaban dengan dunia luar, tidak canggung mengejar sains dan teknologi, belajar soal kemakmuran ke negara-negara Kristen di Barat, tanpa melupakan negara-negara Asia, misalnya Jepang dan teristimewa Cina sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW.  Semua ini bahagian dari misi rahmatan lil-‘alamin yang harus diemban bersama.

Sukses alih teknologi di zaman klasik ditandai lahirnya universitas-universitas Islam di Baghdad dan Cordova.  Melalui universitas-universitas itulah terjadi transfer balek ilmu pengetahuan ke Barat melalui mahasiswa Kristen dan Yahudi yang belajar di dalamnya.  Keadaan telah berubah dewasa ini, setelah umat Islam mengalami kemunduran sekitar tujuh abad, sementara Barat mencapai puncak-puncak kemajuannya, maka kini gilran sejumlah mahasiswa Muslim dari Asia harus belajar ke Eropa dan Amerika.  Maka, mau tak mau, senang atau tak senang, UIN pun harus proaktif berani menjalin kemitraan dengan lembaga pendidikan di Eropa dan Amerika. Sebagai konsekuensi timbal-baliknya, UIN harus pula bersiap-siap untuk menerima mahasiswa non Muslim jika ada yang berminat belajar di sini sebagaimana universitas-universitas Islam di Andalusia (Spanyol Islam) menerima mahasiswa Kristen dan Yahudi.  Begitulah konsekuensi kemanusiaan dari sebuah universitas.

Kaum Muslmin Yang Berbahagia

Jadikan UIN Pelopor Kesadaran Nasional

Pada bahagian akhir khotbah ini, satu lagi tugas rahmatan lil-‘alamin yang maha penting, menjadi tanggung jawab UIN dalam kehidupan berbangsa, yakni mewujudkan kehidupan umat Islam yang aman dan nyaman secara nasional.   Umat Islam di seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke sama-sama membutuhkan kesejahteraan dan keamanan bersama dengan umat agama lain.  Untuk itu kita harus menumbuhkan kesadaran nasional, menghindari sikap egois dan arogansi.  Sebagai bahagian mayoritas di negeri ini, kita umat Islam tidak boleh melupakan bahwa ada wilayah tertentu justru umat Islam berstatus minoritas, seperti di Bali, NTT, Papua, dan sebahagian pulau-pulau di Maluku dan Sumatera.  Untuk mewujudkan rasa aman bagi umat Islam minoritas di wilayah tersebut, maka kita harus menjamin pula keamanan non Muslim di wilayah Muslim mayoritas.

Perlakuan diskriminatif dan penganiayaan terhadap non Muslim minoritas memungkinkan kelompok non Muslim melakukan “pembalasan” diskriminatif atau penganiayaan pula terhadap kaum Muslim di daerah lain.  Contoh kasus yang paling konkret ialah rencana diberlakukannya Perda Injil di Manokwari, yang mempersulit ruang gerak ibadah dan amal sosial umat Islam dan melarang simbol-simbol Islam di sana.  Sangatlah berbahaya jika situasi ini menyebar ke wilayah minoritas Islam lainnya.  Hal ini boleh jadi akibat teraniayanya sebahagian Kristen minoritas di Bekasi dan Depok (Jawa Barat), Tangerang (Banten), Temanggung (Jawa Timur), seperti yang banyak diberitakan akhir-akhir ini.  Maka jelas, jika umat beragama yang mayoritas di daerahnya, bersikap arogan, egois menyebabkan umat lainnya akan tidak aman dan tidak nyaman melaksanakan agamanya.  Ujung-ujung dari semuanya ialah terjadi gesekan konflik horinsontal antar umat beragama.

Untuk menghindari malapetaka tersebut, UIN harus berperan utama untuk membangun rasa persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), bahwa alangkah indahnya jika umat Islam dan umat agama lain saling mengasihi dan melindungi, atas dasar persaudaraan sebagai bangsa.  Dengan cara ini, UIN akan benar-benar menjadi sumber pancaran Islam Rahmatan lil-alamin untuk bangsa.   Allahu Akbar wa lillahi al-hamd.

Forum Umat Beragama (semua agama) bertamu Idil Firi di rumah kami di Makassar

[1][1] Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari
tahun 1997 sampai tahun 2007 pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut pada tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti Indonesia berada di urutan 39. Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002 dari 49 negara Indonesia berada pada urutan 47 dan pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53.

[2]Al-Rubay` bin Habib al-Bashriy, Musnad al-Rubay`, (Beyrut:
Dar al-Hkmah, 1415 H.), Juz I, h. 29.

[3]Dikutip dari Ibn al-Ibri oleh Philip K Hitti, History of the Arabs
(London: The Macmillan Press Ltd, 1973), h. 313.