PENDEKATAN MADZAHIB UNTUK PERSATUAN UMAT

 Oleh: Hamka Haq

I.     Pendahuluan

Tak dapat dimungkiri bahwa di kalangan umat Islam telah terjadi perbedaan pandangan dalam berbagai persoalan keagamaan, bahkan kristalisasi perbedaan itu melahirkan mazhab-mazhab, terutama dalam soal teologi dan hukum (fikih), padahal semuanya bersumber dari (hanya) satu syariah.  Syariah sebagai jalan utama (the highway) yang mutlak diikuti dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam,[1] maka seharusnya paham dan praktek Islam juga tidak bermacam-macam, karena sumbernya hanyalah satu yakni syariah.  Pengertian inilah yang terkandung dalam ayat Q.S. Al-Jatsiyah [45]: 18  dan Q.S.Al-Ma’idah (5): 48  sebagai berikut:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas syariah dari urusan agama itu, maka ikutilah syariah itu (Q.S. Al-Jatsiyah [45]: 18).

Syariah adalah identik dengan teks-teks Al-Qur’an dan Al-Sunnah itu sendiri, yang orang sepakat menerimanya,[2]  karena ia tidak lain dari pokok ajaran Islam yang disebut  al-din ( الدين ) yang tidak boleh ada perselisihan di dalamnya.

 

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيه                                             

Dia telah mensyariatkan bagimu agama, yaitu apa yang telah diwasiatkannya kepada Nabi Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan `Isa, yaitu: ‘tegakkanlah agama dan jangan kamu berpecah belah di dalamnya (Q.S.Al-Syura [42]: 13).

Namun kenyataan, bahwa teologi dan fikih yang dipahami dan diterapkan di kalangan umat Islam mempunyai corak yang berbeda-beda, yang kemudian terbakukan dalam bentuk mazhab-mazhab.  Di bidang teologi lahirlah mazhab Mu’tazilah sebagai penerus paham Qadariyah, Asy`ariyah sebagai penerus paham Jabariyah dan Murji`ah, dan mazhab Maturidiyah yang berusaha memadukan antara keduanya.  Sementara di bidang hukum fikih, yang terkenal di antaranya adalah empat mazhab besar, yakni Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy dan Hanbali.  Berlum lagi kita sebut mazhab di kalangan Syiah.  Mengenai lahirnya mazhab-mazhab tersebut terdapat minimal dua persoalan, yakni:

  1. Mengapa lahir sejumlah aliran (mazhab) dalam Islam, padahal syariah sebagai sumber ajaran Islam hanya satu?
  2. Apakah perbedaan-perbedaan mazahib itu dapat dijembatani untuk merekat persatuan umat Islam?

Mari kita coba menelaahnya sebagai berikut:

II.   Sebab-Sebab Perbedaan Pendapat

            Di zaman Nabi SAW, atau zaman turunnya wahyu, dapat dikatakan peluang perbedaan pendaat masih kecil, karena hampir semua masalah ditanyakan langsung kepada Nabi SAW sendiri.  Hanya sahabat-sahabat yang berdiam di luar Madinah-lah yang mencoba menggunakan ijtihad, terutama menyangkut hukum.  Kasus pengangkatan Mu`adz ibn Jabal sebagai hakim di Yaman yang diawali dengan dialog dengan Nabi SAW tentang cara memutuskan hukum, adalah menjadi dasar pemakaian awal ijtihad, sebagai berikut:

 كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ . [3]

 ‘Bagaimana engkau memutuskan hukum jika dihadapkan padamu suatu perkara?’   Mu`adz berkata: ‘Akan aku putuskan berdasarkan Kitab Allah (Al-Qur’an)’  Rasul bersabda: ‘Jika kamu tidak menemukan di dalamnya?’  Mu`adz berkata: ‘Akan aku putuskan berdasarkan sunnah Rasulillah’    Rasul bersabda: ‘Jika kamu tidak menemukan di dalamnya?’   Mu`adz berkata: ‘Akan aku berijtihad dengan pikiranku, tanpa mempersempit.  Maka Rasulullah SAW menepuk dada Mu`adz sambil bersabda: ‘segala puji bagi Allah yang memberi taufiq bagi utusan Rasul-Nya pada apa yang diridhahi  Rasul-Nya.

 

Ijtihad bukanlah suatu intervensi terhadap hukum Tuhan, karena ia tidak lebih sekadar pemahaman langsung terhadap teks-teks syariah (al-nushush al-syar`iyah), atau paling jauh merupakan upaya konstruksi hukum (insya’ al-hukm) berdasarkan teks yang dikajinya.  Penggunaan nalar lebih tepat jika dikatakan sekadar menemukan makna yang sudah ada dalam kandungan syariah itu sendiri.   Nalar hanya berfungsi al-kasyif (menyingkap) hukum yang sudah ada dalam teks ayat atau hadits, bukan bertindak sebagai al-wadhi` (pencipta) hukum sendiri.

Meskipun demikian, penggunaan nalar (ijtihad) merupakan awal dari meunculnya perbedaan pendapat dalam memahami syariat.  Jadi walaupun syariat hanyalah satu, tetapi pemahaman ulama melahirkan perbedaan pendapat dalam soal hukum dan teologi.  Tampaknya, hukum sebagai kandungan dari syariah, tidak otomatis identik dengan syariah.  Perbedaannya ialah bahwa syariah itu tida beragam, karena berasal dari Allah dan Rasul-Nya sebagai pencipta syariat (Al-Syari`) sedang hukum — yang tidak lain dari kandungan syariah itu sendiri –- diperoleh sebagai hasil penggalian dan pemikiran dari para mujtahid.   Dengan kata lain, jika syariah hanyalah berasal dari Allah dan Rasul-Nya semata, maka lain dengan hukum yang salah satu sumbernya ialah ijtihad di samping Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

Dalam menggunakan nalarnya, para ulama menghadapi dua kemungkinan, yakni mereka langsung mengetahui hukum dari dalilnya yang tegas (al-fiqh al-manshush), atau mereka dapat mengetahui hukum setelah menggunakan nalar sesuai dengan konteks persoalannya, yang disebut fikih kontekstual (al-fiqh al-ma`nawiy).  Hal terakhir ini jika obyek hukum yang dimaksudkan tidak disebut secara tegas dalam nash-nash syariah.  Baik pemahaman tekstual (manshush) maupun pemahaman kontekstual (ma`nawiy), dua-duanya merupakan ijtihad, yang memberi peluang adanya perbedaan pendapat.  

Jika syariah dalam arti nash-nash (referensi) yang mengandung hukum adalah berasal dari Allah, sedangkan fikih merupakan hasil upaya dari manusia, maka konsekuensinya ialah syariah berlaku secara mutlak dan universal untuk segala zaman dan tempat, sedang fikih hanyalah bersifat relatif, sesuai pikiran ulama serta kondisi zaman dan lingkungannya masing-masing.  Selain perbedaan pikiran, masih ada faktor-faktor lain yang membawa ke perbedaan pandangan ulama.  Untuk jelasnya, faktor-faktor penyebab perbedaan pandangan ulama dapat disingkat sebagai berikut:

  1. Perbedaan cara berpikir dan tingkat kemampuan memahami teks syariah.
  2. Perbedaan qiraah (bacaan) di kalangan fukaha.  Contoh yang populer untuk ini adalah kasus membasuh kedua kaki dalam berwudhu.  Perbedaan ini timbul akibat perbedaan membaca kalimat wa arjulakum (وأرجلكم) dalam Q.S.Al-Ma’idah (5): 6, yang sebahagian ulama membacanya: wa arjulikum.  Bagi mereka yang membaca wa arjulakum mengikutkan kalimat ini dengan kalimat-kalimat wujuhakum (mukamu) dan aydiyakum (tanganmu) sehingga kewajiban membasuh kaki harus sama dengan cara membasuh muka dan dua telapak tangan.  Sedangkan bagi mereka yang membaca wa arjulikum mengikutkannya pada kalimat bi ru’usikum (kepalamu), sehingga membasuh kaki tidaklah wajib, tetapi cukup dengan jalan mengusap sebahagiannya sebagaimana mengusap rambut di kepala.[4]
  3. Perbedaan pengetahuan tentang suatu hadits;  misalnya sujud syukur, yang dipandang sebagai sunah oleh sebahagian besar ulama, sedang Imam Malik memandangnya bid`ah.  Hal ini karena Imam Malik tidak menemukan data hadits tentang sujud syukur.
  4. Ketidak jelasan status hadits; misalnya hadits tentang doa qunut subuh,  yang sebahagian ulama memandangnya lemah.
  5. Perbedaan menafsirkan nash atau dalil, misalnya pengartian kalimat aw lamastum al-nisa’, sebagai salah satu hal yang membatalkan wudhu; sebahagian memahami dengan arti persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan, sedang lainnya memahami dengan arti bersetubuh.
  6. Ada lafazh yang mempunyai arti ganda, misalnya kalimat quru’  yang berarti suci dan boleh juga berarti haid, sehingg idah wanita menurut jumhur ulama tiga kali suci, sedang menurut Abu Hanifah tiga kali haid.  Contoh lain ialah kalimat nasakh dapat berarti menghapus dapat pula berarti menulis ulang, sehingga nuskhah (dalam bahasa Indonesia diartikan naskah) adalah sebuah hasil tulisan.  Dari sini timbul perbedaan pendapat tentang adanya ayat yang dinasakh, apakah ayat itu dihapus, ataukah ditulis dalam bentuk naskah baru..
  7. Pertentangan arti lahir dari suatu dalil; misalnya ada ayat yang menganjurkan berwasiat kepada kerabat keluarga, sementara ada pula hadits yang melarangnya.
  8. Tak adanya nash/dalil menyangkut suatu masalah, justru membuka seluas-luasnya peluang bagi terjadinya perselisihan paham.[5]

III.   Menjembatani Perbedaan

            1. Hikmah Kemaslahatan

      Istilah hikmah (حكمة) banyak dijumpai dalam Al-Qur’an, bahkan seringkali dikaitkan dengan Al-Kitab, seperti firman Allah dalam Q.S.al-Baqarah (2): 129, yang berbunyi: ويعلمهم الكتاب والحكمة,   yang artinya: “… dan Dia mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah”.  Tidak kurang dari sembilan ayat yang menyebut dua kata tersebut secara beriringan.  Hikmah biasa diartikan: kebijaksanaan (wisdom), yakni kesadaran dan sikap seseorang yang membawa dirinya berakhlak baik dan tercegah dari akhlak buruk.  Dengan demikian perkataan hikmah mengandung makna filosofis menyangkut intelektual dan moral seseorang.  Dalam konteks ini kita dapat memahami hikmah yang diberikan Tuhan kepada Luqman al-Hakim[6], yakni suatu kemampuan intelek dan sikap arif dalam memahami dan melaksanakan hukum-hukum Tuhan.[7]

Bahwa hikmah syariat ialah terwujudnya kemaslahatan manusia, yang salah satu sisinya ialah persatuan, perdamaian, agar terhindar dari konflik yang merusak kehormatan dan bisa berakibat pembunuhan, padahal syariah datang untuk melindungi jiwa manusia (hifzh al-nafs).  Maka salah satu jalan untuk menghindari perpecahan umat, ialah pendekatan hikmah kemashlahatan, yaitu pemahaman bahwa semua pendapat yang berbeda-beda itu bermaksud untuk kemashlahatan, tidak ada yang bertujuan untuk merusak.  Karena itu, tak satu pun kelompok yang berhak untuk hidup sendiri, kemudian berusaha untuk menumpas yang lainnya, justru semua kelompok adalah bermitra mewujudkan kemashalahatan bersama.  Pendekatan seperti ini sangat sejalan dengan sifat syariat itu sendiri yang sangat elastis, dan memberi peluang untuk lahirnya pendapat yang berbeda.

Dengen demikian, kita mengetahui bahwa perbedaan pendapat (mazhab) adalah dibiarkan Tuhan untuk kita saling memahami, berkompetisi tanpa konflik untuk sama-sama mewujudkan kemaslahatan itu.  Andai kata Allah ingin menerapkan syariah-Nya tanpa perbedaan, niscaya syariah yang diturunkannya akan selalu sama sejak dari penciptaan awal manusia (Nabi Adam).  Dia pun akan pasti menetapkan zaman dan kondisi kehidupan manusia tidak berubah dan tidak beragam, sehingga manusia akan menjadi satu umat yang seragam.  Namun ternyata Tuhan membiarkan perubahan dan perbedaan itu terjadi sebagai bentuk dinamika kultur kemaslahatan manusia.  Perhatikan ayat berikut:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan syariah dan cara (hidup) yang baik.  Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (dengan syariah yang seragam), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya dengan apa yang kamu berbeda di dalamnya (Q.S.Ama’idah [5]: 48)

Sayangnya, sebahagian masyarakat kita cenderung menganut pahamnya secara egois, keluar dari hikmah kemaslahatan. Mereka pun bangga menyebut diri sebagai Muslim yang tegas, istiqamah dan kaffah, karena tidak terpengaruh pendapat lain, walau ternyata kondisi sosial yang dihadapinya sangat memerlukan penyesuaian dengan saling menerima pendapat yang berbeda.

Contoh konkret untuk pendekatan kemashlahatan ini, kita sebutkan hikmah ibadah shalat untuk persatuan dan kedamaian manusia, yang harus ditegakkan secara mutlak tanpa dilanggar oleh siapapun.  Begitu pentingnya persatuan, maka banyak dalil yang menganjurkannya, bahkan menurut salah satu hadits shahih orang-orang yang lari dari persatuan umat akan halal darahnya[8].  Akan tetapi seringkali orang bersifat egois sesuai mazhabnya, menyingkirkan mazhab lainnya, yang berujung pada konflik dan dendam.  Padahal, Tuhan telah mengancam orang yang bershalat tanpa hikmah tolong menolong (persatuan) yang dikandungnya.  Tuhan menegaskan:  

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Neraka bagi mereka yang bershalat, mereka lalai memberi makna shalatnya, mereka bershalat sebatas riya’ (formalitas hukum semata),  lalu enggang tolong menolong dalam persatuan (Q.S.Al-Ma`un [107]: 4-7).

Bahkan, demi persatuan, pelaksanaan shalat dapat saja bergeser dari hukum yang baku kepada cara-cara yang tidak baku sama sekali dalam mazhab apapun.  Misalnya salah satu rukun shalat ialah bersujud di lantai, yang jika dilaksanakan di Masjidil Haram pada musim haji, di tengah desakan lapisan jamaah yang bertawaf keliling Ka`bah, dapat berubah menjai bersujud di punggung orang, atau di tembok terdekat, agar lehernya tidak patah, atau tewas sekektika terinjak di bawah arus jamaah.  Orang yang merasa pungungnya ditempati sujud, tidak boleh marah demi persaudaraan keislaman.

Begitupun ibadah haji, mengandung hikmah kemaslahatan manusia.  Karena itu dalam ibadah haji, jamaah dilarang keras saling mencaci dan menghujat:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Haji itu terlaksana dalam beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan di dalamnya akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan (bertengkar)  pada saat mengerjakan haji (Q.S.al-Baqarah [2]: 198).

Siapa yang dapat memenuhi pesan hikmah kedamaian di atas, itulah Muslim yang memperoleh haji mabrur, sebagai simbol kesempurnaan keislaman, sebagaimana janji Tuhan, “Haji Mabrur tiada balasannya kecuali sorga”[9].  Untuk itu, tidak cukup dengan hukum formal haji yang sudah baku berdasarkan mazhabnya masing-masing, tetapi tergantung pula pada hikmah kemaslahatannya, baik selama di tanah suci maupun ketika kembali ke tanah air sesudahnya. Karena itu, hikmah haji, tak dapat tidak, haruslah dipadukan dengan hukumnya.  Jangan sampai ada pelaksanaan hukum haji yang kaku, kemudian mengabaikan perlunya persaudaraan.   Kita sering menemukan jamaah haji di sekitar Ka`bah, bertengkar berebut tempat di multazam, atau berdesakan dan berhimpitan di sekitar pintu Masjidil Haram, memperebutkan Babussalam, atau di tempat mas`a (sa`i), dan sebagainya.  Hal itu disebabkan adanya doktrin hukum yang kaku, bahwa haji mabrur dicapai dengan memaksakan diri melaksanakan formalitas hukum, tanpa peduli benturan fisik, konflik perasaan, saling menyakiti dan mungkin juga dendam dalam hati terhadap sesama Muslim.  Dalam keadaan demikian, haji tidak mungkin mabrur lagi, karena melanggar hikmah haji, yakni nilai-nilai luhur persaudaraan untuk persatuan.

              2.     Tasamuh

Dengan pendekatan hikmah kemaslahatan, maka terjadilan sikap saling menghargai antar mazhab, yang ditandai dengan tidak saling menyalahkan, bahkan kelompok yang berbeda-beda mazhabnya itu bersedia membaur dalam pelaksanaan ibadah dan mu’amalah.

Contoh konkret misalnya menyangkut shalat Tarawih, khususnya di Indonesia, sebahagian kalangan Muslim berpendapat bahwa jumlah rakaat tarawih sebanyak 8 rakaat ditambah 3 rakaat Witir, sementara yang lainnya berpendapat jumlahnya 20 rakaat ditambah 3 rakaat Witir.  Kanyataannya, semakin lama dua pendapat tersebut semakin akrab, dan sudah tidak saling mempersoalkan, karena dua-duanya dapat dipraktekkan dalam satu tempat, jika kelompok yang berbeda itu bersikap tasamuh.   Belum lagi mengenai perbedaan cara bershalat witir, ada yang tiga rakaat sekaligus, ada pula yang dua rakaat tambah satu, namun mereka masih sama dalam soal jumlah tiga rakaat.  Bahkan dalam sejumlah hadits dapat disimpulkan bahwa bahwa witir bisa sampai 11 rakaat, minimal satu rakaat. [10]

Demikian juga soal qunut, harus dipahami bahwa semua mzahab menerima adanya qunut, dan menganggapnya sebagai sunnah Rasulullah SAW.  Perbedaan mereka ialah waktu pelaksanaannya, sebahagian mengatakan bahwa dilaksanakan sebelum ruku, pendapat lain mengatakan sesudah ruku.  Hal yang krusial ialah, apakah qunut itu diharuskan pada setiap shalat subuh.  Al-Syafi`i, mentradisikannya pada setiap shalat subuh, sementara yang lainnya membolehkan pada setiap shalat, kapan saja terjadi musibah di kalangan umat Islam.  Mazhab ini berdasar pada asal-mula qunut, yani ketika terjadi pembunuhan masal atas sejumlah penghafal Al-Qurt’an oleh kaum musyirkkin, seperti dalam hadits yang bersumber dari Anas bin Malik berikut:

إنما قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد الركوع كان بعث قوما يقال لهم القراء زهاء سبعين رجلا إلى قوم من المشركين فغدروا وقتلوا القراء دون أولئك وكان بينهم وبين رسول الله صلى الله عليه وسلم عهد فقنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شهرا يدعو عليهم  ولأحمد والدارقطني نحوه أي من حديث أنس من وجه اخر وزاد فأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا[11]

Bahwasnya Rasulullah SAW qunut sesudah ruku, ketika beliau mengutus sebanyak 70 orang lelaki penghafal Al-Qur’an kepada sekelompok kaum Musyrikin, yang terikat perjanjian dengan Nabi, maka Rasulullah SAW qunut selama sebulan mendoakan atas mereka.  Bagi Ahmad, al-Darquthni, seperti hadits ini, dari Anas dalam versi lain, menambahkan: adapun pada shalat Shubuh, tidak pernah luput hingga meninggal dunia.

Hal ini juga dapat dipadukan bahwa mazhab selain Syafi`iyah dapat saja mengikuti tradisi Syafi`iyah, dengan prinsip bahwa saat sekarang ini, tak ada lagi waktu yang luput dari penganiayaan umat Islam di seluruh dunia, sehingga minimal qunut itu dilakukan sekali sehari.  Atau sebaliknya, kaum Syafi’iyah juga dapat memahami bahwa qunut itu bukan keharusan di shalat Subuh saja, sehingga tidak mempersalahkan orang yang tidak qunut shubuh.

Selain itu, ada pemahaman yang dapat lebih mempersatukan umat, bahwa qunut itu ialah ithalat al-qiyam (lama waktu berdiri) dalam shalat, bukan doa qunutnya.  Pemahaman ini dapat mempersatuakan antara pendapat yang mengatakan bahwa qunut dilakukan sebelum ruku dengan pendapat yang mengatakan sesudah ruku, yakni dua-duanya bermakna lama berdiri. [12]  Yang pertama lama berdiri karena bacaan (ithalat al-qiyam bi al-qiraah ), dan yang kedua lama berdiri disertai doa (ithalat al-qiyam bi al-du`a’i ). Pengertian ini dipraktekkan sejak dahulu oleh para imam Masjidil Haram di Makkah dan Madinah, mereka lama berdiri sesudah ruku terakhir Shalat Subuh, walaupun tidak kedengaran membaca doa.

          3.  Memadukan Pendapat Yang Berbeda 

Salah satu bentuk tasamuh ialah memadukan pendapat yang berbeda dalam satu pengamalan bersama.  Jika hal ini dapat dilakukan maka persatuan umat betul-betul terlaksana dalam pengamalan syariat Islam.  Memadukan (al-tawfiq) dan menghimpun (al-jam`u) sebenarnya sering menjadi cara penyelesaian dalam perbedaan pendapat ulama dalam kitab-kitab fiqih, tetapi masih jarang dipraktekan dalam pengamalan ibadah, padahal berpecahan umat lebih parah dalam praktek suatu ibadah atau pemahaman.

Kita ambil contoh konkret di Indonesia ialah perbedaan dalam menetapkan dan melaksanakan shalat Ied, terutama shalat Ied al-Fithr.  Hal ini karena perbedaan cara penetapannya; yakni dengan metode hisab (perhitungan posisi bulan) dan metode rukyah (penyaksian terbitnya bulan).  Persoalan ini tentu saja berdampak terhadap perpecahan internal umat Islam sendiri, yang tiada habisnya di antara dua kubu (hisab dan rukyah) yang masing-masing berpikir hitam putih.  Maka, sebaiknya dicari solusi terbaik, demi persatuan umat.

Hisab adalah mengetahui awal Ramadhan, awal Syawal, dan awal Dzulhijjah menurut hitungan ilmu falak.  Hisab meneliti perjalanan bulan yang dengan posisi yang selau bergesar pada setiap terbenamnya matahari, yang dalam satu putaran berlangsung sekitar 29 atau 30 hari.  Ahli falak memperthitungkan secara cermat berapa hari, berapa jam, berapa menit dan berapa detik perjalanan bulan dalam satu putaran, mulai dari awal terbit sampai kembali ke posisinya semula.  Dengan cara ini, mereka dapat menentukan awal terbit hilal (bulan sabit) di setiap bulan, meskipun hilal sulit dilihat dengan mata kepala.

Sementara itu, rukyah mengandalkan kemampuan penglihatan kasat mata terhadap bulan (hilal). Akibatnya, dahulu seringkali hilal di awal Ramadhan sebenarnya sudah terbit, tapi orang belum berpuasa karena belum melihat bulan. Demikian pula di awal Syawal, hilal telah terbit, namun orang belum ber-Idil Fitri, dengan alasan yang sama.  Tetapi, problema ini sekarang sudah teratasi dengan semakin canggihnya teknik peneropongan benda-benda angkasa sehingga upaya melihat bulan secara akurat semakin memungkinkan dengan bantuan teknologi moderen.  Maka kini tak ada alasan lagi untuk mengatakan: hilal tidak tampak oleh mata kepala. 

Namun, tidak berarti hisab harus ditinggalkan,  justru hisab semakin diperlukan, sebab alat teropong dapat dioperasikan secara akurat hanya jika dibantu oleh data perhitungan hisab yang sudah ada.  Dengan demikian, hisab dan rukyah sebenarnya saling melengkapi, tidak bertentangan secara mutlak.  Kata orang, kalau bisa dipadukan mengapa harus dipertentangkan.  Maka, seyogyanya umat Islam menganut prinsip mushawwibah, yakni mengakui adanya kebenaran pada dua metode yang berbeda itu.  Mereka hendaknya menghindari sikap mukhaththi’ah, yang secara egois saling menyalahkan.   Sebenarnya, hal ini sudah lama diketahui orang.  Akan tetapi, mungkin karena dorongan egoistis, dan perasaan unggul sendiri maka umat menjadi berfirqah-firqah dalam dua kubu, yakni ahlu hisab dan ahlu rukyah.  Maka saatnyalah kita sekarang meluruskan dan memperbaikinya demi persatuan umat. 

Bahkan lebih dari itu, umat Islam se Dunia sehausnya mewacanakan penyatuan mathla’, sehingga hari raya Islam se Dunia dirayakan dalam satu hari bersamaan. Penulis kitab Al-Fiqh `ala al-Madzahib al-Arba`ah, menyatakan:  idza tsabata ru`yatul hilal bi qathr min al-aqthar wajab al-shawm `ala sair al-aqthar la farq bayna al-qarib min jihat al-tsubut (apabila telah ada rukyah di suatu negeri di antara negeri-negeri lainnya, maka wajiblah puasa atas segenap negeri-negeri itu, tanpa perbedaan dengan negeri yang terdekat dari arah penetapan itu).[13]   Senada dengan itu, dalam Kitab Fiqh al-Sunnah, Sayid Sabiq menulis: “dzahaba al-jumhur ila annahu la `ibrata bi ikhtilaf al-mathali`;  famata ra’a al-hilala ahlu baladin, wajab al-shawm ala jami`i al-bilad (mayoritas ulama berpendapat bahwa perbedaan mathla` tak dapat menjadi dasar pertimbangan.  Karena itu, kapan saja ada penduduk di suatu negeri telah melihat bulan, maka wajiblah puasa atas seluruh negeri-negeri itu.”.[14]

Mungkin hal di atas terlalu ideal dan utopis, namun penulis mengajak ke hal-hal yang lebih konkret lagi, bagaimana umat dapat bersatu dalam pelaksanaan shalat Idul Fithri dan Iedul Adhha, walaupun perhitungan mereka berbeda.  Sebenarnya persoalannya sangat sederhana, asalkan kita mau menerapkannya demi persatuan dan kebersamaan umat.  Misalkan terjadi penetapan Hari Raya Iedul Fitri yang berbeda, maka tentu saja mereka yang berlebaran lebih dahulu mengharamkan puasa Ramadhan di hari itu.  Mereka harus berbuka hari itu, namun demi persatuan umat, maka mereka juga boleh menunda shalatnya ke esok hari untuk shalat Iedul Fitri bersama dengan umat Islam lainnya yang berlebaran di hari esoknya itu.  Menunda pelaksanaan shalat, pernah terjadi di zaman Nabi SAW, sebagai disebutkan dalam hadits dari Umair bin Anas:

قالوا غم علينا هلال  شوال فأصبحنا صياما فجاء ركب من آخر النهار فشهدوا ثم رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أنهم رأوا الهلال بالأمس فأمر الناس أن يفطروا من يومهم وأن يخرجوا لعيدهم من الغد [15]

Mereka berkata: Tak tampak bagi kami hilal Syawal, maka kami tetap berpuasa, kemudian datang beberapa pengendara dan bersaksi di hadapan Nabi SAW bahwa mereka telah melihat hilal kemarin petang, maka Nabi SAW memerintahkan mereka berbuka hari itu, dan keluar shalat Ied pada esok harinya.

Bagi mereka yang sudah bershalat di hari sebelumnya, masih dapat bershalat Ied lagi pada hari berkutnya bersama dengan jamaah lainnya yang baru bershalat Ied.  Mengulangi shalat dibolehkan bahkan kadang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, antara lain riwayat dari Yazid bin Amir berikut:

قال لي رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ثم إذا جئت إلى الصلاة فوجدت الناس يصلون فصل معهم وإن كنت قد صليت تكون لك نافلة[16]

Bersabda padaku Rasulullah SAW, jika engkau mendapatkan sekelompok manusia bershalat, maka bershalatlah bersama mereka, meskipun engkauy telah bershalat, sebagai tambahan bagimu.

Riwayat lain dari Yazid bin Aslam menyebutkan bahwa seorang bernama Basyr bin Mahjan beraudiens pada majlis Rasulullah SAW, tiba-tiba shalat diiqamat, maka Rasulullah SAW pun bershalat, kemudian kembali menemui Mahjan, dan bertanya mengapa engkau tidak ikut shalat? Apakah engkau bukan Muslim?  Mahjan menjawab: aku telah bershalat bersama keluargaku.  Maka Rasulullah bersabda padanya: إذا جئت فصل مع الناس وإن كنت قد صليت  (jika engkau menemukan seperti ini maka bershalatlah bersama manusia lainnya, walaupun engkau sudah bershalat.)[17]

Kasus lain, yang menarik dikemukakan ialah pelontaran jamrah dalam ibadah haji.  Semua mazhab sepakat bahwa melontar jamrah pada hari pertama dimulai dari saat terbit fajar, sedang pada hari kedua, ketiga dan keempat, semuanya harus dimulai setelah tergelincir matahari.  Namun fatwa ulama Saudi membolehkan melontar jamrah pada pagi hari untuk semua hari tersebut, demi kemudahan jamaah haji, menyalahi semua mazhab, termasuk mazhab Hanbali yang berlaku di Saudi[18].  Sebelum fatwa ulama Saudi tersebut, jamaah haji dari Turki dan sebahagian dari Afrika, sejak dulu melontar jamrah di hari kedua dan seterusnmya, sejak di pagi hari.  Ini merupakan mazhab baru, yang merespon kebutuhan umat, demi kemaslahatan jamaah itu sendiri.

            Selama ini, sebahagian orang tetap merasa mudah melontar, sehingga tetap berpaham bahwa waktu yang sah untuk melontar ialah sesudah lewat tengah hari.  Orang seperti itu tidak menyadari bahwa kelonggaran yang ia rasakan adalah disebabkan sebahagian besar jamaah haji dari negara lain, misalnya Afrika, Turki dan Asia Tengah telah melontar sejak di pagi hari.  Andaikata itu tidak terjadi, maka tak dapat dibayangkan betapa menderitanya 3 (tiga) juta jamaah jika terkonsentrasi melontar bersamaan lewat tengah hari di tempat sesak itu.  Untuk itu, fikih perlu diperbaharui, dengan pemahaman kontekstual, guna memberi kemudahan bagi umat untuk melontar di pagi hari pada hari kedua dan ketiga di Mina.

IV.    Penutup

Semoga dengan pendekatan kemashlahatan disertai dengan sikap tasamuh yang penulis kemukakan di atas, perselisihan umat Islam dapat dijembatani sehingga mereka dapat memahami dan melaksanakan syariat Islam dengan semangat ukhuwah, walaupun mereka berbeda-beda mazhab.   Dengan cara-cara seperti di atas, kita menerima perbedaan sebagai anugerah yang penuh berkah dan rahmat dari Allah SWT.  Menjauhkan perbedaan yang bermuara pada perpecahan dan konflik ummat, itulah makna ikhtilafu umatiy rahmah.

 


[1]Ahmad Hasan, The Early Development of Islamic Jurisprudence, (Islamabad: Islamic Research Institute, 1970), h. 7. Menurut Abu al-Husayn Ahmad bin Faris bin Zakariyah, perkataan syariah berarti sesuatu yang terbentang jalan kepadanya.  Dari sinilah terbentuk kata  syari`at yang berarti sumber air minum. Lihat dalam bukunya: Mu`jam Maqayis al-Lugah (Ttp.: Dar al-Fikr li al-Taba`ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi`, 1979), Juz III, h. 262.

[2]Lihat dalam `Abbas Husni Muhammad, Al-Fiqh al-Islamiy, Afaquh wa Tatawwuruh, (Makkah: Rabitat al-`Alami al-Islamiy, 1402), hh. 7-8.

[3]Lihat dalam Abu Dawud, Sunan Abi Dawud bi Syarh `Awan al-Ma`bud, (Beyrut: Dar al-Fikr, 1979), Juz IX, h. 509.  Lihat juga dalam Sunan Abi Dawud, Kitab al-Qadha’, Bab Ijtihad al-Ra’y  fi al-Qadha’(T.t., Dar al-Fikr, t.t.), Juz III, h. 303.

[4]Lihat dalam Mustafa Sa`id al-Khinn, Atsar al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Ushuluiyat fi Ikhtilaf al-Fuqaha’ (Al-Qahirah: Mu’assasat al-Risalah, 1972), h. 38.

[5]Untuk lengkapnya, lihat pula contoh-contoh yang dikemukakan dalam ibid., hh. 38-115.

[6]Luqman adalah prototipe figur pribadi yang paripurna yang secara legendaris dihormati oleh masyarakat Arab.  Namanya diagung-agungkan dalam suatu puisi yang ditulis oleh Ziyad ibn Mu`awiyah, atau lebih masyhur dikenal dengan nama Nabighah al-Dhubyaniy, yang hidup pada abad VI M.  Pribadi Luqman sendiri diperkirakan hidup beberapa abad sebelum datangnya Islam, dikenal oleh masyarakat Arab lewat sejumlah legenda dan ceritera tentang kebijaksanaan dan kearifan rohani.  Bandingkan dengan Mohammad Asad, The Massage of the Qur’an, h. 628.

[7]Bandingkan dengan penjelasan yang diberikan oleh E.W.Lane, Arabic English Lexicon,  Volume I, di bawah kata hikmah (حكمة ), h. 617.

[8] Lihat haditsnya dalam Muslim, Shahih Muslim, (Beyrut: Dar Ihya’ al-Turats al-`Arabiy, t.t.), Juz III, h. 1302.

[9] Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, (Mishr: Muassasat Qurthubah, t.t.), Juz II, h. 246 & 461.

[10] Lihat selanjutnya dalam Al-Kahlaniy, Subul al-Salam, Juz 2, h. 10 dst.

[11] Al-Kahlaniy, Subul al-Salam, (Dar Ihya al-Turats al-`Arabiy, 1379) Juz 1, h. 185

[12] Ibid., h. 186.

[13] Al-Fiqh `ala al-Madzahib al-Arba`ah, Juz I, h. 550

[14] Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Jlid I, h. 385,

[15] Al-Syawkaniy, Nayl al-Awthar, (), Juz 3, h.381.

[16] Darquthni, Sunan al-Darquthni,  Juz 1, h. 276.

[17] Al-Nasa’iy, Al-Sunan al-Kubra, Juz 1, h. 299.

[18] Lihat dalam Ahmad Abdul Ghafur `Aththar, Ahkam al-Hajj wa al-`Umrati min Hijjati al-Nabiyyi wa Umarih, (Makkah al-Mukarramah: 1990).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s