MEMBENDUNG TERORISME MELALUI PENDIDIKAN

Oleh: Hamka Haq

Dalam sewindu terakhir, pendidikan Islam di tanah air patut bersedih atas dikaitkannya dengan gerakan terorisme. Mulai dari dakwaan keterlibatan salah seorang pembina dan beberapa santri dari Pesantren Ngruki pada bom Bali, baik yang sudah dieksekusi maupun yang masih dalam prorses hukum di pengadilan, sampai terungkapnya pelaku teroris yang berstatus mahasiswa salah satu UIN (Universitas Islam Negeri), seiring pula dengan terungkapnya gerakan bawah tanah NII (Negara Islam Indonesia) yang juga melalui Pergurruan Tinggi. Apa yang salah di dunia pendidikan kita, sampai timbul paham dan gerakan yang mencederai ajaran luhur Islam yang cinta damai? Mengapa sampai sekarang masih ada pihak yang berupaya untuk mengubah ideologi negara Pancasila yang sudah menjadi kesepakatan pendiri negara sejak tahun 1945, termasuk oleh ulama (tokoh Islam) ketika itu, K.H,. Wahid Hasyim (NU) dan Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah)?.

Jika kita berbicara pendidikan secara umum, satu hal penting yang tak dapat diabaikan karena merupakan sumber kecerdasan dan inspirasi anak didik, ialah kurikulum. Meskipun kurikulum sangat penting dan paling menentukan namun sering diabaikan oleh pelaksana pendidikan itu sendiri. Pada umumnya perbincangan soal pendidikan yang hangat selama ini hanya menyangkut soal sarana dan prasarana karena berkaitan dengan proyek-proyek, soal tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya, soal biaya pendidikan, apakah gratis atau tidak, soal Badan Hukum Pendidikan untuk Perguruan Tinggi, dan yang paling hangat diperdebatkan sampai ke tingkat parlemen ialah soal Ujian Akhir Nasional. Amat jarang pihak pemerintah dan pihak terkait membahas soal kurikulum pendidikan, yang justru menjadi penentu masa depan out put pendidikan itu sendiri. Kurikulumlah menjadi cetak biru intelektual, moralitas dan mentalitas para anak didik yang terlibat di dalamnya. Kurikulum menawarkan sejumah kecerdasan, keterampilan dan pembawaan diri (akhlak dan budi pekerti) bagi para anak didik. Jadi kalau pada akhirnya ada santri dan mahasiswa yang terlibat gerakan teroris, dan gerakan bawah tanah NII, maka salah satu faktor yang perlu dipertanyakan ialah kurikulum pendidikan kita.

Menurut pengamatan penulis, khususnya terhadap pendidikan Islam, sudah saatnya kita mengevaluasi relevansi materi pelajaran tertentu dengan kondisi dan tuntutan zaman kita sekarang. Hal ini karena beberapa materi pelajaran dalam dunia pendidikan Islam terasa sudah tidak relevan lagi, walaupun sudah dianggap baku selama ini. Untuk sementara, kita bisa menyebut saja bahwa materi pelajaran yang sudah saatnya diperbaharui ialah materi pelajaran fikih tentang jihad, dan materi pelajaran Sejarah Islam.

Batasan studi dan definisi yang digunakan pada dua bidang studi tersebut, merupakan warisan dari kurikulum pendidikan Islam yang berlaku sejak zaman kolonial Belanda. Pada zaman kolonial, kurikulum pendidikan memang dirancang untuk mendorong semangat perjuangan mengusir penjajah. Dalam pada itu segenap pendidikan Islam di zaman penjajahan, terutama pesantren adalah saling berhadap-hadapan dengan kepentingan penjajah. Untuk itu muatan pelajaran fikih tentang jihad (kerja keras) diisi dengan pengertian peperangan bersenjata melawan Belanda. Maka jadilan jihad itu bermakna perang, padahal dalam bahasa Arab, jihad berarti kerja keras, sedang perang disebut al-qital. Muatan jihad sebagai perang yang tertuang dalam kurikulum ketika itu sah-sah saja, tidak menyalahi kaedah tafsir, karena memang semua bangsa Indonesia, khususnya umat Islam harus bekerja keras mengusir Belanda dengan jalan perang bersenjata melawan mereka.

Namun di zaman kemerdekaan, apalagi di zaman sekarang yang konteks kerja kerasnya bangsa kita sudah berubah, bukan lagi melawan penjajah dengan kontak fisik, maka sudah tidak relevan lagi jika memaknai jihad dengan perang bersenjata. Persoalan yang dihadapi bangsa kita sekarang ialah bagaimana mengatasi sisa-sisa penjajahan yang masih mendera kehidupan masyarakat, yakni kebodohan, kemiskinan, kemelaratan, dan mudahnya dihasut untuk suatu konflik sosial (devide et impera). Untuk itu, sudah saatnyalah anak didik mulai dari Taman Kanak-Kanan (TK) sampai Perguruan Tinggi, diberi pemahaman bahwa jihad yang dibutuhkan bangsa kita ialah belajar keras menguasai ilmu dan teknologi untuk memerangi kebodohan; berusaha untuk mengolah hasil bumi dan tambang kita sendiri untuk kesejahteraan masyarakat guna memerangi kemiskinan; mewujudkan kebiasaan hidup yang sehat jasmani dan rohani, sehat lingkungan adalah jihad untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa agar tidak melarat dan sakit-sakitan. Tak kalah pentingnya, berjuang melawan egoisme kelompok, adalah jihad untuk memersatukan bangsa yang plural, agar semua etnis dan agama menjadi perekat persaudaraan kebangsaan. Penulis yakin makna jihad (kerja keras) seperti inilah yang relevan dengan konteks kekinian bangsa dan negara kita, ketimbang jihad yang selalu meminjam arti perang bersenjata dalam permusuhan fisik.

Jihad sebagai suatu ajaran luhur agama Islam, jika selalu diartikan dalam konteks perang, akan menanamkan paham bahwa perang bersenjata merupakan ajaran luhur yang mutlak diamalkan guna memperoleh ridha dari Allah SWT. Paham seperti inilah dengan mudah berubah menjadi tindakan kezaliman atau bom bunuh diri melawan setiap yang berbeda dengan paham agama yang dianutnya. Paham ini sesungguhnya telah menjadi dasar teologis para kaum terorisme itu.

Materi pelajaran lain yang harus dievaluasi pula ialah studi sejarah Islam. Di masa penjajahan, kurikulum sejarah Islam lebih menonjolkan kepahlawanan para sahabat Nabi dan khalifah, begitupun keberanian berekspansi menaklukkan wilayah ke luar jazirah Arab. Maka jadilah studi sejarah itu menjadi kisah peperangan yang heroik, yang sengaja dirancang untuk membangkitkan semangat kepahlawanan anak didik melawan Belanda. Hingga sekarang, kurikulum seperti ini, masih digunakan di semua jenjang pendidikan Islam. Maka, jika di satu sisi fikih mengajarkan perlunya berjihad dalam arti berperang, kemudian disambut oleh sejarah Islam dengan kisah-kisah kepahlawanan para sahabat dan khalifah Islam di masa lalu, maka semakin mengkristallah mental mujahid berani mati, mental herois yang siap perang setiap saat di kalangan anak didik kita. Karena hasrat perang mereka tidak tersalurkan seperti di era penjajahan, maka akhirnya mereka menyalurkannya ke dalam bentuk teror yang salah satu wujudnya ialah bom bunuh diri.

Karena itulah studi sejarah pun haruslah devaluasi. Studi sejarah yang tadinya menonjolkan kepahlawanan sahabat Nabi dan para khalifah serta hasrat berekspansi menaklukkan umat lain, sebaiknya kini lebih mengutamakan etika. Studi Sejarah seharusnya lebih banyak mengandung kisah kelembutan dan toleran dari Nabi SAW, ketegasan Khalifah Umar RA dalam memimpin, kedermawanan seperti yang dicontohkan oleh Abu Bakar RA dan Utsman RA, kemudian diteruskan oleh generas sesudahnya. Demikian pula kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah, yang rela memikul sendiri gandum yang akan dibagikan kepada orang-orang miskin di pedesaan. Begitupun misalnya kecintaan Ali RA pada ilmu pengetahuan, atau seperti yang dilakukan oleh Khalifah Al-Makmun dari Dinasti Abasiyah yang mengumpulkan berbagai ragam buku pengetahuan dari Yunani, Romawi, Persia dan India untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Bahkan lebih menarik lagi kisah legendaris Sultan Salahuddin al-Ayubi, lebih dikenal dengan Sultan Saladin, yang tidak menzalimi lawan-lawannya; dengan sikap toleran dan rasa kemanusiaan, ia pernah mengirim dokter dan obat-obatan kepada panglima perang yang memusuhinya.

Penulis yakin, kajian sejarah Islam yang lebih menitik beratkan etika, kecintaan pada ilmu pengetahuan, ketegasan memimpin, kedermawanan, rasa pengabdian kepada rakyat serta rasa kemanusiaan yang begitu tinggi, seperti contoh-contoh tersebut di atas, adalah jauh lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara kita sekarang ini, ketimbang kajian sejarah yang menitik beratkan kepahlawanan dan peperangan. Apalagi jika semua hal kebajikan tersebut dijadikan sebagai bahagian dari kerja keras kita untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa kita. Kerja keras inilah yang sebenarnya arti sejati dari jihad dalam bahasa Arab, ketimbang mengartikan jihad menjadi perang bersenjata. Diharapkan dengan pembaharuan kurikulum ke arah yang lebih humanis, ajaran Islam rahmatan il-alamain dapat terbumikan di negeri kita, tidak sebatas wacana para ilmuwan dan khotib di mimbar-mimbar ilmiyah dan pengajian. Semoga! Wa ‘Llahu a’lam bi ‘l-shawab. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s