POLITIK MAYORITAS-MINORITAS DI INDONESIA

POLITIK MAYORITAS-MINORITAS DI INDONESIA

Kondisi Obyektif:

  1. A.   Aspek Kependudukan:

–      Dipandang dari aspek kependudukan,  peneggunaa terminologi mayoritas-minoritas mengacu ke realitas etnis dan agama yang disandang masyarakat.  Bahwa ada etnis tertentu yang karena jumlahnya banyak, maka disebut sebagai etnis mayoritas, sedang yang lainnya disebut minoritas.   Secara nasional, etnis Jawa merupakan etnis mayoritas di atas etnis-etnis lainnya yang minoritas.

–      Demikian pula, dari aspek agama, bahwa penganut agama tertentu yang jumlahnya banyak disebut sebagai mayoritas, dan yang lainnya disebut minoritas.   Secara nasional, umat Islam merupakan mayoritas di atas umat agama lainnya yang minoritas.

 

  1. B.   Aspek Kewilayahan:

–      Dari segi politik, besar-kecilnya jumlah populasi, bak dari segi etnis maupun agama, tidak dapat menjadi pertimbangan mutlak, tanpa melihat realitas kewilayahan.   Sebab, dalam bernegara dan bermasyarakat, faktor wilayah merupakan salah satu pilar terbentukknya sebuah komunitas atau negara.   Boleh jadi, sekelomppok kecil masyarakat yang berstatus minoritas, memiliki kekuatan politis karena mereka mendiami dan menguasai wilayah yang luas.

–      Sejarah pendirian Negara Republik Indonesia, dengan dasar negara Pancasila (minus Piagam Jakarta), adalah karena pertimbangan kewilayahan tersebut, bahwa komunitas kecil dari bagian Timur Indonesia (wilayah yang luas) keberatan dan tidak akan bergabung dalam RI, jika tujuh kata dalam Piagam Jakarta dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) tidak dihapus.  Maka demi tegaknya RI yang baru saja diproklamirkan, aspirasi masyaralat dari bagian Timur Indonesia itu harus diperhatikan dan dipenuhi.

Landasan Konstitusi:

–      Sila ketiga Pancasila (Persatuan Indonesia) mengharuskan segenap warga negara mengutamakan persatuan kebangsaan di atas segalanya.  Persatuan dalam arti sebenarnya, hanya dapat dibangun jika dikotomi mayoritas-minoritas dihilangkan dalam interaksi sosial politik di tengah masyarakat.

–      Persatuan kebangsaan menjadi kokoh jika segenap warga negara merasa sama di depan hukum dan pemerintahan, sehingga tak satupun kelompok (etnis dan agama) yang merasa istimewa di atas yang lainnya dalam segenap aspek kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Perhatikan bunyi UUD 1945 berikut:

BAB X
WARGA NEGARA

Pasal 26
(1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.
(2) Syarat-syarat yang mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang.

Pasal 27
(1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
(2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Pasal 28
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

BABXI
AGAMA

Pasal 29
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

BAB XII
PERTAHANAN NEGARA

Pasal 30
(1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.
(2) Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang.

Agama dan Politik:

  1. A.   Fungsi Negara:

 

–      Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, Negara Republik Indonesia, bukanah negara agama. Artinya, Negara tidak berdasar pada ideologi agama (Islam), dan tidak ada agama yang menjadi agama negara.

–      Dengan demikian, semua umat beragama sama statusnya dalam negara, pemerintahan dan di depan hukum, tanpa melihat status mayoritas-minoritas.

–      Negara harus melindungi setiap umat beragama untuk melaksanakan agamanya dalam keadaan aman dan nyaman.

  1. B.   Hubungan Antarumat Beragama: 

1)    Persaudaraan kebangsaaan:

–      Pembauran:  Warga negara yang beraneka ragam etnis dan agamanya, secara konstitusional hendaknya berbaur dalam kehidupan bermasyarakat tanpa sekat-sekat etnis dan agama.   Segenap kebijakan politik harus mendukung pembauran tersebut, tanpa melepaskan ciri khas kebhinnekaan mereka.

–      Bakti sosial bersama:  Berbaur idak hanya dalam pergaulan fisik, tetapi juga menyatukan cita-cita memajukan dan mencerdaskan bangsa.  Dengan kesadaran seperti itu, maka warga negara (segenap umat beragama) dapat membangun kerjasama dalam berbagai bidang untuk menyejahterahkan rakyat.

2)    Paradigma Kemaslahatan Manusia

–      Syiar Agama bukan arogansi

Dalam mengamalkan agama, setiap warga negara menghindari sikap persaingan / kompetisi dengan umat agama lain.  Tidak perlu ada rasa kebanggaan dan arogansi terhadap umat agama lain.

 

–      Syiar agama untuk moralitas (shaleh pribadi):

 

Masing-masing umat beragama menjalankan agamanya dengan tujuan pembinaan internal prbadi untuk memperoleh akhlak yang baik.  Baik buruknya suatu agama/keyakinan diukur dari budi pekerti umatnya dan kemaslahatan yang dilahirkan, sehingga umat beragama berlomnba untuk berbuat kebajikan.

 

–      Penghayatan agama secara kemanusiaan:

Bahwa semua agama mempunyai ajaran yang sama tentang perlunya pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ekonomi, dan keadilan sosial bagi manusia.

Untuk mewujudkan semuanya, umat beragama bersatu, bahu membahu, untuk mewujudkannya, demi terwujudnya kemaslahatan bersama.

–      Penafsiran Ajaran secara Konstruktif:

 

Ajaran agama perlu ditafsirkan secara konstruktif untuk kemaslahatan bersama.  Misalnya=

Jihad diartikan sesuai artinya yang asli, yakni bekerja keras untuk kebaikan bersama, bukan perang untuk kebinasaan bersama.

Ukhuwah Imaniyah (dalam Al-Qur’an) sebaiknya diartikan sebagai persaudaraan antara sesama orang-orang beriman kepada (Ketuhanan Yang Maha Esa), ketimbang diartikan hanya persaudaraan intern umat Islam.

Advertisements
By Hamka Haq Posted in KULIAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s