DISHARMONI MAYORITAS – MINORITAS

DISHARMONI MAYORITAS – MINORITAS

Hubungan kelompok mayoritas dan minoritas, sering kali dalam suatu negara menjadi tidak harmonis.  Faktor-faktor penyebabnya antara lain: Dampak kolonialisme, Dampak (Trauma) perang masa lalu, Egoisme Komunitas, Ancaman disintegrasi, dan Lobby komunitas tertentu.

  1. Dampak kolonialisme
  2. Trauma Perang Masa Lalu
  3. Egoisme Komunitas
  4. Kecemburuan Sosial
  5. Ancaman Disintegrasi
  6. Lobby Komunitas tertentu.

Dampak Kolonialisme

Seperti diketahui, pada umumnya negara-negara di Asia pernah mengalami penjajahan oleh Barat.  Bangsa Barat, yakni Spanyol, Portugis, Inggeris dan Belanda telah menjajah di Asis.  Kita ambil contoh Indonesia, yang pernah dijamah oleh penjajah-penjajah tersebut, terutama Belanda selama lebih 300 tahun.   Penjajahan menyebabkan kebodohan, kemiskinan dan kemelaratan rakyat Indonesia.  Karena kenyataannya mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim, maka dalam perjuangan kemerdekaan rakyat Muslim berhadapan dengan Kolonial yang agamanya non Muslim (Kristen).  Meskipun dalam perjuangan itu, turut serta pula rakyat Indonesia yang beragama Kristen, namun pejuang-pejuang Muslim tetap memaknai perjuangan itu sebagai pergerakan melawan Barat yang Kristern.  Akibatnya, jasa non Muslim dalam perjuangan seolah terlupakan, bahkan ironisanya dipandang sebagai kaki tangan kolonial.

Dampak kolonial Belanda yang beragama Kristen itu, membawa kesalahan persepsi bagi sebahagian umat Islam, sebahagian ulama dan aktifis Islam, selalu memandang non Muslim, terutama Kristen sabagai sisa-sisa pengaruh kolonialisme.  Akibatnya ialah, mereka memandang non Muslim sebagai warga kelas dua di Republik ini, dengan melupakan peranan non Muslim itu dalam perjuangan kemerderkaan.  Dengan klaim sebagai mayoritas, maka dengan seenaknya saja warga Muslim yang salah persepsi itu melanggar konstitusi sebagai negara Kebangsaan.  Seolah-olah negara ini dibentuk hanya sebagai rumah bagi umat Islam.  Maka terjadilah hubungan tidak harmonis dengan non Muslim, khususnya kaum Kristen, ditandai pengrusakan rumah ibadah dan fasilitas pendidikan mereka.    Dalam catatan, sejumlah kasus yang memprihatinkan ketidak harmonisan hubungan antara Muslim Mayoritas dan Kristen Minoritas di Idnonesia adalah sbb.:

  • Oktober s.d. Desember 1992: isu lemak babi, pembakaran kitab suci, pengrusakan dan pembakaran gereja.
  • Hal yang sama terjadi di Cikampek (12/4/1996), Bogor (14/4/1996); Surabaya (9/6/1996), Situbondo (10/10/1996), Tasikmalaya (26-27/12/1996)
  • Kerusuhan Maluku (19/1/1999 s.d. Januari 2000).
  • Penyerangan HKBP Rajeg, Kutabumi, Tangerang (2/9/2007).
  • Penyerangan atasa HKBP Bekasi Minggu (12/9/2010) pukul 17:05 oleh kelompok Islam; Pendetanya dipukul, jemaatnya ditusuk dan pelemparan rumah ibadah.
  • Kasus gereja GKI Yasmin, di Bogor yang mencabut izin pendirian Gereja, padahal gereja di sana lebih dahulu ada baru kemudian warga Musalim di sekitarnya.

Kecemcuruan Sosial

Hubungan tak sehat itu juga lazimnya disebabkan oleh kecemburuan sosial;  Misalnya di daerah tertentu, sebahagian besar umat Islam berada pada garis kemiskinan, sedang non Muslim kelihatannya lebih sejahtera.  Hal ini juga tampak pada pembangunan rumah ibadah; biasanya pembangunan masjid atau mushalla lebih lama, bertahun-tahun baru bisa jadi, sementara gereja dan rumah ibadah lainnya dengan seketika bisa selesai.  Maka biasanya kelompok mayoritas mengambil jalan pintas, menghalangi pembangunan rumah ibadah.

Kecemburuan sosial juga dapat berlaku antaretnis.  Misalnya pada tahun 1999, terjadi kerusuhan Ambon, sebenarnya diawali dengan kecemburuan sosial antaretnis.  Etnis pendatang, terutama Bugis Makassar dan Buton mendominasi sektor ekonomi, sehingga etnis asli setempat merasa terdesak.  Parahnya, konflik horizontal berkembang menjadi konflik agama.

Egoisme Komunitas

Hal yang sangat prinsipil dan sulit dihilangkan dari umat beragama, ialah egoisme komunitas mereka. Masing-masing umat beragama merasa hanya agamanya yang istimewa dan benar.  Dan paling berbahaya jika sudah sampai pada paham bahwa hanya agamanya yang berhak eksis untk diridhahi Tuhan sehingga segala agama lainnya harus dihapus dari permukaan bumi.  Persepsi seperti juga masih berkembang di Indonesia, khususnya di tengah umat Islam.

Dalam kaitannya dengan etnis, egoisme komunitas ini juga sangat berbahaya.   Apalagi dengan adanya UU Otonomi Daerah, yang memngkinkan ertnis tertentu yang dominan di daerah itu mengkalim sepihak segala hak-hak keistimewaan untuk etnisnya, dan menafikan hak hidup etnis-etnis lainnya.  Maka egoisme etnis pun dapat memicu pecahnya koflik horizontal.

Di Thaliland, umat Budha merasa sebagai warga asli negeri itu, dan dengan statusnya sebagai mayoritas maka mereka memandang umat agama lain (khususnya Islam) sebagai warga kelas dua.  Apalagi negeri itu memang memandang Budha sebagai agama negara, dan setiap raja yang bertahta harus menjalani kehidupan Bhiksu lebih dahulu sebelum dilantik menjadi raja.

Di negara-negara Amerika dan Eropa pun demikian, egoisme komonitas mash mewarnai kehidupan umat beragama.  Umat Kristen dan Katholik masih memandang komunitasnya sebagai warga asli yang harus lebih banyak hak ketimbang warga pendatang yang sebahagiannya beragama Islam.   Terhadap umat Islam dikenakan berbagai aturan yang membatasi kehidupan beragamanya.  Bahakn di Barat telah lama ada pandangan Islamophobia, yakni ketakutan berlebihan terhadap Islam dan umat Islam, sehingga segala yang berbau Islam selalu dihadangnya.

Sama halnya juga di sebahagian negara-negara Timur Tengah, bangsa Arab yang beragama Islam, merasa harus lebih dominan di atas warga lainnya yang beragama non Muslim.  Hak-hak minoritas non Muslim sangat terbatas.

Keadaan yang biasa menylut konflik terjadi di India, egoisme kaum Hindu berhadapan dengan egoisme umat islam, yang masing-masing mengklaim agamanya yang paling benar.  Sering kali terjadi kerusuhan karena umat Hindu di sana, merobohkan masjid dengan alasan tanah tempat bangunan masjid itu adalah bekas tempat kuil suci Hindu yang harus dikembalikan kepada pemiliknya, yaknni umat Hindu.  Meskipun demikian, pada level pemerintahan, kedudukan umat Islam cukup memuaskan.  Terdapat sejumlah tokoh Islam yang pernah menjabat menteri di India, bahkan jabatan Presiden India juga pernah dijabat oleh tokoh Muslim.   Dengan kedudukan politik seperti itu, maka kerusuhan antarumat beragama di India dapat dengan mudah dan lebih cepat diatasi.

Trauma Peran Masa Lalu

            Kelompok-kelompok umat beragama, atau etnis yang pernah terlbibat perang di masa lalu, sangat berpotensi mewarisi trauma berkepanjangan yang merupakan akar konflik antara mereka.  Misalnya saja hubungan tidak hermonis antara Umat Ktholik dan umat Islam di Pilipina, disebabkan trauma perang salib, atau perang Kristen Spanyol melawan Muslim Andalusia.

Dalam sejarah tercatat bahwa bangsa Barat yang pertama datang ke Pilipina adaah Portugis dan Spanyol.  Penduduk pilipina yang muslim, sangat dimusuhi oleh tentara Spanuol, karena mereka dianaggap sebagai sisa-sisa tentara Islam Moor yang pernah menaklukkan dan menjajah Spanyol di bawah kekuasaan Islam selama tujuh abad.  Maka Muslim Pilipina pun kemudian disebut oleh mereka sebagai bangsa Moro.  Pertentangan kepentingan antara Kolonialis Barat Kristen dengan Muslim Moro itu, akhurnya terbawa hingga sekarang setelah Pilipina merdeka, dan sebahagian besar warganya menjadi Kristen sejak mereka dijajah oleh Portugis dan Spanyol.

Ancaman Disintegrasi

Ancaman disintegrasi dalam suatu negara juga berpotensi menjadi penyebab konflik antara etnis dan antar agama.   Misalnya saja kita sebut konflik antara su ku Arab dan suku Kurdi di Irak.  Wrga Arab di Irak tidak memberikan hak-hak kebangsaan sepenuhnya kepada suku Kurdi di Irak, karena takut akan terjadinya, pemisahan wilayah dan membentuk negara Kurdi tersendiri di bagian utara Irak.   Begitupun halnya Turki, dengan alasan yang sama dengan Irak, maka pemerintah Turki tidak memberikan hak politik yang adil kepada suku Kurdi, karena dipandang sebagai gerakan Separatis yang ingin berpisah dari Turki.  Dalam keadaan seperti itu, komunitas yang minroitas selalu menjadi warga negara kelas dua.

Hal demikian juga terjadi di China, etnis-etnis minroitas, yang kenyataannya juga berbeda keyakinan dengan warga China mayoritas, mereka memperoleh perlakukan yang idak adil, karena dipandang sebagai komunitas separatis yang ingin mendirikan negara merdeka.  Lebih parahnya lagi, karena pemerintahan China yang berideologi Komunis itu tidak erasa bertanggung jawab untuk melindungi umat beragama.  Nasib itulah yang dialami oleh etnis Muslim Uighur di bagian utara China.  Sementara itu, etnis-etnis yang beragama Islam dan Kristen, yang dipandang tidak mungkin melakukan gerakan separatis, karena sudah berbaur dengan etnis China mayoritas, sekarang telah mendapat perlakukan yang baik dari pemerintah China.

Sebenarnya, masalah separatisme ini pula yang menghantui Indonesia, sehingga hubungan tidak harmnis antara sebahagian warga Papua dengan pemerintah masih belum dapat dipadamkan sama sekali.

Lobbi Komunitas Tertentu

            Dalam suatu negara selalu terjadi tarik ulur kepentingan etnis-etnis atau umat beragama yang berbeda.  Kita sebut saja Amerika Serikat,  yang warga-negaranya beragam etnis dan agama.  Penganut Kristen merupakan mayoritas di antara semua agama di AS.  Tapi etnis Yahudi, lebih menguasai perekonomian negara tersebut ketimbang penganut agama lain, termasuk umat Islam pendatang dari Asia, khususnya negeri-negeri Arab.  Walaupun konstitusi Amerika menjamin kehbebasan beragama, dan negara tidak akan turut campur dalam soal agama warganya, tetapi kaum Yahudi mempunyai kepentingan lain.  Yahudi dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah Amerika untuk menekan umat Islam Amerika agar kepentingan Yahudi internasional tidak terganggu. Hal itu dimaksudkan agar negara Israel, yang selalu berperang dengan negara-negara Arab sekitarnya, tetapi mendapat bantuan Amerika.  Yahudi juga berupaya agar pemerintah Amerika selalu curiga terhadap umat Islam  Amerika, jangan sampai mereka memberikan bantuan dana kepada pejuang-pejuang Palestina.

Advertisements
By Hamka Haq Posted in KULIAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s