PENDIDIKAN PEREMPUAN MENURUT ISLAM

 

R. A. Kartini Pelopor Emansipasi Kaum Wanita Indonesia

PENDIDIKAN PEREMPUAN MENURUT ISLAM 

              Menyangkut pendidikan, syariat Islam pun menekankan kesetaraan laki-laki-perempuan dalam hadits Nabi: “Thalab al-`ilm faridat `ala kulli muslim” (mencari ilmu pengetahuan adalah wajib hukumnya atas setiap Muslim) tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan.  Hadits ini dikutip oleh Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Abu Abdillah al-Qurthubiy dalam Tafsir Al-Qurthubiy, (Qahirah: Dar al-Sya`b, 1372 H), Juz VIII, h. 295.

Perintah menuntut ilmu dalam hadits tersebut bersifat umum, sebagaimana halnya perintah bershalat, membayar zakat dan berpuasa.  Perlu diketahui bahwa metode penyampaian perintah ataupun larangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, baik menyangkut akidah, ibadah maupun muamalah, pada prinsipnya tidak memisahkan antara laki-laki (mudzakkar-masculine) dan perempuan (mu’annats–feminine).  Karena itu, walaupun umumnya obyek perintah syariat disebut dengan hanya memakai kalimat laki-laki (maskulin), tapi pengertiannya mencakup pula kaum perempuan (feminin) tanpa perlu dipisah dan dibedakan.  Kedua jenis justru menyatu dalam satu paket kalimat, karena sejatinya mereka adalah sama dalam hak, kewajiban, derajat dan martabat. 

Jadi, hadits ini jelas menekankan kewajiban menuntut ilmu atas kaum Muslimin tanpa kecuali, termasuk kaum perempuan,. Walaupun tidak menggunakan kalimat muannats (feminin).  Karena itu, perempuan mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dalam arti luas.  Biasanya ayat-ayat Al-Qur’an atau Sunnah, nanti menyebut kalimat yang berindikasi muannats (feminin) apabila ayat-ayat itu memang berbicara secara khusus menyangkut persoalan kaum perempuan sendiri, minus laki-laki.  Tetapi, selama ayat atau hadits memakai kalimat mudzakkar (maskulin) maka harus dipahami secara umum (mencakup wanita), seperti hadits pendidikan di atas.

Di zaman Nabi dan Sahabat, sejumlah perempuan memiliki kecerdasan dan keahlian tertentu, khususnya keluarga Nabi SAW.   Sebut misalnya Kahdijah R.A. isteri pertama Rasululllah SAW, yang memiliki kecerdasan di bidang bisnis, sampai beliau menjadi pemimpin perusahaan dagang di zaman itu.  Nabi sendiri bahkan pernah bergabung dalam managemen perusahaan di bawah pimpinan Khadijah RA, sebelum mengawini perempuan cerdas tersebut. Dalam buku Sirah Ibn Hisyam disebutkan bahwa Khadijah menjadi cerdas memimpin perusahaan dagangnya tak lepas dari dua hal yakni:  (dzat syarfin wa malin) memiliki keunggulan SDM (martabat / kecerdasan) dan kekuatan ekonomi.  Dengan begitu, Khadijah RA menjadi pemimpin karena memenuhi dua syarat utama seperti yang disebut dalam Q.S.al-Nisa (4): 34. 

Demikian pula Aisyah RA isteri Nabi, banyak membantu penyebaran ajaran Islam, karena keluasan ilmu dan kecerdasannya.  Bahkan sepeninggal Nabi, Aisyah menjadi guru besar, yang banyak fukaha (ahi fikih Islam) dari kalangan sahabat berguru padanya dan menerima haditsnya.

Maka, adalah keliru sekali, pendapat yang menyatakan bahwa akal kaum perempuan itu lemah, sehingga tidak dapat menyamai laki-laki dalam soal kecerdasan.  Kalau saja pendapat ini benar, maka dampak negatifnya luar biasa terhadap keabsahan sejumlah besar hadits yang diriwayatkan oleh isteri Nabi SAW. Sekian banyak hadits yang menjadi pegangan kaum Sunni akan mengalami dekonstruksi besar-besaran, karena semua hadits dari Aisyah begitupun Khadijah terpaksa diragukan validitasnya, dengan alasan bahwa daya intelektualitas perempuan itu lemah.  Sesungguhnya, pandangan yang meremehkan intelektualitas perempuan seperti itu tidak berlandaskan pada dalil yang kuat, baik pada sains dan teknologi maupun pada ajaran agama.  Dalam tradisi keagamaan, terbukti Khadijah dan Aisyah RA sendiri punya kecerdasan dan menjadi salah satu sumber utama sunnah Rasulullah SAW bagi kaum Sunni.

Kenyataan juga membuktikan bahwa dewasa ini, di sejumlah negeri Islam, kaum perempuan memperoleh peluang untuk menuntut ilmu pengetahuan, sampai Arab Saudi pun yang dikenal sebagai negeri Islam aliran tekstualis yang paling ketat atas perempuan, ternyata kaum perempuannya juga telah menjadi teknokrat-teknokrat.  Tentu saja di negeri Muslim yang lebih moderat lagi seperti Mesir, Libanon, Suriah, Irak dan Iran, lebih-lebih lagi di Pakistan, Indonesia dan Malaysia, kemajuan kaum perempuan di bidang ilmu pengetahuan tak dipertanyakan lagi.  Semua ini terjadi karena syariat Islam yang dianutnya memberi peluang bagi pemberdayaan dirinya di bidang ilmu pengetahuan.  Wallahu a’lam bi ‘l-shawab

 

  

 

Salah Seorang Perempuan Rektor di Saudi Arabiyah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s