PENDIDIKAN TANPA DIKOTOMI KEILMUAN

Ibnu Rusyd, Ulama Fiqh, Filosof dan Sarjana Sains di Zamannya

@Diaambil dari Buku: Islam Rahmah Untuk Bangsa (Jakarta: Rakyat Merdeka Books, 2009), karya Prof.Dr.Hamka Haq, MA.

Secara jujur kita harus mengatakan bahwa peradaban Islam dibangun dari peninggalan kebudayaan sebelumnya, seperti sisa pemikiran Helenistik Yunani yang dibawa oleh Alexander Yang Agung ke Mesir, Siria dan Mesopotamia. Islam kemudian berkenalan pula dengan pemikiran Yunani lewat upaya penerjemahan yang digalakkan sejak pemerintahan Al-Makmun dari dinasti Abasiyah.  Karya-Karya filsafat Aristoteles, Plato, karangan-karangan mengenai filsafat Neo Platonisme, kedokteran dan berbagai ilmu pengetahuan lain dari Yunani, Persia, India dan bahkan Cina menjadi referensi bagi ilmuan Islam.

Kita pun harus berani berkesimpulan bahwa peradaban Islam tidak lahir dengan hanya semata-mata merujuk pada Al-Qur’an tekstual.  Sebab, sebagai kitab suci, Al-Qur’an bukanlah kamus segala hal.  Karena itu, teks Al-Qur’an tidaklah memuat secara lengkap petunjuk praktis bagi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan  manusia.  Namun, dengan semangat yang luar biasa dari Al-Qur’an, umat Islam di zaman klasik terdorong untuk mengembang ilmu pengetahuan.  Serangkaian upaya penerjemahan kitab-kitab Yunani dilakukan berbarengan pula dengan kontak langsung dengan Kerjaan Romawi sehingga lebih memungkinkan cendekiawan Muslim ketika itu mengenal secara dekat naskah-naskah ilmu pengetahuan Yunani, Persia, India dan mungkin pula Cina.

Hal di atas menunjukkan bahwa sebenarnya Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, justru kedua jenis ilmu itu berpadu dalam semangat Al-Qur’an.  Universitas-universitas Islam pada zaman klasik, mengajarkan studi agama dan studi umum dalam satu paket, yang diikuti oleh mahasiswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing.  Pada zaman itulah lahir sederertan nama ulama ahli agama sekaligus filosof ataupun ahli sains dan teknologi.  Nama-nama seperti Ibn Rusyd dan Al-Ghazali (fikih dan filsafat), Ibn Sina (kedokteran dan psikologi), Al-Kindy, Ibn Meskawaih, Al-Khwarizmy (pencipta rumus logaritma), Al-Razy (filsafat dan kedokteran), Ibn Khaldun (filsafat sejarah dan sosiologi), Al-Biruni, Al-Jibra (matematika) dan lain-lain sudah tidak asing lagi. 

Ibnu Rusyd (1126-98) adalah seorang faqih (fakih) yang menulis buku Bidayatul Mujtahid, justru dikenal sebagai filosof, bahkan mendapat julukan sebagai komentator Aristoteles.  Beliau juga menulis sejumlah buku kedokteran, astronomi dan tata bahasa. Beliau semakin populer karena bukunya yang berjudul Tahafut al-Tahafut (Kesesatan Sang Penyesat) sebagai jawaban terhadap buku Tahafut al-Falasifah (Kesesatan para Filosof) karya Al-Ghazali.[1]  Sementara, sang filosof Al-Ghazali sendiri juga dikenal dengan karya-karyanya dibidang teologi Islam, tasawuf, filsafat hukum Islam dan hukum tata negara.  Masih banyak lagi ulama ketika itu yang memproleh keahlian dalam stuadi ilmu agama tanpa memisahkannya dari studi ilmu umum.  Semua itu terjadi dalam zaman keemasan peradaban Islam di Baghdad dan di Andalusia (Spanyol Islam) dahulu.

Kini, setelah  lebih 7 abad umat Islam tidak lagi menjadi pelopor peradaban dunia, hasrat dan semangat mereka untuk bangkit kembali semakin membara.  Semangat kebangkitan menggelora di segenap penjuru negeri-negeri Muslim terutama setelah masuknya abad XV Hijriyah seiring dengan abad XX M.  Tetapi yakinlah, haqqul yaqin, kebangkitan itu mustahil akan pernah diraih tanpa menguasai sains dan teknologi.  Masalah pertama yang menghadang ialah bagaimana sikap umat Islam menempatkan semangat iman dalam dunia sains dan teknologi sebagai landasan peradaban dunia dewasa ini?  Satu-satunya jalan ialah memandang sains dan teknologi yang sedang berkembang di Barat sebagai bahagian dari kewajiban syariah yang harus diraih tanpa melepaskan semangat religius sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) menjadi religius-imani.

Sisi keimanan yang tak terpisahkan dari sains dan teknologi sebenarnya telah diharmoniskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana dipahami dari sejumlah kata kuncinya sendiri.  Untuk manusia, Al-Qur’an memakai kalimat khalifah yang berarti penerus nilai Ilahiyah bagi peradaban di muka bumi.  Untuk penguasaan ilmu, yang menjadi pilar peradaban, Al-Qur’an memberikan instruksi iqra’ (bacalah) dalam ayat yang berbunyi:  iqra’ bismi rabbik; dan untuk mengelola alam semesta, sebagai natural resource, Al-Qur’an menyatakan perlunya eksplorasi alam (taskhir) seperti terdapat dalam ayat: alam tara ann Allah sakhkhara lakum ma fi al-samawati wa ma fi al-ardh.  Selain dari tiga kata kunci: khalifah, iqra’ dan tasykhir, masih terdapat lagi sejumlah istilah dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia sebagai pembangun peradaban dunia.

Dengan semangat “Iqra bismi Rabbik” (bacalah dengan nama Tuhan-mu), seharusnya umat Islam dewasa ini memiliki keberanian menyerap produk peradaban dari Barat untuk diberi napas keimanan.  Tanggung jawab umat beragama di abad sekarang ialah meng-imaniah-kan peradaban dunia pada setiap aspeknya agar terhindar dari proses sekulerisasi.  Maka, kalau ada istilah islamisasi IPTEK, adalah lebih tepat jika diartikan sebagai penerapan nilai imani dalam pendayagunaan IPTEK, bukan mencari IPTEK yang khas Islam dengan istilah-istilah kearaban.  Semangat semacam inilah yang dulu dikembangkan oleh ilmuan Muslim di zaman klasik ketika meng-imaniah-kan pemikiran Yunani yang tadinya sekuler dalam aspek filsafat.

Adalah hal yang patut dikagumi bahwa cendekiawan Muslim di zaman klasik telah menerapkan prinsip universalitas dan globalitas.  Tidak hanya sekadar menghindari dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, tetapi telah menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk keluar dari penjara eksklusifitas Islam, lalu menerima produk “asing” berupa ilmu dan teknologi, sampai mereka menembus pula batas-batas etnis, gegografi, budaya dan agama.  Jika di zaman sekarang, umat Islam merasa canggung dan bersikap reaksioner terhadap segala produk asing, maka hal itu merupakan penyelewengan terhadap semangat imaniah para pemikir Muslim di zaman klasik tadi.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa menjelajahi sains dan teknologi, seperti yang pernah ditempuh ilmuwan Muslim dahulu, maka Al-Qur’an menjadi kitab suci yang diberhalakan, bagaikan bahasa mati yang tidak bermanfaat apa-apa; ayat-ayatnya hanya tinggal sebagai teks usang yang kaku dan tak mampu berbicara mengenai solusi kehidupan kekinian bangsa.  Kandungan Al-Qur’an hanya dapat diaplikasikan dalam kehidupan keseharian jika tafsir Al-Qur’an itu sendiri didukung dengan sejumlah informasi akurat obyektif dari sains dan teknologi.  Dengan kata lain, tafsir Al-Qur’an sebagai sumber keilmuan agama, harus memandang sains dan teknologi sebagai media penyampaian pesan-pesan kebenaran Ilahiyah kepada umat manusia.

Tanpa harmonitas antara tafsir dan teknologi, maka pendidikan Al-Qur’an, atau pendidikan agama, atau apapun namanya, mungkin saja melahirkan ribuan ulama ahli agama, minus keahlian di bidang sains dan teknologi.  Karena itu dibutuhkan jembatan penghubung yang mengintegrasikan Iptek ke dalam ilmu agama, sehingga tak aka dikotomi yang ekstrim antara tafsir dan Iptek.  Wa ‘Llahu a’lam bi al-shawab.


[1]“Averroes,” dalam Microsoft® Encarta 96 Encyclopedia. © 1993-1995 Microsoft Corporation.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s