HIJRAH DAN PASSOMPE’

Oleh : Prof. DR. Hamka Haq, MA.

Hijrah dan Safar

                Hijrah adalah sebuah istilah dalam sejarah Islam yang menandai perjalanan Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muslimin dari Mekah ke Yatsrib.  Perjalanan itu dinamai hijrah karena merupakan upaya perpindahan tempat tinggal, yang sebelumnya beliau bersama umat Islam berdomisili di Mekah, maka dengan hijrah itu mereka menemukan tempat pemukiman yang baru yakni kota Yatsrib.  Setelah mereka berpindah ke Yatsrib, maka kota Yatsrib pun mengalami perubahan besar-besaran sampai menjadi pusat peradaban (tamaddun).  Dengan demikian, nama Yatsrib berubah dikemudian hari menjadi Madinah (yang berarti pusat peradaban) hinga sekarang.

Dari makna hijrah dan impilkasi perubahan yang ditimbulkannya, ada dua makna yang dikandung dalam istilah hijrah itu, yaki perpindahan dan perubahan yang ditimbulkannya.  Dengan kata lain, hijrah bukanlah sekedar bepergian, yang dalam bahasa Arab disebut safar, melainkan pergi untuk menemukan tempat tinggal baru.  Di zaman Nabi Muhammad SAW, orang yang berpindah (berhijrah) disebut muhajririn, tidak disebut musafirin (orang yang bepergian), karena musafirin hanyalah ungkapan yang bermakna bepergian untuk sementara tanpa bermaksud pindah tempat tinggal.

Orang yang melakukan safar (bepergian) yang disebut musafirin itu, apakah ia pedagang atau orang yang sedang mencari ilmu, ataukah sekedar petualang, sama sekali tidak bermaksud untuk tinggal di tempat kediaman yang baru.  Mereka selalu memandang tempat kediaman baru itu sebagai negeri orang lain, bukan negerinya, sehingga ia pun selalu berusaha untuk pulang ke negeri asal.  Orang seperti ini jelas-jelas bukanlah muhajirin, karena ia memang hanya menjadi musafirin.  Orang musafirin, karena selalu berupaya untuk pulang kampung, dan tidak memandang tempat kediaman barunya sebagai negerinya, maka ia tidak dapat melakukan perubahan siginifikan untuk negeri barunya itu.

Berbeda halnya dengan kaum muhajirin, yang memang bersedia pindah menjadi warga di negeri kediaman barunya, dan memandang tempat kediaman barunya sebagai negerinya sendiri, maka ia dapat melakukan hal-hal yang positif yang menguntungkan semua warga di negeri pemukimannya yang baru itu.  Seorang muhajirin tidak lagi berpikir untuk pulang ke negeri asalnya, karena ia telah merasa sebagai warga di negeri barunya, walaupun ia tetap mengingat negeri asal dan keluarganya nun jauh di sana.

Itulah sebabnya, Nabi Muhammad SAW bersama umat Islam yang berhijrah ke Madinah tidak lagi pernah pulang ke Mekah.  Mereka bahkan menjadi penduduk baru di Madinah, walaupun dengan status muhajirin, dan melakukan perubahan yang luar biasa atas wajah dan kehidupan dalam kota tersebut.  Maka salah satu makna dari hijrah ialah kepeloporan para muhajirin di negeri kediamannya yang baru; mereka menjadi pemimpin masyarakat dalam aspek politik, ekonomi dan social budaya dan agama.  Hal ini ditandai dengan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai Kepala Negara di Madinah (tempat mereka berhijrah), sementara sahabat-sahabat lainnya menjadi pedagang dan mubaligh (dai) yang menyebar luaskan ajaran Islam di Madinah dan sekitarnya.

Hijrah dan Passompe

Dalam tradisi Bugis Makassar, atau masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya, salah satu istilah untuk menggambarkan bepergian ialah massompe.’  Orang yang melakukan kegiatan bepergian disebut passompe.  Istilah ini pada mulanya digunakan di kalangan pelaut, sehingga kalimat yang digunakan untuk kegiatan bepergiannya ialah sompe yakni layar sebagai salah satu alat terpenting dari sebuah perahu yang akan bertolak (berlayar) ke negeri tujuan.  Meskipun demikian istilah tersebut sudah menjadi umum dipakai untuk setiap perjalanan yang sifatnya bepergian ke negeri atau kampung yang jauh, tidak terbatas di kalangan pelaut saja.  Hal ini dikarenakan masyarakat Bugis Makassar, biasanya menamai suatu perjalanan jauh dengan istilah massompe, apalgi jika perjalanan itu melewati laut, tak peduli apakah pelakunya pelaut atau pedagang dan petani.

Passompe di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni: Pertama, passompe yang hanya bepergian untuk sementara dan dalam waktu yang singkat kembali ke negeri asalnya (lingkungan keluarganya).  Passompe seperti ini tidak membangun pemukiman baru di negeri tujuan, tetapi hanya menjadikan negeri tujuan sebagai tempat sementara mencari nafkah (berdagang, bertani, buruh dan nelayan), dan ketika sudah merasa memperoleh rezki yang banyak, mereka segera pulang ke negeri asal dan keluarganya.  Passompe seperti ini biasanya memang berangkat sendiri tanpa menyertakan anggota keluarga.  Dalam tradisi Arab, orang seperti tersebut hanya disebut musafirin, bukan muhajirin.  Passompe seperti ini, lebih dikenal dengan istilah pallao (orang yang suka pergi), bekerja dan mencari rezki di tempat lain.  Karena pengertian pallao seperti itu, maka akhirnya khusus di kalangan Bugis, setiap pekerjaan besar disebut pallaong.  Orang yang banyak pekerjaannya disebut to maega palonna).

Tipe kedua, ialah passompe yang memang melakukan bepergian, dengan membawa serta anggota keluarganya, dengan niat membangun pemukiman baru di negeri tujuan.  Passompe seperti ini menjadikan negeri tujuan sebagai negerinya sendiri, dan menjadi pelopor perubahan di negerinya yang baru itu.  Tidak jarang di antara mereka sukses menjadi pemimpin politik dan eksekutif di negeri barunya itu, atau mernjadi orang kaya raya dan menjadi masyhur di negeri itu.  Di antara mereka ada pula yang dikenal karena intelektualitasnya atau pengetahuan di bidang agama, sehingga ia menjadi pemimpin (tokoh) masyarakat atau tokoh agama di negerinya yang baru itu.   Contoh populer ialah di antara pemimpin politik dan pejabat eksekutif yang berjaya di Malaysia tidak sedikit mengaku nenek moyangnya berasal dari Sulawesi Selatan.  Banyak pejabat eksekutif dalam negeri di luar Provinsi Sulawesi Selatan, adalah warga Sulawesi Selatan yang lahir di perantauan (negeri) pemukiman mereka di Provinsi itu.  Sebutkan misalnya Propinsi Papua, Kalimantan, Sumatera, bahkan di Jawa, sudah sangat sering kita mendengar penjabat Bupati atau walikota adalah warga keturunan asli Sulawesi Selatan yang sudah kelahiran setempat, yang nenek moyangnya sudah berhijrah ke negeri tersebut entah berapa puluh atau berapa ratus tahun silam.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa passompe  dalam arti berpindah tempat tinggal, yang dalam istilah syariah disebut muhajirin, mengandung nilai-nilai kejuangan, untuk memperbaiki tarap kehidupan keluarga dan komunitasnya.   Mereka tidak ingin menjadi kelompok masyarakat yang sengsara dan terpinggirkan di negerinya sendiri, dan karena itu mereka bersemangat untuk berhijrah (massompe) kenegeri lain, demi mencari kemakmuran hidup.  Dalam Al-Qur’an terdapat sindiran terhadap orang yang tidak mau berhijrah walaupun  kehidupannya sudah sangat melarat di negerinya.  Dalam Q.S.al-Nisa’ [4]: 97 disebutkan: “ Sesungguhnya orang-orang yang mati dalam keadaan menganiaya diri sendiri (miskin), kepada mereka malaikat bertanya: “Bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang lemah menderita (di negeri kami)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”

Dalam ayat di atas, terdapat ancaman bagi orang yang apatis, tidak mau mengubah nasibnya yang buruk di negerinya, walaupun sudah sangat menderita, tetap saja tidak mau mencari ruang kehidupan baru di negeri lain yang mungkin memberi harapan baru untuk masa depannya yang lebih cerah.   Berjuang untuk masa depan yang lebih baik bagi kehidupan keluarga dan bangsa adalah suatu jihad yang sangat dihargai oleh Allah SWT.  Di ayat lain Q.S. al-Nisa’ [4]: 100, dinyatakan: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Janji Allah untuk memberikan kepada mereka yang berhijrah (passompe), suatu kehidupan dan martabat yang lebih baik di negerinya yang baru, sesungguhnya telah terbukti di kalangan leluhur orang Sulawesi Selatan yang dahulu telah berhijrah (massompe) ke negeri jiran Malaysia, atau ke provinsi lain di luar Sulawesi Selatan.  Anak cucu mereka yang hidup sekarang telah memperoleh posisi sosial dan tingkat kesejahteraan yang menggembirakan.  Mungkin nasib mereka tidak akan berubah seperti itu, seandainya leluhur mereka tidak berhijrah (massompe) di masa lalu.

Dampak Positif dan Antisifasi Dampak Negatif

Tradisi berhijrah (massompe) di kalangan warga Sulawesi Selatan, telah berdampak positif jangka panjang bagi kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya.  Dengan tradisi berhijrah seperti itu, atau lebih tepatnya menurut istilah sekarang, transmigrasi lokal mandiri, terjadilah pembauran lintas etnis, bahkan tidak jarang lintas agama.  Dengan kata lain, setidaknya beban negara dalam menyukseskan program transmigrasi dan program pembauran telah teratasi sebahagiannya khususnya di kalangan masyarakat Sul-Sel dengan masyarakan etnis lain.  Hal ini juga berdampak pada terjadinya alih budaya dan teknologi, misalnya teknologi bercocok tanam dan menangkap ikan yang telah dikuasai oleh warga Sul-Sel dapat disebarkan ke masyarakat petani dan nelayan di Maluku, Nusa Tenggara dan Papua, bahkan di Kalimantan dan Sumatera.  Di Sumatera dan Kalimantan, hampir di semua wilayah pesisir terdapat perkampungan etnis Sul-Sel, khususnya etnis Bugis dan Makassar.

Di samping dampak positif tersebut, tidak dapat dilupakan pula kemungkinan timbulnya dampak negatif.  Dikhawatirkan, jika pergaulan lintas etnis dan lintas agama tidak berjalan secara arif, niscaya menimbulkan kecemburuan sosial, yang pada gilirannya akan timbul gesekan-gesekan yang menyulut konflik horizontal antaretnis atau antaragama.  Dalam keadaan demikian, lazimnya yang menjadi korban ialah warga Sul-Sel yang selalu dicap sebagai warga pendatang.

Untuk mencegah terjadinya / terulangnya hal seperti ini di kemudian hari, sangat dibutuhkan sentuhan program dari organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).  Bahwa KKSS harus memprogramkan pendidikan pembauran dan penghayatan kearifan lokal daerah pemukiman warga Sul-Sel di provinsi lain.  Kalau perlu, tradisi Pertemuan Saudagar Sul-Sel sebaiknya mengikut seratakan warga lain sebagai peninjau, agar warga Sul-Sel umumnya, khususnya organisasi KKSS tidak dipandang eksklusif.  Sebab, menurut pengamatan selama ini, semua bentuk konflik sosial yang pernah terjadi di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Papua dan Nusa Tenggara beberapa tahun yang lalu adalah berawal dari kecemburuan sosial yang salah satu penyebabnya ialah sikap eksklusif warga pendatang (sikap hanya menghargai etnis sendiri). 

Untuk itu asimilasi budaya Suil-Sel dengan budaya lokal perlu digalakkan, yang semuanya dapat terjadi hanya jika disertai pemikiran dan sikap penuh kearifan dari kalangan warga pendatang (Sul-Sel) dengan warga asli setempat.  Hanya denga cara seperti itu, warga Sul-Sel pada akhirnya diterima sebagai warga asli pula di negeri pindahannya itu, semoga demikian.   Sekian, Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s