BUDAYA GOTONG ROYONG DI TENGAH ARUS MODERNISASI

 Oleh: Hamka Haq

 

            Manusia adalah makhluk sosial, yakni makhluk yang hidup secara bermasyarakat dalam suatu komunitas.  Manusia tak dapat hidup sendirian, karena berbagai, bahkan semua aspek kehidupannya dapat diselesakan hanya jika mereka hidup secara bermasyarakat.  Corak kehidupan masyarakat dapat dilihat dalam tarap peradaban mereka, mulai dari zaman primitif hingga zaman moderen.  Namun, satu hal yang tak pernah hilang atau seharusnya tidak hilang dari masyarakat itu, ialah nilai-nilai buadayanya sendiri, walaupun mereka talah mencapai puncak-puncak peradaban moderen.  Dalam kontek inilah, penulis akan mengemukakan bagaimana mempertahankan nilai-nilai budaya, khususnya budaya gotong royong ditengah arus modernisasi dewasa ini. 

Dalam pemahaman bangsa Indonesia, gotong royong telah menjadi slogan menghadapi berbagai tantangan.  Sejak zaman perjuangan kemerdekaan, kata goyong royong begitu ampuh mempersatukan eleman bangsa mengusir penjajah dari bumi Indonesia.  Rakyat biasa, laskar militer, pejuang politik telah menjadikan semboyan “gotong royong” sebagai alat pemersatu mereka.  Rakyat biasa menyediakan logistik, laskar militer berjuang di medan gerilya, politisi berjuang di meja perundingan, semuanya adalah bahagian dari gotong royong bangsa kita.  Maka berkat gotong royonglah, senjata bambu runcing dapat mengalahkan meriam sang penjajah.

Gotong royong begitu ampuh karena memang ia merupakan jati diri masyarakat kita.  Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa hampir semua aspek kehidupan masyarakat dilakukan secara bergotong royong.  Mulai dari cara pertanian,  menangkap ikan, dan mengelola perkebunan.  Sewaktu kecil, penulis masih ingat ketika para patani bergotong royong saling membantu membajak atau mengolah sawah secara bergilir, menanam padi sampai pada saat panen.   Begitupun nelayan, betapa bersemangatnya membangun bagan-bagan di tengah laut dengan sebuah kerjasama tanpa pamrih. 

Bahkan membangun rumah, dan berbagai jenis pesta, semua dilakukan secara gotong royong.  Di tempo doeloe,  sebuah rumah dibangun dengan kerjasama yang begitu sempurna di kalangan masyarakat, terutama pada saat menegakkan tiang-tiang, memasang dinding dan atapnya.  Pemilik rumah hanya perlu menyiapkan hidangan makan bersama.  Begitupun berbagai pesta atau acara, khususnya pesta perkawinan; acara perkawinan bahkan menyibukkan masyarakat se kampung selama berminggu-minggu.  Mereka tolong menolong untuk mengundang, memanggil anggota masyarakat setempat, kerabat, tetangga, dan sahabat-sahabat lainnya, dan saling membantu menyiapkan peralatan masak dan bahan makanan di dapur.

Demikian sekedar cerita masa lalu, dan tentu saja masih ada yang dapat disaksikan hingga sekarang, walaupun tidak sama persis.   Banyak perubahan telah terjadi, akibat perubahan zaman yang menggulirkan modernisasi di tengah masyarakat kita.  Namun, modernisasi itu sendiri tidak boleh disalahkan, karena modernisasi merupakan hal yang mutlak untuk meningkatkan tarap peradaban bangsa kita.  Yang salah ialah cara masyarakat kita menghadapi dan mengarungi alam modernisasi itu.  Sebahagian di antara mereka melupakan jati dirinya sebagai bangsa yang punya ciri khas gotong royong.  Akibatnya mereka menjadi korban dari arus modernisasi, mereka kehilangan prinsip hidup secara komunial (kebersamaan) dan berlalih menjadi hidup indivudualis (sendiri-sendiri).

Ada dua hal penting sebagai dampak sampingan modernisasi, yakni individaulisme da materialisme, yang jika tidak dihadapi secara cerdas dan bermoral, keduanya akan memangsa bangsa kita sendiri.  Kita tidak perlu berteori secara muluk-muluk atau memandang persoalan berskala besar, tapi cukup dengan melihat kenyataan sehari-hari masyarakat di lingkungan kita sendiri.  Bahwa ketika arus modernisasi memperkenalkan mesin traktor, maka hal itu merupakan kesempatan bagi petani yang cukup berada untuk mempermudah mengolah lahan pertaniannya.  Kalaulah mereka tidak kehilangan jati diri gotong royong, maka pemilik mesin traktor itu tetap akan membantu sesamanya petani, mengolahkan lahan pertanian mereka dengan biaya seringan mungkin.  Hal ini hanya terjadi jika pemilik traktor itu belum dilanda penyakit “materialistik” sebagai penyakit baru dari arus modernisasi.

Contoh lain kita bisa lihat, masih dalam kasus pertanian, ketika mesin penggiling padi sudah masuk di desa-desa agraris, tentu akan pasti menghilangkan tradisi gotong royong menumbuk padi di palung dan lesung.  Akankah dalam hal ini budaya gotong royong akan hilang begitu saja.  Jawabnya tergantung pada watak dan sifat dari pemilik mesin giling itu sendiri.  Sepanjang ia tidak kerasukan penyakit materilais, ia akan pasti meneruskan budaya gotong royong dengan tidak membebani biaya tinggi atas pelanggannya.  Dua contoh di atas sekadar menunjukkan bahwa budaya gotong royong akan tetap hadir dalam wajahnya yang baru, dengan syarat masyarakat kita tidak dilanda penyakit materialis dan individualis itu.

Bagaimana menangkal dampak negatif modernitas, agar masyarakat moderen tidak tergilas oleh sifat-sifat individualis dan materialis?  Contoh kecil lainnya dapat kita ambil ialah tradisi keluarga di kota yang mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga.  Bagi keluarga yang menghayati gotong royong, maka pembantu di rumahnya bukanlah sosok manusia yang harus diperas tenaganya, apalagi dengan upah yang sangat minim.  Pembantu akan diperlakukan sebagai manusia biasa, layaknya anggota keluarga walaupun statusnya pembantu.  Dengan demikian, ia akan menikmati makanan seperti apa yang dinikmati pula oleh tuan rumah.  Dan, ketika tuan rumah membeli mesin cuci termoderen, tidak berarti upah pembantu harus dikurangi, dengan alasan sudah semakin kurang kerjanya.  Contoh ini menunjukkan bahwa mesin cuci produk kemoderenan tidak menghilangkan budaya gotong royong (kehidupan bersama), asal saja setiap orang tidak berwatak individualis dan materialis.

Kalau kita membawa persoalan ini ke aspek pemerintahan, maka pemerintah dan rakyat merupakan elemen bangsa yang harus menghadapi persoalan bangsa bersama-sama, dengan budaya gotong royong.  Pemerintah memposisikan dirinya sebagai pelayan masyarakat, dan sebaliknya rakyat menjadi warga yang baik, memberi dukungan kepada pemerintah sepanjang program-programnya berpihak pada kepentingan rakyat.  Tanpa prinsip seperti ini, maka pemerintah dan rakyat akan gagal mempertahankan jati diri bangsa yang berbudaya “gotong royong”  di tengah arus modernisasi. 

Sebut misalnya, modernisasi menghendaki percepatan dan kelancaran akses hasil pertanian ke pusat industri.   Untuk itu pembangunan infrastruktur berupa jalan raya harus digalakkan guna menjangkau desa-desa yang menjadi resources pertanian itu.  Maka, tak dapat dihindari banyaknya kasus pertanahan, menyangkut master plan dan ganti rugi tanah rakyat.  Pemerintah yang berbudaya gotong royong akan menjadi pelayan dan pelidung rakyatnya, sehingga tanah-tanah yang diperuntukkan bagi proyek jalan itu akan ditransaksikan dengan nilai yang menyenangkan semua pihak.  Namun tidak sedikit oknum pemerintah hanya memposisikan diri sebagai penguasa, yang menguasai rakyatnya.  Banyak kasus perampasan tanah rakyat, akibat pemerintah tidak sebagai pelayan rakyat, tetapi menjadi pemeras kalau bukan pemerkosa rakyat. 

Sebaliknya, rakyat pun hendaknya berbudaya gotong royong, bahwa tanah miliknya itu berfungsi sosial untuk kepentingan rakyat banyak.  Namun, tidak sedikit pemilik tanah bersifat individualis dan materialis, tidak rela menyerahkan tanahnya untuk kepentingan tersebut sehingga proyek pambangunan jalan raya terpaksa macet bahkan menjadi gagal total.   Bahkan ada yang memasang harga tanah setinggi langit yang tidak rasional lagi.  Rakyat demikian tidak mamahmi dirinya sebagai makhluk sosial, kehilangan jati diri kegotong royongan.  Mereka telah tergilas oleh sifat individualis (mau menang sendiri) dan sifat materialistik (mau kaya mendadak) , mengeruk keutungan tanah dari proyek itu. 

Belum lagi kita bicara tentang pelaksana proyeknya, apakah itu pimpinan proyek, atau kontraktor dan ataupun komsultan.  Jika semuanya benar-benar menghayati budaya gotong royong, maka mereka pasti memposisi diri sebagai pengabdi bagi pembangunan negeri demi kesejahteraan bersama.  Dengan demikian, mereka bekerja dengan kualitas yang maksimal, bukan asal-asalan, demi keuntungan semata-mata, sehingga hasilnya akan dinikmati beratus tahun hingga anak cucu ke depan.  Namun, tidak sedikit pelaksana proyek hanya mengejar keuntungan individualis, dengan mengebaikan kepentingan orang banyak.  Prinsip mereka, selesai proyek, selesai pula urusannya; soal hasil kerja yang rendah mutunya, atau rusak secepatnya, itu urusan orang lain; atau berharap akan ada lagi proyek rehabilitasi berikutnya guna keuntungan kedua kalinya.  Inilah mental yang merusak bangsa, melepas budaya gotong royongan, demi keuntungan individu.

Dalam kontek kehidupan sosial di beberapa daerah, kita berharap agar budaya gotong royong masih kuat.  Budaya tersebut diiharap masih berpengaruh di tengah kehidupan masyarakat.  Demikian pula dalam hubungan antar pemerintah daerah dan rakyat, budaya gotong royong diharapkan tetap menjadi ciri khasnya.  Bahwa keberhasilan pemerintahan dan pembangunan merupakan keberhasilan bersama dan untuk kepentingan bersama.  Pemerintah menjadi pelayan rakyat sementara rakyat setia mendukung program daerah yang memberi manfaat bagi kehidupannya.  Karena itu tidaklah layak jika ada pihak tertentu mengklaim keberhasilan tersebut sebagai keberhasilan dirinya sendiri, sebab hal ini bertentangan dengan kenyataan yang ada.

Akhirnya, budaya gotong royong sebagai jati diri bangsa menjadi sangat penting karena dapat menjadi katup pengaman bagi perilaku segenap elemen bangsa.  Dalam kaitannya dengan moralitas, budaya gotong royong dapat berlaku hanya jika tiap-tiap warga negara memiliki sekaligus mental religius yang tinggi.  Dua hal, religius dan gotong royong, sejalan dengan dua dimenasi agama, yakni hablun minallah dan hablun minannas.   Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s