FAKTA YANG TERLUPAKAN DI HARI SANTRI

FAKTA YANG TERLUPAKAN DI HARI SANTRI

Oleh: Hamka Haq

Bahwa sumber pengusulan hari santri itu berasal dari aspirasi masyarakat pesantren, yang pada umumnya adalah pesantren nahdhiyin kultural.  Usulan tersebut terutama bergema pada masa-masa kampanye Pak Jokowi menjelang Pilpres, sekitar bulan Mei dan Juni 2014.  Usul tersebut belum sempat disuarakan secara resmi oleh PBNU, sehubungan dalam suasana pesta demokrasi itu, Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. K.H. Said Aqiel Siradj berhubung satu dan lain hal tidak ikut dalam barisan pendukung Jokowi, sehingga untuk sementara komunikasi beliau dengan partai koalisi pendukung Capres Jokowi, khususnya PDI Perjuangan tidak semaksimal sebelumnya. 

Usulan dari kaum Nahdhiyin kultural itu kemudian diendors oleh warga dan simpatisan NU yang bergabung di parpol koalisi Capres Jokowi, khsusnya mereka yang aktif menyertai sapari politik Jokowi ke sejumah kiyai,  khususnya di Jawa.  Dari internal PDI Perjuangan, Jokowi lazimnya didampingi oleh fungsionaris DPP Partai dibantu oleh Pengurus Baitul Muslimin (BAMUSI) ormas sayap Islam PDI Perjuangan.  Fungsionaris DPP yang ditugaskan biasanya disesuaikan dengan Dapil nya pada saat pemilu dan sekitarnya.  Untuk wilayah Jawa Timur yang dikenal sebagai wilayah Tapal kuda atau wilayah santri yang paling sering diamanahi untuk menyertai Sapari politik Jokowi itu adalah DR. Ahmad Basarah wasekjen DPP PDI Perjuangan sekaigus Sekretaris Dewan Pertimbangan BAMUSI, juga Prof. Hamka Haq Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan YME sekaligus Ketua Umum BAMUSI.  Selain itu  pengursus PP BAMUSI  yang sering juga mendapat tugas yang sama ialah Zuhairi Misrawi, salah seorng intelktual muda NU yang gabung dengan PDI Perjuangan melalui ormas BAMUSI, diamanahi mendampingi Jokowi ke beberapa kiyai di Yogya dan Jawa Tengah.

                Wacana hari santri yang mulanya bergulir berupa perbincangan di kalangan pesantren semakin kuat di masa-masa puncak kampanye keliling Pak Jokowi di Jawa Timur di bulan Juni 2014, menjelang bulan suci Ramadhan 1435 H.  Seiring dengan kampanye keliling tersebut, beliau didampingi oleh Dr. Ahmad Basarah dan diagendakan menghadiri acara pelantikan PC BAMUSI Kabupaten Malang oleh Ketum BAMUSI Prof. Hamka Haq pada tanggal 27 Juni 2014 M jam 19.30 malam (29 Sya’ban 1435 H).  Acara tersebut dirangkaikan dengan silaturahim para ulama sekitarnya persiapan masuknya bulan Ramadhan, dipusatkan di Pesantren Babu Salam asuhan K.H. THORIQ BIN ZIYAD.  Barulah pada acara tersebut usulan Hari Santri Nasional disampaikan secar formal oleh para kiyai yang hadir diwakili oleh Gus Thoriq sendiri, Pimpinan Pesantren tersebut sekaligus Ketua BAMUSI Kabupaten Malang. 

Dalam usulannya, Gus Thoriq memohon kiranya Bapak Jokowi jika terpilih jadi Presiden RI dapat menjadikan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Usulan terebut disambut dengan takbir Allahu Akbar dan tepuk tangan meriah oleh segenap hadirin.  Pak Jokowi pun menoleh, minta pertimbangan pada dua fungsionaris DPP PDI Perjuangan yang sedang mendampinginya, yakni Dr. Ahmad Basarah dan Prof. Hamka Haq.  Atas pertimbangan bersama, dengan memohon ridho Allah SWT, usulan tersebut langsung diterima oleh Pak Jokowi dan diiyakan dalam sambutan silaturahimnya.

                Usai Pilpres, berdasarkan putusan KPU Nasional, Alhamdulillah Pak Jokowi diumumkan sebagai pemenang Pilpres 2014.  Karuan saja wacara Hari Santri Nasional semakin bergulir, para pesantren dan kiyai-kiyai kultural Nahdhiyin pendukung setia Pak Jokowi seolah menagih janji Jokowi.  Tapi awalnya sempat menjadi kontroversial, karena tanggal 1 Muharam selama ini diperingati oleh umat Islam se Dunia sebagai hari tahun baru Hijriyah. Banyak kalangan umat Islam yang menolak keras jika haris tersebut menjadi hari santri.  Lagian makna hari santri tentu akan menjadi kabur, dan tidak jelas jika hanya sekedar numpang di tanggal 1 Muharam yang memang selama ini sudah menjadi hari besar Islam se Dunia. 

Hal tersebut mendorong PP BAMUSI segera mencari solusinya, maka pada kesempatan syukuran atas suksesnya Pilpres, BAMUSI beraudiensi dengan Wapres Bapak Jusuf Kalla tanggal 19 Desember 2014, menyampaikan beberapa hal, termasuk perlunya mencari alternative selain 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.  Secara lisan PP BAMUSI mengusulkan untuk diteruskan kepada Bapak Presiden Jokowi, yakni tanggal 22 Oktober 1945, saat Hadhratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari Pendiri NU menyerukan jihad nasional melawan agresi Sekutu pimpinan Inggris yang saat itu akan segera mendarat di Surabaya.

                Tidak puas dengan pertemuan yang serba dibatasi oleh protokol Wapres, Prof. Hamka Haq mengusulkan lagi pertemuan kekeluargaan di Rumah Dinas, disampaikan saat bersama Wapres Jusuf Kalla di atas pesawat khusus menuju Makassar menghadiri pemakaman mantar Gubernur Sul-Sel, H.Andi Oddang tanggal 11 Feberuari 2015.   Tak lama kemudian aspri Wapres H. Husain, mengatur pertemuan terebut.  Dalam pertemuan kedua ini, hadir beberapa pengurus PP BAMUSI yang tidak sempat ikut pertemuan sebelumnya, termasuk Bendahara Umum PP BAMUSI Ir. H. Nasyirul Falah Amru yang juga adalah Wakil Bendahara PBNU.  Usul yang sama kembali dikemukakan secara lisan rencana Hari Santri Nsional merujuk hari jihad nasional tanggal 22 Oktober 1945.

                Sementara itu, hubungan dan komunikasi Ketua Umum PBNU Prof. DR. K.H. Said Aqil Syiradj telah kembali hangat seperti biasa dengan koalisi Jokowi.  Beliau sebenarnya sudah sangat akrab dalam lingkungan PDI Perjuangan, bahkan masuk dalam barisan nasionalsme Partai, sejak bedirinya ormas BAMUSI beliau duduk sebagai Dewan Pembina bersama Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, Pak Taufiq Kiemas dan Buya Syafi’i Maarif.    Beiau tidak pernah absen dalam acara-acara besar BAMUSI dan PDI Perjuangan.  Beliau juga turut hadir pada pelantikan Bapak Jokowi sebagai Presiden di gedung MPR RI.  Dan dengan didukung sejumlah ormas Islam lain, beliau gigih mengajukan usul ke Presiden tentang Hari Santri Nasional , yakni mengacu ke tanggai 22 Oktober 1945 hari jihad nasional tersebut.

                Berdasarkan sejumlah usul tersebut, maka pada akhirnya Bapak Presiden Jokowi menunaikan janjinya menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, yang akan diperingati umat Islam Indonesia setiap tahunnya.  Dari pesantren Babu Salam 27 Juni 2014, hingga Masjid Istiqlal 22 Oktober 2015, jadilah Hari Santri Nasional itu.  Hal ini harus dipahami oleh bangsa Indonesia, terutama oleh umat Islam bahwa PDI Perjuangan bukanlah partai sekuler, melainkan partai nasionalis religius, terbukti telah menjadi pelopor melalui ormas sayap BAMUSI bagi lahirnya Hari Santri Nasional.  Wallahu A’lam bi al-Showabi.

Catatan: Tulisan ini juga dimuat di http://genial.id/read-news/fakta-yang-terlupakan-di-hari-santri

JATUHNYA BIZATIUM DAN KEBNGKITAN EROPA (Bagian 3)

Foto: kompas.com

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Khilafah Runtuh, Lahirlah Republik

Pada akhirnya nanti, Khilafah Utsmani runtuh, dan diumumkan pembubarannya oleh Mustafa Kemal Ataturk tanggal 3 Maret 1924.  Apakah berarti Mustafa Kemal pengkhianat Khilafah?, dan patut dikecam habis-habisan oleh siapa pun yang bernostalgia pada kejayaan Khilafah di masa lalu? Apalagi, berbagai simbol tradisi Islam juga dihapus, termasuk mengonversi “Masjid Hagia Sophia” menjadi museum?  Mari kita telaah sejarah untuk mengetahui akar masalahnya. 

Seperti dikemukakan pada bagian lalu, Sultan Mahmud II (1807-1839) adalah peletak dasar reformasi dan sekulerisasi Utsmani.  Sekulerisasi kemudian lebih diformalkan oleh gerakan Tanzimat di era Sultan Abdul Majid I (1839-1861) dan Sultan Abdul Aziz (1861-1876), dalam bentuk konstitusi dan perundangan.

Sehabis Tanzimat muncul pula gerakan baru bernama Utsmani Muda dengan tokoh sentralnya Midhat Pasya (1822-1883), sebuah gerakan penerus cita-cita khilafah berkonstitusi.  Ketika menjabat Perdana Menteri (Wazir Agung), ia berhasil membujuk Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) memberlakukan konstitusi gagasannya pada tahun 1876, walau kemudian dianulir oleh Sultan pada tahun 1878, sehingga Sultan kembali berkuasa absolut. 

Hal ini menyulut bangkitnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan sipil dan militer yang dikenal sebagai Turki Muda.  Salah satu faksi militer adalah Komite Tanah Air dan Kemerdekaan dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasya.  Sementara di tahun 1889 lahir pula partai politik Komite Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Tarakki).  Tahun 1908 sebuah faksi militer simpatisan Komite Persatuan dan Kemajuan (K-PK), dipimpin oleh Enver Pasya dan Ahmad Niyazi melakukan pembernotakan.  Situasi ini mendorong Komite K-PK mendesak Sultan untuk memberlakukan kembali konstitusi 1876.  Akhirnya Sultan Abdul Hamid II memberlakukan lagi konstitusi tersebut 25 Juli 1908.  Parlemen hasil Pemilupun terbentuk, dipimpin oleh Ahmad Reza (1859-1931) dari gerakan Turki Muda.

Sementara sibuk membenahi sistem hukum, politik, militer, ekonomi, pendidikan dan infrastruktur lainnya, Ustmani menghadapi gelombang baru serangan balik dari Eropa.  Siprus dilepas atas tekanan Inggeris (1878), Perancis menduduki Tunisia 1881, sebagai imbalan dari ekstradisi Midhat Pasha, “pengkhianat” Sultan yang berlindung di Perancis.  Mesir pun menyusul jatuh ke tangan Inggeris secara defakto sejak 1882,  kemudian Libya lepas setelah kalah perang melawan Italia (1911-1912). Selebihnya, Utsmani juga kehilangan semua teritorinya di Balkan, setelah kalah perang (1912-1913) melawan Liga Balkan yaitu daerah otonominya sendiri (Montenegro, Yunani, Bulgaria, dan Serbia).  Praktis, sejak 1914 Utsmani sudah dipukul mundur dari hampir seluruh daratan Eropa dan Afrika.

Derita Utsmani semakin lengkap akibat besarnya utang luar negeri yang digunakan membiayai ambisi perang.  Maka dibentuklah lembaga utang negara, Duyun–u Umumiye (1881), di bawah kendali Perancis dan Inggeris sebagai kreditor terbesar, sehingga praktis ekonomi Utsmani dikuasai Eropa. Hingga 1908, setidaknya terdapat 12 kontrak pinjaman LN yang harus ditanda tanganinya.

Saat Sultan Abdul Hamid II mencoba melawan Parlemen, pasukan Enver Pasya melakukan kudeta, memakzulkan Sultan Abdul Hamid II dan menaikkan Sultan Mehmed V (1909-1918).  Pemilu diadakan lagi 1912 yang dimenangi oleh Komite K-PK dan menguasai parlemen.  Setahun kemudian faksi militer merebut kekuasaan dari politisi, dan menguasai sepenuhnya pemerintahan di bawah tiga serangkai Enver Pasya, Talat Pasya dan Jamal Pasya.  Trio Pasya inilah yang menyeret Utsmani berkoalisi dengan Jerman sampai ikut bersama dalam Perang Dunia I (1914-1918).

Karuan saja, keadaan Utsmani semakin parah dengan ikutnya dalam PD I bersama Blok Jerman melawan Sekutu yang melibatkan Rusia, Perancis, Inggeris (Triple Entente) plus Amerika.  Ironisnya, segenap wilayah Arab Utsmani dipelopori Kerajaan Hijaz (kini Arab Saudi) justru berbelok memihak Sekutu melawan khilafahnya dalam Perang Megiddo (1917).  Akhirnya Blok Jerman kalah, dan Utsmani pun terpaksa menyerah 30 Oktober 1918.

Akibat kekalahan dalam PD I ini, Utsmani kehilangan semua wilayahnya di Asia dan Afrika.  Sedang Mesir, Libiya, dan wilayah Balkan telah lepas sebelumnya, dan wilayah lainnya menjadi bulan-bulanan penaklukan pasukan Sekutu.  Dampak dari krisis politik internal, krisis ekonomi dan kekalahan pada PD I, maka wilayah Utsmani secara defakto tinggal Anatolia bekas wilayah Bizantium lama dan Trakia sisa dari wilayah Balkan.

Pertahanan Utsmani akhirnya mencapai titik nadir ketika Sekutu (Triple Entente Perancis, Inggeris dan Rusia) menduduki jantung Istanbul (Konstantinopel) ibu kota Utsmani, sejak 12 November 1918.  Sementara Yunani menduduki pula Izmir (kota terbesar ketiga Utsmani) 21 Mei 1918. Utsmani diseret menerima Perjanjian Sevres (10 Agustsu 1920) yang isinya memberikan hak pada Sekutu untuk membagi-bagi wilayah Utsmani; juga Sekutu berhak mengendalikan militer dan ekonomi sepenuhnya.  Dalam kurun waktu tersebut, kedaulatan Utsmani sebenarnya sudah pupus, bertekuk lutut dibawa kendali Sekutu; dengan kata lain Utsmani penakluk Bizantium (1453), yang pernah berkuasa di tiga benua telah bubar secara defakto sejak 1922, kendatipun Sultan masih bertahta di istana.

Sisa-sisa kekuatan Utsmani yang tidak puas sejak tahun 1919 bangkit menyusun gerakan nasionalis melawan Sekutu untuk membebaskan Anatolia, jantung Utsmani dan sekitarnya.  Mereka mencetuskan Perang Kemerdekaan Turki, dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasya, dengan langkah pertama membentuk Dewan Nasional Turki di Ankara.  Khawatir akan posisi Mustafa Kemal yang semakin kuat, sebuah peradilan militer di era Sultan Mehmed VI (1918-1922) menjatuhkan hukuman mati in absensia atasnya, walau tak pernah dieksekusi.

Pasukan Mustafa Kemal tak terbendung, berhasil memukul mundur Sekutu dengan menghalau tentara pendudukan Yunani, Britania, Prancis dan Italia.   Ia pun langsung membatalkan Perjanjian Sevres 1920 yang jadi dasar Sekutu membagi wilayah serta menguasai militer dan ekonomi Utsmani. Atas kemenangan itu, rakyat jadi senang pada Mustafa Kemal dan mendukung kemenangan Gerakan Nasional Turki di Parlemen 1922.   Mustafa Kemal Pasya berusaha membangun kekusaan yang lepas dari Khilafah karena Sultan dianggap telah menjual Utsmani ke Sekutu; bahwa dengan Perjanjian Sevres, Utsmani kehilangan wilayah sekaligus kedaulatan secara defakto.  Kenyataan itu tidak dipungkiri oleh siapapun.

Majelis Agung Nasional (Parlemen) Turki dalam sidangnya 1 November 1922 menghapus Khilafah, sehingga Mustafa Kemal sepenuhnya mengendalilkan kedaulatan Turki.   Sultan diasingkan ke dalam sebuah kapal perang Inggeris menuju Malta 17 Novmber 1922.  Selanjutnya Parlemen Turki tanggal 29 Oktober 1923 memproklamasikan berdirinya Republik Turki, dan mengangkat Mustafa Kemal sebagai Presiden Pertama, disertai gelar Ataturk (Bapak Bangsa Turki).  Sebagai amanat dari Parlemen itu, Mustafa Kemal akhirnya mengumumkan bubarnya Khilafah Utsmani secara resmi 3 Maret 1924.   Tamatlah sudah riwayatnya.

Dari sana dapat dipahami bahwa bubarnya Khilafah Utsmani bukanlah dosa pribadi Mustafa Kamal Pasya.  Sejalan dengan Eugene Rogan penulis buku The Fall of the Ottomans, Utsmani bubar akibat kekalahan dalam PD I, sehingga segenap wilayah bahkan kedaulatan Khalifah sendiri jatuh pada kekuasaan Sekutu.  Dengan kata lain kemenangan Mustafa Kemal merebut wilayah Anatolia dan sekitar (teritori Turki sekarang) dan membangun Republik Turki di atasnya adalah menyelamatkan eksistensi bangsa Turki dalam sejarah sebagai sebuah negara dalam peta Dunia.   Boleh jadi tanpa kemenangan itu, riwayat Turki berakhir akibat kekalahan Utsmani dalam PD I, hancur berkeping-keping dalam genggaman Sekutu dan mustahil kembali menjadi Khilafah seperti sedia kala.   

Sebagai sebuah negara modern, Turki tentu harus tunduk pada hukum internasional berdasarkan Piagam PBB.  Konsekuensinya, Turki wajib membangun perdamaian dunia, menghapus naluri ekspansionis Utsmani yang penuh ambisi perang di zaman lalu.  Simbol-simbol keagamaan diatur tanpa gesekan rasial sektarianis.  Termasuk Masjid “Gereja” Hagia Sophia tidak digunakan untuk gereja, tidak juga untuk masjid, tapi sebagai museum warisan Dunia, sebagai bukti kebersamaan mewarisinya demi persahabatan, perdamaian dan ketertiban dunia.

Sesuai dengan spirit nasionalis revolusionernya, Mustafa Kemal juga mempromosikan tradisi busana dan perilaku keseharaian bangsa Turki. Bahkan memerintahkan azan dalam bahasa Turki, sampai mendapat kutukan sejagad.  Padahal, umat Islam Turki sendiri tidak mempersoalkan, sesuai pendapat madzhab Abu Hanifah yang mereka anut bahwa shalat dalam bahasa Persia pun adalah sah.  Hanya mereka penganut Syafiiyah di Asia Tenggara, Malikiyah di Afrika Utara, apalagi Hanbali di Saudi Arabiyah yang ramai mempersoalkan.  Di Indonesia, mayoritas mutlak umat Islam justru membolehkan juga ibadah khotbah dalam bahasa Indonesia, padahal sakralitas ibadah khotbah melebihi azan.  Jadi langkah-langkah Mustafa Kemal tersebut adalah bermakud membangun rasa cinta tanah air bagi  bangsa Turki.   Wallahu A’lam bi al-Showab.

Naskah ini juga dimuat https://www.genial.id/read-news/jatuhnya-bizantium-dan-kebangkitan-eropa-bagian-3

JATUHNYA BIZANTIUM DAN KEBANGKITAN EROPA (Bagian 2)

images

Foto: CakraDunia.co

 

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

Ottoman, the Sick Man of Europe

Setelah merebut Bizantium, Turki “Ottoman” Utsmani seolah tanpa henti berekspansi terus ke negeri-negeri Eropa, bahkan dinasi-dinasti Islam di Asia pun dicaplok semuanya.  Di bawah Sultan Salim I (1512-1520) dan Sulaiman Agung (1520-1566),  Utsmani melanjutkan perluasan kekuasaan ke dinasti Safawi (Persia), terus Teluk Persia, Mesir termasuk Laut Merah, bahkan sudah merebut Mesopotamia (Irak) bekas pusat wilayah khilafah Abbasiyah.   Di Eropa, wilayahnya sudah meluas mencakup Beograd, Hongaria, Transylvania, Wallachia dan Moldavia, namun terhadang di Wina (1532), kecuali berhasil menaklukkan wilayah lain, Nice (1543) dan Korsika (1553).

Sedang ke benua Afrika, Utsmani berhasil menghalau pengaruh Portugal (1559), dan menganeksasi Kesultanan Adal di Tanduk Afrika sebagai awal kedaulatannya atas Somalia, Maroko dan wilayah Afrika lainnya.   Sejak itu, otomatis Utsmani merajai Laut Tengah yang menghubungkan tiga benua, Eropa, Afrika dan Asia.  Pokoknya Utsmani menjadi Imperium Islam Adidaya tak terkalahkan zaman itu.  Kayaknya ingin mengulang kebesaran imperium Mongol ketika menjadi penguasa dunia, wilayahnya mencakup tiga perempat wilayah Asia dan seperdua Eropa.

Setelah sekian lama malang melintang beragresi leluasa ke Eropa, Asia dan Afrika, maka keperkasaan Utsmani pun berangsur pudar.  Mitos bahwa Pasukan Utsmani tak terkalahkan mulai sirna ketika Angkatan Lautnya kalah dalam pertempuran di Eropa Selatan, Laut Mediterania (1571) melawan koalisi Katolik di bawah komando Philip II dari Spanyol.  Utsmani kemudian semakin terseret-seret menghadapi tantangan Eropa pada sejumlah pertempuran dalam kurun waktu satu abad kemudian, dan pada akhirnya kalah total pada pertempuran dahsyat Wina di tahun 1683, pertanda berakhirnya keperkasaan Utsmani di Eropa.  Hal ini akibat bangkitnya raja-raja Eropa bersatu melawan Utsmani, terutama oleh Rusia, Austria, Polandia dan Lituania.  Satu persatu wilayah Utsmani di Eropa seperti Hongaria, Transyilvania, dan lainnya akhirnya direbut kembali oleh raja-raja Eropa.

Kekalahannya pada pertempuran Wina (1683) membuat Sultan Mehmed IV marah besar, dan menghukum mati Wazir Agung Kara Mustafa Pasha yang memimpin penyerangan itu.  Pasca kekalahan itu, Utsmani mengalami titik balik setelah tiga abad menjadi kekuatan tak terbendung di Eropa. Dalam serangkaian pertempuran berikutnya, sebaliknya pasukan Utsmani selalu kalah, terutama setelah intervensi Paus Innosensius XI membentuk Liga Suci beranggotakan raja-raja Eropa, termasuk Tsar Rusia.  Konflik dengan Eropa jeda sementara dengan Perjanjian Karlowitz tahun 1699, yang justru memaksa Utsmani menyerahkan kembali sejumlah wilayahnya ke Eropa.   Dalam beberapa perang sesudahnya hingga menjelang akhir abad ke 19, yang diringi pula dengan perjanjian-perjanjian damai, terutama dengan Rusia yang sangat gigih melakukan serangan balik, Utsmani semakin kehilangan wilayah di Eropah, sampai dijuluki sebagai “The sick man of Europe” (orang sakit nya Eropa).

Untuk menghadapi arus serangan balik Eropa yang semakin deras itu, Utsmani melakukan reformasi militer.  Sekolah artileri dibangun pada tahun 1734 guna mempelajari metode artileri Eropa, tapi tak berjalan dengan baik, karena ditolak keras oleh kaum ulama yang mengharamkan kerjasama dengan non Muslim.  Militer terpaksa melanjutkan sekolah tersebut secara rahasia tahun 1754.  Untuk kelancaran pendidikan secara umum, Ibrahim Mutafarrika sejak 1726 memperkenalkan mesin cetak guna menerbitkan buku-buku referensi sebanyak mungkin.  Namun ia dibatasi mencetak buku-buku pelajaran umum non agama saja, atas fatwa kaum ulama yang melarang mencetak buku daras agama.  Kaum ulama tetap mempertahankan penulisan tangan buku-buku agama untuk madrasah, terutama Al-Qur’an.

Reformasi militer juga diserukan oleh Selim III (1789-1807).  tapi, lagi-lagi gagal karena penolakan keras korps laskar jihad Yanisari. Pasukan pengawal istana ini malah memberontak dengan bengisnya, dan akhirnya dibubarkan pada era Sultan Mahmud II (1808-1839).  Selanjutnya Sultan Mahmud II melakukan pelatihan militer, dengan bantuan pelatih dari Mesir – wilayah Turki yang sudah merdeka –, menghindari kerjasama militer dengan Eropa yang pernah diharamkan oleh ulama.  Sultan Mahmud II melakukan juga pembaharuan dalam pemerintahan dan hukum.  Dia lah yang memulai pemisahan antara hukum urusan agama (tasyri al-diniy) yang dibawahi oleh Syaikh al-Islam dan hukum urusan duniawi (tasyri’ al-madani) yang diatur kemudian oleh dewan perancang undang-undang.  Untuk hukum duniawi, Utsmani mengadopsi hukum Perancis dan negara Eropa lainnya.  Tak salah jika dikatakan Sultan Mahmud II lah yang memulai proses sekulerisasi (pemisahan urusan agama dan dunia) dalam kehidupan sosial politik Utsmani.

Selanjutnya pada era Sultan Majid (1839-1961), terjadi reformasi besar-besaran oleh gerakan berkonstitusi atau lebih dikenal sebagai gerakan Tanzimat.  Gerakan ini terinspirasi dari revolusi Inggeris (1688) yang mengubah kerajaan Beritania menjadi monarki konstitusional, dan revolusi Perancis (1789-1799) yang mengubah kerajaan Perancis menjadi republik.  Pengaruh besar dua revolusi tersebut merembes ke Utsmani melalui kaum intelektualnya yang pernah belajar di Eropa.

Gerakan tanzimat secara perlahan mengurangi kekuasaan Sultan, dengan terbentuknya Parlemen yang mewakili segenap lapisan warga yang beragam agama dan etnisnya.  Semua warga yang majemuk itu sama hak dan kewajibannya tanpa diskriminasi, sesuai dengan spirit hukum Eropa yang demokratis, juga sejalan dengan tuntutan Rusia akan adanya perlindungan bagi warga Kristen Ortodoks di wilayah Utsmani.   Dua produk hukum Tanzimat, yakni Piagam Gulhane (1839) dan Piagam Humayun (1856) adalah berisikan hak-hak kesejahnteraan sosial yang setara bagi segenap kaum sipil Utsmani tanpa dikriminsi rasial dan agama, sejalan dengan spirit hukum Eropa.

Dengan demikian, warga Kristen di Utsmani dapat berkontribusi dalam politik dan terutama dalam kemajuan ekonomi berkat pendidikan mereka yang lebih unggul ketimbang Muslim mayoritas. Alasan klasik mengapa pendidikan umat Islam di sekolah umum menjadi terbelakang adalah karena sebahagian waktu tersita oleh kewajiban studi bahasa Arab, aqidah dan fikih; sementara sekolah-sekolah Kristen fokus pada penguasaan sains, teknologi dan ekonomi.  Kondisi itu berlanjut terus hingga per tahun 1911, sekitar 80 % ekonomi Utsmani dikuasai oleh pebisnis Kristen Yunani.

Tujuan utama dan terpenting sebenarnya dari Gerakan Tanzhimat ialah untuk menjaga keutuhan wilayah Khilafah Utsmani yang masih tersisa dengan meredam derasnya tekanan Eropa.  Juga meredam bangkitnya perlawanan propinsi-propinsi Arab yang mulai bergolak untuk merdeka dari Utsmani.  Untuk meredam emosi rasial Eropa terhadap Utsmani, para petinggi Tanzimat berupaya meyakinkan Eropa bahwa khilafah (monarki) konstitusional Utsmani merupakan bahagian dari Eropa. Upaya mereka berhasil ketika Eropa menerima Utsmani bergabung dalam aliansi Eropa hasil Kongres Paris pada tahun 1856, disertai jaminan status quo bagi teritorial Utsmani di Eropa yang tersisa.

Parlemen di penghujung era Tanzimat kemudian menyusun konstitusi (Kanun u Esasi) yang lebih memperkuat dua piagam hukum sebelumnya.   Untuk pertama kalinya, Utsmani di bawah Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) menjadi monarki konstitusional, walaupun kedaulatan masih di tangan Sultan, bukan di tangan rakyat.  Sayangnya konstitusi ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua tahun (1876-1878), berakhir dengan dibubarkannya Parlemen oleh Sultan.  Sultan pun kembali berkuasa secara absolut.   Bagaimana nasib dinasti absolut ini menghadapi dunia modern akan diuraikan pada bagian berikut. (bersambung).

Tulisan ini telah dimuat di  https://www.genial.id/read-news/jatuhnya-bizantium-awal-kebangkitan-eropa-2 

JATUHNYA BIZATIUM DAN KEBANGKITAN EROPA (Bagian 1)

haga sophia1

Foto: greelane.com

 

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

Sengsara Membawa Nikmat

Jatuhnya Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) ke tangan Turki Usmani (Ottoman) sungguh kemenangn gemilang bagi Khilafah Islam atas kekaisaran Kristen Ortodoks Romawi Timur yang membawa perasaan menyakitkan tiada taranya bagi Dunia Kristen Eropa.  Betapa tidak, Bizantium sebagai kebanggaan Eropa itu adalah situs yang sangat melegenda, diperkirakan telah eksis sejak 672 sebelum Masihi.  Ibu kotanya adalah Konstantinopel mengambil nama pendirinya, Kaisar Konstantinus I di tahun 306 M, dan sejak 330 M, telah menjadi ibu kota Bizantium.

Khilafah Utsmani adalah imperium Islam yang dibangun oleh bangsa Turki, yang masih berkerabat dengan bangsa Mongol dari Asia Tengah.  Dua bangsa serumpun ini memang memiliki watak keperkasaan dan keberanian berperang yang tiada taranya.   Di bawah komando Khalifah Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), pasukan Utsmani mengepung Konstantinopel ibu kota Bizantium, selama 8 pekan.   Akhirnya pada 29 Mei 1453 Bizantium takluk, sementara Raja Konstantinus yang memimpin pasukannya dalam perang itu juga tewas.

Maka secara defakto, kekuatan dunia di zaman itu terbelah menjadi dua, yakni Barat dan Timur, atau Eropa dan Asia, atau lebih khusus lagi, Kristen dan Islam.  Namun siapa nyana, bahwa jatuhnya Bizantium sebagai pusat peradaban Kristen Eropa ke tangan Khilafah Islam waktu itu justru merupakan awal kebangkitan Eropa sendiri menuju puncak-puncak kemajuan peradaban modern.  Atau seperti pepatah “Sengsara Membawa Nikmat”.

Bahwa peristiwa dahsyat itu menandai berakhirnya abad pertengahan atau berakhirnya perang salib yang telah berlangung sejak 1096, yang di dalamnya dunia Islam berhasil menunjukkan superioritasnya. Namun sekali lagi, apakah kejatuhan Bizantium itu benar-benar telah mengakhiri hegemoni Dunia Eropa Kristen atas peradaban dunia?.  Ternyata tidak.  Justru sejak kekalahan mereka di Bizantium itu, Eropa memasuki babak baru yakni zaman renaisans, bangkitnya kesadaran berilmu, meninggalkan dogma-dogma agama yang mengekang Eropa selama itu.  Renaisans  juga dapat berarti berubahnya pilar utama peradaban Eropa, yang sebelumnya bertumpu pada dogma-dogma agama yang kental dengan janji-janji spiritual ukhrawi di bawah panji-panji Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Bizantium, beralih ke peradaban yang bertumpu pada kemanusiaan, sains dan teknologi.

Hegemoni Gereja dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat menjadi pudar.  Raja-raja Eropa satu persatu melepaskan diri dari kedaulatan Gereja yang selama itu menguasai dan mengekang mereka. Ajaran-ajaran Kristen mulai dipahami dengan tafsir baru, dalam proses reformasi yang pada gilirannya melahirkan mazhab Protestan.

Sementara itu, dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan spirit pengkajian secara rasional atas teks-teks warisan Yunani-Romawi.  Ditunjang pula dengan eksodusnya para ilmuwan Yunani dari Bizantium yang sudah takluk.  Renaisans juga diperkaya dengan warisan ilmu peninggalan Andalusia (Spanyol) yang telah direbut kembali Eropa setelah delapan abad dikuasai dinasti-dinasti Islam.   Bahkan Eropa tidak segan-segan mendalami ilmu alam bangsa Arab, dan teknik persenjataan mesiu dari Asia yang dahulu dipakai Utsmani menaklukkan  Bisantium.  Pokoknya di zaman renaisans, semangat keilmuan Eropa telah menyala-nyala, sementara dunia Islam di bawah hegemoni Turki Utsmani masih bereforia dengan semangat ekspansi penaklukan wilayah yang tiada henti terhadap wilayah Kristen Eropa, bahkan terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Asia pun dicaplok juga menjadi propinsinya.  Artinya, tak ada musuh, mereka pun saling bermusuhan.

Selama berabad-abad, Turki Utsmani gagal memanfaatkan posisi strategis Istanbul (konstantinopel), sebagai jalur ekonomi Asia–Eropa, untuk memakmurkan negaranya terutama untuk pengembangan sains dan teknologi.  Turki Utsmani hanya fokus membiayai ekspansi wilayah ke Eropa dan Asia demi khilafahnya menjadi imperium raksasa untuk semakin disegani dan mengancam Barat.  Hal itu sejalan dengan watak aslinya dari Mongolia yang haus perang.

Sementara itu, Eropa yang otomatis tidak dapat lagi menggunakan wilayah Konstantinopel sebagai jalur niaga antarbenua seperti sediakala, terpaksa mencari alternative lain.  Maka dengan ditunjang sains dan teknologi yang semakin maju pesat, berkah renaisans, Eropa berhasil mengembangkan jalur perdagangan baru antarsamudra, menggantikan jalur antarbenua itu.  Maka sejak abad ke 16 pun Eropa telah menjadi bangsa-bangsa penguasa maritime yang hebat.  Dimulai dengan pelayaran Bartolomeus Dias yang menemukan Tanjung Pengharapan di Afrika Selatan (1488), dilanjtukan dengan pelayaran Vasco Dagama yang sudah menembus ke India (1498).

Dan dengan keyakinan bahwa bumi ini bulat seperti bola, berbeda dengan keyakinan umat Islam zaman itu bahwa bumi ini datar, Eropa berusaha juga menjelajah ke arah Barat.   Sebuah pelayaran dipimpin oleh Christopher Columbus dari Italia atas biaya Ratu Isabella dari Kastilia penakluk Andalusia, berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492.

Dengan penemuan jalur laut ke Timur oleh Bartolomeus Dias dan Vasco da Gama, bangsa-bangsa Eropa sejak itu menempuh rute niaga baru yang aman menuju negeri-negeri Asia penghasil rempah-rempah, sutera dan bahan baku lainnya.  Mulanya hanya berusaha memonopoli bahan baku sekaligus memasarkan produk-produknya, tapi pada akhirnya mereka menjajah negeri-negeri yang dikunjunginya itu.  Akhirnya semua negeri di Asia penghasil tambang, rempah-rempah, sutera dan bahan baku lainnya, yang pada umumnya adalah negeri-negeri Islam, jatuh menjadi jajahan Eropa.

Penjajahan Eropa atas negeri-negeri Islam jelas membawa penderitaan, kesengsaraan yang tiada taranya selama kurang lebih tiga abad.  India dijajah Inggeris; Malaka dijajah Portugis dan Belanda; Nusantara (Indonesia) dijajah bergilir oleh Inggeris, Portugis dan Belanda; Pilipina dijajah oleh Spanyol.  Inilah nasib yang dialami oleh negeri mayoritas Islam di awal abad modern, seolah merupakan pembalasan atas kemenangan gemilang imperium Islam Turki Utsmani atas Bizantium di tahun 1453.

Dari hasil penjajahannya, Eropa pun semakin makmur, dunia sains dan teknologinya semakin maju, industri kapal dagang berubah jadi armada perang.  Selain itu, teknik persenjataannya pun semakin canggih, seiring pula pesatnya teknologi kedirgantaraan mereka.  Maka dengan kemajuan seperti itu, pada gilirannya mereka kersekutu, berinisiatif menaklukkan Turki Utsmani guna menguasai kembali Anatolia bekas kekaisaran Bizantium, sebagaimana mereka bersekutu merebut kembali Spanyol dari tangan sisa-sisa Khilafah Islam Umayyah.  Bagaimana nasib Turki Utsmani menghadapinya?, akan diuraikan kemudian.  (bersambung)

Catatan: Tulisan ini telah dimuat di genilai.id.

Catatan:  Tulisan ini telah dimuat di Genial.id.

FALSAFAH HIDUP MASYARAKAT SUL-SEL

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA.

 

FALSAFAH HIDUP MASYARAKAT SULAWESI SELATAN

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA.

Orang Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar) memiliki falsafah hidup yang tinggi dari segi kebudayaan yang dapat mendorong terbangunnya peradaban yang maju dan berkarakter.  Minimal ada 4 (empat) dimensi karakter falsafah hidup orang Sul Sel sebagai berikut:

  1. Dimensi Komunikasi

Orang Sulsel sangat menghargai pergaulan yang santun, baik dai segi perilaku maupun dari segi bahasa yang halus atau cara berkomunikasi yang santun.  Hal ini dapat dilihat atau dipahami dari ungkapan-ungkapan keseharian mereka, misalnya:

  • Singereng mu pada bulu, ada(n) mu si lappaE ruttungen manengngi. (Walau jasamu sebesar bukit, tapi seutas kata mu (yang kasar) meruntuhkan semuanya.
  • Sau lo’ bessi te’ sau lo’ ininnawa. (Luka bekas tikaman besi dapat sembuh, tapi luka hati karena ucapan kasar, tak dapat sembuh.
  • Dalam bahasa Mandar: “Monge-monge pa Iya’u, anna to nande gayang, to nande gayang, diang pauliyan na”. Artinya: aku sangatlah merasa sakit, ketimbang orang yang tertikam; orang yang ertikam maih ada obatnya. Hal ini menunjukkan pentingnya berbahasa yang satung, dan tidak menyinggung  parasaan orang lain.
  • Rupa tau, ada(n) na ri yakkatenni, olo kolo, tulu’na riakkatenni, (Untuk manusia, ucapannya yang diperpegangi, sedang untuk hewan, talinya yang dipegang). Ungkapan ini menunjukkan bahwa kesetiaan seseorang dalam membuktikan ucapannya atau janji-janjinya dalam wujud perbuatan nyata merupakan akhlak mulia bagi manusia yang selalu didambakan.   Dari sini pula lahir ungkapan “Seddi ada na Rupa Gau”  yang maksudnya : bersatunya ucapan dengan perbuatan.

Ungkapan-ungkapan di atas mengandung arti bahwa orang SulSel memiliki tingkat spiritual yang cukup tinggi, selalu menjaga akhlaknya yang baik, dengan keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan selalu disaksikan oleh Dewa ta SewwaE” yakni “Tuhan Yang Maha Esa”.  Dengan kata lain masyarakat SulSel, sejak dahulu kala telah percaya adanya Tuhan yang mengawasi hidup dan kehidupan manusia.  Tuhan juga sering disebut dengan istilah “Pa TotoE”, artinya Wujud yang menentukan dan senantiasa memantau nasib dan perbuatan manusia.

  1. Dimensi Sosial Politik yang Demokratis

Dalam kehidupan sosial politik, masyarakat Sulsel sangatlah demokratis, selalu mementingkan musyawarah mufakat, baik menyangkut kehidupan keluarga, soal kemasyarakatan umum, bahkan soal pemerintahan.   Raja atau Datu tidaklah berkuasa absolut, tetapi menjalankan pemerintahan dengan musyawarah mufakat, yang didampingin oleh penasehat-penasehat dari kalangan kaum adat dan kalangan kaum syara’ (agama).

Dalam kehidupan sosial, tampak dalam kebersamaan menetapkan awal turun sawah, atau awal panen dalam pertemuan “Tudang Sipulung.   Juga dalam menangani kebersihan kampung, memakmurkan rumah ibadah, menentukan hari-hari pasar secara bergiliran untuk setiap kampung, semuanya selalu berdasarkan musyawarah mufkat.

Sedang dalam aspek politik, dikenal ungkapan “Maradeka to WajoE, ade’nami napopuang” (Orang wajo (Bugis) itu merdeka, tidak tunduk pada apapun titah raja (Datu), tetapi mereka (Datu dan rakyat) tetap berpedoman pada  adat yang disepakati.  Mereka yang tidak mematuhi adat, akan dikucilkan bahkan dibuang ke daerah lain, “ritongkang ware’na”, diruntuhkan kediamannya.  Raja yang tidak taat pada adat, akan dimakzulkan dari singgasananya.

Dikalangan orang Makassar dikenal ungkapan Parentai tau wa ri ero’na”, yang bermakna bahwa sang Raja (Karaeng) dalam menjalankan pemerintahannya, harus berpedoman pada tradisi yang dikehendaki oleh rakyat. Dengan tetap berpedoman pada tradisi yang dikehendaki rakyat, maka segenap perintah dari Raja (Karaeng) akan pasti dipatuhi oleh  rakyatnya.

Sementara di kalangan Toraja dikenala ungkapan “Misa Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate, yang artinya: satu kata (sepakat) membawa kehidupan, dan bersilang kata atau sengketa membawa kematian.  Ungkapan ini mengharuskan masyarakat Toraja, pemimpin dan rakyat harus mengembangkan sistem musyawarah untuk mufakat dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan.  Tanpa kesepakatan, apalagi jika disertai persengketaan, niscaya membawa kemudharatan dan kehancuran bagi masyarakat.

  1. Dimensi Moralitas

Dalam berbagai ungkapan warisan secara turun temurun, diketahui bahwa orang Sul-Sel sangat berpegang pada moralitas atau akhlak yang mulia.  Misalnya ungkapan berikut:

Iya te’ paja ku sappa, Belona kanukuE, Unganna PanasaE, Pallangga mariang. Maksudnya: orang SulSel selalu mendambakan akhlak yang mulia dengan ciri-cirinya antara lain:

  • belona kanukuE”, yakni Pacci, yakni daun pacar yang biasa dipakai dalam acara “mappacci” menjelang pernikahan.   Dalam bahasa Bugis, pacci (paccing), bermana kesucian atau kebersihan, atau keikhlasan.  Artinya bersih dari perilaku dan ucapan kotor, bersih sifatnya dari hal-hal yang haram, bersih hartanya dari judi dan kecurangan.
  • Juga mendambakan “Ungan na PanasaE”, yakni pucuk buah nangka, namanya “lempu”, diartikan kejujuran (lempu’), karena dengan kejujuran, maka dalam kehidupan sosial terwujud saling mempercayai, saling amanah, jauh dari korupsi, jauh dari pengkhianatan.
  • Begitupun mendambakan “Pallangga Mariang”,  yaitu Pedati, yang diterjemahkan dalam bahasa Bugis “Pada ati”, artinya : sehati, yakni kehidupan sosial yang ditopang oleh kesetiaan, kebersamaan, senasib sepenanggungan, sebagai akhlak mulia.

Juga ungkapan “Aja Mu alai, aju sanreE, Narekko Tanniya iko PasanreI”,  yang berarti larangan kepada setiap orang untuk mengambil sebatang kayu yang bersandar, atau terletak di suatu tempat, jika bukan miliknya.  Ungkapan ini bermakna luas, mencakup larangan atas setiap orang mengambil barang apapun yang bukan haknya.  Artinya ungkapan tersebut anti korupsi dan manipulasi, anti perampasan hak milik orang lain.

  1. Dimensi Solidaritas

Bahwa masyarakat SulSel memiliki sifat solidaritas yang sangat tinggi, dalam bentuk gotong royong  dan kesetia-kawanan.

Gotong Royong; bahwa orang SulSel punya sifat spontanitas gotong royong dalam menghadapi persoalan, baik untuk kepentingan perorangan, maupun untuk kepentingan umum.  Dahulu, sebelum ada mesin traktor, mereka sling membantu membajak swah, sampai pada saling membantu menanam, juga memanen bersama.  Bahkan dalam hal membangun rumah, atau memindahkan rumah (rumah panggung) juga tampak sikap kebersamaannya.  Dan yang paling menonjol ialah pada acara pernikahan, khitanan dan penguburan, semua ditangani secara bersama.  Pokoknya dalam hal bahagia dan sedih, mereka menunjukkan solidaritasnya.

Kesetia Kawanan; bahwa masyarakat SulSel, sangat tinggi kesetiakawanannya, terutama dalam menghadapi persoalan yang sulit menyangkut kehormatan dan harga diri.   Ungkapan yang sering kita dengar ialah “Siri na Pacce”.   Implementasi ungkapan ini antara lain sbagai berikut:

  • Menjaga martabat dalam hal prestasi, bahwa orang SulSel selalu ingin menunjukkan prestasinya, perkembangan karirnya, dan keberhasilan usahanya di kampung sendiri atau di perantauan. Dalam hal ini, semua keluarga turut memberi semangat, karena keberhasilan dinilai sebagai keberhasilan bersama.
  • Saling menjaga dan melindungi kehormatan, sehingga biasanya masalah yang dihadapi seseorang yang dapat menghina kehormatan pribadinya, atau kehormatan bersama, apalagi jika mengancam jiwanya, secara spontan akan mendapat pembelaan dari keluarga, atau tentangga, atau sesama asal daerahnya.  Misalnya dahulu, jika masyarakat mendapat kabar bahwa seorang anak gadis dari suatu keluarga dibawa lari oleh seorang laki-laki, maka hal itu dianggap aib bagi masyarakat setempat. Segenap kerabat dari keluarga yang bersangkutan merasa terinjak kehormatannya, maka mereka pun berusaha menemukan sang lelaki yang membawa lari gadis itu, dan tidak segan-segan membunhnya.  Kecuali jika lelaki tersebut segera melakukan upacara “maddeceng”, semacam upaya damai untuk kawin secara resmi, maka barulah keluarga perempuan merasa kembali kehormatan dan martabatnya seperti sedia kala.
  • Atau jika dalam suasana perantauan, ada seorang warga SulSel teraniaya oleh oarng lain, maka spontan saja warga sesama SulSel tampil membela bahkan menuntut balas, minimal mengupayakan perdamaian yang saling menguntungkan.

Sekian dan terima kasih

Penyaji

(Prof. Dr. Hamka Haq, MA)

BUNG KARNO DAN PANCASILA 1 JUNI 1945

Bung Karno dan Panca Sila 1 Juni 1945

(Bukan Kultus Individu)

Oleh: Prof. Dr.Hamka Haq, MA     

            Menjadikan pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 sebagai referensi rumusan awal Pancasila, tidak bermaksud untuk kultus individu bagi Bung Karno, juga bukan untuk kepentingan politik praktis, melainkan sebagai bentuk politik kenegaraan sebagai satu sisi dari high politic, menyangkut hubungan integral historis asas-asas negara kita (Pancasila dan UUD 1945). Hal ini penting dilakukan untuk meluruskan pemahaman yang timpang dan keliru menyangkut asas-asas negara kita, akibat dari pemikiran yang tidak melihat hubungan historis asas-asas negara itu, ataupun karena sengaja memanipulasi sejarah demi kepentingan sepihak.

            Misalnya, pernah ada ungkapan dari seorang tokoh, yang menyatakan bahwa: “Pancasila Soekarno, sila Ketuhanan ada di pantat, sedang Pancasila Piagam Jakarta, Ketuhanan ada di kepala”.  Pernyataan ini mencerminkan bahwa yang bersangkutan tidak memahami persis hubungan historis antara Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 dengan Piagam Jakarta.  Bahkan tidak memahami proses lahirnya Piagam Jakarta itu sendiri. 

            Padahal, Piagam Jakarta itu sendiri dirumus oleh Panitia Sembilan (Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abd. Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Agus Salim dan Abi Kusno Tjokrosoejoso) yang diinisiasi dan dipimpin langsung oleh Soekarno (diluar dari Panitia Delapan yang dibentuk sebelumnya).  Dalam merumuskan Pancasila, Panitia Sembilan mengacu pada pidato 1 Juni 1945.  Jadi, Piagam Jakarta juga adalah produk yang melibatkan Soekarno sebagai pemeran utama.   Dalam merumuskan Pancasila, Panitia Sembilan hanya mengacu pada lima sila yang ditawarkan oleh Bung Karno, bukan Trisila apalagi Ekasila.   Namun kalau mau jujur, Eka Sila itu tertera pada lambang negara kita, yang berbunyi: “Bhinneka Tunggal Ika”.  Dan falsafah Gotong Royong itu adalah wujud Negara kita yang dibangun atas kebersamaan warga bangsa dengan latar belakang agama, etnis, budaya dan bahasa yang beragam. 

            Sementara itu, sejumlah tokoh lainnya, bahkan di antaranya pakar hukum Tata Negara, menyatakan bahwa hari lahir Pancasila bukan pada tanggal 1 Juni 1945, melainkan pada tanggal 18 Agustus 1945 ketika dirumuskan dan disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.   Kalau dikatakan bahwa kelahiran Pancasila adalah pada tanggal 18 Agustus 1945 itu, berarti Negara kita punya Ideologi dan Dasar Negara tanpa nama, sebab nama “Pancasila” itu tidak terdapat dalam UUD 1945, dan hanya, sekali lagi hanya terdapat dalam Pidato Soekarno 1 Juni 1945.  Maka suka atau tidak suka, kita harus terima pidato tersebut sebagai rangkaian historis eksistensi Dasar Negara yang bernama “Pancasila”, sebagaimana telah terekam dalam memori kolektif bangsa ini sejak awal kemerdekaan.

            Dengan demikian, sebenarnya tidak tepat jika kita membuat versi-versi Pancasila, bahwa ada versi Soekarno (1 Juni 1945), ada versi Piagam Jakarta (22 Juni 1945) dan ada versi 18 Agustus 1945, sebab ketiga-tiga rumusan tersebut merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan dalam sejarah menyangkut satu wujud Pancasila.

            Bahkan ada yang lebih fatal dan ironis lagi, dengan berani mengatakan bahwa NKRI ini tidak berdasar Pancasila, tetapi berdasar “Ketuhanan Yang Maha Esa”, (pasal 29 UUD 1945 ayat 1), dan itu berarti berdasar pada tauhid Islam, atau tegasnya NKRI ini berdasar pada syariat agama Islam, bukan yang lainnya.  Pendapat ini justru gagal paham mengenai hubungan tak terpisahkan antara pasal 29 UUD 1945 terebut dengan Pembukaannya yang jelas-jelas menyebut lengkap lima sila dari Pancasila.  Seperti itulah kerancuan pemahaman tentang eksistensi Pancasila, jika tidak menempatkannya dalam kerangka historis yang utuh, bahkan membuatnya menjadi tiga versi yang terpisah-pisah.  

Ketimpangan tersebut di atas adalah dampak dari upaya sistematis di era Orde Baru untuk mengaburkan soal kesejarahan Pancasila itu, dengan melakukan deSoekarnoisasi bagi lahirnya Pancasila.  Mereka tidak mengakui lahirnya Pancasila 1 Juni, dan hanya mengakui Pancasila yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.  Mereka lalu beralasan bahwa rumusan Pancasila bukanlah monopoli Soekarno, karena sebelumnya ada beberapa pembicara lain yang menyampaikan juga pidatonya, bahkan ada pidato yang mirip dengannya, yakni pidato Muhammad Yamin pada tanggal 29 Mei 1945.

Namun fakta otentik yang terekam dalam sidang BPUPKI menunjukkan bahwa rumusan mengenai lima dasar negara di dalam pidato Bung Karno sangat konkret dan jelas, sehingga tinggal menyerasikan redaksi dan mengurut ulang sistematikanya, sesuai kesepakatan para anggota Panitia Sembilan.

Akan halnya dokumen pidato Mr. Muhammad Yamin, itu sangat diragukan, karena tidak terekam dalam Risalah Sidang BPUPKI yang otentik.  Dalam risalah BPUPKI yang otentik, yang ditandai dengan kertas resmi BPUPKI yang bertuliskan “Dokuritu Zyunbi Tyoosakai”, bukan “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” (kendatipun dibaca Dokuritsu … … ), tidak ditemukan pidato Moh. Yamin, kecuali kerangka singkat saja.  Dokumen Risalah BPUPKI yang otentik (minus pidato Yamin) tersebut berasal dari Pringgodigdo Archief di Algemeen Rijksarchief Den Haag, yang sekarang tersimpan di Arsip Nasional Jakarta.  Dalam risalah otentik ini sekali lagi tak ada naskah pidato M. Yamin itu.  Andaikan dokumen pidato Yamin itu pun asli (otentik), maka tidak pula akan menjadi bahan utama bagi Panitia Sembilan dalam permusan Pancasila, karena pembahasannya tidak sejelas dan tidak se konkret dengan isi pidato Bung Karno.

Jadi, dengan alasan yang kuat berdasarkan dokumen-dokumen sejarah yang otentik, Pancasila untuk pertama kali disusun oleh Bung Karno sebagaimana disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945, dan beliau sendiri menamainya “Pancasila”. Rezim Orde Baru pun, yang semula meragukan Pidato Soekarno 1 Juni 1945 sebagai asal-muasal Pancasila, bersama Dewan Nasional Angkatan 45,  pada tanggal 10 Januari 1975 membentuk Panitia Lima yang terdiri atas Bung Hatta, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Soenario, dan Abdul Gafar Pringgodigdo, untuk meneliti asal usul Pancasila yang otentik.  Panitia Lima tersebut akhirnya melaporkan kepada Presiden Soeharto, dipimpin oleh Jenderal Soerono pada tanggal 23 Juni 1975, yang menjelaskan bahwa asal-usul Pancasila sejatinya berawal dari pidato Bung Karno di depan BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945.  Jadi Orde Baru sendiri akhirnya memandang hari lahir Panasila 1 Juni 1945, dari pidato Bung Karno itu sudah final.  Dan itulah yang menjadi dasar Pemerintahan Jokowi menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila.

            Persoalan yang dihadapi sekarang ialah terjadinya ketimpangan dalam praktik kenegaraan kita, yang tanpa disadari telah mencabut spirit Pancasila itu dari sejumlah pasal UUD 1945 pasca amandemen di awal reformasi.   Spirit Pancasila soal demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, juga semangat persatuan telah banyak terserabut dari praktik kenegaraan kita.  Sebut saja sila Persatuan Indonesia, tertuang dalam pasal-pasal mengenai sistem pemerintahan dan bentuk negara, serta perlunya arah pembangunan Nasional yang diatur dalam pasal tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

            Pasca Reformasi dinamika kehidupaan bernegara bergulir ditandai dengan diapusnya GBHN, berlangsungnya Pilpres dan Pilkada secara langsung oleh rakyat, dan lahirnya UU Otonomi Daerah.   Pilpres dan Pilkada menghasilkan pemerintahan tanpa suatu pedoman ke arah haluan negara, sehingga Presiden dan para Kepala Daerah harus menyusun haluannya sendiri berupa visi dan misi sesuai kampanye yang telah ditawarkan kepada masyarakat. 

Karena masing-masing menawarkan visi-misi yang berbeda-beda, maka haluan pembangunan Nasional dan pembangunan di daerah sering tidak sinkron, ditandai lahirnya kebijakan pemerintahan daerah yang tumpang tindih bahkan kadang berlawanan dengan kebijakan pemerintah pusat.  Apalagi visi-misi itu sendiri sifatnya hanya lima tahunan, dan belum tentu diteruskan oleh rezim sesudahnya, membuat arah pembangunan nasional dan pembangunan di daerah maju mundur.   Lebih parah lagi jika kepala-kepala daerah sedikit arogan, karena merasa dipilih rakyat dan punya hak otonomi sendiri, dapat dipastikan mereka tidak akan tunduk dan patuh pada kebijakan pemerintah di atasnya (Gubernur atau Presiden).

Lihat saja, betapa sering tidak sinkron antara kebijakan Pemerintah Pusat dan beberapa Pemerintah Daerah dalam menghadapi Pandemi Covid-19.  Bahkan terdapat Bupati yang dengan arogan menilai menteri-menteri kabinet Jokwi itu bodoh.  Semua ini adalah dampak negatif dari proses pemilihan langsung dan juga penyalah gunaan UU Otonomi Daerah, yang membuat Kepala Daerah tertentu merasa berkuasa penuh tanpa patuh pada kebijakan Pemerintahan di atasnya.

Akibatnya, makna sila Persatuan Indonesia, dalam wujud Negara Kesatuan sebagai satu tatanan pemerintahan dan pembangunan tidak aktual lagi.  Hal itu akibat hilangnya benang perekat dan penyingkron pemerintahan di bawah satu komando dan satu panduan bagi jalannya pembangunan nasional ke arah jangka panjang kehidupan bangsa dan negara kita.  Benang merah yang dimaksud tidak lain adalah semacam GBHN sebagaimana diatur dalam pasal 3 UUD 1945 sebelum amandemen.  Maka saatnyalah kita berpikir ulang untuk mengembalikan hak MPR RI untuk menyusun suatu pedoman tentang Pokok-pokok Haluan Negara, meskipun Presiden dan para Kepala Daerah tetap dipilih langsung oleh rakyat.

Sekian, terimakasih.  Wallahu a’lam bi al-Showabi.

TUNTUNAN SYARIAT MENGHADAPI PANDEMI CORONA

TUNTUNAN SYARIAT MENGHADAPI MUSHIBAH PENDEMI CORONA

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Akhir-akhir ini perbincangan se Dunia adalah Pandemi Corona (Covid-19). Tak ada satu pun negara yang tidak bicara soal corona, walau rakyatnya tidak terpapar.   Di negara-negara mayoritas Muslim, Corona tidak sekedar masalah kesehatan, tapi juga telah menjadi perdebatan soal hukum. Hal ini menyusul adanya SOP kesehatan yang mengharuskan dilakukannya social distancing, yang berarti kita harus menjauhi keramaian, padahal ritual Islam sarat dengan keramaian, mulai dari sholat jamaah, sholat Jum’at, sampai pada ibadah umrah dan haji.

Sesungguhnya, persoalan tersebut seharusnya selesai tanpa perdebatan, asal saja setiap orang kembali pada prinsip-prinsip utama (ushuliyah) dalam ajaran Islam. Agama Islam adalah berisikan semua ajaran al-salam (keselamatan) dunia dan akhirat. Pada saat mengakhiri sholat, kita sering melampirkannya dengan doa yang berbunyi: Allahumma anta al-Salam, wa minka al-Salam, wailaika ya’udu al-Salam, fa hayyina, Rabbana bi al-Salam, wa adkhilna al-jannata Dar al-Salam. (Wahai Allah, Engkaulah Pencipta keselamatan, dari Mulah keselamatan itu, dan kepadaMu pula ia berujung, maka hidupkanlah kami wahai Tuhan dalam keselamatan, dan masukkanlah kami dalam sorgamu tempat kedamaian yang penuh keselamatan).

Ajarannya dapat terlaksana dengan mudah, sebab Islam adalah agama yang memudahkan umatnya. Bukankah Allah SWT menghendaki kita selalu mudah, yuridu Alllah bi kum al-yusra, wala yuridu bi kum al-`usra. (Q.S. Al-Baqarah[2]: 185). Karena itu setiap manusia menghadapi kesulitan, niscaya Allah menyertainya dengan kemudahan, fainna ma`a al-`usri yusra (Q.S. Al-Syarh [94]: 5).

Dalam mengahadapi musibah apapun, termasuk pandemi corona saat sekarang, mari kita menelaah dalil-dalil yang berkaitan dengannya.

  1. Berdasarkan prinsip bahwa Allah SWT melarang kita menjerumuskan diri dalam kebinasaan, sesuai Firman-Nya Q.S. Al-Baqarah (2): 195:

وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين

Artinya: Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Maka ibadah apapun yang dilakukan harus menjamin keselamatan jiwa kita sendiri, tanpa berpikir soal takut mati atau tidak, sebab ibadah diperintahkan Tuhan bukan untuk menguji nyali kita untuk mati tapi untuk menjadi bekal kebaikan dalam hidup dunia dan akhirat.

2.  Bahwa agama Islam memerintahkan umatnya menaati Allah, Rasul-Nya, dan Uli al-Amri, (yang punya otoritas untuk keselamatan umat) termasuk Pemerintah mereka. Sesuai firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Nisa’ (4): 59:Artinya: Wahai sekalian orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri (penguasa) di antra kamu.Maka Sehubungan Pernyataan Pemerintah untuk menjauhi keramaian (social distance) 15 Maret 2020, untuk mencegah meluasnya wabah Corona Virus Diseas (Covid-19) dan terbitnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 14 Tahun 2020, tanggal 16 Maret 2020, untuk tidak melakukan Sholat Jamaah dan Sholat Jum’at di Masjid, yang disupport oleh dua ormas Islam terbesar, Nahdhotul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang juga termasuk pemegang otoritas urusan keselamatan umat, waka WAJIB hukumnya kita mematuhi himbauan dan fatwa tersebut.

Uli al-Amri, dalam ayat ini mengacu kepada semua pihak yang punya otoritas untuk urusan keselamatan hidup kita bersama, termasuk pemerintah, para aparat kesehatan dan keamanan, dan representasi para ulama kita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

3.  Bahwa larangan sholat berjamaah dan sholat Jum’at di Masjid atau Musholla, bukan sama sekali bentuk masjidfobia (anti masjid) seperti yang dituduhkan oleh kalangan tertentu bahwa larangan tersebut adalah upaya untuk menjauhkan umat Islam dari rumah ibadah mereka. Larangan bersholat di masjid, dan perintah bersholat di rumah pernah terjadi di zaman Nabi SAW dan sahabat, ketika turun hujan lebat berdasarkan riwayat Ibnu Abbas sebagai saksi hidup, dan memerintahkan muadzin sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ ، قَالَ : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ صَاحِبُ الزِّيَادِيِّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ ابْنُ عَمِّ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ : إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ : حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قُلْ : صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ. فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا، قَالَ : فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي، إِنَّ الْجُمْعَةَ عَزْمَةٌ ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالدَّحَضِ

Artinya: “Telah memberitakan pd kami Al Musaddad,   katanya: telah memberitakan pd kami Ismail, berkata: telah menyampaikan pd kami Abdul Hamid Shahib Ziyadiy, katanya telah memberitakan pada kami Abdullah ibn Al Harits anak paman dari Muhamad bin Sirin, berkata Ibnu Abbas pd muadzin pd saat turunnya hujan (di hari Jumat), jika engkau telah membaca Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, maka jangan lanjutkan hayya ala alsholah, katakan saja: Shallu fi Buyutikum, (salatlah di rumahmu), karuan saja banyak orang yg menolaknya, maka Ibnu Abbas tegaskan: hal itu telah dilakukan oleh orang yang llebih bak dariku (yakni Rasulullah saw), sungguh sholat Jumat itu wajib tapi aku tidak rela mengajak kamu keluar lalu kamu berjalan pd tanah berlumpur dan licin. (Shahih Bukhari, juz 2, h.6, nomor: 901).  

Mari kita merenung betapa sayangnya ajaran Islam pada umatnya, dalam keadaan hujan lebat saja, yang diyakini tdak seberat mudhoratnya virus corona, Rasul dan Sahabatnya merekomendasikan untuk sholat di rumah saja, adzan pun dikumandangkan: صلوا فى بيوتكم.

4. Ada orang yang selalu ingin menunjukkan nyali untuk beribadah, walau sesulit apapun, seperti halnya dalam masa pandemi corona ini, dengan alasan bahwa mati dalam keadaan beribadah adalah mati syahid. Mati dalam menghadapi wabah penyakit apapun adalah mati syahid.   Maka mereka pun tidak peduli dengan himbauan dan fatwa ulama, dengan mencari kesyahidan itu.   Kalau hanya untuk memburu kesyahidan, maka agama kita pun memberi jalan kemudahannya. Perhatikan hadits berkaitan dengan merebaknya wabah penyakit tha`un d zaman Rasulullah SAW., sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ – يَعْنِي ابْنَ أَبِي الْفُرَاتِ – قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ ،عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّهَا قَالَتْ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

Artinya:Telah memberiatakan pd kami Abd Samad, memberitakan pd kami Dawud – yakni Ibnu Abil Furat – katanya: Telah menyampaikan pd kami Abdullah bin Buraidah, dari Yahya bin Ya’ mar, dari Aisyah RA katanya: Aku bertanya pd Rasulullah saw soal penyakit (virus wabah) Tha’un, maka Raulullah saw menyampaikan padaku bhwa itu adalah adzab yg diutus kpada siapa pun yg dikehendakiNya dan dijadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman, maka siapapun pun laki-laki saat terjadinya tha’un lalu tinggal saja di rumahnya, dengan sabar berserah diri pd Allah semata, dia tahu bhw wabah itu tdk akan menimpah dirinya selain yg telah ditentukan Allah pada dirinya, niscaya baginya diberi pahala seprti pahala orang yang mati syahid.” (Hadits , Musnad Imam Ahmad.Juz 43 hal. 235. Hadits no. 26139).

Hadits ini memadukan antara ikhtiar menjauhi mudhoratnya virus tho`un dengan tawakkal pada takdir Allah dengan hanya tinggal di rumah dan bersabar, bukannya melawan arus menjadi penantang virus di luar rumah.  Mereka ini dipandang mulia di sisi Allah SWT ketimbang mereka yang berani keluar rumah dengan alasan tidak takut mati, tidak takut pada selain Allah SWT, kemudian membawa dirinya ke jurang bahaya, bahkan bisa mati sia-sia. Wallahu a`lam bi al-showabi.

HAJI MABRUR, ITU INDAH (Bagian 3)

HAJI MABRUR:   DARI TA’ARUF SAMPAI MA’RIFAT

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Penulis punya pengalaman baru di musim haji 1439 H. Ini, tepatnya tanggal 24 Agustus 2018 Jumat kemarin. Tim Pengawas Haji DPR RI tidak sempat Jumatan di Masjidil Haram Makkah. Kami karuan saja terpaksa bersholat Jum’at di Musholla Hotel kediaman kami. Ikut pula bergabung jemaah haji Malaysia, sampai Musholla itu pun penuh. Mungkin karena dinggap lebih senior dari segi umur, maka sejumlah Kiyai dan Ustadz dalam Tim ini menunjuk penulis menjadi Khotib. Penulis pun menerima, seolah tiba masa tiba akal. Saya jadi teringat pada khotbah saya di Al-Markaz Makassar, hampir duapuluh tahun lalu, itulah saya ulangi walaupun tidak seutuhnya.

Temanya, soal haji sebagai simbol kesempurnaan keislaman seseorang.   Bahwa haji itu menggambarkan secara utuh perilaku kita dalam hidup duniawi. Perhatikan misalnya thowaf, yaitu keliling ka’bah sebanyak tujuh kali, ritual yang menggambarkan aktifitas dunia kita sehari-hari yang berulang tiada putusnya selama hidup. Hidup dunia ini sebenarnya adalah thowaf; tiap hari petani pergi-pulang dari rumah ke ladang; demikian juga para pebisnis, para birokrat, para wakil rakyat, ASN, TNI dan Polri, menekuni kerjanya di kantor, kampus, Mabes atau medan operasinya, mereka adalah berthowaf dari rumah kediaman ke tempat kerja setiap harinya, tiada henti selama belum pensiun dan masih sehat.

Perhatikanlah apapun profesi dan kesibukannya, pastilah tempat berlabunya adalah rumah, mereka kembali ke rumah tempat menikmati hidupnya yang tenang, aman dan nyaman. Rumah adalah ikon kebahagiaan hidup. Tanpa rumah, kebahagiaan jadi semu. Bagi umat Islam, kebahagiaan terasa lebih nikmat jika sesampai di rumah, langsung beribadah sebagai tanda syukur kepada-Nya. Tapi puncak kebahagiaan sebenarnya bagi seorang Muslim ialah ketika sempat beribadah di sisi Rumah Allah, yaitu Ka’bah di Masjidil Haram. Itulah sebuah kesadaran Ilahiyah dalam berthowaf. Maka setiap Muslim wajib berlabuh, berziarah ke Rumah Allah itu, wajib berhaji sekali seumur hidup bagi yang mampu, agar merasa bahagia di sisi Baitullah, sebagai Ikon kebahagian yang paling hakiki. Allah berfirman:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ ﴿٣﴾ الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ ﴿٤﴾

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka`bah).

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Q.S. Qiraisy: 3-4).

Sesudah thowaf, lanjut dengan Sa’iy, yaitu berjalan dinamis dari bukti Shofa ke bukti Marwah, yang diantarai sedikit lembah. Bukit-bukit ini menyimbolkan kehidupan manusia pada posisi puncak kebahagiaanya. Sedang lembah yang mengantarainya menyimbolkan adanya masa sulit dan pasang surut yang pasti setiap manusia pernah mengalami dalam hidupnya. Saat memulai sa’iy di bukit Shofa, jamaah haji memandang lebih dahulu ke Ka’bah. Menyiratkan keharusan istiqomah berdzikir kepada Allah SWT pencipta Ka’bah, sebagai sumber segala kebahagiaan. Terus berjalan menuruni lembah, ia harus berlari-lari kecil di atas lembah itu. Mengapa? Di sana ada pesan bahwa saat manusia mengalami pasang surut dalam hidupnya, gagal atau merugi, ia harus tabah menghadapi cobaan, tetap tegar berlari penuh semangat membangun kebahagiaan baru. Seorang Muslim tidak pernah berputus asa, ia tetap yakin ke depan masih ada puncak kebahagiaan baru bernama Marwah. Ia pun berlari penuh harapan sambil berdoa:

إنك أنت الله الأعز الأكرم رب اغفر وارحم واعف وتكرم وتجاوز عما تعلم إنك تعلم ما لا نعلم

“Ya Tuhan, ampunilah, sayangilah hamba-Mu ini, maafkanlah, dan bermurah-hatilah, serta lewatkanlah (keburukan) apa saja yang Engkau ketahui, sesunguhnya Engkau mengetahui apa yang kami tidak ketahui. Sesunguhnya Engau Ya Allah Mahamulia dan Mahapemurah.

Pesan yang disimak ialah, untuk bangkit kembali mengejar kebahagiaan hidup, kita harus introspeksi, bertobat mohon ampun atas kekhilapan, serta tetap tegar optimis, penuh semangat kebangkitan, jauh dari pesimis. Sebab, hidup ini tidaklah selamanya rata, tidak selalu berada di puncak. Kebahagiaan dan kesulitan silih berganti; tetaplah optimis, habis kesulitan terbitlah kebahagiaan, itulah prinsip hidup seorang Muslim.

Puncak haji ialah Wukuf di Arafah, di sana semua jamaah berkumpul dengan pakaian seragam putih-putih, tak ubahnya sebagai prototipe padang mahsyar kelak sesudah kiamat. Setiap jamaah haji setidaknya akan menyimak tiga arti wukuf di padang batu tersebut. Arafah, dalam bahasa Arab berarti mengenal, maka yang pertama dialaminya ialah ta’aruf, saling mengenal dengan jamaah lain dari seluruh penjuru Dunia. Mereka berkumpul di Arafah sebagai hamba Allah, tanpa perbedaan staus sosial, kaya-miskin, pejabat atau rakyat jelata, ulama, intelektual atau orang awam, militer atau sipil, cantik atau manis, dan warna kulit apapun semua sama di hadapan Allah SWT. Pokoknya tiada yang mulia di antara mereka dari segi status sosial dan rasial etnis, kecuali dengan Taqwa. Rasul bersabda: la fadhla li’Arabiyyin ‘ala ‘ajamiyyin, wa la ‘ajamiyyin ‘ala Arabiyyin illa bi al-taqwa (tidak mulia orang Arab atas orang non Arab, tidak pula mulia non Arab atas orang Arab, kecuali dengan taqwa). Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Q.S. Al-Hujurat:13)

Makna kedua dari Arafah ialah i’tiraf, sebuah pengakuan atas jati diri sebagai manusia lemah dihadapan Allah SWT yang Mahakuasa. Wa fi Anfusikum afala tubshirun. Manusia menghayati segala perbuatannya, baik atau buruk, merenungi segala dosa yang harus ditobatkan di hadapan-Nya. Tak jarang, mereka menangis mengingat masa lalunya yang kelam, di tengah harapan ampunan dari Allah SWT yang Maha Al-Ghofur al-Rahim, Pengampun, penuh kasih bagi semua hamba-Nya yang berhaji.

Setelah ta’aruf dan i’tiraf, sampailah kemudian ke martabat ketiga, yakni ma’rifat.   Pada tingkat ini, para jamaah haji seolah bertemu dengan Allah SWT dengan penuh keyakinan beroleh ampunan dan status haji mabrur. Kalaupun tidak sampai ke tingkat tertinggi ini, setidaknya mereka telah yakin bahwa Allah SWT telah mengetahui pertobatannya, telah mengabulkan pengaduan nasib dan harapan-harapannya untuk hidup lebih baik ke depan. Pada titik inilah, jamaah haji merasakan ihsan, sebagaimana sabda Rasulullah SWT: an ta’bud Allah, ka annaka tarahu, wain lam takun tarahu, fa innahu yaraka (engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-NYa, dan jika engkau tidak sampai melihat-Nya, niscata Dia Allah telah melihatmu).

Mengakhiri wukuf, para jamaah kemudian bergerak ke Muzdholifah, memungut kerikil untuk persiapan melontar jamrah di Mina. Seorang pembesar yang jarang menangis seumur-umur hidupnya, akhirnya tak tahan air mata, menangis tersedu-sedu di Muzdholifah. Ia melihat dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Allah SWT, dirinya hanyalah seorang pemungut batu-batu kecil di hadapan Allah SWT. Seorang tukang batu di tanah air, pikirnya, lebih mulia dari dirinya, karena si tukang batu selalu berurusan dengan batu besar. Tapi di balik itu, ia pun sadar, bahwa batu kerikil yang seolah tiada guna itu akan sangat mulia di sisi Allah SWT jika diperlakukan sebagai ibadah dihadapan-Nya. Kuncinya, apa saja pasti jadi mulia karena ibadah; batu kerikil jadi muliah karena ibadah, hewan jadi mulia karena kurban, harta jadi mulia karena zakat, dan seterusnya.

Usai memungut batu dan mabit (melewatkan tengah malam) di Muzdholifah, jamaah pun bertolak ke Mina. Di Mina, mereka melontar jamrah Aqabah. Keesokan harinya, selama mabit dua atau tiga malam di sana, mereka lanjut melontar jmrah Ula, Wusta dan Aqabah di siang hari. Setiap lontaran disertai bacaan rajmatan li al-syayathin (lemparan terhadap setan), sambil berniat agar setan-setan menjauhi dirinya sehingga hajinya mabrur tetap terjaga.   Artinya, memelihara kesucian haji, jauh lebih berat ketimbang menunaikannya. Ada sekian banyak Muslim berpredikat haji, tetap saja melakukan kemaksiatan sesudah kembali ke tanah air. Mungkin lontaran jamrah-nya itu, hanya sekedar lemparan membekas di tembok jamrah tanpa tekad untuk menjauhi godaan setan-setan yang tetap saja gentayangan dalam hidupnya dunia ini.  Hajinya pun akan jadi haji mardud (tertolak).

Akhirnya prosesi haji pun selesai pada saat tahallul. Tahallul awal ditandai dengan mencukur rambut, sebagian atau seluruhnya. Rambut merepresentasi kepala yang sarat beban pikiran tentang pelbagai problem kehidupan dunia.   Dalam berhaji, berbagai larangan haji menjadi beban berat bagi jamaah, namun saat mereka tahallul semua beban larangan itu hilang seketika. Dengan mencukur rambut, ada pesan moral bahwa setiap manusia haruslah berpikir positif, menghilangkan segala pikiran negatif yang selama ini memebebani hidupnya sendiri. Pikiran-pikiran negatif berkait dengan kegagalan, dendam, dengki, kecemburuan sosial, keserakahan dan beragam konflik, hendaknya dihilangkan semua, setidaknya dikurangi agar beban hidup pun semakin ringan. Perbanyaklah husn al-zhan (baik sangka), kurangi sedapat mungkin su`u al-zhan (buruk sangka) dalam pergaukan sehari-hari.

Dengan hikmah-hikmah seperti disebut di atas, yakinlah ibadah haji akan mabrur adanya, insya Allah. Wallahu a’lam bi al-showabi.

(Makkah 25 Agustus 2018)

HAJI MABRUR ITU INDAH (Bagian 2)

Haji Mabrur, Itu Rahmat (2)

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Betapa Sulitnya Mencium Hajar Aswad

Cara Mudah Rasulullah SAW Berhaji

Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat dalam pelaksanaan segenap ibadah, termasuk ibadah haji. Bukankah Rasulullah sendiri menyatakan dalam haditsnya: khudzu `anniy manasikakum, (ambilah contoh dari aku akan pelaksanaan hajimu)?. Hadits ini trdapat dalam Imam Abuw Zakariyya Yahya al-Nawawi, Syarh al-Nawawiy, (Beyrut: Dar Ihya’i al-Turatsi al-`Arabiy, 1392, Juz VIII, h. 220.) Cara berhaji ala Rasulullah SAW, banyak menyimpan rahasia untuk memberikan kemudahan berhaji sepanjang zaman.   Jika seandainya semua umat Islam meniru pelaksanaan cara haji Rasulullah, maka tidak akan pernah ada kesusahan dan kesempitan di tanah suci, seperti kesulitan yang selama ini dialami umat setiap tahunnya.

Setidaknya ada tiga penyebab terjadinya kesulitan yang dialami jemaah haji di tanah suci, yang solusinya sebenarnya sudah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Penyebab kesulitan itu antara lain: (1) Jumlah jamaah haji semakin lama semakin meningkat, maka mereka pasti semakin sulit menunaikan thawaf dan mencium hajar aswad secara sempurna dan aman. (2) Paham yang kaku tentang riwayat yang menyatakan bahwa shalat di Masjidil Haram adalah sama nilainya dengan shalat seratus ribu kali di masjid lain, dan shalat di Masjid Nabawi Madinah, adalah sama nilainya dengan shalat seribu kali di masjid lainnya, maka terasa semakin sempitlah kedua masjid itu, akibat membeludaknya jemaah haji yang ingin bershalat setiap waktu di dalamnya, tanpa ingin ketinggalan satu kali pun. (3). Adanya anjuran untuk mengambil shalat arbain (shalat jamaah empat puluh kali di Masjid Nabawi), maka setiap jamaah merasa rugi jika tidak bershalat di Masjid Nabawi, walaupun ternyata mereka kecape’an, ataupun kesehatannya tidak memungkinkan.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, kita perlu mengetahui bagaimana sesungguhnya cara Rasulullah SAW berthawaf dan bershalat selama berada di Mekah ketika menunaikan haji wada, yang merupakan ibadah haji satu-satunya yang ditunaikan beliau selama mengemban risalah Islam. Ahmad Abdul Ghafur `Aththar, mencoba merangkai riwayat perjalanan haji Rasulullah SAW serta tata cara pelaksanaannya, dalam buku kecil: Ahkam al-Hajj wa al-`Umrah min Hijjati al-Nabiyyi wa Umarih, mengungkapkan riwayat berikut ini. Bahwa Rasulullah SAW, berangkat dari Madinah untuk berhaji, beliau tiba di Mekah pada hari Ahad tanggal 4 Dzulhijjah tahun ke 10 H. Sebelum masuk Mekah, Rasul bersama rombongan, bermalam di tempat yang bernama Dzituwa.

Riwayat dari Jabir RA dan Ibn Abbas RA menyebut bahwa, ketika Rasullullah SAW masuk kota Mekah, beliau langsung thawaf qudum, kemudian bershalat di belakang Maqam Ibrahim, minum air zam-zam, kemudian langsung melaksanakan sa`i. Setelah itu, beliau bersama rombongan, menuju ke arah Timur kota Mekah (sekitar 2 km), dan berkemah di tempat yang namanya Abthah. Dalam kemah itulah beliau menghabiskan waktu selama 5 (lima) hari, sampai hari ke delapan Dzulhijjah. Selama Rasulullah menginap di kemah itu, beliau bersama rombongan tidak pernah melakukan thawaf lagi (thawaf sunat) dan tidak pernah pula bershalat di Masjid Haram. Bahkan shalat lima waktu yang dilakukan Rasulullah SAW di Abthah bersama para sahabatnya adalah shalat jama` dan qashar.

Ketika wukuf di Arafah, beliau bershalat zhuhur sekaligus ashar dengan jama`-qashar taqdim. Demikian pula ketika bertolak ke Muzdhalifah, beliau bersama rombongan bershalat Maghrib sekaligus Isya dengan jama`-qashar ta`khir. Tetapi ketika melewatkan malam-malam tasyriq di Mina, beliau hanya mengqashar shalatnya tanpa menjama`.

Demikian itulah Rasulullah SAW memberi contoh kemudahan dalam menunaikan haji, tidak seperti sekarang, semakin lama terasa semakin sulit. Kita mulai dari sikap beliau yang tidak pernah kembali ke Masjidil Haram, baik untuk thawaf sunat maupun untuk shalat jama`ah, dan hanya tinggal di perkemahan Abthah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada keharusan bagi jamaah haji untuk bershalat jama`ah fardhu di Masjidil Haram selama dalam masa penantian menuju ke Arafah, begitupun sesudahnya.

Sehubungan dengan ini, riwayat yang menyatakan shalat di Masjidil Haram itu sama nilainya dengan seratus ribu kali shalat di masjid lain, itu hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang tidak menunaikan haji. Adapun bagi mereka yang berhaji, Rasulullah SAW memberi contoh seperti di atas yang dipraktikkan sendiri bersama sahabat-sahabat yang ikut berhaji wada’ ketika itu. Andai kata hadits itu ditujukan untuk jamaah haji, maka tentu beliau bersama sahabatnyalah yang pertama-tama melakukannya, namun ternyata beliau tidak pernah lakukan sama sekali.

Demikian pula tradisi beliau mengqashar (meringkas) shalatnya selama di Abthah, kemudian di Arafah, di Muzdhalifah dan di Mina, menunjukkan bahwa tidak ada keharusan melakukan shalat secara normal (secara azimah) selama jamaah haji berada di tanah suci. Begitulah sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk mempermudah umatnya menunaikan haji. Akan halnya mengenai shalat arba`in (empat puluh shalat jama`ah) di Masjid Nabawi di Madinah, juga tidak kuat dasarnya. Tak ada dalam kitab hadits-hadits shahih. Dengan adanya shalat arba`in itu, maka anjuran berziarah ke Madinah bergeser dari tujuan utama menziarahi maqam Rasul SAW ke tradisi shalat arba`in tadi. Padahal, hikmah utama perjalanan berhaji ke tanah suci ialah ke Mekah untuk thawaf di sekitar Baitullah di Masjidil Haram dan wukuf di Arafah, sedang ke Madinah untuk menziarahi maqam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi.

Rupanya shalat arba`in ini hanya populer di kalangan jamaah haji Indonesia. Hal ini boleh jadi ada kaitan historis dengan sistem perjalanan haji Indonesia, yang dahulu masih menggunakan kapal laut, menyebabkan adanya masa tunggu yang cukup lama di Mekah menjelang pulang ke tanah air. Maka, untuk mengurangi kejenuhan, mereka diarahkan untuk ke Madinah tinggal selama sembilan atau sepuluh hari, dengan anjuran bershalat jamaah arbain tersebut. Hal ini tentu saja tidak relevan lagi dengan sistem perjalanan haji sekarang, yang menggunakan pesawat udara, bahkan dengan ONH Plus, ada perusahaan yang menawarkan perjalanan haji singkat, dan hanya tinggal di Madinah selama tiga hari saja, bahkan ada yang sehari atau sama sekali tidak ke Madinah lagi.

Uraian di atas bukanlah bermaksud sengaja memudah-mudahkan haji, tetapi semata-mata ingin menunjukkan sunnah Rasulullah SAW sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi semakin sulitnya keadaan berhaji dari tahun ke tahun. Sekaitan dengan ini ada baiknya penulis kutip pendapat Ahmad Abdul Ghafur `Aththar, sebagai berikut:

“Raslulah SAW melakukan apa yang sudah disebutkan itu, yakni tinggal di Abthah dan tidak pernah ke Masjid Haram untuk thawaf dan shalat, merupakan petunjuk adanya rasa sayang Rasulullah pada umatnya, dan sebagai bukti pemberian kemudahan bagi mereka, dan anjuran untuk menjauhi kesulitan (masyaqqah) dan beban berat dari mereka.”   (Selanjutnya ia menambahkan bahwa): “Tetapi para jamaah yang berhaji di baitullah di masjidil al-haram, pada zaman kita sekarang, memaksakan dan mempersulit diri mereka, sampai pada batas-batas timbulnya keadaan saling menyakiti dan menyusahkan, hal mana disebabkan adanya nafsu besar untuk berthawaf dan bershalat di Masjid Haram. Padahal, ribuan jamaah haji yang berthawaf siang dan malam itu tidaklah seluruhnya menunaikan thawaf wajib (qudum atau thawaf umrah), tetapi hanya sekedar thawaf sunat atau sekedar tahyatul masjid; maka salah satu haknya orang-orang yang menunaikan thawaf wajib, ialah agar para jamaah yang berthawaf sunat itu meninggalkan thawaf sunatnya, karena mereka (orang yang berthawaf wajib) lebih berhak dan lebih utama melakukan thawaf, dan bagi mereka semua hendaknya mencontoh Rasululah SAW” (Lihat Ahmad Abdul Ghafur `Aththar, dalam bukunya Ahkam al-Hajj wa al-`Umrati min Hijjati al-Nabiyyi wa Umarih, (Makkah al-Mukarramah: 1990 – hal. 64.)

Mencontoh Rasulullah adalah lebih utama ketimbang mempersulit ibadah.   Tidak semua ibadah yang sulit direstui Allah dan memperoleh pahala besar.   Ingat, dalam Shahih Al-Bukhariy, kisah seorang sahabat yang ingin beribadah hanya karena dorongan semangat yang meluap-luap. Mendengar hebatnya ibadah Rasulullah, salah seorang dari sahabat menyatakan ingin bershalat malam terus menerus dan tidak akan tidur; seorang lagi berkata: aku ingin puasa terus menerus dan tak berbuka; dan yang terakhir berkata: aku ingin beribadah terus menerus dan tidak akan kawin selamanya. Apa tanggapan Rasulullah? Beliau justru menasehati mereka agar tidak meneruskan keinginan itu; beliau pun lalu menegaskan bahwa aku bershalat dan juga tidur, aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku beribadah dan juga kawin, lalu di akhir haditsnya Rasulullah menegaskan: barang siapa yang enggan mengikuti sunahku, maka bukanlah dari golonganku”. Jadi, orang yang beribadah hanya karena modal semangat tanpa kearifan, bukanlah dari golongan pengikut Nabi SAW, na`udzu bllah.

Jutaan manusia bertarauh fisik dalam thawaf di Masjididl Haram

HAJI MABRUR ITU INDAH (Bagian 1)

Haji Mabrur, Rahmat untuk Manusia (1)

Oleh: Prof.Dr. H. Hamka Haq, MA
Akhlak Mulia, itulah Rahmat Haji

Ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang hanya sekali diwajibkan atas Muslim seumur hidup; ibadah haji yang keduakali dan seterusnya hukumnya hanyalah sunat. Hal ini dipahami dari firman Allah:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Dan Allah mewajibkan haji atas manusia (Muslim), bagi yang mampu menunaikannya”  (Q.S.Ali `Imran [3]; 97).

Hal tersebut diperkuat lagi dengan Sunnah Nabi SAW, bahwa beliau berhaji hanya satu kali selama era kerasulan dan kenabiannya, yaitu keika menunaikan haji wada (haji perpisahan) pada tahun 10 H.

Haji diwajibkan hanya satu kali, merupakan rahmat bagi kaum Muslimin untuk tidak menyuitkan mereka.  Sebab, pelaksanaannya sangatlah berat dan sulit, mulai dari soal biaya, fasilitas dan pelayanan selama dalam perjalanan ke tanah suci sampai kembali ke tanah air, tidak semua orang dapat memperoleh atau menjalaninya dengan mudah, apalagi jika diwajibkan setiap tahun.

Tetapi di balik dari kesulitan itu, ibadah haji sangatlah istimewa karena ia merupakan rukun Islam yang terakhir, yang menjadi simbol kesempurnaan akhlak seseorang. Itu artinya, seseroang yang sudah menunaikan haji, apalagi jika hajinya berpredikat mabrur, niscaya ia beribadah shalat, zakat dan puasa disertai akhlak mulia yang merupakan rahmat bagi sesamanya. Adalah bertentangan dengan roh syariah jika seorang Muslim telah berhaji, tapi tidak mengamalkan ibadah pokok lainnya, apalagi jika akhlaknya semakin bobrok. Sama halnya, termasuk pelanggaran roh syariah, jika seorang Muslim hanya mengutamakan haji sunat berkali-kali dengan menghabiskan sekian banyak biaya, tanpa peduli pada pentingnya sarana sosial, ibadah, bantuan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ekonomi dan pemeliharaan anak-anak terlantar dan miskin di sekitarnya.

Memang, banyak orang berusaha keras meraih kesalehan pribadi dengan memperbanyak ibadah haji, tapi kososng dari rahmat kemaslahatan untuk sesamanya. Tidak sedikit di antara mereka, berkali-kali berhaji dengan niat mensucikan diri, bertobat kepada Tuhan di hadapan Ka`bah, namun sekembali dari berhaji, kembali pula melanjutkan dosa lamanya sebagai koruptor, provokator, ataupun kejahatan lain. Mereka hanya memperalat haji sebagai topeng kesalehan. Jangan berharap hajinya mabrur dan tobatnya dikabulkan oleh Allah SWT, selama tetap merampas hak dan menyakiti hati warga sekitarnya. Bahkan kadang kita menyaksikan, akhlak-akhlak tak terpuji itu pun masih terjadi di sela-sela pelaksanaan haji di tanah suci.   Orang berlomba dan saling memarahi, menyakiti dalam putaran thawaf, saling sikut menyikut berebut tempat sholat; apakah haji seperti ini mabrur, padahal Al-Quran sendiri melarangnya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Musim haji dalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatkan untuk mengerjarakan haji maka tidak boleh rafats, tidak boleh fasik dan tidak boleh beebantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji.” (Q.S. Al-Baqarah: 198).

Maka pantaslah jika sekian banyak orang berhaji, tapi rahmat hajinya tidak dirasakan oleh masyarakat.

Maka, adalah tidak tepat jika kualitas keislaman itu diukur dari haji-tidaknya seseorang. Sebab jika haji menjadi barometer keislaman, maka bagaimana nasib berjuta-juta bahkan beratus juta umat Islam yang miskin yang berakhlak mulia dan memberi kemaslahatan, tapi belum berhaji? Apakah mereka mengalami diskrminiasi religius, dianggap rendah Islam-nya lantaran mereka bernasib miskin dan tidak bisa berhadji, walaupun akhlaknya mulia?. Karena itu, tidak tepatlah jika derajat keislaman diukur dari haji-tidaknya seseorang, tapi seharusnya diukur dari nilai taqwanya (akhlaknya) masing-masing. Tuhan sendiri berfirman: “Bertaqwalah kamu sesuai dengan kemampuanmu” (Q.S.al-Taghabun [64]: 16). Puncak-puncak derajat taqwa yang tertinggi dapat saja dicapai oleh sang miskin, dengan akhlak mulia, dengan menunaikan secara maksimal ibadah dan muamalah bermanfaat yang disanggupinya, meskipun ia tidak sempat berhaji. Berbeda dengan orang yang memang dianugerahi kemampuan ekonomi, kesehatan dan kesempatan untuk berhaji, tanggung jawabnya untuk bertaqwa harus dipenuhinya dengan menunaikan ibadah haji yang membuahkan akhlak mulia itu, tanpa melupakan kewajiban sosialnya kepada masyarakat.

Taqwa sebagai tujuan akhir dari keislaman haruslah bertolak dari iman yang benar. Karenanya ibadah haji tidak boleh lepas dari landasan iman sebagai sumber rahmat itu. Namun, seringkali orang tergelincir, mengira keislamannya sudah sempurna setelah berhaji, padahal justru ia menghancurkan imannya tanpa sadar. Misalnya, ada paham di tengah masyarakat tertentu bahwa segala sesuatu yang ada di tanah suci Mekah adalah otomatis suci pula, sampai membiarkan busananya kumuh tidak memenuhi syarat kesehatan, sebab diyakini tetap suci dan sehat. Orang seperti ini jelas mengalami buta akidah dan buta soal kesehatan dirinya. Hajinya pun tidak akan mabrur, malah menjadi haji mardud (tertolak) atas kemusyrikan dan kebodohannya, sehingga hajinya tidak memberi rahmat bagi dirinya sendiri.

Tindakan yang tak kalah cerobohnya ialah memaksakan diri melakukan hal-hal di luar syariat haji. Mereka tidak tahu membedakan antara amaliah haji yang wajib dan yang sunat.   Bahkan sesuatu yang tak disyariatkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, justru dianggap wajib sehingga ia mengutamakannya ketimbang manasik rukun haji sendiri. Contoh konkret ialah mencium hajar aswad yang disunnahkan Rasulullah SAW, hanya sebagai rangkaian dari thawaf. Bagi yang tidak mampu mencium langsung, dianjurkan mencium jarak jauh, dengan cara menghadap ke arah hajar aswad sambil mengangkat tangan. Adapun mencium hajar aswad yang tidak dirangkaikan dengan thawaf, bukanlah perbuatan yang disyariatkan. Bahkan jika perbuatan semacam itu dapat membahayakan fisik, hukumnya menjadi makruh, dan jika mengancam jiwa maka hukumnya menjadi haram. Tetapi, banyak orang yang merasa hajinya tidak afdhol jika tidak berhasil mencium hajar aswad secara langsung, yang kadang mengancam jiwanya sendiri. Ini betul-betul suatu kebutaan hukum ibadah yang melanda sebahagian jemaah kita,sehingga hajinya tidak jadi rahmat tapi jadi mudhorat.

Dua contoh di atas, satu kebutaan akidah dan satu lagi kebutaan ibadah harus diatasi sebagai tanggung jawab bersama oleh para ulama, ustadz dan mubaligh Islam. Sebab, jika terus dibiarkan maka ibadah haji bukannya membawa rahmah melainkan membawa mudharat, padahal kita membutuhkan syariah yang rahmah untuk pribadi dan masyarakat. Saatnyalah kita mensosialisasikan konsep istitha`ah (kemampuan menunaikan haji) yang selama ini terbatas pada fisik dan biaya, harus dilengkapi pula dengan kemampuan memahami akidah, ibadah dan akhlak secara benar. Wallahu A’lam bil-showabi.

Hotel Zamzam Pullman, Makkah 14 Agustus 2018.