Bung Karno Penggali Pancasila

soekarnoBung Karno Penggali Pancasila

(Dikuyip dari buku Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam karya Prof.Dr.H.Hamka Haq, MA)

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), melakukan serangkaian sidang pada akhir bulan Mei 1945. Ketua BPUPKI dr. Radjiman, ketika membuka sidang mengemukakan pertanyaan: “Negara Indonesia Merdeka yang akan kita bangun itu, apa dasarnya? Pada umumnya anggota enggan menjawab pertanyaan tersebut, dan lebih memilih langsung membicarakan soal Undang-Undang Dasar. Namun, seorang dari anggota badan tersebut menjawabnya, yakni Bung Karno, dalam bentuk pidato pada tanggal 1 Juni 1945, dengan judul Pancasila, atau lima sila.

Bung Karno menyampaikan lima dasar (sila) yang diusulkannya yaitu: pertama, nasionalsme atau kebangsaan, tapi bukan nasional-isme sempit atau chauvinisme. Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang berperikemanusiaan yang memandang seluruh bangsa mempunyai kesamaan harkat dan martabat. Untuk itu, kebangsaan haruslah disertai dengan sila kedua yakni internasionalisme atau perikemanusiaan. Bertolak dari kesamaan derajat dan martabat kemanusiaan, maka setiap warga masyarakat harus bebas dari penjajahan dan feodalisme. Dengan demikian, kedaulatan harus berada di tangan rakyat bangsa sendiri, sehingga sila ketiga ialah mufakat atau demokrasi. Tujuan dari negara ialah mengantarkan bangsa Indonesia menuju masyarakat sejahtera yang berkeadilan. Maka jadilah kesejahteraan sosial sebagai dasar keempat. Semua dasar negara tersebut, baik sebagai landasan maupun sebagai tujuan negara, adalah diabdikan oleh bangsa Indonesia kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinan masing-masing agama. Dengan kata lain, semuanya bermuara pada kepasrahan kepada Tuhan YME dengan mengharapkan ridah-Nya terhadap bangsa Indonesia. Dengan demikian, jadilah Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai sila kelima, yang menjadi sumber sekaligus tujuan akhir dari segalanya.

Merespon pandangan Bung Karno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 itu, sebuah panitia kecil dibentuk untuk merumuskan sistematika Pancasila tersebut, terdiri dari 8 orang yaitu: Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta, Mr. M. Yamin, M. Soetardjo Kartohadikoesoemo, R. Oto Iskandardinata, Mr. A. Maramis, Ki Bagoes Hadikoesoemo dan K.H. Wahid Hasjim. Tetapi kemudian, Bung Karno membentuk Panitia sembilan yang komposisinya adalah: Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta, Mr. M. Yamin, Mr. A. Maramis, Mr. A. Soebardjo, K.H. Wahid Hasjim, Abdulkahar Muzakkir, H.A. Salim, dan Abi Koesno Tjokrosoejoso. Jika dicermati dua komposisi kepanitian yang agak berbeda tersebut, maka tak salah jika dikatakan bahwa Bung Karno sebenarnya menginginkan keseimbangan antara wakil kaum Nasionalisme murni dan Islam Nasionalis. Komposisi Panitia Delapan, hanya mendudukkan dua orang wakil Islam, yakni Ki Bagoe Hadikusumo dan K.H.Wahid Hasyim, sementara pada Panitia Sembilan, wakili golongan Islam ada empat, yakni: K.H.Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, H.Agus Salim dan Abi Kusno Tjokrosoejoso, sama jumlahnya dengan wakil nasionalis. Apresiasi Bung Karno terhadap wakil golongan Islam ini menjawab secara tegas tuduhan orang yang mengatakan bahwa Bung Karno hanya memandang Islam sebelah mata.

Upaya Bung Karno menyeimbangkan wakil Nasionalis dan Islamis tersebut adalah manifestasi dari tekadnya untuk membela Islam dalam musyawarah dan mufakat. Bung Karno dalam pidatonya tgl 1 Juni 1945, telah menegaskan:  “– tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan, hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan.”

Di bawah pimpinan Bung Karno, Panitia Sembilan bertugas merumuskan sistematika Pancasila yang hasilnya berbeda dengan susunan awal dalam pidato Bung Karno. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dalam pidato Bung Karno sebagai sila kelima, dijadikan sila pertama. Sila kedua yang dalam pidato Bung Karno disebut internasionalisme atau perikemanusiaan dirumuskan menjadi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila pertama dalam pidato Bung Karno disebut Kebangsaan Indonesia dirumuskan menjadi Persatuan Indonesia dan ditempatkan pada sila ketiga. Sila keempat, kerakyatan, menggantikan apa yang dalam rumusan Bung Kanro disebut mufakat atau demokrasi. Sila kelima adalah keadilan sosial, sebagai rumusan dari prinsip kesejahteraan sosial menurut Bung Karno.

Sementara itu, desakan untuk memberlakukan Islam sebagai dasar negara sangat besar, sehingga pada tanggal 22 Juni 1945, usulan tersebut diakomodir oleh Panitia Sembilan dengan menambahkan tujuh kata pada sila pertama, sehingga berbunyi: “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”. Rumusan ini kemudian lebih dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Rencananya, rumusan tersebut akan dijadikan sebagai rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Namun, Piagam Jakarta kemudian mendapat tantangan keras dari golongan nasionalis yang yang tidak bergabung dalam Panitia Sembilan yang tetap menghendaki negara Indonesia berdasar pada prinsip kebangsaan. Menurut mereka, tujuh kata dalam sila pertama Piagam Jakarta yakni: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, adalah bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan oleh segenap warga bangsa dengan latar belakang agama yang berbeda-beda.  Maka pada tanggal 18 Agustus 1945, atau sehari setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menggelar sidang untuk membicarakan kembali soal Piagam Jakarta, terutama setelah adanya penolakan dari komunitas non Muslim dari wilayah Timur Indonesia. Adalah Bung Hatta yang menunjukan keprihatinannya atas dampak negatif jika kata syariat Islam dalam Piagam Jakarta itu tetap dipertahankan sebagai dasar negara. Beliau akhirnya berhasil membujuk pendukung Piagam Jakarta, agar kalimat yang berkonotasi syariat Islam, baik dalam Pancasila maupun dalam batang tubuh UUD 1945, dicoret demi persatuan bangsa dan tegaknya negara proklamasi sebagai negara kebangsaan.

Atas kebesaran jiwa dan kenegarawanan para pemuka Islam ketika itu, maka sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 menyepakati dihapusnya kata-kata ‘Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dari sila pertama Pancasila dan dari batang tubuh UUD 1945 pasal 29 ayat 1 digantikan dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Maka rumusan Pancasila yang disahkan pada 18 Agustus 1945 kembali seperti rumusan panitia sembilan sebelum Piagam Jakarta, yang adalah sebagai berikut:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijak-sanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.
  5. Keadilan Sosial bagi Selurh Rakyat Indonesia

Bung Karno Perumus Pancasila

Walaupun secara historis Pancasila adalah rumusan yang berasal dari pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, beliau tidak pernah mau mengaku sebagai pencipta Pancasila. Beliau hanya mengaku sebagai penggali dan perumus. Namun, disayangkan ialah adanya kemudian upaya pihak tertentu di era Orde Baru untuk mengaburkan jasa Bung Karno sebagai perumus Pancasila. Mereka melakukan de-Soekarnoisasi menyangkut lahirnya Pancasila. Mereka tidak mengakui Pancasila 1 Juni, dan hanya mau mengakui Pancasila tanggal 18 Agustus 1945. Bagi mereka, hari lahir Pancasila bukan 1 Juni 1945, melainkan 18 Agustus 1945. Mereka pun mencoba mengajukan dokumen yang menunjukkan bahwa rumusan Pancasila 1 Juni 1945, bukanlah monopoli Soekarno, karena katanya ada pembicara lain yang menyampaikan hal yang sama atau mirip dengannya, yakni pidato Muhammad Yamin pada tanggal 29 Mei 1945.

Jika bangsa kita mau jujur tanggal 18 Agustus bukanlah hari lahir Pancasila melainkan hari disahkannya menjadi dasar Negara. Ibaratnya seorang bayi yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945, kemudian di persaksikan secara resmi kepada keluarga dan tetangga sebagai anak yang sah pada hari “aqiqahnya” tanggal 18 Agustus 1945. Postur sang “bayi” pada hari aqiqah tidak lagi persis sama ketika saat-saat ia dilahirkan semula. Demikian halnya Pancasila, ketika disahkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945, tentulah redaksi dan sistematika-nya tidak sama persis dengan rumusan awal dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945 itu.

Adalah sangat masyhur bagi sejarawan bahwa seusai Bung Karno menyampaikan pidatonya di depan BPUPKI, maka Pimpinan sidang, Dr. Radjiman langsung memutuskan untuk membentuk Panitia Kecil (Panitia Delapan), dengan tugas utama menyusun rumusan tentang Dasar Negara, dengan menjadikan pidato Bung Karno sebagai acuan utama. Mengapa harus dengan pidato Bung Karno, bukan yang lainnya?, karena rumusan mengenai lima dasar negara di dalam pidato Bung Karno sangat konkret, begitupun uraian tentang masing-masing lima dasar itu sangat jelas, sehingga Panitia Kecil tinggal menyerasikan redaksi dan sistematikanya, sesuai kesepakatan para anggota. Berbeda dengan penyampaian pembicara lainnya, yang kadang hanya mengemukakan secara pointer, atau penjelasan yang berbelit-belit, sehingga substansi dasar negara yang diinginkan tidak dapat dikonkretkan.

Mengenai dokumen pidato yang cukup panjang, yang diklaim berasal dari Mr. Muhammad Yamin, sangatlah diragukan, karena tidak terekam dalam Risalah Sidang BPUPKI yang otentik berasal dari Pringgodigdo Archief di Algemeen Rijksarchief Den Haag, yang sekarang tersimpan di Arsip Nasional Jakarta.. Dalam risalah BPUPKI yang otentik, ditandai dengan kertas resmi BPUPKI yang bertuliskan “Dokuritu Zyunbi Tyoosakai”, bukan “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” (kendatipun Dokuritu dibaca Dokuritsu … … ), tidak ditemukan pidato M.Yamin, kecuali kerangka singkat saja. Andaikata dokmen pidato Muhammad Yamin itu pun asli (otentik), maka tidak pula akan menjadi bahan utama bagi Panitia Kecil dalam permusan Pancasila, karena pembahasannya tidak se konkret dengan isi pidato Bung Karno.

Jadi, baik berdasarkan dokumen-dokumen sejarah yang otentik, maupun dilihat dari proses perumusan menjelang hari kemerdekaan dan sehari sesudah kemerdekaan, Pancasila untuk pertama kali disusun oleh Bung Karno sebagaimana disampaikan dalam pidatonya yang terkenal itu, pada tanggal 1 Juni 1945, dan beliau pula yang memberinya nama “Pancasila”. Maka sejak dari proses lahirnya, kemudian dicantumkannya dalam Pembukaan UUD 1945 sampai kemudian keluarnya dekrit 5 Juli 1959, eksistensi Pancasila tak dapat dipisahkan dari pribadi, pemikiran dan langkah-langkah strategis yang ditempuh Bung Karno. Atau tegasnya, Bung Karno lah penggali, perumus dan pengawal (penyelamat) Pancasila itu. Hal ini pun sejalan dengan wasiat Bung Hatta kepada Guntur Soekarno Putra yang seperti disaksikan oleh Bung Hatta bahwa Pancasila dirumuskan dari pidato Bung Karno di hadapan BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 yang berjudul Pancasila.

Tapi sungguh hal yang sangat menarik bahwa di tengah gencar-gencarnya upaya de-Soekarnoisasi Pancasila di zaman Orde Baru, akhirnya pemerintah Orde Baru sendiri bersama Dewan Nasional Angkatan 45 pada tanggal 10 Januari 1975 membentuk Panitia Lima yang terdiri atas Bung Hatta, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Soenario, dan Abdul Gafar Pringgodigdo, untuk meneliti asal usul sebenarnya Pancasila. Sangat mengharukan dan menakjubkan, laporan Panitia Lima tersebut tentang asal usul Pancasila yang disampaikan kepada Presiden Soeharto melalui delegasi yang dipimpin oleh Jenderal Soerono pada tanggal 23 Juni 1975, temenegaskan bahwa asal-usul Pancasila berawal dari Pidato Bung Karno di depan BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Subhanallah, kebenaran tak dapat disembunyikan.   Merdeka… !!!   Wallahu A’lam bi al-Shawab.

MAMUJU, AWAL PENGABDIAN 40 TAHUN SILAM

MAMUJU, AWAL PENGABDIAN 40 TAHUN SILAM

Memasuki tahun 2016 ini, teringat satu bagian dari perjalan hidup ketika mengabdi di Mamuju empat puluh tahun silam (1976–1980).  Waktu itu Mamuju masih merupakan kabupaten terpencil di Sulawesi Selatan.  Terbayang kembali betapa sulitnya menjalankan tugas di daerah itu, sebab dapat dibilang Mamuju waktu itu masih benar-benar merupakan daerah pembuangan bagi pendatang, khususnya PNS. Belum ada jalan darat tembus ke daerah itu, kecuali jalan setapak.   Jalan darat dari Makassar hanya mulus sampai Pinrang, seterusnya ke Polewali dan Majene masih jalan kerikil.  Dari Majene ke Mamuju kita harus naik perahu, atau kapal kayu milik perusahaan yang mulai beroperasi di Mamuju.  Di atas perahu kita harus berada di laut selama dua hari satu malam.  Beruntung jika tidak ada angin dan ombak, tapi jika cuaca tidak bersahabat, ombaknya ganas disertai angin kencang, perahu harus menepi ke pantai, tidak berani berlayar.   Sesekali dengan kapal motor milik perusahaan atau Pemda, dengan waktu tempuh sekitar 12 jam.  Atau dengan kapal perintis PELNI “Menkara” yang transit di Mamuju sekali sebulan.  Dengan keadaan seperti itu, Mamuju benar-benar merupakan kota “penjara” bagi para pendatang, saking susahnya pulang kampung atau bepergian ke Makassar ketika itu.

Ke daerah itulah saya mengabdi pada tahun 1976 dengan jabatan guru agama, setelah meraih Sarjana Muda dengan gelar BA.  Waktu itu jenjang Perguruan Tinggi masih menerapkan dua tahap kesarjanaan, Sarjana Muda diselesaikan dalam tiga tahun, kemudian tambah dua tahun lagi untuk meraih Sarjana Lengkap dengan gelar Drs.   Aku berangkat dari kampung halaman di Barru menuju Majene, mulanya berharap langsung ada perahu menuju Mamuju.   Setiba di Majene, masih harus menuju pedalaman Kecamatan Somba, sekitar 30 km, tepatnya Desa Puttadda, tempat paman saya Abdullah berhijrah sejak tahun  1968.  Tidak jauh dari itu terdapat pelabuhan rakyat, di dusun Palipi tempat perahu-perahu kecil yang biasanya siap bertolak ke Mamuju.  Tapi ternyata Palipi juga lengang, terpaksa kembali ke Puttadda bermaksud menyewa perahu nelayan setempat.

Dari sana lah perahu sande kecil tanpa atap bertolak ke Mamuju, sekitar jam 21.00 malam.  Di atas perahu kami berlima, saya bersama kakak ipar, Haji Rakib, dan paman Abdullahi, serta dua awak perahu.  Setelah melewati malam itu dan sehari penuh esoknya, pelayaran cukup lancar, kami pun sampai ke perairan Mamuju sekitar jam 20.00 malam.   Dari jauh tampak Mamuju indah, dihiasi lampu merkuri sepanjang pantai.   Sempat juga terdengar sayup-sayup suara qari’ah melantunkan Al-Qur’an; itulah suara warga Mamuju yang pertama kami dengar.  Setelah menepi ke pantai sekitar jam 23.00, kami pun belum berani turun, perahu hanya ditambatkan dan kami semua memilih isterahat di perahu menanti matahari terbit di esok hari.

Di pagi hari, seusai mandi dengan sisa-sisa air seadanya di perahu, kami bergegas turun menuju pantai.   Tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh seorang tentara berdiri tegap siaga dihadapan kami, mencegat dan menanyakan apa tujuan ke Mamuju?   Setelah kami jelaskan soal penugasan dan memperlihatkan SK sebagai guru agama, alias PNS baru yang ditugaskan di kota ini, barulah ia mengizinkan lewat.   Ternyata, tentara tadi adalah petugas yang mengawasi setiap orang yang masuk Mamuju, dan mungkin sejak malam harinya sudah mencurigai dan mematai-matai kami.  Dia adalah prajurit setia pendukung GOLKAR Rezim Soeharto yang siap siaga menghadang dan memulangkan orang yang dicurigai pendukung partai lain.  Maklum waktu itu sedang persiapan menghadapi Pemilu 1977.

Ketika itu, kondisi Mamuju baru setara dengan kota Kecamatan di Kabupateen lainnya.  Mobil dinas bahkan sepeda motor yang berkeliaran masih dihitung jari.   Lampu listrik masih menggunakan diesel kecil, yang menyala dari jam 17.00 sampai jam 22.00 malam, sesudah itu kota Mamuju jadi gelap gulita, lampu-lampu merkuri di pantai kembali menjadi tiang-tiang yang membisu.  Warga kota pun hampir semuanya sudah harus tidur.  Bagi mereka yang masih ada kerjaan, terpaksa menggunakan lampo teplok.  Hal itulah yang saya lakukan dan jalani tiap malam, karena di malam nan tenang itu, saya sempatkan diri untuk menulis skripsi dengan berjudul “Koreksi Total terhdap Ahmadiyah”.

Bukan hanya listrik, air bersih pun sangat terbatas.  Air PAM baru mulai digarap, dan masyarakat pada umumnya masih menggunakan air sumur yang warnanya kuning.  Untuk mencuci pakaian, warga kota mengumpul pakaian bekasnya hingga seminggu, dan nanti pada hari Minggu mereka jalan ramai-ramai ber “piknik” ke kali Mamuju, sekitar tiga kilo meter dari kota, sambil cuci pakaian.  Walau masih perjaka, saya tidak merasakan betapa romantisnya piknik di Kali Mamuju waktu itu. Karena sebagai sosok di antara sedikit orang bergelar BA, dan berprofesi sebagai guru agama atau ustadz yang sering menjadi khatib di Masjid Raya Mamuju, tentu saja saya menikmati piknik di hati Minggu itu sebatas mencuci pakaian semata.

Masuk kota Mamuju di era 1970-an memang rasanya mejadi terasing, hubungan dengan dunia luar hampir putus total.  Tak ada media informasi kecuali siaran radio.  Surat kabar belum sampai tiap hari.  Koran dan majalah via pos sebulan sekali, diantar oleh kapal Menkara.  Apalagi yang namanya siaran televisi, itu baru sebatas impian.  Satu-satunya hiburan ialah bioskop kecil di sebuah gedung darurat tua, mungkin bekas gudang kopra atau rotan, yang biasanya memutar film-film usang yang sudah tak laku lagi di Makassar dan Pare-Pare.  Di saat lagi biskopnya kehabisan stok film, banyak orang menghibur diri dengan memutar kaset-kaset drama yang banyak dijual di satu-satunya toko ketika itu, tokoh “XIN” milik seorang Tionghoa.

Tapi, saya agaknya beruntung, karena orang yang bergelar BA di Mamuju masih dhitung jari, apalagi yang namanya Drs.  Di Departeen Agama baru saya sendiri berpredikat tertinggi (BA).  Karena itulah, baru sehari tiba di Mamuju, langsung diangkat jadi Dewan Yuri Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten yang sedang berlangsung di kota itu.  Ternyata suara qari`ah yang kemarin terdengar dari kejauhan semasih di laut, sebelum masuk kota Mamuju, adalah bagian dari kegiatan MTQ ini.

Pada hari pertama bertugas, saya diantar oleh Abdullah Thalib, Kadis Pendais Mamuju, ke madrasah tempatku mengajar, yakni Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Swasta, milik Yayasan Kebangkitan Pendidikan Islam Mamuju.  Sebagai orang baru, tentu masih bersikap kaku, apalagi semua mata dari guru-guru yang hadir waktu itu tertuju menatap tajam, yang membuatku duduk tersipu.    Saya paham, mungkin saja mereka mengagumiku, sebagai seorang yang masih lebih muda dari mereka, datang dari kota Makassar.  Apalagi Pak Abdullah Thalib memperkenalkan saya sebagai kandidat sarjana IAIN, di hadapan mereka yang rata-rata baru tamatan PAG 6 Tahun.

Beberapa bulan kemudian saya pun didaulat menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Swasta itu.  Kabarnya kini sudah menjadi madrasah negeri semua.  Di antara pengajar, selain Abdullah Thalib, yang saya masih ingat namanya aktif membina dan mengajar di madrasah waktu itu, adalah Aziz Anwar (alm), Hasbi Anwar (alm), Ust. Mustafa (alm), Hasnah Mustafa, Syahrir Arif, Andi Ratna (alm), Arifin HP Dara, Yanas DM, Marjani (Nurjani?), Darham Ali, Habil Amlir, Abd. Razak, Hadawiyah Thahir, dan masih ada beberapa orang yang saya lupa namanya, walau masih ingat wajahnya.

Lambat laum juga terungkap bahwa saya punya kerabat di kota Mamuju dan di Kecamatan Budong-budong.  Di Budong-budong, saya pernah diundang baca khutbah Idil Adhha.  Berangkat dari kota Mamuju ke Budong-budong, dengan perahu kecil sekitar 10 jam diayung ombak.  Separuh dari pejralanan itu harus dinikmati denga berbasah kuyup kehujanan.  Rupanya juga nenek saya seorang nakhoda, saudagar dan ustadz, pernah kawin dengan keluarga bangsawan Mamuju, yang keturunannya menjadi pejabat-pejabat di berbagai instansi setempat.  Menurut penuturan, nenek saya itu kawin dengan rumpun keluarga besar Pue Pepa, salah satu dari tujuh alur keluarga bangsawan (Pue / raja-raja) yang pernah berkuasa di Mamuju.   Saya pernah diantar berziarah ke makamnya, bahkan diantar menyaksikan bangkai perahu besarnya yang sudah tertanam dalam pasir tepi muara sungai Budong-budong.

Saya pun kemudian sangat dihormati.  Saya diminta oleh atasan saya, Abdullah Thalib, Kasi Pendais Mamuju itu untuk tinggal di rumahnya, dan disiapkan kamar khusus, dilengkapi dengan ranjang berukuran besar.  Di rumah itu pun tinggal tiga orang siswa MTS / MA yang saya pimpin dan seorang lagi siswa SMA.  Mereka semua tidur melantai dalam kamar saya, dan semua sudah seperti sahabat adanya.

Siswa saya rata-rata berbadan sehat kekar, dan cerdas, namun amat sedikit dari mereka yang lanjut ke Perguruan Tinggi, karena sulitnya ekonomi keluarga, lagi pula kota Makassar masih terlalu jauh bagi pandangan mereka ketika itu.  Diantara yang berani lanjut ke IAIN, saya ingat namanya Jamil dan Rusydan; Jamil berhasil sarjana dan jadi dosen IAIN Alauddin, sekarang sudah Master, pernah jadi Ketua KPU Sulawesi Barat, dan sudah lama jadi pejabat di Pemprov Sulawesi Barat.  Dua mantan Ka Kanwil Kementerian Agama Sul-Bar, Sahabuddin dan Mukhlis Latif pun adalah mahasiswa saya di IAIN (sekarang UIN) Alauddin Makassar, tapi bukan dari Madarasah di Mamuju itu.

Persis dua tahun bertugas di Mamuju, skripsi saya pun selesai.  Pada Tahun 1978 itu saya meraih sarjana lengkap (Drs.) Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Makassar.  Problem yang menghadang ialah ijazah sarjana tidak dapat digunakan untuk naikan pangkat III/a, terhalang oleh ketentuan tidak boleh melampaui pangkat atasan; Kasi Pendais yang masih berpangkat II/d, bahkan Kepala Kantor Departemen Agama masih juga berpangat II/d.  Meskipun demikian masih senang mengabdi di Mamuju menikmati penghargaan masyarakat pada diriku.  Adalah kebanggaan tersendiri, jika diminta oleh Ketua DPRD, Umar Dar yang tokoh Mamuju itu, atau oleh Sekwilda, Hamat Yusuf asal Maros, untuk menyertai mereka pada acara di kota, atau berkunjung ke kecamatan dan desa.  Di sana pun kita dihargai masyarakat bak raja dan pangeran, meskipun sebenarnya tujuan berkunjung adalah untuk melayani mereka.  Semua itu menambah spirit pengabdian, apalagi sedikit imbuhan, kerabat yang juga tokoh masyarakat itu sering menggoda ingin memasangkan saya dengan kerabat di Mamuju, mengulangi kisah sang nenek bergabung kembali dengan rumpun keluarga Pue Pepa.   Hampir-hampir saja Makassar dan kampung halaman menjadi terlupakan.

Tapi keluarga di Makassar dan Barru tak henti-hentinya mendesaak saya untuk pindah.  Mereka punya caranya sendiri, dengan rencana cerdas menikahkan saya dengan kerabat juga.  Lagi-lagi keluarga isteri kemudian keberatan kalau saya masih tetap di Mamuju.  Akhirnya perpindahan tak terelakkan lagi, namun awalnya bukan ke Barru, melainkan ke Soppeng 1980, nanti pada tahun 1982 baru beralih ke Barru.  Di Soppeng dan Barru saya mengedit kembali skripsi saya untuk diterbitkan oleh Panji Masyarakat, majalah Islam nasional pimpinan Buya Hamka, dengan judul Koreksi Total terhadap Ahmadiyah.  Hampir setahun lamanya, judul buku saya itu menghiasi sampul belakang majalah Panji Masyarakat.

Bermodalkan buku itulah, saya ikut testing masuk Program S2 di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta pada tahun 1986, walaupun tidak berstatus dosen.  Saya menjadi orang pertama peserta Program S2 dan S3 itu yang tidak berstatus dosen.  Ikut Pasca Sarjana merupakan babak baru episode berikutnya dalam riwayat hidup saya sebagai akademisi sebelum akhirnya aktif sebagai politisi.  Sebelum lanjut ke Pasca Sarjana, saya sempat ditugaskan di Majene (1984-1987).  Di Majene inilah naluri intelektual seakan mendorong semangat untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya di Jakarta.

 

AL-QUR`AN DAN TAHUN BARU MASIHI

AL-QUR`AN DAN TAHUN BARU MASIHI

Oleh: Prof.Dr. Hamka Haq, MA

Coba perhatikan, sungguh menakjubkan, menurut hitungan ahli tafsir, kata “yaum” (يوم – hari) dalam Al-Qur`an tersebut sebanyak 365 kali.  Itu adalah isyarat bahwa Al-Qur`an merekomendasikan penggunaan kalender Syamsiyah (mata hari), untuk kehidupan muamalah duniawi sehari-hari.  Kalender tersebut sudah digunakan sejak zaman Yunani kuno, denga jumlah 12 bulan (Januari -Desember) dan sebanyak 356 hari,  yang kemudian dikonversi jadi Tahun Masihi oleh kaum Kristen.  Sedang utk urusan ibadah ritual kita gunakan kalender Qamariyah dengan jumlah 12 bulan (Muharram – Dzulhijjah) sebanyak 354 hari.  Dinamai Qamariyah karena berdasar pada perhitungan peredaran qamar (bulan), yang sudh digunakan ribuan tahun di Jazirah Arab, India dan China sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW kemudian dikonversi jadi Tahun Hijriyah pd zaman Khalifah Umar RA.

Jadi kedua kalender itu Syamsiyah dan Qamariyah semua ciptaan Allah swt,  Sebagaimana Al-Qur`an menyebutkan dalam Surah Al-an’am ayat 96:

(فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ)

“Dia menyinsingkan pagi dan menjadikan malam utk istrahat, dan menjadikan matahari dan bulan utk perhitungan. Itulah taqdir Allah yg Mahamulia dan Maha mengetahui.”

Jadi ternyata memag sudah sangat pas untuk kehidupan duniawi sehari-hari kita gunakan kalender Syamsiah (sekarang bernama kalender Masihi), bukan Qamariyah. Sebab, kalender Syamsiyah tidak rumit, tidak perlu hisab – ru’yah.  Bagi sebahagian masyarakat, misalnya PNS dan TNI  POLRI, gajian tiap bulan tidak perlu menunggu hisab atau ru’yah dulu baru gaian.  Penanggalan Syamsiyah tdk pernah diperselisihkan dan sudah dapat ditentukan hitungannya bahkan sampai ratusan tahun kemudian, berbeda dengan kalender Qamariyah (Hijriyah) yang setiap tahun harus direvisi berdasarkan perbedaan hisab  ru`yah.  Itulah hikmahnya mengapa Al Quran mengisyaratkan penggunaan kalender Syamsiyah yg jumlah harinya 365 hari.  Subhanallah!

Sebagai tambahan penjelasan, tahun syamsiyah, dikenal sebagai Tahun Romawi.   Setelah sekian kali mengalami perubahan dan penyempurnaan, sistem penanggalan tersebut kemudian dikenal sebagai Kalender Julian (Julian Calender), yakni sejak Julius Caesar mengukuhkannya sebagai kalender resmi kekaisaran Romawi pada tahun 45 SM, dengan menetapkan bulan Januari sebagai awal tahun baru.  Kalender Julian ini berlaku pula sekian lama secara umum di Eropa dan Afrika Utara sejak zaman Imperium Romawi hingga abad XVI M.  Nanti pada abad XVI, tepatnya tahun 1582 kalender Julian dimodifikasi lagi untuk ditetapkan sebagai kalender resmi di kalangan Kristen yang dikukuhkan oleh Paus Gregory XIII.

Mengenai tanggal 1 Januari sebagai awal tahun, bangsa Romawi telah menetapkannya sejak tahun 153 SM (Sebelum Masehi), yang diikuti kemudian oleh Julius Caesar.  Ketika Paus Gregory XIII mengadopsi kalender Julian menjadi kalender Kristen, maka ia pun tetap menjadikan 1 Januari sebagai awal tahun baru.  Sebahagian kaum Kristen sebenarnya keberatan menjadikan tanggal 1 Janurai sebagai awal tahun, dan ingin menggantinya dengan tanggal 25 Desember, sebahagian lagi dengan tanggal 25 Maret.  Bahkan pada mulanya tradisi Gereja Bizantine dan sejumlah aliran ortodoks memakai kalender peribadatan liturgi (liturgical Year) yang menetapkan tanggal 1 September sebagai awal tahun baru.

Terlepas dari itu semua, yang jelas bahwa kelender yang digunakan oleh kaum Kristen sekarang adalah kalender Romawi, bukan kalender yang murni lahir dari nubuwatan Kristiani, melainkan lahir dari peradaban Romawi.  Karena itu, komunitas manusia di negeri mana pun dapat menerapkan kalender tersebut tanpa menghubungkannya dengan agama Kristen.  Umat Islam juga telah menggunakannya, tanpa harus dihantui benturan keyakinan antara Islam dan Kristen.  Syariah Islam memberi peluang (menghalalkan) untuk menerapkannya dalam kepentingan kehidupan Muslim global.  Karena itu, jika umat Islam merayakan 1 Januari sebagai tahun baru, dilihat dari sudut pandang syariah, adalah halal (sah-sah) saja.  Hal ini berarti kita turut bersama masyarakat internasional memakai kalender Romawi yang telah disepakati dunia sebagai sistem penanggalan dunia moderen.   Wa `Llahu a`lam bi al-shawab.

 

KEBENARAN ITU, PADA AKHIRNYA DITERIMA

Suatu kebenaran kadang ditolak mentah-mentah pada awalnya.  Ajaran Islam pun pada mulanya ditolak, namun akhirnya diterima secara luas di negeri Arab kemudian merambah ke seluruh penjuru dunia. Apalagi yang namanya pendapat manusia, walau mengandung kebenaran, pastilah awalnya ditolak dan ditentang.

Pada tahun 40-an misalnya, menjelang kemerdekaan terjadi polemik secara luas soal hukum transfusi darah.  Segenap ulama ketika itu, baik dari NU maupun dari Muhammadiyah ramai-ramai mengharamkan transfusi darah.  Mereka berdasar pada metode qiyas bahwa transfusi darah itu prosesnya sama dengan minum darah, yakni sama-sama memasukkan dara orang lain ke dalam tubuh seseorang.   Pendapat lain  adalah dari Ir. Soekarno yang justru menghalalkan transfusi darah.  Bung Karno melihat dari sisi lain, bukan dari proses masuknya darah ke dalam tubuh, melainkan dari manfaatnya.  Karena tranfusi darah dapat menyelamatkan jiwa orang sakit, maka Bung Karno melihat manfaatnya sama dengan pengobatan.  Kalau pengobatan itu halal karena dapat menyembuhkan orang sakit maka transfusi darah pun pasti halal karena dapat menyembuhkan oang sakit. Menyelamatkan orang sakit pastilah dianjurkan Islam.  Sekitar lima puluh tahun kemudian, barulah ulama ramai-ramai mengikuti pendapat Bung Karno, mereka juga sudah menghalalkan transfusi darah.

Seperti itu pula halnya, apa yang saya gagas dan laksanakan sejak tahun 1999 kini berangsur angsur disetujui oleh orang banyak.  Bersama Bapak Jusuf Kalla (JK) kami membentuk Forum Antar Umat Beragama (FAUB), yang kemudian melaksanakan Natal Oikumene gabung dengan Halal bi halal usai Idil Fitri, pada satu acara bersama, tiga tahun berturut-turut (1999, 2000, 2001), guna mengajarkan umat Islam bahwa ucapan Selamat Natal tidaklah haram.  Kini satu persatu tokoh dan ulama baru berani menyuarakan halalnya ucapan natal.  Tapi belum berani melakukan natal bersama gabung dengan maulid dlm satu acara.

Kemudian pada saat saya menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Makassar (2001 sd. 2003) saya berani menerima mahasiswa Non Muslim (Kristen dan Hindu) belajzr di Fakultas kami itu.  Semua ulama dan cendekiawan Muslim termasuk pimpinan IAIN sendiri menentang keras, tapi saya bertahan dan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teologia di Makassar.  Belasan dari mahasiswa non Muslim itu berhasil sarjana dari IAIN, sejak tahun 2004.  Semua pimpinan IAIN mencibir, atau istilah sekarang membully, atas langkah saya dianggapnya “jahiliyah” itu.  Namun ketika mereka ramai-ramai mengalih status IAIN jadi UIN mereka pun terpaksa harus menerima non Muslim jadi mahasiswa di Fakultas Umum.

Masih ada langkah saya yang dianggap “jahiliyah”, yakni ketika ormas Islam yang saya pimpin Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) di daerah mayoritas Non Muslim, saya minta non Muslim kalangan eksekutif menjadi Pelindung atau Penasehat BAMUSI.  Begitupun misalnya ketika saya membolehkan doa bersama umat berbeda agama dalam satu acara, jelas banyak yang menilainya jahiliyah.  Saya tentu melakukan semua itu karena ada alasan syariah dan alasan kemaslahatan yang saya temukan, mungkin sebelum yang lain menemukannya.

Hamka Haq bersama Uskup Agung Makassar John Liku Ada

Prof. Hamka Haq bersama Uskup Agung Makassar, John Liku Ada.

PEMIMPIN PEREMPUAN

Banyak orang mengagung2kan Sang Ibu.  Banyak orang yang mengagumi Sang Ibu. Tapi mungkin semuanya hanya semu, bermaksud utk menghibur hati para kaum Ibu, terlena tanpa merasa terjebak dalam ekploitasi kaum Bapak.  Berabad2 kaum Bapak merasa berhak mengatur segala aspek kehidupan di atas kaum perempuan. Sampai mengharamkan kaum Ibu jadi pemimpin. Dengan nada yang menyakitkan hati kaum Ibu, ulama dan ustadz bahkan menyerukan bhw peremouan hanya berhak melahirkan pemimpin tapi todak boleh jadi Pemimpin. Mereka lebih tepat dikatakan Ulama Patrilinealis ketimbang Islam Qurani.  Bukankah AlQuran mengisahkan Ratu Balqis yang beriman bersama Nabi Sulaiman?  Menurut AlQuran, Allah memuji Ratu Balqis, pemimpin yg kuat dan suka bermusyawarah.  Pujian Allah kpd Ratu Balqis menunjukkan Pemimpin Perempuan Halal.  Sebab, musstahil Allah memuji sesuatu yang diharamkan.  SELAMAT HARI IBU.  ENGKAU SANG IBU TERHORMAT DI SAMPING KAUM BAPAK

Berikut kami kutipkan dari buku Islam Rahmah untuk Bangsa, karya Prof. Dr. Hamka Haq, MA

HAK PEREMPUAN JADI PEMIMPIN

Berbicara soal kepemimpinan perempuan, patut kita renungkan kisah Ratu Balqis dalam Al-Qur’an, seorang pemimpin perempuan yang diakui kekuatan dan kearifannya memimpin.  Bahwa Ratu Balqis memang bukanlah seorang Nabi, tetapi kemimpinannya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai sosok pemimpin yang kuat dan bijak, suka bermsyawarah dan berhasil memakmurkan negerinya.  Walaupun Al-Qur’an, menyebut Ratu Balqis sebagai pemimpin yang mulanya fujur dan kafir, tetapi pada akhirnya Ratu Balqis yang diakui keberhasilannya memimpin itu menjadi Ratu yang beriman di bawah bimbingan Nabi Sulaiman.  Sebelum beriman saja, Ratu Balqis mampu memimpin dan memakmurkan negerinya, apalagi setelah beriman bersama Nabi Sulaiman.  Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an, S. al-Naml, [27]:  22-44.

Jadi sangat ironis, jika ada pandangan yang mengharamkan perempuan jadi pemimpin, padahal Al-Qur’an sendiri menyebut Ratu Balqis sebagai pemimpin yang kuat dan memakmurkan rakyatnya.  Mustahil Allah SWT mewahyukan kisah itu, sebagai yang patut diteladani bagi umat-umat di kemudian, seandainya Dia mengharamkan perempuan memimpin.   Hal ini mnjadienjelas bahwa wanita itu halal jadi pemimpin.

Berdasarkan hal di atas, maka ayat yang diadikan dasar sebahagian ulama untuk mengharamkan wanita memimpin perlu ditafsir ulang, sekaligus juga untuk menyesuaikannya dengan kondisi sosial kekinian yang berkembang di zaman moderen.  Kita simak lebih dahulu ayat berikut:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah memberikan keunggulan (SDM) sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan dengan kemampuan mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka (Q.S.al-Nisa [4]:  34).

Ayat ini sebenarnya tidak membatasi kepemimpinan sebagai hak monopoli kaum laki-laki.  Tak ada sama sekali lafal dalam ayat tersebut menunjukkan hak monopoli itu.  Ayat tersebut justru hanya menegaskan dua alasan utama, mengapa di zaman Nabi SAW laki-laki lebih berpeluang menjadi pemimpin, yakni: pertama, bahwa keunggulan sumber daya (SDM) ketika itu pada umumnya masih milik kaum laki-laki.  Kedua,  ialah kekuatan ekonomi yang di zaman itu juga pada umumnya masih berada pada kaum laki-laki, sehingga laki-laki menjadi sumber ketergantungan nafkah bagi keluarganya.

Tetapi, dalam perkembangan peradaban manusia dari zaman ke zaman, hingga saat ini, ternyata dua alasan penting di atas juga sudah ada pada kaum perempuan.  Keunggulan SDM berupa kecerdasan tidak lagi menjadi monopoli kaum laki-laki, bahkan dalam situasi dan kondisi lokal tertentu, sering dijumpai sejumlah perempuan lebih berpotensi dan lebih unggul dari kaum laki-lakinya.  Karena itu, jangan heran jika di negeri tertentu, tak dapat lagi dibendung tampilnya kaum perempuan menjadi pemimpin. Hal itu terjadi, bukan hanya karena kebetulan, tetapi memang sudah saatnya, karena ketika masyarakat membutuhkan pemimpin yang cerdas atau yang dapat diterima oleh masyarakat luas, ternyata tidak sedikit berasal dari kalangan perempuan.

Demikian pula alasan yang kedua, kemampuan eknomi, kini sudah tidak lagi menjadi monopoli kaum laki-laki.  Bahkan sudah banyak dijumpai keluarga yang kehidupannya tergantung pada isteri atau anak perempuan.  Hal ini antara lain karena tidak sedikit perempuan yang status sosial, karir dan kekayaannya lebih menonjol, sehingga pada pundaknyalah keluarga dan orang sekitarnya menggantungkan hidup.  Lebih dari itu telah banyak dijumpai perempuan konglomerat yang menjadi pemilik atau direktris sebuah perusahaan besar, mencontoh Khadijah RA, isteri Nabi SAW yang jadi konglomerat di zamannya. Dalam keadaan demikian, mereka tidak keberatan jika dipimpin dan dibiayai oleh perempuan.

Dua hal tersebut di atas semakin memperkuat alasan untuk memberi peluang bagi kaum perempuan menjadi pemimpin.  Al-Qur’an menyebut kaum laki-laki, karena ketika turunnya Al-Qur’an, potensi-potensi kepemimpinan menurut Q.S.al-Nisa [4]: 34 di atas, masih domain kaum laki-laki.  Tetapi kini zaman telah berubah, potensi keunggulan itu pun juga sudah beralih kepada kaum perempuan, maka tak ada alasan lagi untuk menolak perempuan menjadi pemimpin.

Sebenarnya tak dapat dipungkiri bahwa Nabi SAW sendiri telah mengakui dan sangat menghargai kepemimpinan perempuan.  Beliau bahkan pernah bergabung dalam sebuah managemen perusahaan di bawah pimpinan Khadijah RA, perempuan konglomerat termasyhur di jazirah Arab ketika itu.  Nabi Muhammad SAW mustahil melakukan hal ini sekiranya pemimpin perempuan itu haram, karena Mahasuci Allah SWT yang senantiasa melindungi Nabi-Nya dari akhlak yang buruk dan haram.  Dalam buku Sirah Ibn Hisyam disebutkan bahwa Khadijah menjadi pemimpin karena dua hal yakni:  (dzat syarfin wa malin) memiliki keunggulan SDM (martabat / kecerdasan) dan kekuatan ekonomi.  Dengan begitu, Khadijah RA menjadi pemimpin karena memenuhi dua syarat utama seperti yang disebut dalam Q.S.al-Nisa (4): 34.  Pada akhirnya Khadijah RA, yang dalam literatur sejarah disebut sebagai al-Sayyyidah (Tuan atau Pemimpin Perempuan) itu menjadi isteri Nabi Muhammad SAW.

Selain Khadijah, Aisyah RA selaku isteri Nabi SAW juga telah memainkan peran kepemimpinan.  Beliau pernah menjadi Panglima Perang sepeninggal Rasulullah SAW dalam suatu kemelut politik di zaman Khalifah Ali RA; dan istimewanya pula, beliau menjadi salah satu referensi Hadits dan Sunnah Rasulullah SAW yang menjadi pegangan utama kaum Sunni.  Kalau tindakan Aisyah RA menjadi Panglima merupakan pelanggaran yang haram, maka secara otomatis sebahagian besar hadits / sunnah warisan kaum Sunni dari Aisyah RA harus dibongkar dan ditinggalkan, atas prinsip tidak boleh menerima riwayat dari orang yang terang-terangan berbuat haram.  Satu-satunya jalan untuk tetap mengakui kesahihan dan keutuhan sunnah Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah RA ialah mengakui kepemimpinan beliau sebagai langkah yang dibenarkan syariat Islam.

Berdasarkan sunnah faktual yang tak terbantahkan di atas, yang membuktikan bahwa isteri-isteri Nabi pun, Khadijah dan Aisyah, ternyata pernah menjadi pemimpin, maka ayat Q.S.al-Nisa (4): 34 tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak perempuan jadi pemimpin.  Tafsir yang paling kuat adalah sunnah dan sejarah, sehingga tafsir apapun yang menolak fakta historis kepemimpinan perempuan adalah sangat lemah dan tidak realistis.  Jadi, makna ayat Q.S.al-Nisa (4): 34 itu lebih pada soal syarat pemimpin, yakni keunggulan SDM dan dukungan ekonomi, dua hal yang telah dimiliki pula oleh kaum perempuan dewasa ini.  Karena itu, siapapun yang memiliki dua syarat tersebut, laki-laki atau perempuan semuanya berhak jadi pemimpin menurut ajaran Islam.

Alasan lain yang sangat mencolok bagi kepemimpinan perempuan dalam Islam ialah adanya perintah Rasulullah SAW terhadap seorang perempuan bernama Ummu Waraqah untuk menjadi Imam (pemimpin) dalam shalat jamaah di lingkungan pemukimannya, sebagai berikut:

أن نبي الله  صلى الله عليه وسلم كان يقول انطلقوا بنا نزور الشهيدة وأذن لها ان تؤذن لها وأن تؤم أهل دارها في الفريضة

Bahwa Nabi SAW bersabda: Marilah kita menziarahi perempuan yang syahidah ini (Ummu Waraqah), beliau mengizinkannya untuk diazankan baginya, dan agar dia memimpin penduduk negerinya dalam shalat fardhu.

Dalam kitab Subulu al-Salam bahkan tegas disebutkan:

والحديث دليل على صحة إمامة المرأة أهل دارها وإن كان فيهم الرجل فإنه كان لها مؤذن وكان شيخا كما في الرواية

Hadits ini merupakan dalil atas sahnya perempuan jadi imam (pemimpin) shalat bagi penduduk negerinya, meskipun terdapat di antara mereka laki-laki dewasa, karena ternyata dia mempunyai muadzdzin, yang adalah seorang laki-laki dewasa, sebagaimana disebut dalam riwayat tersebut.

Tegasnya, Nabi memerintahkan Ummu Waraqah, seorang perempuan menjadi Imam shalat walaupun terdapat laki-laki dewasa.  Artinya, dalam soal ibadah ritual saja Nabi membolehkan bahkan memerintahkan seorang perempuan untuk menjadi pemimpin (imam) dalam kondisi tertentu, apalagi dalam soal kehidupan muamalah masyarakat, bangsa dan negara, sepanjang memenuhi syarat-syaratnya.  Tegasnya, imam perempuan tidaklah haram dan perintah Nabi SAW kepada Ummu Waraqah jelas bukan kesalahan, sebab Mahasuci Tuhan yang melindungi Nabi-Nya dari keterlibatan pada keharaman.  Wallahu a’lam bi al-shawab.

.

HARGAILAH SANG GURU

Hargailah Sang Guru

(Dikutip dari buku Islam Rahmah untu Bangsa, karya Prof.Dr.Hamka Haq, MA, penerbita: Baitul Muslimin Indonesia)

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tanpa guru, tidak akan pernah ada peradaban di muka bumi.  Tanpa guru, manusia hanya mengenal kebiadaban-kebiadaban.  Sebab, guru-lah yang memberitahu generasi manusia dari zaman ke zaman tentang kemaslahatan yang perlu dilestarikan secara akumulatif dalam sejarah peradaban.  Karena itu tidak salah sebuah adagium yang menyatakan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Guru menjadi pahlawan karena profesionalitas dan ketekunan dalam mengabdi untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsanya.   Dia memilih profesi itu tidak sekadar sebagai sumber nafkah melainkan sebagai sebuah kehormatan tersendiri dalam pengabdian kepada masyarakat dan sekaligus juga ibadah kepada Tuhan.  Di beberapa tempat, guru disapa dengan gelar “tuan”, sehingga secara lengkap disapa “tuan guru”.  Mungkin ini terinspirasi dari sebuah riwayat yang berbunyi man `allamaka harf(an) fa huwa mawlaka (barang siapa yang mengajarkan satu huruf padamu, maka dia adalah tuanmu).

Namun dewasa ini, sudah sangat jarang orang berpikir betapa sulitnya menjadi guru yang profesional dan terhormat itu.  Kebanyakan orang hanya melihat sosok guru yang kehidupannya amat sederhana dan pas-pasan.  Padahal  setiap harinya guru dituntut untuk berprestasi, meningkatkan ilmu dan wawasannya, yang untuk itu ia tentu terbebani dengan biaya buku, majalah, koran dan bahkan televisi; janganlah menyebut komputer dan internet.  Karena itu, ia tidak henti-hentinya berusaha mengembangkan potensi pengetahuannya, minimal metode pengajaran dan materi yang disampaikan kepada anak didik.  Dia juga harus selalu berupaya memiliki fasilitas-fasilitas pendukung lainnya bagi pencapaian prestasi,  dan tak lupa pentingnya kesehatan yang prima.

Guru yang baik bukan hanya sekadar pintar, tetapi ia juga harus sukses dalam mewariskan kepintaran kepada generasi bangsa.  Dengan demikian ia menjadi pelopor pembaharuan kehidupan, lewat pendidikan yang digelutinya.  Untuk itu, seorang guru yang profesional tidak henti-hentinya meningkatkan kualitas ilmunya, dan berupaya semaksimal mungkin untuk menerasnformasikan kepada orang lain (anak didik).  Pendeknya dia harus dapat membuktikan dirinya sebagai guru yang baik, didukung dengan penguasaan metodologi pengajaran (metode didaktik) yang memadai.

Sebagai pembaharu yang mengantar kehidupan bangsa ke arah yang lebih baik, lebih berbudaya, maka guru seharusnya merasa bangga akan tugasnya sebagai guru.  Dia memilih pekerjaan yang membawa dirinya menjadi mulia dan terhormat dan membawa masyarakatnya menjadi cerdas dan beradab.  Sang guru yang terhormat itu tidak akan pernah merasa rendah dengan posisinya sebagai guru.  Hanya dengan begitu, guru termotivasi untuk mengembangkan diri (SDM) dan profesi yang dibanggakannya itu.  Namun di sisi lain, secara jujur harus pula diakui bahwa nasib guru memang masih menyedihkan, terlebih lagi akibat semakin banyaknya gejala pelecehan terhadap profesinya.  Hal ini disebabkan, karena kehidupan guru pada umumnya masih di bawah standar kesejahteraan, sehingga masyarakat yang cenderung materialis hanya memandang guru dengan sebelah mata.

Sikap negatif masyarakat seperti itu berbanding terbalik dengan setumpuk tuntutan mereka terhadap guru.  Mereka semakin tidak senang bila guru mencari pekerjaan lain guna menutupi biaya hidupnya yang semakin sulit.  Padahal, sesungguhnya siapakah yang salah sehingga profesi guru belum menjanjikan kesejahteraan dalam dunia yang serba materialis?.   Godaan yang biasa melanda seorang guru ialah melirik sumber nafkah di luar profesinya, atau minimal mengais tambahan rezki lewat “komersialisasi” statusnya sebagai guru.  Maka, yang menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini ialah bagaimana memberi jaminan kehidupan yang layak dan sejahtera bagi para guru agar tetap menjadi guru profesional.

Ironis memang, guru sebagai pahlawan yang nasibnya sungguh menyedihkan. Guru kadang tidak lagi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, justru sering menjadi pahlawan tanpa imbalan jasa.  Sungguh berbeda nasib yang dialami oleh seorang tentara yang jadi pahlawan, bertempur di medan perang, yang di hadapannya terbentang harapan kenaikan pangkat, anugerah bintang jasa yang semakin berjejer rapi di dadanya, dan selama dalam tugas operasi, tunjangannya pun semakin berlimpah.  Bandingkan dengan seorang guru misalnya yang bertugas nun jauh di desa, entah di pedalaman hutan dengan sejumlah binatang buasnya atau di pulau-pulau terpencil di balik gulungan ombak yang ganas, nasib guru biasa-biasa saja; gaji dan kenaikan pangkatnya sering terlambat dibanding dengan rekan-rekannya yang ada di kota; maka lengkaplah nasibnya menjadi pahlawan tanpa imbalan jasa.

Ajaran Islam memberi pesan: “Berilah pekerja itu upah sebelum keringatnya kering”. , namun nasib guru belum tersentuh dengan pesan ini.  Bukan hanya keringatnya yang kering, malah badannya pun kadang menjadi semakin kurus kering.  Untung saja masyarakat di desa adalah manusia yang ramah dan pintar memberi penghargaan pada tuan guru, sehingga tuan guru pun masih betah menekuni profesinya, walaupun jauh dari kota.

Lain lagi, nasib guru-guru yang ada di perkotaan.  Meskipun mereka relatif lebih mujur dengan kelancaran kenaikan pangkat, atau lebih mudah memperoleh fasilitas kesejahteraan, namun mereka pun kadang menghadapi siksaan psikologis yang luar biasa.  Akibat arus materialistik yang semakin deras dalam kehidupan kota, orang tua murid (siswa) sangat menaruh harapan pada anaknya untuk berprestasi demi masa depan.  Harapan seperti ini kadang mendorong orang tua untuk memaksa tuan guru, kalau tidak mengintimidasi dan menerornya, agar angka-angka rapor anaknya digelembungkan di luar batas logika.  Ada pula yang menggodanya dengan imbalan yang menggiurkan.  Di sinilah, tuan guru diuji apakah tetap pada idealisme sebagai guru yang profesional ataukah hanyut dengan segala godaan yang dialaminya?.

Keadaan di atas barulah secuil kisah tentang guru di sekolah pemerintah, yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS).  Bagaimana nasib guru honorer yang sema-mata bermodalkan semangat pengabdian, nasib sebahagian besar mereka tentu lebih menyedihkan lagi.   Tidak perlu diungkit di sini, sebab bangsa kita biasanya sudah merasa cukup dengan menyampaikan ucapan “terima kasih” kepada mereka.   Terima kasih, tanpa disertai tanda terima kasih, begitulah nasib para guru honorer kita.

 

 

AGAMA UNTUK KEDAMAIAN

AGAMA UNTUK KEDAMAIAN

Oleh: Hamka Haq

Agama diturunkan Tuhan Allah SWT agar manusia damai bahagia. Keridhaan Tuhan sebenarnya dapat saja kita raih dengan hidup berdampingan damai dengan orang yang tidak se iman. Tapi kenyataannya, manusia kadang jauh dari perdamaian. Maka lebih baik kita tidak beragama sama sekali, kalau agama hanya jadi kendaraan kebencian. Banyak orang beragama tapi tidak menyembah Tuhan, melainkan memberhalakan agama. Atas nama agama, mereka melakukan pelarangan terhadap agama lain.  Atas nama agama, membakar dan menyegel rumah ibadah umat agama lain. Atas nama agama, menghina tokoh agama lain dan merencanakan pembakaran Kitab Suci. Dengan demikian, agama bukan lagi milik Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih bagi manusia ciptaan-Nya, yg Maha meridhai kedamaian, tetapi agama telah menjadi milik manusia penyebar kebencian.

Banyak orang menjadikan agama sebagai tujuan, padhal tujuan hakiki adalah ridha Tuhan, dan agama hanya jalan mecari ridha Tuhan dan ridha sesama manusia. Karena agama menjadi tujuannya, maka mereka tega menjual nama Tuhan dan menyebar kebencian demi agama dan demi agama.   Padahal, tujuan agama sebenarnya ialah ridha Tuhan dan ridha (damai) dgn sesama manusia. Dalam Islam Tuhan disebut Anta al-Salam (Engkau Tuhan Sumber sorga kedamaian), sedang dalam Kristen, Tuhan disebut bersermayam di Sorga;  sementara dalam Hindu Tuhan dipercaya mengabulkan semua ibadah umat manusia dari jalan mana pun mereka menuju kepada-Nya. Tapi kenyataannya sebahagian mereka menjadikan Tuhan sebagai sumber neraka kebencian di muka bumi. Hanya Tuhan Maha Tahu betapa laknat atas perbuatan mereka yang melecehkan Tuhan.

Sebenarnya, Tuhan tidak rugi jika manusia tdk menyembah-NYA, tetapi Tuhan sangatlah murka jika manusia saling bermusuhan, dengan alasan masing-masing pihak sama-sama mencari ridha Tuhan . Agama bukan untuk kebutuhan Tuhan, melainkan utk kebutuhan kedamaian dan kemaslahatan manusia sendiri. Karena itu, Tuhan akan murka jika manusia berperang dg alasan membela Tuhan. Padahal Tuhan yang hakiki tidak peru dibela, karena Tuhan Mahakuasa, bukan berhala yg lemah.   Sebab itu Tuhan pun tdk ridha diperalat jadi kendaraan kebencian dari orang-orang yang mengaku fanatik bergama, padahal hanya penyebar kebencian, kecemburuan, kedengkian dan haus darah.  Orang seperti ini menjual nama Tuhan di kalangan umat manusia, seolah-olah Tuhan menjadi dalang penghasut kebencian di muka bumi. Mereka lebih tepat disebut sebagai memberhalakan Tuhan ketimbang menyembah Tuhan.  Atau tegasnya mereka telah gagal dalam beragama.  Sekali lagi, Keridhaan Tuhan sebenarnya dapat saja kita raih dengan hidup berdampingan damai dengan orang yang tidak se iman.  Wa-‘Llahu a’lam bi ‘l-shawab.

MASJID SEBAGAI PUSAT PANCARAN ISLAM RAHMAH

Prof/ Hamka Haq sebagai Khotib Idul Fitri 1436 H. di Masjid Al Markaz Makassar

Prof/ Hamka Haq sebagai Khotib Idul Fitri 1436 H. di Masjid Al Markaz Makassar

Disari dari Khutbah Idil Fitri 1436 di Masjid Al-Markaz al-Islami Makassar

Oleh Prof.Dr.Hamka Haq, MA

MASJID SEBAGAI PUSAT PAANCARAN ISLAM RAHMAH

Bahwa tujuan filosofis didirikannya masjid Al-Markaz Makassar tahun 1994 ialah keinginan para pendiri untuk mengamalkan Islam Rahmatan lil-alamin melalui masjid sebagai pusat ibadan dan muamalah.   Bahwa Islam datang ke Indonesia adalah untuk memperbaiki akhlak bangsa, tanpa meninggalkan budaya asli leluhur yang positif.  Itu sebabnya model masjid Al-Markaz tetap mengambil tradisi bangunan di Indonesia, tidak memakai kubah model Timur Tengah.  Dan ketika masjid mulai difungsikan 1996, disepakati masjid ini harus ramah lingkungan sosial, dalam arti ibadah berjalan tanpa ada gangguan terhadap mereka yang bukan Muslim.  Maka pengajian setiap menjelang sholat dibatasi paling lama tujuh menit dan harus dibaca oleh manusia, bukan memutar kaset.

Lebih penting lagi diingat bahwa di Masjid Al-Markaz inilah dasar-dasar perdamaian lintas agama, dirumuskan sampai melahirkan Forum Antar Umat Beragama (FAUB) sebagai respon terhadap pecahnya konflik SARA di Maluku dan Poso. Forum inilah yang merupakan embrio terbentuknya FKUB di seluruh Indonesia. Masih segar dalam ingatan, Bapak Jusuf Kalla berssama Ketua MUI Sul-Sel Guruutta H.Sanusi Baco, dan Prof Dr. Hamka Haq, selaku Sekretaris, mengundang para pemimpin agama lain untuk membentuk forum tersebut, seperti halnya ketika Rasululah SAW menerima sejumlah kaum Kristen Najran bertamu di Masjid Nabawi di Madinah (Tafsir Al-Qurtubiy Juz 4 hal. 4 dan 5).  Langkah tersebut adalah bertolak dari keinginan mengamalkan Islam sebagai kasih sayang bagi alam semesta, yang merupakan inti risalah Nabi kita Muhammad SAW seperti  ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿الأنبياء: ١٠٧﴾

Dan tidaklah Kami mengutus engkau Muhammad, kecuali rahmat untuk alam semesta (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107)

Dalam kaitannya dengan kehidupan bangsa, Islam Rahmah harus tercermin dalam segenap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan menuju cita-cita kemerdekaan. Seperti terlihat, sisa-sisa penjajahan masih tampak di mana-mana; masih banyak yang susah mencari makan, bahkan mati kelaparan; masih banyak yang susah menyekolahkan anak-anaknya, menderita sakit tanpa biaya pengobatan; susah memperoleh perlindungan keamanan dan keadilan, dan lain-lain sebagainya.   Dalam hal inilah terasa perlunya kasih sayang antara satu dengan lainnya, semacam dialektika sosial, yakni ada golongan yang kuat yang harus mengasihi, dan ada golongan lemah (mustadh`afin) yang harus dikasihi.  Artinya, mereka para pemimpin, orang kaya, ilmuwan, atau kelompok yang mayoritas, haruslah mengasihi golongan lemah, yakni rakyat kecil, orang miskin, orang yang tak berpendidikan, dan yang tak berdaya karena minoritas.

Tanpa rahmah (kasih sayang), persaingan hidup semakin terasa kejam. Banyak orang yang kesejahteraan dan keamanannya terancam, bahkan dirampas oleh orang-orang kuat, sehingga membutuhkan jaminan hidup dan perlindungan dari negara, memerlukan belas-kasih dari kta semua. Sungguh kejam kehidupan suatu bangsa jika masyarakat lemah, kaum fakir-miskin, anak-anak terlantar, dibiarkan hidup tertindis dan tertindas. Alangkah tragisnya jika warga pencari keadilan tidak memperoleh hak-haknya, bahkan dirampas oleh mafia pengadilan yang korup.  Mereka tidak punya tempat mengadu, selain kepada Allah SWT. Mungkin saja malapetaka yang selama ini melanda bangsa kita adalah akibat ratap tangis orang-orang terzalimi itu, sesuai peringatan dari Nabi SAW:

واتق دعوة المظلوم  فإنه ليس بينه وبين الله حجاب

Takutlah kamu pada doanya orang yang dizalimi, karena antara dia degan Tuhan tiada batas yang mengantarai”

Menghadapi persoalan=persoalan bangsa seperti disebutkan tadi, sebenarnya dapat diatasi dengan mudah jika kita dapat memancarkan Islam Rahmah (akhlak karimah) dalam kehidupan bermasyarakat.  Nilai-nilai Islam berupa kedisiplinan, kejujuran, kasih sayang dan juga kebersihan (thaharah) sangat relevan untuk mengatasi sejumlah persoalan bangsa tersebut.

Ibadah sholat, puasa, zakat dan haji semua mengajaran nilai kedisiplinan, namun kedisipilinan itu belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan muamalah.  Di lapisan atas misalnya, pejabat-pejabat melanggar sumpah jabatan, melakukan korupsi di tengah kehidupan rakyat yang susah.  Masyarakat lapisan bawah pun banyak yang berperilaku tak disiplin; banyak kecelakaan terjadi akibat ketidak-disipilinan berlalu lintas, pencurian aliran listrik, penggunaan bahu jalan untuk berjualan dan merusak fasilitas umum.   Ditambah lagi rendahnya budaya kebersihan di kalangan umat kita. Kebiasaan membuang sampah sembarangan di jalan ataupun di kali tanpa memikir akibatnya, menunjukkan rendahnya kedisiplinan dan belum terhayatinya nilai kebersihan yang diajarkan Islam.

Soal rendahnya budaya bersih, tidak hanya tampak di rumah-rumah, tetapi juga di gedung-gedung fasilitas umum termasuk masjid dan musholla.  Tidak hanya di Indonesia, kebiasaan buruk itu juga mash terdapat di sejumlah negara Islam.  Mungkin anda pernah berkunjung ke Masjid Imam Syafi`i di Mesir (2003), toiletnya sangat jorok tidak mencerminkan ajaran Imam Syafi`iy tentang thaharah (kebersihan).  Demikian pula betapa menjijikkannya toilet masjid dan mosholla tempat persinggahan jamaah haji dari  Jeddah ke Madinah.   Pada hal kita umat Islam yakin bahwa Allah swt mencintai orang-orang bersih, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴿٢٢٢﴾

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang membersihkan diri (bersuci)”

Keadaan tersebut di atas sangat kontras dengan wajah toilet di halte persinggahan antarkota di Cina (Tiongkok) dan Amerika yang pernah kita saksikan. Betapa bersihnya dan betapa tertib orang-orang yang memakainya.  Serasa kita tidak ada di ruang pembuangan najis, tetapi tempat melepas lelah yang menyenangkan, sesuai dengan namanya tertulis rest room.

Dalam hubungan sesama manusia, segenap ibadah juga bernilai untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan kebersamaan baik dalam skala kecil keluarga maupun dalam skala yang seluas-luasnya untuk masyarakat.   Namun, hubungan kasih-sayang itu seakan sirna, berganti dengan sikap egois untuk menang sendiri dan berniat menyingkirkan yang lainnya.   Keluarga mengalami konflik internal, bahkan sampai merenggut jiwa karena perebutan harta pusaka.  Pertemanan kadang berujung pada permusuhan karena soal-soal sepele, bercanda yang berujung kematian.  Di kalangan pejabat tinggi, terjadi pembunuhan karakter antara mitra kerja demi mengejar populeritas, merasa diri paling bersih dan yang lainnya harus ditenggelamkan.  Falsafah lokal orang Bugis, mali siparappe (saling menyelamatkan jika hanyut), rebba sipatokkong (saling menopang jika rebah), malilu sipakainge (saling mengingatkan jika khilaf), sudah terlupakan, kini berganti dengan “mali sisukkeang (saling mendorong dalam kehanyutan), rebba si lemme (saling mengubur jika rebah) , malilu sipakabeling-peling (saling menipu jika khilaf)”. 

Keadaan yang serba negatif tersebut berbanding terbalik dengan perilaku masyarakat di negeri-negeri Barat yang justru dipandang sekuler.  Walaupun paham sekuler tidak boleh ditiru, namun banyak hal positif dalam kebiasaan mereka sehari-hari patut diamalkan, karena sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang kita anut.

Penulis pernah mendamingi Tim Lintas Agama berkunjung ke beberapa negara Eropah, naik bis dari Belanda sampai Tahta Suci Vatikan, melewati Belgia, Swiss, Perancis dan Italia.  Kami saksikan betapa disiplinnya sopir bus kami, bernama Mooritz.   Ketika penulis mencoba membuka sendiri ruang bagasi untuk membantu teman-teman memasukkan koper-kopernya, ternyata dia keberatan dan marah. Dia minta semua koper itu dikeluarkan dan bagasi harus ditutup kembali, kemudian dia sendiri yang memasukkannya.  Alasannya sederhana, bahwa membuka bagasi dan menaikkan barang-barang itu menjadi tanggung jawabnya, dan dia tidak mau dinilai lalai dalam tugasnya.  Dan demi kebersihan, dia pun minta agar kami tidak memakan bekal di atas mobil. Namun dasar bangsa kita suka melanggar, ada saja yang makan bekal berlindung di balik  sandaran mobil.  Astaghfirullah.

Baru-baru ini (Juni 2015), penulis dan beberapa teman sempat berkunjungan ke Washington dan New York, dalam rangka studi perbandingan mengenai Undang-Undang Penyandang Cacad (disabilitas). Di sana pun kita belajar sebuah kedisiplinan, ketika kami diterima oleh Judith E. Heumann, Penasehat Khusus Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang menangani orang-orang disabilitas.  Bayangkan, meskipun dia pejabat tinggi, namun saat akan berfoto bersama, dia harus minta izin pada staf security.  Dia tidak serta merta menggunakan kekuasaan untuk langsung mengambil tempat tanpa izin stafnya sendiri.  Prinsipnya, semua berlaku sesuai aturan, karena mereka merasa sama di depan hukum dan aturan.

Akan halnya kejujuran, pernah saya menyaksikan sendiri, ketika menyertai Presiden ke V RI, Hj, Megawati Soekarnoputri ke Cina, menghadiri Nisham Forum, Seminar Internasional tentang ajaran Kong Hu Chu dan Agama-agama di Dunia (2010).  Salah seorang teman kami kehilangan bagasi, namun ahirnya bagasi (koper) itu dapat ditemukan kembali dengan utuh.  Sejumlah teman lain juga mengisahkan pengalaman yang sama, setidaknya yang mereka lihat di Jepang, Cina, Korea dan Austraiia misalnya.   Barang-barang yang biasa tercecer atau hilang di air port, atau di Mall dan tempat keramaian lainnya, asal dilaporkan ke polisi atau petugas security, pada umumnya dapat ditemukan ada kembali.   Sampai ada mengatakan barang-barang hilang di luar negeri bisa kembali ada, sebaliknya di Indonesia, barang-barang yang ada semua bisa hilang, padahal kita di sini hampir 90% menganut Islam.

Sisi lain dari rahmatan lil-‘alamin yang menjadi tanggung jawab pusat-pusat ibadah dan pendidikan ialah mewujudkan kehidupan bangsa yang aman dan nyaman secara nasional.   Umat Islam di seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke sama-sama membutuhkan kesejahteraan dan keamanan hidup bersama dengan umat agama lain.  Untuk mewujudkan rasa aman bagi segenap umat beragama di Indonesia tanpa membedakan kaum mayoritas atau minoroitas,  diperlukan tanggung jawab bersama untuk saling mengasihi sebagai sesama anak bangsa dalam rumah besar Indonesia Raya.

Perlakuan diskriminatif dan penganiayaan terhadap kelompok agama apapun, dapat memicu gesekan sosial yang berdampak luas bagi terganggunya stabilitas nasional.  Kondisi sosial yang seperti itu harusnya tidak terjadi jika semua umat beragama mengamalkan agamanya bahwa semua agama mengajarkan perdamaian, rahmah dan kasih sayang, bukan dengan arogan dan egoisme yang bisa menyulut konflik sosial.

Dengan cara seperti ini, unat Islam akan benar-benar menjadi sumber pancaran Islam Rahmatan lil-alamin untuk bangsa.   Allahu Akbar wa lillahi al-hamd.  ….   Merdrka.

Suasana Jamaah Lebaran di Masjid Al-Markaz al-Islami di Makassar

Suasana Jamaah Lebaran di Masjid Al-Markaz al-Islami di Makassar

 

 

 

MASJID RUMAH KETENANGAN DAN KEDAMAIAN

Sehubungan dengan adanya pernyataan Bapa HM Jusuf Kallah Wakil Presiden RI soal perlunya mengurangi durasi dan volume suara pengajian dari corong (load speaker) masjid beberapa waktu yang lalu, maka penulis akan menurunkan kutipan dai Buku ISLAM RAHMAH untuk BANGSA,  karya Prof. DR. Hamka Haq, MA, terbit I, 2009 dan terbit II, 2015, sebagai dukungan atas pernyataan beliau,

Masjid, Rumah Ketenangan dan Kedamaian

Untuk shalat jamaah, khususnya shalat Jum’at, dibutuhkan adanya masjid, sebab tanpa masjid shalat Jum`at tak mungkin terlaksanan dengan baik. Masjid itu sendiri adalah rumah ibadah yang multi dimensional, tidak hanya untuk shalat, tetapi juga untuk persoalan duniawi dan kemanusiaan.  Ia menjadi tempat bermusyawarah bagi umat, dan tempat berdialog antara rakyat dan pemimpin.  Itulah hikmahnya, sehingga ketika berhijrah, Nabi Muhammad SAW membangun sebuah masjid di Quba sebelum memasuki kota Yatsrib (Madinah).

Sebagai rumah ibadah, Masjid terbuka untuk semua Muslim, tanpa mengenal perbedaan suku, kebangsaan, bahasa dan adat istiadat, serta strata sosial mereka, bahkan tidak mengenal aliran-aliran.  Fungsi tersebut jauh lebih penting dari bangunan masjid itu sendiri.  Oleh karenanya, anjuran untuk membangun masjid adalah lebih ditujukan pada berfungsinya masjid sebagai pemersatu umat.

Masjid yang sengaja dibangun untuk memecah belah umat, disebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid dhirar, karena orang yang membangunnya bermaksud untuk menciptakan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan perpecahan antara orang-orang mu’min” (alladzina ‘ttakhadzu masjida(n) dhirara, wa kufra wa tafriqa bayn al-mu’minin  – Q.S.al-Tawbah, [9]: 107).

Ayat tersebut turun menyangkut Bani Ghanam yang mendirikan masjid baru untuk menandingi saudara-saudara mereka dari Banu Amr yang telah mensyiarkan masjid Quba.  Berdirinya masjid Bani Ghanam jelas akan mengurangi jamaah masjid Quba, sebagai bentuk persaingan tidak sehat.  Ketika Rasulullah bersiap memenuhi undangan Banu Ghanam itu, turunlah ayat di atas sebagai teguran.  Ayat tersebut menilai masjid Bani Ghanam sebagai masjid dhirar, yang bertujuan untuk memecah belah umat.  Rasulullah SAW pun lalu memerintahkan sahabat-sahabatnya (Malik bin Dahsyam Cs) untuk segera meruntuhkan dan membakar masjid itu dengan bersabda: “inthaliqu ila hadza al-masjidi al-zhalimi ahluhu faahdimuhu wa ahriquhu” (Pergilah kalian ke masjid yang penghuninya zalim ini, hancurkan dan bakarlah masjid itu).

Berdasarkan itulah, sebahagian besar ulama termasuk Imam Malik dan Al-Syafi`iy tidak membenarkan adanya dua masjid dalam satu kampung yang penduduknya masih satu jamaah.  Bahkan mereka tidak membenarkan ada dua jamaah yang berbeda dalam satu masjid dengan masing-masing imam yang berbeda pula.  Maka dalam suatu kota, diharuskan hanya ada satu masjid untuk shalat Jum`at, kecuali jika kapasitasnya sudah tidak dapat menampung semua jamaah, maka perlu dibangun masjid baru, sepanjang tidak mengganggu masjid yang pertama tadi.  Larangan untuk bershalat dalam suatu Masjid yang dapat mengakibatkan perpecahan adalah ayat berikut:

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu bershalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih (Q.S. Al-Tawbah [9]: 108 ).

Dalam hadits riwayat Bukhari juga dijelaskan bahwa sebenarnya, jika hanya untuk keperluan beribadah saja, bukan untuk persatuan, maka Rasulullah SAW tidak akan membangun masjid.  Hal ini karena semua tempat di muka bumi dapat menjadi ruang untuk beribadah.  Beliau menyatakan bahwa salah satu keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya, ialah dijadikannya bumi sebagai masjid (tempat bersujud), sebagai sabdanya: “wa jui`lat liy al-ardh masjida(n) wa thahura, wa ayuuma rajuli(n) min ummatiy adrakathu al-shalatu falyushalli” (Dan dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat bersuci, maka di manapun seseorang dari umatku tiba waktu shalat, hendaklah ia bershalat).

Persaudaraan yang terbina dari masjid tidak terbatas hanya untuk sesama Muslim, tetapi juga dengan umat agama lain.  Karena itu, suasana ketenangan di dalam dan sekitar masjid harus terpelihara sehingga betul-betul mencerminkan rasa damai untuk semua.

Demi kekhusyukan beribadah, maka setiap orang dituntut menjaga ketenangan di dalam masjid; tidak dibolehkan mengeraskan suara karena dapat mengganggu keheningan ibadah orang lain.  Bahkan membaca ayat-ayat Al-Qur’an pun dengan suara keras juga dilarang, karena dapat menimbulkan gangguan.   Salah satu hadits dari Ibn Umar riwayat Imam Ahmad, menyebut bahwa suatu ketika Rasulullah mendapati sahabatnya melakukan shalat dengan suara keras dalam masjid.  Maka Rasulullah menegur: “Jangan sebahagian kamu mengeraskan (mengganggu) sebahagian lainnya dengan bacaan (Al-Qur’an) dalam shalat” (wa la yajhar ba`dhukum `an ba`dh bi ‘l-qiraah fi al-shalah)

Dari sumber yang sama, diriwayatkan oleh Abu Sa`id al-Khudriy, bahwa ketika Rasulullah SAW beritikaf dalam masjid, beliau mendengar sahabat-sahabatnya membaca Al-Qur’an dengan suara keras, maka beliau pun membuka tabirnya dan menegur dengan bersabda: “Ketahuilah bahwa setiap kamu bermunajat kepada Tuhannya, maka janganlah sebahagian kamu mengganggu yang lainnya dan janganlah sebahagian kamu meninggikan suaranya atas yang lainnya ketika membaca Al-Qur’an”.

Adalah pesan moral yang maha penting dari kandungan riwayat-riwayat di atas, yakni kita perlu mengatur ulang, kalau tidak menghentikan sama sekali, tradisi mengeraskan suara pengajian Al-Qur’an yang saling bersahutan lewat menara–menara masjid setiap menjelang waktu shalat.  Setidaknya perlu dicari solusinya, sehingga masjid menjadi rumah ibadah yang rahmatan lil-alamin, tidak saling mengganggu, dan tidak juga mengganggu ketenangan dan kemaslahatan hidup orang-orang di sekitarnya, termasuk mereka yang beragama lain.

Sebenarnya, cara membaca Al-Qur’an dan berdoa yang dianjurkan syariah ialah dengan suara yang lembut, bukan suara yang keras, dan tidak harus didengar oleh semua orang apalagi mengganggu orang lain.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55) وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56)

Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(55)  Dan janganlah kamu merusak (mengganggu) di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (bertakwa)) penuh harapan (kepada-Nya). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (Q.S.al-A`raf [7]: 55-56).

Hal tersebut penulis kemukakan karena tradisi pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an melalui corong menara masjid menjelang shalat itu sebenarnya tidak bersumber dari tradisi Rasulullah dan shahabat.  Kebiasaan tersebut lahir belakangan sebagai tradisi baru di Indonesia, yang seyogyanya disesuaikan pula dengan tatakrama kultur keindonesiaan secara umum.

SEJAUH MANA UMAT ISLAM KETINGGALAN DARI UMAT LAIN?

SEJAUH MANA UMAT ISLAM  KETINGGALAN DARI UMAT LAIN?

Sudah lebih tiga dekade kita umat Islam mencanangkan kebangkitan, yakni sejak masuknya abad XIV H, dan kini sudah memasuki tahun 1436 H.   Namun apakah kita sudah bangkit atau masih jalan di tempat.  Untuk mengukur sejauh mana ketinggalan kita dalam peradaban dunia, kita perlu tahu sudah sejauh mana kemajuan umat agama lain.  Pada tahun 2009, saya pernah menemukan artikel yang mengungkapkan kemajuan yang dicapai kaum Yahudi dan Kristen.  Ada baiknya artikel tersebut saya kemukakan di sini dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai berikut:

Beberapa pemikiran: Ekstrak pidato Hafez Mohamed AB: Direktur Jenderal, Al Baraka Bank (Bank Islam komersial yang beroperasi di Pakistan sejak 1991)

DILIHAT DARI SEGI DEMOGRAFI:

  • Populasi kaum Yahudi se Dunia, hanya 14 juta. Distribusi: 7 juta di Amerika, 5 juta di Asia, 2 juta  di Eropa dan sekitar 100 ribu di Afrika
  • Populasi Muslim se Dunia: 1,5 miliar. Distribusi: Satu miliar di Asia / Timur Tengah, 400 juta di Afrika, 44 juta di Eropa dan 6 juta di Amerika.  Artinya Setiap lima orang manusia pasti ada seorang Muslim.  Untuk setiap satu Hindu ada dua Muslim;  Untuk setiap Buddha ada dua orang Muslim; Untuk setiap satu orang Yahudi ada 107 orang Muslim.

NAMUN 14 JUTA ORANG YAHUDI JAUH LEBIH KUAT DARIPADA SELURUH 1,5 MILIAR MUSLIM. MENGAPA?  BERIKUT ADALAH BEBERAPA ALASAN:

  • Penggerak Sejarah Dunia Dewasa ini pada umumnya Yahudi:
    • Albert Einstein Yahudi
    • Sigmund Freud Yahudi
    • Karl Marx Yahudi
    • Paul Samuelson Yahudi
    • Milton Friedman Yahudi
  • Tokoh Terpenting Dunia Medis:
    • vaksinasi Needle: Benjamin Ruben Yahudi
    • Polio Vaccine Jonas Salk Yahudi
    • Leukemia Obat Gertrude Elion Yahudi
    • Hepatitis B Baruch Blumberg Yahudi
    • Sifilis Obat Paul Ehrlich Yahudi
    • Neuro otot Elie Metchnikoff Yahudi
    • Endokrinologi Andrew Schally Yahudi
    • Terapi kognitif. Aaron Beck Yahudi
    • pil kontrasepsi Gregory Pincus Yahudi
    • Pemahaman Manusia Eye. G. Wald Yahudi
    • Stanley Cohen Yahudi
    • Ginjal Dialisis Willem Kloffcame Yahudi.
  • Pemenang Hadiah Nobel:

Dalam 105 tahun terakhir, 14 juta orang Yahudi telah memenangkan 180 hadiah Nobel sementara 1,5 miliar Muslim telah memberikan kontribusi hanya 3 pemenang Nobel

  • Penemuan yang mengubah sejarah
    • Chip Pengolahan Mikro. Stanley Mezor Yahudi
    • Rantai Reaktor Nuklir Leo Sziland Yahudi
    • Fiber Optik Kabel Peter Schultz Yahudi
    • Lampu Lalu Lintas Charles Adler Yahudi
    • Stainless Steel Benno Strauss Yahudi
    • Suara Film Isador Kisee Yahudi
    • Telepon Mikrofon Emile Berliner Yahudi
    • Video Tape Recorder Charles Ginsburg Yahudi
  • Bisnis Global Berpengaruh:
    • Polo Ralph Lauren Yahudi
    • Coca Cola Yahudi
    • Levi Jeans Levi Strauss Yahudi
    • Starbuck Howard Schultz Yahudi
    • Google Sergey Brin Yahudi
    • Komputer Dell Michael Dell Yahudi
    • Oracle Larry Ellison Yahudi
    • DKNY Donna Karan Yahudi
    • Baskin Robbins & Robbins Irv Yahudi
    • Dunkin Donuts Bill Rosenberg Yahudi
  • Intelektual / Politisi Berpengaruh:
    • Henry Kissinger, AS Sec Negeri Yahudi
    • Richard Levin, Presiden Yale University Yahudi
    • Alan Greenspan, AS Federal Reserve Yahudi
    • Joseph Lieberman Yahudi
    • Madeleine Albright, US Sec Negeri Yahudi
    • CasperWeinberger, US Sec Pertahanan Yahudi
    • Maxim Litvinov, Menteri Luar Negeri Uni Soviet Yahudi
    • David Marshal, Ketua Menteri Singapura Yahudi
    • Isaacs Isaacs, Gov-Gen Australia Yahudi
    • Benjamin Disraeli, British Statesman Yahudi
    • Yevgeny Primakov, PM Rusia Yahudi
    • Barry Goldwater, AS Politikus Yahudi
    • Jorge Sampaio, Presiden Portugal Yahudi
    • Herb Gray, Wakil – PM Kanada Yahudi
    • Pierre Mendes, PM Perancis Yahudi
    • Michael Howard, British Home Sec. Yahudi
    • Bruno Kriesky, Kanselir Austria Yahudi
    • Robert Rubin, US Treasury Sec Yahudi
  • Media global yang Berpengaruh
    • Walf Blitzer, CNN Yahudi
    • Barbara Walters ABC News Yahudi
    • Eugene Meyer, Washington Post Yahudi
    • Henry Grunwald, Majalah Time Yahudi
    • Katherine Graham, Washington Post Yahudi
    • Joseph Lelyeld, New York Times Yahudi
    • Max Frankel, New York Times Yahudi
  • Philanthropists Dunia:
    • George Soros Yahudi
    • Walter Annenberg Yahudi

MENGAPA MEREKA KUAT? MENGAPA MUSLIM TIDAK BERDAYA?

  • Berikut alasan lain: Kita umat Islam telah kehilangan kapasitas untuk memproduksi pengetahuan.
  • Dalam seluruh Muslim Dunia (57 Negara Muslim) hanya ada 500 perguruan tinggi (berkelas dunia?)
  • Di Amerika Serikat saja, 5,758 universitas
  • Di India sendiri, 8.407 perguruan tinggi
  • Tidak satu universitas di seluruh fitur Dunia Islam di Top 500 Universitas Ranking Dunia
  • Literasi (mampu baca dan tulis) di Dunia Kristen 90%
  • Literasi (mampu baca dan tulis) di Dunia Muslim 40%
  • 15 negara-negara mayoritas Kristen, angka melek huruf 100%
  • Tidak ada Negara mayoritas Muslim yang angka melek huruf sampai 100 %
  • 98% di negara-negara Kristen selesai pendidikan dasar.
  • Hanya 50% di negara-negara Muslim menyelesaikan pendidikan dasar.
  • 40% penduduk di negara-negara Kristen masuk universitas
  • Di negara-negara Muslim 2%.
  • Negara-negara mayoritas Muslim memiliki 230 ilmuwan per satu juta Muslim
  • Amerika Serikat memiliki 5000 per satu juta
  • Dunia Kristen 1.000 teknisi per satu juta.
  • Seluruh Dunia Arab hanya 50 teknisi per satu juta.
  • Muslim se Dunia mnghabiskan biaya penelitian / Development 0,2% dari PDB
  • Dunia Kristen menghabiskan 5% dari PDB

Kesimpulan:  Dunia Muslim tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi pengetahuan.

  • Cara Lain untuk menguji tingkat pengetahuan adalah derajat menyebarkan pengetahuan.
    • Pakistan 23 surat kabar harian per 1.000 warga
    • Singapore 460 per 1000 penduduk.
    • Dalam judul buku UK per satu juta orang adalah 2000
    • Di Mesir judul buku per satu juta orang hanya 17

Kesimpulan: Dunia Muslim gagal untuk mengembangkan pengetahuan

  • Menerapkan Pengetahuan sebagai tes alternatif:
    • Ekspor produk teknologi tinggi dari Pakistan adalah 0,9% dari ekspor.
    • Di Arab Saudi adalah 0,2%
    • Kuwait, Maroko dan Aljazair 0,3%
    • Singapura saja 68%

            Kesimpulan: Dunia Muslim gagal untuk menerapkan pengetahuan.  

Apa yang Anda simpulkan? tidak perlu memberitahu angka berbicara sendiri sangat keras kita tidak dapat mendengarkan

SARAN:

Silakan mendidik diri sendiri dan anak-anak Anda. selalu mempromosikan pendidikan, tidak kompromi terhadap hal itu, jangan mengabaikan sedikitpun kesalahan arah anak-anak Anda dari pendidikan (dan tolong, Demi Allah, jangan menggunakan kontak pribadi atau sumber (posisi) anda untuk mempromosikan anak-anak Anda dalam pendidikan mereka, jika mereka gagal, biarkan mereka dan membuat mereka belajar untuk lulus, b / c jika mereka tidak bisa melakukannya sekarang, mereka tidak akan pernah bisa).

Kita  adalah bangsa terbesar dan terkuat di dunia, semua yang kita butuhkan adalah untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi diri kita sendiri.  Kemenangan kita adalah hanya dengan pengetahuan, iman, kreativitas kita, melek kita …  Dan tidak ada yang lain.

… Ayo bangun …

Setelah membaca angka-angka yang dipaparkan oleh Hafez Mohamed di atas, serta kesimpulan-kesimpulan yang diajukannya setiap item, maka sadarlah betapa jauhnya kita umat Islam tertinggal.  Dan solusi yang ditawarkannya ialah: Umat Islam harus merenggut ilmu pengetahuan, tidak hanya iman.   Renungkan firman Allah SWT.  Q.S. al-Mujadalah (58): 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”.

Umat Islam dewasa ini baru (kembali) pada tingkat memiliki iman, belum menjadi penguasa sains dan teknologi.  Inilah tantangan kita bersama.  Di sinilah jihad harus difokuskan, yaitu jihad untuk menguasai sains dan teknologi.  Kita harus membangun kerjasama peradaban dengan sumber-sumber sains dan teknologi yang kini masih dimonopoli oleh Barat, Amerika dan Eropa.   Bahkan membangun kerjasama dengan penguasa baru teknologi moderen yakni Tiongkok.  Rasulullah SAW sendiri bersabda: “Uthlub al-`ilma wa law bi al-Shiin” (Tuntutlah ilmu walau ke negeri Tiongkok).  Lihat dalam Al-Rubay` bin Habib al-Bashriy, Musnad al-Rubay`, (Beyrut: Dar al-Hkmah, 1415 H.), Juz I, h. 29.

Wa’Llahu a`lam bi al-shawab.