MENUJU PALESTINA MERDEKA, SOLUSI DUA NEGARA (2)

SOLUSI DUA NEGARA (Bagian 2)

Oleh: Prof. Dr.H. Hamka Haq, MA

            Pada tahun 2010, penulis mewakili Baitul Muslimin Indonesia menghadiri Konferensi untuk Pembelaan Baitul Maqdis (General Conference for the Support of Al-Quds), bertempat di Kualalumpur Malaysia. Konferensi berlangsung selama dua hari tepatnya tanggal 20 s.d. 21 Januari 2010, dihadiri sejumlah delegasi dari negara Timur Tengah, Asia Timur dan Asis Tenggara.  Dari Indonesia, hadir pula wakil ormas Islam Muhammdiyah, NU, dan MDI.

            Mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Muhammad hadir sebagai Keynote Speaker, sekaligus membuka konferensi internasional tersebut.  Dalam pidato tanpa teks, Mahathir menegaskan bahwa dunia internasional, khususnya Barat terkadang tidak adil memandang Palestina, dan persoalan umat Islam pada umumnya.  Misalnya, serangan 11 September 2001 dianggapnya sebagai serangan teroris, sementara serangan brutal Zionisme Israel atas bangsa Palstina di Gaza tidak disebutnya serangan teroris. 

Hal menarik lainnya dari pidato Mahathir adalah bahwa Amerika dan sekutunya di Eropa sengaja memberikan sebahagain wilayah Palestina menjadi negara untuk Zionis Israel, karena bangsa Barat merasa terganggu dengan kehadiran kaum Yahudi yang menyebar di negara-negara Eropa dan Amerika itu.  Untuk menghindari gangguan tersebut, negara-negara Barat sepakat perlunya pembentukan Negara Israel sendiri untuk merelokasi kaum Yahudi berdiaspora itu.  Hal ini baru kita dengar, dan jika benar demikian, maka bantuan Amerika dan Eropa ke Israel, yang seolah menjadikan Israel sebagai anak emas, ternyata bertujuan pula untuk menghindari perilaku kaum Yahudi yang mereka pandang sebagai trouble maker di negara mereka.

Persoalan kota suci Jerussalem (al-Quds) yang menjadi tema konferensi merupakan bahagian terpentig dari perang Pelaestina-Israel, dan menjadi alasan bagi negara-negara Islam untuk membantu perjuangan bangsa Palestina.  Kini, Israel mengklaim Al-Quds menjadi Ibukota Negara Zionis itu.  Di lain pihak, pejuang Palestina juga mencita-citakan sebuah Negara Palestina Merdeka, dan Al-Quds sebagai ibu kotanya.  Maka terjadilah konflik antara Palestina dan Israel yang berkepanjangan seolah tiada habisnya.  Terakhir kemarin terjadi saling serang yang tidak berimbang selama sebelas hari di bulan Mei 2021 ini.  Walau kerugian besar dialami tentunya oleh Hamas, namun anehnya, Hamas justru mengaku menang dan marayakannya usai pengumunan gencatan senjata oleh Israel.

            Pertanyaan, sampai berapa lama lagi perang itu berlangsung, dan kapan akan berakhir?. Sulit dijawab jika melihat eskalasi persoalan antara keduanya.  Dan karena itu pula nasib Al-Quds pun tidak dapat dipastikan akan jatuh ke  tangan siapa, dan sampai kapan ia terkatung-katung dalam bayang-bayang perang tanpa akhir itu.  Jawaban yang mungkin ialah, bahwa nasib Al-Quds tergantung pada kepastian terbentuknya Negara Palestina Merdeka, yang dapat dicapai dengan memilih salah satu alternative berikut

Alternatif pertama ialah bangsa Palestina harus mempersiapkan diri menghadapi dan memenangkan perang panjang dengan Israel itu.  Alternatif ini tentulah sangat sulit, tidak realistis dan tidak memberi kepastian kepada bangsa Palestina untuk dapat memproklamirkan kemerdekaannya dalam waktu yang singkat atau lama.

Alternatif kedua ialah menempuh perdamaian dengan meneruskan lagi peta jalan damai Oslo 1993 yang telah dirintis dan desepakati oleh oleh Yasser Arafat dan Yitshak Rabin, untuk berdirinya dua negara Palestina dan Israel yang berdampingan secara damai.  Peta jalan damai itu juga kini sudah disetujui oleh Arab Saudi, Maroko, Uni Emirat Arab dan Bahrain.  Tanpa melupakan perlunya pertahanan militer bagi sebuah negara, namun hal yang paling utama ialah Palestina dan Israel haruslah memastikan pihaknya untuk dapat hidup berdampingan dalam perdamaian abadi.

            Sadar pula bahwa zaman globalisasi dewasa ini, mengharuskan semua komunitas manusia untuk saling berhubungan dengan baik tanpa sekat-sekat bangsa, ras dan agama.  Untuk itu kecenderungan peradaban modern ialah membangun kedamaian untuk semua.   Maka, saatnya kini paradigma perang yang berkepanjangan diubah menjadi paradigma perdamaian.  Saatnyalah bangsa Palestina dan Israel semakin intens meneruskan perundingan demi kehidupan baru yang sejahtera dalam dua negara yang damai untuk selamanya.

Fatah dan Hamas, Bersatulah

            Kendala utama perdamaian di Palestina ialah, pecahnya perlawanan bangsa Palestina sendiri, yakni Fatah (kekuatan inti PLO)  dan Hamas.  Fatah dan Hamas mempunyai gaya yang berbeda, fatah lebih cenderung memilih jalan diplomasi dan mudah diajak ke meja perundingan, sedang Hamash tetap memilih perjuangan bersenjata. 

            Dua gaya pergerakan tersebu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya, namun untuk kondisi kekinian, maka jalan damai adalah pilihan yang realistis. Konflik bersenjata Palestina-Israel sudah berlangsung lebih 70 tahun, yang mengakibatkan korban mati syahid ratusan ribu jiwa, atau mungkin jutaan, eksodus besar-besaran, anak-anak terlantar hidup di pengungsian, serta keadaan yang selalu mencekam sewaktu-waktu menghadapi pengeboman dan serangan udara tentara Israel.   Sekali lagi tanpa mengabaikan perlunya kekuatan militer untuk pertahanan diri, namun jalan perdamaian untuk mengakhiri penderitaan bangsa Palestina adalah jalan yang terbaik, dan merupakan pilihan yang realistis.

            Untuk kepentingan itulah, maka seharusnya dua gaya pergerakan tersebut menyatu sebagai kekuatan dahsyat yang tiada taranya, memandang jauh ke depan untuk menata kehidupan berbangsa yang solid, dan meninggalkan egoisme sektoral demi terwujudnya Negara Bangsa Palestina Merdeka.

Untuk itu faksi Hamas harus berubah, harus menerima gagasan dua negara berdasarkan perjanjian Oslo 1993, yang selalu ditolaknya itu. Bagaimanapun juga gagasan tersebut itulah yang realistis, dan kini negara-negara Arab pun yang sejak awal berdirinya Israel menolak keras gagasan serupa, seperti Arab Saudi, Maroko dan negara-negara teluk, justru melunak menerimanya dan mengakui kehadiran Israel.   Hal tersebut jauh lebih menguntungkan Palestina ketimbang ngotot berperang terus dengan tetap berharap donasi dari negara-negara Islam lain.  Memelihara perang hanya merugikan semua pihak, terutama Palestina sendiri.  Hamas harus memahami ini sebelum negara-negara Arab lain semakin banyak mengakui Israel, yang membuat Hamas semakin terkucil, bahkan mungkin Hamas akan dicap oleh mereka sebagai organisasi cinta perang ala teroris.  Wallahu a’lam bil Showabi.

Catatan: Telah dimuat di media Genial : http://genial.co.id/menuju-palestina-merdeka-solusi-dua-negara-bagian-2/

MENUJU PALESTINA MERDEKA, SOLUSI “DUA NEGARA” (Bagian 1)

Oleh. Prof.Dr. H. Hamka Haq, MA

Dalam Pembukaan UUD NRI 1945, disebutkan: “Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.  Ini artinya, Indonesia mendukung setiap bangsa tanpa kecuali untuk memperoleh tanah air dan kemerdekaan. 

Dalam kerangka inilah kita harus tempatkan diskusi soal konflik bangsa Palestina dan bangsa Israel.  Dengan kata lain, dua bangsa yang selama ini berperang itu adalah sama-sama menuntut hak-haknya untuk memiliki tanah air dan merebut kemerdekaan.  Bangsa Israel dan bangsa Palestina sama-sama merasa berhak untuk tinggal di Palestina sebagai tanah air warisan dari neneak moyang yang sama, yakni Nabi Ibrahim.  Jadi demi kemanusiaan, keadilan dan kedamaian, solusi terbaik bagi kedua bangsa serumpun itu ialah berdirinya dua negara, Negara Palestina dan Negara Israel yang rukun damai, sebagai sesama keturunan dari nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim.

Maka kalau mau bicara sejujurnya soal sejarah Palestina dalam kaitannya dengan konflik Arab-Israel ini, setidaknya harus dimulai dari sejarah Nabi Ibrahim.  Jangan memulai dari tahun berdirinya negara Zionis Israel tahun 1948, yang hanya berbincang soal perang Arab-Israel, di mana bangsa Arab selalu kalah dan terzalimi.  Mari kita coba membaca sejarah Palestina lebih jauh ke tempo doeloe, ribuan tahun yang lalu.  

Bahwa sebenarnya Palestina itu adalah negeri Nabi Ibrahim (Abraham) dan dihuni kemudian oleh keturunannya yang mencakup dua bangsa besar, yakni Bani Ismail (bangsa Arab) dan Bani Israel (kaum Yahudi). Pada zaman dahulu, Nabi Ibrahim hiijrah dari Babilon ke Kanaan (Palestina sekarang) untuk menyelamatkan diri dari kejaran Raja Namrud.  Dia kemudian mempunyai dua anak, yakni Ismail, nenek moyang bangsa Arab, dan Ishak nenek moyang Bani Israel.  Ismail bersama ibunya Hajar diantar Nabi Ibrahim ke Makkah dan tinggal di sana, sedang Ishak bersama ibunya Sarah dibiarkan tetap di Kanaan. 

Nabi Ishak melahirkan Nabi Yakub, tapi Yakub kemudian hijrah sekeluarga ke Mesir, ketika putranya bernama Yusuf menjadi Bendahara Kerajaan Dinasti Firaun, dan tinggal menetap di sana.  Yakub lebih masyhur digelar Israel yang artinya pengembara di malam hari, sehingga keturunannya pun disebut Bani Israel.  Keturunan Yakub (Bani Israel) itu berkembang biak dan menjadi bangsa tersendiri di Mesir.  Mereka diperbudak oleh bangsa Mesir di zaman Dinasti Firaun itu, sampai akhirnya Nabi Musa lahir dan kelak menyelamatkan bangsanya keluar dari Mesir kembali ke Palestina melalui gurun Sinai. 

Peristiwa kembalinya Bani Israel ke Palestina dikisahkan dalam dua kitab suci, Perjanjian Lama dan Ak-Qur’an.   Perjanjian Lama berulang kali menyebut Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan”, antara lain: “dan supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunan mereka” (Ulangan 11:9).  Kisah yang mirip “tanah yang dijanjikan” itu juga terdapat dalam Al-Quran, Al-Maidah (5): 20-26. Antara lain: “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi”(Q.S.Al-Maidah: 21).

Ketika bangsa Israel kembali ke Palestina sesuai informasi dua kitab suci tersebut, mereka pun akhirnya berbaur dengan suku bangsa lainnya, termasuk suku-suku Arab Bani Ismail.  Bahkan pembauran antara bangsa Israel dan bangsa Arab menjalar sampai ke Yatsrib (Madinah).  Jadi tak dapat dipungkiri bahwa Palestina, bahkan Madinah dahulu merupakan kediaman bersama bangsa serumpun Arab dan Yahudi (Bani Israel), yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim nenek moyangnya itu.  Di Madinah, kondisi itu tetap dipertahankan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri ketika beliau jadi Kepala Negara, dengan mengajak kaum Yahudi untuk sama-sama menyusun UUD Madinah yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

Nantilah pada zaman sepeninggal Nabi, khalifah-khalifah pengganti Nabi membuat kebijakan ekstrem, sehingga kaum Yahudi keluar dari Madinah.  Bahkan mereka juga berangsur keluar dari Palestina setelah direbut oleh Khalifah Umar pada tahun 637 M dari kekuasaan Romawi, dan terus dikuasai Arab hingga zaman Turki Utsmani.  Dizaman Turki Utsmani, Israel berusaha kembali ke Palestina (1869), namun ditolak mentah-mentah oleh Sultan Abdul Hamid II.  Sejak Palestina direbut Khaifah Umar, bangsa Israel semakin banyak eksodus, hingga akhirnya populasi mereka semakin berkurang dan yang tersisa sedikit itu mendiami wilayah Tel Aviv dan sekitarnya. 

Khalifah Umar memperkokoh kekuasaan politik Islam di Palestina ditandai dengan pembangunan Masjid Aqsha di atas tanah (Rumah Suci) Israel yang pernah disinggahi Rasulullah SAW beribadah dalam peristiwa Isra Mi’raj.   Rumah Suci yang sebelumnya merupakan warisan Yahudi-Kristen, beralih dalam penguasaan Islam ketika itu.   Bangsa Israel pun sekali lagi memilih mengembara tanpa tujuan ke mana-mana sampai terdampar di Afrika Utara dan sebagian menyeberang ke Eropa. Jadi sejujurnya, menurut sejarah, wajar saja jika di abad ke 19 bangsa Israel ingin punya tanah air sendiri, dan kembali ke Palestina, di mana nenek moyangnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ishak pernah tinggal di sana.  Namun, bangsa Eropa khususnya Inggeris yang memediasi kembalinya Israel ke Palestina, gagal melakukan pendekatan persuasif ke bangsa Arab yang juga keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail, sehingga bangsa Arab Palestina merasa dipaksa tanpa kehormatan untuk menerima kehadiran Israel.

Hal yang jarang diungkap, bahwa awalnya Yahudi (Bani Israel) sebenarnya hanya ingin kembali ke Tel Aviv dan sekitarnya, yakni bahagian kecil dari Palestina, bukan semua wilayah Palestina, dan tidak termasuk kota suci Jerussalem.   Dengan populasi yang tidak begitu besar (sekitar 3 jutaan) pada saat berdirinya negara Israel 1948, bangsa Israel sudah merasa nyaman berada di Tel Aviv dan sekitarnya, apalagi di wilayah itu memang masih terdapat sisa-sisa penduduk asli kaum Yahudi yang leluhurnya tidak pernah eksodus.   Di atas wilayah itulah bangsa Israel memproklamirkan Negara Israel 14 Mei 1948 berdasarkan Deklarasi Balfour 1917, sebuah dokumen Inggeris atas hak Isreal memiliki tanah air di sebagian wilayah Palestina.  Wilayah tersebut, memang sedang dalam kekuasaan Inggeris berdasarkan Mandat Britania oleh PBB, setelah Turki Utsmani kalah dalam Perang Dunia I.

Berdasarkan Mandat tersebut, sebenarnya PBB berencana membentuk dua negara Yahudi dan Arab Palestina, dengan catatan Inggeris tetap mengontrol Yeurssalem, agar kota suci itu dapat diakses oleh tiga agama: Islam, Yahudi dan Kristen.   Namun, Bangsa Arab menolak mentah-mentah usulan tersebut.  Solusi dua negara Arab-Israel kembali diajukan PBB di tahun 1947, dan lagi-lagi bangsa Arab tetap bersikukuh menolaknya.  Dalam keadaan tidak menentu itulah, Israel secara sepihak mengumumkan berdirinya Negara Israel di wilayah Tel Aviv, seperti disebutkan di atas.

Akibatnya, bangsa Arab murka dan terjadilah perang Arab-Israel berkepanjangan dan yang paling dahsyat adalah perang tahun 1967, di mana Arab mengalami kekalahan besar.  Maka dengan alasan keamanan Negara “Tel Aviv” Israel itu, tentara Israel menjadikan wilayah Arab yang direbutnya sebagai wilayah penyanggah, termasuk wilayah Baitul Maqdis (Jerusslem), hingga sekarang.

Andai kata dahulu bangsa Arab dapat legowo realistis menerima berdirinya Negara Israel di Tel Aviv pada tahun 1948  itu, maka boleh jadi Negara Palestina Merdeka pun telah berdiri sesuai dengan mandat PBB.  Dan dalam peta pembagian dua negara tersebut, kota suci Jesrussalem masuk dalam wilayah Negara Arab Palestina.  Tetapi sekali lagi bangsa Arab berkeras menolak kehadiran Israel di Palestina secara mutlak, dan bertekad menguasai sepenuhnya Palestina, dan menghapus Negara Israel.    Terjadilah perang tiada habisnya hingga sekarang, karena sudah menyangkut eksistensi Negara Israel dan klaim kota suci. 

Namun, belakangan berhembus angin perdamaian, gagasan pembentukan dua negara hidup kembali.  Israel dan Palestina menyetujui peta jalan damai di Oslo 20 Agustus 1993, diratifikasi di Amerika 13 September 1993 oleh Mahmud Abbas dan Shimon Peres, disaksikan oleh Presiden Palestina Yasser Arafat bersama PM Yitzhak Rabin di hadapan Bill Clinton, bahwa Israel bersedia mengembalikan seluruh wilayah Arab termasuk Jerussalem yang direbutnya dalam perang tahun 1967, sementara Palestina dan negara-negara Arab sekitarnya, siap menerima dan mengakui Negara Israel, dan hidup berdampingan  secara damai dengan  negara Yahudi itu.  Namun, sayangnya dua tokoh perdamaian itu meninggal dunia, Yitzhak Rabin tewas terbunuh oleh militan Israel sendiri, sementara Yasser Arafat wafat misterius pada tahun 2004 di RS Militer di Paris.

Peta perdamaian dilanjutkan oleh Mahmud Abbas, Presiden Palestina pengganti Arafat.  Namun jalan buntu kembali terjadi ketika pimpinan Hamas, faksi radikal ekstrem Palestina Ismael Haniyeh terpilih jadi Perdana Menteri tahun 2006.  Ismail Haniyeh, penguasa Gaza itu menolak keras perdamaian dengan solusi dua negara tersebut. Pimpinan Hamas bertekad perang berjalan terus entah kapan berakhirnya, dengan hanya satu tujuan, menghancurkan Negara Israel, dan tegaknya satu negara, Negara Palestina.  Inilah masalah besar yang dihadapi bangsa Palestina sekarang. 

Bagi kita bangsa Indonesia, mengingat prinsip Bung Karno, kemerdekaan Palestina adalah harga mati, dan sebagai syarat untuk berhenti menantang Israel, maka sebenarnya Bung Karno tentu sangat setuju dengan konsep solusi dua negara tersebut.  Beliau juga tentu tidak ingin memusnahkan negara Israel, sebab beliau tidak menghendaki ada bangsa yang tidak punya tanah air, sama tidak inginnya ada bangsa yang masih terjajah oleh bangsa lain.  Presiden Jokowi juga menegaskan, “No one, no country should be left behind”, tak seorang pun, tak satu negara pun yang akan kita tinggalkan, tanpa tanah air dan kemerdekaan.     Wallahu a’lam bi al-shawab.

Catatan: dimuat di http://genial.co.id/menuju-palestina-merdeka-solusi-dua-negara-1/

JALAN SESAT KAUM TERORIS

Oleh: Prof. Dr.H.Hamka Haq, MA

Dalam dua dekade terakhir, di beberapa bagian dunia terjadi tindakan yang meresahkan, yakni serangan teroris. Serangan ini kadang lebih meresahkan ketimbang perang sesungguhnya, sebab serangan teroris terjadi dalam suasana damai dan berlangsung seketika, serta tidak bisa diprediksi kejadiannya.

Sebahagian besar teroris itu selalu dikaitkan dengan agama, namun jika dilihat dari segi ajaran, tak satu pun agama yang mengajarkan kekerasan terhadap sesama manusia.  Maka dari segi ajaran, sebenarnya teroris itu tidak berkaitan dengan agama apapun.  Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pada umumnya teroris itu adalah penganut agama, dan mengaku melakukan tindakannya karena merasa didorong oleh agamanya, dan juga karena bertujuan untuk memenuhi tuntutan dan tuntunan agama yang dipahaminya.

Agama yang paling sering dikaitkan dengan teroris ialah Islam, karena lebih banyak pelakunya yang diungkap ke publik adalah beragama Islam.  Padahal perilaku teroris sebenarnya dapat saja dilakukan oleh mereka yang non Muslim. 

Sejarah mencatat betapa Irlandia dilanda pertikaian, silih berganti serangan bom, dan dalam suasana perdamaiannya, muncul lagi milisi baru IRA yang menjadikan polisi anti teroris sebagai sasaran serangannya. Demikian juga, beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Amerika dan Eropa diserang oleh teroris membunuh sejumlah mahasiswa dan pelajar.  Juga, yang tak dapat dilupakan ialah serangan terhadap jamaah masjid yang sedang beribadah di Selandia Baru, menewaskan 51 orang dn melukai 40 orang lainnya.  Belum lagi kita sebut serangan brutal kesekian kalinya oleh Israel terhadap penduduk sipil bangsa Palestina.  Namun sekali lagi, dunia lebih banyak mengekspos adanya teroris-teroris Muslim ketimbang lainnya.

Biarlah kita menerima hal itu sebagai fakta, dan sebagai bahan introspeksi untuk mengkaji apa penyebab sehingga seorang muslim rela menjadi teroris, merusak, membunuh orang lain bahkan membunuh dirinya sendiri?  Bagi penulis, setidaknya ada tiga letak kesesatan yang mendorong seseorang menjadi teroris itu, seperti diuraikan berikut:

Pertama, kesesatan dalam memahami tujuan dasar agama Islam yang dianutnya. Mereka tidak mampu membedakan antara ajaran dasar dan ajaran yang tidak dasar.  Kesesatan ini terjadi karena pelaku teroris itu biasanya memukul rata ajaran-ajaran Islam, tanpa memilah mana ajaran dasar yang berlaku secara universal dan mutlak dilakukan dan mana ajaran tidak dasar, yang sifatnya parsial, dan biasanya hanya dilakukan untuk keadaan tertentu.

Ajaran universal Islam bahkan ajaran semua agama, ialah kemaslahatan umat manusia secara umum.  Kemaslahatan itu ditandai dengan adanya kedamaian, ketenteraman, kebersamaan, gotong royong dan saling melindungi.  Ajaran kemaslahatan ini berlaku secara umum untuk kapan dan di mana saja, dan berlangsung secara tetap hingga waktu yang tidak terbatas. 

Islam sangat mementingkan tegaknya ajarn dasar tersebut, dan jika pada suatu saat kedamaian masyarakat terganggu oleh serangan pihak tertentu, maka umat Islam dibolehkan berperang untuk membalas serangan tersebut. Ajaran yang membolehkan perang ini adalah bersifat kondisional, hanya untuk saat tertentu ketika umat Islam mengalami gangguan dari luar. Jika gangguan itu telah berhenti, maka perang pun harus dihentikan, lalu kembali ke ajaran dasar semula, yakni kedamaian.

Sementara itu, pelaku teroris justr menjadikan perang sebagai ajaran dasar, sehingga bagi mereka umat Islam wajib memerangi umat agama lain kapan dan di mana pun tanpa mengenal kapan berhenti.  Mereka berpegang pada hadits yang berbunyi:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ، حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “[1].

Artinya: “Dari Ibni Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah, dan mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, jika mereka menunaikan itu, maka mereka terlindungi dari ku darah dan harta mereka, kecuali yang menjadi hak agama Islam, dan hitungannya atas Allah”. (HR Bukhariy).

Kedua, yaitu kesesatan dalam menggunakan dan menempatkan posisi dalil-dalil syariat, sehingga kadang dalil umum yang sifatnya zanniy lebih diutamakan ketimbang dalil tertentu yang sifatnya qath’iy (pasti).  Seperti penggunaan hadits tersebut di atas sebagai dalil pembenaran tindak kekerasan yang dilakukannya, betul-betul menunjukkan kesesatannya.

          Dimana letak kesesatannya? Coba perhatikan, kalimat hadits tersebut bersifat umum, tidak dibatasi terhadap siapa saja yang boleh diperangi, dan tidak juga dijelaskan siapa yang sehaursnya tidak diperangi.  Padahal dalam Al-Qur’an sudah ditegaskan secara khusus bahwa yang boleh diperangi hanyalah mereka yang memerangi umat Islam. Firman Allah SWT:

وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ ﴿١٩٠﴾

Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Q.S.Al-Baqarah (2): 190.

            Fungsi hadits sebenarnya adalah untuk menjelaskan kandungan Al-Qur’an, memerinci makna ayat-ayat yang masih bersifat umum.  Tapi jika suatu ayat telah dirinci secara tegas dalam ayat itu sendiri, atau dalam ayat lain, sehingga pemahamannya sudah qath’iy (pasti), maka hadits lazimnya memperkuat penegasan ayat itu, bukan sebaliknya mengaburkan dengan kalimat-kalimat yang bersifat umum.  Maka hadits soal perintah memerangi siapa saja yang tidak bersyahadat, yang kalimatnya sangat umum itu tidak dapat dijadikan dasar dalam kasus perang ini.

Lebih dari itu sangat mungkin hadits tersebut disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelum tercapainya perjanjian damai Piagam Madinah, yang berhasil mendamaikan antara umat Islam dengan Yahudi, Nashrani dan agama-agama lain di sekitar Madinah.  Sebab mustahil sekali Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk memerngi non Muslim yang telah berdamai berdasarkan Piagam Madinah yang beliau buat sendiri.  Beliau adalah bersifat Shiddiq, jujur dan amanah, atau tidak berkhianat.

            Ketiga, kesesatan yang ketiga ialah kaum teroris itu keliru dalam memilih jalan jihad yang mereka tempu.  Di dalam Al-Quran telah digariskan:

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآخِرَةِ وَمَن يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيُقْتَلْ أَو يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً ﴿٧٤﴾

Artinya: “Hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Q.S.Al-Nisa (4): 74.

Dalam ayat tersebut tidak ada sama sekali kalimat yang menunjukkan bahwa seorang mujahid boleh atau harus membunuh dirinya sendiri.  Boleh saja ia tewas tetapi mati syahid karena dibunuh oleh musuhnya, bukan bunuh diri.  Bunuh diri adalah suatu perbuatan dosa besar yang dilarang oleh Allah SWT, sebagaimana  dalam Q.S.Al-Nisa (4): 29-30, Allah SWT menegaskan:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً ﴿٢٩﴾ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً ﴿٣٠﴾

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang bagimu; Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Jadi tiada jalan sama sekali untuk membenarkan perilaku bunuh diri yang dilakukan oleh teroris, dengan menggunakan dalil syariat manapun. Sebab tiada sepotong dalil syariat yang membenarkan bunuh diri, termasuk bom bunuh diri dalam peperangan.

Catatan: Naskah ini sudah dimuat di http://genial.co.id/jalan-sesat-kaum-teroris/


[1] Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, Kitab al-Iman, Juz I, h. 14, no. 25 (e-book, Al-Maktabat al-Syamilah al-Haditsah).

TUJUAN BERAGAMA

TUJUAN BERAGAMA

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Pertanyaan yang selalu muncul ialah apa sih sesunguhnya tujuan Bergama itu?  Mengapa orang harus beragama?  Uraian mengenai ini sudah pernah diposting di sini, berikut adalah uraian tambahan.

Agama sebenarnya bukanlah untuk kepentingan bagi Tuhan, melainkan untuk kepentingan atau kebutuhan manusia iyu sendiri.   Tuhan tidak butuh agama, karena Dia Maha Kuasa atas segalanya.  Dia disembah atau tidak  disembah sama sekali, Dia tetap Maha Agung, Maha Kuasa.  Andaikata semua manusia itu tidak menyembah-Nya, kekuasaan dan keagungan Tuhan tidak berkrang sedikitpun.

Jadi agama itu sekali lagi untuk kebutuhan hidup manusia.  Manusia perlu Bergama untuk kesempurnaan hidupnya.  Dengan beragama, manusia akan merasa tenang hidupnya, tenteram hatinya, damai dan tenteram dalam pergaulannya dengan sesame manusia.  Hidupnya terasa bermakna karena selalu berhubungan dengan Tuhannya melalui iman dan ibadahnya.

Jadi agama adalah untuk kedamaian hidup manusia, dalam diri, dalam keluarga, dalam masyarakat, dan juga ketika beribadah kepada Tuhan, terasa kedamaian itu.

Tiada agama yang menagajrkan kekecauan batin, tiada agama yang mengajarkan kekacauan masyarakat, tiada agama yang mengajarkan saling memusuhi antara sesama manusia.  

اوما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

Semua agama mengajarkan perdamaian, tak satupun agama yang mengajarkan perpecahan umat manusia dalam bentuk permusuhan.  Islam mengajarkan lakum diynukum wa liyadiyn, Kristen mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusa, Hindu mengajarkan tat twam asi, dia dan aku adalah sesama kamu; Budha mengajarkan metha, cinta kasih untuk persahabatan;demikian pula agama Konghuchu dan lainnya semua mengajarkan damai untuk semua.

Dalam hadits Nabi SAW riwayat Al-Turmudziy, disebutkan:

الراحمون يرحمهم الرحمن، إرحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السماء 

“Orang-orang yang suka mengasihi sesama, akan dikasihi oleh Allah Sang Pengasih, maka kasihilah manusia di bumi niscaya engkau dikasihi oleh Allah yang di atas” (HR.Al-Turmudziy, Kitab al0Birr wa al-Shilah, no. 2049).

Maka sangat kelirulah orang-orang yang menjadikan agama sebagai alasan untuk memusuhi, menganiaya bahkan membunuh sesama manusia.   Lebih-lebih lagi jika membawa-bawa nama Allah, melakukan kerusakan dan penganiayaan itu dengan pekik takbir Allahu Akbar.  Mereka adalah benar-benar musyrik, karena mempertuhankan nafsunya sambil menyebut pula nama Allah Akbar.

Seharusnya agama dijadikan sebagai sumber kedamaian.  Bagi umat Islam, mari kita jadikan Islam sebagai Rahmatan lil alamin, kasih sayang bagi segenap alam semesta. 

Agama pada dasarnya bukanlah tujuan, agama hanya jalan untuk mewujudkan kehidupan yang damai, bertumpu pada ridha Tuhan dan ridha sesama manusia.  Dengan memperoleh ridhaNya Allah SWT kita bisa memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat; dan dengan memperoleh ridhanya sesama manusia kita bisa membangun peradaban yang maju untuk kemaslahatan bersama. 

Memang sebenarnya kita berbeda, dari segi keyakinan, ibadah dan hal-hal lain yang tidak mungkin sama.  Tapi dalam hal kehidupan duniawi kita selalu sama.  Dalam kehidupan ekonmi kita sama-sama mebangun pusat perekonomian seperti pasar dan mall; dalam kehidupan pendidikan kita sama-sama ke Universitas;  dan dalam aspek kesehatan kita sama-sama ke Rumah Sakit dan juga ke apotek yang sama untuk membeli obat.  Pokoknya semua kita bersama.

Jadi jangan menciptakan sekat-sekat dalam hubungan sosial kita hanya karena perbedaan agama dan keyakinan, karena agama ini sekali lagi hanyalah jalan  untuk mencapai tujuan perdamaian kemanusiaan.

Bagi orang yang menjadikan agama sebagai tujuan, mereka berusaha membesar dan mengagung-agungkan agamanya sendiri kemudian menista dan merendahkan agama lain.  Mereka sibuk membangun fasilitas untuk kepentingan ibadah agamanya, kemudian menghalangi agama lain membangun rumah ibadah dan mempersulit pelaksanaan ibadah mereka.  Tentu semua hal tersebut salah dan keliru.

Dalam masyarakat yang beragam agama kita harus saling menghormati dan menghargai untuk bisa membangun peradaban yang makmur untuk semua.  Allah berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإ ثم والعدوان

Tolong menolonglah dalam kebajikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” Q.s.Al-Ma`idah (5): 2.

Dalam ayat ini Allah swt mempertentangkan antara takwa dan permusuhan; kita diperintahkan untuk bekerjasama membangun kebajikan dan ketakwaan sementara melarang kita untuk berbuat kejahatan dan permusuhan.  Jadi takwa dan permusuhan merupakan dua hal yang bertentangan.  Maka salah satu ciri orang bertakwa ialah jika aktif menjalin persahabatan dan menjauhi permusuhan.

Sehubungan dengan ini, saya ingin mengutip sebuah riwayat dalm Tafsir Al-Qurthubiy.  Bahwa suatu saat Rasulullah SAW menerima tamu dari komunitas Kristen Najran sekitar 60 orang.   Berhubung rumah beliau tidak luas, maka beliau menerima mereka dalam Masjid Haram Nabawi.  Mereka berdialog soal agama tanpa saling merendahkan atau saling menista.  Ketika sampai waktunya tamu tersebut beribadah, mereka diizinkan oleh Rasulullah SAW beribadah dalam Masjid Nabawi itu.

Kisah ini menunjukkan betapa kelirunya pendapat yang mengatakan bahwa non Muslim diharamkan masuk masjid, dan atau diharamkan beribadah dalam masjid.  Semua boleh-boleh saja tentunya dalam keadaan darurat.

Kisah faktual Rasulllah SAW tersebut seharusnya menjadi acuan dan teladan untuk diterapkan dalam kehidupan manusia di zaman moderen sekarang.   Zaman kita sekarang dikenal sebagai zaman global yang di dalamnya segenap umat manusia semakin mudah bergaul satu sama lain tanpa sekat agama, bangsa dan budaya.  

Dalam hal ini agama harus berperan menjadi jembatan perdamaian bukan sebagai kendaraan untuk berumusuhan.  Kita berada di zaman peradaban yang mengharusnkan kita bermitra dan kbekerjasama satu sama lain.  Beda dengan peradaban masa lalu, di zaman klasik, atau zaman pertengahan atau sebelum zaman moderen.

Agama di zaman masa lalu pernah menjadi kendaraan untuk permusuhan; siapa yang mayoritas dan perkasa bisa menakulkkan dan menguasai agama dan bangsa lain yang lemah tidak berdaya.  Keadaan itu pernah terjadi dizaman Romawi yang perkasa menaklukkan sejumlah bangsa di dunia demi keagungan agamanya.  Juga di zaman keperkasaan bangsa Arab Muslim menaklukkan Afrika utara dan Spanyol Eropah demi kebesaran Islam; juga pada zaman keperkasaan bangsa Turki Muslim menaklukkan dan mengambil alih tanah air Bizantium demi kemenangan Islam.  Demikian juga perang salib yang menciptakaan rasa kebanggaan beragama berbaur dengan penderitaan di sisi lain, dan menyisakan dendam dan kebencian selama berabad-abad. 

Jangan kita ulangi peradaban masa lalu yang penuh konflik itu  dengan menjadikan agama sebagai kendaraan permusuhan.  Saatnya kita sekarang menjadikan agama sebagai jembatan perdamaian untuk peradaban baru; jangan kita kembali ke peradaban masa lalu yang bersifat ekpansionist ketika agama dan bangsa-bangsa yang besar menakulkkan dan memperbudak bangsa-bangsa lainnya.  Biarlah semua menjadi catatan sejarah sebagai pelajaran untuk tidak terulang lagi bagi kehidupan manusia untuk selamanya.

Pada akhir uraian ini saya ingin menyampaikan tentang kisah historis, yakni ketika Bung Karno berpidato di depan SU PBB tanggal 30 September 1960.  Beliau menyampaikan harapan agar badan dunia PBB itu mampu mendamaikan umat manusia yang berbeda bangsa dan agama.  Hars menjaga pluralitas berdasarkan kedailan dan kemerdekaan.  Judul pidato beliau To Build the Word a New,  membangun dunia yang baru sama sekali.

Bung Karno dalam pidatonya itu mengangkat filososi bangsa Indonesia yang mampu merajut beragam etnis, agama dan budaya, untuk bersatu dalam satu Negara Kesturan Republik Indonesia.  Keragaman yang penuh kedamaian itulah yang dibawa oleh beliau sebagai pesan utama dalam pidatonya pada saat itu.  Wallau A’lam bi al-shawabi.

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Setiap akhir tahun, persoalan umat beragama yang paling sering muncul ialah bagaimana hukumnya seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal, atau Selamat Merayakan Natal?

Menyangkut hal ini, saya akan coba menjelaskan dua persoalan.

Persoalan pertama dan utama yang harus dipahami dahulu ialah, bahwa ucapan selamat untuk hari-hari suci agama lain, bukanlah ibadah.  Maka ketika kita mengucapkan Selamat Hari Natal untuk umat Kristiani, Selmat Galungan dan Kuningan untuk umat Hindu, Selamat Waisak untuk umat Budha, Selamat Imlek (Gong Xi Fat Chai) untuk umat Konghuchu, tidaklah berarti bahwa kita beribadah seperti mereka. 

Sama halnya jika umat-umat agama lain itu mengucapkan Selamat Idil Firi atau Selamat Idul Adha kepada umat Islam, tidak berarti mereka turut beribadah sholat idil fitri dan sholat idil Adhha.  

Dengan demikian, Ucapan Selamat Natal kepada umat Kristen yang merayakannya, hanyala merupakan kalimat sapaan pergaulan yang sopan menandai hubungan harmonis dalam pergaulan kita dengan umat agama lain. 

Hal sangat sejalan dengan firman Alah SWT dalam Q.S.Al-Mumtahanah  (60): 8 :

لا ينهىكم الله عن الذين لم يقاتلوكم فى الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين

Allah tidak melarang kamu terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka.  Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”

Hal yang kedua yang perlu dipahami bahwa menurut keyakinan kaum Kristen, Yesus Al-Masih (Isa Al-Masih dalam Islam), itu adalah berada pada dua dimensi wujud, yakni dimensi Ketuhanan (Ilahiyah), dan dimensi kemansiaan (insaniyah).

Dari sisi ketuhanan (ilahiyah) Yesus, saya tidak akan membahasnya, karena bukan pada tempatnya saya membahas keyakinan agama lain.

Namun, dalam hal ini saya ingin bicara sedikit soal sisi kemanusiaan (insaniyah)-nya Yesus (Isa) Al-Masih.  Bahwa umat Kristen pun memahami bahwa Yesus itu adalah manusia, yang mengalami masa kelahiran.  Dalam Injil Matius dikisahkan bahwa Maria (Maryam dalam Al-Qur’an) mengandung sebelum digauli oleh suaminya bernama Yusuf.  Malaikat menenangkan hati Yusuf dengan katanya:  “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dia-lah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21).  “Tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan dia Yesus” (Matius1:25).

Secara sepintas ada kemiripan, bahwa Al-Kitab dan Al-Qur’an sama-sama mengakui kesucian Maria (Maryam) ibunda Yesus Al-Masih.  Ia mengandung tanpa digauli laki-laki.   Dan sama-sama mengakui Yesus Al-Masih itu anak laki-laki dari Bunda Maria.   Di situlah sisi kemanusiaan Yesus Al-Masih itu. 

Soal kelahiran Yesus (Isa) Al-Masih, disebutkan dalam Al-Quran Surah Maryam (19) ayat 33:

والسلام علي يوم ولدت ويوم أموت ويوم أبحث حيا 

“Dan Salam sejahtera atasku pada hari kelahiranku, dan pada hari aku diwafatkan, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”

Sebagai manusia anak biologis dari seorang perempuan bernama Maryam , hari kelahiran Yesus (Isa) Al-Masih populer disebut Hari Natal.   Maka yang lahir (natal) sebenarnya bukanlah sisi Ketuhanan (Ilahiyah)-nya Yesus (Isa) Al-Masih, melainkan sisi wujudnya sebagai anak manusia.  Maka kalau kita umat Islam mengucapkan Selamat Natal, dengan keyakinan bahwa Yesus Al-Masih lahir sebagai anak manusia, yang diutus sebagai Rasul Allah, tidaklah membawa kita keluar dari aqidah Tauhid.  Atau tegasnya, kita tidak serta-merta menjadi murtad. Bukankah agama kita mengharuskan untuk menghormati semua Rasul Allah tanpa membeda-bedakannya, sebagaimana kita mengahrgai dan menghormati Nabi Besar Muhammad SAW.

Ucapan Selamat Natal dengan keyakinan seperti ini, menurut Sang Maha Guru, Prof. Quraisy Syihab, adalah uacapan Natal Qurani (lihat dalam Tafsir Al-Mishbah, vol. VII, h. 444-445).  Wallahu A’lam bi al-Showabi.

FAKTA YANG TERLUPAKAN DI HARI SANTRI

FAKTA YANG TERLUPAKAN DI HARI SANTRI

Oleh: Hamka Haq

Bahwa sumber pengusulan hari santri itu berasal dari aspirasi masyarakat pesantren, yang pada umumnya adalah pesantren nahdhiyin kultural.  Usulan tersebut terutama bergema pada masa-masa kampanye Pak Jokowi menjelang Pilpres, sekitar bulan Mei dan Juni 2014.  Usul tersebut belum sempat disuarakan secara resmi oleh PBNU, sehubungan dalam suasana pesta demokrasi itu, Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. K.H. Said Aqiel Siradj berhubung satu dan lain hal tidak ikut dalam barisan pendukung Jokowi, sehingga untuk sementara komunikasi beliau dengan partai koalisi pendukung Capres Jokowi, khususnya PDI Perjuangan tidak semaksimal sebelumnya. 

Usulan dari kaum Nahdhiyin kultural itu kemudian diendors oleh warga dan simpatisan NU yang bergabung di parpol koalisi Capres Jokowi, khsusnya mereka yang aktif menyertai sapari politik Jokowi ke sejumah kiyai,  khususnya di Jawa.  Dari internal PDI Perjuangan, Jokowi lazimnya didampingi oleh fungsionaris DPP Partai dibantu oleh Pengurus Baitul Muslimin (BAMUSI) ormas sayap Islam PDI Perjuangan.  Fungsionaris DPP yang ditugaskan biasanya disesuaikan dengan Dapil nya pada saat pemilu dan sekitarnya.  Untuk wilayah Jawa Timur yang dikenal sebagai wilayah Tapal kuda atau wilayah santri yang paling sering diamanahi untuk menyertai Sapari politik Jokowi itu adalah DR. Ahmad Basarah wasekjen DPP PDI Perjuangan sekaigus Sekretaris Dewan Pertimbangan BAMUSI, juga Prof. Hamka Haq Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan YME sekaligus Ketua Umum BAMUSI.  Selain itu  pengursus PP BAMUSI  yang sering juga mendapat tugas yang sama ialah Zuhairi Misrawi, salah seorng intelktual muda NU yang gabung dengan PDI Perjuangan melalui ormas BAMUSI, diamanahi mendampingi Jokowi ke beberapa kiyai di Yogya dan Jawa Tengah.

                Wacana hari santri yang mulanya bergulir berupa perbincangan di kalangan pesantren semakin kuat di masa-masa puncak kampanye keliling Pak Jokowi di Jawa Timur di bulan Juni 2014, menjelang bulan suci Ramadhan 1435 H.  Seiring dengan kampanye keliling tersebut, beliau didampingi oleh Dr. Ahmad Basarah dan diagendakan menghadiri acara pelantikan PC BAMUSI Kabupaten Malang oleh Ketum BAMUSI Prof. Hamka Haq pada tanggal 27 Juni 2014 M jam 19.30 malam (29 Sya’ban 1435 H).  Acara tersebut dirangkaikan dengan silaturahim para ulama sekitarnya persiapan masuknya bulan Ramadhan, dipusatkan di Pesantren Babu Salam asuhan K.H. THORIQ BIN ZIYAD.  Barulah pada acara tersebut usulan Hari Santri Nasional disampaikan secar formal oleh para kiyai yang hadir diwakili oleh Gus Thoriq sendiri, Pimpinan Pesantren tersebut sekaligus Ketua BAMUSI Kabupaten Malang. 

Dalam usulannya, Gus Thoriq memohon kiranya Bapak Jokowi jika terpilih jadi Presiden RI dapat menjadikan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Usulan terebut disambut dengan takbir Allahu Akbar dan tepuk tangan meriah oleh segenap hadirin.  Pak Jokowi pun menoleh, minta pertimbangan pada dua fungsionaris DPP PDI Perjuangan yang sedang mendampinginya, yakni Dr. Ahmad Basarah dan Prof. Hamka Haq.  Atas pertimbangan bersama, dengan memohon ridho Allah SWT, usulan tersebut langsung diterima oleh Pak Jokowi dan diiyakan dalam sambutan silaturahimnya.

                Usai Pilpres, berdasarkan putusan KPU Nasional, Alhamdulillah Pak Jokowi diumumkan sebagai pemenang Pilpres 2014.  Karuan saja wacara Hari Santri Nasional semakin bergulir, para pesantren dan kiyai-kiyai kultural Nahdhiyin pendukung setia Pak Jokowi seolah menagih janji Jokowi.  Tapi awalnya sempat menjadi kontroversial, karena tanggal 1 Muharam selama ini diperingati oleh umat Islam se Dunia sebagai hari tahun baru Hijriyah. Banyak kalangan umat Islam yang menolak keras jika haris tersebut menjadi hari santri.  Lagian makna hari santri tentu akan menjadi kabur, dan tidak jelas jika hanya sekedar numpang di tanggal 1 Muharam yang memang selama ini sudah menjadi hari besar Islam se Dunia. 

Hal tersebut mendorong PP BAMUSI segera mencari solusinya, maka pada kesempatan syukuran atas suksesnya Pilpres, BAMUSI beraudiensi dengan Wapres Bapak Jusuf Kalla tanggal 19 Desember 2014, menyampaikan beberapa hal, termasuk perlunya mencari alternative selain 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.  Secara lisan PP BAMUSI mengusulkan untuk diteruskan kepada Bapak Presiden Jokowi, yakni tanggal 22 Oktober 1945, saat Hadhratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari Pendiri NU menyerukan jihad nasional melawan agresi Sekutu pimpinan Inggris yang saat itu akan segera mendarat di Surabaya.

                Tidak puas dengan pertemuan yang serba dibatasi oleh protokol Wapres, Prof. Hamka Haq mengusulkan lagi pertemuan kekeluargaan di Rumah Dinas, disampaikan saat bersama Wapres Jusuf Kalla di atas pesawat khusus menuju Makassar menghadiri pemakaman mantar Gubernur Sul-Sel, H.Andi Oddang tanggal 11 Feberuari 2015.   Tak lama kemudian aspri Wapres H. Husain, mengatur pertemuan terebut.  Dalam pertemuan kedua ini, hadir beberapa pengurus PP BAMUSI yang tidak sempat ikut pertemuan sebelumnya, termasuk Bendahara Umum PP BAMUSI Ir. H. Nasyirul Falah Amru yang juga adalah Wakil Bendahara PBNU.  Usul yang sama kembali dikemukakan secara lisan rencana Hari Santri Nsional merujuk hari jihad nasional tanggal 22 Oktober 1945.

                Sementara itu, hubungan dan komunikasi Ketua Umum PBNU Prof. DR. K.H. Said Aqil Syiradj telah kembali hangat seperti biasa dengan koalisi Jokowi.  Beliau sebenarnya sudah sangat akrab dalam lingkungan PDI Perjuangan, bahkan masuk dalam barisan nasionalsme Partai, sejak bedirinya ormas BAMUSI beliau duduk sebagai Dewan Pembina bersama Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, Pak Taufiq Kiemas dan Buya Syafi’i Maarif.    Beiau tidak pernah absen dalam acara-acara besar BAMUSI dan PDI Perjuangan.  Beliau juga turut hadir pada pelantikan Bapak Jokowi sebagai Presiden di gedung MPR RI.  Dan dengan didukung sejumlah ormas Islam lain, beliau gigih mengajukan usul ke Presiden tentang Hari Santri Nasional , yakni mengacu ke tanggai 22 Oktober 1945 hari jihad nasional tersebut.

                Berdasarkan sejumlah usul tersebut, maka pada akhirnya Bapak Presiden Jokowi menunaikan janjinya menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, yang akan diperingati umat Islam Indonesia setiap tahunnya.  Dari pesantren Babu Salam 27 Juni 2014, hingga Masjid Istiqlal 22 Oktober 2015, jadilah Hari Santri Nasional itu.  Hal ini harus dipahami oleh bangsa Indonesia, terutama oleh umat Islam bahwa PDI Perjuangan bukanlah partai sekuler, melainkan partai nasionalis religius, terbukti telah menjadi pelopor melalui ormas sayap BAMUSI bagi lahirnya Hari Santri Nasional.  Wallahu A’lam bi al-Showabi.

Catatan: Tulisan ini juga dimuat di http://genial.id/read-news/fakta-yang-terlupakan-di-hari-santri

JATUHNYA BIZATIUM DAN KEBNGKITAN EROPA (Bagian 3)

Foto: kompas.com

Oleh: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA

Khilafah Runtuh, Lahirlah Republik

Pada akhirnya nanti, Khilafah Utsmani runtuh, dan diumumkan pembubarannya oleh Mustafa Kemal Ataturk tanggal 3 Maret 1924.  Apakah berarti Mustafa Kemal pengkhianat Khilafah?, dan patut dikecam habis-habisan oleh siapa pun yang bernostalgia pada kejayaan Khilafah di masa lalu? Apalagi, berbagai simbol tradisi Islam juga dihapus, termasuk mengonversi “Masjid Hagia Sophia” menjadi museum?  Mari kita telaah sejarah untuk mengetahui akar masalahnya. 

Seperti dikemukakan pada bagian lalu, Sultan Mahmud II (1807-1839) adalah peletak dasar reformasi dan sekulerisasi Utsmani.  Sekulerisasi kemudian lebih diformalkan oleh gerakan Tanzimat di era Sultan Abdul Majid I (1839-1861) dan Sultan Abdul Aziz (1861-1876), dalam bentuk konstitusi dan perundangan.

Sehabis Tanzimat muncul pula gerakan baru bernama Utsmani Muda dengan tokoh sentralnya Midhat Pasya (1822-1883), sebuah gerakan penerus cita-cita khilafah berkonstitusi.  Ketika menjabat Perdana Menteri (Wazir Agung), ia berhasil membujuk Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) memberlakukan konstitusi gagasannya pada tahun 1876, walau kemudian dianulir oleh Sultan pada tahun 1878, sehingga Sultan kembali berkuasa absolut. 

Hal ini menyulut bangkitnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan sipil dan militer yang dikenal sebagai Turki Muda.  Salah satu faksi militer adalah Komite Tanah Air dan Kemerdekaan dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasya.  Sementara di tahun 1889 lahir pula partai politik Komite Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Tarakki).  Tahun 1908 sebuah faksi militer simpatisan Komite Persatuan dan Kemajuan (K-PK), dipimpin oleh Enver Pasya dan Ahmad Niyazi melakukan pembernotakan.  Situasi ini mendorong Komite K-PK mendesak Sultan untuk memberlakukan kembali konstitusi 1876.  Akhirnya Sultan Abdul Hamid II memberlakukan lagi konstitusi tersebut 25 Juli 1908.  Parlemen hasil Pemilupun terbentuk, dipimpin oleh Ahmad Reza (1859-1931) dari gerakan Turki Muda.

Sementara sibuk membenahi sistem hukum, politik, militer, ekonomi, pendidikan dan infrastruktur lainnya, Ustmani menghadapi gelombang baru serangan balik dari Eropa.  Siprus dilepas atas tekanan Inggeris (1878), Perancis menduduki Tunisia 1881, sebagai imbalan dari ekstradisi Midhat Pasha, “pengkhianat” Sultan yang berlindung di Perancis.  Mesir pun menyusul jatuh ke tangan Inggeris secara defakto sejak 1882,  kemudian Libya lepas setelah kalah perang melawan Italia (1911-1912). Selebihnya, Utsmani juga kehilangan semua teritorinya di Balkan, setelah kalah perang (1912-1913) melawan Liga Balkan yaitu daerah otonominya sendiri (Montenegro, Yunani, Bulgaria, dan Serbia).  Praktis, sejak 1914 Utsmani sudah dipukul mundur dari hampir seluruh daratan Eropa dan Afrika.

Derita Utsmani semakin lengkap akibat besarnya utang luar negeri yang digunakan membiayai ambisi perang.  Maka dibentuklah lembaga utang negara, Duyun–u Umumiye (1881), di bawah kendali Perancis dan Inggeris sebagai kreditor terbesar, sehingga praktis ekonomi Utsmani dikuasai Eropa. Hingga 1908, setidaknya terdapat 12 kontrak pinjaman LN yang harus ditanda tanganinya.

Saat Sultan Abdul Hamid II mencoba melawan Parlemen, pasukan Enver Pasya melakukan kudeta, memakzulkan Sultan Abdul Hamid II dan menaikkan Sultan Mehmed V (1909-1918).  Pemilu diadakan lagi 1912 yang dimenangi oleh Komite K-PK dan menguasai parlemen.  Setahun kemudian faksi militer merebut kekuasaan dari politisi, dan menguasai sepenuhnya pemerintahan di bawah tiga serangkai Enver Pasya, Talat Pasya dan Jamal Pasya.  Trio Pasya inilah yang menyeret Utsmani berkoalisi dengan Jerman sampai ikut bersama dalam Perang Dunia I (1914-1918).

Karuan saja, keadaan Utsmani semakin parah dengan ikutnya dalam PD I bersama Blok Jerman melawan Sekutu yang melibatkan Rusia, Perancis, Inggeris (Triple Entente) plus Amerika.  Ironisnya, segenap wilayah Arab Utsmani dipelopori Kerajaan Hijaz (kini Arab Saudi) justru berbelok memihak Sekutu melawan khilafahnya dalam Perang Megiddo (1917).  Akhirnya Blok Jerman kalah, dan Utsmani pun terpaksa menyerah 30 Oktober 1918.

Akibat kekalahan dalam PD I ini, Utsmani kehilangan semua wilayahnya di Asia dan Afrika.  Sedang Mesir, Libiya, dan wilayah Balkan telah lepas sebelumnya, dan wilayah lainnya menjadi bulan-bulanan penaklukan pasukan Sekutu.  Dampak dari krisis politik internal, krisis ekonomi dan kekalahan pada PD I, maka wilayah Utsmani secara defakto tinggal Anatolia bekas wilayah Bizantium lama dan Trakia sisa dari wilayah Balkan.

Pertahanan Utsmani akhirnya mencapai titik nadir ketika Sekutu (Triple Entente Perancis, Inggeris dan Rusia) menduduki jantung Istanbul (Konstantinopel) ibu kota Utsmani, sejak 12 November 1918.  Sementara Yunani menduduki pula Izmir (kota terbesar ketiga Utsmani) 21 Mei 1918. Utsmani diseret menerima Perjanjian Sevres (10 Agustsu 1920) yang isinya memberikan hak pada Sekutu untuk membagi-bagi wilayah Utsmani; juga Sekutu berhak mengendalikan militer dan ekonomi sepenuhnya.  Dalam kurun waktu tersebut, kedaulatan Utsmani sebenarnya sudah pupus, bertekuk lutut dibawa kendali Sekutu; dengan kata lain Utsmani penakluk Bizantium (1453), yang pernah berkuasa di tiga benua telah bubar secara defakto sejak 1922, kendatipun Sultan masih bertahta di istana.

Sisa-sisa kekuatan Utsmani yang tidak puas sejak tahun 1919 bangkit menyusun gerakan nasionalis melawan Sekutu untuk membebaskan Anatolia, jantung Utsmani dan sekitarnya.  Mereka mencetuskan Perang Kemerdekaan Turki, dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasya, dengan langkah pertama membentuk Dewan Nasional Turki di Ankara.  Khawatir akan posisi Mustafa Kemal yang semakin kuat, sebuah peradilan militer di era Sultan Mehmed VI (1918-1922) menjatuhkan hukuman mati in absensia atasnya, walau tak pernah dieksekusi.

Pasukan Mustafa Kemal tak terbendung, berhasil memukul mundur Sekutu dengan menghalau tentara pendudukan Yunani, Britania, Prancis dan Italia.   Ia pun langsung membatalkan Perjanjian Sevres 1920 yang jadi dasar Sekutu membagi wilayah serta menguasai militer dan ekonomi Utsmani. Atas kemenangan itu, rakyat jadi senang pada Mustafa Kemal dan mendukung kemenangan Gerakan Nasional Turki di Parlemen 1922.   Mustafa Kemal Pasya berusaha membangun kekusaan yang lepas dari Khilafah karena Sultan dianggap telah menjual Utsmani ke Sekutu; bahwa dengan Perjanjian Sevres, Utsmani kehilangan wilayah sekaligus kedaulatan secara defakto.  Kenyataan itu tidak dipungkiri oleh siapapun.

Majelis Agung Nasional (Parlemen) Turki dalam sidangnya 1 November 1922 menghapus Khilafah, sehingga Mustafa Kemal sepenuhnya mengendalilkan kedaulatan Turki.   Sultan diasingkan ke dalam sebuah kapal perang Inggeris menuju Malta 17 Novmber 1922.  Selanjutnya Parlemen Turki tanggal 29 Oktober 1923 memproklamasikan berdirinya Republik Turki, dan mengangkat Mustafa Kemal sebagai Presiden Pertama, disertai gelar Ataturk (Bapak Bangsa Turki).  Sebagai amanat dari Parlemen itu, Mustafa Kemal akhirnya mengumumkan bubarnya Khilafah Utsmani secara resmi 3 Maret 1924.   Tamatlah sudah riwayatnya.

Dari sana dapat dipahami bahwa bubarnya Khilafah Utsmani bukanlah dosa pribadi Mustafa Kamal Pasya.  Sejalan dengan Eugene Rogan penulis buku The Fall of the Ottomans, Utsmani bubar akibat kekalahan dalam PD I, sehingga segenap wilayah bahkan kedaulatan Khalifah sendiri jatuh pada kekuasaan Sekutu.  Dengan kata lain kemenangan Mustafa Kemal merebut wilayah Anatolia dan sekitar (teritori Turki sekarang) dan membangun Republik Turki di atasnya adalah menyelamatkan eksistensi bangsa Turki dalam sejarah sebagai sebuah negara dalam peta Dunia.   Boleh jadi tanpa kemenangan itu, riwayat Turki berakhir akibat kekalahan Utsmani dalam PD I, hancur berkeping-keping dalam genggaman Sekutu dan mustahil kembali menjadi Khilafah seperti sedia kala.   

Sebagai sebuah negara modern, Turki tentu harus tunduk pada hukum internasional berdasarkan Piagam PBB.  Konsekuensinya, Turki wajib membangun perdamaian dunia, menghapus naluri ekspansionis Utsmani yang penuh ambisi perang di zaman lalu.  Simbol-simbol keagamaan diatur tanpa gesekan rasial sektarianis.  Termasuk Masjid “Gereja” Hagia Sophia tidak digunakan untuk gereja, tidak juga untuk masjid, tapi sebagai museum warisan Dunia, sebagai bukti kebersamaan mewarisinya demi persahabatan, perdamaian dan ketertiban dunia.

Sesuai dengan spirit nasionalis revolusionernya, Mustafa Kemal juga mempromosikan tradisi busana dan perilaku keseharaian bangsa Turki. Bahkan memerintahkan azan dalam bahasa Turki, sampai mendapat kutukan sejagad.  Padahal, umat Islam Turki sendiri tidak mempersoalkan, sesuai pendapat madzhab Abu Hanifah yang mereka anut bahwa shalat dalam bahasa Persia pun adalah sah.  Hanya mereka penganut Syafiiyah di Asia Tenggara, Malikiyah di Afrika Utara, apalagi Hanbali di Saudi Arabiyah yang ramai mempersoalkan.  Di Indonesia, mayoritas mutlak umat Islam justru membolehkan juga ibadah khotbah dalam bahasa Indonesia, padahal sakralitas ibadah khotbah melebihi azan.  Jadi langkah-langkah Mustafa Kemal tersebut adalah bermakud membangun rasa cinta tanah air bagi  bangsa Turki.   Wallahu A’lam bi al-Showab.

Naskah ini juga dimuat https://www.genial.id/read-news/jatuhnya-bizantium-dan-kebangkitan-eropa-bagian-3

JATUHNYA BIZANTIUM DAN KEBANGKITAN EROPA (Bagian 2)

images

Foto: CakraDunia.co

 

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

Ottoman, the Sick Man of Europe

Setelah merebut Bizantium, Turki “Ottoman” Utsmani seolah tanpa henti berekspansi terus ke negeri-negeri Eropa, bahkan dinasi-dinasti Islam di Asia pun dicaplok semuanya.  Di bawah Sultan Salim I (1512-1520) dan Sulaiman Agung (1520-1566),  Utsmani melanjutkan perluasan kekuasaan ke dinasti Safawi (Persia), terus Teluk Persia, Mesir termasuk Laut Merah, bahkan sudah merebut Mesopotamia (Irak) bekas pusat wilayah khilafah Abbasiyah.   Di Eropa, wilayahnya sudah meluas mencakup Beograd, Hongaria, Transylvania, Wallachia dan Moldavia, namun terhadang di Wina (1532), kecuali berhasil menaklukkan wilayah lain, Nice (1543) dan Korsika (1553).

Sedang ke benua Afrika, Utsmani berhasil menghalau pengaruh Portugal (1559), dan menganeksasi Kesultanan Adal di Tanduk Afrika sebagai awal kedaulatannya atas Somalia, Maroko dan wilayah Afrika lainnya.   Sejak itu, otomatis Utsmani merajai Laut Tengah yang menghubungkan tiga benua, Eropa, Afrika dan Asia.  Pokoknya Utsmani menjadi Imperium Islam Adidaya tak terkalahkan zaman itu.  Kayaknya ingin mengulang kebesaran imperium Mongol ketika menjadi penguasa dunia, wilayahnya mencakup tiga perempat wilayah Asia dan seperdua Eropa.

Setelah sekian lama malang melintang beragresi leluasa ke Eropa, Asia dan Afrika, maka keperkasaan Utsmani pun berangsur pudar.  Mitos bahwa Pasukan Utsmani tak terkalahkan mulai sirna ketika Angkatan Lautnya kalah dalam pertempuran di Eropa Selatan, Laut Mediterania (1571) melawan koalisi Katolik di bawah komando Philip II dari Spanyol.  Utsmani kemudian semakin terseret-seret menghadapi tantangan Eropa pada sejumlah pertempuran dalam kurun waktu satu abad kemudian, dan pada akhirnya kalah total pada pertempuran dahsyat Wina di tahun 1683, pertanda berakhirnya keperkasaan Utsmani di Eropa.  Hal ini akibat bangkitnya raja-raja Eropa bersatu melawan Utsmani, terutama oleh Rusia, Austria, Polandia dan Lituania.  Satu persatu wilayah Utsmani di Eropa seperti Hongaria, Transyilvania, dan lainnya akhirnya direbut kembali oleh raja-raja Eropa.

Kekalahannya pada pertempuran Wina (1683) membuat Sultan Mehmed IV marah besar, dan menghukum mati Wazir Agung Kara Mustafa Pasha yang memimpin penyerangan itu.  Pasca kekalahan itu, Utsmani mengalami titik balik setelah tiga abad menjadi kekuatan tak terbendung di Eropa. Dalam serangkaian pertempuran berikutnya, sebaliknya pasukan Utsmani selalu kalah, terutama setelah intervensi Paus Innosensius XI membentuk Liga Suci beranggotakan raja-raja Eropa, termasuk Tsar Rusia.  Konflik dengan Eropa jeda sementara dengan Perjanjian Karlowitz tahun 1699, yang justru memaksa Utsmani menyerahkan kembali sejumlah wilayahnya ke Eropa.   Dalam beberapa perang sesudahnya hingga menjelang akhir abad ke 19, yang diringi pula dengan perjanjian-perjanjian damai, terutama dengan Rusia yang sangat gigih melakukan serangan balik, Utsmani semakin kehilangan wilayah di Eropah, sampai dijuluki sebagai “The sick man of Europe” (orang sakit nya Eropa).

Untuk menghadapi arus serangan balik Eropa yang semakin deras itu, Utsmani melakukan reformasi militer.  Sekolah artileri dibangun pada tahun 1734 guna mempelajari metode artileri Eropa, tapi tak berjalan dengan baik, karena ditolak keras oleh kaum ulama yang mengharamkan kerjasama dengan non Muslim.  Militer terpaksa melanjutkan sekolah tersebut secara rahasia tahun 1754.  Untuk kelancaran pendidikan secara umum, Ibrahim Mutafarrika sejak 1726 memperkenalkan mesin cetak guna menerbitkan buku-buku referensi sebanyak mungkin.  Namun ia dibatasi mencetak buku-buku pelajaran umum non agama saja, atas fatwa kaum ulama yang melarang mencetak buku daras agama.  Kaum ulama tetap mempertahankan penulisan tangan buku-buku agama untuk madrasah, terutama Al-Qur’an.

Reformasi militer juga diserukan oleh Selim III (1789-1807).  tapi, lagi-lagi gagal karena penolakan keras korps laskar jihad Yanisari. Pasukan pengawal istana ini malah memberontak dengan bengisnya, dan akhirnya dibubarkan pada era Sultan Mahmud II (1808-1839).  Selanjutnya Sultan Mahmud II melakukan pelatihan militer, dengan bantuan pelatih dari Mesir – wilayah Turki yang sudah merdeka –, menghindari kerjasama militer dengan Eropa yang pernah diharamkan oleh ulama.  Sultan Mahmud II melakukan juga pembaharuan dalam pemerintahan dan hukum.  Dia lah yang memulai pemisahan antara hukum urusan agama (tasyri al-diniy) yang dibawahi oleh Syaikh al-Islam dan hukum urusan duniawi (tasyri’ al-madani) yang diatur kemudian oleh dewan perancang undang-undang.  Untuk hukum duniawi, Utsmani mengadopsi hukum Perancis dan negara Eropa lainnya.  Tak salah jika dikatakan Sultan Mahmud II lah yang memulai proses sekulerisasi (pemisahan urusan agama dan dunia) dalam kehidupan sosial politik Utsmani.

Selanjutnya pada era Sultan Majid (1839-1961), terjadi reformasi besar-besaran oleh gerakan berkonstitusi atau lebih dikenal sebagai gerakan Tanzimat.  Gerakan ini terinspirasi dari revolusi Inggeris (1688) yang mengubah kerajaan Beritania menjadi monarki konstitusional, dan revolusi Perancis (1789-1799) yang mengubah kerajaan Perancis menjadi republik.  Pengaruh besar dua revolusi tersebut merembes ke Utsmani melalui kaum intelektualnya yang pernah belajar di Eropa.

Gerakan tanzimat secara perlahan mengurangi kekuasaan Sultan, dengan terbentuknya Parlemen yang mewakili segenap lapisan warga yang beragam agama dan etnisnya.  Semua warga yang majemuk itu sama hak dan kewajibannya tanpa diskriminasi, sesuai dengan spirit hukum Eropa yang demokratis, juga sejalan dengan tuntutan Rusia akan adanya perlindungan bagi warga Kristen Ortodoks di wilayah Utsmani.   Dua produk hukum Tanzimat, yakni Piagam Gulhane (1839) dan Piagam Humayun (1856) adalah berisikan hak-hak kesejahnteraan sosial yang setara bagi segenap kaum sipil Utsmani tanpa dikriminsi rasial dan agama, sejalan dengan spirit hukum Eropa.

Dengan demikian, warga Kristen di Utsmani dapat berkontribusi dalam politik dan terutama dalam kemajuan ekonomi berkat pendidikan mereka yang lebih unggul ketimbang Muslim mayoritas. Alasan klasik mengapa pendidikan umat Islam di sekolah umum menjadi terbelakang adalah karena sebahagian waktu tersita oleh kewajiban studi bahasa Arab, aqidah dan fikih; sementara sekolah-sekolah Kristen fokus pada penguasaan sains, teknologi dan ekonomi.  Kondisi itu berlanjut terus hingga per tahun 1911, sekitar 80 % ekonomi Utsmani dikuasai oleh pebisnis Kristen Yunani.

Tujuan utama dan terpenting sebenarnya dari Gerakan Tanzhimat ialah untuk menjaga keutuhan wilayah Khilafah Utsmani yang masih tersisa dengan meredam derasnya tekanan Eropa.  Juga meredam bangkitnya perlawanan propinsi-propinsi Arab yang mulai bergolak untuk merdeka dari Utsmani.  Untuk meredam emosi rasial Eropa terhadap Utsmani, para petinggi Tanzimat berupaya meyakinkan Eropa bahwa khilafah (monarki) konstitusional Utsmani merupakan bahagian dari Eropa. Upaya mereka berhasil ketika Eropa menerima Utsmani bergabung dalam aliansi Eropa hasil Kongres Paris pada tahun 1856, disertai jaminan status quo bagi teritorial Utsmani di Eropa yang tersisa.

Parlemen di penghujung era Tanzimat kemudian menyusun konstitusi (Kanun u Esasi) yang lebih memperkuat dua piagam hukum sebelumnya.   Untuk pertama kalinya, Utsmani di bawah Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) menjadi monarki konstitusional, walaupun kedaulatan masih di tangan Sultan, bukan di tangan rakyat.  Sayangnya konstitusi ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua tahun (1876-1878), berakhir dengan dibubarkannya Parlemen oleh Sultan.  Sultan pun kembali berkuasa secara absolut.   Bagaimana nasib dinasti absolut ini menghadapi dunia modern akan diuraikan pada bagian berikut. (bersambung).

Tulisan ini telah dimuat di  https://www.genial.id/read-news/jatuhnya-bizantium-awal-kebangkitan-eropa-2 

JATUHNYA BIZATIUM DAN KEBANGKITAN EROPA (Bagian 1)

haga sophia1

Foto: greelane.com

 

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA

Sengsara Membawa Nikmat

Jatuhnya Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) ke tangan Turki Usmani (Ottoman) sungguh kemenangn gemilang bagi Khilafah Islam atas kekaisaran Kristen Ortodoks Romawi Timur yang membawa perasaan menyakitkan tiada taranya bagi Dunia Kristen Eropa.  Betapa tidak, Bizantium sebagai kebanggaan Eropa itu adalah situs yang sangat melegenda, diperkirakan telah eksis sejak 672 sebelum Masihi.  Ibu kotanya adalah Konstantinopel mengambil nama pendirinya, Kaisar Konstantinus I di tahun 306 M, dan sejak 330 M, telah menjadi ibu kota Bizantium.

Khilafah Utsmani adalah imperium Islam yang dibangun oleh bangsa Turki, yang masih berkerabat dengan bangsa Mongol dari Asia Tengah.  Dua bangsa serumpun ini memang memiliki watak keperkasaan dan keberanian berperang yang tiada taranya.   Di bawah komando Khalifah Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), pasukan Utsmani mengepung Konstantinopel ibu kota Bizantium, selama 8 pekan.   Akhirnya pada 29 Mei 1453 Bizantium takluk, sementara Raja Konstantinus yang memimpin pasukannya dalam perang itu juga tewas.

Maka secara defakto, kekuatan dunia di zaman itu terbelah menjadi dua, yakni Barat dan Timur, atau Eropa dan Asia, atau lebih khusus lagi, Kristen dan Islam.  Namun siapa nyana, bahwa jatuhnya Bizantium sebagai pusat peradaban Kristen Eropa ke tangan Khilafah Islam waktu itu justru merupakan awal kebangkitan Eropa sendiri menuju puncak-puncak kemajuan peradaban modern.  Atau seperti pepatah “Sengsara Membawa Nikmat”.

Bahwa peristiwa dahsyat itu menandai berakhirnya abad pertengahan atau berakhirnya perang salib yang telah berlangung sejak 1096, yang di dalamnya dunia Islam berhasil menunjukkan superioritasnya. Namun sekali lagi, apakah kejatuhan Bizantium itu benar-benar telah mengakhiri hegemoni Dunia Eropa Kristen atas peradaban dunia?.  Ternyata tidak.  Justru sejak kekalahan mereka di Bizantium itu, Eropa memasuki babak baru yakni zaman renaisans, bangkitnya kesadaran berilmu, meninggalkan dogma-dogma agama yang mengekang Eropa selama itu.  Renaisans  juga dapat berarti berubahnya pilar utama peradaban Eropa, yang sebelumnya bertumpu pada dogma-dogma agama yang kental dengan janji-janji spiritual ukhrawi di bawah panji-panji Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Bizantium, beralih ke peradaban yang bertumpu pada kemanusiaan, sains dan teknologi.

Hegemoni Gereja dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat menjadi pudar.  Raja-raja Eropa satu persatu melepaskan diri dari kedaulatan Gereja yang selama itu menguasai dan mengekang mereka. Ajaran-ajaran Kristen mulai dipahami dengan tafsir baru, dalam proses reformasi yang pada gilirannya melahirkan mazhab Protestan.

Sementara itu, dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan spirit pengkajian secara rasional atas teks-teks warisan Yunani-Romawi.  Ditunjang pula dengan eksodusnya para ilmuwan Yunani dari Bizantium yang sudah takluk.  Renaisans juga diperkaya dengan warisan ilmu peninggalan Andalusia (Spanyol) yang telah direbut kembali Eropa setelah delapan abad dikuasai dinasti-dinasti Islam.   Bahkan Eropa tidak segan-segan mendalami ilmu alam bangsa Arab, dan teknik persenjataan mesiu dari Asia yang dahulu dipakai Utsmani menaklukkan  Bisantium.  Pokoknya di zaman renaisans, semangat keilmuan Eropa telah menyala-nyala, sementara dunia Islam di bawah hegemoni Turki Utsmani masih bereforia dengan semangat ekspansi penaklukan wilayah yang tiada henti terhadap wilayah Kristen Eropa, bahkan terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Asia pun dicaplok juga menjadi propinsinya.  Artinya, tak ada musuh, mereka pun saling bermusuhan.

Selama berabad-abad, Turki Utsmani gagal memanfaatkan posisi strategis Istanbul (konstantinopel), sebagai jalur ekonomi Asia–Eropa, untuk memakmurkan negaranya terutama untuk pengembangan sains dan teknologi.  Turki Utsmani hanya fokus membiayai ekspansi wilayah ke Eropa dan Asia demi khilafahnya menjadi imperium raksasa untuk semakin disegani dan mengancam Barat.  Hal itu sejalan dengan watak aslinya dari Mongolia yang haus perang.

Sementara itu, Eropa yang otomatis tidak dapat lagi menggunakan wilayah Konstantinopel sebagai jalur niaga antarbenua seperti sediakala, terpaksa mencari alternative lain.  Maka dengan ditunjang sains dan teknologi yang semakin maju pesat, berkah renaisans, Eropa berhasil mengembangkan jalur perdagangan baru antarsamudra, menggantikan jalur antarbenua itu.  Maka sejak abad ke 16 pun Eropa telah menjadi bangsa-bangsa penguasa maritime yang hebat.  Dimulai dengan pelayaran Bartolomeus Dias yang menemukan Tanjung Pengharapan di Afrika Selatan (1488), dilanjtukan dengan pelayaran Vasco Dagama yang sudah menembus ke India (1498).

Dan dengan keyakinan bahwa bumi ini bulat seperti bola, berbeda dengan keyakinan umat Islam zaman itu bahwa bumi ini datar, Eropa berusaha juga menjelajah ke arah Barat.   Sebuah pelayaran dipimpin oleh Christopher Columbus dari Italia atas biaya Ratu Isabella dari Kastilia penakluk Andalusia, berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492.

Dengan penemuan jalur laut ke Timur oleh Bartolomeus Dias dan Vasco da Gama, bangsa-bangsa Eropa sejak itu menempuh rute niaga baru yang aman menuju negeri-negeri Asia penghasil rempah-rempah, sutera dan bahan baku lainnya.  Mulanya hanya berusaha memonopoli bahan baku sekaligus memasarkan produk-produknya, tapi pada akhirnya mereka menjajah negeri-negeri yang dikunjunginya itu.  Akhirnya semua negeri di Asia penghasil tambang, rempah-rempah, sutera dan bahan baku lainnya, yang pada umumnya adalah negeri-negeri Islam, jatuh menjadi jajahan Eropa.

Penjajahan Eropa atas negeri-negeri Islam jelas membawa penderitaan, kesengsaraan yang tiada taranya selama kurang lebih tiga abad.  India dijajah Inggeris; Malaka dijajah Portugis dan Belanda; Nusantara (Indonesia) dijajah bergilir oleh Inggeris, Portugis dan Belanda; Pilipina dijajah oleh Spanyol.  Inilah nasib yang dialami oleh negeri mayoritas Islam di awal abad modern, seolah merupakan pembalasan atas kemenangan gemilang imperium Islam Turki Utsmani atas Bizantium di tahun 1453.

Dari hasil penjajahannya, Eropa pun semakin makmur, dunia sains dan teknologinya semakin maju, industri kapal dagang berubah jadi armada perang.  Selain itu, teknik persenjataannya pun semakin canggih, seiring pula pesatnya teknologi kedirgantaraan mereka.  Maka dengan kemajuan seperti itu, pada gilirannya mereka kersekutu, berinisiatif menaklukkan Turki Utsmani guna menguasai kembali Anatolia bekas kekaisaran Bizantium, sebagaimana mereka bersekutu merebut kembali Spanyol dari tangan sisa-sisa Khilafah Islam Umayyah.  Bagaimana nasib Turki Utsmani menghadapinya?, akan diuraikan kemudian.  (bersambung)

Catatan: Tulisan ini telah dimuat di genilai.id.

Catatan:  Tulisan ini telah dimuat di Genial.id.

FALSAFAH HIDUP MASYARAKAT SUL-SEL

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA.

 

FALSAFAH HIDUP MASYARAKAT SULAWESI SELATAN

Oleh: Prof. Dr. Hamka Haq, MA.

Orang Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar) memiliki falsafah hidup yang tinggi dari segi kebudayaan yang dapat mendorong terbangunnya peradaban yang maju dan berkarakter.  Minimal ada 4 (empat) dimensi karakter falsafah hidup orang Sul Sel sebagai berikut:

  1. Dimensi Komunikasi

Orang Sulsel sangat menghargai pergaulan yang santun, baik dai segi perilaku maupun dari segi bahasa yang halus atau cara berkomunikasi yang santun.  Hal ini dapat dilihat atau dipahami dari ungkapan-ungkapan keseharian mereka, misalnya:

  • Singereng mu pada bulu, ada(n) mu si lappaE ruttungen manengngi. (Walau jasamu sebesar bukit, tapi seutas kata mu (yang kasar) meruntuhkan semuanya.
  • Sau lo’ bessi te’ sau lo’ ininnawa. (Luka bekas tikaman besi dapat sembuh, tapi luka hati karena ucapan kasar, tak dapat sembuh.
  • Dalam bahasa Mandar: “Monge-monge pa Iya’u, anna to nande gayang, to nande gayang, diang pauliyan na”. Artinya: aku sangatlah merasa sakit, ketimbang orang yang tertikam; orang yang ertikam maih ada obatnya. Hal ini menunjukkan pentingnya berbahasa yang satung, dan tidak menyinggung  parasaan orang lain.
  • Rupa tau, ada(n) na ri yakkatenni, olo kolo, tulu’na riakkatenni, (Untuk manusia, ucapannya yang diperpegangi, sedang untuk hewan, talinya yang dipegang). Ungkapan ini menunjukkan bahwa kesetiaan seseorang dalam membuktikan ucapannya atau janji-janjinya dalam wujud perbuatan nyata merupakan akhlak mulia bagi manusia yang selalu didambakan.   Dari sini pula lahir ungkapan “Seddi ada na Rupa Gau”  yang maksudnya : bersatunya ucapan dengan perbuatan.

Ungkapan-ungkapan di atas mengandung arti bahwa orang SulSel memiliki tingkat spiritual yang cukup tinggi, selalu menjaga akhlaknya yang baik, dengan keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan selalu disaksikan oleh Dewa ta SewwaE” yakni “Tuhan Yang Maha Esa”.  Dengan kata lain masyarakat SulSel, sejak dahulu kala telah percaya adanya Tuhan yang mengawasi hidup dan kehidupan manusia.  Tuhan juga sering disebut dengan istilah “Pa TotoE”, artinya Wujud yang menentukan dan senantiasa memantau nasib dan perbuatan manusia.

  1. Dimensi Sosial Politik yang Demokratis

Dalam kehidupan sosial politik, masyarakat Sulsel sangatlah demokratis, selalu mementingkan musyawarah mufakat, baik menyangkut kehidupan keluarga, soal kemasyarakatan umum, bahkan soal pemerintahan.   Raja atau Datu tidaklah berkuasa absolut, tetapi menjalankan pemerintahan dengan musyawarah mufakat, yang didampingin oleh penasehat-penasehat dari kalangan kaum adat dan kalangan kaum syara’ (agama).

Dalam kehidupan sosial, tampak dalam kebersamaan menetapkan awal turun sawah, atau awal panen dalam pertemuan “Tudang Sipulung.   Juga dalam menangani kebersihan kampung, memakmurkan rumah ibadah, menentukan hari-hari pasar secara bergiliran untuk setiap kampung, semuanya selalu berdasarkan musyawarah mufkat.

Sedang dalam aspek politik, dikenal ungkapan “Maradeka to WajoE, ade’nami napopuang” (Orang wajo (Bugis) itu merdeka, tidak tunduk pada apapun titah raja (Datu), tetapi mereka (Datu dan rakyat) tetap berpedoman pada  adat yang disepakati.  Mereka yang tidak mematuhi adat, akan dikucilkan bahkan dibuang ke daerah lain, “ritongkang ware’na”, diruntuhkan kediamannya.  Raja yang tidak taat pada adat, akan dimakzulkan dari singgasananya.

Dikalangan orang Makassar dikenal ungkapan Parentai tau wa ri ero’na”, yang bermakna bahwa sang Raja (Karaeng) dalam menjalankan pemerintahannya, harus berpedoman pada tradisi yang dikehendaki oleh rakyat. Dengan tetap berpedoman pada tradisi yang dikehendaki rakyat, maka segenap perintah dari Raja (Karaeng) akan pasti dipatuhi oleh  rakyatnya.

Sementara di kalangan Toraja dikenala ungkapan “Misa Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate, yang artinya: satu kata (sepakat) membawa kehidupan, dan bersilang kata atau sengketa membawa kematian.  Ungkapan ini mengharuskan masyarakat Toraja, pemimpin dan rakyat harus mengembangkan sistem musyawarah untuk mufakat dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan.  Tanpa kesepakatan, apalagi jika disertai persengketaan, niscaya membawa kemudharatan dan kehancuran bagi masyarakat.

  1. Dimensi Moralitas

Dalam berbagai ungkapan warisan secara turun temurun, diketahui bahwa orang Sul-Sel sangat berpegang pada moralitas atau akhlak yang mulia.  Misalnya ungkapan berikut:

Iya te’ paja ku sappa, Belona kanukuE, Unganna PanasaE, Pallangga mariang. Maksudnya: orang SulSel selalu mendambakan akhlak yang mulia dengan ciri-cirinya antara lain:

  • belona kanukuE”, yakni Pacci, yakni daun pacar yang biasa dipakai dalam acara “mappacci” menjelang pernikahan.   Dalam bahasa Bugis, pacci (paccing), bermana kesucian atau kebersihan, atau keikhlasan.  Artinya bersih dari perilaku dan ucapan kotor, bersih sifatnya dari hal-hal yang haram, bersih hartanya dari judi dan kecurangan.
  • Juga mendambakan “Ungan na PanasaE”, yakni pucuk buah nangka, namanya “lempu”, diartikan kejujuran (lempu’), karena dengan kejujuran, maka dalam kehidupan sosial terwujud saling mempercayai, saling amanah, jauh dari korupsi, jauh dari pengkhianatan.
  • Begitupun mendambakan “Pallangga Mariang”,  yaitu Pedati, yang diterjemahkan dalam bahasa Bugis “Pada ati”, artinya : sehati, yakni kehidupan sosial yang ditopang oleh kesetiaan, kebersamaan, senasib sepenanggungan, sebagai akhlak mulia.

Juga ungkapan “Aja Mu alai, aju sanreE, Narekko Tanniya iko PasanreI”,  yang berarti larangan kepada setiap orang untuk mengambil sebatang kayu yang bersandar, atau terletak di suatu tempat, jika bukan miliknya.  Ungkapan ini bermakna luas, mencakup larangan atas setiap orang mengambil barang apapun yang bukan haknya.  Artinya ungkapan tersebut anti korupsi dan manipulasi, anti perampasan hak milik orang lain.

  1. Dimensi Solidaritas

Bahwa masyarakat SulSel memiliki sifat solidaritas yang sangat tinggi, dalam bentuk gotong royong  dan kesetia-kawanan.

Gotong Royong; bahwa orang SulSel punya sifat spontanitas gotong royong dalam menghadapi persoalan, baik untuk kepentingan perorangan, maupun untuk kepentingan umum.  Dahulu, sebelum ada mesin traktor, mereka sling membantu membajak swah, sampai pada saling membantu menanam, juga memanen bersama.  Bahkan dalam hal membangun rumah, atau memindahkan rumah (rumah panggung) juga tampak sikap kebersamaannya.  Dan yang paling menonjol ialah pada acara pernikahan, khitanan dan penguburan, semua ditangani secara bersama.  Pokoknya dalam hal bahagia dan sedih, mereka menunjukkan solidaritasnya.

Kesetia Kawanan; bahwa masyarakat SulSel, sangat tinggi kesetiakawanannya, terutama dalam menghadapi persoalan yang sulit menyangkut kehormatan dan harga diri.   Ungkapan yang sering kita dengar ialah “Siri na Pacce”.   Implementasi ungkapan ini antara lain sbagai berikut:

  • Menjaga martabat dalam hal prestasi, bahwa orang SulSel selalu ingin menunjukkan prestasinya, perkembangan karirnya, dan keberhasilan usahanya di kampung sendiri atau di perantauan. Dalam hal ini, semua keluarga turut memberi semangat, karena keberhasilan dinilai sebagai keberhasilan bersama.
  • Saling menjaga dan melindungi kehormatan, sehingga biasanya masalah yang dihadapi seseorang yang dapat menghina kehormatan pribadinya, atau kehormatan bersama, apalagi jika mengancam jiwanya, secara spontan akan mendapat pembelaan dari keluarga, atau tentangga, atau sesama asal daerahnya.  Misalnya dahulu, jika masyarakat mendapat kabar bahwa seorang anak gadis dari suatu keluarga dibawa lari oleh seorang laki-laki, maka hal itu dianggap aib bagi masyarakat setempat. Segenap kerabat dari keluarga yang bersangkutan merasa terinjak kehormatannya, maka mereka pun berusaha menemukan sang lelaki yang membawa lari gadis itu, dan tidak segan-segan membunhnya.  Kecuali jika lelaki tersebut segera melakukan upacara “maddeceng”, semacam upaya damai untuk kawin secara resmi, maka barulah keluarga perempuan merasa kembali kehormatan dan martabatnya seperti sedia kala.
  • Atau jika dalam suasana perantauan, ada seorang warga SulSel teraniaya oleh oarng lain, maka spontan saja warga sesama SulSel tampil membela bahkan menuntut balas, minimal mengupayakan perdamaian yang saling menguntungkan.

Sekian dan terima kasih

Penyaji

(Prof. Dr. Hamka Haq, MA)